Share

10. Awal Mula

Author: cyllachan
last update publish date: 2026-04-02 20:00:40

Langkahku makin cepat. Lorong kastil terasa panjang. Terlalu panjang. Sial. Aku tidak menoleh. Tidak boleh. Kalau aku menoleh, dia pasti ....

"Hey!"

Suaranya. Dekat. Terlalu dekat. Tanganku refleks mengepal. Aku berhenti. Namun tidak berbalik.

"Aku sudah bilang aku tidak akan bicara lagi denganmu," kataku dingin.

Hening. Lalu langkah kaki. Pelan. Santai. Dan berhenti tepat di belakangku.

"Aku tidak menyuruhmu bicara," jawabnya ringan.

Sial. Aku menggertakkan gigi.

"Kalau begitu menjauh dariku."

"Tidak." Jawaban cepat. Tanpa ragu.

Aku akhirnya berbalik. Dan benar saja jarak kami terlalu dekat lagi. Pria ini tidak punya konsep batas.

"Apa lagi sekarang?" desisku.

Aegon menatapku. Bukan dengan ejekan seperti tadi. Lebih ... fokus. Lebih tajam. Seolah mencoba membaca sesuatu yang lebih dalam dari sekadar reaksiku.

"Kau tidak ingat," katanya pelan.

Bukan pertanyaan. Pernyataan. Dadaku menegang.

"Apa yang tidak kuingat?" balasku cepat. Ia tidak langsung menjawab. Tangannya terangkat sedikit seolah ingin menyentuh lalu berhenti di udara. Menarik kembali.

".... Cara menggunakan sayapmu," lanjutnya.

Sunyi. Sial. Aku memalingkan wajah.

"Memangnya kenapa?"

"Karena itu bukan sesuatu yang bisa dilupakan," katanya. Nada suaranya berubah. Tidak lagi menggoda. Tidak lagi iseng. Lebih rendah. Lebih serius. "Itu seperti bernapas."

....

Oke. Itu tidak bagus. Aku menyipit.

"Kau sok tahu sekali."

Aegon menghela napas pelan.

"Dan kau buruk sekali dalam berbohong." Sial. Ia melangkah mendekat lagi. Namun kali ini tidak agresif. Lebih seperti menguji. "Sejak kapan?" tanyanya. Aku terdiam. "Sejak ... kecelakaan itu?" lanjutnya.

Jantungku berdetak lebih cepat. Dia mulai menyambungkan semua titik. Tidak boleh. Aku langsung mendecih keras.

"Berhenti mengarang cerita!"

Aku mendorong bahunya. Tidak keras. Tapi cukup untuk memberi jarak.

"Aku cuma tidak mau berurusan denganmu!" lanjutku. "Kalau aku tidak pakai sayap, itu karena aku tidak mau!"

Aegon tidak bergerak. Hanya menatapku. Lama. Lalu senyum tipis itu muncul lagi. Namun kali ini berbeda. Bukan sekadar mengejek. Lebih ... tertarik.

Tiba-tiba tubuhku terhenti.

"A—!"

Punggungku menghantam dinding dingin. Aegon. Dia mengurungku. Satu tangan menahan di samping kepalaku, yang lain menahan pundakku. Jarak kami nyaris tidak ada.

"Jangan bergerak," katanya pelan. Suaranya rendah.

Bukan main-main lagi. Dadaku naik turun. Sial.

"Apa lagi sekarang?" desisku, mencoba tetap tajam.

Namun suaraku sedikit goyah. Aegon menatapku. Dalam. Terlalu dalam. Seolah sedang membongkar sesuatu dari dalam kepalaku.

"Kau seharusnya tidak perlu takut jatuh," gumamnya. Ia menyipit sedikit. "Tapi kau takut. Karena kau tidak tahu caranya terbang."

...

Sial. Aku menggertakkan gigi.

"Ngaco."

"Aku tidak bercanda." Nada itu. Berubah. Lebih serius dari sebelumnya. "Ada yang hilang darimu," lanjutnya. "Dan itu bukan hal kecil." Tangannya mengencang sedikit di pundakku. "Sejak kapan?" Aku menatapnya. Tidak menjawab. Tidak boleh. Aegon mendekat sedikit lagi. "Sejak kecelakaan itu?" ulangnya pelan.

Jantungku berdetak kencang. Dia terlalu dekat. Terlalu tepat. Aku tidak tahan lagi.

"BERHENTI!" bentakku. Aku mendorong dadanya. Namun ia tidak bergeser. Sedikit pun.

"Jawab aku," katanya.

Bukan permintaan. Perintah. Sial. Aku menatapnya. Amarah naik. Mengalahkan rasa takut. Mengalahkan semuanya.

"YA!" bentakku. Suara itu pecah. Menggema di lorong. Aku bahkan tidak sadar aku sudah berteriak. "YA! AKU LUPA SEGALANYA!"

Sunyi. Aegon membeku. Tangannya masih di pundakku. Tapi tidak lagi menekan.

"Aku lupa caranya terbang!" lanjutku, napasku berat. "Aku lupa siapa aku! Aku lupa kenapa kakakku tewas!" Dadaku terasa sesak. Namun aku tidak berhenti. "Aku lupa SEMUA soal kau!" Tatapanku menusuk langsung ke matanya. Dan untuk pertama kalinya aku tidak mundur sama sekali. "Dan kau?" desisku. "Bagiku kau cuma pria brengsek!" Hening. Udara terasa berat. "TIDAK LEBIH!" Tanganku mengepal. "Tanpa ayahmu ... tanpa gelar bangsawanmu ... kau bukan siapa-siapa!"

Mata emasnya menyempit. Akhirnya. Kena. Aku melangkah maju. Mendorongnya balik.

"Kau bajingan!" Napas kami bertabrakan. Dekat. Panas. "Itulah kenapa aku membencimu!"

Sunyi. Total. Tidak ada suara. Tidak ada gerakan. Aegon diam. Benar-benar diam. Tatapannya berubah. Tidak lagi mengejek. Tidak lagi iseng. Untuk beberapa detik ia terlihat ... terdiam. Memproses. Kami masih dalam posisi yang sama.

Aku masih terengah. Masih panas. Masih gemetar. Aegon menatapku. Lama. Seolah melihat orang yang berbeda.

".... Begitu ya," gumamnya pelan. 

Bukan marah. Bukan sinis. Lebih seperti ... menemukan sesuatu. Sial. Bukan reaksi yang kuinginkan. Ia menghela napas pendek. Lalu senyum tipis itu kembali. Tapi sekarang berbeda. Lebih tajam. Lebih berbahaya.

"Kalau begitu," katanya pelan, "ini jadi menarik."

Aku mengernyit.

"Apa maksudmu?"

Ia sedikit memiringkan kepala.

"Kalau kau benar-benar lupa segalanya ...," Matanya menatapku dalam. "... berarti aku bisa mulai dari awal."

....

Apa? 

Jantungku berdetak lagi. Kali ini bukan karena marah.

"Dan kali ini," lanjutnya santai, "aku akan cari tahu semuanya sendiri." Nada suaranya ringan. Tapi itu janji.

"Sialan, jangan ikut campur! Aku tidak-MMH!"

Semua terjadi sangat cepat. Jemari Aegon mengangkat daguku. Wajahnya sudah sangat dekat. Aku bisa merasakan pria ini di mulutku. Jantung berdentang hebat dan darahku mendesir cepat. Tubuhku semakin didesak hingga kami tak lagi berjarak. Aku yang berusaha memberontak dan mendorong-dorong pria ini, begitu sia-sia. Tenaganya jauh lebih besar untuk mencengkeram pergelanganku. Sementara lidahnya sudah menyumpal mulutku. Meliuk-liuk dengan bebas hingga mulut kami basah. Napasku menjadi pendek dan frustasi. Hembusan Aegon terasa panas di wajahku.

"Ahn!"

Hingga akhirnya ia melepas ciuman paksa itu. Liur kami bahkan bertaut singkat. Ia tersenyum, merasa menang.

"Ini baru permulaan."

Dadaku menegang. 

"BRENGSEK! AKU BUKAN MAINANMU!"

Ia tersenyum. Tipis.

"Kau adalah mainanku. Sampai kau berhenti mempermainkanku."

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (3)
goodnovel comment avatar
arsen
loh loh loh sebenarnya Aegon mau ngapain dia kasian apa malah Nemu sesuatu yang seru nih
goodnovel comment avatar
karin
Aegon sebenarnya punya rasa ya ke lysa
goodnovel comment avatar
kiranasitepu69
waduh, apa yg mau di rencanakan oleh Aegon ya
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Naga Penakluk Hati   114. Epilog

    Cahaya lampu neon yang putih menusuk retinaku. Bau antiseptik yang tajam menyengat hidung, memicu ingatan samar tentang sesuatu yang jauh, sesuatu yang gelap dan penuh kode. Aku mengerang, berusaha menggerakkan jari-jariku yang terasa kaku."Pasien sudah sadar. Monitor detak jantungnya stabil," suara dingin seorang pria memecah keheningan.Dokter dan perawat tampak sibuk di sekeliling ranjangku, wajah mereka serius dan profesional. Aku menatap mereka dengan tatapan bingung yang mendalam. Suaraku tercekat saat bertanya, "Aku... di mana?"Dokter itu menghela napas, melepas kacamatanya. "Selamat datang kembali, Nancy. Kau berada di fasilitas medis milik perusahaan AEON, pengembang game 'Jodoh Pangeran Naga'."Tubuhku menegang. Nama itu ... itu bukan sekadar permainan."Secara medis, seharusnya kau sudah meninggal tiga tahun lalu," lanjut dokter itu dengan nada datar. "Namun, keluarga dan perusahaan sepakat untuk tidak membiarkanmu

  • Naga Penakluk Hati   113. Kemenangan

    Enma melepaskan genggamannya, dan dunia di sekitarku kembali ke realita yang mencekam. Lututku lemas, hampir saja aku ambruk ke tanah marmer yang dingin, jika saja Aegon tidak sigap memegang bahuku. Napasku memburu, paru-paruku serasa disumpal kapas.Segala kenangan yang kulihat barusan—ratusan kematian yang menyakitkan, kegagalan yang berulang-ulang, setiap kali aku harus memilih pria yang berbeda, dan setiap kali pula permainan ini mereset diriku kembali ke titik awal—semuanya membanjiri kepalaku seperti air bah. Aku bukan hanya Lysa. Aku adalah Nancy yang terjebak di dalam neraka simulasi."Lysa, jawab aku! Apa yang dia katakan soal 'Nancy'?" Aegon mendesak, suaranya dipenuhi kecemasan yang asing, namun tatapannya kini beralih pada Enma dengan kebencian yang murni. "Enma, apa yang kau lakukan pada tunanganku?!""Tunangan?" Enma tertawa kecil, suara tawa itu begitu dingin, begitu familiar. "Kau masih terjebak dalam skrip yang mereka t

  • Naga Penakluk Hati   112. Enma Valerya

    Langit Akademi Aurelion tampak kelabu, seolah turut berduka atas kepergian sang penjaga kuil yang bijaksana. Kakek Daeruz telah tiada. Upacara pemakaman dilakukan dengan khidmat di pelataran kuil yang luas.Ikaruz berdiri di depan altar, tubuhnya tampak ringkih dibalut jubah hitam. Matanya sembab karena menangis semalaman, namun saat ia menatap kerumunan, ia berusaha menegakkan bahunya."Kakek Daeruz bukan hanya seorang penjaga kuil," Ikaruz memulai, suaranya parau namun perlahan menguat. "Bagi kalian, dia mungkin hanyalah orang tua yang mengoceh tentang masa lalu. Tapi bagiku, dia adalah perpustakaan hidup. Dia mengajarkanku bahwa mencintai seseorang dengan tulus, meski dunia memisahkanmu dengan tembok klan, adalah bentuk keberanian tertinggi. Dia tidak pernah menyesali pilihannya untuk tetap mencintai Maika hingga hembusan napas terakhirnya. Dia mengajarkanku bahwa kesetiaan bukan tentang apa yang kita dapatkan, tapi tentang apa yang kita pertahankan di dalam hat

  • Naga Penakluk Hati   111. Maika

    Kejadian di kolam bawah tanah menyisakan gema yang panjang di Akademi Aurelion. Klan duyung kini tampak menarik diri, bayang-bayang mereka tak lagi sesering sebelumnya, seolah sedang menunggu perintah baru dari para tetua mereka. Namun, perhatian yang hilang dari klan duyung justru dialihkan oleh tatapan-tatapan intens dari klan serigala. Ke mana pun aku melangkah, bisik-bisik mereka mengikutiku, seperti kawanan predator yang sedang mengamati mangsa yang menarik perhatian sang pemimpin.Rex Skarnfang akhirnya menghentikan langkahku di koridor menuju perpustakaan. Sang Alpha itu berdiri tegak, auranya yang dominan membuat beberapa murid yang lewat segera menyingkir."Kau menghindariku, Lysa," suaranya berat, namun ada nada frustrasi yang tertahan di sana. Dia melipat tangannya di dada, matanya yang tajam menuntut jawaban. "Mengapa kau terus menolak? Menjadi Luna berarti kau akan berdiri di sisiku sebagai ratu di atas segala klan serigala. Kekuatan, perlindungan, tak

  • Naga Penakluk Hati   110. Pertukaran

    Air yang dingin segera menelan mereka.Aku belum pernah menyelam sedalam ini dengan tubuh nagaku, tanpa Napas Duyung. Meski ramuan itu membuatku bisa bernapas, bergerak di bawah air tetap terasa berat. Setiap kayuhan tangan membutuhkan tenaga berlipat ganda.Baelon tampak jauh lebih kesulitan.Jubah kepala akademi itu berkibar-kibar di belakangnya seperti bendera tenggelam. Jin berenang paling tenang. Sesekali ia memberi petunjuk arah agar Baelon tidak tersesat. Sementara itu aku memimpin."Arah sana," kataku sambil menunjuk ke dasar kolam."Bagaimana kau tahu?" tanya Baelon."Aku pernah diseret ke sana."Baelon mengerutkan dahi.Kami terus turun. Semakin dalam, cahaya dari permukaan semakin memudar. Batu-batu hitam besar mulai bermunculan. Kemudian Aku melihat sesuatu yang kukenal.Sekelompok rumput laut raksasa.Daunnya panjang dan tebal seperti ular hijau gelap yang melambai-lambai mengikuti

  • Naga Penakluk Hati   109. Bantuan

    Tubuhku gemetar hebat. Bukan hanya karena air kolam yang dingin, melainkan karena adrenalin yang mulai surut, menyisakan ketakutan akan keselamatan Felix. Profesor Jin mungkin terlihat akan membantuku, tapi aku tahu pria itu adalah variabel yang tidak bisa diprediksi. Aku tidak bisa mengandalkannya sepenuhnya. Aku butuh sekutu yang memiliki otoritas dan kepekaan nurani yang lebih tinggi.Dengan langkah gontai, aku menyeret diriku menuju menara Kelas Ramalan. Untunglah dia belum meninggalkan kelas ini. Profesor Cleon, seorang wanita Animari burung yang anggun dan bijaksana, sedang merapikan kartu-kartu tarot kunonya."Lysa? Ada apa denganmu? Kau terlihat seperti baru saja bangkit dari kubur," tanya Profesor Cleon, matanya yang tajam di balik kacamata berbingkai emas menyiratkan kekhawatiran.Aku tak membuang waktu. Dengan suara serak, aku menumpahkan segalanya—tentang konspirasi pembunuhan orang tua Felix, tentang jurnal yang disita, hingga penyanderaan yan

  • Naga Penakluk Hati   9. Takut

    Aku memakai baju tidurku sedini mungkin sebelum Hanna atau siapapun datang ke kamarku. Untunglah Hanna tak bertanya yang aneh-aneh melihat kamar yang berantakan. Pagi itu aku tidak menunggu lama setelah berdandan.Dengan wajah masih panas dan kepala penuh tanda tanya, aku langsung keluar dari kamar.

  • Naga Penakluk Hati   8. Pemilik Kamar

    Mimpi buruk yang kutakutkan terjadi. Tangan kiri Aegon yang bebas ... kini justru beralih memegang dada kananku. Aku bisa merasakan seluruh jarinya di bawah sana."Oh ... yang tadi kupegang ini rupanya?" Ia bertanya pada dirinya sendiri."Le-Lepaskan!"Tangannya malah makin menjadi. Ia meremas-remas

  • Naga Penakluk Hati   7. Punah

    "Hhhh ... sialan. Kenapa Berto harus bikin kaget seperti itu sih," gerutunya.Aku masih diam dan menahan rasa malu yang luar biasa. Kami hening di posisi yang sama. Rasanya mau menangis. Aku bisa merasakan tangannya yang kasar dan jari-jarinya yang panjang menggenggam buah dadaku."Ah!"Dan akhirnya

  • Naga Penakluk Hati   6. Air Suci

    Aku mondar-mandir di dalam kamarku. Insiden sore ini betul-betul bikin aku kepikiran. Aku jadi cemas dan gugup. Aku begitu sembrono menampar Aegon di depan semua orang. Sekarang apa? Pria itu gila. Dia bisa lakukan apapun untuk menyakitiku."Nona Lysa. Saya sudah siapkan handuk untuk Nona."Hanna ma

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status