Masuk
Liora mendorong pintu kafe The Cozy Finch dengan napas tersengal karena terburu-buru.
Ia hanya ingin secangkir cappuccino caramel dan duduk manis sebelum bertemu pria yang dijodohkan oleh ayahnya. Namun, begitu ia melangkah mendekati meja yang sudah dipesan, langkahnya mendadak berhenti. Ia membeku. Otaknya seperti tersengat listrik 120 volt. Itu bukan pria asing. Itu Steven Theodore, mantan pacarnya sepuluh tahun yang lalu. Rambut hitam lelaki itu kini lebih pendek, rahangnya lebih tegas, jasnya terlalu rapi, dan … oh, tentu saja. Dia makin tampan. Liora spontan ingin berbalik, pura-pura salah kafe, salah negara, atau salah planet, tetapi suara itu memanggil. “Liora?" Langkah Liora terhenti seketika. "Liora, anak Tuan Smith Luis dari Court Boutique?” Liora terkejut. Ia berbalik perlahan, memasang senyum palsu terbaik yang ia miliki. “Dan … apa kau Steven dari Theodore Technology?” Steven menyandarkan punggungnya, wajahnya kaku, tetapi matanya jelas menunjukkan keterkejutan yang sama. "Wah ... aku tak menyangka akan bertemu dengan mantan sepuluh tahun lalu di sini.” Nada suaranya ketus, seperti sedang meneguk kopi pahit tanpa gula. Liora mengerjap. Luar biasa. Dia masih ahli membuat suasana jadi awkward. Steven menatapnya lagi, kali ini dari ujung rambut hingga ujung sepatu. "Kau tampak … makin cantik.” Nada itu datar, tetapi cukup untuk membuat darah Liora naik ke pipi, bukan karena tersanjung, lebih karena jengkel. Dalam hati, ia mendesah panjang. "Kalau aku tahu ayah akan menjodohkanku dengan dia, aku sudah pindah ke Islandia seminggu lalu." Ia bahkan sempat mengutuk ayahnya dalam hati, "Thanks, Dad. Great job." Tanpa basa-basi, Liora langsung duduk dan bertanya. “Kau … tahu kita akan dijodohkan?” Matanya menyipit, suaranya jelas menahan ledakan emosi. Steven menghela napas pendek. “Tidak. Sama sekali tidak tahu … kalau itu adalah kau.” Keheningan menggantung. Canggung. Tegang. Konyol. Dua mantan yang dulu berjanji tidak akan bertemu lagi seumur hidup, kini duduk berhadapan sebagai calon pasangan yang diatur keluarga. Steven mengerjap pelan, lalu merapikan posisi duduknya. Tatapannya kembali datar, profesional, seolah ini rapat bisnis, bukan reuni mantan terburuk abad ini. “Kalau begitu,” katanya datar, “apa kau mau pesan minuman dulu?” Liora hampir tertawa. Tawanya pahit. “Tidak. Aku tidak ingin berlama-lama di sini.” Ia meraih tasnya, hendak berdiri. “Sebaiknya kita akhiri ini sekarang, Steven. Karena aku tidak ingin menikah denganmu.” Ucapan itu jatuh seperti palu. Berat, tegas, dan tanpa ruang revisi. Steven terdiam sejenak. Ia menghela napas, bersandar dengan lelah, lalu berkata, “Sejujurnya aku tidak peduli siapa yang akan aku nikahi. Bahkan jika itu mantanku sepuluh tahun lalu.” Nada suaranya sinis, nyaris menyengat. “Tapi kalau kau tidak mau, itu bagus. Karena aku punya alasan yang sangat jelas untuk kukatakan kepada orang tuaku.” Liora tersentak. Matanya menyipit. “Kenapa kau terus membawa-bawa sepuluh tahun yang lalu?” Steven menegakkan tubuhnya. Perubahan ekspresinya cepat, ketus berganti tajam, datar berubah panas. “Apa kau benar-benar lupa kejadian sepuluh tahun lalu, Liora?” Kata-kata itu bergetar bukan karena romantis, tetapi karena amarah lama yang selama ini ia kubur rapat-rapat. Liora menelan ludah, jantungnya memukul keras. Kenangan itu muncul seperti bayangan gelap yang selama ini ia hindari. Sepuluh tahun yang lalu, kenangan itu terbuka begitu jelas, seakan waktu sengaja kembali menoreh luka yang belum sembuh. Liora saat itu masih berusia dua puluh satu, duduk di lantai kamarnya dengan rambut berantakan dan mata bengkak. Tangannya gemetar memegang ponselnya yang terus bergetar, menampilkan pesan-pesan Steven yang belum ia buka. Ia tidak sanggup. Hatinya terasa seperti direnggut paksa. Perpisahan itu … terlalu tiba-tiba, terlalu menyakitkan, seolah dunia yang ia bangun bersama Steven runtuh begitu saja. Ia terisak tanpa suara, menutup wajah dengan kedua tangan. Kalimat terakhir Steven menghantamnya berkali-kali hingga ia tidak bisa bernapas tanpa merasa sakit. Malam itu ia merasa ditinggalkan, dikhianati, tak layak dicintai. Liora menatap ponselnya, perlahan ia memblokir nomor Steven untuk selamanya. Kembali ke masa kini, Liora menutup kenangan pahit itu seketika. Ia menarik napas, menegakkan bahu, dan kembali memasang wajah datarnya. Tatapan Steven yang menuntut jawaban hanya ia balas dengan ekspresi hambar. Baginya, masa lalu itu sudah mati. Ia sudah menguburnya dalam-dalam, jauh sebelum kariernya menanjak, jauh sebelum hidupnya kembali stabil tanpa kehadiran pria itu. “Kalau kau ingin membahas sepuluh tahun lalu,” batinnya dingin, “kau terlambat. Sangat terlambat.” Liora bangkit berdiri perlahan, merapikan tasnya tanpa satu pun emosi yang tersisa di wajahnya. Ia tidak mau terlihat rapuh. Bagi dunia, ia Liora Louis, perancang busana profesional, wanita dewasa yang tidak dikendalikan kenangan murahan. Baginya Steven bukan siapa-siapa lagi. “Sudahlah,” pikirnya, menatapnya singkat. “Aku tidak punya kewajiban mengingat apa pun.” Ia memalingkan tubuh. Tidak ada salam perpisahan. Tidak ada penjelasan. Tidak ada kesempatan kedua. Hanya satu kalimat dalam hati yang ia ucapkan seperti pukulan terakhir. "Selamat tinggal, Steven." Dan selamat tinggal untuk semua yang pernah terjadi. Di luar kafe, Liora mendesah panjang. Ia tidak mengerti, dari semua pria, kenapa harus Steven. “Liora!” Liora mendengar suara yang paling ia benci memanggil namanya. Akan tetapi, ia tidak ingin berhubungan lagi. Karena itu ia berpura-pura tidak dengar dan memilih terus berjalan. “Liora, ponselmu!” Namun, tepat sebelum ia berhasil mendekat, suara mesin meraung keras. Sebuah motor melaju liar dari tikungan jalan sempit di depan kafe. Terlalu cepat. Terlalu dekat. Dan Liora yang bahkan tidak sadar dirinya berada di posisi berbahaya, melangkah tepat ke jalur motor itu. “Liora—” Belum sempat Steven berpikir, nalurinya mengambil alih. Ia berlari dan menarik tangan Liora dengan keras, menarik tubuhnya menjauh dari bahaya. Seketika, dunia seperti berhenti. Tubuh Liora terayun ke arahnya, dan mereka jatuh saling menabrak dengan keras, mendadak, dan kacau. Lengan Steven melingkar di pinggangnya, menstabilkan posisi keduanya, sementara wajah mereka berhenti hanya beberapa sentimeter. Napas mereka bertaut. Mata bertemu mata. Wajah mereka begitu dekat hingga Steven bisa merasakan napas Liora menyentuh kulitnya. Liora terpaku, terkejut bukan hanya karena hampir tertabrak, tetapi juga karena berada dalam jarak sedekat itu dengan pria yang berusaha ia jauhkan dari hidupnya. Tiba-tiba kemarahan memenuhi Liora, ia mendorong dada Steven dengan kedua tangan, seolah kejadian nyaris tertabrak itu adalah salahnya. “Lepaskan! Berani sekali kau memelukku!” geramnya. Steven yang masih melingkarkan satu lengannya di pinggang Liora, refleks protektif yang belum sempat ia lepaskan. Dorongan spontan itu membuat keseimbangan keduanya terlepas dalam hitungan detik. Tubuh mereka terjerembab ke aspal kasar. Benturan itu sangat keras. Punggung Liora mendarat lebih ringan karena Steven secara refleks memutar tubuhnya, mencoba menahan jatuhnya dengan tangan kanan. Namun, justru itulah kesalahan fatalnya. Tangan Steven patah. “Liora kau … benar-benar bencana.”Suasana meja itu kembali berat.Liora menunduk, mencoba meredakan detak jantungnya sendiri. Ia tidak mau terlihat goyah.“Jadi,” ia menatap Julian kembali, “itu alasanmu memperkenalkanku pada Jessica?”Julian mengangkat alis. “Jessica?”“Ya. Kau tiba-tiba membuatku bertemu dengan Jessica. Semua terasa seperti… sudah diatur.”Julian tertawa kecil. “Tidak sengaja.”Liora menatapnya curiga.“Hanya kebetulan Jessica tertarik pada gaunmu,” lanjut Julian. “Aku tidak merencanakan apa pun. Aku hanya membuka pintu. Kau sendiri yang masuk dan membuat mereka terkesan.”Liora terdiam. Sebagian dirinya ingin percaya bahwa semuanya memang kebetulan. Bahwa Julian hanya membantu karena ia peduli.Namun sebagian kecil lainnya bertanya… apakah benar hanya itu?“Julian,” ucapnya akhirnya, “aku tidak ingin hidupku dipenuhi kecurigaan.”“Aku tidak bermaksud membuatmu curiga.”“Tapi kau m
Liora tersenyum tipis, tapi ada getir di sana. “Saat itu kami masih muda. Ego lebih besar dari komunikasi. Hal sepele bisa terlihat seperti pengkhianatan.”Julian memperhatikannya dalam diam.“Kami tidak pernah bertemu lagi selama sepuluh tahun,” lanjut Liora pelan. “Hidup berjalan sendiri-sendiri. Aku membangun butik. Dia mengembangkan bisnisnya. Kami seperti dua garis yang sempat berpotongan lalu menjauh sangat jauh.”“Dan kemudian?”“Entah takdir sedang bercanda atau memang punya rencana sendiri,” Liora menatap gelas airnya. “Kami bertemu lagi. Dalam situasi yang tidak terduga.”Julian tahu ada bagian cerita yang tidak ia ceritakan sepenuhnya, tapi ia tidak memotong.“Dan akhirnya kau menikah,” simpul Julian pelan.Liora mengangguk. “Ya.”Julian menyilangkan tangan di atas meja. “Bagaimana jika kesalahpahaman itu kembali terjadi?”Pertanyaan itu membuat Liora mengangkat wajahnya perlahan.“O
Beberapa menit kemudian, ia kembali ke kamar tidur dan mulai melepas jasnya. Kancing kemeja bagian atas sudah terbuka ketika bel kamar berbunyi.Ding-dong.Steven berhenti sejenak. “Secepat itu?” pikirnya. Mungkin John sudah mengirimkan makanan.Ia berjalan santai menuju pintu tanpa banyak curiga, membuka kunci, lalu memutar gagang pintu.Begitu pintu terbuka—Sosok yang berdiri di depannya membuat napasnya tertahan.“Amanda?”Tanpa menunggu reaksi lebih lanjut, Amanda melangkah maju dan langsung memeluknya. Tubuhnya menempel erat pada dada bidang Steven. Aroma parfum mahal bercampur dengan bau alkohol yang samar menyengat.“Steven…” bisiknya pelan, wajahnya menempel di dada Steven.Steven terkejut, refleks tangannya terangkat. “Amanda, apa yang kau lakukan?”Ia mencoba menarik tubuh wanita itu menjauh, tetapi Amanda justru semakin melekat, kedua tangannya melingkar di pinggang Steven.
“Berikan yang terbaik padaku.” Mata biru Jessica berbinar. “Kalau kau menciptakan sesuatu yang paling istimewa, aku ingin menjadi orang pertama yang memakainya.”Liora tersenyum perlahan, rasa haru dan bangga bercampur jadi satu.“Aku sangat menyukai semua gaunmu, Liora,” lanjut Jessica tulus. “Dan aku ingin berjalan di atas karpet merah dengan karya yang membuatku merasa tak tergantikan.”Liora menarik napas dalam.“Kalau begitu,” katanya mantap, “aku akan memastikan setiap gaun untukmu bukan hanya indah … tapi tak terlupakan.”***Setelah percakapan itu berakhir dengan senyum dan kesepakatan awal, Liora dan Julian akhirnya berdiri untuk pamit. Jessica kembali menjabat tangan Liora dengan hangat, tatapannya penuh keyakinan.“Aku menunggu karya berikutnya,” ucapnya pelan.Liora mengangguk hormat. “Terima kasih atas kepercayaannya.”Tania kemudian mengantar mereka keluar. Sesampainya di depan lobi utama,
Jessica.Aktris film papan atas yang wajahnya sering menghiasi layar bioskop dan majalah fashion.Rambut hitam panjangnya tergerai lembut, kontras dengan mata birunya yang tajam namun hangat. Bibir kecilnya melengkung membentuk senyum ramah. Tubuhnya tinggi ramping dengan proporsi bak boneka barbie, anggun, hampir terlalu sempurna untuk nyata.“Julian,” sapanya hangat, lalu menoleh pada Liora. “Dan ini pasti Liora.”“Iya,” jawab Julian.Jessica melangkah mendekat dan menjabat tangan Liora tanpa kesan sombong sedikit pun. “Aku sudah melihat beberapa foto gaunmu. Aku tidak sabar melihat langsung.”Sambutan hangat itu sedikit meredakan ketegangan di dada Liora.“Terima kasih sudah memberi kesempatan,” jawab Liora sopan.Mereka duduk sejenak di ruang tamu suite yang luas. Jendela besar memperlihatkan pemandangan kota dari ketinggian. Setelah berbincang ringan tentang proyek film terbaru Jessica dan rencana acara red
Butik Liora kembali ramai.Sejak pagi, pintu kaca itu tak berhenti terbuka dan tertutup. Beberapa klien baru datang dengan antusias, sebagian membawa foto dari ponsel mereka.“Ini gaun yang dipakai Amanda kemarin, kan?” tanya salah satu wanita muda sambil menunjukkan gambar yang sudah beredar di media sosial.Liora tersenyum sopan, meski di dalam hati ia benar-benar bingung.Bagaimana berita itu bisa menyebar secepat ini?Amanda bahkan belum secara resmi tampil di acara besar mana pun dengan gaun tersebut. Namun kabar bahwa model ternama itu mencoba koleksi Liora sudah cukup membuat nama butik kecilnya mendadak diperbincangkan.Beberapa klien bergantian mencoba gaun biru bertumpuk tulle. Ada juga yang langsung meminta melihat gaun putih dengan cape elegan. Bahkan gaun glitter biru yang sebelumnya disebut terlalu seperti putri dongeng kini justru paling banyak diminati.Liora berdiri di tengah ruangan, membantu mengatur j







