Share

MOH- SEMBILAN

Author: Pipit_vie
last update publish date: 2026-09-27 02:19:01

Malam ini, apartemen Rega kedatangan teman-temannya, yaitu Awan, Cristian, Jerrick, Cakra dan Udin. Sanaya yang berada di kamar bersama Raffa merasa terganggu, apalagi dia sedang menidurkan Raffa supaya ia bisa belajar saat Raffa sudah tidur.

"Hish! Mereka pasti belum dikasih tahu Rega kalau di sini ada anak kecil. Dasar, Rega!!" Kesalnya.

"Ma-ma~ mamamm~"

Sanaya tertawa mendengar celotehan Raffa, "Kamu ngomong apa sayang? Laper? Mau nyemil?" Sanaya bertanya sambil menciumi pipi gembul Raffa.

Raffa tertawa lebar saat pipinya dicium oleh Sanaya, dia pun merespon dengan menarik rambut Sanaya yang terurai bebas.

"Aduh!! Sakit loh, Raffa..." Ringis Sanaya yang memang sensitif saat rambutnya ditarik, "Kalau Raffa laper, kita keluar kuy ambil makan sekalian tegur om-om yang berisik itu!"

Sanaya kemudian mencari hijab instan dan kardigan untuk di pakai karena saat ini dia sedang memakai daster panjang. Setelah memakai itu semua, Sanaya menggendong Raffa lalu keluar kamar.

Sementara di ruang tengah, Rega hanya menjadi pengamat sambil geleng-geleng kepala saat melihat teman-temannya itu sibuk saling membully dengan pembahasan si Cristian bule-nya TBM yang tengah menyukai seorang perempuan.

"Sadar, Mas! Kamu bukan akhi-akhi yang ditakdirkan untukkuh!" Udin berseru meledek dengan keras lalu disusul tawa keras lainnya.

"BWAHAHAHAHAHA~"

Rega yang biasanya jarang tertawa pun ikut tertawa karena ledekan Udin.

"Aso kalian ya! Awas aja kalau dia nanti emang jodoh gue." Sahut Cristian tak terima.

"Apalah daya kalau kalian nggak seiman." Cakra ikut menimpali.

Wajah Cristian makin mengenaskan, Awan yang tak tega pun menepuk bahu laki-laki bule itu, "Kalau lo bener-bener suka, selamat berjuang, Bro! Apalagi tuh cewek juga anak ustadz."

Rega mengangguk mengiyakan ucapan Awan. Yang tadinya semua meledek kini berhenti karena tahu suasana hati Cristian yang tidak baik.

"Gue bener-bener suka dia, guys! Gue siap pindah agama biar gue bisa sama dia." Ucap Cristian sendu.

"Anjir!! Geli gue liat komuk lo yang kek gitu, lagian lo itu beneran suka apa terobsesi? Kalau lo emang suka dia beneran, lo juga harus mencintai agamanya juga bukan orangnya doang!" Ujar Jerrick yang dibalas tatapan salut dari yang lain, karena Jerrick biasanya tidak pernah berkata seperti itu.

Di geng mereka, hanya Cristian yang berbeda agama. Meskipun demikian, perbedaan agama bukanlah penghalang dalam pertemanan mereka.

"Ucapan Jerrick ada benernya, tapi menurut gue, fokus sekolah aja dulu dan punya karir yang bagus. Baru deh lo seriusin anak orang."

Mata mereka semua lantas tertuju pada Rega, bahkan Udin sampai ternganga karena baru kali ini dia mendengar Rega bicara panjang.

Klek

Suara pintu kamar yang terbuka mengalihkan pembicaraan serius mereka. Kemudian terlihat sosok Sanaya yang tengah menggendong anak kecil yang tak pernah mereka lihat.

Sanaya memberikan tatapan tajam pada mereka semua, "Gara-gara kalian yang berisik, Raffa jadi nggak mau tidur tahu nggak!"

Mendapat tatapan tajam dari Sanaya, mereka langsung menunduk dan saling sikut serta menyalahkan satu sama lain persoalan suara siapa yang paling berisik.

"Psst! Anak sape tuh, Ga? Perasaan lo itu jarang banget bawa bocil?" Tanya Awan saat melihat Sanaya menggendong Raffa yang berjalan menuju dapur.

"Anak gue." Jawab Rega singkat.

"HA?? ANAK LO?" Udin begitu kaget.

Mereka kini menatap Sanaya yang tengah membuat susu untuk Raffa. Sanaya nampak terlihat begitu senang dengan adanya Raffa.

"Ga... Kalian udah pe-pernah gituan?" Tanya Cristian terbata.

"Kapan lo buatnya, Ga?" Jerrick ikut bertanya.

Rega mendengus mendengar pertanyaan dari teman-temannya. Dia lalu kembali menonton tv tanpa ingin menjelaskan apapun. Hanya membuat mulutnya lelah saja bila menjelaskan.

Sanaya yang sudah selesai membuat susu lantas berjalan menghampiri Rega karena Raffa merengek ingin ikut lelaki itu.

"Rumit buat dijelasin, yang jelas gue sama Rega belum pernah begituan. Jadi, kalian pasti udah ngerti kan Raffa anak siapa?" Sarkas Sanaya.

"Terus dia anak siapa?" Cakra justru bertanya tanpa mengerti ucapan sarkas Sanaya.

"Ya jelas anak orang lah goblok! Gitu aja lo pake nanya?!!" Udin menjitak kepala Cakra.

"Yeu~ Itu sih kita-kita tahu lah, Saprudin! Naudzubillah min dzalik." Delik Jerrick sambil geleng-geleng kepala.

"Aemm... Pa-pa.." Raffa berceloteh sambil memainkan botol susu yang dipegang oleh Rega.

"Kalian dari tadi berisik banget, gue mau nidurin Raffa jadi nggak bisa-bisa!" Ucap Sanaya yang masih kesal soal tadi.

Awan dan yang lain hanya cengengesan, "Maaf deh, San, kita kan nggak tahu kalau lo sama Rega punya debay."

"Emang Rega nggak ngejelasin?" Sanaya menatap Rega yang nampaknya pura-pura tak tahu apa-apa.

"Udah-udah, San, kayak nggak tahu Rega aja. Dia males ngejelasin ke kita." Lerai Cristian.

"Yaudah kalau gitu kita pamit dulu ya, Ga, San..."

Mereka semua berpamitan dengan Rega lalu keluar dari apartemen dengan senyum penuh arti.

Sanaya membereskan semua makanan dan minuman sisa dari teman-teman Rega. Kemudian duduk di samping Rega yang tengah menidurkan Raffa.

"Maaf, aku kira Raffa udah tidur tadi." Ujar Rega tulus.

Sanaya tak menyahut, dia pura-pura tak mendengar dan menonton televisi sambil sesekali memindah chanel.

Setelah menit-menit berlalu, perlahan ocehan Raffa tak terdengar. Sanaya yang ingin tahu apakah bocil sudah tidur atau belum pun menoleh. Tetapi yang terjadi selanjutnya justru membuatnya mematung, begitupula Rega.

Rega yang berniat mengajak bicara Sanaya dan Sanaya yang tiba-tiba menoleh serta mendekatkan wajahnya membuat kejadian itu tak terelakkan.

Saat Sanaya ingin menjauhkan kepalanya, Rega justru menahan tengkuknya agar ciuman itu berlangsung lebih lama.

Sanaya sontak menepis tangan Rega, "K-kamu sengaja kan?"

Karena merasa malu, Sanaya langsung berlari masuk ke dalam kamar dan meninggalkan Rega sendirian bersama Raffa yang tertidur di pangkuannya.

Rega tersenyum kecil, "Lucu juga."

- oOo -

Sanaya memangku tangannya sembari melihat guru bahasa Indonesia yang tengah menjelaskan bab novel sejarah. Di sampingnya ada Revi yang terus-menerus menguap.

"Lo ngapain tadi malem?" Tanya Sanaya keheranan.

"Hoamm... Tadi malem gue ditelpon ibu-ibu yang pernah gue tolong. Nah katanya ibu itu nyaman sama gue sampe-sampe gue mau dijadiin mantunya. Ya kali gue jadi mantunya!"

"Terus-terus..." Sanaya mendekatkan tubuhnya dan pandangannya tetap ke depan agar guru tidak mengetahui kalau mereka berdua tidak memperhatikan apa yang disampaikan oleh guru. Menurut mereka berdua inilah obat jitu atasi mengantuk yaitu dengan bercerita.

"Ya gitu, gue ampe semalaman suntuk di telponin dibujuk biar mau sama anaknya dan nyuruh gue buat ketemu anaknya ntar pulang sekolah. Katanya anaknya disuruh jemput gue." Masih dengan nada berbisik Revi bercerita.

"Wihhh~ Gue ramal bentar lagi lo nggak jomblo lagi haha~ Secara lo dah dibooking buat jadi mantunya." Sanaya cekikikan pelan.

"Oke semua, kalian bisa membuat autobiografi dan nanti kalian bukukan di gabung dengan kelompok kalian masing-masing. Saya kasih tenggat waktu satu bulan untuk membuatnya."

Sanaya dan Revi menoleh ke belakang dimana si kembar di kelasnya duduk.

"Eh itu tadi disuruh ngapain?" Tanya Sanaya.

"Disuruh buat cerita masa kecil kita dulu kaya gimana dan mengandung unsur-unsur intrinsik novel sejarah, terus nanti dibukuin jadi satu sama temen sekelompok." jelas Aria

"Terus gue kelompok siapa?" Revi ikut bertanya.

"Dasar kalian! Makanya jangan ngobrol pas pelajaran! Lo sama Sanaya satu kelompok sama kita. Jadi, besok kita udah harus mulai ngebuat bab abstrak sama orientasinya." Jelas Arina, kembarannya Aria.

"Alhamdulillah... kita sekelompok!" Sanaya dan Revi bertos ria.

"Oke deh, ntar malem gue coba inget-inget kejadian mana yang mau gue buat autobiografi." Sahut Sanaya.

"Yaudah yok ke kantin! Gue udah laper banget ini, dedek bayinya minta makan." Ucap Revi sambil mengelus perutnya yang langsung dijitak keras oleh Aria.

Dalam hati Sanaya memikirkan Raffa yang dia titipkan ke Bunda Sicka. Rasanya dia sudah merindukan bayi gembul itu.

- oOo -

Revi begitu berdebar saat hendak menuju gerbang sekolah bersama Sanaya.

"San, kok gue malah deg-degan gini ya? Kira-kira gimana muka tuh cowok? Kalau buluk kayak Warmin gimana? Ihh!! Jangan sampek..." Revi mengelus perutnya.

Warmin sendiri adalah orang gila yang sering mangkal dekat di halte sekolah mereka. Jadi sudah banyak orang tahu siapa Warmin.

"Kita lihat aja ntar, kayak gimana orangnya. Loh? Itu kenapa cewek-cewek pada liatin depan gerbang ya, Rev? Bukannya pada pulang." Sanaya dan Revi pun berjalan mendekati gerbang.

"Eh-eh, Ray! Itu cewek-cewek kenapa masih mruntel di gerbang?" Revi mencegat salah satu teman seangkatannya.

"Ada anggota geng TBM sama Justice di depan. Nggak tahu lagi pada nungguin siapa." Jawabnya

"Oh gitu, makasih ya." Ucap Sanaya dan Revi serempak.

Sanaya dan Revi pun berjalan ke depan gerbang, betapa kagetnya mereka saat melihat Rega duduk di atas motor dengan Raffa digendongannya.

Saat mata Rega bertemu pandang dengan Sanaya dia pun segera melambaikan tangannya agar Sanaya mendekat padanya.

Dengan sedikit menunduk malu Sanaya menghampiri Rega begitu juga dengan Revi. Kini kedua gadis itu sudah berada dekat dengan dua lelaki most wanted yang sedari tadi membuat siswi-siswi Moresnet memekik tertahan di depan gerbang.

"Loh, San, ini anak siapa?" Revi bertanya saat melihat Raffa kini beralih gendongan ke Sanaya.

"Ceritanya panjang, lo mampir aja ke apartemen kalau ada waktu. Nanti gue ceritain tentang Raffa." balas Sanaya cepat. Dia tak ingin berlama-lama dilihat oleh banyak orang di sini.

"Oh~ Jadi namanya Raffa." Revi mengangguk-angguk.

"Misi Mbak, lo yang namanya Revi Aulani?" Sanaya dan Revi menoleh pada lelaki yang tampak menatap Revi menyelidik.

"Iya, jangan bilang lo anaknya Bu-"

"Iya gue anaknya, kenalin Raksi Bakri Kanigara calon suami lo." Raksi menyodorkan tangannya kepada Revi.

Sanaya berkedut menahan tawa karena ucapan Raksi. Sedangkan Rega, mengisyaratkan agar Sanaya segera naik ke motornya karena dia tidak tahan menjadi bahan tontonan cuci mata siswi Moresnet.

"Em... Sorry, gue ganggu kalian. Rev, gue sama Rega balik dulu ya..." Pamit Sanaya dan langsung membonceng di belakang Rega.

"San, jangan pergi dulu elah... " Revi memohon.

Baru hendak menjawab, Rega sudah lebih dulu memacu kendaraan roda dua kesayangannya.

"REGA KAMPRET!!" Umpat Revi tak terima dengan kelakuan Rega.

"Ehm! Lo ngacangin tangan gue." Revi kembali menatap Raksi tapi dengan tatapan tajam.

"Ogah! Buat apa salaman sama lo, orang asing!" Tolak Revi mentah-mentah.

Raksi menarik tangannya kembali lalu dia tertawa tipis, "Gue juga nggak kenal lo, tapi karena nyokap gue udah jadiin lo sebagai calon mantunya. Gue cuma bisa nerima. Dan sekarang lo ikut gue, Mami udah nunggu kita."

Revi hanya mampu ternganga dengan semua penuturan Raksi, cobaan apa lagi yang dia terima?

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • My Other Happiness    MOH- SEMBILAN

    Malam ini, apartemen Rega kedatangan teman-temannya, yaitu Awan, Cristian, Jerrick, Cakra dan Udin. Sanaya yang berada di kamar bersama Raffa merasa terganggu, apalagi dia sedang menidurkan Raffa supaya ia bisa belajar saat Raffa sudah tidur."Hish! Mereka pasti belum dikasih tahu Rega kalau di sini ada anak kecil. Dasar, Rega!!" Kesalnya. "Ma-ma~ mamamm~" Sanaya tertawa mendengar celotehan Raffa, "Kamu ngomong apa sayang? Laper? Mau nyemil?" Sanaya bertanya sambil menciumi pipi gembul Raffa.Raffa tertawa lebar saat pipinya dicium oleh Sanaya, dia pun merespon dengan menarik rambut Sanaya yang terurai bebas."Aduh!! Sakit loh, Raffa..." Ringis Sanaya yang memang sensitif saat rambutnya ditarik, "Kalau Raffa laper, kita keluar kuy ambil makan sekalian tegur om-om yang berisik itu!" Sanaya kemudian mencari hijab instan dan kardigan untuk di pakai karena saat ini dia sedang memakai daster panjang. Setelah memakai itu semua, Sanaya menggendong Raffa lalu keluar kamar. Sementara di r

  • My Other Happiness    MOH - DELAPAN

    Kini mereka sudah berada di dalam mobil, Rega menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang, sesekali ia melirik Sanaya yang tengah mengajak ngobrol bayi di gendongannya. "Lucunya~ Hih!! Gemesh pipinya embem banget kayak bakpao!" Sanaya mencium pipi bayi itu yang begitu gembul. Bayi itu tertawa saat diciumi oleh Sanaya, tangan mungilnya juga mencoba meraih wajah Sanaya meskipun tak sampai. "Lega banget ya, Ga, karena bocil udah punya ibu susu." Dalam hati, Sanaya terus bersyukur karena memiliki mertua yang baik seperti Sicka dan Rion. Meskipun pernikahannya terkesan kurang baik, tetapi ada berkah yang tidak semua orang bisa dapatkan. Karena koneksi ibu mertuanya, Sanaya tak perlu khawatir dengan kebutuhan asi anak yang dirawatnya. "Hm." "Kita kasih nama apa ya,Ga, sama anak kita?" Tanya Sanaya. Cittt Dugh "Aduh!! Rega!! Hati-hati ngapa?!" Sanaya mengelus jidatnya yang terantuk dashboard. "Hihihi~" "Yeuu~ Si bocah malah ngetawain gue..." Karena gemas deng

  • My Other Happiness    MOH - TUJUH

    Rega terkejut saat mendengar lengkingan Sanaya, apalagi istrinya itu langsung berlari setelah berteriak keras. Dia pun segera turun dari motor dan melepas helmnya lalu menyusul Sanaya.Rega melihat di depannya sudah ada begitu banyak warga yang mengerubung dan hal itu makin membuatnya mempercepat langkah kakinya. Setelah dia berhasil mendekat dan menyibak para warga yang berkerumun, dia mendapati Sanaya sedang menggendong bayi yang menangis kencang karena ikut terluka.Rega mendengar bahwa wanita ini korban tabrak lari, dan hal itu membuat Rega bertanya pada warga apakah sudah memanggil ambulance atau belum. "Sebentar lagi ambulance datang, Bang! Gue yang manggil." Tidak lama, ambulance datang dan segera membawa korban menuju rumah sakit terdekat. Sanaya ikut naik di dalam ambulance karena dia yang menjadi saksi sekaligus yang berani menggendong bayi korban. Rega memilih membuntuti ambulance dari belakang. Untunglah jalanan tidak macet seperti biasanya, jadi mereka tiba di rumah s

  • My Other Happiness    MOH - ENAM

    Berada di bawah kipas angin, serta guru yang tidak terlalu memperhatikan ke arahnya membuat Sanaya benar-benar harus menahan kantuk yang luar biasa. Menguap pun sudah tak terhitung lagi baginya. "Selanjutnya adalah menyetarakan jumlah unsur-unsur lain dengan kation, anion, hidrogen, dan oksigen. Kalau ada yang belum paham bisa ditanyakan besok." Terang Bu Puji selaku guru kimia, dan dibalas gumaman satu kelas. "Setengah jam lagi bel pulang, kalian kerjakan halaman tiga puluh, ya? Saya sedang ada tamu, jadi kalau saya belum kembali kalian nanti doa sama nyanyi sendiri saja." "Halaah~ Bu~" Satu kelas berseru sama dengan wajah lesu seolah-olah enggan ditinggal oleh Bu Puji. Dan tentu saja itu tidaklah ekspresi yang sebenarnya.Bu Puji tertawa, "Halah kalian ini, tidak usah acting, bilang aja kalian seneng kan?" Satu kelas tertawa ternyata Bu Puji tahu kalau itu hanyalah pencitraan mereka. "Ampun, Bu, hehe..." "Ya sudah kalau begitu, Bu puji keluar dulu ya... Assalamu'alaikum warah

  • My Other Happiness    MOH - LIMA

    Sanaya ternganga saat melihat apartemen yang akan dia tinggali bersama Rega tidak sama dengan apa yang dia pikirkan. 'Jangan bilang gue bakal sekamar terus sama Reganjay ini?!' Apartemen milik Rega hanya terdiri dari satu kamar, ruang tamu dan ruang tengah yang hanya dipisah oleh almari buku sebagai sekat serta dapur dan kamar mandi. "Sorry, apart gue kecil karena uang yang gue punya nggak cukup buat beli yang besar. Ini juga bekas apart-nya temen gue sendiri, makanya dijual murah." Jelas Rega seolah tahu akan pikiran Sanaya. Sanaya sedikit terhenyak saat tahu Rega membeli apartemen ini dengan uangnya sendiri, dia mengira kalau apartemen yang membelikan orang tuanya yang Sanaya tahu kaya raya. "O-oh ... iya gapapa," Balas Sanaya dengan tak enak hati, "tapi apa kita bakal sekamar?" Tanyanya pelan sambil menunduk, entah kenapa dia jadi malu sendiri bertanya tentang ini. "Ya dan seranjang." Tegas Rega sambil menatap Sanaya tajam. Sanaya langsung mendongak, "Heh Reganjay! Kok lo se

  • My Other Happiness    MOH - EMPAT

    Ruang tamu rumah Rion kini begitu ramai tapi hanya ada keheningan yang tercipta di antara mereka. Mereka tidak tahu harus memulai pembicaraan darimana. Tapi akhirnya Kakek Afkar buka suara sebagai orang tertua di sana karena Ayahnya belum pulang. "Untuk Raka, saya meminta maaf atas kesalahan yang diperbuat oleh cucu saya dan membuat Sanaya ikut terseret menjadi korban di sini." Raka melirik sekilas putrinya yang duduk disebelahnya lalu kembali menatap Kakek Afkar. "Semua sudah terjadi, pak, lagipula kita tahu disini hanya kesalahpahaman. Tapi karena itu, saya ingin kalian dan sekeluarga bisa menerima Sanaya menjadi keluarga baru kalian." Balas Raka sambil menepuk pundak Sanaya pelan. "Bapak tenang aja, saya akan menjaga Sanaya. Karena dia sudah menjadi tanggung jawab saya sekarang. Dan untuk alasan apapun saya tidak akan menceraikannya." Rega berucap dengan tegas dan mantap sambil menatap Sanaya yang enggan melihat ke arahnya. Diam-diam Susi menghapus air matanya merasa bahagia,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status