Share

LS 2. Mendadak Dilamar

Penulis: Ziya_Khan21
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-26 00:14:22

Kini, Steven berada di ruang rawat rumah sakit. Lengan kanannya sudah digips rapi, dibalut putih dari pergelangan sampai mendekati siku. Liora berdiri di sana. Ia tampak gelisah, canggung, dan bersalah meski ia berusaha keras untuk tampak biasa saja.

Begitu dokter selesai menjelaskan kondisi Steven, Liora langsung bertanya tanpa bisa menahan diri, suaranya tegang.

“Dok … kapan tangannya bisa pulih?”

Dokter menatap berkasnya sebentar, lalu menjawab, “Karena tulangnya bergeser cukup parah, kemungkinan pemulihan penuh butuh satu hingga tiga bulan. Dengan catatan, tidak ada gerakan yang memperparah cedera.”

Setelah dokter pergi, Liora berdiri agak jauh dari ranjang, menjaga jarak seolah takut mendekat akan memperparah keadaan.

“Aku akan membayar semua biaya rumah sakitmu,” katanya datar. “Dan setelah ini … hari ini adalah terakhir kita bertemu.”

Steven mendengus. Bukan marah, lebih seperti mengejek. Dengan satu gerakan cepat, ia meraih ponsel Liora dari tangan wanita itu.

“Eh—Steven!” Liora terkejut, tetapi Steven sudah mengetik sesuatu dengan tangan kirinya dan mengembalikannya.

“Nomorku.” Ia bersandar di bantal sambil menatap Liora. “Kau ganti nomor?”

Liora mendengus tidak percaya. “Sudah sepuluh tahun, Steven. Orang gila mana yang masih pakai nomor yang sama?”

Steven tersenyum tipis, geli sekaligus pahit. “Aku orang gilanya. Dan seharusnya kau masih menghafalnya.”

Liora memalingkan wajah, tidak mau mengakui bahwa, dulu, ia memang menghafal nomor itu bahkan tanpa perlu mencatatnya. Namun itu dulu, lama sekali.

“Tangan kananku patah karena menolongmu, Liora. Bukan memelukmu.”

Wajah Liora langsung merona merah. Ia ingat jelas bagaimana ia mendorong Steven sekeras mungkin karena mengira pria itu mencoba memeluknya. Malu mencuat begitu cepat hingga ia tidak berani menoleh.

“Dan mulai detik ini … kau harus bertanggung jawab sampai tanganku benar-benar pulih.”

Liora terbelalak. “Selama tiga bulan? Kau bercanda, kan?”

Steven menaikkan satu alis, menikmati ekspresi kaget Liora seperti hiburan gratis. “Oh? Apa itu yang kau harapkan? Sampai selama itu?”

Ia tersenyum miring, penuh godaan yang membuat Liora ingin menampar atau melemparnya dengan bantal.

“Padahal,” lanjutnya santai, “dokter bilang paling cepat satu bulan.”

Liora mengerjap, tidak percaya. “Aku tau!"

Steven mengangkat bahu sedikit, meski ia menunjukkan rasa sakitnya. “Tapi kalau kau ingin aku sembuh lama … aku bisa mengusahakan dua atau tiga bulan, kok.”

Liora mentapnya tajam menahan amarah yang bergejolak. Steven membalas menatapnya lekat-lekat, senyumnya penuh maksud.

“Jadi, Liora … kau harus bertanggung jawab!”

Liora langsung menggeleng keras, tanpa ragu.

“Aku sudah menawarkan untuk membayar semua biaya pengobatanmu. Itu lebih dari cukup. Jangan libatkan aku lagi.”

Ia melangkah menuju pintu, tetapi suara Steven menghentikannya.

“Kalau begitu,” ujarnya santai, tetapi penuh ancaman halus, “aku akan bilang ke orang tuaku bahwa kau menolak perjodohan karena sudah punya pacar.”

Langkah Liora terhenti seketika.

Ia berputar cepat, menatap Steven dengan sorot tajam penuh keterkejutan dan kekesalan. “Apa maksudmu?”

“Aku tahu,” katanya tenang, “kalau kau sudah punya pacar. Sayangku? Kekanakan sekali menamai kontak dengan panggilan seperti itu."

Wajah Liora memanas, kali ini bukan karena malu, tetapi karena emosi.

“Steven, itu bukan urusanmu.”

Dia hanya mengangkat bahu dengan santai, seolah rasa sakit di tangannya tidak ada artinya dibandingkan menikmati kekesalan Liora.

“Aku cuma ingin alasan yang tidak membuatku dan orangtuaku terlihat bodoh saat perjodohan ini batal. Kita harus tampak seolah menolak dengan ‘cara baik’, bukan karena kembali membuka drama sepuluh tahun lalu.”

Liora mendesah panjang, frustrasi bercampur letih.

“Percaya atau tidak … aku tidak peduli.”

Dengan itu, ia berjalan keluar tanpa menoleh lagi.

Steven hanya mengikuti kepergiannya dengan tatapan panjang, tidak tahu apakah ia ingin Liora berhenti, kembali, atau menjauh sejauh mungkin. 

***

Di Court Boutique, Liora sedang menjelaskan gaun keluaran barunya pada salah satu pelanggan.

Saat pintu kaca terbuka, Ayah Liora, Smith Louis, datang tanpa janji bersama ibunya, Wilona.

“Liora,” suara Smith berat dan penuh tekanan. “Kenapa kau menolak perjodohan itu?”

“Smith, jangan langsung marah. Kita bicara di ruangannya saja,” tegur Wilona merasa tidak enak pada pandangan pelanggan dan karyawan yang ada di sana.

Liora mendesah pelan, "Ayo kita bicara di ruanganku," ajaknya.

Mereka bertiga masuk ke ruangan kecil tempat Liora bekerja. Liora mengusap wajahnya, merasa hari itu sudah cukup kacau tanpa tambahan drama dari rumah.

Smith menatap Liora tajam, tangannya bertolak pinggang. “Baik. Jelaskan. Pacar mana yang kau punya?”

Liora menutup mata sejenak. Ia tak menyangka jika Steven sudah memberi tahu orang tuanya dan bahkan memakai pacar yang Steven sebut untuk menolak perjodohan ini.

“Ayah, bukan itu masalahnya.”

Smith mengabaikannya. “Sebutkan namanya. Aku akan menemuinya. Aku akan memastikan dia menjauh dan memutuskanmu sekarang.”

“Ayah!” Liora hampir berteriak. “Tidak ada pacar! Itu hanya salah paham dengan Steven.”

Smith mengerutkan kening. “Jadi kau menolak perjodohan itu tanpa alasan?”

Liora mulai kehilangan sabar.

“Aku menolak karena aku tidak mau menikahi Steven! Itu saja.”

Wilona menatap putrinya dengan raut cemas, sementara Smith memandangi Liora seperti mendengar sesuatu yang tidak bisa diterima.

“Liora, kau pikir butik ini berdiri dari udara? Kau pikir semua koneksi yang kubangun untukmu tidak ada artinya?”

“Ayah .…” Liora mencoba bersuara pelan, tetapi Smith memotongnya.

“Kalau kau enggan menikah dengan Steven, jangan harap butik ini akan bertahan lama.”

Liora menahan napas, dadanya sesak oleh kemarahan dan rasa tidak percaya. Ibunya memandang mereka bergantian, tidak mampu menengahi, sementara Smith berdiri tegap, seolah keputusan itu telah dipatri sejak lama.

***

Sebuah taksi berhenti di depan rumah sakit, Liora turun dengan wajah yang penuh emosi. Ia benar-benar tidak menyangka akan menemui pria itu lagi. Namun, tidak ada pilihan baginya. Ia harus menyelesaikan semuanya hari ini juga.

"Steven, kalau kau berani mengusik hidupku yang sudah tenang selama sepuluh tahun ini, aku tidak akan biarkan kau tenang juga!"

Dengan langkah yang menggebu, Liora menaiki lift. Saat ia sampai di lantai ruang VIP. Liora masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Wajahnya merah oleh amarah, langkahnya keras, dan pintu hampir terbanting. Steven bahkan tidak terkejut, ia hanya mengangkat satu alis, seolah memang menunggu badai datang.

“Kenapa kau membuatku bertengkar dengan ayahku!” seru Liora, suaranya bergetar menahan emosi.

Steven menatapnya dengan tenang, terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja dimarahi lewat telepon dan didatangi wanita yang jelas ingin meledak. 

“Aku tidak membuat apa pun,” jawabnya ringan. “Kau yang pergi tanpa menyelesaikan masalah.”

Liora menggertakkan gigi, hampir tidak bisa percaya betapa santainya pria itu. “Ayahku mengancam akan menutup butik kalau aku menolak pernikahan ini! Kau sadar itu!”

Steven hanya menghembuskan napas seperti mendengar hal yang sudah diduganya.

“Bagus,” katanya.

Liora terpaku, menahan kesal. “Bagus?”

Steven menatapnya lama, lalu berkata tanpa keraguan.

“Menikahlah denganku, Liora.”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (35)
goodnovel comment avatar
Nur nh
se enggak mau itu yah liora menikah dengan steven
goodnovel comment avatar
Masruroh Masruroh
Liora udh meledak",,,lah,,,,Steven malah santai bgt ngadepin Liora,,,,, kira" alasan mereka putus dulu apa ya...kok Liora Sampek segitunya gak mau di jodohin sama steven
goodnovel comment avatar
Bunda Ernii
hadeeewww Steven mbok Yo melamarnya yg romantis dikit biar Liora terkesan.. masak iya melamarnya di RS pas lagi esmosi pula.. cari waktu & tempat yg pas dong!!!!
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • NIKAH KONTRAK: Tuan Mantan, JANGAN BAPER!   LS 101. Ini Jebakan?

    Suasana meja itu kembali berat.Liora menunduk, mencoba meredakan detak jantungnya sendiri. Ia tidak mau terlihat goyah.“Jadi,” ia menatap Julian kembali, “itu alasanmu memperkenalkanku pada Jessica?”Julian mengangkat alis. “Jessica?”“Ya. Kau tiba-tiba membuatku bertemu dengan Jessica. Semua terasa seperti… sudah diatur.”Julian tertawa kecil. “Tidak sengaja.”Liora menatapnya curiga.“Hanya kebetulan Jessica tertarik pada gaunmu,” lanjut Julian. “Aku tidak merencanakan apa pun. Aku hanya membuka pintu. Kau sendiri yang masuk dan membuat mereka terkesan.”Liora terdiam. Sebagian dirinya ingin percaya bahwa semuanya memang kebetulan. Bahwa Julian hanya membantu karena ia peduli.Namun sebagian kecil lainnya bertanya… apakah benar hanya itu?“Julian,” ucapnya akhirnya, “aku tidak ingin hidupku dipenuhi kecurigaan.”“Aku tidak bermaksud membuatmu curiga.”“Tapi kau m

  • NIKAH KONTRAK: Tuan Mantan, JANGAN BAPER!   LS 100. Hanya Kebetulan?

    Liora tersenyum tipis, tapi ada getir di sana. “Saat itu kami masih muda. Ego lebih besar dari komunikasi. Hal sepele bisa terlihat seperti pengkhianatan.”Julian memperhatikannya dalam diam.“Kami tidak pernah bertemu lagi selama sepuluh tahun,” lanjut Liora pelan. “Hidup berjalan sendiri-sendiri. Aku membangun butik. Dia mengembangkan bisnisnya. Kami seperti dua garis yang sempat berpotongan lalu menjauh sangat jauh.”“Dan kemudian?”“Entah takdir sedang bercanda atau memang punya rencana sendiri,” Liora menatap gelas airnya. “Kami bertemu lagi. Dalam situasi yang tidak terduga.”Julian tahu ada bagian cerita yang tidak ia ceritakan sepenuhnya, tapi ia tidak memotong.“Dan akhirnya kau menikah,” simpul Julian pelan.Liora mengangguk. “Ya.”Julian menyilangkan tangan di atas meja. “Bagaimana jika kesalahpahaman itu kembali terjadi?”Pertanyaan itu membuat Liora mengangkat wajahnya perlahan.“O

  • NIKAH KONTRAK: Tuan Mantan, JANGAN BAPER!   LS 99. Bagaimana Dia di Sini?

    Beberapa menit kemudian, ia kembali ke kamar tidur dan mulai melepas jasnya. Kancing kemeja bagian atas sudah terbuka ketika bel kamar berbunyi.Ding-dong.Steven berhenti sejenak. “Secepat itu?” pikirnya. Mungkin John sudah mengirimkan makanan.Ia berjalan santai menuju pintu tanpa banyak curiga, membuka kunci, lalu memutar gagang pintu.Begitu pintu terbuka—Sosok yang berdiri di depannya membuat napasnya tertahan.“Amanda?”Tanpa menunggu reaksi lebih lanjut, Amanda melangkah maju dan langsung memeluknya. Tubuhnya menempel erat pada dada bidang Steven. Aroma parfum mahal bercampur dengan bau alkohol yang samar menyengat.“Steven…” bisiknya pelan, wajahnya menempel di dada Steven.Steven terkejut, refleks tangannya terangkat. “Amanda, apa yang kau lakukan?”Ia mencoba menarik tubuh wanita itu menjauh, tetapi Amanda justru semakin melekat, kedua tangannya melingkar di pinggang Steven.

  • NIKAH KONTRAK: Tuan Mantan, JANGAN BAPER!   LS 98. Tamu Tak Terduga

    “Berikan yang terbaik padaku.” Mata biru Jessica berbinar. “Kalau kau menciptakan sesuatu yang paling istimewa, aku ingin menjadi orang pertama yang memakainya.”Liora tersenyum perlahan, rasa haru dan bangga bercampur jadi satu.“Aku sangat menyukai semua gaunmu, Liora,” lanjut Jessica tulus. “Dan aku ingin berjalan di atas karpet merah dengan karya yang membuatku merasa tak tergantikan.”Liora menarik napas dalam.“Kalau begitu,” katanya mantap, “aku akan memastikan setiap gaun untukmu bukan hanya indah … tapi tak terlupakan.”***Setelah percakapan itu berakhir dengan senyum dan kesepakatan awal, Liora dan Julian akhirnya berdiri untuk pamit. Jessica kembali menjabat tangan Liora dengan hangat, tatapannya penuh keyakinan.“Aku menunggu karya berikutnya,” ucapnya pelan.Liora mengangguk hormat. “Terima kasih atas kepercayaannya.”Tania kemudian mengantar mereka keluar. Sesampainya di depan lobi utama,

  • NIKAH KONTRAK: Tuan Mantan, JANGAN BAPER!   LS 97. Dia Menyukainya

    Jessica.Aktris film papan atas yang wajahnya sering menghiasi layar bioskop dan majalah fashion.Rambut hitam panjangnya tergerai lembut, kontras dengan mata birunya yang tajam namun hangat. Bibir kecilnya melengkung membentuk senyum ramah. Tubuhnya tinggi ramping dengan proporsi bak boneka barbie, anggun, hampir terlalu sempurna untuk nyata.“Julian,” sapanya hangat, lalu menoleh pada Liora. “Dan ini pasti Liora.”“Iya,” jawab Julian.Jessica melangkah mendekat dan menjabat tangan Liora tanpa kesan sombong sedikit pun. “Aku sudah melihat beberapa foto gaunmu. Aku tidak sabar melihat langsung.”Sambutan hangat itu sedikit meredakan ketegangan di dada Liora.“Terima kasih sudah memberi kesempatan,” jawab Liora sopan.Mereka duduk sejenak di ruang tamu suite yang luas. Jendela besar memperlihatkan pemandangan kota dari ketinggian. Setelah berbincang ringan tentang proyek film terbaru Jessica dan rencana acara red

  • NIKAH KONTRAK: Tuan Mantan, JANGAN BAPER!   LS 97. Bertemu Klien penting

    Butik Liora kembali ramai.Sejak pagi, pintu kaca itu tak berhenti terbuka dan tertutup. Beberapa klien baru datang dengan antusias, sebagian membawa foto dari ponsel mereka.“Ini gaun yang dipakai Amanda kemarin, kan?” tanya salah satu wanita muda sambil menunjukkan gambar yang sudah beredar di media sosial.Liora tersenyum sopan, meski di dalam hati ia benar-benar bingung.Bagaimana berita itu bisa menyebar secepat ini?Amanda bahkan belum secara resmi tampil di acara besar mana pun dengan gaun tersebut. Namun kabar bahwa model ternama itu mencoba koleksi Liora sudah cukup membuat nama butik kecilnya mendadak diperbincangkan.Beberapa klien bergantian mencoba gaun biru bertumpuk tulle. Ada juga yang langsung meminta melihat gaun putih dengan cape elegan. Bahkan gaun glitter biru yang sebelumnya disebut terlalu seperti putri dongeng kini justru paling banyak diminati.Liora berdiri di tengah ruangan, membantu mengatur j

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status