LOGIN“Sayang, aku butuh kau sekarang.”
Liora langsung menjauhkan ponselnya dari telinga. “Astaga … aku ingin muntah,” gumamnya keras-keras tanpa filter. Di seberang, Steven malah tertawa. “Bagus. Tapi tetap saja datanglah. Sepuluh menit lagi. Waktumu sudah habis untuk berpikir.” “Steven—” Tut. Panggilan berakhir begitu saja. Liora menatap ponselnya seperti ingin melemparkannya ke luar jendela. Chelsea bersandar ke kursi, memasang ekspresi terkejut dramatis. “Siapa yang telepon?” “Siapa lagi? Steven,” desah Liora. “Entah kenapa dia menelpon. Kita baru bertemu satu jam lalu. Apa dia pikir aku stafnya?” Chelsea terlihat seperti menerima wahyu. “Ini … kesempatan emas, Liora.” “Untuk apa? Menamparnya pakai hanger baju?” “Untuk bikin Steven jatuh cinta!” Chelsea memukul meja pelan. “Dengarkan aku. Kau menikah kontrak. Kau punya satu tahun. Ini waktu yang sempurna untuk balas dendam paling elegan.” Liora memutar mata. “Aku tidak butuh Steven jatuh cinta padaku. Aku butuh hidup normal.” Chelsea menggeleng dalam keputusasaan. “Justru itu! Kalau dia jatuh cinta lebih dulu, kau akan menang, Liora. Satu tahun nanti, ketika kontrak berakhir, kaulah yang mengatur permainan.” Liora hanya menghela napas berat. “Tapi dengarlah,” lanjut Chelsea sambil memegang tangan kanan Liora. “Sampai hari H kalian menikah … bersikaplah manis. Sangat manis. Manis kayak gula lima sendok di teh tawar panas.” “Chelsea .…” “Biarkan dia nyaman, biarkan dia luluh, biarkan dia pikir dunia sudah berpihak padanya.” Chelsea mencondongkan tubuh, wajahnya penuh strategi. “Lalu ketika kontrak selesai … bam! Kau keluar dengan kepala tegak dan dia yang kelabakan.” Liora menatap sahabatnya itu lama. “Ini bukan balas dendam … ini operasi intel,” gumamnya. “Betul. Dan kau agen terbaiknya.” Meski masih kesal, Liora akhirnya berdiri. “Baiklah. Aku akan pergi. Tapi bukan untuk membuat Steven jatuh cinta.” “Sebut saja apa pun yang kau mau,” kata Chelsea sambil mengibas tangan. “Tapi ingat … siksaan paling manis adalah membuat pria arogan itu jatuh duluan.” Liora mendesah, meraih tasnya, lalu melangkah ke pintu. “Aku tidak akan jatuh cinta lagi.” Chelsea hanya tersenyum penuh arti. “Kita lihat saja, Liora.” *** Liora tiba di rumah sakit dengan langkah cepat, berharap menemukan Steven terkapar atau setidaknya tampak kesakitan. Akan tetapi, yang ia dapatkan adalah Steven duduk tegak di ranjang VIP sambil memainkan remote TV. “Astaga!” Liora memekik kecil. “Kau terlihat baik-baik saja!” Steven menatapnya seolah Liora baru saja mengatakan sesuatu yang sangat bodoh. “Baik-baik saja? Aku hampir mati kelaparan.” Liora memandang nampan makanan di meja samping yang masih utuh, bahkan tutupnya belum dibuka. “Makanan ada di depan wajahmu, Steven. Bagaimana kau bisa mati kelaparan?” Steven mengangkat tangan kirinya, lalu mengisyaratkan tangan kanannya yang digips. “Tangan kananku patah. Aku tidak bisa menggerakkannya.” Liora menahan diri untuk tidak melempar bantal ke wajahnya. “Kau masih punya tangan kiri.” “Aku tahu.” Steven menghela napas dramatis. “Tapi Mama bilang tidak sopan makan dengan tangan kiri.” Liora memejamkan mata. “Steven … kita di London, bukan di acara makan formal kerajaan.” Steven memiringkan kepala dengan santai. “Jadi, suapin aku.” “Aku ingin menangis .…” Liora menutup wajah dengan tangannya. “Kenapa aku datang ke sini?” Ia berbalik ingin pergi, tetapi tiba-tiba seberkas dokumen jatuh di kakinya. Steven melemparnya dengan tepat sasaran. “Itu,” kata Steven dengan nada sangat tenang, “perjanjian pernikahan kita.” Liora berhenti total. “Apa?” “Untuk satu tahun.” Steven menyandarkan punggungnya pada bantal. “Setelah kau tanda tangan, kita akan menikah … sepuluh hari lagi.” “Sepuluh hari?” Liora hampir terjungkal. “Apa kau sudah gila!” “Sst … pasien lain bisa terganggu,” ujar Steven dengan nada sok lembut. “Baca dulu isinya.” Liora memelototinya, lalu mengambil dokumen itu dengan enggan. Ia membuka halaman pertama, dan beberapa menit kemudian ekspresinya berubah dari marah … menjadi bingung. “Ini …,” gumamnya. “Semua klausulnya … menguntungkan aku?” Steven mengangguk santai. “Tentu saja. Kau pikir aku ingin menambah masalah? Aku hanya butuh satu hal, kita bertahan satu tahun tanpa membuat drama keluarga.” Liora membaca lagi. "Butik tetap menjadi milik penuh Liora. Steven wajib menutup seluruh biaya operasional tambahan selama setahun. Liora bebas melanjutkan karier dan aktivitas apa pun. Tidak ada kewajiban tidur satu kamar. Setelah satu tahun, keduanya bebas bercerai tanpa campur tangan keluarga." Liora mengangkat kepala perlahan. “Kenapa … semua ini seolah kau sengaja mempermudahku?” Steven tersenyum kecil, senyuman yang membuat Liora ingin memukulnya dan pingsan di saat yang sama. “Karena aku bukan monster, Liora. Dan karena aku tidak suka dipaksa … sama seperti kau.” Liora menelan ludah. Hatinya kacau. Kepalanya penuh. Steven masih menyebalkan … Akan tetapi, perjanjian ini bukan jebakan. Steven mencondongkan tubuh sedikit. “Tinggal satu hal.” “Apa lagi?” Liora mendesah. “Suapin aku dulu,” katanya sambil menunjuk ke makanan. Sepertinya Liora ingin berteriak. Ia akhirnya menghela napas panjang, meraih sendok, dan mulai menyuapi Steven dengan ekspresi paling menderita di dunia. Steven duduk tegak, membuka mulut seperti anak kecil yang terlalu banyak menuntut. “Pelan, pelan! Kau mau membunuhku?” protes Steven ketika suapan pertama sedikit terlalu panas. Liora memutar bola mata. “Kalau mau mati, mati saja sendiri. Jangan tarik aku.” Suapan berikutnya malah terlalu besar. Steven tersedak sedikit dan memelototinya. “Liora! Aku bilang pelan! Kau tidak sedang memaksa angsa makan!” “Kau terlalu banyak bicara,” balas Liora ketus. “Aku tidak punya waktu untuk ini.” Mereka berdua terlihat seperti dua orang dewasa yang gagal total menjadi manusia normal. Liora menyuapi lagi, kali ini terlalu lambat. Steven mendesah panjang, “Astaga, apakah kau sengaja membuatku menderita?” “Sengaja,” jawab Liora tanpa ragu. Saat suapan kelima dan Steven masih mengoceh tentang temperatur sup yang menurutnya melukai integritas lidahnya, Liora kehilangan kesabaran. “Kau ini pria dewasa atau bayi besar?” katanya sambil mengelap sisa nasi di pipinya. Ia membawa tisu lebih dekat, berniat membersihkan secara kasar, tetapi gerakannya berubah pelan ketika ia menyadari sesuatu, ada noda kecil di sudut bibir Steven. “Diam,” gumamnya. “Aku bersihkan.” Ia mencondongkan tubuh, mengusap perlahan sudut bibir Steven. Dan pada detik itu, Steven berhenti bernapas begitu juga Liora. Sentuhan itu menghidupkan memori yang selama sepuluh tahun dikuburnya dalam-dalam. Ciuman pertama di taman kampus. Ciuman yang Steven curi begitu saja saat hujan turun. Ciuman yang dulu membuatnya gemetar … dan sekarang membuat jantungnya berdebar tanpa permisi. Liora membeku. Steven menatapnya, matanya melembut tanpa ia sadari. “Liora …” Degup jantungnya makin kacau. Panik menyerbu, dinding pertahanan lama runtuh untuk sedetik. Dan karena terlalu terkejut pada dirinya sendiri. Tangan Liora menampar pipi Steven begitu saja. Keduanya sama-sama terperanjat. “Aww! Liora!” Steven menyentuh pipinya, mata melebar. “Aku … refleks!” seru Liora, wajahnya merah padam antara marah, malu, dan bingung. Steven masih tak percaya. “Refleks apa yang membuatmu menampar orang yang baru disuapimu!” Liora mundur beberapa langkah, berusaha terlihat tenang padahal jantungnya kacau. “Kau … terlalu dekat,” katanya ketus sebelum berbalik, mencoba menyelamatkan sisa harga dirinya. Sementara Steven hanya bisa terdiam, memegang pipi yang perih.Degup jantung Liora menari kacau. Tidak. Ini tidak boleh terjadi. Kesadarannya kembali, dan Liora langsung mendorong dada Steven dengan kedua tangannya. “Jangan cari kesempatan!” seru Liora, wajahnya memerah bukan karena malu, tetapi karena marah. “Aku tidak ingin disentuh.” Steven mundur setengah langkah, alisnya terangkat. “Aku baru saja menyelamatkanmu dari mencium lantai butikmu sendiri,” katanya dingin. “Aku tidak peduli! Jangan sentuh aku lagi!” Liora memegang dadanya yang masih berdebar, mencoba menstabilkan napas. Steven menyilangkan tangan bebasnya ke atas tangan yang digips, tatapannya sinis. “Kau yakin mau bicara seperti itu padaku?” katanya sambil mencondongkan tubuh sedikit. “Atau kau ingin mukamu bengkak di hari pernikahan karena jatuh jungkir balik barusan?” Liora menggertakkan gigi. “Steven!” “Apa?” Steven mengangkat bahu acuh. “Aku cuma bilang fakta. Kau nyaris mati gaya, tahu?” “Keluar,” pinta Liora akhirnya. “Aku mau ganti pakaian.” “Tidak mau,” jawab St
Pagi itu butik Liora sudah ramai bahkan sebelum jam menunjukkan pukul sepuluh. Tumpukan kain baru datang, dua pelanggan meminta penjahitan cepat, dan di sudut lain ponselnya tak berhenti bergetar. Ia menahan napas panjang, menyelipkan pensil di belakang telinga, lalu mengangkat telepon yang sejak tadi berdering."Halo dengan Liora di sini."Suara riang dari wedding organizer langsung terdengar."Pagi, Liora! Ini Maya dari Blossom WO. Kami mau konfirmasi konsep dekor pernikahan. Apa yang akan anda pilih? Mau tema putih-emas, atau dusty blue. Mana yang anda pilih?"Liora memejamkan mata."Saya pilih putih-emas. Apa Steven tidak bilang apa-apa?""Tidak, Nona. Katanya anda yang tentukan. Lalu soal meja tamu, mau pakai rangkaian bunga artificial atau fresh flower?""Fresh flower sekalian. Tapi yang tidak terlalu wangi.""Oke, dicatat. Nanti sore saya kirimkan moodboard finalnya."Telepon ditutup. Dua detik kemudian ponselnya kembali bergetar.Catering.Liora mengangkat lagi sambil merapika
“Sayang, aku butuh kau sekarang.”Liora langsung menjauhkan ponselnya dari telinga. “Astaga … aku ingin muntah,” gumamnya keras-keras tanpa filter.Di seberang, Steven malah tertawa. “Bagus. Tapi tetap saja datanglah. Sepuluh menit lagi. Waktumu sudah habis untuk berpikir.”“Steven—”Tut. Panggilan berakhir begitu saja.Liora menatap ponselnya seperti ingin melemparkannya ke luar jendela.Chelsea bersandar ke kursi, memasang ekspresi terkejut dramatis. “Siapa yang telepon?”“Siapa lagi? Steven,” desah Liora. “Entah kenapa dia menelpon. Kita baru bertemu satu jam lalu. Apa dia pikir aku stafnya?”Chelsea terlihat seperti menerima wahyu. “Ini … kesempatan emas, Liora.”“Untuk apa? Menamparnya pakai hanger baju?”“Untuk bikin Steven jatuh cinta!” Chelsea memukul meja pelan. “Dengarkan aku. Kau menikah kontrak. Kau punya satu tahun. Ini waktu yang sempurna untuk balas dendam paling elegan.”Liora memutar mata. “Aku tidak butuh Steven jatuh cinta padaku. Aku butuh hidup normal.”Chelsea me
Liora menatap Steven seakan pria itu baru saja menyarankan ide paling gila abad ini. “Kontrak? Kau pikir ini drama Korea, hah!” serunya, suaranya naik satu oktaf.Steven hanya mengangkat alis, sama sekali tak terpengaruh. “Kau juga nonton drama Korea. Aku pernah lihat kau nangis gara-gara episode terakhir—”“Diam!” Liora hampir melempar tas tangannya. “Ini serius!”“Aku juga serius,” jawab Steven tanpa kehilangan ketenangan sedikit pun. “Orang tuaku sudah mengancam. Kau tahu sendiri, ayahku itu seperti CEO perusahaan mafia legal. Sekali dia bilang menikah, itu bukan saran. Itu ultimatum.”Liora menggertakkan gigi. “Dan aku baru saja bertengkar dengan Ayah gara-gara kau!”Steven terkekeh pelan, tanpa rasa bersalah. “Ya … itu memang salahmu sendiri.”“Kenapa kau tenang begitu!” Liora memukul bahu Steven membuatnya menjerit kecil karena ternyata bahu itu masih nyeri dan Steven mengaduh bersamaan.“Aw! Hei! Tangan kananku patah, bukan bahuku. Tapi tetap saja, aku pasien rumah sakit!”Lio
Kini, Steven berada di ruang rawat rumah sakit. Lengan kanannya sudah digips rapi, dibalut putih dari pergelangan sampai mendekati siku. Liora berdiri di sana. Ia tampak gelisah, canggung, dan bersalah meski ia berusaha keras untuk tampak biasa saja.Begitu dokter selesai menjelaskan kondisi Steven, Liora langsung bertanya tanpa bisa menahan diri, suaranya tegang.“Dok … kapan tangannya bisa pulih?”Dokter menatap berkasnya sebentar, lalu menjawab, “Karena tulangnya bergeser cukup parah, kemungkinan pemulihan penuh butuh satu hingga tiga bulan. Dengan catatan, tidak ada gerakan yang memperparah cedera.”Setelah dokter pergi, Liora berdiri agak jauh dari ranjang, menjaga jarak seolah takut mendekat akan memperparah keadaan.“Aku akan membayar semua biaya rumah sakitmu,” katanya datar. “Dan setelah ini … hari ini adalah terakhir kita bertemu.”Steven mendengus. Bukan marah, lebih seperti mengejek. Dengan satu gerakan cepat, ia meraih ponsel Liora dari tangan wanita itu.“Eh—Steven!” Lio
Liora mendorong pintu kafe The Cozy Finch dengan napas tersengal karena terburu-buru.Ia hanya ingin secangkir cappuccino caramel dan duduk manis sebelum bertemu pria yang dijodohkan oleh ayahnya.Namun, begitu ia melangkah mendekati meja yang sudah dipesan, langkahnya mendadak berhenti. Ia membeku. Otaknya seperti tersengat listrik 120 volt.Itu bukan pria asing.Itu Steven Theodore, mantan pacarnya sepuluh tahun yang lalu.Rambut hitam lelaki itu kini lebih pendek, rahangnya lebih tegas, jasnya terlalu rapi, dan … oh, tentu saja. Dia makin tampan. Liora spontan ingin berbalik, pura-pura salah kafe, salah negara, atau salah planet, tetapi suara itu memanggil.“Liora?" Langkah Liora terhenti seketika. "Liora, anak Tuan Smith Luis dari Court Boutique?”Liora terkejut. Ia berbalik perlahan, memasang senyum palsu terbaik yang ia miliki. “Dan … apa kau Steven dari Theodore Technology?”Steven menyandarkan punggungnya, wajahnya kaku, tetapi matanya jelas menunjukkan keterkejutan yang







