LOGINAng boyfriend ko ay forensic doctor. Nakidnap ako at may nakadikit na bomba—meron na lamang sampung minuto bago sumabog. Ang mga nagkidnap sa akin ay pinilit na tawagan ko ang boyfriend ko, pero napagalitan lamang ako. “Ano bang kailangan mo, Michelle? Anong pinaplano mo, ginagamit ang buhay mo bilang palusot dahil lang nagseselos ka?” “Ang pusa ni Vi ay hindi makuha mula sa puno ng tatlong araw na. Mahal niya ito na parang ang buhay nito ay buhay niya! Kung idedelay mo ako sa pagligtas dito, magiging mamamatay tao ka!” Nakarinig ako ng malanding boses sa kabilang dulo ng tawag. “Salamat para dito, Kev. Ang husay mo!” Nakilala ko ang boses na iyon—pagmamay ari ito ng childhood friend ng boyfriend ko. Tinext ko ang boyfriend ko ng sasabog na ang bomba. “Paalam habang buhay. Pinagdadasal ko na hindi na tayo magkita pang muli sa ibang buhay.”
View More"Maaf, Anda tidak lolos. Silahkan keluar."
Sebuah kalimat yang mulai akrab dengan Kalla, tapi ternyata masih saja terdengar menyakitkan. Gadis 23 tahun itu membuang napas kasar, sambil melempar tatapan sebal sebelum berjalan keluar dari ruangan interview dengan perasaan luar biasa dongkol.
Kalla menarik napas panjang dan menguatkan diri sekali lagi ketika ingat ucapan CEO perusahaan yang baru saja meng-interview-nya. Begitu blak-blakan dan menyentil hingga dia tidak bisa lagi menahan emosi.
"Memang dia pikir dirinya siapa? Jangan mentang-mentang CEO jadi seenaknya ngatain orang. Hah!"
Gadis itu melamar sebagai sekretaris CEO, menyesuaikan bidang perkuliahannya yang lulus satu tahun lalu. Baginya bisa sampai ke tahap interview adalah hal yang membanggakan di perusahaan besar sekelas Ganesha Group.
Terlebih ketika melihat tampang CEO-nya secara langsung begitu masuk ruang interview. Dia jadi tahu definisi tampan yang sesungguhnya. Nyaris semua kesempurnaan ada pada pria dengan potongan rambut curly back side, tapi agak panjang itu.
Kalla tidak menyangka jika CEO Ganesha Group jenis CEO wanna be yang sering dia lihat di dracin-dracin pendek kesukaannya. Seketika kepalanya berimajinasi liar, mengundang kikikan kecil tak tahu malu.
Mata Kalla sampai tak berkedip saat melihat pria itu melempar senyum tipis padanya. Dadanya pun tanpa bisa dicegah langsung berdebar kencang. Bahkan dia sempat terserang grogi ketika dua interviewer lain menanyainya, sebelum akhirnya CEO tampan itu mengeluarkan suara yang mematikan.
"Saya tidak butuh sekretaris fresh graduated non experience. Yang bahkan pengalaman berorganisasi pun tidak ada. Saya butuh fresh graduated cerdas dan cekatan, bukan fresh graduated yang berotak kosong dan manja seperti saudari."
Padat, jelas, dan nyelekit.
Pangkal alis Kalla kontan menyatu mendengar ucapan bernada sinis itu. Senyum yang dia kembangkan sejak masuk ruang interview perlahan raib.
Dia tidak percaya ada manusia bertampang malaikat tapi mulutnya pedas seperti setan. Otak kosong dan manja, pria itu bilang? Hah!
Darimana pria itu bisa menyimpulkan seperti itu hanya dengan interview singkat begini?
Selama ikut beberapa wawancara kerja, baru kali ini Kalla mendapat hinaan secara langsung seperti ini. Hatinya jelas tidak terima.
Persetan dengan muka tampan dan pekerjaan! Dia mendongak, menatap lurus wajah malaikat iblis itu. Lalu, ucapan yang seharusnya tidak terlontar pun meluncur dari mulutnya.
"Mungkin saya berotak kosong, tapi setidaknya saya punya attitude dan manner yang bahkan seorang CEO seperti Anda tidak punya."
Kalla puas ketika melihat wajah tampan itu berubah kecut. Pria itu pasti tidak menyangka bahwa gadis cukup punya nyali untuk menyerang balik.
"Saya memang butuh kerjaan. Tapi sepertinya saya terlalu berharga untuk menjadi sekretaris CEO akhlakless seperti Anda," lanjut Kalla lantang tanpa peduli resiko yang akan dia dapat. Toh sudah pasti dirinya tidak lolos.
Wajah para interviewer di depannya terlihat syok. Sementara CEO arogan itu tampak merah padam. Lantas kalimat penolakan atas dirinya pun meluncur.
It's OK! Everything's gonna be OK!
Kalla menarik napas panjang, lalu berjalan dengan langkah tegar keluar dari gedung jangkung itu. Dia tidak mau terlihat lemah dan ingin mereka tahu bahwa pekerjaan bukan hanya ada di Ganesha.
Namun ketika jaraknya makin jauh dari gedung itu, ketegaran itu pun perlahan menghilang. Wajah Kalla berubah lusuh dan kehilangan semangat. Dia berjalan dengan bahu meluruh. Sejak hari ini, total sudah ada 20 perusahaan—dari yang bergengsi hingga biasa saja—menolak dirinya.
Sampai Kalla bingung sendiri, sebenarnya apa yang ada pada dirinya? Kenapa bisa memiliki nasib sesial ini?
Perlukah dia mandi kembang tujuh rupa untuk buang sial? Sejak dirinya lulus setahun lalu belum ada satu pun lamarannya yang sukses menembus salah satu perusahaan. Mentok sampai interview saja.
Kalla makin nelangsa saat teringat ibunya. Ibu punya harapan besar padanya, tapi dia selalu mengecewakan. Kalla malu di usia dewasa begini masih saja menjadi beban keluarga.
Masih berada di area yang dikelilingi gedung apartemen dan perkantoran, Kalla menyeret langkah menuju sebuah taman bermain anak yang jadi salah satu fasilitas dari kawasan elit kota ini.
Taman itu sedang sepi dan dia memutuskan duduk di salah satu ayunan yang ada di sana.
Sambil memikirkan langkah selanjutnya, dia mengemut lolipop cokelat yang senantiasa ada di dalam tas.
Kepalanya dia sandarkan di tali ayunan seraya bergoyang pelan. Meski masih ada sedikit tersisa rasa kesal pada CEO sialan itu, hidup tetap harus berjalan kan?
PLUK!
Sebuah bola yang datang entah dari mana mengenai kakinya lalu berhenti tepat di bawahnya. Kalla berhenti berayun dan mengambil bola warna-warni itu. Tatapnya lantas bergulir guna mencari pemilik bola tersebut. Dan tidak jauh dari tempatnya dia melihat seorang anak laki-laki berusia sekitar tiga atau empat tahunan tengah memandanginya.
Anak laki-laki bermata bulat dengan pipi kemerahan yang menggemaskan. Kulitnya putih dan rambutnya tebal. Baru seupil saja garis ketampanannya sudah kelihatan. Dia benar-benar lucu.
"Halo," sapa Kalla memasang wajah ceria. "Ini bola kamu?" tanyanya tersenyum.
Anak itu terus memandanginya selama beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk.
Kalla mengacungkan bola itu padanya. "Ini ambil," katanya ramah berusaha tidak membuat anak itu takut. Karena sepertinya anak itu sedang bersikap waspada.
Melihat tidak ada reaksi dari anak tersebut, Kalla celingukan, mencari keberadaan seseorang. Bisa saja anak itu datang bersama orang tuanya. Namun, matanya yang mengedar tidak menemukan siapa pun selain dirinya dan anak itu.
Kalla kembali tersenyum. "Kamu sendiri?"
Anak itu kembali mengangguk tapi masih berdiri di tempat sambil memandangi Kalla.
"Mama sama papa kamu mana?"
Kali ini anak itu menggeleng. Sama sekali tidak mengeluarkan suara. Bikin Kalla bingung. Wanita 23 tahun itu berinisiatif mengambil lolipop di tasnya. Lalu mengacungkan benda itu.
"Kamu mau ini?"
Kini tatapan si anak beralih ke lolipop tersebut. Menatap beberapa saat lalu mengangguk malu-malu. Dan Foilaah! Tanpa diperintah anak itu mendekat dengan sendirinya.
Dia mengambil lolipop dari tangan Kalla. "Terima kasih, Onti Cantik," katanya dengan suara yang sangat sopan.
Tak pelak hal itu membuat senyum Kalla mengembang cerah. Anak itu menyebutnya cantik! Anak kecil selalu berkata jujur kan? Mendadak mood Kalla naik seketika hanya mendengar pujian tulus dan ucapan terima kasih dari anak menggemaskan itu.
"Jangan panggil Onti dong. Kakak aja, ya," ucapnya terdengar tak tahu malu. Tapi anak itu mengangguk dan menurut.
"Kakak Cantik."
Ah, dipuji bocil saja Kalla sudah bahagia. Dia lantas membantu anak itu membuka bungkus lolipop. Dan keduanya berakhir duduk bersampingan di atas ayunan.
"Nama kamu siapa?" tanya Kalla saat melihat wajah anak itu yang berubah ceria.
"Kael."
Kalla mengulum senyum. "Nama kita hampir mirip."
Anak itu menoleh, mata bulatnya berbinar indah. "Nama kakak siapa?"
"Namaku Kalla. Kael dan Kalla, mirip kan?"
Kael mengangguk, lalu kembali mengemut lolipopnya. Sepertinya dia bahagia sekali makan loli, seperti baru pertama kali makan.
"Kael, kamu ke sini sendiri?" Saat anak itu mengangguk, Kalla bertanya lagi. "Papa mama kamu mana?"
"Papa kerja, Mama nggak tau."
'Papa kerja' bisa Kalla pahami, tapi kalau 'mama nggak tau' dia kurang paham maksudnya.
"Rumah kamu di mana?" tanya Kalla lagi. Orang tuanya cukup ceroboh juga membiarkan anak sekecil Kael berkeliaran sendirian.
Tanpa Kalla duga, Kael menunjuk salah gedung tinggi yang ada di kawasan itu. Peak Apartemen?!
Wow, ternyata anak itu putra orang tajir. Bisa-bisanya anak balita sultan berkeliaran sendirian di sini tanpa pengawasan. Bagaimana
kalau ada yang menculik? Orang tuanya benar-benar teledor.
"Kakak Cantik, Mau enggak jadi mamaku?"
Eh?!
Ilang saglit na tinitigan ni Kevin ang phone niya bago tumayo habang hawak ang phone niya. Sa huli, pinili niyang pumunta sa washroom.Nakahinga ako ng maluwag. Malaya na ako kay Kevin kapag nalaman niya ang totoo diba?Ang washroom ng boutique ay bukas sa lahat ng kasarian, kaya kahit sino ay maaaring pumasok sa washroom anumang oras.Rinig na rinig namin ni Kevin si Violet na nagproklama ng malakas sa mayabang na tono, "Gusto ko lang na patayin ni Daniel para patayin si Michelle para mapasaya siya. Sino ang magaakala na si Michelle ay nakaka awa? Hindi siya kailanman minahal ni Kevin! Mahal niya pa din ako sa dulo ng araw! Kung kaya ako kinidnap muli ni Daniel."Pakiramdam ko na nasayang ang aking hininga sa paglarawan kung gaano minahal ni Kevin si Michelle kay Daniel noon. Nakakahiya."Ng marinig ang paliwanag ni Violet, tumalikod si Kevin at bumalik sa wedding boutique.Sa parehong oras, nabigla ako ng malaman kong hindi ko na pala kayang sundan si Kevin. Sa halip, nakadena
Makalipas ang isang taon, puspusan na ang paghahanda para sa kasal nina Kevin at Violet. Upang maging mas tumpak, si Violet lamang ang abala sa kanyang sarili sa paghahanda sa kasal.Si Kevin naman, sa kabilang banda, ay tinapon ang sarili sa pagresolba sa mga kaso. Ginugol niya ang bawat sandali ng paggising sa istasyon ng pulisya.Nagsisimula ng mag alala si William ng makita niya kung gaano katagal nagtrabaho si Kevin. Gusto niyang sabihin kay Kevin na magpahinga, ngunit umiling lang ang huli. Nagpatuloy siya sa pagtatrabaho sa mga bangkay at ginugol ang lahat ng kanyang oras sa laboratoryo ng forensic.Paulit ulit kong sinusundan si Kevin sa nakalipas na taon o higit pa. Dahil dito, naging saksi ako sa paraan ng pagpapanggap ni Kevin na normal sa araw at iniiyakan ako habang hawak ang litrato ko sa gabi. Paulit ulit siyang nagsalit salit sa pagtatapat ng kanyang pagmamahal at paghingi ng tawad sa akin.Pero wala akong reaksyon sa mga sinabi niya. Hindi ko man lang siya kinasusu
Samantala, nanatiling walang pakialam si Kevin sa kalagayan ni Daniel. Parang hindi niya napansin ang kalagayan ng huli.Sa katunayan, wala siyang ibang gusto kundi ang bugbugin si Daniel hanggang mamatay.sigaw ulit ni Violet. "Kevin, five minutes na lang ang natitira sa timer! Iligtas mo muna ako!"Noon lang natanggal si Kevin sa mala-haze na ulirat. Sumugod siya at sinimulang alisin ang bomba.Umupo si Daniel na may hawak na controller. Bakas sa mukha niya ang may dugong ngiti. "Sabay tayong pumunta sa impyerno."Sa kabutihang palad, isang pulis ang sumugod sa bodega at binaril si Daniel sa kritikal na sandaling iyon, kaya agad siyang napatay. Ilang opisyal pa ang lumapit kina Violet at Kevin para tumulong sa proseso ng pag alis ng bomba.Bagama't naalis ang bomba, hindi tumigil sa pagbibilang ang timer. Sa sandaling makalaya si Violet mula sa bomba, tumakbo siya kaagad patungo sa exit dahil sa takot na mahuli siya sa pagsabog.Hinawakan naman agad ni Willian si Kevin. "Kevin
Sa sandaling iyon, muling tumunog ang phone ni Kevin.Sinagot niya ang tawag, halatang tulala. "Hello?"Isang matinis na boses ng babae ang naanod mula sa kabilang linya. "Kev, iligtas mo ako! May kumidnap sa akin! Gusto ng kidnapper na pumunta ka ngayon din! Bilisan mo at iligtas mo ako! May bombang nakatali sa akin ngayon!"Boses ito ni Violet.Natigilan si Kevin noong una, ngunit agad siyang lumabas ng forensic laboratory. "Kailangan ko ng ilang tao para iligtas ang isang hostage kasama ko! Nagpakita si Daniel!"Ng marinig ni Violet ang utos ni Kevin ay mabilis niya itong binatukan. "Hindi! Hindi pwede! Kev, kailangan kang magpunta magisa! Sabi ng kidnapper na sasabog niya agad ang bomba ko kapag may kasama ka! Natatakot ako!"Sumakay si Kevin sa kanyang sasakyan at nagsimulang magmaneho patungo sa address na sinabi sa kanya ni Violet. Kasabay nito, sinundan ng pulis ang kanyang sasakyan mula sa malayo upang maiwasan ang anumang aksidente na mangyari.Umupo ako sa kotse ni Ke
Nagkalat ang mga piraso ng katawan ko sa lupa. Sa katunayan, hindi masasabi ng isa kung ano ang itsura ko ngayon.Lumitaw ang aking kaluluwa sa kalagitnaan ng hangin. Nakatitig lang ako sa katawan ko mula sa itaas.Hindi ako nakaramdam ng lungkot lalo na. Para sa akin, ang kamatayan ay isang pagta
Ang aking boyfriend, si Kevin Woods, ay isang forensic na doktor. Samantala, na kidnap ako ng dating convict na tinulungan niya sa pagkakakulong noon.Siya at ang kanyang mga kasabwat ay nilagyan ng bomba sa akin.Galit na tinitigan ako ng kidnapper. "Girlfriend ka ni Kevin, tama? Sabihin mo sa ka
Di nagtagal, lumabas ang resulta ng autopsy."Ang biktima ay mga 26 taong gulang. Ang kidnapper ay tila napopoot sa kanyang lakas ng loob, dahil pinahirapan siya nang husto noong siya ay nabubuhay pa. Sa huli, namatay siya dahil sa pagsabog."Higit sa lahat, ang biktima ay natagpuang dalawang buwa
Natigilan ako, naramdaman ko na naman ang pagpatak ng mga luha ko.Nagsisi ako, Mom, Dad. Masusuklian ko lang ang mga nagawa mo para sa akin sa ibang buhay.Ilang gabi ng sunod sunod na puyat si Kevin, kaya nagluluto siya sa inis sa sandaling iyon."Dahil nawala na ang anak mo, hindi ba dapat ika






Maligayang pagdating sa aming mundo ng katha - Goodnovel. Kung gusto mo ang nobelang ito o ikaw ay isang idealista,nais tuklasin ang isang perpektong mundo, at gusto mo ring maging isang manunulat ng nobela online upang kumita, maaari kang sumali sa aming pamilya upang magbasa o lumikha ng iba't ibang uri ng mga libro, tulad ng romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel at iba pa. Kung ikaw ay isang mambabasa, ang mga magandang nobela ay maaaring mapili dito. Kung ikaw ay isang may-akda, maaari kang makakuha ng higit na inspirasyon mula sa iba para makalikha ng mas makikinang na mga gawa, at higit pa, ang iyong mga gawa sa aming platform ay mas maraming pansin at makakakuha ng higit na paghanga mula sa mga mambabasa.