MasukAku menatap ngeri pada lilin kecil di atas pisin putih. Sumbunya yang hitam menimbulkan benang transparan putih yang mengapung di udara. Perlahan asapnya telah raib, dan tanganku gemetar.
Apa aku ... akan mati juga seperti api ini?
Oh tidak. Aku harus bagaimana?!
Aku menengok ke belakang, kepada sayap emas Lilia yang masih membagikan lilin pada orang yang antre. Mungkin ... sebaiknya aku minta tolong padanya. Kuyakin dia pasti tahu harus bagaimana.
Tapi ... apiku mati di hadapan para dewa. Aku mendongak, melihat ke ketiga lukisan itu. Aetherion, Terravon, dan Vorthys. Apakah ketiganya yang telah sepakat membunuh apiku, dan juga membunuhku?
Mataku berkaca-kaca. Lututku mulai lemas.
Aku bahkan belum sempat berdoa, belum sempat bertobat. Aku mengalami sekali kematian. Aku tak pernah lupa rasanya. Takut. Takut sekali.
"Lilinmu mati?" tegur seseorang.
Aku tak percaya dengan apa yang kulihat. Di depanku berdiri seorang pemuda klan burung. Berkulit eksotis karamel yang sangat indah. Rambutnya pirang keemasan senada dengan bulu-bulu di sepasang sayapnya. Ornamen bulu emas disusun rapi seperti mahkota di kepala. Mata pemuda ini begitu hangat menatapku, begitu penuh kasih dan pengampunan.
Dia ... karakter yang nyaris kulupakan! Ikaruz!
"I-Ikaruz?" terkaku.
Ia tersenyum. Kemudian memberikan api lilinnya kepada sumbuku yang telah padam. Apiku menyala kembali.
"Ta-Tapi ... Lilia bilang ...."
"Hm?"
"Kalau apinya mati ... aku juga akan mati ...."
Ia terkekeh singkat. Sepertinya menertawakan kemalanganku.
"Tidak juga. Pertanda buruk mungkin iya. Tapi bukan kematian. Bisa jadi karena kau sedang kehilangan keimanannu. Iman seperti angin. Kadang dia kencang, kadang dia cuma sepoi-sepoi. Iman seperti ombak, kadang ia tinggi, kadang ia surut. Datang dan pergi. Sekarang ... kau bisa berdoa pada tiga dewa."
Aku sedikit terperanjat. Kalimatnya terdengar tak asing.
Ikaruz adalah tokoh yang jarang kuperhatikan. Karena ia pria yang begitu pasrah. Ia cuma bisa memendam rasa kepada Lilia. Bahkan saat Aegon terang-terangan mendekati Lilia, yang dilakukan oleh Ikaruz cuma berdoa kepada dewa. Berdoa dan berdoa.
Dan dewa memang berpihak padanya. Bukan sekali dua kali terjadi hal-hal diluar nalar atau kebetulan yang tak wajar.
"Bagaimana caranya berdoa? Apa ada mantra yang harus kuucapkan?"
Ikaruz menggeleng singkat. "Ucapkan saja permohonanmu, lalu tiup lilinnya."
"Sudah? Itu saja? Lalu apa yang akan terjadi?"
"Doa bukan untuk mengubah dunia," kata Ikaruz. "Kadang ... doa hanya mengubah orang yang mengucapkannya."
Lalu ia pergi.
Itu ... seharusnya kalimat yang ia ucapkan untuk Lilia setelah Aegon mempertanyakan kehendak dewa pada pertemuan pertamanya dengan Lilia. Yaitu setelah dia mengucap dialog kurang ajar tentang kuasa dewa yang tak seberapa. Tapi mengapa Ikaruz katakan kepadaku?
Aku menoleh ke belakang, kepada Lilia yang masih setia membagikan setiap lilin pada jemaat. Dia masih di sana. Aku bahkan tak melihat Aegon untuk ikut berdoa di kuil ini. Apa dialog itu sudah terjadi tanpa sepengetahuanku ya?
Sudahlah.
Aku bukan orang yang sangat relijius semasa hidup dulu. Kematianku begitu tiba-tiba dan konyol. Kenapa? Kenapa aku harus mati sekonyol itu? Dan seperti kematian-kematian lainnya, hal yang membuatku tak siap adalah perpisahan dan kehilangan. Aku berpisah dengan segala yang berharga bagiku. Kukira aku akan berada di tempat lain, yang mereka sebut surga atau neraka. Tapi aku berakhir di sini. Di dunia asing sebagai orang asing.
Dadaku sesak. Kupandangi cahaya lilin yang tenang itu. Kemudian aku mendongak pada ketiga lukisan di dinding.
'Wahai siapapun yang ada di sana ... di alam sana, di atas sana. Tuhan, dewa, roh suci, siapapun dirimu .... Kumohon, beri aku kesempatan sekali lagi untuk hidup. Kepada hidupku yang berharga. Aku ingin kembali.'
Kutiup lilin kecil ini hingga padam.
Seusai dari kuil, kuucapkan terimakasih pada Mimi yang sudah bersedia menemaniku.
Malam begitu cepat berlalu.
Makan malamku di antar ke kamar. Aku sudah membersihkan diriku dengan mandi air bunga. Betapa mewahnya mereka memperlakukanku. Namun hati yang kosong ini masih lengang. Diriku berdiri di tepi balkon memandang kepada langit malam yang disinari bulan keperakan.
Siapa tahu, ternyata bulan di dunia ini punya cincin seperti Saturnus. Indah. Keindahan yang asing. Buatku merasa semakin hilang.
xxx
Segalanya masih hitam."Versi Beta Aktif"
Sebuah tulisan mengapung di hadapanku. Bersamanya suara yang tak bisa kukenali apakah itu suara perempuan atau laki-laki.
'Hm?'
"Selamat datang di permainan berkencan terbaik!"
'Jodoh Putri Naga'
Sebuah judul terpampang, musik ceria dan romantis mengalun sering tampilnya judul itu.
'Ha? Apa ini?'
"Taklukkan pria-pria lajang dengan berbagai kepribadian unik untuk meraih Happy Ending!"
Kemudian judul itu berganti dengan siluet putih seorang pria. Di lehernya ada rantai besi yang mengikat. Rantai besi itu berkedip-kedip dan bergonta-ganti warna. Kemudian ada angka dengan tanda persen sebagai bandulnya.
Lalu sebuah penjelasan lain muncul.
'Adegan Rantai.'
"Rantai akan berubah-ubah warna sesuai dengan suasana hati pria lajang. Persentase perasaan bisa meningkat dan menurun seiring dengan perkembangan interaksimu!"
Rantai berubah berkedip warna putih, lalu sebuah tulisan muncul 'Netral'. Berikutnya rantai di leher berkedip dan berubah warna lain, beserta munculnya tulisan yang menjelaskan maknanya.
Kuning untuk 'Bersahabat'. Merah Muda untuk 'Menyimpan Rasa'. Merah untuk 'Cinta dan Gairah'. Biru dengan 'Obsesif' dan Hitam adalah 'Takluk'.
Rantai itu berkelap-kelip dengan warna-warna lain berkombinasi, seperti pelangi dan lainnya. Menunjukkan emosi campuran.
"Taklukkan dan tundukkan para pria lajang, tapi hati-hati dengan rantai ungu! Pria lajang berantai ungu bisa menyakitimu, atau bahkan membunuhmu!"
"Selamat bermain!"
Kini rantai berubah menjadi ungu. Ia berpendar begitu menyeramkan dan berasap-asap. Sementara siluet pria putih tersenyum menunjukkan gigi-gigi taringnya. Perlahan ia mendekat kepadaku, mengacungkan tangan kanannya yang berubah menjadi cakar besar tajam. Lalu tebasan kepadaku ia layangkan!
'AAAAA!'
Aku terbangun dari tidurku. Peluh membasahi seluruh tubuh. Napasku terengah berat. Aku ada di kamar asramaku. Samar dalam ingatan, tapi aku jelas memimpikan sesuatu yang nyaris mirip dengan awal mula permainan 'Jodoh Pangeran Naga'.
Tapi segalanya berbeda. 'Adegan Rantai'? Pria lajang?
'Apa yang ... terjadi?'
Dingin.Dingin sekali.Aku mendengar seseorang terengah. Napasnya memburu. Ia mengerang pelan. Aku bisa mendengarnya mendesah dengan sebuah ritme.Samar-samar pandanganku mulai jelas meski masih agak buram. Aku melihat seseorang di atasku. Dekat sekali.Leher itu, dililit oleh tato rantai yang berpendar ungu.'Ungu?'Ia berpendar seperti asap yang mengamuk. Angka yang ada di rantai itu jelas.'-85%'Minus delapan puluh lima persen? Minus lima belas persen lagi pasti aku sudah dibunuh olehnya. Tapi ... dia siapa? Apa aku sedang bermimpi?"Sial! Ah! Ah! Ah! Hhh. Sadarlah!"Ia berseru di tengah desahan-desahan itu. Tubuh yang pejal, dada bidang dan terlihat sangat kuat. Aku bisa mencium aroma tubuhnya yang wangi. Ia begitu dekat. Aku tak bisa menjawab apapun, atau merespon apapun. Betapa i
Aegon terlihat sangat marah. Aku tahu dia suka marah-marah. Tapi ... dicemooh oleh Felix seperti itu, aku yakin dia lebih mengamuk lagi. Aku tak tahu apa yang akan ia lakukan kepadaku. Apa mungkin ia akan menyiksaku? Atau lebih buruk, membunuhku?!Oh sial. Berapa kali aku harus mendapat percobaan pembunuhan dalam sehari?!Langkahnya tak berhenti. Aku susah payah mengimbanginya, dengan tubuh dan baju basah kuyup yang mulai dingin. Dengan kakiku yang tak sepanjang Aegon. Ia menyeretku dengan kasar dan tergesa. Semua orang yang melihat kami kini berbisik-bisik, atau menatap ngeri pada wajah mengamuk Aegon. Atau mungkin juga mengataiku yang basah dengan jejak air yang membuat lantai koridor akademi jadi becek.Kemudian ia membawaku ke suatu tempat lain. Aku bisa melihat ramb
Napasku tinggal sedikit lagi. Mungkin beberapa detik yang akan datang, aku hanya akan bisa menghirup air ke dalam paru-paru.Aku takut.Di sini gelap sekali.Jauh lebih menyeramkan dibandingkan saat aku mati tersedak mie instan murah. Setidaknya aku masih bisa melihat langit. Aku masih bisa melihat Abigail yang meraung dan menangis untukku. Tapi sekarang ... tidak ada siapa-siapa lagi. Aku akan mati di sini tanpa seorang pun menyadarinya. Aku akan mati ... sendirian.Aku tak bisa melepaskan diri dari jeratan tanaman ini. Dan udara di atas sana jauh sekali.Jika aku bisa menangis, mungkin aku sudah menangis, tapi aku yakin air di kolam ini telah melaru
Aku sudah tidak selera nongkrong di perpustakaan, atau baca buku, atau bersama dengan Mimi. Dia sangat bingung ketika aku tiba-tiba bilang padanya bahwa aku ada urusan lain. Pagi ini masih lengang, belum banyak siswa yang berlalu lalang. Terutama dekat kolam air mancur dimana para duyung biasa bermain-main. Tapi yang kulakukan sekarang cuma mondar-mandir dan bolak-balik dengan menggigiti kuku jariku.Cemas dan bingung.Mungkin firasatku benar. Aku ... kini menjadi karakter utama dalam permainan ini. Tapi bagaimana dengan Aegon? Kucoba begitu keras mengingat-ingat mimpiku semalam. Hal yang sangat jelas bagiku adalah 'Jodoh Putri Naga'. Judulnya berubah. Semua yang kualami ... juga cukup berbeda dengan segala yang telah kumainkan. Lalu ... apa maksudnya dengan 'Versi Beta'? Apakah itu semacam versi lain dari permainan in
"Hoaaam!" gadis kelinci itu menguap. "Kenapa kau minta aku menemanimu? Buat apa ke perpustakaan pagi-pagi begini," keluh Mimi.Aku cuma bisa tersenyum. Aku tak bisa menceritakannya isi mimpiku semalam. Aku sudah bertekad untuk jadi pemeran sampingan saja. Akan kubiarkan Aegon untuk melalui rute ceritanya sendiri, berinteraksi dengan para gadis lajang dan aku tak akan menghalanginya. Untuk mewujudkan tujuanku menjadi karakter sampingan, tentu saja aku harus belajar dari ahlinya. Mimi.Ia masih menguap-nguap setengah mengantuk.Ini memang terlalu pagi untuk siapapun datang ke perpusatakaan."Aku cuma tidak ingin ke perpustakaan pagi-pagi. Lagipula, aku sudah bilang padamu kalau aku hilang ingatan
Aku menatap ngeri pada lilin kecil di atas pisin putih. Sumbunya yang hitam menimbulkan benang transparan putih yang mengapung di udara. Perlahan asapnya telah raib, dan tanganku gemetar.Apa aku ... akan mati juga seperti api ini?Oh tidak. Aku harus bagaimana?!Aku menengok ke belakang, kepada sayap emas Lilia yang masih membagikan lilin pada orang yang antre. Mungkin ... sebaiknya aku minta tolong padanya. Kuyakin dia pasti tahu harus bagaimana.Tapi ... apiku mati di hadapan para dewa. Aku mendongak, melihat ke ketiga lukisan itu. Aetherion, Terravon, dan Vorthys. Apakah ketiganya yang telah sepakat membunuh apiku, dan juga membunuhku?Mataku berk







