MasukDegup jantung Liora menari kacau. Tidak. Ini tidak boleh terjadi. Kesadarannya kembali, dan Liora langsung mendorong dada Steven dengan kedua tangannya.
“Jangan cari kesempatan!” seru Liora, wajahnya memerah bukan karena malu, tetapi karena marah. “Aku tidak ingin disentuh.” Steven mundur setengah langkah, alisnya terangkat. “Aku baru saja menyelamatkanmu dari mencium lantai butikmu sendiri,” katanya dingin. “Aku tidak peduli! Jangan sentuh aku lagi!” Liora memegang dadanya yang masih berdebar, mencoba menstabilkan napas. Steven menyilangkan tangan bebasnya ke atas tangan yang digips, tatapannya sinis. “Kau yakin mau bicara seperti itu padaku?” katanya sambil mencondongkan tubuh sedikit. “Atau kau ingin mukamu bengkak di hari pernikahan karena jatuh jungkir balik barusan?” Liora menggertakkan gigi. “Steven!” “Apa?” Steven mengangkat bahu acuh. “Aku cuma bilang fakta. Kau nyaris mati gaya, tahu?” “Keluar,” pinta Liora akhirnya. “Aku mau ganti pakaian.” “Tidak mau,” jawab Steven singkat, sok santai. “Aku mau lihat dulu, mungkin kau jatuh lagi.” Liora hampir melempar hanger ke wajahnya. “Keluarr! Aku serius!” Steven menatapnya lama, lalu tersenyum kecil seperti menikmati seluruh drama ini. “Baik,” katanya sambil mundur pelan-pelan. “Tapi cepat. Jangan sampai aku harus menyelamatkanmu lagi.” Ia berbalik dan berjalan menuju pintu, berusaha tetap santai meski langkahnya jelas canggung karena satu tangannya digips. Ketika hampir sampai di depan pintu, ia berhenti dan menoleh sekilas. “Oh ya,” katanya, “jangan pakai gaun itu untuk hari pernikahan kita.” Liora terkejut. “Kenapa?” Steven menatapnya sambil tersenyum miring. “Karena aku tidak mau orang lain juga jatuh cinta waktu kau pakai itu.” Liora tersedak udara sendiri. “Steven—!” Akan tetapi, Steven sudah membuka pintu sedikit, memberi jeda, lalu menambahkan, “Aku tunggu di luar. Jangan lama-lama.” Pintu tertutup. Liora memegang wajahnya yang panas. Degup jantungnya semakin kacau. “Dia benar-benar … gila!” Ia meremas gaun yang ia pakai, mencoba memusatkan pikiran. Ia membenci cara Steven menggoda. Ia membenci caranya membuat semuanya terasa berat dan ringan sekaligus. Ia membenci bagaimana satu sentuhan saja mampu mengacaukan seluruh sistem tubuhnya. Dan yang paling ia benci adalah ia takut itu pertanda sesuatu yang lebih dalam sedang bangkit dari masa lalu. Dengan napas panjang, Liora kembali masuk ke ruang fitting. Liora keluar dari ruang fitting dengan pakaian kerjanya, rambutnya ia cepol asal-asalan karena sudah terlalu lelah untuk peduli. Begitu melihat Steven berdiri di lorong butik, bersandar santai seolah tidak ada masalah, Liora menghela napas panjang, napas ke sekian ratus kali hari itu. “Kenapa baru muncul sekarang?” tanya Liora ketus sambil melipat tangannya di dada. “Setelah semua pertempuran persiapan pernikahan, WO, catering, dekorasi, daftar tamu, gedung … baru sekarang kau muncul?” Steven mengangkat alis sambil mengunyah sesuatu entah permen atau ego, keduanya sama-sama keras. “Aku sibuk,” jawabnya enteng. “Sibuk apa?” Steven mengangkat tangan kanannya yang digips. “Aku kesulitan bekerja, kau tahu. Tanganku begini. Kau tidak tahu betapa tidak enaknya hidup dengan satu tangan? Kau bahkan tidak memperhatikanku hari ini. Aku berharap kau tidak melupakanku.” Liora memijat pelipisnya. “Aku tidak ingin makan. Aku mau pulang dan tidur.” Ia mencoba berjalan melewati Steven, tetapi pria itu tiba-tiba menangkap pergelangan tangannya. Tarikannya tidak kasar, tetapi cukup untuk menghentikan langkah Liora. “Lepas,” desis Liora. “Tidak.” Steven menatapnya tanpa berkedip. “Kau harus bertanggung jawab.” “Apa lagi!” Liora hampir menjerit. “Perutku belum diisi sejak pagi.” Liora terpaku. “Kau … belum makan?” “Belum.” Steven mengangguk, wajahnya datar, tetapi suaranya seperti mengajak bertengkar. “Lalu apa kau mau memasakkan sesuatu untukku?” Liora memelototkan mata, terkejut sekaligus kesal setengah mati. “Kau pikir aku siapa? Asistenmu?” Steven bergeming. “Itu sudah jelas. Kau calon istriku.” “Calon! Belum resmi!” Liora menunjuk dada Steven. “Calon itu sudah termasuk dalam paket pelayanan,” balas Steven sambil mengangkat alis. “Jika tidak mau masak .…” Ia melangkah maju. Satu. Dua. Tiga langkah. Hingga Liora terdesak ke dinding. Jarak mereka hanya beberapa jengkal. Liora merasa napasnya tertahan. “Traktir aku makan,” bisik Steven. Liora berkedip cepat. “Kau—” “Tidak usah yang mewah.” Steven menyandarkan tangan kirinya di dinding tepat di samping kepala Liora. Pose itu seperti sengaja dibuat untuk bikin jantung siapa pun ambruk. “Aku tidak pilih-pilih. Asal aku makan. Ayo, Liora, kasihanilah orang sakit ini.” “Kau bukan orang sakit,” bantah Liora. “Kau cuma manja!” “Tentu saja.” Steven tersenyum tipis. “Hanya kepadamu.” Liora ingin menamparnya lagi, tetapi tangan Steven masih menahan pergelangannya. Ia memutar bola mata hingga hampir jatuh. “Baik! Baik, aku traktir!” Steven mengangkat dagu seolah baru memenangkan perang besar. “Bagus. Kau cerdas juga.” “Lepas tanganku!” Steven pun melepasnya perlahan. “Tidak perlu dramatis,” katanya sambil berjalan ke arah pintu boutique. “Ayo, aku lapar sekali. Kalau aku pingsan di jalan, itu salahmu.” Liora hanya bisa menatap punggung Steven sambil meremas tangannya sendiri, mencoba menenangkan diri. “Kenapa aku setuju … kenapa?” gumam Liora. Akan tetapi, ia tetap mengikuti Steven keluar dari butik. Karena entah kenapa, meski kesal, meski lelah … ia tidak sanggup membiarkannya benar-benar sendirian. *** Kini mereka berada bukan restoran mewah. Bukan kafe mahal. Namun, minimarket terang yang dinginnya menusuk tulang dari AC yang terlalu semangat bekerja. Liora duduk di bangku kecil plastik warna biru, sementara Steven duduk di depannya dengan tangan digips, memperhatikan dua cup mie instan yang masih menunggu mengembang, dua sosis goreng, dan dua cup es kopi yang sebenarnya terlalu dingin untuk malam itu. Steven menatap meja mereka, lalu melihat Liora. Pandangannya kembali tertuju pada mie instan itu. Ia tertawa kecil, pahit, seperti menertawakan hidup sendiri. “Jujur … aku tidak menyangka kau akan mentraktirku … di sini.” Liora mendesah sambil membuka tutup cup mie miliknya untuk mengecek. “Kenapa? Ada masalah?” Steven mengangkat bahu. “Tidak. Hanya … unik. Aku pikir … setidaknya cafe, atau—” “Bukankah dulu kau paling suka makan di tempat seperti ini?” sela Liora tanpa berpikir panjang. Begitu kalimat itu keluar, ia menyesalinya. Steven berhenti. Benar-benar berhenti. Lalu perlahan, bibirnya melengkung menjadi senyum lebar penuh godaan, seperti seseorang yang baru menemukan bukti kejahatan lawannya. “Jadi …,” ucap Steven sambil mencondongkan tubuh, “kau masih ingat masa pacaran kita?” Liora langsung menegang. Rahangnya terkunci. Ia ingin menyangkal, tetapi lidahnya menolak bekerja sama. Tanpa jawab, ia memilih memutus topik … dengan kekerasan. Ia membuka tutup cup mie Steven, mengambil sendok plastik, mengaduk sekenanya, lalu menyendok mie yang bahkan belum mengembang sempurna. Tanpa peringatan, ia menyodorkannya ke mulut Steven. “Ini, makan. Biar cepat pulang.” Steven tidak siap. Sendok masuk ke mulutnya. “Aww! Panas! Liora!! Itu masih mentah!” jerit Steven sambil berusaha meniup lidahnya. Liora memeluk tangan sendiri agar tidak memukul kepalanya. “Makanya jangan banyak bicara! Tadi katanya lapar!” Steven memandangnya dengan lidah menjulur sedikit, matanya melotot seakan baru ditusuk silet. “Kau … mencoba membunuhku?” “Kalau aku mau membunuhmu, aku tidak akan pakai mie instan,” jawab Liora datar. Itu membuat Steven terdiam. Lalu … tertawa pelan. Tidak pahit seperti tadi. Namun … hangat. Liora tidak suka itu. Jantungnya tidak suka itu. Ia pun buru-buru menyibukkan diri dengan mie-nya sendiri, pura-pura fokus.Suasana meja itu kembali berat.Liora menunduk, mencoba meredakan detak jantungnya sendiri. Ia tidak mau terlihat goyah.“Jadi,” ia menatap Julian kembali, “itu alasanmu memperkenalkanku pada Jessica?”Julian mengangkat alis. “Jessica?”“Ya. Kau tiba-tiba membuatku bertemu dengan Jessica. Semua terasa seperti… sudah diatur.”Julian tertawa kecil. “Tidak sengaja.”Liora menatapnya curiga.“Hanya kebetulan Jessica tertarik pada gaunmu,” lanjut Julian. “Aku tidak merencanakan apa pun. Aku hanya membuka pintu. Kau sendiri yang masuk dan membuat mereka terkesan.”Liora terdiam. Sebagian dirinya ingin percaya bahwa semuanya memang kebetulan. Bahwa Julian hanya membantu karena ia peduli.Namun sebagian kecil lainnya bertanya… apakah benar hanya itu?“Julian,” ucapnya akhirnya, “aku tidak ingin hidupku dipenuhi kecurigaan.”“Aku tidak bermaksud membuatmu curiga.”“Tapi kau m
Liora tersenyum tipis, tapi ada getir di sana. “Saat itu kami masih muda. Ego lebih besar dari komunikasi. Hal sepele bisa terlihat seperti pengkhianatan.”Julian memperhatikannya dalam diam.“Kami tidak pernah bertemu lagi selama sepuluh tahun,” lanjut Liora pelan. “Hidup berjalan sendiri-sendiri. Aku membangun butik. Dia mengembangkan bisnisnya. Kami seperti dua garis yang sempat berpotongan lalu menjauh sangat jauh.”“Dan kemudian?”“Entah takdir sedang bercanda atau memang punya rencana sendiri,” Liora menatap gelas airnya. “Kami bertemu lagi. Dalam situasi yang tidak terduga.”Julian tahu ada bagian cerita yang tidak ia ceritakan sepenuhnya, tapi ia tidak memotong.“Dan akhirnya kau menikah,” simpul Julian pelan.Liora mengangguk. “Ya.”Julian menyilangkan tangan di atas meja. “Bagaimana jika kesalahpahaman itu kembali terjadi?”Pertanyaan itu membuat Liora mengangkat wajahnya perlahan.“O
Beberapa menit kemudian, ia kembali ke kamar tidur dan mulai melepas jasnya. Kancing kemeja bagian atas sudah terbuka ketika bel kamar berbunyi.Ding-dong.Steven berhenti sejenak. “Secepat itu?” pikirnya. Mungkin John sudah mengirimkan makanan.Ia berjalan santai menuju pintu tanpa banyak curiga, membuka kunci, lalu memutar gagang pintu.Begitu pintu terbuka—Sosok yang berdiri di depannya membuat napasnya tertahan.“Amanda?”Tanpa menunggu reaksi lebih lanjut, Amanda melangkah maju dan langsung memeluknya. Tubuhnya menempel erat pada dada bidang Steven. Aroma parfum mahal bercampur dengan bau alkohol yang samar menyengat.“Steven…” bisiknya pelan, wajahnya menempel di dada Steven.Steven terkejut, refleks tangannya terangkat. “Amanda, apa yang kau lakukan?”Ia mencoba menarik tubuh wanita itu menjauh, tetapi Amanda justru semakin melekat, kedua tangannya melingkar di pinggang Steven.
“Berikan yang terbaik padaku.” Mata biru Jessica berbinar. “Kalau kau menciptakan sesuatu yang paling istimewa, aku ingin menjadi orang pertama yang memakainya.”Liora tersenyum perlahan, rasa haru dan bangga bercampur jadi satu.“Aku sangat menyukai semua gaunmu, Liora,” lanjut Jessica tulus. “Dan aku ingin berjalan di atas karpet merah dengan karya yang membuatku merasa tak tergantikan.”Liora menarik napas dalam.“Kalau begitu,” katanya mantap, “aku akan memastikan setiap gaun untukmu bukan hanya indah … tapi tak terlupakan.”***Setelah percakapan itu berakhir dengan senyum dan kesepakatan awal, Liora dan Julian akhirnya berdiri untuk pamit. Jessica kembali menjabat tangan Liora dengan hangat, tatapannya penuh keyakinan.“Aku menunggu karya berikutnya,” ucapnya pelan.Liora mengangguk hormat. “Terima kasih atas kepercayaannya.”Tania kemudian mengantar mereka keluar. Sesampainya di depan lobi utama,
Jessica.Aktris film papan atas yang wajahnya sering menghiasi layar bioskop dan majalah fashion.Rambut hitam panjangnya tergerai lembut, kontras dengan mata birunya yang tajam namun hangat. Bibir kecilnya melengkung membentuk senyum ramah. Tubuhnya tinggi ramping dengan proporsi bak boneka barbie, anggun, hampir terlalu sempurna untuk nyata.“Julian,” sapanya hangat, lalu menoleh pada Liora. “Dan ini pasti Liora.”“Iya,” jawab Julian.Jessica melangkah mendekat dan menjabat tangan Liora tanpa kesan sombong sedikit pun. “Aku sudah melihat beberapa foto gaunmu. Aku tidak sabar melihat langsung.”Sambutan hangat itu sedikit meredakan ketegangan di dada Liora.“Terima kasih sudah memberi kesempatan,” jawab Liora sopan.Mereka duduk sejenak di ruang tamu suite yang luas. Jendela besar memperlihatkan pemandangan kota dari ketinggian. Setelah berbincang ringan tentang proyek film terbaru Jessica dan rencana acara red
Butik Liora kembali ramai.Sejak pagi, pintu kaca itu tak berhenti terbuka dan tertutup. Beberapa klien baru datang dengan antusias, sebagian membawa foto dari ponsel mereka.“Ini gaun yang dipakai Amanda kemarin, kan?” tanya salah satu wanita muda sambil menunjukkan gambar yang sudah beredar di media sosial.Liora tersenyum sopan, meski di dalam hati ia benar-benar bingung.Bagaimana berita itu bisa menyebar secepat ini?Amanda bahkan belum secara resmi tampil di acara besar mana pun dengan gaun tersebut. Namun kabar bahwa model ternama itu mencoba koleksi Liora sudah cukup membuat nama butik kecilnya mendadak diperbincangkan.Beberapa klien bergantian mencoba gaun biru bertumpuk tulle. Ada juga yang langsung meminta melihat gaun putih dengan cape elegan. Bahkan gaun glitter biru yang sebelumnya disebut terlalu seperti putri dongeng kini justru paling banyak diminati.Liora berdiri di tengah ruangan, membantu mengatur j







