Share

MOH - DELAPAN

Author: Pipit_vie
last update Petsa ng paglalathala: 2026-09-26 02:49:08

Kini mereka sudah berada di dalam mobil, Rega menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang, sesekali ia melirik Sanaya yang tengah mengajak ngobrol bayi di gendongannya.

"Lucunya~ Hih!! Gemesh pipinya embem banget kayak bakpao!"

Sanaya mencium pipi bayi itu yang begitu gembul.

Bayi itu tertawa saat diciumi oleh Sanaya, tangan mungilnya juga mencoba meraih wajah Sanaya meskipun tak sampai.

"Lega banget ya, Ga, karena bocil udah punya ibu susu."

Dalam hati, Sanaya terus bersyukur karena memiliki mertua yang baik seperti Sicka dan Rion. Meskipun pernikahannya terkesan kurang baik, tetapi ada berkah yang tidak semua orang bisa dapatkan.

Karena koneksi ibu mertuanya, Sanaya tak perlu khawatir dengan kebutuhan asi anak yang dirawatnya.

"Hm."

"Kita kasih nama apa ya,Ga, sama anak kita?" Tanya Sanaya.

Cittt

Dugh

"Aduh!! Rega!! Hati-hati ngapa?!" Sanaya mengelus jidatnya yang terantuk dashboard.

"Hihihi~"

"Yeuu~ Si bocah malah ngetawain gue..." Karena gemas dengan bayi kecil itu, Sanaya kembali menciumi pipi gembulnya.

Rega refleks menginjak rem karena tersentak saat Sanaya mengucapkan 'anak kita' dengan begitu jelas. Dan karena kalimat itu, tanpa sadar membuat telinganya memerah karena malu dan gelenyar aneh terasa di perutnya.

'Apa dia udah maafin gue?' Batin Rega.

"Maaf, terserah lo mau namain dia siapa."

Rega kembali melajukan mobilnya. Meskipun pandangannya tertuju ke depan, tetapi pikirannya masih terngiang dengan ucapan Sanaya tentang 'anak kita'.

'Kok gue seneng gini? Secara nggak langsung dia udah mulai ngakuin gue suaminya kan?' Rega mencoba menahan senyumnya.

"Rega! Lo ngelamunin apa sih?! Jangan lupa, nanti mampir ke toko perlengkapan bayi. Eh! Eh! Gue kasih nama dia Raffardan Hareshananda gimana? Bagus nggak?"

Rega tersentak dari lamunannya dan segera menoleh sekilas ke arah Sanaya.

"Hm."

"Idih! Gue garuk juga muka lo! Ham hem ham hem daritadi!" Dengus Sanaya sebal.

Sanaya kembali menoel-noel pipi Raffa yang gembul, "Raffa harus inget ya, nanti kalau udah gede jangan kayak bapak kamu yang sukanya nggereng aja macem kawanan dinosaurus!"

Diam-diam, sudut bibir Rega berkedut mendengar ucapan Sanaya. Hatinya pun terasa menghangat. Jadi, apakah itu berarti Rega telah jatuh cinta kepada Sanaya?

'Masa iya secepat ini?' Rega mulai ragu dengan dirinya sendiri.

"OMOO!! LO SENYUM??"

Rega segera mengubah ekspresinya kembali menjadi datar karena malu ketahuan tersenyum oleh Sanaya.

"Nggak!" Rega mencoba berkilah.

"Masa iya gue salah lihat?"

Sanaya terus menjahili Rega dengan mencolek lengan Rega berkali-kali, tapi Rega terus memasang wajah datar dan cuek bebek.

'Nggak mungkin gue... suka...'

Rega terus melafalkan hal itu di dalam pikiran dan hatinya untuk menghilangkan rasa malu yang kini merambah ke pipinya yang mulai memerah.

"Woahhh~ Aaib loh, Raf, bapak kamu pipinya bisa merah otomatis! Warbiasahh!"

Sanaya memang sengaja berseru keras seperti itu agar Rega makin merasa malu. Entah sejak kapan Sanaya mulai bisa melihat Rega sebagai pria yang baik dan mulai menerima takdirnya yang membuatnya menikah dengan Rega.

'Lumayan juga tiba-tiba dapet suami tampan mirip Wang Yibo, haha~ Tapi kalau dia berani macem-macem ya tinggal dilaporin aja ke polisi!' Batin Sanaya mencoba bersikap realistis

"Sanaya." Panggil Rega yang membuat Sanaya segera menoleh.

"Ap-"

Sanaya membelalakkan matanya ketika dia merasakan benda kenyal yang menempel di bibirnya. Tubuhnya seketika menjadi kaku dan menegang seolah-olah tersengat listrik. Kedengarannya lebay, tapi itulah yang dirasakan oleh Sanaya saat ini.

Sanaya bahkan tidak tahu, sejak kapan mobil yang ditumpanginya berhenti di tepi jalan?

"Hihihi~ papapap~"

Rega sontak menjauhkan tubuhnya dari Sanaya setelah mendengar Raffa tertawa karena melihatnya.

"Maaf." Ujar Rega.

Jujur, dia tak merasa bersalah sedikitpun karena sudah mencium bibir Sanaya meskipun hanya sebatas kecupan.

'First kiss gue...'

Sanaya masih tak menyangka dengan kejadian yang begitu cepat terjadi baru saja membuatnya terdiam membisu dengan wajah menahan malu.

- oOo -

Sesampainya di apartemen, keduanya saling diam tanpa ada yang memulai pembicaraan. Bahkan Raffa yang sedang babbling dengan lantang seolah tak terdengar oleh mereka.

Sanaya diam-diam melirik ke arah Rega yang sedang menata segala perlengkapan bayi di dekat lemari.

"Kok bisa sih dia kelihatan biasa aja? Gue aja masih kepikiran soal tadi." Gerutunya pelan.

Karena lelah terus menggendong Raffa, Sanaya meletakkan bayi berusia satu tahun itu di atas ranjang. Raffa yang kegirangan tiba-tiba duduk lalu bertepuk tangan.

"Ga! Lihat! Raffa bisa duduk ternyata!" Ucap Sanaya takjub.

Rega hanya menoleh sekilas karena dia masih menata barang-barang milik Raffa di lemari khusus bayi sambil geleng-geleng kepala.

"Namanya juga anak satu tahun."

Sanaya refleks menoleh ke arah Rega dengan antusias karena sepertinya Rega jauh lebih tahu soal perkembangan anak-anak.

"Kok lo bisa tahu sih?"

"Di buku pink kan udah jelas, Raffa usia satu tahun. Perkembangan anak usia satu tahun itu ya seperti yang Raffa lakukan." Jelas Rega.

Sanaya semakin dibuat takjub saat melihat Raffa terlihat berusaha untuk belajar berdiri sendiri. Sepertinya Sanaya memang harus membaca buku pink agar wawasan soal anak kecil semakin bertambah dan tidak kalah dengan Rega.

Tetapi senyum lebar itu perlahan memudar saat kembali mengingat bahwa Nanda, ibu dari Raffa yang sudah tiada.

"Kamu pasti bangga banget, Nan, punya anak seperti Raffa." Gumam Sanaya dengan air mata yang mulai membasahi pipinya.

Sanaya lantas mengangkat Raffa lalu memeluknya, "Kasihan kamu, Raf, masih kecil harus ditinggal pergi ibumu..."

Mendengar tangisan Sanaya, Rega berhenti dari kegiatannya lalu mendekati istrinya. Dia tahu Sanaya masih bersedih karena Nanda. Maka dari itu, tanpa kata dia memeluk Sanaya sekaligus Raffa.

Krughh~

Mereka berdua segera menjauh saat mendengar suara pertanda lapar yang berasal dari perut Rega.

"Lo laper?"

Rega mengangguk dengan wajah datar.

"Yaudah, gue titip Raffa sama lo. Ini udah jam delapan malem, kalau bisa buat Raffa tidur."

Rega mengangguk sekali lagi sebagai jawaban. Hal itu tentu membuat Sanaya kembali kesal pada Rega yang menjawabnya hanya dengan anggukan. Sanaya melangkah keluar kamar dengan langkah yang sengaja dihentak-hentakkan.

- oOo -

"Akhirnya dia tidur," Gumam Rega yang baru saja meletakkan Raffa di atas ranjang dengan hati-hati.

Rega masih tak menyangka bahwa menidurkan Raffa rupanya cukup mudah, pasalnya bayi gembul ini ditimang-timang sebentar olehnya langsung terlelap.

Rega mengelus pipi Rafa yang memang gembul itu, sekilas dia melihat bayangan Sanaya yang selalu mencium pipi Rafa.

"Enak ya jadi kamu, Mbul, bisa dicium sama istriku terus." Gumamnya sambil terkekeh pelan.

Tak lama, aroma bumbu dapur yang begitu memikat hidung Rega membuat perutnya semakin keroncongan. Dia pun bergegas menuju dapur dimana Sanaya tengah memasak.

Rega berdiri di samping Sanaya yang kini tengah mencepol rambut panjangnya lalu sesekali tangannya berganti memegang spatula untuk mengaduk masakannya.

"Ngapain lo disini? Makanannya belum mateng."

Sanaya melewati Rega untuk membuka kulkas yang berada tak jauh dari lelaki itu. Setelah mendapat barang yang diperlukan, Sanaya menutup kulkas lalu mendekati wajan yang berisi ayam kecap yang belum matang.

"Raffa udah tidur?" Sanaya mencicip masakannya di tangannya, "Ga, coba cicipin, masih kurang apa?" Tanya Sanaya.

Sanaya memberikan sendok kepada Rega, tapi cowok itu malah mengambil tangan kanan Sanaya lalu menaruh masakan dari sendok ke telapak tangan Sanaya kemudian menghisap dengan mulutnya.

Sontak saja Sanaya menarik tangannya, "Hih!! Lo apa-apaan sih, Ga? Lo pikir gue nggak geli apa?!" Pekik Sanaya dengan kesal.

"Udah pas." balas Rega tanpa merasa bersalah dengan apa yang baru saja dia lakukan. Dengan santainya dia memeluk Sanaya dari belakang lalu meletakkan kepalanya di pundak Sanaya.

Jelas saja Sanaya menegang, ini benar-benar kontak fisik yang membuatnya overdosis. Bisa mati kejang kalau seperti ini terus menerus, Sanaya mencoba melepas tangan Rega yang melilit kencang pinggangnya.

'Dinosaurus satu ini kesambet apa tetiba jadi cogil begini?!' Sanaya menjerit dalam hati karena tubuhnya belum siap bersentuhan fisik berlebih dengan Rega.

"Punya istri yang berisi enak juga ternyata." Celetuk Rega.

Sanaya langsung menyikut perut Rega, tapi yang jelas hal itu tak berefek untuknya. Rega justru terkekeh pelan dan semakin mengeratkan pelukannya.

"Ga, lepas!"

"Kamu fokus aja sama ayamnya, ntar gosong."

'Kamu?! Apa kuping gue kebanyakan kotoran? Gue nggak salah denger kan?' Sanaya hampir pingsan di tempat, tapi bohong.

"Udah jangan melamun dulu, itu masakannya buruan dimatengin."

Tangan kanan Rega menunjuk ke wajan, sedangkan Sanaya mendengus keras lalu membalik-balik ayam itu agar lebih merata. Percuma saja dia mengeluarkan tenaga karena Rega tak akan melepas pelukannya.

"San... Mulai sekarang kita manggilnya aku-kamu aja. Untuk memulai hubungan kita yang lebih baik lagi. Apalagi sekarang ada Raffa yang nggak mungkin kita bisa bertindak dan berucap seenaknya."

Ucapan Rega membuat Sanaya menghentikan gerakan mengaduknya. Yang dikatakan Rega memang benar. Seusia Raffa itu adalah masa emas dimana dia memiliki rasa ingin tahu yang besar serta meniru apapun yang didengarnya.

"Aku juga mau kamu untuk lebih terbiasa sama aku, karena keadaan kita bukan lagi seperti dulu. Sekarang ada aku yang menjadi suamimu dan imammu yang akan menuntunmu, aku sangat minta kerja samanya." Jelas Rega panjang lebar

Sanaya terdiam karena ucapan Rega sekali lagi memang benar. Dia lantas berdehem untuk mengurangi rasa canggungnya kemudian mematikan kompor.

"Bicara aja..." Bisik Rega tepat di telinga Sanaya.

Gelenyar aneh menjalar ke seluruh tubuh Sanaya saat deru nafas Rega begitu terasa di telinganya. Tentu saja Sanaya tahu bahwa Rega memang sengaja menggodanya.

"Gu- eh... Aku punya pacar, Ga," Sanaya tidak tahu bagaimana raut wajah Rega saat ini, tapi tubuh Rega sempat berjengit saat dia mengatakan itu.

"Dia pacar online aku, dan aku belum pu-"

"Putusin secepatnya." Sela Rega dengan cepat.

Sanaya sebenarnya memikirkan hal itu sejak dia menikah dengan Rega. Bagaimana cara dia memutuskan pacar online-nya padahal dia dan pacarnya itu tidak ada masalah apa-apa.

Sanaya terkejut saat saku celananya dirogoh oleh Rega yang ternyata hendak mengambil ponselnya. Rega bergegas menjauh dari Sanaya lalu mulai mengotak-atik ponselnya yang memang tak disandi.

"Rega! Hape aku mau kamu apain?!!" Pekik Sanaya sambil meraih-raih ponselnya yang diangkat tinggi oleh Rega.

/"Halo?"

Sanaya diam saat mendengar suara Erlangga, pacar online-nya.

/"Halo? San, tumben nelpon duluan, kenapa?"

Di depannya, Rega mengintruksikan agar Sanaya segera mengucapkan kata yang paling menyeramkan bagi orang yang sedang menjalin hubungan, yaitu putus.

Sanaya justru terpaku dengan ekspresi Rega yang menurutnya terlihat baru. Bukan lagi eskpresi datar tanpa minat, kini yang terlihat di matanya adalah seorang pria yang menahan kekesalannya.

/"Halo? San? kok kamu diem aja?"

Rega berdecak saat melihat Sanaya tak kunjung mengatakannya, maka terpaksa dia yang akan mengucapkannya.

"Berhenti ganggu istri gue! Sekarang lo sama dia putus!"

Mata Sanaya membelalak lebar mendengar ucapan Rega. Dia semakin terkejut dengan perubahan besar pria di depannya.

/"Ha? Lo siapa woi?! Dimana Sanaya?"

"Nggak usah banyak nanya lo!!" Sungut Rega.

/"Dimana Sanaya? Hal-"

Tut

Rega mematikan sambungan telepon lalu segera memblokir kontak bernama 'Erlangga' itu tak lupa juga untuk menghapusnya.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • My Other Happiness    MOH- SEMBILAN

    Malam ini, apartemen Rega kedatangan teman-temannya, yaitu Awan, Cristian, Jerrick, Cakra dan Udin. Sanaya yang berada di kamar bersama Raffa merasa terganggu, apalagi dia sedang menidurkan Raffa supaya ia bisa belajar saat Raffa sudah tidur."Hish! Mereka pasti belum dikasih tahu Rega kalau di sini ada anak kecil. Dasar, Rega!!" Kesalnya. "Ma-ma~ mamamm~" Sanaya tertawa mendengar celotehan Raffa, "Kamu ngomong apa sayang? Laper? Mau nyemil?" Sanaya bertanya sambil menciumi pipi gembul Raffa.Raffa tertawa lebar saat pipinya dicium oleh Sanaya, dia pun merespon dengan menarik rambut Sanaya yang terurai bebas."Aduh!! Sakit loh, Raffa..." Ringis Sanaya yang memang sensitif saat rambutnya ditarik, "Kalau Raffa laper, kita keluar kuy ambil makan sekalian tegur om-om yang berisik itu!" Sanaya kemudian mencari hijab instan dan kardigan untuk di pakai karena saat ini dia sedang memakai daster panjang. Setelah memakai itu semua, Sanaya menggendong Raffa lalu keluar kamar. Sementara di r

  • My Other Happiness    MOH - DELAPAN

    Kini mereka sudah berada di dalam mobil, Rega menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang, sesekali ia melirik Sanaya yang tengah mengajak ngobrol bayi di gendongannya. "Lucunya~ Hih!! Gemesh pipinya embem banget kayak bakpao!" Sanaya mencium pipi bayi itu yang begitu gembul. Bayi itu tertawa saat diciumi oleh Sanaya, tangan mungilnya juga mencoba meraih wajah Sanaya meskipun tak sampai. "Lega banget ya, Ga, karena bocil udah punya ibu susu." Dalam hati, Sanaya terus bersyukur karena memiliki mertua yang baik seperti Sicka dan Rion. Meskipun pernikahannya terkesan kurang baik, tetapi ada berkah yang tidak semua orang bisa dapatkan. Karena koneksi ibu mertuanya, Sanaya tak perlu khawatir dengan kebutuhan asi anak yang dirawatnya. "Hm." "Kita kasih nama apa ya,Ga, sama anak kita?" Tanya Sanaya. Cittt Dugh "Aduh!! Rega!! Hati-hati ngapa?!" Sanaya mengelus jidatnya yang terantuk dashboard. "Hihihi~" "Yeuu~ Si bocah malah ngetawain gue..." Karena gemas deng

  • My Other Happiness    MOH - TUJUH

    Rega terkejut saat mendengar lengkingan Sanaya, apalagi istrinya itu langsung berlari setelah berteriak keras. Dia pun segera turun dari motor dan melepas helmnya lalu menyusul Sanaya.Rega melihat di depannya sudah ada begitu banyak warga yang mengerubung dan hal itu makin membuatnya mempercepat langkah kakinya. Setelah dia berhasil mendekat dan menyibak para warga yang berkerumun, dia mendapati Sanaya sedang menggendong bayi yang menangis kencang karena ikut terluka.Rega mendengar bahwa wanita ini korban tabrak lari, dan hal itu membuat Rega bertanya pada warga apakah sudah memanggil ambulance atau belum. "Sebentar lagi ambulance datang, Bang! Gue yang manggil." Tidak lama, ambulance datang dan segera membawa korban menuju rumah sakit terdekat. Sanaya ikut naik di dalam ambulance karena dia yang menjadi saksi sekaligus yang berani menggendong bayi korban. Rega memilih membuntuti ambulance dari belakang. Untunglah jalanan tidak macet seperti biasanya, jadi mereka tiba di rumah s

  • My Other Happiness    MOH - ENAM

    Berada di bawah kipas angin, serta guru yang tidak terlalu memperhatikan ke arahnya membuat Sanaya benar-benar harus menahan kantuk yang luar biasa. Menguap pun sudah tak terhitung lagi baginya. "Selanjutnya adalah menyetarakan jumlah unsur-unsur lain dengan kation, anion, hidrogen, dan oksigen. Kalau ada yang belum paham bisa ditanyakan besok." Terang Bu Puji selaku guru kimia, dan dibalas gumaman satu kelas. "Setengah jam lagi bel pulang, kalian kerjakan halaman tiga puluh, ya? Saya sedang ada tamu, jadi kalau saya belum kembali kalian nanti doa sama nyanyi sendiri saja." "Halaah~ Bu~" Satu kelas berseru sama dengan wajah lesu seolah-olah enggan ditinggal oleh Bu Puji. Dan tentu saja itu tidaklah ekspresi yang sebenarnya.Bu Puji tertawa, "Halah kalian ini, tidak usah acting, bilang aja kalian seneng kan?" Satu kelas tertawa ternyata Bu Puji tahu kalau itu hanyalah pencitraan mereka. "Ampun, Bu, hehe..." "Ya sudah kalau begitu, Bu puji keluar dulu ya... Assalamu'alaikum warah

  • My Other Happiness    MOH - LIMA

    Sanaya ternganga saat melihat apartemen yang akan dia tinggali bersama Rega tidak sama dengan apa yang dia pikirkan. 'Jangan bilang gue bakal sekamar terus sama Reganjay ini?!' Apartemen milik Rega hanya terdiri dari satu kamar, ruang tamu dan ruang tengah yang hanya dipisah oleh almari buku sebagai sekat serta dapur dan kamar mandi. "Sorry, apart gue kecil karena uang yang gue punya nggak cukup buat beli yang besar. Ini juga bekas apart-nya temen gue sendiri, makanya dijual murah." Jelas Rega seolah tahu akan pikiran Sanaya. Sanaya sedikit terhenyak saat tahu Rega membeli apartemen ini dengan uangnya sendiri, dia mengira kalau apartemen yang membelikan orang tuanya yang Sanaya tahu kaya raya. "O-oh ... iya gapapa," Balas Sanaya dengan tak enak hati, "tapi apa kita bakal sekamar?" Tanyanya pelan sambil menunduk, entah kenapa dia jadi malu sendiri bertanya tentang ini. "Ya dan seranjang." Tegas Rega sambil menatap Sanaya tajam. Sanaya langsung mendongak, "Heh Reganjay! Kok lo se

  • My Other Happiness    MOH - EMPAT

    Ruang tamu rumah Rion kini begitu ramai tapi hanya ada keheningan yang tercipta di antara mereka. Mereka tidak tahu harus memulai pembicaraan darimana. Tapi akhirnya Kakek Afkar buka suara sebagai orang tertua di sana karena Ayahnya belum pulang. "Untuk Raka, saya meminta maaf atas kesalahan yang diperbuat oleh cucu saya dan membuat Sanaya ikut terseret menjadi korban di sini." Raka melirik sekilas putrinya yang duduk disebelahnya lalu kembali menatap Kakek Afkar. "Semua sudah terjadi, pak, lagipula kita tahu disini hanya kesalahpahaman. Tapi karena itu, saya ingin kalian dan sekeluarga bisa menerima Sanaya menjadi keluarga baru kalian." Balas Raka sambil menepuk pundak Sanaya pelan. "Bapak tenang aja, saya akan menjaga Sanaya. Karena dia sudah menjadi tanggung jawab saya sekarang. Dan untuk alasan apapun saya tidak akan menceraikannya." Rega berucap dengan tegas dan mantap sambil menatap Sanaya yang enggan melihat ke arahnya. Diam-diam Susi menghapus air matanya merasa bahagia,

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status