MasukDirgantara tertawa keras melihat wajah kedua sahabatnya yang penuh dengan jepitan jemuran, sementara yang ditertawakan hanya mendengkus kesal karena kalah.
"Camilan hari ini bakso goreng ala Rain dan Sarah," ujar Rain sangat bangga dengan kreasi yang ia buat kali ini. Setelah menaruh piring dan gelas-gelas itu di meja, tawa Rain langsung menggelegar kala melihat wajah kedua sahabatnya yang sudah penuh dengan jepitan. Baik Samudra maupun Bintang hanya bisa mendengkus kesal menerima kekalahan telak. "Mainnya udah dulu, sekarang waktunya makan!" Perintah Rain sudah seperti seorang ibu yang mengingatkan anak-anaknya yang keasyikan bermain. Bintang membuang napasnya dengan sangat keras seraya melepaskan jepitan-jepitan yang masih menempel di wajahnya, begitupun dengan Samudra. Namun, pemuda itu dikejutkan dengan pergerakan Rain yang tiba-tiba duduk di sampingnya lalu mengulurkan tangannya untuk membantu melepaskan jepitan-jepitan tersebut. Samudra sempat terpaku beberapa saat karena selama mereka bersahabat, baru kali ini ia bisa melihat wajah Rain dari jarak yang sangat dekat. Samudra sampai menahan napas kala jantungnya berdebar lebih cepat. "Pasti sakit ya?" tanya Rain sedikit meringis kala membayangkan bagaimana jika jepitan-jepitan itu menempel di wajahnya, sedangkan yang ditanya masih dengan keterdiamannya. Samudra memejamkan matanya sejenak untuk menenangkan debaran jantungnya yang menggila. Setelah cukup tenang, perlahan ia membuka matanya kembali dan hal pertama yang ia lihat adalah senyuman manis gadis itu. Sialnya debaran itu kembali lagi bahkan lebih gila dari sebelumnya. Samudra sempat berpikir apakah itu adalah gejala serangan jantung? tetapi, jika memang benar, kenapa ia tidak merasakan sakit? "Udah cukup tatap-tatapannya sahabat-sahabatku," celetuk Bintang yang langsung mendapat delikan tajam dari Rain. "Ya ampun wajahmu sampai merah, Sam," ujar Rain setelah kembali memperhatikan wajah Samudra setelah jepitan-jepitan itu ia lepaskan. "Sakit banget ya?" Ia mengulangi pertanyaan yang belum dijawab oleh Samudra. Pemuda itu menggeleng sebagai jawaban. Lalu dengan cepat ia mengambil salah satu gelas yang ada di sana dan hendak meminumnya. Dia haus! jantungnya menggila. Namun, sebelum gelas itu benar-benar menempel di bibirnya, Rain sudah terlebih dahulu mengambilnya. "Ini bukan punyamu," kata Rain seraya menyimpan kembali gelas tersebut dan memberikan gelas yang benar. Sebagai informasi saja kalau Samudra itu alergi dengan susu sapi. Perutnya akan langsung menolak cairan berwarna putih tersebut yang bisa mengakibatkan bulak-balik toilet, muntah-muntah, bahkan sampai demam tinggi. "Thanks." Balasnya seraya mengambil gelas yang benar lalu meminumnya dengan perlahan. Sungguh ia tak pernah merasa secanggung ini pada Rain sebelumnya. Tingkah laku Samudra kali ini benar-benar terlihat berbeda. Pemuda itu lebih banyak diam dan sepertinya Sarah menyadari perubahan sikap sepupunya itu sehingga ia memutuskan untuk bertanya. "Hei, kenapa?" tanya Sarah. Seakan tahu maksud pertanyaan sepupunya, Samudra hanya mengangkat bahunya serta kembali menyentuh dadanya yang masih berdebar-debar walau tidak segila tadi. *** Hari ini Angkasa sedang menemani adiknya untuk membeli tas impiannya. Pilihannya jatuh pada tas little ponny berwarna pink dengan hiasan gantungan ekor kuda serupa. "Vina mau ini." Gadis kecil itu memeluk tas yang telah ia pilih. Angkasa melihat harganya, tertulis Rp 250.000,- "Bener mau ini?" tanya Angkasa memastikan adiknya tidak salah pilih. Gadis kecil itu langsung mengangguk tanpa ragu sedikitpun. "Mbak," panggil Angkasa pada pelayan di sana. "Iya Mas? Ada yang bisa saya bantu?" tanya pelayan itu dengan ramah. "Ini harganya gak bisa kurang gitu, Mbak? Dua ratus ribu deh," Angkasa mencoba bernegosiasi untuk mendapatkan tas tersebut dengan harga yang lebih murah. "Aduh, maaf Mas, ini sudah harga pas," kata pelayan tersebut menolak secara halus. "Beneran gak bisa kurang, Mbak?" tanya Angkasa tidak pantang menyerah. "Maaf, Mas." Pelayan itu menempelkan telapak tangannya memberikan tanda bahwa tas itu benar-benar tidak bisa ditawar. Angkasa melihat adiknya yang sudah memeluk tas impiannya, ia tidak tega jika tidak jadi membelinya. "Ya udah deh Mbak, saya beli. Kualitasnya bagus kan?" tanya Angkasa lagi. Dia tidak ingin mengeluarkan uang cukup besar hanya untuk tas yang berkualitas jelek. "Saya berani jamin Mas, soalnya ponakan dan adik saya juga pakai," kata pelayan itu meyakinkan calon pembelinya. "Terima kasih," ucap seorang kasir setelah Angkasa mengeluarkan uang pas lalu memberikan barang belanjaannya kepada adiknya. Gadis kecil itu terlihat begitu senang. "Makasih, Aa." Lanjutnya mencium Angkasa beberapa kali saking senangnya mendapatkan tas baru. "Vina janji sama Aa, kalau Vina harus lebih rajin lagi belajarnya." Ingat Angkasa langsung memangku adik kesayangannya itu. "Siap." Gadis kecil itu menempelkan tangannya ke dahi membentuk gerakan hormat. Setelah sampai rumah Vina langsung memamerkannya pada sang ibu. "Ibu, lihat! Tas Vina bagus, kan?" Gadis itu menunjukan tas yang baru saja ia beli dengan sang kakak tercinta. "Iya, bagus," jawab Maya seraya tersenyum pada gadis kecilnya itu. "Aa, Ibu, Vina ke kamar dulu ya. Mau nunjukin tas baru Vina ke Lulu." Gadis kecil itu berlalu pergi ke kamarnya sambil bersenandung di sepanjang jalan. Lulu adalah boneka kesayangan miliknya. Boneka itu adalah kado ulang tahun dari Angkasa saat ia berulang tahun ke-5 tahun. "A," panggil Maya. "Aa, dapat uang dari mana buat beli tas itu?" tanyanya. Angkasa menatap ibunya lalu memberikan seutas senyum untuk menenangkannya. "Ibu tenang aja, Aa beli dengan uang halal kok," jawab Angkasa. Ibunya tidak perlu tahu kalau ia memakai uang hasil kerja paruh waktunya untuk membeli tas tersebut. *** Baskara sedang berada di rumah sakit tempat neneknya di rawat. Kebetulan hari ini ayah serta kakaknya tidak ada di sana. "Babas," "Iya, Nek?" Baskara memegang tangan neneknya yang sudah tidak sekencang dulu. "Sudah makan, nak?" tanya sang nenek dengan suara lemah. Pemuda itu menggeleng serta balik bertanya. "Nenek butuh sesuatu?" "Jagoan nenek sudah besar." Bukan menjawab pertanyaan sang cucu, wanita tua itu malah bergumam kecil seraya menepuk tangan cucu kesayangannya. Baskara menatap sendu ke arahnya, menggenggam tangan lemah wanita yang sudah seperti seorang ibu untuknya. "Nenek tinggal di tempat Babas ya, biar Babas bisa rawat nenek 24 jam," pintanya. Wanita tua itu menggeleng lemah. "Nenek tidak apa-apa. Nenek mau menghabiskan sisa umur nenek di rumah itu, rumah kenangan nenek dengan kakekmu." Iya, selama ini nenek sangat mencintai kakek. Mungkin itu yang dinamakan cinta sejati. Padahal saat kakek meninggal, usia nenek masih seperempat abad, usia ayah Baskara saja belum genap 3 tahun. Besar kemungkinan jika nenek menikah lagi. Namun, kesetiannya pada kakek begitu besar. Nenek berkata, "Kalau nenek menikah lagi, nenek tidak akan bersatu dengan kakek di surga." Sungguh manisnya kisah cinta mereka. "Nenek, jauh-jauh dari dia!" Bentak Brisia mendorong tubuh Baskara ke belakang. "Brisia! Jaga ucapanmu," seru neneknya. "Nenek kenapa malah membelanya?" tanya Brisia tidak terima. "Dia itu pembunuh!" Lanjutnya seraya menunjuk Baskara. "Brisia! Babas itu adik kamu," bentak neneknya tidak terima salah satu cucunya diperlakukan seperti ini. "Enggak! Aku gak punya adik pembunuh. Dia udah bunuh bunda!" sergahnya dengan penekanan di kata pembunuh. "Brisia!" Neneknya sangat marah sampai ia meremas dadanya dengan sangat kuat dengan rintihan yang begitu menyakitkan dan tidak lama kemudian mata sayunya terpejam sempurna. "Nenek," panggil Baskara dengan tubuh yang sudah gemetar. "Nenek bangun! Nenek!!" teriak pemuda itu sangat panik melihat neneknya tiba-tiba menggerang kesakitan lalu tidak sadarkan diri. "Menjauh dari Nenekku!" Seru Brisia mendorong tubuh Baskara dengan sangat kasar. Gadis itu segera menekan tombol merah di dekat ranjang untuk memanggil dokter. Tidak lama kemudian, dokter beserta beberapa suster datang dan langsung menanganinya. "Tolong kalian tunggu di luar," pinta salah satu suster. "Tolong selamatkan Nenek saya," mohon Baskara, seluruh badannya terasa begitu lemas tidak bertenaga. Mereka semua panik menunggu dokter keluar. Brisia sudah menghubungi ayahnya untuk memberitakan kabar buruk ini. Tidak sampai lima menit, dokter sudah keluar dengan mimik wajah yang sudah dapat dibaca. Tidak. Baskara benci mimik wajah itu. Jangan lagi Tuhan, mohonnya. "Maaf," ucap dokter mengusap wajahnya keras. Brisia menangis histeris begitu pun dengan Baskara yang sama terpukulnya. Bibirnya bergetar hebat. Satu-satunya orang yang menyayanginya, yang peduli padanya kini pergi meninggalkannya. "Brisia." Nugroho memeluk anak perempuannya itu untuk membuatnya tenang. "Ayah, nenek yah," ujar Brisia masih sangat terpukul dengan apa yang terjadi pada nenek tercinta. Nugroho melihat Baskara yang juga menangis di sana, tetapi ia sama sekali tidak memedulikan keberadaannya. "Kenapa ninggalin Bagas secepat ini bu?" batinnya juga terluka. Siapa yang todak sedih ditinggal ibu? Mau setua apapun usianya, ditinggalkan tetap rasanya sakit. Tanpa Baskoro sadari air matanya menetes, tetapi segera ia seka, ia tidak boleh terlihat lemah di depan sang putri yang membutuhkan ketangguhannya. "Ayo, pulang. Kita harus mengurus pemakaman nenek." Nugroho mengelus puncak kepala Brisia. "Ayah," panggil Baskara lirih. "Babas boleh ikut?" tanyanya setengah memohon. Nugroho mendorong tubuhnya ke belakang dengan keras, dan berlalu pergi sebagai jawaban bahwa ia tidak mengijinkan pemuda itu mengantarkan sang ibu ke peristirahatan terakhirnya. "Babas." Wina berlari kearahnya. Kondisi pemuda itu sungguh tidak baik-baik aja, ia begitu terpukul atas kejadian ini. "Nenek udah tenang. Beliau udah gak akan merasakan sakit lagi, kamu harus kuat ya." Wina mengusap punggung Baskara yang sudah memeluknya erat. *Fyi: Aa adalah sebutan kakak laki-laki dalam bahasa Sunda.Berikut kehebohan di grup Nature Squad tentang rencana liburan sekolah mereka. Sebenarnya bukan libur panjang hanya liburan sebelum ujian tiba. Ya cuma 3 hari dan tempat liburannya pun masih di Indonesia tepatnya di daerah Banten. Rain | pukul 12:00 Guys bang Di bawa pacarnya, boleh gak? Bintang | pukul 12:02 @dirgantara Wiiih punya pacar lu? Rain | pukul 12:03 Lah belum cerita bang? Waaah parah @dirgantara Rain | pukul 12:03 Ini aja kita lagi jalan bertiga Bintang | pukul 12:04 Lah ngapain lo ikut? Cosplay jadi nyamuk lo?" Samudra | pukul 12:10 Hahahahaaaaaa cosplay jadi tonggeret dia mah Samudra | pukul 12:12 Dah lah giliran gue muncul lo pada ilang. Rain | pukul 14:05 Dih datang-datang langsung ngebully. Gak like. Dirgantara | pukul 19:01 Berisik! Samudra | pukul 19:08 Cie abang abis ngapel cie.. Dirgantara | pukul 19:09 Dih kapan gue jadi abang lo? Bintang | pukul 19:11 Jleb banget. Rain | pukul 19:11 Hahahaa rasain! Samudra | pukul 19:15 yang kamu laku
Setelah dirasa kondisi Samudra sudah lebih baik ia pulang ke rumah dengan diantar oleh Sarah agar orangtuanya tidak curiga telah dibohongi. Sepanjang perjalanan Sarah tidak berhenti mengomelinya karena mengajaknya untuk berbohong padahal gadis itu paling tidak mau membohongi paman dan bibinya, tapi sepupunya dan kakaknya sudah terlanjur menyeret namanya dalam kebohongan tersebut. "Pokoknya ini terakhir kali kamu nyuruh aku bohong ya. Kalau bohong, bohong aja sendiri gak usah nyeret nama orang lain," oceh Sarah. Tanpa menoleh dan tetap memperhatikan jalan di depannya, Samudra menimpalinya setengah tak acuh. "Iya Sarah, iyaaa. Lo udah bilang ini puluhan kali." Oh tidak. Menjawab di saat seorang wanita sedang kesal bukan hal yang baik. Terbukti sekarang sarah mendelik sinis kearahnya serta berdecak keras. "Iya, iya, terus abis itu dilakuin lagi. Dah lah udah ketebak. Aku tau kamu, Sam. Bocah nakal." Samudra tidak membalasnya. Biarkanlah sepupunya itu terus mengoceh sepanjang jala
Sejak matahari masih malu-malu untuk menampakkan sinarnya Binar beserta kedua orang tuanya sudah berada di sebuah gereja untuk melaksanakan ibadah pagi. Di bangku kayu berwarna coklat hangat Binar duduk dengan khidmat sebelum kemudian semua jamaat berdiri seraya mengangkat tangan kanannya untuk melakukan pujian dan penyembahan. Lagu-lagu pujian menggema di dalam gereja. Kemudian setelah selesai para jamaat kembali duduk untuk sesi do'a. Diantaranya do'a untuk pengampunan dosa, do'a syafaat, dan doa syukur dan dilanjutkan dengan pembacaan alkitab. Kedua tangan Binar memegang alkitab, obsidian kembarnya membaca dengan penuh khidmat dan keimanan. Lalu kedua telinganya mendengarkan khotbah yang disampaikan pendeta. Tidak ada pikiran duniawi, semua pikiran dan hatinya ia fokuskan hanya untuk memuji Tuhan. Setelah semua rangkaian ibadah selesai Binar baru membuka handphone nya dan ternyata sudah ada 2 pesan masuk yang dua-duanya dari kekasihnya. Pesan itu berisi ucapan selamat pagi se
Suara kicau burung milik tetangga menyapa orang-orang yang sedang olahraga pagi di komplek perumahan. Sepasang saudara itu salah satunya. Walaupun si adik terus merengek kelelahan, tetapi si kakak mengabaikan daan justru menarik lengan si adik agar ikut berlari dengannya meski harus sedikit memelankan kecepatannya. Dirga memberikan semangat, "Dikit lagi Rain. Lo bisa!" Sedangkan gadis itu justru semakin merajuk bahkan hampir menangis karena kakinya sudah sangat pegal. Ia rasa sebentar lagi kakinya akan lepas dari tempatnya. "Capeeeek." Dirga menghela napas dan akhirnya mengajak Rain makan ke tukang bubur ayam langganan mereka di luar komplek perumahan. Kedua kakak beradik itu berjalan berdampingan dan sesekali yang lebih besar menggoda dengan kembali berlari meninggalkannya. Rain berteriak, "Bang Di tungguin!" Setelah sampai di tempat tukung bubur ayam langganan, Rain pun langsung duduk dengan wajah yang masih cemberut karena ditinggalkan. Sedangkan si pelaku justru anteng-a
Dokter Leon meminta satu kamar inap untuk sepupunya dan setelah mendapatkan kamar kosong ia langsung membawanya ke sana. Samudra dipasang masker oksigen untuk membantu pernapasannya yang hilang timbul. Setelah itu Dokter Leon menghubungi seseorang dan jika dilihat dari gaya bicaranya tidak salah lagi ia menghubungi orang tuanya Samudra. “Kak.” Panggil Samudra melepas masker oksigennya. Tahu apa yang sedang dipikirkan oleh sepupu keras kepalanya tersebut Dokter Leon langsung menempelkan jari telunjuk dan ibu jarinya berbentuk bulatan sedangkan tiga jari lainnya ia acungkan. Seakan mengatakan, oke tenang saja mereka tidak tahu kamu ada di sini. “Iya, Tante gak usah cemas Sam aman bersamaku,” pungkasnya sebelum mengakhiri teleponnya. “Bundamu gak tau kamu di sini. Aku bilang malam ini kamu menginap di rumahku karena besok ada ulangan dan meminta Sarah mengajarimu belajar.” Jelas Dokter Leon seraya memeriksa keadaan jantuk milik sepupunya tersebut. Samudra menimpali dengan su
Hari sudah sore saat mereka menyelesaikan berkeliling sekolah tersebut. Samudra memasangkan helmnya membuat gadis itu harus menahan napas karena gugup. Viola tersenyum malu serta pura-pura membenarkan letak helm nya untuk menutupi kegugupannya. "Makasih." “Untuk?” tanya Samudra sengaja menggoda gadis itu. “Untuk ini.” Tunjuknya pada helm putih yang sudah terpasang di kepalanya, “dan untuk hari ini. Makasih udah mewujudkan mimpi yang kupikir cuma akan menjadi sebuah angan.” “Sama-sama,” balas Samudra juga mengulas senyum, “lo bisa ngandelin gue.” Lanjutnya dengan berbangga diri. Tidak terasa waktu cepat berlalu. Rasanya baru saja gadis itu mengeluh kepanasan, kini sang raja sinar sudah hampir bersembunyi. Ia sangat bersyukur kepada Tuhan karena telah mempertemukannya dengan Samudra, laki-laki yang mengubah warna hidupnya yang kelabu menjadi lebih berwarna. Kini Viola semakin takut dengan kematian. Ia tidak ingin meninggalkan kebahagiaan yang baru saja dirasakannya, ia tidak ingin







