LOGIN"Kamu serius mau ikut dia?"
"Aku tidak akan luluh semudah itu. Lagi pula ini kesempatanku membalas."Laiv mengerjap tidak percaya. Ketika Lana berujar akan membalas Aro."Bagaimana caranya?""Aku punya rencana, jangan cemas."Lana duduk sejenak. Menyimpan semua data yang berhasil dipulihkan oleh Laiv. Menyimpannya ke akun cadangan. Jika sewaktu-waktu laptopnya dibanting lagi oleh orang gila."Catat password-nya."Lana mengangguk.<"Di mana dia?"Aro nyaris mencekik Reza ketika bertanya soal Lana. "Berapa kali kubilang. Aku tidak menemukannya di sini. Atau di rumah sakit manapun di kota ini.""Laiv, di mana dia?""Di rumah, makan sama orang tuanya.""Bohong!""Tidak percaya. Datangi saja kediamannya jika nyalimu cukup besar."Aro menelan ludah. Kediaman Indra Wijaya. "Tidak berani?" Sindir Reza telak."Aro, kalau Lana ingin menenangkan diri. Biarkan saja. Bukannya ini bukan kali pertama dia kabur. Tenang saja. Dia pasti pulang, kalau sudah kehabisan uang. Seperti waktu itu."Reza rasanya ingin menenggelamkan April ke lautan. Benar-benar ular betina yang wujud di dunia nyata."Atau, Kakak blokir saja kartunya. Besok dia pasti pulang."Satu lagi perempuan dengan otak miring sebelah. Reza memicing tajam pada dua wanita yang lanjut makan anggur sambil tertawa-tawa.Katanya sakit, tapi Gita tampak
April membekap mulut melihat Laiv baru saja menghantam rahang Aro. Tubuh sang gubernur terhuyung sebelum kembali berdiri tegak."Lana," sebut Aro. Kali ini penuh ketakutan. Penyesalan juga rasa bersalah di waktu bersamaan.Tatapannya tertuju pada brankar Lana yang mulai mendapat perawatan. Oksigen bahkan langsung dipasang. Monitor tanda vital seketika terhubung. Menunjukkan angka kecukupan oksigen yang mulai menurun."Hubungkan ke poli ortopedi. Hubungi juga dokter Jo. Kita harus melakukan pemeriksaan area tengkorak."Mendadak pandangan Aro terblokade sosok Laiv. Wajahnya memerah. Amarahnya siap diledakkan."Minggir! Jangan mendekatinya lagi. Urus saja adik sialan dan wanita licikmu itu.""Dia istriku!" Tanpa ragu Aro menyebut Lana istrinya."Jika kau menganggap dia istrimu setidaknya dia adalah prioritasmu. Dia terluka, tapi kau pilih adikmu yang pura-pura pingsan.""Gita pingsan betulan. Tidak pura-p
Dagu Aro terangkat ketika tangan Lana kembali bersiap menyerang."Ingat."Satu kata cukup untuk membuat Lana menurunkan lagi tangannya."Makanlah. Lalu turun, minta maaf.""Kenapa aku harus minta maaf?""Hasil lab-nya sudah keluar."Alis Lana menukik tajam. Netra beningnya memicing pada sang suami."Jangan bilang hasil lab-nya dimanipulasi. Atau kamu sedang menutupi kesalahan orang. Lantas menjadikanku tumbal."Aro diam. Dan itu cukup jadi jawaban untuk Lana. Dia abaikan sakit yang mendera area pribadinya ketika keluar dari kamar Aro.Kemarahan Lana tak main-main. Dia bergerak menuju tangga di mana dua orang menyeringai melihatnya.April dan Gita tersenyum satu sama lain."Mau ke mana kau bisu?!" Tatapan tajam Lana membuat April menggertakkan gigi. Namun bukan itu yang menyebabkan amarah April meledak.April melihat bekas kemerahan di leher dan dada Lana. Sebagai orang yang kerap bercinta. April tahu benar apa itu. Kissmark.Apa Aro dan Lana sudah tidur bersama? Pertanyaan itu memba
Netra bening Lana berkedip cepat. Minta maaf? Pada apa yang Lana yakini tidak pernah ia lakukan."Kalau saya tidak mau?" Tantang Lana."Jangan mempersulit dirimu. Aku lakukan ini demi kebaikanmu."Tawa Lana menguar. "Kebaikan saya dari sisi mana. Tuan tahu maknanya jika saya minta maaf.""Minta maaf tidak akan menurunkan harga dirimu.""Memang tidak. Mengalah bukan berarti kalah. Jika saya minta maaf. Artinya saya mengakui. Kalau keracunan ini adalah kesalahan saya.""Apa Tuan bisa pastikan kalau saya memang bersalah dalam hal ini.""Lana!" Suara rendah Aro membuat Lana berjingkat. "Jangan mengintimidasi saya. Saya tidak takut!"Dagu gadis itu terangkat. Aro menggeram. Lana benar-benar sulit ditundukkan. Tentu saja, Lana bukan April yang mengiyakan semua perkataan Aro. Asal pria itu senang. April akan lakukan apapun. Tapi Lana. Sejak awal, gadis itu memang selalu memberontak. Terutama padanya."Jangan memancingku!"Detik setelahnya Aro sudah mencekal rahang cantik Lana. Emosi Aro
Lana meringis menyentuh pipinya yang memerah. Bekas tamparan Gita masih ada. Jangan anggap sepele. Sakitnya belum hilang. Tapi yang lebih parah terjadi di dalam sana."Aku akan lihat kamu hancur, Nagita Pratama."Satu sumpah tanpa sadar terucap dari bibir Lana. Dalam hidupnya sebagian besar derita berasal dari Gita. Luka fisik, cacian, makian, hinaan. Semua pernah Gita lakukan.Walau terlihat tenang saat berhadapan dengan Gita. Lana sejatinya menyimpan benci begitu dalam.Meski begitu satu dua kali nuraninya masih terketuk. Lana hanya manusia biasa. Ada kalanya dia membenci seseorang sampai ke tulang. Di lain waktu, dia masih berpikir bagaimana menolong orang itu."Mbak gak apa-apa?"Lana menggeleng ketika Mega menghampiri.Mega berlalu pergi. Berganti Laiv yang datang. Pria itu mengerutkan dahi melihat pipi Lana marah."Katakan padaku. Jika ada yang menyakitimu. Aku tidak akan berkompromi dengan orang itu.""Jangan, bisa mati dia kalau kamu yang balas dendam.""Sudah bisa kuduga siap
"Hei, kau! Bisu! Enak sekali jam segini baru bangun!"Hardikan Gita hanya dianggap angin lalu oleh Lana. Gadis itu berlalu ke dapur. Kedatangannya sontak membuat area itu hening seketika.Semua staf pilih mundur. Sebagian langsung pucat wajahnya. Sadar jika Lana yang sekarang bukan Lana yang dulu.Lana yang kini menuang air hangat jelas sudah mendapat dukungan penuh dari tuan mereka. Lana yang dulu selalu mereka tindas dan remehkan sudah tidak ada lagi.Yang ada seorang gadis dengan status nyonya Pratama yang tidak bisa mereka usik sembarangan.Salah-salah mereka yang bakal kena pecat. Seperti Murni hari itu. Padahal mereka tahu kalau yang salah adalah Kristin. Sosok yang selama sok iya jadi perpanjangan tangan April.Perempuan yang mengaku sebagai calon nyonya Pratama. Faktanya justru gelar tersebut digenggam oleh Lana. "Kau pikir sudah hebat? Merasa menang setelah mendapatkan gelar nyonya Pratama. Dengar ya, jadi istri kakakku bukan berarti kau bisa mengendalikan rumah ini."Lana h







