Share

My Possesive Boss
My Possesive Boss
Penulis: Liliosh

Si Bos Galak

Cahaya matahari pagi menelusup dari balik jendela, membuat gadis bernama Alicia yang juga kerap disapa Alice itu terganggu.

Alicia bangkit dari duduknya, berniat menarik gorden di ruangan kerja miliknya dan beberapa orang disana.

Menurut Alicia, kantornya itu luar biasa. Bahkan untuknya yang bekerja di bagian keuangan, ia memiliki ruangan dengan jendela kaca besar yang menyuguhkan pemandangan indah kota. Apalagi sesosok manusia yang kini tersenyum manis padanya dari balik kaca gedung sebelah.

Lelaki itu melambaikan tangannya, membuat Alicia tersipu malu. Lelaki itu tampan dan sangat manis, tapi tetap saja Alicia malas berurusan dengan yang namanya cinta. Alicia hanya mengangguk sekilas lalu menarik gorden besar itu. Ia tidak suka cahaya matahari yang menggangu pekerjaannya, apalagi teriakan menggema teman satu ruangannya sekarang.

"PAK BOS DATANG! AAAA AYO BERESIN SEMUANYAAA!" teriak wanita itu heboh dan panik.

Jujur, Alicia belum pernah bertemu langsung dengan bosnya. Katanya sih bos baru dan gosipnya, lelaki itu memiliki wajah tampan setampan idol korea. 

"LICE! KENAPA BENGONG? AYO BERESIN MEJA KAMU, NANTI DIMARAHIN PAK BOS KALO BERANTAKAN," teriak wanita tadi masih dengan mode panik dan heboh.

"Aduh Ci, santai kenapa? Teriak-teriak aja kayak di hutan," balas Alicia.

Wanita itu mengatur nafasnya yang tak karuan.

"Gue panik, Lice! Gawat banget ini, pak bos kita galak. Gue takut," ucap wanita bernama Cici itu.

Nah, itu dia. Lelaki itu juga terkenal galak dan dingin. 

"Lagian ngapain deh itu orang kesini?" tanya Alice sembari membereskan beberapa barang yang berantakan di mejanya.

"Bu Amel salah ngasih laporan, paling si pak bos mau amukin dia," jawab Cici sedikit berbisik.

Alice mengerutkan keningnya. "Lah, terus kenapa kita yang repot mesti beberes? Namanya juga lagi kerja ya pasti mejanya berantakan dong," balas Alicia sedikit tidak terima. 

"Pak bos tuh kalo udah kesini pasti suka ngecek karyawan lain juga. Dan yang paling penting, dia ga suka sama karyawan yang berantakan. Dia pengen kita semua kerja rapi," jelas Cici.

"Repot banget jadi orang."

"Shut, itu dia," bisik Cici.

Alice menatap sosok lelaki tampan yang baru saja memasuki ruangan mereka dengan wajah datar. Ya, Alice bisa merasakan aura dingin dan mengintimidasi dari lelaki itu.

Ia meneguk salivanya susah payah ketika matanya dan mata bosnya yang tampak marah itu beradu.

Brakkk!

"Eh setan!" ucap Alice spontan. 

Sontak semua orang menatap padanya. Alice hanya mampu menundukkan kepalanya dan menutup mulut seraya merutuki dirinya ketika Cici yang berada di sampingnya menyikut lengannya.

"Siapa yang buat laporan ini?" tanya Ardan dingin seraya menunjuk beberapa kertas yang baru saja ia lempar ke lantai.

"Maaf, Pak. Itu kerjaan Alicia," jawab kepala bagian yang bernama Amel.

"Hah?!" Alicia sontak membelalakkan matanya ketika namanya terseret dan menjadi inti permasalahan mereka.

Ardan menatap Alicia nyalang.

"Kamu yang namanya Alicia?" 

"I-iya, Pak," jawabnya gugup.

"Kamu bisa kerja ga? Sampah ini kamu sebut laporan?!" tanya Ardan penuh penekanan dan mengintimidasi.

Alicia sontak menciut, bisa-bisanya kepala bagian malah menyalahkan dirinya.

"Maaf Pak, saya belum tau kesalahannya ada dimana," ucap Alice mencoba santai. Padahal, jantungnya sudah berdegup tak karuan. Benar kata karyawan yang lain, bosnya sangat menakutkan hingga Alice rasanya akan langsung diterkam dengan tatapan tajam laki-laki itu.

"Coba kamu lihat sampah yang kamu sebut laporan ini! Coba lihat apa ini pantas disebut laporan?!" Sekali lagi Ardan berucap dengan penuh amarah.

Alicia menatap Amel, kepala bagian keuangan yang malah lepas tangan begitu saja. Wanita itu tampak jauh lebih ketakutan daripadanya. Amel yang menundukkan kepalanya menatap Alicia, memberikan kode agar Alicia maju dan memunguti laporan hasil kerjanya.

Alicia menurut, dengan langkah yang berat gadis itu melangkah pelan.

"Setelah ini kamu ke ruangan saya," titah Ardan sebelum meninggalkan ruangan mereka.

"Satu lagi, buka gordennya biar sinar matahari masuk," ucap lelaki itu menghentikan langkahnya.

"Baik, Pak," jawab Amel.

"Huh..." Amel menghela nafas panjang ketika Ardan sudah tak terlihat disana.

"Kena mental gue, Lice," ucap Cici terduduk lemas.

"Kok jadi saya yang salah sih, Bu?" tanya Alice sambil menatap Amel tak terima.

"Kamu liat deh isinya, Lice! Saya kan udah bilang kalo kamu harus revisi itu laporan. Angkanya ada yang salah," jelas Amel masih berusaha mengatur nafasnya.

Alicia membuka laporannya, perasaan ia sudah merevisi seluruh isi laporannya dan sudah ia periksa berulang kali.

"Bu, Ibu salah ambil berkas. Ini laporan sebelum revisi," ucap Alice frustasi.

Ia melirik ke atas meja kerjanya dan menemukan berkas dengan warna map yang berbeda di sana.

"Saya kan bilang kalo laporannya pake map biru," tambah Alice.

"Astaghfirullah, Alice. Saya yang salah," ucap Amel merutuki dirinya sendiri.

"Duh, gimana dong ini?" tanya Cici takut.

"Kita bertiga bisa-bisa habis kalo pak bos udah ngamuk kayak tadi." Amel tampak semakin frustasi.

"Udah, tenang aja biar saya bawa laporan yang asli ke ruangannya. Nanti biar saya yang ngomong deh," ucap Alice memberi solusi.

"Nanti saya yang dimarahin, Lice," ucap Amel.

"Ya mending dimarahin daripada dipecat."

Alice mengambil laporan yang sudah ia perbaiki, lalu berjalan keluar dari ruangan mereka menuju lantai tertinggi di gedung kantornya. 

Alice langsung masuk ke dalam lift meski jantungnya tak karuan. Ia takut diamuki lelaki tadi. 

Namun Alice sudah membulatkan tekadnya, ia memejamkan matanya sebelum menekan angka tujuh disana.

Ting!

Pintu lift terbuka, Alice menghembuskan nafasnya pelan. Suasana lantai tertinggi di kantornya ini tampak sepi karena memang hanya ada satu ruangan disini, ruangan milik bosnya. 

Bahkan Alice tak melihat seorang sekretaris di bagian luar ruangan kerja lelaki itu. 

Tok tok tok

"Masuk," ucap seseorang dari dalam sana.

"Permisi, Pak."

Ardan menaikkan satu alisnya, "Udah ketemu kesalahannya dimana?" 

"Maaf Pak, tapi yang Bapak liat tadi laporan yang salah. Sebelumnya laporan tersebut sudah saya revisi, tapi Bu Amel salah ambil," jelas Alice mencoba tenang dengan jantung yang berdetak kencang.

Lelaki itu masih menatap garang ke arahnya.

"Ini dia laporan terbarunya, Pak." Alice menyerahkan berkas yang tadi ia bawa bersamanya.

Ardan segera mengambil berkas itu lalu membacanya.

"Lain kali berkas yang salah jangan disatuin sama yang bener. Beresin dan langsung buang berkas-berkas yang terdapat kesalahan. Kamu harus lebih teliti, saya ga mau ada kesalahan lagi setelah ini," omel lelaki itu panjang lebar.

"Baik, Pak. Saya minta maaf," ucap Alice sembari menundukkan kepalanya.

"Ya, kalau bisa bikin laporan jangan sampai ada kesalahan. Buang-buang kertas aja, mubazir tau!" omelnya lagi.

"Iya, Pak. Sekali lagi saya minta maaf," balas Alice sopan.

"Ya udah, kamu boleh keluar. Ga usah minta maaf terus, ini bukan lebaran."

"Iya, Pak. Maaf."

Ardan memutar bola matanya malas ketika gadis itu kembali mengucapkan kata maaf.

"Keluar."

Alice langsung melangkahkan kakinya keluar ruangan dengan kesal. Bisa-bisanya lelaki itu mengusirnya. Harga dirinya terasa jatuh berceceran di lantai.

"Tunggu dulu!" panggil lelaki itu ketika Alice baru saja hendak membuka pintu.

"Lain kali jaga sikap."

Alice mengangkat satu alisnya bingung.

"Tingkah kamu tadi bikin saya malu sebagai bos kamu," ucap Ardan sebelum kembali menyibukkan diri dengan berkasnya.

Alice mengangkat satu alisnya heran. Tingkahnya tadi? Oh, Alice mulai paham. Tingkah spontannya tadi yang mempermalukan diri sendiri di depan Ardan.

"Namanya juga kaget. Dasar bos rese!" gerutunya pelan.

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status