LOGINBeberapa hari telah berlalu sejak malam puncak Lumina Abyss, dan atmosfer di sekitar akademi perlahan-lahan mulai berjalan normal kembali. Koridor-koridor dan kafetaria yang sempat lengang kini kembali dipenuhi oleh suara bising para murid duyung yang baru saja pulang dari perayaan suci di bawah laut. Sisi baiknya, aku tidak perlu lagi merasa heran dengan koridor yang mendadak sepi.
Sore it
Cahaya lampu neon yang putih menusuk retinaku. Bau antiseptik yang tajam menyengat hidung, memicu ingatan samar tentang sesuatu yang jauh, sesuatu yang gelap dan penuh kode. Aku mengerang, berusaha menggerakkan jari-jariku yang terasa kaku."Pasien sudah sadar. Monitor detak jantungnya stabil," suara dingin seorang pria memecah keheningan.Dokter dan perawat tampak sibuk di sekeliling ranjangku, wajah mereka serius dan profesional. Aku menatap mereka dengan tatapan bingung yang mendalam. Suaraku tercekat saat bertanya, "Aku... di mana?"Dokter itu menghela napas, melepas kacamatanya. "Selamat datang kembali, Nancy. Kau berada di fasilitas medis milik perusahaan AEON, pengembang game 'Jodoh Pangeran Naga'."Tubuhku menegang. Nama itu ... itu bukan sekadar permainan."Secara medis, seharusnya kau sudah meninggal tiga tahun lalu," lanjut dokter itu dengan nada datar. "Namun, keluarga dan perusahaan sepakat untuk tidak membiarkanmu
Enma melepaskan genggamannya, dan dunia di sekitarku kembali ke realita yang mencekam. Lututku lemas, hampir saja aku ambruk ke tanah marmer yang dingin, jika saja Aegon tidak sigap memegang bahuku. Napasku memburu, paru-paruku serasa disumpal kapas.Segala kenangan yang kulihat barusan—ratusan kematian yang menyakitkan, kegagalan yang berulang-ulang, setiap kali aku harus memilih pria yang berbeda, dan setiap kali pula permainan ini mereset diriku kembali ke titik awal—semuanya membanjiri kepalaku seperti air bah. Aku bukan hanya Lysa. Aku adalah Nancy yang terjebak di dalam neraka simulasi."Lysa, jawab aku! Apa yang dia katakan soal 'Nancy'?" Aegon mendesak, suaranya dipenuhi kecemasan yang asing, namun tatapannya kini beralih pada Enma dengan kebencian yang murni. "Enma, apa yang kau lakukan pada tunanganku?!""Tunangan?" Enma tertawa kecil, suara tawa itu begitu dingin, begitu familiar. "Kau masih terjebak dalam skrip yang mereka t
Langit Akademi Aurelion tampak kelabu, seolah turut berduka atas kepergian sang penjaga kuil yang bijaksana. Kakek Daeruz telah tiada. Upacara pemakaman dilakukan dengan khidmat di pelataran kuil yang luas.Ikaruz berdiri di depan altar, tubuhnya tampak ringkih dibalut jubah hitam. Matanya sembab karena menangis semalaman, namun saat ia menatap kerumunan, ia berusaha menegakkan bahunya."Kakek Daeruz bukan hanya seorang penjaga kuil," Ikaruz memulai, suaranya parau namun perlahan menguat. "Bagi kalian, dia mungkin hanyalah orang tua yang mengoceh tentang masa lalu. Tapi bagiku, dia adalah perpustakaan hidup. Dia mengajarkanku bahwa mencintai seseorang dengan tulus, meski dunia memisahkanmu dengan tembok klan, adalah bentuk keberanian tertinggi. Dia tidak pernah menyesali pilihannya untuk tetap mencintai Maika hingga hembusan napas terakhirnya. Dia mengajarkanku bahwa kesetiaan bukan tentang apa yang kita dapatkan, tapi tentang apa yang kita pertahankan di dalam hat
Kejadian di kolam bawah tanah menyisakan gema yang panjang di Akademi Aurelion. Klan duyung kini tampak menarik diri, bayang-bayang mereka tak lagi sesering sebelumnya, seolah sedang menunggu perintah baru dari para tetua mereka. Namun, perhatian yang hilang dari klan duyung justru dialihkan oleh tatapan-tatapan intens dari klan serigala. Ke mana pun aku melangkah, bisik-bisik mereka mengikutiku, seperti kawanan predator yang sedang mengamati mangsa yang menarik perhatian sang pemimpin.Rex Skarnfang akhirnya menghentikan langkahku di koridor menuju perpustakaan. Sang Alpha itu berdiri tegak, auranya yang dominan membuat beberapa murid yang lewat segera menyingkir."Kau menghindariku, Lysa," suaranya berat, namun ada nada frustrasi yang tertahan di sana. Dia melipat tangannya di dada, matanya yang tajam menuntut jawaban. "Mengapa kau terus menolak? Menjadi Luna berarti kau akan berdiri di sisiku sebagai ratu di atas segala klan serigala. Kekuatan, perlindungan, tak
Air yang dingin segera menelan mereka.Aku belum pernah menyelam sedalam ini dengan tubuh nagaku, tanpa Napas Duyung. Meski ramuan itu membuatku bisa bernapas, bergerak di bawah air tetap terasa berat. Setiap kayuhan tangan membutuhkan tenaga berlipat ganda.Baelon tampak jauh lebih kesulitan.Jubah kepala akademi itu berkibar-kibar di belakangnya seperti bendera tenggelam. Jin berenang paling tenang. Sesekali ia memberi petunjuk arah agar Baelon tidak tersesat. Sementara itu aku memimpin."Arah sana," kataku sambil menunjuk ke dasar kolam."Bagaimana kau tahu?" tanya Baelon."Aku pernah diseret ke sana."Baelon mengerutkan dahi.Kami terus turun. Semakin dalam, cahaya dari permukaan semakin memudar. Batu-batu hitam besar mulai bermunculan. Kemudian Aku melihat sesuatu yang kukenal.Sekelompok rumput laut raksasa.Daunnya panjang dan tebal seperti ular hijau gelap yang melambai-lambai mengikuti
Tubuhku gemetar hebat. Bukan hanya karena air kolam yang dingin, melainkan karena adrenalin yang mulai surut, menyisakan ketakutan akan keselamatan Felix. Profesor Jin mungkin terlihat akan membantuku, tapi aku tahu pria itu adalah variabel yang tidak bisa diprediksi. Aku tidak bisa mengandalkannya sepenuhnya. Aku butuh sekutu yang memiliki otoritas dan kepekaan nurani yang lebih tinggi.Dengan langkah gontai, aku menyeret diriku menuju menara Kelas Ramalan. Untunglah dia belum meninggalkan kelas ini. Profesor Cleon, seorang wanita Animari burung yang anggun dan bijaksana, sedang merapikan kartu-kartu tarot kunonya."Lysa? Ada apa denganmu? Kau terlihat seperti baru saja bangkit dari kubur," tanya Profesor Cleon, matanya yang tajam di balik kacamata berbingkai emas menyiratkan kekhawatiran.Aku tak membuang waktu. Dengan suara serak, aku menumpahkan segalanya—tentang konspirasi pembunuhan orang tua Felix, tentang jurnal yang disita, hingga penyanderaan yan







