LOGINNapasku tinggal sedikit lagi. Mungkin beberapa detik yang akan datang, aku hanya akan bisa menghirup air ke dalam paru-paru.
Aku takut.
Di sini gelap sekali.
Jauh lebih menyeramkan dibandingkan saat aku mati tersedak mie instan murah. Setidaknya aku masih bisa melihat langit. Aku masih bisa melihat Abigail yang meraung dan menangis untukku. Tapi sekarang ... tidak ada siapa-siapa lagi. Aku akan mati di sini tanpa seorang pun menyadarinya. Aku akan mati ... sendirian.
Aku tak bisa melepaskan diri dari jeratan tanaman ini. Dan udara di atas sana jauh sekali.
Jika aku bisa menangis, mungkin aku sudah menangis, tapi aku yakin air di kolam ini telah melarutkan air mataku.
Saat aku nyaris putus asa, tiba-tiba seseorang dari kejauhan, dari kegelapan berenang ke arahku. Mataku nyaris buram, aku tak bisa dengan jelas melihatnya.
"Wah-wah ... kacau sekali ya," ucapnya begitu ringan. Kuyakin suara seorang lelaki.
Lalu ia memelukku, dan aku pun memeluknya begitu putus asa. Tercipta arus air yang tiba-tiba kuat di dekat kakiku. Kurasakan kibasan-kibasan tangkas yang begitu cepat. Mungkin ... orang ini sedang berusaha menyelamatkanku.
"Pegangan yang kuat, ya," ucapnya.
Aku menurut. Napasku sudah habis. Entah berapa lama lagi aku bisa bertahan. Perlahan kurasakan sulur-sulur tanaman mulai mau tak mau melepaskan diri mereka dari lilitannya di kakiku. Dorongan yang begitu kuat, saat seluruhnya lepas, tubuh kami meluncur dengan secepat kilat, melesat ke permukaan kolam.
"Haaa!" Segera kuhirup dalam-dalam udara yang kukenal dengan baik. Napasku begitu memburu dan tergesa.
"Bernapaslah pelan-pelan," ucap pemuda itu. Ia membawaku ke tepi kolam supaya aku bisa bersandar dan berpegangan. Kemudian ia membantuku untuk naik ke lantai lobi. Aku merangkak keluar dari kolam begitu merana. Rambut dan bajuku seluruhnya basah. Lantai menjadi becek, dan aku mulai batuk-batuk.
"Uhuk! Uhuk!" Begitu putus asa aku mengeluarkan air yang masuk ke paru-paru. "Ukh ... te-terimakasih sudah menolongku. Aku ...," kalimatku terhenti saat aku mendongak.
Pemuda rupawan berambut biru cerah. Ia tersenyum kepadaku. Matanya biru seperti langit di siang hari. Sepasang sirip warna aquamarine bertengger di belakang telinganya. Tubuhnya masih basah. Aku bisa melihat lekukan otot di tubuhnya.
'Aku ... tadi memeluk tubuh itu?'
Ekor duyungnya entah kemana. Sudah berganti dengan celana dan sepasang kaki. Celana berbahan ringan tipis yang punya corak sisik ikan saat terkena cahaya.
"Kok kamu bisa ada di bawah sana sih?" tanyanya setengah meledekku.
Tubuhku yang basah kuyup dan agak kedinginan bikin aku enggan menjawab. Aku masih mencari napas dan tidak selera untuk menegur ledekannya yang tidak lucu itu.
"Terimakasih. Aku ... itu kecelakaan," dustaku. Entah mengapa aku malah berbohong kepadanya soal Elina.
Tunggu. Aku mendongak sekali lagi.
Pemuda ini tak asing! Dia Felix! Felix si Duyung Playboy! Aku ingat! Ya! Waktu itu saat aku bermain dengan Aegon, aku sudah tinggal selangkah lagi untuk mendapatkan Elina. Tapi karena si playboy brengsek ini, Elina malah berpaling dariku! Astaga. Aku dulu sangat membencinya. Tapi ... malah dia yang menyelamatkanku. Huh.
"Kecelakaan ya? Hmm. Menarik. Kecelakaan yang luar biasa hebat sampai-sampai kau ada di tengah-tengah sekelompok rumput laut," sindirnya.
Aku tak tahu apakah ia melihat Elina mencekikku hingga ke dasar kolam, atau hanya penasaran dan tahu bahwa aku telah berbohong.
Aku memegangi tenggorokanku dan berusaha menenangkan napas.
"Aku ... sedang duduk di tepi kolam dan tidak sengaja ...," kalimatku terpotong.
"Hmm ...." Tiba-tiba ibu jarinya telah mengangkat daguku. Wajah pemuda itu sangat dekat dan ... rantai di leher! Dia punya! Samar karena rantai itu berwarna putih. Namun ia berkedip-kedip. Angka di rantai itu bertulis cukup jelas.
'1%'
'Satu ... persen?'
Apa Felix adalah salah satu pria lajang dalam permainan ini?
"Duduk di tepi kolam ya? Sejak kapan Nona Naga duduk di tepi kolam?" tanya lagi.
Felix dengan mata birunya yang cerah kian dekat. Aku tak tahu jika lobi ini mulai berisi lalu lalang siswa akademi. Tentulah aku yang basah kuyup dengan rambut putih mencolok dan sepasang tanduk naga, begitu menarik perhatian sekarang ini. Beberapa orang menontoni kami.
"Aku ... cuma ...."
"Kalau Nona Naga suka main di kolam, aku bisa memberi 'Napas Duyung' supaya bisa bernapas dalam air. Bagaimana?" tawarnya.
"'Napas ... Duyung'?"
Aku berusaha mengingat apa itu 'Napas Duyung'. Kalau tidak salah, itu kemampuan yang diberikan oleh para jelmaan duyung supaya yang mahluk lain bisa bernapas dalam air untuk beberapa jam.
"Ya. Kalau kau punya 'Napas Duyung', kau bisa berada dalam air lebih lama. Aku bisa menemanimu dalam kolam dan ... kau tahu ... mungkin kita bisa ...."
Wajahnya semakin dekat. Aku mulai bisa merasakan napasnya di depan wajahku yang dingin. Begitu kontras. Tinggal menunggu waktu hingga bibir pemuda jelmaan duyung bernama Felix menciumku dan memberiku 'Napas Duyung'.
Aku tak tahu mengapa tubuhku tak bisa bergerak. Tatapan Felix, suaranya ... seperti memenuhi pandangan dan kepalaku. Ia seperti menyihir diriku untuk patuh kepadanya.
Dan akhirnya ....
"Apa yang sedang kau lakukan?!" Suara yang kukenal.
Lenganku sudah ditarik begitu kasar menjauh dari wajah Felix. Begitu singkat, tubuhku kini dibuatnya berdiri. Felix yang masih berlutut juga agak kaget. Namun ia kini berangsur melontarkan seringai dengan cemoohan.
"Wah-wah ... ada Pangeran Aegon. Selamat pagi, Yang Mulia Pangeran."
Di sampingku telah berdiri Aegon Valerya dengan rambut hitam dan sepasang mata emas yang bengis. Pakaiannya serba hitam dengan bordiran merah darah, begitu elegan dan bertolak belakang dengan Felix yang bertelanjang dada, dan aku yang basah kuyup.
"A-Aegon ... aku cuma-."
"DIAM!" bentaknya.
"Aduh ... Pangeran ... jangan marah-marah dong. Kau bisa membuat Nona Naga ketakutan."
Lenganku masih dicengkeram dengan begitu erat oleh pemuda ini.
'Sial.'
Kenapa Aegon ada di sini?! Seharusnya, jika aku berciuman dengan Felix, mungkin angka di lehernya bisa meningkat!
"Diam kau! Kau pikir siapa kau ini berani-beraninya menyentuh seorang klan naga?!"
"Memangnya kenapa kalau aku sentuh?" Felix mengomporinya. "Toh aku tahu dia sudah bukan lagi tunanganmu."
Felix bersedekap dengan senyum miring penuh kemenangan.
Sedangkan aku dan Aegon terkesiap. Melihat reaksi kami berdua, dia semakin mencemooh Aegon.
"Ya. Itu benar. Gosip para duyung memang sangat akurat, karena kami punya telinga tajam. Jadi klan naga akan segera punah ya?"
Aku bisa dengar geraman dalam dari Aegon. "Kurang ajar! Awas kau nanti!" Ia mendesis mengancam.
Kemudian Aegon menarik tanganku dan kami melangkah cepat meninggalkan lobi.
"Dadah Pangeran!" Aku bisa dengar suara Felix sambil cekikikan di belakang sana.
Dingin.Dingin sekali.Aku mendengar seseorang terengah. Napasnya memburu. Ia mengerang pelan. Aku bisa mendengarnya mendesah dengan sebuah ritme.Samar-samar pandanganku mulai jelas meski masih agak buram. Aku melihat seseorang di atasku. Dekat sekali.Leher itu, dililit oleh tato rantai yang berpendar ungu.'Ungu?'Ia berpendar seperti asap yang mengamuk. Angka yang ada di rantai itu jelas.'-85%'Minus delapan puluh lima persen? Minus lima belas persen lagi pasti aku sudah dibunuh olehnya. Tapi ... dia siapa? Apa aku sedang bermimpi?"Sial! Ah! Ah! Ah! Hhh. Sadarlah!"Ia berseru di tengah desahan-desahan itu. Tubuh yang pejal, dada bidang dan terlihat sangat kuat. Aku bisa mencium aroma tubuhnya yang wangi. Ia begitu dekat. Aku tak bisa menjawab apapun, atau merespon apapun. Betapa i
Aegon terlihat sangat marah. Aku tahu dia suka marah-marah. Tapi ... dicemooh oleh Felix seperti itu, aku yakin dia lebih mengamuk lagi. Aku tak tahu apa yang akan ia lakukan kepadaku. Apa mungkin ia akan menyiksaku? Atau lebih buruk, membunuhku?!Oh sial. Berapa kali aku harus mendapat percobaan pembunuhan dalam sehari?!Langkahnya tak berhenti. Aku susah payah mengimbanginya, dengan tubuh dan baju basah kuyup yang mulai dingin. Dengan kakiku yang tak sepanjang Aegon. Ia menyeretku dengan kasar dan tergesa. Semua orang yang melihat kami kini berbisik-bisik, atau menatap ngeri pada wajah mengamuk Aegon. Atau mungkin juga mengataiku yang basah dengan jejak air yang membuat lantai koridor akademi jadi becek.Kemudian ia membawaku ke suatu tempat lain. Aku bisa melihat ramb
Napasku tinggal sedikit lagi. Mungkin beberapa detik yang akan datang, aku hanya akan bisa menghirup air ke dalam paru-paru.Aku takut.Di sini gelap sekali.Jauh lebih menyeramkan dibandingkan saat aku mati tersedak mie instan murah. Setidaknya aku masih bisa melihat langit. Aku masih bisa melihat Abigail yang meraung dan menangis untukku. Tapi sekarang ... tidak ada siapa-siapa lagi. Aku akan mati di sini tanpa seorang pun menyadarinya. Aku akan mati ... sendirian.Aku tak bisa melepaskan diri dari jeratan tanaman ini. Dan udara di atas sana jauh sekali.Jika aku bisa menangis, mungkin aku sudah menangis, tapi aku yakin air di kolam ini telah melaru
Aku sudah tidak selera nongkrong di perpustakaan, atau baca buku, atau bersama dengan Mimi. Dia sangat bingung ketika aku tiba-tiba bilang padanya bahwa aku ada urusan lain. Pagi ini masih lengang, belum banyak siswa yang berlalu lalang. Terutama dekat kolam air mancur dimana para duyung biasa bermain-main. Tapi yang kulakukan sekarang cuma mondar-mandir dan bolak-balik dengan menggigiti kuku jariku.Cemas dan bingung.Mungkin firasatku benar. Aku ... kini menjadi karakter utama dalam permainan ini. Tapi bagaimana dengan Aegon? Kucoba begitu keras mengingat-ingat mimpiku semalam. Hal yang sangat jelas bagiku adalah 'Jodoh Putri Naga'. Judulnya berubah. Semua yang kualami ... juga cukup berbeda dengan segala yang telah kumainkan. Lalu ... apa maksudnya dengan 'Versi Beta'? Apakah itu semacam versi lain dari permainan in
"Hoaaam!" gadis kelinci itu menguap. "Kenapa kau minta aku menemanimu? Buat apa ke perpustakaan pagi-pagi begini," keluh Mimi.Aku cuma bisa tersenyum. Aku tak bisa menceritakannya isi mimpiku semalam. Aku sudah bertekad untuk jadi pemeran sampingan saja. Akan kubiarkan Aegon untuk melalui rute ceritanya sendiri, berinteraksi dengan para gadis lajang dan aku tak akan menghalanginya. Untuk mewujudkan tujuanku menjadi karakter sampingan, tentu saja aku harus belajar dari ahlinya. Mimi.Ia masih menguap-nguap setengah mengantuk.Ini memang terlalu pagi untuk siapapun datang ke perpusatakaan."Aku cuma tidak ingin ke perpustakaan pagi-pagi. Lagipula, aku sudah bilang padamu kalau aku hilang ingatan
Aku menatap ngeri pada lilin kecil di atas pisin putih. Sumbunya yang hitam menimbulkan benang transparan putih yang mengapung di udara. Perlahan asapnya telah raib, dan tanganku gemetar.Apa aku ... akan mati juga seperti api ini?Oh tidak. Aku harus bagaimana?!Aku menengok ke belakang, kepada sayap emas Lilia yang masih membagikan lilin pada orang yang antre. Mungkin ... sebaiknya aku minta tolong padanya. Kuyakin dia pasti tahu harus bagaimana.Tapi ... apiku mati di hadapan para dewa. Aku mendongak, melihat ke ketiga lukisan itu. Aetherion, Terravon, dan Vorthys. Apakah ketiganya yang telah sepakat membunuh apiku, dan juga membunuhku?Mataku berk







