LOGIN"Kamu serius mau ikut dia?"
"Aku tidak akan luluh semudah itu. Lagi pula ini kesempatanku membalas."Laiv mengerjap tidak percaya. Ketika Lana berujar akan membalas Aro."Bagaimana caranya?""Aku punya rencana, jangan cemas."Lana duduk sejenak. Menyimpan semua data yang berhasil dipulihkan oleh Laiv. Menyimpannya ke akun cadangan. Jika sewaktu-waktu laptopnya dibanting lagi oleh orang gila."Catat password-nya."Lana mengangguk.<Kepalanya terbentur. Jahit tiga. Tapi bukan itu bagian buruknya." Semua orang terdiam menunggu Reza kembali bicara. Mereka ada di ruangan Anwar. Setelah drama sidang Arman melukai putrinya sendiri. Bahkan Kristin juga sempat kena dorong ketika Arman ingin melarikan diri. "Benturan di perut April sangat keras. Hingga melukai rahimnya." Lana terkesiap. "Saat ini operasi masih berlangsung. Mereka coba ... "memperbaiki" benda itu." Reza sampai kesulitan menemukan kata yang tepat untuk melukiskan keadaan April. "Emang kamu pikir benda itu mobil. Kata mereka area itu kekuasaan Tuhan. Apapun yang terjadi di sana atas kehendak-Nya," timpal Arya sambil menatap ponselnya. Pria itu lantas menoleh pada sang putri. "Kamu kapan mau memberi papa cucu?" Lana tersedak. "Papa jangan aneh-aneh deh," protes Lana sambil melirik sang suami. "Aku sih tinggal tunggu komando. Kapan aja aku siap," balas sang gubernur sambil menaikkan alis. "Secepatnya kalau begitu. Biar rumahku rame," timpal Arya.
"Duduk di sini saja."Lana mengangguk. Ia dan Aro juga sejumlah keluarga turut menghadiri sidang. Kesempatan kali ini akan jadi akhir dari perjalanan sidang sebelumnya yang berlangsung hampir 3 bulan.Satu rangkaian usaha yang menguras tenaga dan pikiran. Aro dan tim pengacara yang dipimpin Anwar melakukan semua yang mereka mampu, untuk menyeret Arman dan Kristin ke fase akhir dari kejahatan mereka.Pesan Aro hanya satu. "Usahakan mereka dapat hukuman paling berat. Mereka harus dihukum setimpal atas semua kejahatan yang telah mereka lakukan."Anwar dan tim berusaha keras untuk hal itu. Segala upaya mereka selama itu akan dilihat hasilnya hari ini.Ketika Arman dan Kristin dibawa masuk. Tangan Lana terkepal. Ia kian yakin jika sosok yang dilihatnya hari itu memang Arman dan Kristin."Tenang saja. Dia tidak bisa melukaimu lagi."Aro menggenggam tangan Lana. Di sampingnya ada Arya. Di depannya duduk keluarga Laiv. Perimeter pertama untuk melindungi Lana. Di belakang Lana, ada Arash, Rad
"Lana adalah anak kandung Ratna Wijayanti."Kenyataan itu menghantam April begitu dahsyat. "Kalian ditukar oleh papamu, Arman. Ketika kalian baru lahir. Bukti masih terus dikumpulkan. Tapi dugaan sementara seperti itu."Tangis April pecah kala teringat perkataan Edwin. Ia dan Lana ditukar. Lana dibuang ke panti asuhannya. Sedang ia hidup enak sampai beberapa waktu lalu.Perih tidak terlihat menghunjam April. Hatinya seperti dicabik-cabik oleh fakta paling menyakitkan. Paling pahit yang pernah ia dengar dalam hidupnya.Jadi hidup nyaman, berkecukupan yang ia peroleh 25 tahun terakhir aslinya milik Lana. April merebutnya melalui tangan Arman. April nikmati hidup enak, sedang Lana harus berjuang bertahan hidup di panti asuhan. Lebih parahnya lagi, waktu mereka bertemu. April selalu membuli Lana, menyiksanya. Menyebutnya bisu. Belakangan ia baru tahu jika Lana bisu karena trauma setelah menjadi saksi kunci pembunuhan orang tua Aro.Kasus yang kemudian April ketahui melibatkan Arman dan
"Kenapa Tuan Gubernur yang terhormat ingin menemui saya?"Edwin, lelaki itu lumayan terkejut waktu dihubungi oleh Reza. Asisten Aro meminta Edwin untuk menemui sang tuan.Pria itu sempat berpikir, ada masalah apa hingga Aro ingin menemuinya. Karena penasaran, lelaki tersebut iyakan saja permintaan sang gubernur. Jarang-jarang seorang Aro sudi menemui rakyat biasa sepertinya. Hingga di sinilah mereka berada. Di sebuah ruangan yang hanya ada mereka berdua."Ini soal April."Edwin menegang ketika nama April disinggung. "Kamu tahu dia ditangkap?"Mata Edwin memicing. "Anda yang mengaturnya?" tanya Edwin curiga.Satu berkas didorong ke hadapan Edwin. Pria dengan kemeja biru tersebut meraihnya, lantas membacanya.Melihat ekspresi Edwin, Aro tersenyum tipis. "Kamu tahu semua kejahatan yang dia lakukan. Tapi kamu malah membelanya.""Dia itu korban ayahnya. Arman selalu memaksanya. Bahkan ketika berhubungan dengan Anda! Dia sama sekali tidak suka dipaksa.""Tapi waktu denganku, dia menyukain
"Lana, tunggu dulu. Jangan ngambek."Aro menghadang langkah Lana dan Wiliam."Minggir sana!" perintah Aro pada sang bodyguard."Gak, kamu di sini saja."Wiliam benar-benar puyeng menghadapi pasutri absurd di depannya. Pria itu mengangkat dua tangannya. Ia harus mematuhi siapa."Lana, aku suamimu.""Sadar status masih suami. Tapi sudah niat cari istri baru.""Mana ada.""La itu tadi."Aro terdiam. Coba mengingat. Hingga, ia nyengir lebar. "Cuma bercanda. Aku hanya menanggapi ucapan mereka."Lana memutar bola matanya jengah. "Cuma bercanda. Tapi dalam hati, niat ingsun, siapa tahu terkabul.""Niat ingsun itu apa?"Aro dan Lana kompak menoleh ke Wiliam. Agaknya pasutri itu lupa jika masih ada bodyguard bule di antara mereka."Eh, kamu diam aja," Aro memperingatkan."Kepo," sambar Wiliam spontan."Sudah kenal kepo segala kamu."Lana keluar dari pintu kaca. Diikuti Aro dan Wiliam di belakangnya."Saya sudah lama kerja bareng Tuan Mahardika. Lumayan hafal bahasa gaul negara ini. Nyonya ikut
Seisi ruangan mendadak hening. Ada momen di mana Aro dan Lana saling pandang. Saling menaikkan alis. Seolah minta konfirmasi tanpa kata. Wiliam dan Lana siap adu mulut. Ketika Gita lebih dulu maju. "Kau? Tidur dengan kakakku? Di mana? Kapan?"Gita mode preman memang bisa membuat nyali siapapun ciut. Termasuk wanita tadi."Siapa namanya?"Gita menoleh pada Aro. Pria itu mengedikkan bahu."Gak tahu, baru ketemu tadi."Si wanita pucat pasi. Lana mati-matian menahan tawa."Ah, Tuan tidak asyik. Diajak main tidak paham."Wanita tadi terkejut mendengar Lana ternyata bisa bicara. Ia pikir wanita itu benar-benar bisu seperti rumor yang beredar. "Main apa? Kalau mau main jangan di sini. Pulang atau ke hotel sebelah." Lana melempar paper bag berisi tas yang baru dia beli ke arah Aro. Lelaki yang dengan sigap menangkapnya. "Kamu temani mereka beli ini?" Aro bertanya ketika ia melirik isi paper bag.Wiliam mengangguk. "Berapa lama?"Si pria bule menunjukkan tiga jarinya."Busyet, dan kamu se







