Share

Ls 6. Traktir Makan

Author: Ziya_Khan21
last update Last Updated: 2026-01-12 15:22:59

Degup jantung Liora menari kacau. Tidak. Ini tidak boleh terjadi. Kesadarannya kembali, dan Liora langsung mendorong dada Steven dengan kedua tangannya.

“Jangan cari kesempatan!” seru Liora, wajahnya memerah bukan karena malu, tetapi karena marah. “Aku tidak ingin disentuh.”

Steven mundur setengah langkah, alisnya terangkat.

“Aku baru saja menyelamatkanmu dari mencium lantai butikmu sendiri,” katanya dingin.

“Aku tidak peduli! Jangan sentuh aku lagi!” Liora memegang dadanya yang masih berdebar, mencoba menstabilkan napas.

Steven menyilangkan tangan bebasnya ke atas tangan yang digips, tatapannya sinis.

“Kau yakin mau bicara seperti itu padaku?” katanya sambil mencondongkan tubuh sedikit.

“Atau kau ingin mukamu bengkak di hari pernikahan karena jatuh jungkir balik barusan?”

Liora menggertakkan gigi.

“Steven!”

“Apa?” Steven mengangkat bahu acuh. “Aku cuma bilang fakta. Kau nyaris mati gaya, tahu?”

“Keluar,” pinta Liora akhirnya. “Aku mau ganti pakaian.”

“Tidak mau,” jawab Steven singkat, sok santai. “Aku mau lihat dulu, mungkin kau jatuh lagi.”

Liora hampir melempar hanger ke wajahnya. “Keluarr! Aku serius!”

Steven menatapnya lama, lalu tersenyum kecil seperti menikmati seluruh drama ini.

“Baik,” katanya sambil mundur pelan-pelan. “Tapi cepat. Jangan sampai aku harus menyelamatkanmu lagi.”

Ia berbalik dan berjalan menuju pintu, berusaha tetap santai meski langkahnya jelas canggung karena satu tangannya digips. Ketika hampir sampai di depan pintu, ia berhenti dan menoleh sekilas.

“Oh ya,” katanya, “jangan pakai gaun itu untuk hari pernikahan kita.”

Liora terkejut. “Kenapa?”

Steven menatapnya sambil tersenyum miring. “Karena aku tidak mau orang lain juga jatuh cinta waktu kau pakai itu.”

Liora tersedak udara sendiri.

“Steven—!”

Akan tetapi, Steven sudah membuka pintu sedikit, memberi jeda, lalu menambahkan, “Aku tunggu di luar. Jangan lama-lama.”

Pintu tertutup.

Liora memegang wajahnya yang panas. Degup jantungnya semakin kacau.

“Dia benar-benar … gila!”

Ia meremas gaun yang ia pakai, mencoba memusatkan pikiran. Ia membenci cara Steven menggoda. Ia membenci caranya membuat semuanya terasa berat dan ringan sekaligus. Ia membenci bagaimana satu sentuhan saja mampu mengacaukan seluruh sistem tubuhnya.

Dan yang paling ia benci adalah ia takut itu pertanda sesuatu yang lebih dalam sedang bangkit dari masa lalu. Dengan napas panjang, Liora kembali masuk ke ruang fitting.

Liora keluar dari ruang fitting dengan pakaian kerjanya, rambutnya ia cepol asal-asalan karena sudah terlalu lelah untuk peduli. Begitu melihat Steven berdiri di lorong butik, bersandar santai seolah tidak ada masalah, Liora menghela napas panjang, napas ke sekian ratus kali hari itu.

“Kenapa baru muncul sekarang?” tanya Liora ketus sambil melipat tangannya di dada. “Setelah semua pertempuran persiapan pernikahan, WO, catering, dekorasi, daftar tamu, gedung … baru sekarang kau muncul?”

Steven mengangkat alis sambil mengunyah sesuatu entah permen atau ego, keduanya sama-sama keras.

“Aku sibuk,” jawabnya enteng.

“Sibuk apa?”

Steven mengangkat tangan kanannya yang digips.

“Aku kesulitan bekerja, kau tahu. Tanganku begini. Kau tidak tahu betapa tidak enaknya hidup dengan satu tangan? Kau bahkan tidak memperhatikanku hari ini. Aku berharap kau tidak melupakanku.”

Liora memijat pelipisnya. “Aku tidak ingin makan. Aku mau pulang dan tidur.”

Ia mencoba berjalan melewati Steven, tetapi pria itu tiba-tiba menangkap pergelangan tangannya. Tarikannya tidak kasar, tetapi cukup untuk menghentikan langkah Liora.

“Lepas,” desis Liora.

“Tidak.” Steven menatapnya tanpa berkedip. “Kau harus bertanggung jawab.”

“Apa lagi!” Liora hampir menjerit.

“Perutku belum diisi sejak pagi.”

Liora terpaku. “Kau … belum makan?”

“Belum.” Steven mengangguk, wajahnya datar, tetapi suaranya seperti mengajak bertengkar. “Lalu apa kau mau memasakkan sesuatu untukku?”

Liora memelototkan mata, terkejut sekaligus kesal setengah mati.

“Kau pikir aku siapa? Asistenmu?”

Steven bergeming. “Itu sudah jelas. Kau calon istriku.”

“Calon! Belum resmi!” Liora menunjuk dada Steven.

“Calon itu sudah termasuk dalam paket pelayanan,” balas Steven sambil mengangkat alis. “Jika tidak mau masak .…”

Ia melangkah maju. Satu. Dua. Tiga langkah. Hingga Liora terdesak ke dinding. Jarak mereka hanya beberapa jengkal. Liora merasa napasnya tertahan.

“Traktir aku makan,” bisik Steven.

Liora berkedip cepat. “Kau—”

“Tidak usah yang mewah.” Steven menyandarkan tangan kirinya di dinding tepat di samping kepala Liora. Pose itu seperti sengaja dibuat untuk bikin jantung siapa pun ambruk.

“Aku tidak pilih-pilih. Asal aku makan. Ayo, Liora, kasihanilah orang sakit ini.”

“Kau bukan orang sakit,” bantah Liora. “Kau cuma manja!”

“Tentu saja.” Steven tersenyum tipis. “Hanya kepadamu.”

Liora ingin menamparnya lagi, tetapi tangan Steven masih menahan pergelangannya. Ia memutar bola mata hingga hampir jatuh.

“Baik! Baik, aku traktir!”

Steven mengangkat dagu seolah baru memenangkan perang besar. “Bagus. Kau cerdas juga.”

“Lepas tanganku!”

Steven pun melepasnya perlahan.

“Tidak perlu dramatis,” katanya sambil berjalan ke arah pintu boutique. “Ayo, aku lapar sekali. Kalau aku pingsan di jalan, itu salahmu.”

Liora hanya bisa menatap punggung Steven sambil meremas tangannya sendiri, mencoba menenangkan diri.

“Kenapa aku setuju … kenapa?” gumam Liora.

Akan tetapi, ia tetap mengikuti Steven keluar dari butik.

Karena entah kenapa, meski kesal, meski lelah … ia tidak sanggup membiarkannya benar-benar sendirian.

***

Kini mereka berada bukan restoran mewah. Bukan kafe mahal. Namun, minimarket terang yang dinginnya menusuk tulang dari AC yang terlalu semangat bekerja.

Liora duduk di bangku kecil plastik warna biru, sementara Steven duduk di depannya dengan tangan digips, memperhatikan dua cup mie instan yang masih menunggu mengembang, dua sosis goreng, dan dua cup es kopi yang sebenarnya terlalu dingin untuk malam itu.

Steven menatap meja mereka, lalu melihat Liora. Pandangannya kembali tertuju pada mie instan itu. Ia tertawa kecil, pahit, seperti menertawakan hidup sendiri.

“Jujur … aku tidak menyangka kau akan mentraktirku … di sini.”

Liora mendesah sambil membuka tutup cup mie miliknya untuk mengecek.

“Kenapa? Ada masalah?”

Steven mengangkat bahu. “Tidak. Hanya … unik. Aku pikir … setidaknya cafe, atau—”

“Bukankah dulu kau paling suka makan di tempat seperti ini?” sela Liora tanpa berpikir panjang. Begitu kalimat itu keluar, ia menyesalinya.

Steven berhenti. Benar-benar berhenti. Lalu perlahan, bibirnya melengkung menjadi senyum lebar penuh godaan, seperti seseorang yang baru menemukan bukti kejahatan lawannya.

“Jadi …,” ucap Steven sambil mencondongkan tubuh, “kau masih ingat masa pacaran kita?”

Liora langsung menegang. Rahangnya terkunci. Ia ingin menyangkal, tetapi lidahnya menolak bekerja sama. Tanpa jawab, ia memilih memutus topik … dengan kekerasan.

Ia membuka tutup cup mie Steven, mengambil sendok plastik, mengaduk sekenanya, lalu menyendok mie yang bahkan belum mengembang sempurna. Tanpa peringatan, ia menyodorkannya ke mulut Steven.

“Ini, makan. Biar cepat pulang.”

Steven tidak siap. Sendok masuk ke mulutnya.

“Aww! Panas! Liora!! Itu masih mentah!” jerit Steven sambil berusaha meniup lidahnya.

Liora memeluk tangan sendiri agar tidak memukul kepalanya.

“Makanya jangan banyak bicara! Tadi katanya lapar!”

Steven memandangnya dengan lidah menjulur sedikit, matanya melotot seakan baru ditusuk silet.

“Kau … mencoba membunuhku?”

“Kalau aku mau membunuhmu, aku tidak akan pakai mie instan,” jawab Liora datar.

Itu membuat Steven terdiam. Lalu … tertawa pelan. Tidak pahit seperti tadi. Namun … hangat. Liora tidak suka itu. Jantungnya tidak suka itu. Ia pun buru-buru menyibukkan diri dengan mie-nya sendiri, pura-pura fokus.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • NIKAH KONTRAK: Tuan Mantan, JANGAN BAPER!   Ls 6. Traktir Makan

    Degup jantung Liora menari kacau. Tidak. Ini tidak boleh terjadi. Kesadarannya kembali, dan Liora langsung mendorong dada Steven dengan kedua tangannya. “Jangan cari kesempatan!” seru Liora, wajahnya memerah bukan karena malu, tetapi karena marah. “Aku tidak ingin disentuh.” Steven mundur setengah langkah, alisnya terangkat. “Aku baru saja menyelamatkanmu dari mencium lantai butikmu sendiri,” katanya dingin. “Aku tidak peduli! Jangan sentuh aku lagi!” Liora memegang dadanya yang masih berdebar, mencoba menstabilkan napas. Steven menyilangkan tangan bebasnya ke atas tangan yang digips, tatapannya sinis. “Kau yakin mau bicara seperti itu padaku?” katanya sambil mencondongkan tubuh sedikit. “Atau kau ingin mukamu bengkak di hari pernikahan karena jatuh jungkir balik barusan?” Liora menggertakkan gigi. “Steven!” “Apa?” Steven mengangkat bahu acuh. “Aku cuma bilang fakta. Kau nyaris mati gaya, tahu?” “Keluar,” pinta Liora akhirnya. “Aku mau ganti pakaian.” “Tidak mau,” jawab St

  • NIKAH KONTRAK: Tuan Mantan, JANGAN BAPER!   LS 5. Persiapan Pernikahan

    Pagi itu butik Liora sudah ramai bahkan sebelum jam menunjukkan pukul sepuluh. Tumpukan kain baru datang, dua pelanggan meminta penjahitan cepat, dan di sudut lain ponselnya tak berhenti bergetar. Ia menahan napas panjang, menyelipkan pensil di belakang telinga, lalu mengangkat telepon yang sejak tadi berdering."Halo dengan Liora di sini."Suara riang dari wedding organizer langsung terdengar."Pagi, Liora! Ini Maya dari Blossom WO. Kami mau konfirmasi konsep dekor pernikahan. Apa yang akan anda pilih? Mau tema putih-emas, atau dusty blue. Mana yang anda pilih?"Liora memejamkan mata."Saya pilih putih-emas. Apa Steven tidak bilang apa-apa?""Tidak, Nona. Katanya anda yang tentukan. Lalu soal meja tamu, mau pakai rangkaian bunga artificial atau fresh flower?""Fresh flower sekalian. Tapi yang tidak terlalu wangi.""Oke, dicatat. Nanti sore saya kirimkan moodboard finalnya."Telepon ditutup. Dua detik kemudian ponselnya kembali bergetar.Catering.Liora mengangkat lagi sambil merapika

  • NIKAH KONTRAK: Tuan Mantan, JANGAN BAPER!   LS 4. Perjanjian Nikah

    “Sayang, aku butuh kau sekarang.”Liora langsung menjauhkan ponselnya dari telinga. “Astaga … aku ingin muntah,” gumamnya keras-keras tanpa filter.Di seberang, Steven malah tertawa. “Bagus. Tapi tetap saja datanglah. Sepuluh menit lagi. Waktumu sudah habis untuk berpikir.”“Steven—”Tut. Panggilan berakhir begitu saja.Liora menatap ponselnya seperti ingin melemparkannya ke luar jendela.Chelsea bersandar ke kursi, memasang ekspresi terkejut dramatis. “Siapa yang telepon?”“Siapa lagi? Steven,” desah Liora. “Entah kenapa dia menelpon. Kita baru bertemu satu jam lalu. Apa dia pikir aku stafnya?”Chelsea terlihat seperti menerima wahyu. “Ini … kesempatan emas, Liora.”“Untuk apa? Menamparnya pakai hanger baju?”“Untuk bikin Steven jatuh cinta!” Chelsea memukul meja pelan. “Dengarkan aku. Kau menikah kontrak. Kau punya satu tahun. Ini waktu yang sempurna untuk balas dendam paling elegan.”Liora memutar mata. “Aku tidak butuh Steven jatuh cinta padaku. Aku butuh hidup normal.”Chelsea me

  • NIKAH KONTRAK: Tuan Mantan, JANGAN BAPER!   LS 3. Tak Ada Pilihan

    Liora menatap Steven seakan pria itu baru saja menyarankan ide paling gila abad ini. “Kontrak? Kau pikir ini drama Korea, hah!” serunya, suaranya naik satu oktaf.Steven hanya mengangkat alis, sama sekali tak terpengaruh. “Kau juga nonton drama Korea. Aku pernah lihat kau nangis gara-gara episode terakhir—”“Diam!” Liora hampir melempar tas tangannya. “Ini serius!”“Aku juga serius,” jawab Steven tanpa kehilangan ketenangan sedikit pun. “Orang tuaku sudah mengancam. Kau tahu sendiri, ayahku itu seperti CEO perusahaan mafia legal. Sekali dia bilang menikah, itu bukan saran. Itu ultimatum.”Liora menggertakkan gigi. “Dan aku baru saja bertengkar dengan Ayah gara-gara kau!”Steven terkekeh pelan, tanpa rasa bersalah. “Ya … itu memang salahmu sendiri.”“Kenapa kau tenang begitu!” Liora memukul bahu Steven membuatnya menjerit kecil karena ternyata bahu itu masih nyeri dan Steven mengaduh bersamaan.“Aw! Hei! Tangan kananku patah, bukan bahuku. Tapi tetap saja, aku pasien rumah sakit!”Lio

  • NIKAH KONTRAK: Tuan Mantan, JANGAN BAPER!   LS 2. Mendadak Dilamar

    Kini, Steven berada di ruang rawat rumah sakit. Lengan kanannya sudah digips rapi, dibalut putih dari pergelangan sampai mendekati siku. Liora berdiri di sana. Ia tampak gelisah, canggung, dan bersalah meski ia berusaha keras untuk tampak biasa saja.Begitu dokter selesai menjelaskan kondisi Steven, Liora langsung bertanya tanpa bisa menahan diri, suaranya tegang.“Dok … kapan tangannya bisa pulih?”Dokter menatap berkasnya sebentar, lalu menjawab, “Karena tulangnya bergeser cukup parah, kemungkinan pemulihan penuh butuh satu hingga tiga bulan. Dengan catatan, tidak ada gerakan yang memperparah cedera.”Setelah dokter pergi, Liora berdiri agak jauh dari ranjang, menjaga jarak seolah takut mendekat akan memperparah keadaan.“Aku akan membayar semua biaya rumah sakitmu,” katanya datar. “Dan setelah ini … hari ini adalah terakhir kita bertemu.”Steven mendengus. Bukan marah, lebih seperti mengejek. Dengan satu gerakan cepat, ia meraih ponsel Liora dari tangan wanita itu.“Eh—Steven!” Lio

  • NIKAH KONTRAK: Tuan Mantan, JANGAN BAPER!   LS 1. Tak Terduga

    Liora mendorong pintu kafe The Cozy Finch dengan napas tersengal karena terburu-buru.Ia hanya ingin secangkir cappuccino caramel dan duduk manis sebelum bertemu pria yang dijodohkan oleh ayahnya.Namun, begitu ia melangkah mendekati meja yang sudah dipesan, langkahnya mendadak berhenti. Ia membeku. Otaknya seperti tersengat listrik 120 volt.Itu bukan pria asing.Itu Steven Theodore, mantan pacarnya sepuluh tahun yang lalu.Rambut hitam lelaki itu kini lebih pendek, rahangnya lebih tegas, jasnya terlalu rapi, dan … oh, tentu saja. Dia makin tampan. Liora spontan ingin berbalik, pura-pura salah kafe, salah negara, atau salah planet, tetapi suara itu memanggil.“Liora?" Langkah Liora terhenti seketika. "Liora, anak Tuan Smith Luis dari Court Boutique?”Liora terkejut. Ia berbalik perlahan, memasang senyum palsu terbaik yang ia miliki. “Dan … apa kau Steven dari Theodore Technology?”Steven menyandarkan punggungnya, wajahnya kaku, tetapi matanya jelas menunjukkan keterkejutan yang

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status