Se connecterNayara tidak menyembunyikan rasa terkejutnya mendengar lelaki tampan itu adalah Allan.
“Kamu tidak berbohong, kan? Kamu betulan Allan? Kenalan Pak Benny? Bagaimana aku bisa percaya bahwa kamu adalah Allan?”
Salah satu alis Allan terangkat mendengar Nayara mencecarnya dengan banyak pertanyaan. Tanpa banyak kata, Allan menunjukkan paspor-nya.
Tubuh Nayara condong ke depan membaca identitas pada dokumen resmi tersebut.
“Allan Reunald Benjamin.” Nayara membaca, lalu melirik Allan dan foto pada paspor. “Ternyata bukan duda tua,” gumamnya sambil menggeleng samar.
“Apa maksudmu duda tua?” geram Allan.
“Eh, maaf.” Nayara menunduk sedikit. “Aku pikir Pak Benny memintaku untuk menikahi temannya yang seorang duda tua.”
“Jadi, Papa tidak memberitahumu bahwa aku adalah putranya?” Allan mendengus pelan.
“Putra?” Nayara bergumam dalam hati dengan kedua alis Nayara saling bertautan “Bukannya anak-anak Pak Benny sudah menikah semua?”
Meski sangat ingin bertanya lebih lanjut, Nayara memilih diam. Ia lebih fokus menetralkan debar jantungnya yang sangat kencang.
Lelaki di hadapannya ini terlalu tampan, terlalu sempurna, dan rasanya sangat tidak masuk akal jika pria dengan aura sekuat ini harus mencari istri lewat jalur perjodohan ayahnya.
"Jadi," suara bariton Allan memecah kecanggungan, nadanya terdengar begitu datar dan tanpa emosi. "Apa benar kamu ingin menikah?"
Pertanyaan yang terlalu blak-blakan itu langsung menohok kesadaran Nayara. Ia mengerjap, merasa sedikit terintimidasi oleh tatapan tajam pria itu yang seolah sedang menguliti isi kepalanya.
"Saya rasa pertanyaan itu seharusnya saya kembalikan," balas Nayara, berusaha sekuat tenaga menjaga agar suaranya tidak bergetar. "Apa kamu sendiri benar-benar ingin menikah? Dengan perempuan asing yang bahkan baru kamu ketahui namanya hari ini?"
Ujung bibir Allan bergerak pelan, membentuk sebuah seringai tipis yang nyaris tak kasat mata. Alih-alih tersinggung dengan kelancangan Nayara, lelaki itu justru menyandarkan tubuh besarnya ke punggung kursi, melipat kedua lengan di depan dada dengan sikap santai yang arogan.
"Biar kuperjelas satu hal padamu," ucap Allan, suaranya kini melirih namun terasa jauh lebih berat dan menekan. "Aku sama sekali tidak tertarik dengan konsep pernikahan. Omong kosong tentang cinta, romansa, atau ikatan seumur hidup tidak pernah ada dalam daftar rencanaku."
Nayara menahan napas, keningnya berkerut bingung. "Lalu, untuk apa kamu datang menemuiku hari ini?"
"Karena ada satu keadaan yang berada di luar kendaliku," rahang Allan mengetat sejenak, kilat matanya berubah menjadi lebih gelap dan serius. "Sebuah keadaan yang memaksaku harus segera memiliki seorang istri. Secepat mungkin."
Mendengar pengakuan lugas itu, Nayara mengernyit. Keadaan yang memaksa, batinnya mengulang ucapan Allan. Ternyata, lelaki dengan aura seberkuasa ini pun bisa terdesak oleh situasi.
Jika Allan membutuhkan sebuah pernikahan kilat demi keuntungannya sendiri, bukankah itu berarti mereka berada di perahu yang sama? Nayara menatap lekat-lekat wajah dingin di hadapannya.
Ia juga butuh jalan keluar, secepatnya. Dengan menikah masalahnya pun akan beres. Ini adalah sebuah simbiosis mutualisme, sebuah transaksi tanpa perlu melibatkan perasaan yang rumit.
"Mana kartu identitasmu?"
Perhitungan di kepala Nayara terputus oleh suara bariton Allan yang mendadak menuntut. Lelaki itu menengadahkan telapak tangannya di atas meja.
"KTP?" Nayara mengerjap bingung, namun tangannya refleks merogoh dompet tipis di dalam tas selempangnya. "Untuk apa?"
Tanpa repot-repot menjelaskan, Allan langsung menarik KTP tersebut begitu ujungnya terlihat. Lelaki itu mengangkat ponsel mahalnya, memotret bagian depan kartu identitas Nayara dengan cepat, lalu mengetikkan sesuatu di layar.
Nayara hanya bisa menerka-nerka apa yang sedang dilakukan lelaki tampan di depannya ini. Mengecek latar belakangnya?
Ting!
Layar ponsel Allan menyala, menampilkan sebuah notifikasi pesan balasan. Lelaki itu menunduk, matanya memindai rentetan informasi di layar dengan cepat. Sedetik kemudian, ia mengangguk singkat.
"Bagus. Tidak ada catatan kriminal," ucap Allan santai seraya memasukkan ponselnya ke dalam saku. Ia mencondongkan tubuh ke depan, menatap Nayara seolah perempuan itu adalah kesepakatan bisnis terbaiknya hari ini. "Kita bisa menikah sekarang."
Mata Nayara membulat sempurna. Ia menatap Allan dengan mulut sedikit terbuka mendengar betapa mudahnya kalimat itu meluncur.
“Ayo, ikut aku!” Allan langsung berdiri.
Nayara masih terpaku di kursinya selama beberapa detik, otaknya berjuang keras memproses keputusan Allan. Melihat Allan pergi, ia setengah berlari menyusul langkah lebar pria tersebut.
Setelah membayar tagihan di meja kasir, Allan berjalan keluar restoran menuju mobilnya
"Tu-Tunggu," suara Nayara memecah, napasnya memburu saat ia berhasil menyejajarkan diri di samping Allan. "A-apa maksud Anda? Kita menikah... hari ini?!"
"Apa wajahku terlihat seperti sedang bercanda, Nayara?" suara bariton Allan terdengar rendah, nyaris seperti geraman halus yang membuat bulu kuduk meremang.
Nayara menelan ludah, lidahnya tiba-tiba kelu melihat sepasang mata kelam yang menatapnya tanpa keraguan sedikit pun.
"KUA dan segala birokrasinya memakan waktu cukup lama," lanjut Allan santai, lalu melirik Nayara dari ujung kepala hingga kaki. "Masih ada waktu untuk bersiap.”
Allan membuka pintu sebuah mobil mewah, meminta Nayara masuk. Begitu mereka duduk, Allan mengemudikan kendaraannya keluar dari parkiran restoran.
Nayara baru akan membuka mulut, tetapi suara bariton Allan membuatnya terdiam.
"Pernikahan ini hanya akan berlangsung selama satu tahun," ucap Allan tanpa menoleh, pandangannya tetap fokus menatap jalan di depan. "Setelah kontrak selesai, kamu akan mendapatkan kompensasi yang lebih dari cukup untuk jaminan masa depanmu dan…. “
“Te–Tetapi,” Nayara segera memotong, “Aku bahkan belum bilang setuju untuk menikah denganmu.”
Suasana mencekam di lorong sempit itu akhirnya memaksa mereka berpindah ke ruang tamu. Sofa yang biasanya menjadi tempat Anton bersantai kini terasa penuh karena semua duduk dengan suasana tegang.Allan duduk dengan postur tegap, sementara tangan kanannya tak sekalipun melepaskan rengkuhannya dari pinggang Nayara. Ia menarik tubuh istrinya merapat ke sisinya, sebuah gestur posesif dan protektif yang seperti menjadi tamparan bisu bagi Anton agar tidak berani menatap Nayara sedikit pun.“Jelaskan padaku. Bagaimana kalian bisa tiba-tiba menikah?” ulang Riris, kini dengan nada lebih tegas."Aku rasa perkenalan barusan sudah cukup jelas, tapi mari kita luruskan semuanya agar tidak ada lagi... kesalahpahaman di kemudian hari," Allan memulai dengan nada datar. "Aku Allan Reunald Benjamin, putra bungsu dari Benjamin Ortega."Mata Tante Riris maupun Anton langsung melebar. Tentu saja mereka mengenal nama itu. Benjamin Ortega adalah salah satu konglomerat ternama di kota ini, teman lama mendia
"Tinggal bersamaku." Kalimat itu terus terngiang, berputar-putar di benak Nayara. Ia menelan ludah, membasahi kerongkongannya yang mendadak terasa kering kerontang.Malam ini. Ia akan berada di bawah satu atap, berbagi ranjang, dan tidur berdua dengan laki-laki asing sedingin Allan? Apakah ia benar-benar siap?Namun, ketegangan yang mencekiknya perlahan mengendur saat Allan ternyata tidak ikut bersamanya. “Aku ada urusan,” ucap Allan seraya masuk ke mobil lain.Peter – asisten Allan adalah lelaki yang mudah bergaul dan efisien. Begitu tiba di apartemen mewah Allan, Nayara langsung mendapatkan tur keliling apartemen.Nayara mengekor di belakang Peter bak pengunjung yang baru pertama kali masuk ke museum teknologi. Asisten berkacamata itu mulai menjelaskan segalanya sambil terus melangkah. Mulai dari panel layar sentuh di dinding untuk mengatur suhu ruangan dan pencahayaan, tirai otomatis yang terbuka mengikuti sensor cahaya matahari, hingga sistem keamanan biometrik dan pemindai waja
Decitan pelan terdengar saat mobil mewah itu melambat dan berhenti di tepi jalan. Perlahan Allan menoleh. "Aku tidak sedang menawarimu dongeng romantis," lanjut Allan, suaranya kembali datar. "Tetapi dengan menikahiku, semua masalah finansialmu akan beres. Kamu juga bisa keluar dari rumah itu.”“Kamu tau tentang itu semua?”Allan melirik Nayara dari sudut matanya, lalu mengangguk singkat. "Kurasa kamu tidak memiliki jalan keluar lain, bukan?”Nayara membenci kenyataan bahwa apa yang diucapkan Allan benar. Meski ia mencoba mengelak, solusi menikah memang jalan pintasnya saat ini.“Baiklah.” Nayara membalas pelan. “Aku terima tawaran kontrak pernikahan denganmu.”Allan tidak berkomentar. Wajahnya pun datar saja mendengar pernyataan Nayara. Lelaki itu kembali melajukan kendaraan. Kali ini tidak ada lagi percakapan, hingga mereka berhenti di parkiran sebuah butik.“Masuklah.” Allan mengendik pada pintu butik. “Mereka sudah menunggumu.”Nayara menatap pintu mewah tersebut. Meski bingung,
Nayara tidak menyembunyikan rasa terkejutnya mendengar lelaki tampan itu adalah Allan.“Kamu tidak berbohong, kan? Kamu betulan Allan? Kenalan Pak Benny? Bagaimana aku bisa percaya bahwa kamu adalah Allan?”Salah satu alis Allan terangkat mendengar Nayara mencecarnya dengan banyak pertanyaan. Tanpa banyak kata, Allan menunjukkan paspor-nya.Tubuh Nayara condong ke depan membaca identitas pada dokumen resmi tersebut.“Allan Reunald Benjamin.” Nayara membaca, lalu melirik Allan dan foto pada paspor. “Ternyata bukan duda tua,” gumamnya sambil menggeleng samar.“Apa maksudmu duda tua?” geram Allan.“Eh, maaf.” Nayara menunduk sedikit. “Aku pikir Pak Benny memintaku untuk menikahi temannya yang seorang duda tua.”“Jadi, Papa tidak memberitahumu bahwa aku adalah putranya?” Allan mendengus pelan.“Putra?” Nayara bergumam dalam hati dengan kedua alis Nayara saling bertautan “Bukannya anak-anak Pak Benny sudah menikah semua?”Meski sangat ingin bertanya lebih lanjut, Nayara memilih diam. Ia le
Pagi-pagi sekali, Nayara menenteng tasnya, mengendap-endap keluar dari kamar. Tak lupa ia juga membawa kantong besar berisi barang-barang pemberian Darrel.Sayup-sayup terdengar suara lenguhan tertahan dan derit ranjang yang berirama. Ujung bibirnya mencebik penuh rasa muak mengetahui Tante Riris yang baik hati sedang berbagi keintiman dengan laki-laki hidung belang.Suara-suara dari dalam kamar sang tante itu membuatnya semakin menguatkan tekad untuk segera angkat kaki dari rumah ini, apa pun yang terjadi. Ia tidak mau terus hidup satu atap bersama predator yang berlindung di balik status suami tantenya.“Hari ini setelah jaga toko, aku akan cari kos-kosan.” Nayara berkata dalam hati.Nayara membuka pintu toko membuat lonceng kecil di atas pintu berdenting. Toko barang antik ini adalah satu-satunya warisan, sekaligus kepingan kenangan paling berharga yang masih ia miliki dari orang tuanya.Tatapan Nayara terpaku pada sebuah amplop cokelat yang tergeletak di lantai, tepat di dekat uj
Mendengar ancaman Anton, Nayara bergegas masuk ke kamarnya di ujung lorong. Ia membanting pintu dengan keras dan segera memutar kuncinya dua kali. Di luar sana, terdengar Om Anton bicara dengan Tante Riris yang baru keluar dari kamar mandi.Berada di rumah ini sama saja dengan menunggu bom waktu meledak. Tatapan Om Anton semakin hari semakin berani. Hari ini lelaki itu mencoba menyentuhnya, esok lusa, siapa yang tahu apa yang akan terjadi jika Tante Riris sedang pergi jauh?Nayara berjalan perlahan ke ranjang. Di ujung, terdapat boneka teddy pemberian Darrel. Ia mengambil boneka, topi, pulpen dan semua benda yang pernah diberikan Darrel ke dalam kantong plastik besar.“Besok, kalian akan menjadi penghuni tempat sampah!” ujarnya kesal.Tok! Tok! Suara ketukan di pintu membuat Nayara menghentikan kegiatannya."Nay, buka pintunya!"Nayara menarik napas panjang, berusaha menstabilkan suaranya sebelum memutar kunci dan membuka pintu perlahan. Matanya sedikit sembab dengan wajah datar yan







