เข้าสู่ระบบMata emas Aegon semakin tajam dan lebih murka dari sebelumnya. Suapan kue vanilanya terhenti di udara. Lalu sendok kecil itu ia letakkan sembarangan di piring makanan penutup. Kursi berderit. Ia berdiri tiba-tiba, lalu melangkah cepat ke kursiku. Begitu kasar ia mencengkeram lengan kananku.
"Ayo ikut aku!" perintah Aegon.
Ia menarikku keluar dari ruang makan. Begitu memaksa, begitu tergesa. Melalui lorong kastil yang panjang dan dihias permadani merah darah serta tembok hitam yang digantungi lukisan-lukisan mahal. Ia membawaku ke sebuah ruangan lain yang tak banyak orang. Ia jeblakkan pintu itu dengan kasar. Lalu menutupnya sembarangan. Dentuman keras antar kayu pintu terdengar seperti ledakan kecil.
Entah ruang apa ini, mungkin ruang santai biasa dengan sofa-sofa dan meja kecil.
"Akk!"
Aegon mencekikku. Lagi. Tangannya begitu cepat menguasai leher. Aku didorongnya dan dipojokkannya ke daun pintu. Tubuh kami dekat, tatapannya dengan sepasang mata emas begitu mengerikan.
"Kau bicara apa, hah?" tanyanya tajam.
"Aku ... aku cuma minta agar tunangan kita dibatalkan. Ukkh! L-Lepaskan!"
"Permainan macam apa yang sedang kau lakukan padaku?!"
Aku menggeleng semampuku. Napasku semakin pendek.
"Lepaskan aku ... ukkk ... brengsek! Kau ... bajingan! Aku tidak ... mau bertunangan ... denganmu!"
Aegon terhenti. Alisnya mengernyit dalam. "Kau panggil aku apa?!" Ia nampak begitu kaget.
Ia melepas cengkeramannya dari leherku, namun matanya tidak. Aku membungkuk dan menarik napas dalam-dalam begitu terburu. Kuraba leherku yang masih utuh dan lepas dari rasa sakit.
"Uhuk! Uhuk! Ukkkhh. Jika kau tidak suka dengan pertunangan ini, kita batalkan saja!" ulangku. "Aku tidak mau punya suami bajingan sepertimu!"
Alis hitam Aegon mengernyit. Mungkin sedang mencerna kalimat-kalimatku. Juga begitu waspada.
"Kau sebut aku apa?! Bajingan?! Sejak kapan kau berani padaku?!"
"Hah! Memang bajingan! Dasar gila! Orang waras mana yang mencekik tunangannya sendiri?!"
Aegon terdiam.
Bukan diam yang tenang melainkan diam yang berbahaya. Urat di pelipisnya terlihat menegang. Rahangnya mengeras. Namun anehnya, kali ini ia tidak langsung menyerangku lagi. Sebaliknya ... ia menatapku dalam. Seolah-olah aku adalah sesuatu yang asing.
"... Kau," gumamnya pelan, nyaris seperti bisikan yang tertahan, "benar-benar berbeda."
Aku menyipitkan mata. "Apa maksudmu?"
Ia tidak langsung menjawab. Tangannya yang tadi mencengkeram kini perlahan turun, namun aura ancaman di sekitarnya belum juga hilang.
"Biasanya kau..." ia berhenti sejenak, seperti jijik mengingat sesuatu, "... tidak pernah melawan. Bahkan tidak berani menatap mataku."
Ah. Jadi Lysa yang asli memang selemah itu.
"Ya, mungkin aku sudah berubah," kataku singkat, sambil menegakkan tubuh. "Atau mungkin ... aku akhirnya sadar."
"Sadar?" ulangnya dingin.
Aku menatap lurus ke mata emasnya.
"Sadar kalau aku tidak perlu hidup menyedihkan demi pria yang bahkan menginginkan aku mati."
Ruangan itu langsung terasa lebih dingin. Untuk sesaat, tidak ada suara selain napas kami berdua. Aegon menyeringai tipis. Namun senyum itu ... bukan senyum biasa. Itu senyum seseorang yang baru menemukan sesuatu yang menarik.
"... Menarik," ujarnya pelan.
"Apa lagi sekarang?" ketusku.
Ia melangkah mendekat lagi—pelan kali ini, bukan seperti sebelumnya. Jarak kami kembali dekat, tapi kali ini bukan dengan kekerasan... melainkan tekanan.
"Kalau kau benar-benar ingin membatalkan pertunangan ini," katanya, suaranya rendah dan tajam, "kau pikir semudah itu?"
Aku mengerutkan kening. "Bukannya kau juga tidak menginginkannya?"
"Aku memang tidak menginginkanmu," jawabnya tanpa ragu. Oke. Sakit sih. Tapi aku sudah menduganya. "Tapi ...," lanjutnya, "aku tidak akan membiarkanmu pergi begitu saja."
"Hah? Kenapa?!"
Matanya menyipit.
"Karena," katanya pelan, "seorang pembunuh tidak boleh bebas."
Ah. Balik lagi ke situ. Aku menghela napas panjang, menahan emosi.
"Dengar ya," kataku sambil menunjuk dadanya, "aku tidak membunuh siapa-siapa."
Ia tertawa kecil. Pendek. Tapi cukup membuat bulu kudukku merinding.
"Kau benar-benar tidak ingat apa-apa ya," katanya.
Aku mengerutkan kening. "Apa maksudmu?"
Aegon melangkah mendekat lagi. Kali ini tidak mencekik. Tidak kasar. Justru itu yang membuatnya lebih menakutkan. Tangannya terangkat ... lalu perlahan menyentuh daguku, memaksaku menatap lurus ke matanya.
"Kalau aku membiarkanmu pergi," bisiknya rendah, "lalu siapa yang akan aku salahkan?"
Dadaku terasa sesak.
"... Apa?"
Mata emas itu menatapku tanpa emosi.
"Siapa yang akan aku benci," lanjutnya pelan, "kalau bukan kau?"
Aku membeku. Jadi ini bukan soal bukti. Bukan soal benar atau salah. Dia ... memilih. Memilih untuk membenciku.
"Kau ...," suaraku serak, "kau tahu aku tidak membunuhnya, kan?"
Untuk pertama kalinya ada jeda. Sangat singkat namun cukup. Dan itu sudah menjadi jawaban. Aegon tidak menyangkal. Tapi juga tidak membenarkan. Ia hanya menyeringai tipis.
"Tidak penting," katanya ringan.
Tidak. Penting.
Itu penting sekali, dasar psikopat.
"Yang penting," lanjutnya, "kau masih hidup."
Tangannya turun dari daguku. Namun kemudian tiba-tiba ia mencengkeram bahuku keras.
"Dan selama kau masih hidup," suaranya berubah lebih dalam, lebih berat, "aku tidak akan membiarkanmu lepas dariku."
Aku menepis tangannya.
"Gila."
"Ya," jawabnya tanpa ragu. "Aku tahu."
Aku menatapnya tajam. "Kalau kau membenciku, kenapa tidak kau bunuh saja sekalian?!"
Ruangan itu mendadak hening. Aegon memandangku. Lama. Lalu .... Ia tersenyum. Senyum yang jauh lebih mengerikan dari sebelumnya.
"Membunuhmu?" ulangnya pelan. Ia menggeleng. "Terlalu cepat."
...
Sial. Ia melangkah mendekat lagi. Kini jaraknya sangat dekat. Napasnya bisa kurasakan.
"Kematian itu ... akhir," bisiknya. "Dan aku tidak ingin kau mendapat akhir yang mudah."
Tanganku mengepal. Amarah mulai naik, menyingkirkan rasa takut.
"Jadi kau mau apa?" tanyaku tajam.
"Sederhana."
Ia mundur selangkah. Memberiku ruang ... tapi bukan kebebasan.
"Kau tetap di sini dan kau tetap menjadi tunanganku. Akan kupastikan hidupmu seperti di neraka." Tatapannya kembali tajam. "Setidaknya ... sampai aku bosan."
Ia menyeringai begitu menyeramkan. Kemudian Aegon pergi meninggalkanku sendiri di ruangan ini. Suara pintu menghantam keras. Kuyakin dia telah merasa menang mengancamku begini. Pintu tertutup. Aku berdiri diam beberapa detik.
SIAL.
Cahaya lampu neon yang putih menusuk retinaku. Bau antiseptik yang tajam menyengat hidung, memicu ingatan samar tentang sesuatu yang jauh, sesuatu yang gelap dan penuh kode. Aku mengerang, berusaha menggerakkan jari-jariku yang terasa kaku."Pasien sudah sadar. Monitor detak jantungnya stabil," suara dingin seorang pria memecah keheningan.Dokter dan perawat tampak sibuk di sekeliling ranjangku, wajah mereka serius dan profesional. Aku menatap mereka dengan tatapan bingung yang mendalam. Suaraku tercekat saat bertanya, "Aku... di mana?"Dokter itu menghela napas, melepas kacamatanya. "Selamat datang kembali, Nancy. Kau berada di fasilitas medis milik perusahaan AEON, pengembang game 'Jodoh Pangeran Naga'."Tubuhku menegang. Nama itu ... itu bukan sekadar permainan."Secara medis, seharusnya kau sudah meninggal tiga tahun lalu," lanjut dokter itu dengan nada datar. "Namun, keluarga dan perusahaan sepakat untuk tidak membiarkanmu
Enma melepaskan genggamannya, dan dunia di sekitarku kembali ke realita yang mencekam. Lututku lemas, hampir saja aku ambruk ke tanah marmer yang dingin, jika saja Aegon tidak sigap memegang bahuku. Napasku memburu, paru-paruku serasa disumpal kapas.Segala kenangan yang kulihat barusan—ratusan kematian yang menyakitkan, kegagalan yang berulang-ulang, setiap kali aku harus memilih pria yang berbeda, dan setiap kali pula permainan ini mereset diriku kembali ke titik awal—semuanya membanjiri kepalaku seperti air bah. Aku bukan hanya Lysa. Aku adalah Nancy yang terjebak di dalam neraka simulasi."Lysa, jawab aku! Apa yang dia katakan soal 'Nancy'?" Aegon mendesak, suaranya dipenuhi kecemasan yang asing, namun tatapannya kini beralih pada Enma dengan kebencian yang murni. "Enma, apa yang kau lakukan pada tunanganku?!""Tunangan?" Enma tertawa kecil, suara tawa itu begitu dingin, begitu familiar. "Kau masih terjebak dalam skrip yang mereka t
Langit Akademi Aurelion tampak kelabu, seolah turut berduka atas kepergian sang penjaga kuil yang bijaksana. Kakek Daeruz telah tiada. Upacara pemakaman dilakukan dengan khidmat di pelataran kuil yang luas.Ikaruz berdiri di depan altar, tubuhnya tampak ringkih dibalut jubah hitam. Matanya sembab karena menangis semalaman, namun saat ia menatap kerumunan, ia berusaha menegakkan bahunya."Kakek Daeruz bukan hanya seorang penjaga kuil," Ikaruz memulai, suaranya parau namun perlahan menguat. "Bagi kalian, dia mungkin hanyalah orang tua yang mengoceh tentang masa lalu. Tapi bagiku, dia adalah perpustakaan hidup. Dia mengajarkanku bahwa mencintai seseorang dengan tulus, meski dunia memisahkanmu dengan tembok klan, adalah bentuk keberanian tertinggi. Dia tidak pernah menyesali pilihannya untuk tetap mencintai Maika hingga hembusan napas terakhirnya. Dia mengajarkanku bahwa kesetiaan bukan tentang apa yang kita dapatkan, tapi tentang apa yang kita pertahankan di dalam hat
Kejadian di kolam bawah tanah menyisakan gema yang panjang di Akademi Aurelion. Klan duyung kini tampak menarik diri, bayang-bayang mereka tak lagi sesering sebelumnya, seolah sedang menunggu perintah baru dari para tetua mereka. Namun, perhatian yang hilang dari klan duyung justru dialihkan oleh tatapan-tatapan intens dari klan serigala. Ke mana pun aku melangkah, bisik-bisik mereka mengikutiku, seperti kawanan predator yang sedang mengamati mangsa yang menarik perhatian sang pemimpin.Rex Skarnfang akhirnya menghentikan langkahku di koridor menuju perpustakaan. Sang Alpha itu berdiri tegak, auranya yang dominan membuat beberapa murid yang lewat segera menyingkir."Kau menghindariku, Lysa," suaranya berat, namun ada nada frustrasi yang tertahan di sana. Dia melipat tangannya di dada, matanya yang tajam menuntut jawaban. "Mengapa kau terus menolak? Menjadi Luna berarti kau akan berdiri di sisiku sebagai ratu di atas segala klan serigala. Kekuatan, perlindungan, tak
Air yang dingin segera menelan mereka.Aku belum pernah menyelam sedalam ini dengan tubuh nagaku, tanpa Napas Duyung. Meski ramuan itu membuatku bisa bernapas, bergerak di bawah air tetap terasa berat. Setiap kayuhan tangan membutuhkan tenaga berlipat ganda.Baelon tampak jauh lebih kesulitan.Jubah kepala akademi itu berkibar-kibar di belakangnya seperti bendera tenggelam. Jin berenang paling tenang. Sesekali ia memberi petunjuk arah agar Baelon tidak tersesat. Sementara itu aku memimpin."Arah sana," kataku sambil menunjuk ke dasar kolam."Bagaimana kau tahu?" tanya Baelon."Aku pernah diseret ke sana."Baelon mengerutkan dahi.Kami terus turun. Semakin dalam, cahaya dari permukaan semakin memudar. Batu-batu hitam besar mulai bermunculan. Kemudian Aku melihat sesuatu yang kukenal.Sekelompok rumput laut raksasa.Daunnya panjang dan tebal seperti ular hijau gelap yang melambai-lambai mengikuti
Tubuhku gemetar hebat. Bukan hanya karena air kolam yang dingin, melainkan karena adrenalin yang mulai surut, menyisakan ketakutan akan keselamatan Felix. Profesor Jin mungkin terlihat akan membantuku, tapi aku tahu pria itu adalah variabel yang tidak bisa diprediksi. Aku tidak bisa mengandalkannya sepenuhnya. Aku butuh sekutu yang memiliki otoritas dan kepekaan nurani yang lebih tinggi.Dengan langkah gontai, aku menyeret diriku menuju menara Kelas Ramalan. Untunglah dia belum meninggalkan kelas ini. Profesor Cleon, seorang wanita Animari burung yang anggun dan bijaksana, sedang merapikan kartu-kartu tarot kunonya."Lysa? Ada apa denganmu? Kau terlihat seperti baru saja bangkit dari kubur," tanya Profesor Cleon, matanya yang tajam di balik kacamata berbingkai emas menyiratkan kekhawatiran.Aku tak membuang waktu. Dengan suara serak, aku menumpahkan segalanya—tentang konspirasi pembunuhan orang tua Felix, tentang jurnal yang disita, hingga penyanderaan yan
Langkahku makin cepat. Lorong kastil terasa panjang. Terlalu panjang. Sial. Aku tidak menoleh. Tidak boleh. Kalau aku menoleh, dia pasti ...."Hey!"Suaranya. Dekat. Terlalu dekat. Tanganku refleks mengepal. Aku berhenti. Namun tidak berbalik."Aku sudah bilang aku tidak akan bicara lagi denganmu,"
Aku memakai baju tidurku sedini mungkin sebelum Hanna atau siapapun datang ke kamarku. Untunglah Hanna tak bertanya yang aneh-aneh melihat kamar yang berantakan. Pagi itu aku tidak menunggu lama setelah berdandan.Dengan wajah masih panas dan kepala penuh tanda tanya, aku langsung keluar dari kamar.
Mimpi buruk yang kutakutkan terjadi. Tangan kiri Aegon yang bebas ... kini justru beralih memegang dada kananku. Aku bisa merasakan seluruh jarinya di bawah sana."Oh ... yang tadi kupegang ini rupanya?" Ia bertanya pada dirinya sendiri."Le-Lepaskan!"Tangannya malah makin menjadi. Ia meremas-remas
"Lysa lihat aku!" Aegon sang pangeran naga berseru. "Aku tunanganmu! Mereka bukan siapa-siapa! Ayo, pulanglah bersamaku!""Kau bicara apa hah?! Dia itu milikku! Aku telah menandainya sebagai pasanganku! Jangan macam-macam kau!" Rex si Alpha serigala menyahut dengan geraman beserta taring-taring buas







