LOGINDegup jantung Liora menari kacau. Tidak. Ini tidak boleh terjadi. Kesadarannya kembali, dan Liora langsung mendorong dada Steven dengan kedua tangannya. “Jangan cari kesempatan!” seru Liora, wajahnya memerah bukan karena malu, tetapi karena marah. “Aku tidak ingin disentuh.” Steven mundur setengah langkah, alisnya terangkat. “Aku baru saja menyelamatkanmu dari mencium lantai butikmu sendiri,” katanya dingin. “Aku tidak peduli! Jangan sentuh aku lagi!” Liora memegang dadanya yang masih berdebar, mencoba menstabilkan napas. Steven menyilangkan tangan bebasnya ke atas tangan yang digips, tatapannya sinis. “Kau yakin mau bicara seperti itu padaku?” katanya sambil mencondongkan tubuh sedikit. “Atau kau ingin mukamu bengkak di hari pernikahan karena jatuh jungkir balik barusan?” Liora menggertakkan gigi. “Steven!” “Apa?” Steven mengangkat bahu acuh. “Aku cuma bilang fakta. Kau nyaris mati gaya, tahu?” “Keluar,” pinta Liora akhirnya. “Aku mau ganti pakaian.” “Tidak mau,” jawab St
Pagi itu butik Liora sudah ramai bahkan sebelum jam menunjukkan pukul sepuluh. Tumpukan kain baru datang, dua pelanggan meminta penjahitan cepat, dan di sudut lain ponselnya tak berhenti bergetar. Ia menahan napas panjang, menyelipkan pensil di belakang telinga, lalu mengangkat telepon yang sejak tadi berdering."Halo dengan Liora di sini."Suara riang dari wedding organizer langsung terdengar."Pagi, Liora! Ini Maya dari Blossom WO. Kami mau konfirmasi konsep dekor pernikahan. Apa yang akan anda pilih? Mau tema putih-emas, atau dusty blue. Mana yang anda pilih?"Liora memejamkan mata."Saya pilih putih-emas. Apa Steven tidak bilang apa-apa?""Tidak, Nona. Katanya anda yang tentukan. Lalu soal meja tamu, mau pakai rangkaian bunga artificial atau fresh flower?""Fresh flower sekalian. Tapi yang tidak terlalu wangi.""Oke, dicatat. Nanti sore saya kirimkan moodboard finalnya."Telepon ditutup. Dua detik kemudian ponselnya kembali bergetar.Catering.Liora mengangkat lagi sambil merapika
“Sayang, aku butuh kau sekarang.”Liora langsung menjauhkan ponselnya dari telinga. “Astaga … aku ingin muntah,” gumamnya keras-keras tanpa filter.Di seberang, Steven malah tertawa. “Bagus. Tapi tetap saja datanglah. Sepuluh menit lagi. Waktumu sudah habis untuk berpikir.”“Steven—”Tut. Panggilan berakhir begitu saja.Liora menatap ponselnya seperti ingin melemparkannya ke luar jendela.Chelsea bersandar ke kursi, memasang ekspresi terkejut dramatis. “Siapa yang telepon?”“Siapa lagi? Steven,” desah Liora. “Entah kenapa dia menelpon. Kita baru bertemu satu jam lalu. Apa dia pikir aku stafnya?”Chelsea terlihat seperti menerima wahyu. “Ini … kesempatan emas, Liora.”“Untuk apa? Menamparnya pakai hanger baju?”“Untuk bikin Steven jatuh cinta!” Chelsea memukul meja pelan. “Dengarkan aku. Kau menikah kontrak. Kau punya satu tahun. Ini waktu yang sempurna untuk balas dendam paling elegan.”Liora memutar mata. “Aku tidak butuh Steven jatuh cinta padaku. Aku butuh hidup normal.”Chelsea me
Liora menatap Steven seakan pria itu baru saja menyarankan ide paling gila abad ini. “Kontrak? Kau pikir ini drama Korea, hah!” serunya, suaranya naik satu oktaf.Steven hanya mengangkat alis, sama sekali tak terpengaruh. “Kau juga nonton drama Korea. Aku pernah lihat kau nangis gara-gara episode terakhir—”“Diam!” Liora hampir melempar tas tangannya. “Ini serius!”“Aku juga serius,” jawab Steven tanpa kehilangan ketenangan sedikit pun. “Orang tuaku sudah mengancam. Kau tahu sendiri, ayahku itu seperti CEO perusahaan mafia legal. Sekali dia bilang menikah, itu bukan saran. Itu ultimatum.”Liora menggertakkan gigi. “Dan aku baru saja bertengkar dengan Ayah gara-gara kau!”Steven terkekeh pelan, tanpa rasa bersalah. “Ya … itu memang salahmu sendiri.”“Kenapa kau tenang begitu!” Liora memukul bahu Steven membuatnya menjerit kecil karena ternyata bahu itu masih nyeri dan Steven mengaduh bersamaan.“Aw! Hei! Tangan kananku patah, bukan bahuku. Tapi tetap saja, aku pasien rumah sakit!”Lio
Kini, Steven berada di ruang rawat rumah sakit. Lengan kanannya sudah digips rapi, dibalut putih dari pergelangan sampai mendekati siku. Liora berdiri di sana. Ia tampak gelisah, canggung, dan bersalah meski ia berusaha keras untuk tampak biasa saja.Begitu dokter selesai menjelaskan kondisi Steven, Liora langsung bertanya tanpa bisa menahan diri, suaranya tegang.“Dok … kapan tangannya bisa pulih?”Dokter menatap berkasnya sebentar, lalu menjawab, “Karena tulangnya bergeser cukup parah, kemungkinan pemulihan penuh butuh satu hingga tiga bulan. Dengan catatan, tidak ada gerakan yang memperparah cedera.”Setelah dokter pergi, Liora berdiri agak jauh dari ranjang, menjaga jarak seolah takut mendekat akan memperparah keadaan.“Aku akan membayar semua biaya rumah sakitmu,” katanya datar. “Dan setelah ini … hari ini adalah terakhir kita bertemu.”Steven mendengus. Bukan marah, lebih seperti mengejek. Dengan satu gerakan cepat, ia meraih ponsel Liora dari tangan wanita itu.“Eh—Steven!” Lio
Liora mendorong pintu kafe The Cozy Finch dengan napas tersengal karena terburu-buru.Ia hanya ingin secangkir cappuccino caramel dan duduk manis sebelum bertemu pria yang dijodohkan oleh ayahnya.Namun, begitu ia melangkah mendekati meja yang sudah dipesan, langkahnya mendadak berhenti. Ia membeku. Otaknya seperti tersengat listrik 120 volt.Itu bukan pria asing.Itu Steven Theodore, mantan pacarnya sepuluh tahun yang lalu.Rambut hitam lelaki itu kini lebih pendek, rahangnya lebih tegas, jasnya terlalu rapi, dan … oh, tentu saja. Dia makin tampan. Liora spontan ingin berbalik, pura-pura salah kafe, salah negara, atau salah planet, tetapi suara itu memanggil.“Liora?" Langkah Liora terhenti seketika. "Liora, anak Tuan Smith Luis dari Court Boutique?”Liora terkejut. Ia berbalik perlahan, memasang senyum palsu terbaik yang ia miliki. “Dan … apa kau Steven dari Theodore Technology?”Steven menyandarkan punggungnya, wajahnya kaku, tetapi matanya jelas menunjukkan keterkejutan yang







