FAZER LOGINGregorio Delgado. Pangalan pa lamang nito ay napapangiti na si Toni. Best friend ito ng ate niya at ultimate crush niya mula pa yata nang malaman niya ang kahulugan ng salitang iyon. Paano kung malaman niya na may katugon naman pala ang nararamdaman niya para rito? Would she take the risk? Considering na malaki ang agwat ng edad nito sa kanya? And she did. Nang bigla na lamang itong mawala ng parang bula, which caused her her first heartache. After two years ay bumalik ito, declaring his undying love for her. Will she again consider?
Ver maisTasker kode Zero telah hidup dalam 99 dunia berbeda—dunia modern, kerajaan, prasejarah, kiamat, bahkan peradaban antar bintang.
Gadis itu telah menjalankan berbagai misi, mengubah takdir, dan memainkan peran yang tak terhitung jumlahnya. Dan ini adalah misinya yang terakhir. Jika dia berhasil menyelesaikan misi ke-100, dia akan kembali ke kehidupan pertamanya. Masalahnya? Zero tidak ingat seperti apa kehidupan pertamanya. Kenapa dia memulai perjalanan ini? Kenapa dia bersikeras ingin kembali? Apakah ada seseorang yang menunggunya di sana? Entahlah. Yang ia tahu, ia harus menyelesaikan misi terakhirnya. Namun setelah 99 kehidupan yang melelahkan, Zero sudah tidak lagi bersemangat. Apa salahnya kalau dia tidur saja? Apa salahnya kalau kali ini... dia membiarkan segalanya berjalan tanpa campur tangan? Sayangnya, dunia ke-100 tidak memberinya kemewahan untuk beristirahat. Karena kali ini, dia diberikan Sistem Gosip yang terus-menerus menggodanya dengan informasi yang terlalu menarik untuk diabaikan. Dan sialnya, percakapan mereka bisa didengar oleh misi targetnya. **** Musik berdentum pelan, cahaya temaram berkelap-kelip di antara botol-botol mahal yang berjajar di bar. Selina berdiri di sudut ruangan, mengenakan seragam pelayan, tangannya menggenggam nampan berisi minuman dengan erat. Dia tidak seharusnya berada di sini. Seharusnya dia bekerja, bukan menguping. Tapi Selina tidak bisa mengabaikan suara itu. Suara Ero, pacarnya selama dua tahun. Duduk santai di sofa bersama teman-temannya, tertawa, dengan satu tangan memegang gelas whiskey dan tangan lainnya merangkul seorang gadis. Vivi, teman satu kuliahnya. "Taruhan," Ero tertawa ringan, menyesap minumannya. "Aku pacaran sama Selina cuma karena taruhan. Dia yatim piatu, nggak punya siapa-siapa. Kalo bukan karena taruhan, mana mau aku sama dia?" "Ya ampun, bro. Masih zaman pacaran karena taruhan?" salah satu temannya mengejek. "Eh, siapa tahu? Bisa jadi pelayan pribadimu nanti, hahaha!" Tawa mereka menyakitkan. Menghantam Selina lebih keras dari pukulan mana pun. Taruhan? Selama ini... semua perhatian Ero, semua waktu yang dia berikan... hanya karena taruhan? Tangannya gemetar, bibirnya kering. Dia ingin berteriak, ingin menumpahkan minuman di nampannya ke wajah Ero. Tapi Selina tidak berani. Tubuhnya hanya membeku. Ia terlalu takut. Terlalu pengecut. Napasnya tersengal saat Ero tiba-tiba menoleh dan menatapnya. Pemuda itu sempat terkejut, tapi hanya sesaat. Alih-alih merasa terganggu, dia justru terlihat semakin tertantang. "Ah, kebetulan." Senyum tipis terukir di wajahnya, seperti seseorang yang baru saja menemukan mainan lama yang sudah membosankan. "Kau dengar, kan?" Selina tidak menjawab. Ero menghela napas, lalu menepuk pahanya, menatapnya dengan tatapan merendahkan. "Kalau kau masih mau menjadi pacarku, berlutut di depan teman-temanku. Buktikan kalau kau cukup tahu tempat." Dunia Selina runtuh. Pikirannya kosong. Berlutut? Di depan orang-orang ini? Hatinya berteriak menolak, tapi tubuhnya—tubuhnya mulai bergerak. Lututnya terasa lemas, seolah sudah siap jatuh ke lantai. Tapi tepat saat itu— DOR! Kepalanya seperti dihantam sesuatu yang besar. Matanya melebar. Sesuatu yang asing merayap masuk ke dalam kesadarannya, memenuhi pikirannya. Ding! [Misi ke-100 dimulai! Selamat datang, Selina baru. Mari jalani kehidupan yang tenang, tanpa kerja keras, dan tentu saja... tanpa drama berlebihan!] Seketika, ekspresi Selina berubah. Ia berkedip beberapa kali, menatap sekeliling dengan malas. Lalu, dia menatap Ero dengan pandangan kosong. "...Hah?" Kenapa dia ada di sini? Sudahkah ia masuk ke dunia ke-100? Tapi... kenapa dia harus berlutut?! Sial. Baru hari pertama, dan dia sudah terkena masalah begini?! **** Musik tetap berdentum, suara tawa teman-teman Ero masih memenuhi ruangan, tapi suasana terasa berubah. Selina yang tadi ketakutan dan gemetar, kini berdiri tegak dengan ekspresi malas. Dia berkedip beberapa kali, seakan baru bangun tidur. Tatapannya kosong, wajahnya datar, seolah tidak peduli dengan dunia. Lalu... gadis itu menguap. Lagi. Di depan semua orang. Ero mengernyit. "Selina?" Selina menatapnya. Lalu menoleh ke kanan. Ke kiri. Ke arah meja minuman. "Aku... siapa ya?" gumamnya pelan. Ding! [Selamat datang, Selina! Kau telah masuk ke dunia novel. Aku adalah sistem gosip, tugasku adalah memberikan gosip paling terkini!] Selina tidak bereaksi. Sistem? Kenapa kali ini ada sistem? Sial. Ini sudah misi ke-100, dan dia benar-benar sudah muak dengan semua ini. Ero mulai tidak sabar. "Selina, kenapa kau diam saja? Kau dengar tidak barusan? Aku bilang, kalau kau masih mau jadi pacarku, berlutut di depan teman-temanku." Selina masih diam. Dia menatap Ero, menatap teman-temannya, lalu menatap lantai. Lalu, dia... berbalik. Dan mulai pergi. Semua orang terdiam. Ero mengerutkan kening. "Hei! Mau ke mana?" Tanpa menoleh, Selina menjawab, suaranya malas, tenang, tapi menusuk. "Ngantuk. Mau pulang." Satu ruangan langsung hening. Teman-teman Ero saling bertatapan, berusaha menahan tawa. Ini tidak seperti Selina yang mereka kenal. Ero mengatupkan rahangnya. "Selina, kau tidak dengar, ya? Aku bilang-" Selina berbalik lagi, menatapnya dengan ekspresi bosan. "Ero," katanya, nadanya datar. "Aku tidak peduli." Seketika, Ero terdiam. "Aku nggak peduli kau pacaran denganku karena taruhan atau tidak." Selina mengangkat bahu. "Kau mau bermain dengan Vivi? Silakan. Mau berlagak jadi cowok paling keren? Terserah." Dia menghela napas panjang, mengacak rambutnya yang masih terikat kuncir kuda. "Lagipula," lanjutnya, kini dengan nada agak serius, "Yang benar aja. Masa aku harus berlutut di depan cowok yang masih minum botol susu tiap malam?" "PUHAHAHA!" Salah satu teman Ero langsung tertawa kencang. Yang lain mulai tersedak minumannya, berusaha menahan tawa. Wajah Ero langsung merah padam. "S-Selina?! Apa yang kau bilang barusan?!" Tapi Selina hanya menguap lagi. "Sekali-kali coba periksa telingamu ke THT deh." "Udah, lah. Capek." Dengan santainya, Selina pergi meninggalkan ruangan, tanpa sedikit pun melihat ke belakang. Sementara itu... Ero masih terdiam. Vivi melotot. Dan teman-temannya mulai tertawa keras-keras. **** Di dalam kamar kosnya yang kecil, Selina langsung menjatuhkan diri ke kasur. Empuk dan nyaman. Akhirnya ia bisa rebahan. Selina menarik selimutnya, menatap langit-langit dengan tatapan kosong. Semua kejadian di klub tadi masih terasa surreal. Dia, tasker kode Zero, masuk ke dalam tubuh Selina. Gadis yatim piatu yang kuliah sambil bekerja. Kekasihnya berselingkuh. Lalu, ada sistem? Ding! [Halo, Selina! Aku adalah Sistem Gosip yang akan menemanimu selama misi ke-100!] Selina mengerutkan kening. 'Kenapa baru ada sistem sekarang? Kemarin-kemarin, kemana saja?' [Karena ini dunia ke-100 yang kau jalani! Kalau kau menyelesaikan misi utama, kau bisa kembali ke dunia pertamamu!] Selina tercenung. Dunia pertamanya? Seperti apa dunia pertamanya? Dia mencoba mengingat... tapi kosong. Tidak ada memori. Tidak ada wajah yang muncul di kepalanya. Hanya perasaan asing... seperti ada sesuatu yang hilang. Dia menghela napas. 'Lalu, kalau aku tidak bisa menyelesaikan misinya?' [Yah, maka kau akan tetap terjebak sebagai tasker. Menjalani misi-misi di dunia yang berbeda-beda lagi.] '...' Selina langsung terduduk di kasurnya. 'Jadi maksudnya, kalau aku tidak selesaikan misi ini, aku akan kerja rodi lagi?' [Kurang lebih begitu~] Selina mencengkram selimutnya. TIDAK! DIA SUDAH CUKUP LELAH! Puluhan dunia, puluhan kehidupan yang penuh dengan kerja keras, penderitaan, konspirasi, drama politik, perang, kematian! Tidak! Tidak! Dia ingin santai! Dia ingin rebahan! Selina mengusap wajahnya. 'Oke, misi utama tadi apa?' [Kembali ke keluarga kandungmu dan melindungi mereka. Kau tertukar waktu bayi. Seharusnya kau putri anak orang kaya.] Selina langsung menatap langit-langit dengan malas. Jadi anak orang kaya? Repot sekali. [Tapi tenang! Karena kau sudah menyelesaikan 99 dunia sebelumnya, hadiahnya masih ada!] [Uang dari dunia-dunia sebelumnya masih tersimpan aman di akunmu. Kau bisa hidup santai tanpa bekerja!] Selina membelalakkan mata. 'Tunggu, tunggu. Maksudnya, aku punya UANG di dunia ini?' [Yap! Mau cek saldo?] 'Cek.' Ding! Saldo rekening: Rp. 201.187.000.000.000 Selina: '...' Sistem: [...] Selina menatap angka itu. Matanya berkedip pelan. Lalu, dia merebahkan diri ke kasur lagi. 'Baiklah. Aku bisa hidup santai.' Tidak perlu kerja. Tidak perlu susah payah. Hidup nyaman dengan uang melimpah. Misi? Bisa nanti. Masalah keluarga kaya? Bisa nanti. Untuk saat ini... REBAHAN. Tapi kemudian- Ding! [Misi sampingan aktif! Men-stalker CEO nomor satu di negara ini!] Selina: "..." Selina masih diam. Tunggu. 'Buat apa misi sampingan?' Selena bertanya heran. Selama ini, ia hanya perlu menyelesaikan misi utama, lalu ia akan pindah ke dunia lainnya. Tidak pernah ada yang namanya misi sampingan. Apalagi yang seaneh ini. Stalker katanya? Heh. [Tentu saja untuk mendapatkan poin! Poin yang digunakan bisa untuk membuka gosip seseorang yang kau mau.] 'Jadi, aku bisa tahu gosip apa pun?' [Betul! Asalkan punya poinnya!] Seru juga, batin Selina. Dari dulu, dia memang tidak bisa jauh-jauh dari gosip. Kalau ada grup emak-emak yang sibuk bergunjing soal rumah tangga atau kehidupan tetangga, dia pasti jadi anggota paling aktif-bahkan mungkin yang pertama kali bergabung. Di dunia manapun itu. 'Lalu, berapa poinku sekarang?' [Poinmu -10.] 'Heeeehh? Kenapa minus?' [Lupa? Tadi kau memakainya untuk mencari tau gosip tentang Ero, pacarmu.] Ah, betul. Sial. Poinnya terbuang sia-sia. Sepertinya harus cepat-cepat mengerjakan misi sampingan. Tapi, rebahan dulu kali ya. *****"What?!" bakas ang pagkagulat sa mga mata at tinig ni Toni sa sinabi ng kasintahan. "Nah... of course, you're joking.""Sweetheart, i'm not." bahagya siyang napalunok nang makitang seryoso nga ang mukha nito."Seryoso? As in...?""Damn, serious!" tumatango-tango pang sabi muli nito."B-but... I mean..." hindi niya alam kung ano ang sasabihin at kung papaano magre-react.Seryoso talaga?Naka-angat naman ang kilay nakatingin sa kanya si Greg. Nagtatanong ang mga mata."H-how? I mean... gan'on kabilis? Are we in a rush, here?""I am." seryoso pa ring sagot ng binata. "Ayaw mo ba?" she can sense insecurity in his voice."Of course, not." mabilis niyang sagot. "Look... I want to marry you, alright, but... do we really have to make it, tomorrow? Paano ang parents ko? Ni hindi pa nga kayo nagkikita, hindi ka pa nga namamanhikan? And besides, gusto ko, kapag kinasal ako, nandito sila."
KUNG naging lalaki lamang siguro si Chloe, ay kanina pa ito nasaktan ni Greg, sa labis na galit na nadarama niya nang mga oras na iyon.Nag-uumigting ang mga ugat sa kanyang kamao sa higpit ng pagkakakuyom, dahil sa pagpipigil na masaktan ang dalaga."From now on, stay away from me, and Toni. Sa susunod na lumapit ka pa sa amin, hindi ko na alam kung makakaya ko pang pigilan ang sarili ko." naniningkit ang mga matang sabi niya.Kahit ano'ng gawin nito ay hindi niya kayang kalimutan na lamang ang lahat ng mga ginawa nito. Kamuntikan na siyang iwan ni Toni nang dahil sa kagagawan nito."Ayoko nang magkaroon pa ng kahit na ano'ng kaugnayan sa'yo!" nagngangalit ang mga bagang na mariin niyang sabi. "Not even as friends, this time, Chloe!"Mariing napalunok si Chloe at nanlaki ang mga mata sa intensidad ng mga sinabi niya. "You can't do that to me!"Umangat ang gilid ng mga labi niya sa isang pagak na ngiti. "Try me." nagh
KUNG naging lalaki lamang siguro si Chloe, ay kanina pa ito nasaktan ni Greg, sa labis na galit na nadarama niya nang mga oras na iyon.Nag-uumigting ang mga ugat sa kanyang kamao sa higpit ng pagkakakuyom, dahil sa pagpipigil na masaktan ang dalaga."From now on, stay away from me, and Toni. Sa susunod na lumapit ka pa sa amin, hindi ko na alam kung makakaya ko pang pigilan ang sarili ko." naniningkit ang mga matang sabi niya.Kahit ano'ng gawin nito ay hindi niya kayang kalimutan na lamang ang lahat ng mga ginawa nito. Kamuntikan na siyang iwan ni Toni nang dahil sa kagagawan nito."Ayoko nang magkaroon pa ng kahit na ano'ng kaugnayan sa'yo!" nagngangalit ang mga bagang na mariin niyang sabi. "Not even as friends, this time, Chloe!"Mariing napalunok si Chloe at nanlaki ang mga mata sa intensidad ng mga sinabi niya. "You can't do that to me!"Umangat ang gilid ng mga labi niya sa isang pagak na ngiti. "Try me." nagh
HABANG nasa biyahe si Greg ay hindi niya maubos-maisip kung papaanong naroon si Chloe sa condo niya, sa dalawang pagkakataon na nagpunta doon si Toni.Kailangan niya talagang malaman ang katotohanan. Hindi siya papayag na ang mga pangyayaring iyon ang maging dahilan ng pagkasira nila ng kasintahan.Dahil babalik din naman siya agad sa condo niya, ay hindi na siya nag-abala pang ipasok sa loob ng gate ang sasakyan niya; ipinark niya na lamang ito sa tapat ng mansyon.Walang kamalay-malay ang mga tao sa loob sa pagdating niya. Nasa pinto pa lamang siya ay dinig niya na ang usapan ng mga ito."I guess, your plan worked. Greg wants to see you." dinig na dinig niyang sabi ng Mama niya na nagpatiim ng mga bagang niya. "Sana talaga, hindi na magpakita ang babaeng 'yon. And, I hope, too, na bayad na ako sa pagkakautang ko sa'yo." nangunot ang noo niya sa huling sinabi ng ina.Pinili niyang manatili na lamang sa labas ng pintuan. Nais ni












avaliações