MasukPagi itu butik Liora sudah ramai bahkan sebelum jam menunjukkan pukul sepuluh. Tumpukan kain baru datang, dua pelanggan meminta penjahitan cepat, dan di sudut lain ponselnya tak berhenti bergetar. Ia menahan napas panjang, menyelipkan pensil di belakang telinga, lalu mengangkat telepon yang sejak tadi berdering.
"Halo dengan Liora di sini." Suara riang dari wedding organizer langsung terdengar. "Pagi, Liora! Ini Maya dari Blossom WO. Kami mau konfirmasi konsep dekor pernikahan. Apa yang akan anda pilih? Mau tema putih-emas, atau dusty blue. Mana yang anda pilih?" Liora memejamkan mata. "Saya pilih putih-emas. Apa Steven tidak bilang apa-apa?" "Tidak, Nona. Katanya anda yang tentukan. Lalu soal meja tamu, mau pakai rangkaian bunga artificial atau fresh flower?" "Fresh flower sekalian. Tapi yang tidak terlalu wangi." "Oke, dicatat. Nanti sore saya kirimkan moodboard finalnya." Telepon ditutup. Dua detik kemudian ponselnya kembali bergetar. Catering. Liora mengangkat lagi sambil merapikan kain satin di meja. "Siang, Nona Liora. Ini Danu dari Golden Taste. Kami perlu finalisasi menu. Apa anda ingin menu Prancis tambahan … tapi kami dengar Nona lebih condong ke menu khas London." "Menu Prancis itu juga boleh," gerutu Liora. "Baik kami mengerti." Liora menggeleng, saat panggilan berakhir. Belum sempat ia menaruh ponsel, panggilan video masuk. Vendor undangan. Ia menjawab dengan senyum dipaksakan. "Ya, halo." Desainer undangan langsung menunjukkan dua contoh desain ke kamera. "Nona Liora, ini draft undangan. Saya buat dua versi, versi elegan emboss emas, dan versi minimalis biru. Anda ingin yang mana." Liora mengetuk meja dengan kesal. "Ambil yang emas. Tolong, apa Steven benar-benar tidak bilang apa-apa?" "Ya, pengantin pria bilang dia masih sakit. Untuk font nama, mau yang cursive atau serif klasik?" "Serif. Biar kelihatan lebih formal." Panggilan berakhir. Setelah menutup telepon dari vendor kesekian, Liora benar-benar merasa kepalanya mau pecah. Ia bersandar di meja kerja butik, menatap plafon, lalu mengusap wajah yang sudah terasa panas karena stres. Akhirnya ia meraih ponselnya dan menekan nomor Steven tanpa ragu. Begitu tersambung, ia langsung meledak. "Steven! Kenapa semua hal dilimpahkan ke aku? Dari dekor, menu makanan, undangan, sampai kursi pelaminan! Semua vendor telepon aku, kenapa bukan kau!" Suara Steven terdengar santai, bahkan terlalu santai untuk seseorang yang sedang membuat hidup Liora jungkir balik. "Karena aku lagi sakit. Tangan kananku patah, tidak lupa kan? Jadi kau saja yang atur." Liora hampir melempar ponselnya ke dinding. "Aku punya kerjaan, Steven! Butikku sibuk, ada pelanggan, fitting, desain baru!" serunya dengan napas terengah. "Ya, sudah ambil cuti saja," jawab Steven seolah itu solusi paling logis sedunia. "Pernikahan kita tinggal enam hari lagi. Kenapa repot sendiri?" "Steven!" Liora menjerit frustrasi. "Ini bukan cuma urusanku! Ini pernikahan kita! Kau juga harus—" Tiba-tiba ponsel Liora bergetar. Notifikasi masuk. Ia melirik sebentar dan langsung mendelik kesal. "Kenapa kau juga memesan gaun pengantin?" bentaknya begitu kembali ke telepon. "Oh, itu," kata Steven tanpa rasa bersalah. "Kan, Lucinda, desainer favoritku, buka slot urgent. Aku pikir kamu mau coba style baru." Liora menahan napas panjang. "Aku punya banyak gaun pengantin! Banyak sekali! Sampai satu ruangan penuh untuk customer sample!" "Ya, tapi bukan untuk kamu pakai sendiri," balas Steven santai. "Kamu akan coba hari ini?" Liora memijit kening. "Mungkin, setelah selesai bekerja. Tapi aku akan membatalkan pesanan gaun dari tempat lain. Tidak mungkin aku coba gaun dari tempat lain sementara aku punya gaun sendiri." "Bagus," kata Steven ringan. "Nanti kirim foto kalau kamu sudah coba." "Kau mimpi," balas Liora ketus dan langsung memutus panggilan. Ia menatap ponselnya, lalu menatap butik yang kembali sibuk. Dan ia mengambil napas panjang. Enam hari menuju pernikahan. Dan Steven benar-benar membuatnya ingin kembali menjadi lajang seumur hidup. *** Jam dinding sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, dan Liora masih sibuk memeriksa daftar panjang urusan pernikahan yang belum selesai. Pegawainya sudah pulang sejak setengah jam lalu, meninggalkan butik yang kini sunyi, hanya ditemani lampu-lampu temaram dan suara lembut pendingin ruangan. Liora menghela napas panjang. “Kenapa semua harus aku yang urus,” gumamnya sambil mengambil clipboard dan berjalan menuju ruang gaun pengantin. Ruangan besar itu dipenuhi deretan gaun putih, gading, dan pastel, semuanya berkilau indah di bawah lampu. Liora menelusuri satu per satu desainnya, jari-jarinya menyusuri renda dan payet, berharap salah satunya memanggilnya. Hingga matanya justru terpaku pada satu gaun yang menggantung di pojok, gaun yang jarang sekali dilirik pelanggan. Gaun itu sederhana. Tidak banyak manik, tidak banyak lapisan. Siluet lembut dengan sedikit bordir halus di bagian pinggang. Liora tersenyum kecil. “Gaun pertama yang kubuat,” bisiknya. Ia ingat bagaimana ia menghabiskan malam demi malam menjahitnya sendiri. Waktu itu ia belum punya tim. Belum punya butik besar. Belum punya apa-apa, kecuali mimpi. Terlalu sederhana, itulah alasan gaun itu jarang dipilih pelanggan. Liora menatapnya lama. “Ya sudah … sekali ini saja,” gumamnya akhirnya. Ia membawa gaun itu masuk ke ruang fitting. Setelah beberapa menit menyesuaikan ukuran dan merapikan pita, ia menghela napas dalam-dalam lalu membuka tirai, bersiap menatap refleksi dirinya di cermin besar di ruangan utama. Namun, yang ia lihat pertama kali bukan cermin. Melainkan seseorang yang berdiri tepat di tengah ruangan. Steven. Bersandar dengan satu tangan yang digips, memakai kaos gelap, dan wajahnya langsung terpaku pada sosok Liora. Liora terlonjak kaget. “Apa yang kau lakukan di sini! Kau … kau membuatku hampir mati karena sport jantung!” Steven tidak menjawab. Dia hanya menatap Liora panjang, seolah lupa bernapas. Tatapannya begitu intens sampai Liora merasa tubuhnya panas sendiri. “Kau .…” Suara Steven serak, “terlalu cantik.” Liora mengerjap, tak siap mendengarnya. Steven melangkah mendekat, langkahnya pelan. “Aku … cuma ingin memastikan kau sudah makan. Tapi aku tidak menyangka bakal melihat ini.” Tatapannya menurun dari kepala hingga ujung gaun, lalu kembali ke wajah Liora. “Itu gaun yang sempurna.” Liora memeluk lengannya sendiri, merasa canggung. “Ini hanya gaun lama. Gaun pertamaku. Tidak istimewa.” “Bagiku, sangat istimewa,” jawab Steven cepat. Liora menelan ludah, seketika lupa bagaimana cara bicara. Steven tersenyum kecil, bukan senyum menggoda yang biasa, tetapi yang lembut. “Kalau kamu memakai gaun ini … aku rasa aku bisa jatuh cinta lagi.” Liora membeku. Steven tersentak sedikit, lalu buru-buru memperbaiki ucapannya. “Maksudku … gaunnya bagus. Ya, itu. Bagus.” Tapi kata-kata itu telah terlanjur melayang di antara mereka, menyesakkan udara malam yang tadinya tenang. "Jangan jatuh cinta padaku. Aku ... Memakainya bukan untukmu. Tapi untuk diriku sendiri," ucap Liora ketus lalu memilih berbalik hendak kembali. Akan tetapi, langkahnya yang tersandung gaunnya sendiri membuat Liora hampir terjatuh dan mencium lantai kalau saja sebuah tangan tidak menahan tubuhnya. Steven yang segera berlari dengan cepat dan menahan tubuh Liora dengan tangan kirinya, menatap wajah Liora dengan tatapan yang berbeda. Sementara, Liora merasakan degup jantung yang menari tak terkendali.Suasana meja itu kembali berat.Liora menunduk, mencoba meredakan detak jantungnya sendiri. Ia tidak mau terlihat goyah.“Jadi,” ia menatap Julian kembali, “itu alasanmu memperkenalkanku pada Jessica?”Julian mengangkat alis. “Jessica?”“Ya. Kau tiba-tiba membuatku bertemu dengan Jessica. Semua terasa seperti… sudah diatur.”Julian tertawa kecil. “Tidak sengaja.”Liora menatapnya curiga.“Hanya kebetulan Jessica tertarik pada gaunmu,” lanjut Julian. “Aku tidak merencanakan apa pun. Aku hanya membuka pintu. Kau sendiri yang masuk dan membuat mereka terkesan.”Liora terdiam. Sebagian dirinya ingin percaya bahwa semuanya memang kebetulan. Bahwa Julian hanya membantu karena ia peduli.Namun sebagian kecil lainnya bertanya… apakah benar hanya itu?“Julian,” ucapnya akhirnya, “aku tidak ingin hidupku dipenuhi kecurigaan.”“Aku tidak bermaksud membuatmu curiga.”“Tapi kau m
Liora tersenyum tipis, tapi ada getir di sana. “Saat itu kami masih muda. Ego lebih besar dari komunikasi. Hal sepele bisa terlihat seperti pengkhianatan.”Julian memperhatikannya dalam diam.“Kami tidak pernah bertemu lagi selama sepuluh tahun,” lanjut Liora pelan. “Hidup berjalan sendiri-sendiri. Aku membangun butik. Dia mengembangkan bisnisnya. Kami seperti dua garis yang sempat berpotongan lalu menjauh sangat jauh.”“Dan kemudian?”“Entah takdir sedang bercanda atau memang punya rencana sendiri,” Liora menatap gelas airnya. “Kami bertemu lagi. Dalam situasi yang tidak terduga.”Julian tahu ada bagian cerita yang tidak ia ceritakan sepenuhnya, tapi ia tidak memotong.“Dan akhirnya kau menikah,” simpul Julian pelan.Liora mengangguk. “Ya.”Julian menyilangkan tangan di atas meja. “Bagaimana jika kesalahpahaman itu kembali terjadi?”Pertanyaan itu membuat Liora mengangkat wajahnya perlahan.“O
Beberapa menit kemudian, ia kembali ke kamar tidur dan mulai melepas jasnya. Kancing kemeja bagian atas sudah terbuka ketika bel kamar berbunyi.Ding-dong.Steven berhenti sejenak. “Secepat itu?” pikirnya. Mungkin John sudah mengirimkan makanan.Ia berjalan santai menuju pintu tanpa banyak curiga, membuka kunci, lalu memutar gagang pintu.Begitu pintu terbuka—Sosok yang berdiri di depannya membuat napasnya tertahan.“Amanda?”Tanpa menunggu reaksi lebih lanjut, Amanda melangkah maju dan langsung memeluknya. Tubuhnya menempel erat pada dada bidang Steven. Aroma parfum mahal bercampur dengan bau alkohol yang samar menyengat.“Steven…” bisiknya pelan, wajahnya menempel di dada Steven.Steven terkejut, refleks tangannya terangkat. “Amanda, apa yang kau lakukan?”Ia mencoba menarik tubuh wanita itu menjauh, tetapi Amanda justru semakin melekat, kedua tangannya melingkar di pinggang Steven.
“Berikan yang terbaik padaku.” Mata biru Jessica berbinar. “Kalau kau menciptakan sesuatu yang paling istimewa, aku ingin menjadi orang pertama yang memakainya.”Liora tersenyum perlahan, rasa haru dan bangga bercampur jadi satu.“Aku sangat menyukai semua gaunmu, Liora,” lanjut Jessica tulus. “Dan aku ingin berjalan di atas karpet merah dengan karya yang membuatku merasa tak tergantikan.”Liora menarik napas dalam.“Kalau begitu,” katanya mantap, “aku akan memastikan setiap gaun untukmu bukan hanya indah … tapi tak terlupakan.”***Setelah percakapan itu berakhir dengan senyum dan kesepakatan awal, Liora dan Julian akhirnya berdiri untuk pamit. Jessica kembali menjabat tangan Liora dengan hangat, tatapannya penuh keyakinan.“Aku menunggu karya berikutnya,” ucapnya pelan.Liora mengangguk hormat. “Terima kasih atas kepercayaannya.”Tania kemudian mengantar mereka keluar. Sesampainya di depan lobi utama,
Jessica.Aktris film papan atas yang wajahnya sering menghiasi layar bioskop dan majalah fashion.Rambut hitam panjangnya tergerai lembut, kontras dengan mata birunya yang tajam namun hangat. Bibir kecilnya melengkung membentuk senyum ramah. Tubuhnya tinggi ramping dengan proporsi bak boneka barbie, anggun, hampir terlalu sempurna untuk nyata.“Julian,” sapanya hangat, lalu menoleh pada Liora. “Dan ini pasti Liora.”“Iya,” jawab Julian.Jessica melangkah mendekat dan menjabat tangan Liora tanpa kesan sombong sedikit pun. “Aku sudah melihat beberapa foto gaunmu. Aku tidak sabar melihat langsung.”Sambutan hangat itu sedikit meredakan ketegangan di dada Liora.“Terima kasih sudah memberi kesempatan,” jawab Liora sopan.Mereka duduk sejenak di ruang tamu suite yang luas. Jendela besar memperlihatkan pemandangan kota dari ketinggian. Setelah berbincang ringan tentang proyek film terbaru Jessica dan rencana acara red
Butik Liora kembali ramai.Sejak pagi, pintu kaca itu tak berhenti terbuka dan tertutup. Beberapa klien baru datang dengan antusias, sebagian membawa foto dari ponsel mereka.“Ini gaun yang dipakai Amanda kemarin, kan?” tanya salah satu wanita muda sambil menunjukkan gambar yang sudah beredar di media sosial.Liora tersenyum sopan, meski di dalam hati ia benar-benar bingung.Bagaimana berita itu bisa menyebar secepat ini?Amanda bahkan belum secara resmi tampil di acara besar mana pun dengan gaun tersebut. Namun kabar bahwa model ternama itu mencoba koleksi Liora sudah cukup membuat nama butik kecilnya mendadak diperbincangkan.Beberapa klien bergantian mencoba gaun biru bertumpuk tulle. Ada juga yang langsung meminta melihat gaun putih dengan cape elegan. Bahkan gaun glitter biru yang sebelumnya disebut terlalu seperti putri dongeng kini justru paling banyak diminati.Liora berdiri di tengah ruangan, membantu mengatur j







