Home / Romansa / Nadya di Antara Dua Dunia / HIDUP YANG MULAI PENUH

Share

HIDUP YANG MULAI PENUH

Author: Rania Arkana
last update publish date: 2026-10-31 22:12:43

Pertengahan Juni 2003

Kamar baru Nadya tidak lagi terasa seluas ketika pertama ditempati. Buku kuliah memenuhi sebagian meja, bercampur kartu nama, kosmetik, buku kecil berisi nomor telepon, dan map Bumi Lintas yang dua hari terakhir selalu lupa dikembalikannya ke tas. Gaun Ginza tergantung di belakang pintu karena lemari pun mulai penuh.

Pagi itu Nadya hampir terlambat kuliah hanya karena mencari satu lembar catatan yang ternyata tertindih company profile. Ia memasukkannya ke t

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Nadya di Antara Dua Dunia   HIDUP YANG MULAI PENUH

    Pertengahan Juni 2003Kamar baru Nadya tidak lagi terasa seluas ketika pertama ditempati. Buku kuliah memenuhi sebagian meja, bercampur kartu nama, kosmetik, buku kecil berisi nomor telepon, dan map Bumi Lintas yang dua hari terakhir selalu lupa dikembalikannya ke tas. Gaun Ginza tergantung di belakang pintu karena lemari pun mulai penuh.Pagi itu Nadya hampir terlambat kuliah hanya karena mencari satu lembar catatan yang ternyata tertindih company profile. Ia memasukkannya ke tas sambil mengomel pelan. Baru beberapa bulan lalu kamar yang lebih luas terasa seperti solusi. Ternyata yang semakin sulit ditampung bukan barang-barangnya, melainkan seluruh hal yang harus dikerjakannya dalam sehari.Dua mata kuliah selesai menjelang siang. Nadya baru keluar kelas ketika Arman menelepon dan mengabarkan salah satu perusahaan yang namanya pernah ia dapat dari pelanggan Ginza bersedia menerima company profile Bumi Lintas. Belum ada permintaan harga atau pekerjaan. Mereka h

  • Nadya di Antara Dua Dunia   SEBELUM 9 MEI

    Rabu, 7 Mei 2003Nadya sudah lebih dari sebulan tinggal di kos barunya. Kardus-kardus sudah hilang dari lantai, buku kuliah mendapat tempat sendiri di meja, dan kamar mandi kecil di dalam kamar tidak lagi terasa seperti kemewahan setiap kali ia pulang larut dari Ginza.Sebagian barangnya justru menetap di tempat lain.Tas kecil yang disiapkannya bulan lalu akhirnya benar-benar dibawa ke rumah Januar. Setelah itu isinya bertambah tanpa pernah mereka bicarakan: dua kaus, celana pendek, beberapa pakaian dalam, kosmetik sederhana, dan sikat gigi yang sekarang berdiri di kamar mandi berdampingan dengan milik Januar. Tidak banyak, tetapi cukup membuat Nadya tidak lagi perlu membawa satu tas penuh setiap kali menginap.Sejak telepon Yamamoto pada pertengahan Maret, mereka hanya beberapa kali bertukar kabar singkat. Pertemuan yang dimintanya tidak pernah dibahas lagi sampai siang tadi, ketika Yamamoto menelepon dan bertanya apakah Nadya punya waktu sebelum masuk

  • Nadya di Antara Dua Dunia   KAMAR YANG TERLALU KECIL

    PertengahanMaret 2003Nadya sudah membuka lemari dua kali ketika tumpukan pakaian di rak paling atas jatuh mengenai bahunya. Dua kaus sempat ditangkap, tetapi celana dan tas kecil tetap mendarat di lantai. Ia membungkuk mengambilnya sambil memandangi kamar kos yang entah sejak kapan terasa semakin sesak meskipun hampir tidak ada perabot baru.Buku kuliah memenuhi sebagian meja, bercampur kosmetik, kartu nama, buku kecil berisi catatan, dan satu company profile Bumi Lintas yang belum kembali ke tas. Pakaian kerja Ginza berdesakan dengan pakaian kuliah di lemari. Blouse yang dicari akhirnya ditemukan terselip di bawah dua gaun.Ketika mengenakannya di depan cermin, Nadya menaikkan kerah sedikit. Sisa bekas di lehernya sudah nyaris hilang, hanya menyisakan warna samar yang baru terlihat kalau diperhatikan dekat. Ujung jarinya menyentuh bekas itu dan, tanpa diminta, bayangan kamar mandi Januar kembali muncul: rambut mereka berantakan, tubuh sama-sama telanjang

  • Nadya di Antara Dua Dunia   GILIRANKU

    Rabu, 5 Maret 2003Januar sudah membuka pintu sebelum Nadya sempat mengetuk untuk kedua kalinya. Ia hanya mengenakan kaus tipis dan celana pendek, rambutnya berantakan seperti orang yang beberapa menit lalu memang sudah bersiap tidur.“Kau beneran datang.”Nadya melangkah masuk tanpa menjawab. Tasnya diletakkan di dekat sofa, lalu ia berbalik tepat ketika Januar menutup pintu. Bunyi kunci bahkan belum selesai ketika Nadya menarik bagian depan kaus lelaki itu dan mencium bibirnya.Januar sempat terkejut. Tangannya bergerak ke pinggang Nadya, tetapi perempuan itu mendorongnya mundur sampai punggungnya menyentuh pintu dan menahan kedua tangannya ketika Januar mencoba membalas lebih jauh.“Diam dulu.”Januar menatap wajahnya, lalu tertawa pendek. “Ada apa sama kau malam ini?”“Aku lagi pengin.”Tidak ada lagi yang perlu dijelaskan.Nadya kembali menciumnya. Kali ini Januar memb

  • Nadya di Antara Dua Dunia   MALAM YANG BERBEDA

    Selasa, 4 Maret 2003Kartu nama yang tadi siang dipisahkan Nadya masih berada di tas ketika ia masuk ke ruang ganti Ginza. Setelah memperbaiki riasan, merapikan rambut, dan mengenakan gaun hitamnya, Nadya kembali menjadi Dira.Malam itu ia menemani tiga pelanggan Jepang di ruang karaoke. Whisky, es, dan makanan ringan memenuhi meja rendah, sementara mereka bergantian bernyanyi dan saling mengejek ketika nada meleset. Nadya sesekali ikut mengambil mikrofon, membaca lirik Jepang di layar, lalu tertawa ketika mereka memuji bahasanya yang semakin lancar.Suasananya sama seperti malam-malam lain. Yang berubah hanya cara Nadya mendengarkan percakapan di sela lagu.Ketika salah seorang pelanggan mengeluhkan pengiriman ke Karawang dan kendaraan yang kadang sulit didapat saat produksi meningkat, Nadya bertanya beberapa hal sampai mengetahui urusan itu ditangani supervisor Logistics.“Sekarang kamu bisnis truk juga?” lelaki itu bertanya sambil te

  • Nadya di Antara Dua Dunia   JANGAN SATU CUSTOMER

    Selasa, 4 Maret 2003Nadya tiba di gedung perusahaan Takahashi menjelang pukul sebelas dengan map Bumi Lintas di tangan. Kali ini tidak ada lampu redup, musik, atau meja penuh botol seperti ketika mereka bertemu di Ginza. Ia menyebut nama lengkapnya kepada resepsionis, menyerahkan kartu Bumi Lintas, lalu mengatakan Takahashi dari Production Control sudah bersedia menerima company profile yang dibawanya.Ia menunggu hampir dua puluh menit sebelum lelaki Jepang itu muncul dari pintu di ujung lobby. Takahashi masih mengenakan seragam kerja perusahaan dan terlihat sedikit terburu-buru, tetapi wajahnya berubah ketika mengenali Nadya.“Dira.”“Nadya kalau di sini,” jawabnya dalam bahasa Jepang.Takahashi tersenyum. “Saya harus ingat dua nama sekarang?”“Cukup satu kalau urusan kerja.”Lelaki itu tertawa kecil dan mengajaknya duduk di ruang tamu dekat lobby. Nadya mengeluarkan company profile y

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status