Share

NIKAH KONTRAK: Tuan Mantan, JANGAN BAPER!
NIKAH KONTRAK: Tuan Mantan, JANGAN BAPER!
Author: Ziya_Khan21

LS 1. Tak Terduga

Author: Ziya_Khan21
last update Last Updated: 2025-12-24 23:55:47

Liora mendorong pintu kafe The Cozy Finch dengan napas tersengal karena terburu-buru.

Ia hanya ingin secangkir cappuccino caramel dan duduk manis sebelum bertemu pria yang  dijodohkan oleh ayahnya.

Namun, begitu ia melangkah mendekati meja yang sudah dipesan, langkahnya mendadak berhenti. Ia membeku. Otaknya seperti tersengat listrik 120 volt.

Itu bukan pria asing.

Itu Steven Theodore, mantan pacarnya sepuluh tahun yang lalu.

Rambut hitam lelaki itu kini lebih pendek, rahangnya lebih tegas, jasnya terlalu rapi, dan … oh, tentu saja. Dia makin tampan. 

Liora spontan ingin berbalik, pura-pura salah kafe, salah negara, atau salah planet, tetapi suara itu memanggil.

“Liora?" 

Langkah Liora terhenti seketika. 

"Liora, anak Tuan Smith Luis dari Court Boutique?”

Liora terkejut. Ia berbalik perlahan, memasang senyum palsu terbaik yang ia miliki. 

“Dan … apa kau Steven dari Theodore Technology?”

Steven menyandarkan punggungnya, wajahnya kaku, tetapi matanya jelas menunjukkan keterkejutan yang sama.

"Wah ... aku tak menyangka akan bertemu dengan mantan sepuluh tahun lalu di sini.”

Nada suaranya ketus, seperti sedang meneguk kopi pahit tanpa gula.

Liora mengerjap. Luar biasa. Dia masih ahli membuat suasana jadi awkward.

Steven menatapnya lagi, kali ini dari ujung rambut hingga ujung sepatu.

"Kau tampak … makin cantik.”

Nada itu datar, tetapi cukup untuk membuat darah Liora naik ke pipi, bukan karena tersanjung, lebih karena jengkel.

Dalam hati, ia mendesah panjang. "Kalau aku tahu ayah akan menjodohkanku dengan dia, aku sudah pindah ke Islandia seminggu lalu."

Ia bahkan sempat mengutuk ayahnya dalam hati, "Thanks, Dad. Great job."

Tanpa basa-basi, Liora langsung duduk dan bertanya.

“Kau … tahu kita akan dijodohkan?”

Matanya menyipit, suaranya jelas menahan ledakan emosi.

Steven menghela napas pendek. “Tidak. Sama sekali tidak tahu … kalau itu adalah kau.”

Keheningan menggantung. Canggung. Tegang. Konyol. Dua mantan yang dulu berjanji tidak akan bertemu lagi seumur hidup, kini duduk berhadapan sebagai calon pasangan yang diatur keluarga.

Steven mengerjap pelan, lalu merapikan posisi duduknya. Tatapannya kembali datar, profesional, seolah ini rapat bisnis, bukan reuni mantan terburuk abad ini.

“Kalau begitu,” katanya datar, “apa kau mau pesan minuman dulu?”

Liora hampir tertawa. Tawanya pahit. “Tidak. Aku tidak ingin berlama-lama di sini.”

Ia meraih tasnya, hendak berdiri. “Sebaiknya kita akhiri ini sekarang, Steven. Karena aku tidak ingin menikah denganmu.”

Ucapan itu jatuh seperti palu. Berat, tegas, dan tanpa ruang revisi.

Steven terdiam sejenak. Ia menghela napas, bersandar dengan lelah, lalu berkata, “Sejujurnya aku tidak peduli siapa yang akan aku nikahi. Bahkan jika itu mantanku sepuluh tahun lalu.”

Nada suaranya sinis, nyaris menyengat. “Tapi kalau kau tidak mau, itu bagus. Karena aku punya alasan yang sangat jelas untuk kukatakan kepada orang tuaku.”

Liora tersentak. Matanya menyipit. “Kenapa kau terus membawa-bawa sepuluh tahun yang lalu?”

Steven menegakkan tubuhnya. Perubahan ekspresinya cepat, ketus berganti tajam, datar berubah panas.

“Apa kau benar-benar lupa kejadian sepuluh tahun lalu, Liora?”

Kata-kata itu bergetar bukan karena romantis, tetapi karena amarah lama yang selama ini ia kubur rapat-rapat.

Liora menelan ludah, jantungnya memukul keras. Kenangan itu muncul seperti bayangan gelap yang selama ini ia hindari.

Sepuluh tahun yang lalu, kenangan itu terbuka begitu jelas, seakan waktu sengaja kembali menoreh luka yang belum sembuh.

Liora saat itu masih berusia dua puluh satu, duduk di lantai kamarnya dengan rambut berantakan dan mata bengkak. Tangannya gemetar memegang ponselnya yang terus bergetar, menampilkan pesan-pesan Steven yang belum ia buka. Ia tidak sanggup.

Hatinya terasa seperti direnggut paksa.

Perpisahan itu … terlalu tiba-tiba, terlalu menyakitkan, seolah dunia yang ia bangun bersama Steven runtuh begitu saja.

Ia terisak tanpa suara, menutup wajah dengan kedua tangan.

Kalimat terakhir Steven menghantamnya berkali-kali hingga ia tidak bisa bernapas tanpa merasa sakit.

Malam itu ia merasa ditinggalkan, dikhianati, tak layak dicintai.

Liora menatap ponselnya, perlahan ia memblokir nomor Steven untuk selamanya.

Kembali ke masa kini, Liora menutup kenangan pahit itu seketika. Ia menarik napas, menegakkan bahu, dan kembali memasang wajah datarnya.

Tatapan Steven yang menuntut jawaban hanya ia balas dengan ekspresi hambar.

Baginya, masa lalu itu sudah mati. Ia sudah menguburnya dalam-dalam, jauh sebelum kariernya menanjak, jauh sebelum hidupnya kembali stabil tanpa kehadiran pria itu.

“Kalau kau ingin membahas sepuluh tahun lalu,” batinnya dingin, “kau terlambat. Sangat terlambat.”

Liora bangkit berdiri perlahan, merapikan tasnya tanpa satu pun emosi yang tersisa di wajahnya.

Ia tidak mau terlihat rapuh. Bagi dunia, ia Liora Louis, perancang busana profesional, wanita dewasa yang tidak dikendalikan kenangan murahan.

Baginya Steven bukan siapa-siapa lagi.

“Sudahlah,” pikirnya, menatapnya singkat. “Aku tidak punya kewajiban mengingat apa pun.”

Ia memalingkan tubuh.

Tidak ada salam perpisahan.

Tidak ada penjelasan.

Tidak ada kesempatan kedua.

Hanya satu kalimat dalam hati yang ia ucapkan seperti pukulan terakhir.

"Selamat tinggal, Steven."

Dan selamat tinggal untuk semua yang pernah terjadi.

Di luar kafe, Liora mendesah panjang. Ia tidak mengerti, dari semua pria, kenapa harus Steven. 

“Liora!”

Liora mendengar suara yang paling ia benci memanggil namanya. Akan tetapi, ia tidak ingin berhubungan lagi. Karena itu ia berpura-pura tidak dengar dan memilih terus berjalan.

“Liora, ponselmu!”

Namun, tepat sebelum ia berhasil mendekat, suara mesin meraung keras.

Sebuah motor melaju liar dari tikungan jalan sempit di depan kafe.

Terlalu cepat.

Terlalu dekat.

Dan Liora yang bahkan tidak sadar dirinya berada di posisi berbahaya, melangkah tepat ke jalur motor itu.

“Liora—”

Belum sempat Steven berpikir, nalurinya mengambil alih.

Ia berlari dan menarik tangan Liora dengan keras, menarik tubuhnya menjauh dari bahaya.

Seketika, dunia seperti berhenti.

Tubuh Liora terayun ke arahnya, dan mereka jatuh saling menabrak dengan keras, mendadak, dan kacau.

Lengan Steven melingkar di pinggangnya, menstabilkan posisi keduanya, sementara wajah mereka berhenti hanya beberapa sentimeter.

Napas mereka bertaut. Mata bertemu mata. Wajah mereka begitu dekat hingga Steven bisa merasakan napas Liora menyentuh kulitnya.

Liora terpaku, terkejut bukan hanya karena hampir tertabrak, tetapi juga karena berada dalam jarak sedekat itu dengan pria yang berusaha ia jauhkan dari hidupnya.

Tiba-tiba kemarahan memenuhi Liora, ia mendorong dada Steven dengan kedua tangan, seolah kejadian nyaris tertabrak itu adalah salahnya.

“Lepaskan! Berani sekali kau memelukku!” geramnya.

Steven yang masih melingkarkan satu lengannya di pinggang Liora, refleks protektif yang belum sempat ia lepaskan. Dorongan spontan itu membuat keseimbangan keduanya terlepas dalam hitungan detik.

Tubuh mereka terjerembab ke aspal kasar. Benturan itu  sangat keras.

Punggung Liora mendarat lebih ringan karena Steven secara refleks memutar tubuhnya, mencoba menahan jatuhnya dengan tangan kanan.

Namun, justru itulah kesalahan fatalnya.

Tangan Steven patah.

“Liora kau … benar-benar bencana.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (4)
goodnovel comment avatar
Bintang Ihsan
ohhh...tidak , tangan steven patah , membuat liora akan berinteraksi lagi dengan steven
goodnovel comment avatar
Ayruw
tapi masa lalu seperti apa..?seolah " ada kepingan kesalah fahaman disini..?
goodnovel comment avatar
Ayruw
krekk... pasti itu bunyi nya... uuhh... ngeri kali...
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • NIKAH KONTRAK: Tuan Mantan, JANGAN BAPER!   Ls 6. Traktir Makan

    Degup jantung Liora menari kacau. Tidak. Ini tidak boleh terjadi. Kesadarannya kembali, dan Liora langsung mendorong dada Steven dengan kedua tangannya. “Jangan cari kesempatan!” seru Liora, wajahnya memerah bukan karena malu, tetapi karena marah. “Aku tidak ingin disentuh.” Steven mundur setengah langkah, alisnya terangkat. “Aku baru saja menyelamatkanmu dari mencium lantai butikmu sendiri,” katanya dingin. “Aku tidak peduli! Jangan sentuh aku lagi!” Liora memegang dadanya yang masih berdebar, mencoba menstabilkan napas. Steven menyilangkan tangan bebasnya ke atas tangan yang digips, tatapannya sinis. “Kau yakin mau bicara seperti itu padaku?” katanya sambil mencondongkan tubuh sedikit. “Atau kau ingin mukamu bengkak di hari pernikahan karena jatuh jungkir balik barusan?” Liora menggertakkan gigi. “Steven!” “Apa?” Steven mengangkat bahu acuh. “Aku cuma bilang fakta. Kau nyaris mati gaya, tahu?” “Keluar,” pinta Liora akhirnya. “Aku mau ganti pakaian.” “Tidak mau,” jawab St

  • NIKAH KONTRAK: Tuan Mantan, JANGAN BAPER!   LS 5. Persiapan Pernikahan

    Pagi itu butik Liora sudah ramai bahkan sebelum jam menunjukkan pukul sepuluh. Tumpukan kain baru datang, dua pelanggan meminta penjahitan cepat, dan di sudut lain ponselnya tak berhenti bergetar. Ia menahan napas panjang, menyelipkan pensil di belakang telinga, lalu mengangkat telepon yang sejak tadi berdering."Halo dengan Liora di sini."Suara riang dari wedding organizer langsung terdengar."Pagi, Liora! Ini Maya dari Blossom WO. Kami mau konfirmasi konsep dekor pernikahan. Apa yang akan anda pilih? Mau tema putih-emas, atau dusty blue. Mana yang anda pilih?"Liora memejamkan mata."Saya pilih putih-emas. Apa Steven tidak bilang apa-apa?""Tidak, Nona. Katanya anda yang tentukan. Lalu soal meja tamu, mau pakai rangkaian bunga artificial atau fresh flower?""Fresh flower sekalian. Tapi yang tidak terlalu wangi.""Oke, dicatat. Nanti sore saya kirimkan moodboard finalnya."Telepon ditutup. Dua detik kemudian ponselnya kembali bergetar.Catering.Liora mengangkat lagi sambil merapika

  • NIKAH KONTRAK: Tuan Mantan, JANGAN BAPER!   LS 4. Perjanjian Nikah

    “Sayang, aku butuh kau sekarang.”Liora langsung menjauhkan ponselnya dari telinga. “Astaga … aku ingin muntah,” gumamnya keras-keras tanpa filter.Di seberang, Steven malah tertawa. “Bagus. Tapi tetap saja datanglah. Sepuluh menit lagi. Waktumu sudah habis untuk berpikir.”“Steven—”Tut. Panggilan berakhir begitu saja.Liora menatap ponselnya seperti ingin melemparkannya ke luar jendela.Chelsea bersandar ke kursi, memasang ekspresi terkejut dramatis. “Siapa yang telepon?”“Siapa lagi? Steven,” desah Liora. “Entah kenapa dia menelpon. Kita baru bertemu satu jam lalu. Apa dia pikir aku stafnya?”Chelsea terlihat seperti menerima wahyu. “Ini … kesempatan emas, Liora.”“Untuk apa? Menamparnya pakai hanger baju?”“Untuk bikin Steven jatuh cinta!” Chelsea memukul meja pelan. “Dengarkan aku. Kau menikah kontrak. Kau punya satu tahun. Ini waktu yang sempurna untuk balas dendam paling elegan.”Liora memutar mata. “Aku tidak butuh Steven jatuh cinta padaku. Aku butuh hidup normal.”Chelsea me

  • NIKAH KONTRAK: Tuan Mantan, JANGAN BAPER!   LS 3. Tak Ada Pilihan

    Liora menatap Steven seakan pria itu baru saja menyarankan ide paling gila abad ini. “Kontrak? Kau pikir ini drama Korea, hah!” serunya, suaranya naik satu oktaf.Steven hanya mengangkat alis, sama sekali tak terpengaruh. “Kau juga nonton drama Korea. Aku pernah lihat kau nangis gara-gara episode terakhir—”“Diam!” Liora hampir melempar tas tangannya. “Ini serius!”“Aku juga serius,” jawab Steven tanpa kehilangan ketenangan sedikit pun. “Orang tuaku sudah mengancam. Kau tahu sendiri, ayahku itu seperti CEO perusahaan mafia legal. Sekali dia bilang menikah, itu bukan saran. Itu ultimatum.”Liora menggertakkan gigi. “Dan aku baru saja bertengkar dengan Ayah gara-gara kau!”Steven terkekeh pelan, tanpa rasa bersalah. “Ya … itu memang salahmu sendiri.”“Kenapa kau tenang begitu!” Liora memukul bahu Steven membuatnya menjerit kecil karena ternyata bahu itu masih nyeri dan Steven mengaduh bersamaan.“Aw! Hei! Tangan kananku patah, bukan bahuku. Tapi tetap saja, aku pasien rumah sakit!”Lio

  • NIKAH KONTRAK: Tuan Mantan, JANGAN BAPER!   LS 2. Mendadak Dilamar

    Kini, Steven berada di ruang rawat rumah sakit. Lengan kanannya sudah digips rapi, dibalut putih dari pergelangan sampai mendekati siku. Liora berdiri di sana. Ia tampak gelisah, canggung, dan bersalah meski ia berusaha keras untuk tampak biasa saja.Begitu dokter selesai menjelaskan kondisi Steven, Liora langsung bertanya tanpa bisa menahan diri, suaranya tegang.“Dok … kapan tangannya bisa pulih?”Dokter menatap berkasnya sebentar, lalu menjawab, “Karena tulangnya bergeser cukup parah, kemungkinan pemulihan penuh butuh satu hingga tiga bulan. Dengan catatan, tidak ada gerakan yang memperparah cedera.”Setelah dokter pergi, Liora berdiri agak jauh dari ranjang, menjaga jarak seolah takut mendekat akan memperparah keadaan.“Aku akan membayar semua biaya rumah sakitmu,” katanya datar. “Dan setelah ini … hari ini adalah terakhir kita bertemu.”Steven mendengus. Bukan marah, lebih seperti mengejek. Dengan satu gerakan cepat, ia meraih ponsel Liora dari tangan wanita itu.“Eh—Steven!” Lio

  • NIKAH KONTRAK: Tuan Mantan, JANGAN BAPER!   LS 1. Tak Terduga

    Liora mendorong pintu kafe The Cozy Finch dengan napas tersengal karena terburu-buru.Ia hanya ingin secangkir cappuccino caramel dan duduk manis sebelum bertemu pria yang dijodohkan oleh ayahnya.Namun, begitu ia melangkah mendekati meja yang sudah dipesan, langkahnya mendadak berhenti. Ia membeku. Otaknya seperti tersengat listrik 120 volt.Itu bukan pria asing.Itu Steven Theodore, mantan pacarnya sepuluh tahun yang lalu.Rambut hitam lelaki itu kini lebih pendek, rahangnya lebih tegas, jasnya terlalu rapi, dan … oh, tentu saja. Dia makin tampan. Liora spontan ingin berbalik, pura-pura salah kafe, salah negara, atau salah planet, tetapi suara itu memanggil.“Liora?" Langkah Liora terhenti seketika. "Liora, anak Tuan Smith Luis dari Court Boutique?”Liora terkejut. Ia berbalik perlahan, memasang senyum palsu terbaik yang ia miliki. “Dan … apa kau Steven dari Theodore Technology?”Steven menyandarkan punggungnya, wajahnya kaku, tetapi matanya jelas menunjukkan keterkejutan yang

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status