Share

LS 3. Tak Ada Pilihan

Author: Ziya_Khan21
last update Last Updated: 2025-12-26 00:17:18

Liora menatap Steven seakan pria itu baru saja menyarankan ide paling gila abad ini. 

“Kontrak? Kau pikir ini drama Korea, hah!” serunya, suaranya naik satu oktaf.

Steven hanya mengangkat alis, sama sekali tak terpengaruh. “Kau juga nonton drama Korea. Aku pernah lihat kau nangis gara-gara episode terakhir—”

“Diam!” Liora hampir melempar tas tangannya. “Ini serius!”

“Aku juga serius,” jawab Steven tanpa kehilangan ketenangan sedikit pun. “Orang tuaku sudah mengancam. Kau tahu sendiri, ayahku itu seperti CEO perusahaan mafia legal. Sekali dia bilang menikah, itu bukan saran. Itu ultimatum.”

Liora menggertakkan gigi. “Dan aku baru saja bertengkar dengan Ayah gara-gara kau!”

Steven terkekeh pelan, tanpa rasa bersalah. “Ya … itu memang salahmu sendiri.”

“Kenapa kau tenang begitu!” Liora memukul bahu Steven membuatnya menjerit kecil karena ternyata bahu itu masih nyeri dan Steven mengaduh bersamaan.

“Aw! Hei! Tangan kananku patah, bukan bahuku. Tapi tetap saja, aku pasien rumah sakit!”

Liora memijat pelipis. “Aku tidak mau menikah denganmu.”

“Kalau begitu, apa kau punya solusi lain?” tanya Steven tajam.

Liora membuka mulut, menutup lagi. Membuka lagi. Menutup lagi.

Steven tersenyum tipis. “Itu artinya tidak.”

“Aku … aku cuma butuh waktu,” bantah Liora.

“Waktu untuk apa?” Steven bergerak mendekat. Tubuhnya makin dekat, makin mengurangi jarak sampai napasnya terasa di wajah Liora.

Liora otomatis mundur satu langkah.

Steven tak berhenti. Ia menarik pinggang Liora dengan satu tangan. 

Jarak mereka tinggal lima sentimeter.

Mungkin kurang.

“Apa yang kau lakukan?” bisik Liora panik. 

Steven menundukkan sedikit kepalanya, wajahnya mendekat. “Atau kau masih punya perasaan padaku?”

Liora memutar bola matanya, ingin menendangnya.

Akan tetapi, tubuhnya justru membeku.

Jantungnya berdebar seperti pemain drum konser rock.

Steven memperhatikan perubahan napasnya, lalu tersenyum miring. “Oh? Tidak menyangkal?”

“A-aku .…” Liora tertegun. Mengapa ia tidak bergerak? Mengapa ia tidak mendorongnya? Mengapa Steven makin dekat seperti itu?

Lelaki itu hanya berjarak satu helaan napas dari bibirnya kini. Dan ketika bibir Steven hampir menyentuhnya, ia berhenti dengan sengaja.

“Hmm,” gumam Steven. “Menarik.”

“Apa!” Liora mendesis, wajahnya ikut memerah karena malu dan marah campur jadi satu.

Steven mundur satu langkah dan kembali duduk santai di ranjang. “Baik, sebelum kau pingsan, aku ulangi idenya. Kontrak pernikahan satu tahun. Setelah itu, kita bisa bercerai tanpa drama. Aku dapat citra stabil di mata ayahku. Kau … butikmu aman dari ancaman bangkrut."

“Aku tidak mau,” tegas Liora.

Steven mengangkat bahu. “Tentu. Maka opsinya tinggal yang satu lagi.” Ia melihat jam di dinding, seolah sedang membaca jadwal meeting. “Memohon pada orang tuamu agar membatalkan pernikahan.”

Liora langsung mengerutkan kening. “Memohon? Pada Ayah? Yang barusan bilang akan menghancurkan butikku kalau aku menolak?”

“Ya.” Steven menimpali. “Memohon. Menangis mungkin. Berguling di lantai juga bisa jadi variasi bagus. Atau kau bisa pura-pura pingsan, tapi itu sudah terlalu old-fashioned.”

“Steven!” Liora berteriak frustasi.

“Apa? Aku menawarkan pilihan.”

“Itu bukan pilihan!” Liora berkacak pinggang.

“Itu pilihan. Pilihan buruk, tapi tetap pilihan.”

Liora menghela napas panjang, sangat panjang. Rasanya ingin berteriak pada dunia. “Aku tidak akan menikah denganmu.”

Steven tersenyum. “Baiklah. Lakukan pendekatan diplomatis pada orang tuamu.”

“Itu mustahil.”

“Kalau begitu … kita menikah.”

“Tidak!”

Steven menatap Liora dengan mata khas CEO muda yang sudah terbiasa menang dalam negosiasi. “Kau membenciku begitu dalam sampai-sampai tidak mau menikah kontrak satu tahun? Aku tidak akan menyentuhmu. Kita tinggal di rumah berbeda pun bisa. Aku hanya butuh citra. Dan kau bebas mengejar hidupmu sendiri.”

Liora menggigit bibir bawah. Steven selalu membuat semua terdengar logis padahal sebenarnya gila.

“Bagaimana kalau semua ini tidak bekerja sesuai rencana?” tanya Liora, suaranya melemah.

“Liora.” Steven melunak sedikit. “Hidup kita berantakan sekarang karena paksaan orang tua. Setidaknya … kalau kita bekerja sama, kita punya kendali.”

Liora menatap Steven lama. Sangat lama. Tatapannya menelusuri pria itu dari ujung kaki hingga rambut yang sedikit berantakan. Akan tetapi, masih bisa melempar senyum santai seolah semuanya di bawah rencananya.

“Dan kalau aku bilang tidak?” tanyanya pelan.

Steven menarik napas, mengangkat bahu dengan elegan. “Maka besok pagi, Ayahmu akan mengirim bulldozer kecil ke butikmu.”

Liora memejamkan mata. “Astaga.”

Steven mencondongkan tubuh sedikit, suaranya merendah. “Kau tidak perlu suka padaku untuk sepakat. Kita hanya harus bekerja sama.”

Liora membuka mata perlahan. “Kau menyebalkan.”

“Sering kudengar.”

“Kau arogan.”

“Itu tidak pernah kupungkiri.”

“Kau gila.”

Steven tersenyum lebih lebar. “Tapi kau tetap datang menemuiku.”

Liora terdiam.

Lalu akhirnya berkata lirih, “Aku butuh waktu berpikir.”

Steven mengangguk. “Kau punya waktu … sampai makan malam.”

“Steven!”

“Apa? Deadline membuat orang berpikir cepat.”

Liora mendengus keras, berbalik, dan keluar dari ruang VIP dengan pintu hampir terbanting.

Steven menatap pintu itu sambil berdesah pelan, lalu tersenyum kecil.

“Dia pasti kembali,” gumamnya.

***

Liora mendorong pintu kafe kecil di sudut Camden Town, membiarkan aroma kopi dan irisan lemon pie yang menguar memenuhi paru-parunya. 

Ia mengembuskan napas keras, menjatuhkan diri di kursi dekat jendela. Tangannya meremas rambut sendiri. 

“Kenapa hidupku seperti drama tanpa jeda iklan,” gumamnya lemas.

“Liora!” panggil seorang wanita dengan ceria.

Liora otomatis terangkat dari kursi saking kagetnya. “Astaga, Chelsea! Kau mau bikin jantungku copot!”

Chelsea langsung duduk tanpa diundang. “Kenapa wajahmu seperti habis ditinggal pesanan diskon sepatu? Ceritakan!”

Liora menatap sahabatnya itu dengan tatapan tajam. “Ayahku … memaksaku menikah.”

Chelsea berhenti menyedot frappe yang baru dipesannya. “Oooh.” Kemudian ia tersenyum lebar. “Selamat!”

“Selamat kenapa?”

“Aku juga ingin dijodohkan! Hidupku terlalu sepi, Liora! Enak kali, ya, bangun pagi sudah ada yang beliin kopi—”

“Chelsea!” Liora menepuk meja. “Ini bukan romantis! Ini ancaman bersertifikat!”

Chelsea mengerjap, tetapi tetap terlihat lebih bersemangat daripada prihatin. “Siapa? Siapa calonmu? Siapa lelaki beruntung yang dipaksa mencintaimu?”

Liora menghela napas, “Steven.”

Chelsea benar-benar terdiam. Lalu dia menjatuhkan sedotannya. “Steven …  Steven mantanmu? Steven yang kabur tanpa alasan? Steven yang bilang butuh ruang, tapi ruangnya ternyata satu benua?”

“Ya.” Liora merintih sambil menunduk.

Chelsea memegang tangan Liora. “Tapi serius … kau benar-benar akan menikah dengan pria yang meninggalkanmu begitu saja?”

Liora mengangkat bahu. “Aku … tidak tahu, Chelsea. Ayah bilang kalau aku menolak, butikku bisa tutup. Steven bilang dia juga tak bisa menolak. Dan dia menawarkan … kontrak. Satu tahun.”

Chelsea hanya bisa melongo. “Astaga. Jadi kalian kayak … menikah penuh deadline?”

“Kalau kontrak ini bisa menyelamatkan butikku, mungkin aku tidak punya pilihan.”

Chelsea memajukan tubuh, menatap sahabatnya penuh analisis. “Baik. Pertanyaan penting terakhir.”

“Apa?”

“Apa kau masih punya perasaan pada Steven?”

Liora langsung memukul meja. “Tidak! Mana mungkin! Aku sudah move on!"

“Liora, yakin?"

Liora mendelik. “Tidak ada perasaan! Nihil! Minus bahkan!”

“Kalau begitu ….” Chelsea berkata sambil tersenyum lebar, “lakukan saja. Satu tahun itu sebentar. Kau dapat penyelamatan butik, dia dapat citra, kalian berdua tidak terikat selamanya.”

Liora terdiam.

“Dan siapa tahu,” Chelsea menambahkan, “kau bisa balas dendam dengan sangat elegan selama setahun itu.”

Liora mengangkat alis. “Contohnya?”

Chelsea tersenyum nakal. “Biarkan dia jatuh cinta dulu … lalu kau yang cabut kontraknya.”

Liora memelototinya. “Chelsea, aku bukan villain.”

“Siapa bilang? Dalam film hidupmu, kau heroine yang lagi belajar mode villain light.”

Meski ingin marah, untuk pertama kali sejak pagi, Liora tertawa kecil.

Ponsel Liora berdering, ia mengernyitkan dahi kesal.

"Ada apa?" tanya Liora mengangkat telepon dari Steven.

"Sayang, aku butuh kau sekarang!"

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Bintang Ihsan
ide chelsea boleh juga buat balas sakit hati yang dulu
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • NIKAH KONTRAK: Tuan Mantan, JANGAN BAPER!   Ls 6. Traktir Makan

    Degup jantung Liora menari kacau. Tidak. Ini tidak boleh terjadi. Kesadarannya kembali, dan Liora langsung mendorong dada Steven dengan kedua tangannya. “Jangan cari kesempatan!” seru Liora, wajahnya memerah bukan karena malu, tetapi karena marah. “Aku tidak ingin disentuh.” Steven mundur setengah langkah, alisnya terangkat. “Aku baru saja menyelamatkanmu dari mencium lantai butikmu sendiri,” katanya dingin. “Aku tidak peduli! Jangan sentuh aku lagi!” Liora memegang dadanya yang masih berdebar, mencoba menstabilkan napas. Steven menyilangkan tangan bebasnya ke atas tangan yang digips, tatapannya sinis. “Kau yakin mau bicara seperti itu padaku?” katanya sambil mencondongkan tubuh sedikit. “Atau kau ingin mukamu bengkak di hari pernikahan karena jatuh jungkir balik barusan?” Liora menggertakkan gigi. “Steven!” “Apa?” Steven mengangkat bahu acuh. “Aku cuma bilang fakta. Kau nyaris mati gaya, tahu?” “Keluar,” pinta Liora akhirnya. “Aku mau ganti pakaian.” “Tidak mau,” jawab St

  • NIKAH KONTRAK: Tuan Mantan, JANGAN BAPER!   LS 5. Persiapan Pernikahan

    Pagi itu butik Liora sudah ramai bahkan sebelum jam menunjukkan pukul sepuluh. Tumpukan kain baru datang, dua pelanggan meminta penjahitan cepat, dan di sudut lain ponselnya tak berhenti bergetar. Ia menahan napas panjang, menyelipkan pensil di belakang telinga, lalu mengangkat telepon yang sejak tadi berdering."Halo dengan Liora di sini."Suara riang dari wedding organizer langsung terdengar."Pagi, Liora! Ini Maya dari Blossom WO. Kami mau konfirmasi konsep dekor pernikahan. Apa yang akan anda pilih? Mau tema putih-emas, atau dusty blue. Mana yang anda pilih?"Liora memejamkan mata."Saya pilih putih-emas. Apa Steven tidak bilang apa-apa?""Tidak, Nona. Katanya anda yang tentukan. Lalu soal meja tamu, mau pakai rangkaian bunga artificial atau fresh flower?""Fresh flower sekalian. Tapi yang tidak terlalu wangi.""Oke, dicatat. Nanti sore saya kirimkan moodboard finalnya."Telepon ditutup. Dua detik kemudian ponselnya kembali bergetar.Catering.Liora mengangkat lagi sambil merapika

  • NIKAH KONTRAK: Tuan Mantan, JANGAN BAPER!   LS 4. Perjanjian Nikah

    “Sayang, aku butuh kau sekarang.”Liora langsung menjauhkan ponselnya dari telinga. “Astaga … aku ingin muntah,” gumamnya keras-keras tanpa filter.Di seberang, Steven malah tertawa. “Bagus. Tapi tetap saja datanglah. Sepuluh menit lagi. Waktumu sudah habis untuk berpikir.”“Steven—”Tut. Panggilan berakhir begitu saja.Liora menatap ponselnya seperti ingin melemparkannya ke luar jendela.Chelsea bersandar ke kursi, memasang ekspresi terkejut dramatis. “Siapa yang telepon?”“Siapa lagi? Steven,” desah Liora. “Entah kenapa dia menelpon. Kita baru bertemu satu jam lalu. Apa dia pikir aku stafnya?”Chelsea terlihat seperti menerima wahyu. “Ini … kesempatan emas, Liora.”“Untuk apa? Menamparnya pakai hanger baju?”“Untuk bikin Steven jatuh cinta!” Chelsea memukul meja pelan. “Dengarkan aku. Kau menikah kontrak. Kau punya satu tahun. Ini waktu yang sempurna untuk balas dendam paling elegan.”Liora memutar mata. “Aku tidak butuh Steven jatuh cinta padaku. Aku butuh hidup normal.”Chelsea me

  • NIKAH KONTRAK: Tuan Mantan, JANGAN BAPER!   LS 3. Tak Ada Pilihan

    Liora menatap Steven seakan pria itu baru saja menyarankan ide paling gila abad ini. “Kontrak? Kau pikir ini drama Korea, hah!” serunya, suaranya naik satu oktaf.Steven hanya mengangkat alis, sama sekali tak terpengaruh. “Kau juga nonton drama Korea. Aku pernah lihat kau nangis gara-gara episode terakhir—”“Diam!” Liora hampir melempar tas tangannya. “Ini serius!”“Aku juga serius,” jawab Steven tanpa kehilangan ketenangan sedikit pun. “Orang tuaku sudah mengancam. Kau tahu sendiri, ayahku itu seperti CEO perusahaan mafia legal. Sekali dia bilang menikah, itu bukan saran. Itu ultimatum.”Liora menggertakkan gigi. “Dan aku baru saja bertengkar dengan Ayah gara-gara kau!”Steven terkekeh pelan, tanpa rasa bersalah. “Ya … itu memang salahmu sendiri.”“Kenapa kau tenang begitu!” Liora memukul bahu Steven membuatnya menjerit kecil karena ternyata bahu itu masih nyeri dan Steven mengaduh bersamaan.“Aw! Hei! Tangan kananku patah, bukan bahuku. Tapi tetap saja, aku pasien rumah sakit!”Lio

  • NIKAH KONTRAK: Tuan Mantan, JANGAN BAPER!   LS 2. Mendadak Dilamar

    Kini, Steven berada di ruang rawat rumah sakit. Lengan kanannya sudah digips rapi, dibalut putih dari pergelangan sampai mendekati siku. Liora berdiri di sana. Ia tampak gelisah, canggung, dan bersalah meski ia berusaha keras untuk tampak biasa saja.Begitu dokter selesai menjelaskan kondisi Steven, Liora langsung bertanya tanpa bisa menahan diri, suaranya tegang.“Dok … kapan tangannya bisa pulih?”Dokter menatap berkasnya sebentar, lalu menjawab, “Karena tulangnya bergeser cukup parah, kemungkinan pemulihan penuh butuh satu hingga tiga bulan. Dengan catatan, tidak ada gerakan yang memperparah cedera.”Setelah dokter pergi, Liora berdiri agak jauh dari ranjang, menjaga jarak seolah takut mendekat akan memperparah keadaan.“Aku akan membayar semua biaya rumah sakitmu,” katanya datar. “Dan setelah ini … hari ini adalah terakhir kita bertemu.”Steven mendengus. Bukan marah, lebih seperti mengejek. Dengan satu gerakan cepat, ia meraih ponsel Liora dari tangan wanita itu.“Eh—Steven!” Lio

  • NIKAH KONTRAK: Tuan Mantan, JANGAN BAPER!   LS 1. Tak Terduga

    Liora mendorong pintu kafe The Cozy Finch dengan napas tersengal karena terburu-buru.Ia hanya ingin secangkir cappuccino caramel dan duduk manis sebelum bertemu pria yang dijodohkan oleh ayahnya.Namun, begitu ia melangkah mendekati meja yang sudah dipesan, langkahnya mendadak berhenti. Ia membeku. Otaknya seperti tersengat listrik 120 volt.Itu bukan pria asing.Itu Steven Theodore, mantan pacarnya sepuluh tahun yang lalu.Rambut hitam lelaki itu kini lebih pendek, rahangnya lebih tegas, jasnya terlalu rapi, dan … oh, tentu saja. Dia makin tampan. Liora spontan ingin berbalik, pura-pura salah kafe, salah negara, atau salah planet, tetapi suara itu memanggil.“Liora?" Langkah Liora terhenti seketika. "Liora, anak Tuan Smith Luis dari Court Boutique?”Liora terkejut. Ia berbalik perlahan, memasang senyum palsu terbaik yang ia miliki. “Dan … apa kau Steven dari Theodore Technology?”Steven menyandarkan punggungnya, wajahnya kaku, tetapi matanya jelas menunjukkan keterkejutan yang

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status