Home / Lainnya / Nature Squad / Bab 5-Tas little ponny

Share

Bab 5-Tas little ponny

Author: seni_okt
last update Petsa ng paglalathala: 2021-05-13 16:32:08

Dirgantara tertawa keras melihat wajah kedua sahabatnya yang penuh dengan jepitan jemuran, sementara yang ditertawakan hanya mendengkus kesal karena kalah.

"Camilan hari ini bakso goreng ala Rain dan Sarah," ujar Rain sangat bangga dengan kreasi yang ia buat kali ini.

Setelah menaruh piring dan gelas-gelas itu di meja, tawa Rain langsung menggelegar kala melihat wajah kedua sahabatnya yang sudah penuh dengan jepitan. Baik Samudra maupun Bintang hanya bisa mendengkus kesal menerima kekalahan telak.

"Mainnya udah dulu, sekarang waktunya makan!" Perintah Rain sudah seperti seorang ibu yang mengingatkan anak-anaknya yang keasyikan bermain. Bintang membuang napasnya dengan sangat keras seraya melepaskan jepitan-jepitan yang masih menempel di wajahnya, begitupun dengan Samudra. Namun, pemuda itu dikejutkan dengan pergerakan Rain yang tiba-tiba duduk di sampingnya lalu mengulurkan tangannya untuk membantu melepaskan jepitan-jepitan tersebut.

Samudra sempat terpaku beberapa saat karena selama mereka bersahabat, baru kali ini ia bisa melihat wajah Rain dari jarak yang sangat dekat. Samudra sampai menahan napas kala jantungnya berdebar lebih cepat.

"Pasti sakit ya?" tanya Rain sedikit meringis kala membayangkan bagaimana jika jepitan-jepitan itu menempel di wajahnya, sedangkan yang ditanya masih dengan keterdiamannya.

Samudra memejamkan matanya sejenak untuk menenangkan debaran jantungnya yang menggila. Setelah cukup tenang, perlahan ia membuka matanya kembali dan hal pertama yang ia lihat adalah senyuman manis gadis itu. Sialnya debaran itu kembali lagi bahkan lebih gila dari sebelumnya. Samudra sempat berpikir apakah itu adalah gejala serangan jantung? tetapi, jika memang benar, kenapa ia tidak merasakan sakit?

"Udah cukup tatap-tatapannya sahabat-sahabatku," celetuk Bintang yang langsung mendapat delikan tajam dari Rain.

"Ya ampun wajahmu sampai merah, Sam," ujar Rain setelah kembali memperhatikan wajah Samudra setelah jepitan-jepitan itu ia lepaskan.

"Sakit banget ya?" Ia mengulangi pertanyaan yang belum dijawab oleh Samudra. Pemuda itu menggeleng sebagai jawaban. Lalu dengan cepat ia mengambil salah satu gelas yang ada di sana dan hendak meminumnya. Dia haus! jantungnya menggila. Namun, sebelum gelas itu benar-benar menempel di bibirnya, Rain sudah terlebih dahulu mengambilnya.

"Ini bukan punyamu," kata Rain seraya menyimpan kembali gelas tersebut dan memberikan gelas yang benar.

Sebagai informasi saja kalau Samudra itu alergi dengan susu sapi. Perutnya akan langsung menolak cairan berwarna putih tersebut yang bisa mengakibatkan bulak-balik toilet, muntah-muntah, bahkan sampai demam tinggi.

"Thanks." Balasnya seraya mengambil gelas yang benar lalu meminumnya dengan perlahan. Sungguh ia tak pernah merasa secanggung ini pada Rain sebelumnya. Tingkah laku Samudra kali ini benar-benar terlihat berbeda. Pemuda itu lebih banyak diam dan sepertinya Sarah menyadari perubahan sikap sepupunya itu sehingga ia memutuskan untuk bertanya.

"Hei, kenapa?" tanya Sarah. Seakan tahu maksud pertanyaan sepupunya, Samudra hanya mengangkat bahunya serta kembali menyentuh dadanya yang masih berdebar-debar walau tidak segila tadi.

***

Hari ini Angkasa sedang menemani adiknya untuk membeli tas impiannya. Pilihannya jatuh pada tas little ponny berwarna pink dengan hiasan gantungan ekor kuda serupa.

"Vina mau ini." Gadis kecil itu memeluk tas yang telah ia pilih. Angkasa melihat harganya, tertulis Rp 250.000,-

"Bener mau ini?" tanya Angkasa memastikan adiknya tidak salah pilih. Gadis kecil itu langsung mengangguk tanpa ragu sedikitpun.

"Mbak," panggil Angkasa pada pelayan di sana.

"Iya Mas? Ada yang bisa saya bantu?" tanya pelayan itu dengan ramah.

"Ini harganya gak bisa kurang gitu, Mbak? Dua ratus ribu deh," Angkasa mencoba bernegosiasi untuk mendapatkan tas tersebut dengan harga yang lebih murah.

"Aduh, maaf Mas, ini sudah harga pas," kata pelayan tersebut menolak secara halus.

"Beneran gak bisa kurang, Mbak?" tanya Angkasa tidak pantang menyerah.

"Maaf, Mas." Pelayan itu menempelkan telapak tangannya memberikan tanda bahwa tas itu benar-benar tidak bisa ditawar. Angkasa melihat adiknya yang sudah memeluk tas impiannya, ia tidak tega jika tidak jadi membelinya.

"Ya udah deh Mbak, saya beli. Kualitasnya bagus kan?" tanya Angkasa lagi. Dia tidak ingin mengeluarkan uang cukup besar hanya untuk tas yang berkualitas jelek.

"Saya berani jamin Mas, soalnya ponakan dan adik saya juga pakai," kata pelayan itu meyakinkan calon pembelinya.

"Terima kasih," ucap seorang kasir setelah Angkasa mengeluarkan uang pas lalu memberikan barang belanjaannya kepada adiknya. Gadis kecil itu terlihat begitu senang.

"Makasih, Aa." Lanjutnya mencium Angkasa beberapa kali saking senangnya mendapatkan tas baru.

"Vina janji sama Aa, kalau Vina harus lebih rajin lagi belajarnya." Ingat Angkasa langsung memangku adik kesayangannya itu.

"Siap." Gadis kecil itu menempelkan tangannya ke dahi membentuk gerakan hormat.

Setelah sampai rumah Vina langsung memamerkannya pada sang ibu.

"Ibu, lihat! Tas Vina bagus, kan?" Gadis itu menunjukan tas yang baru saja ia beli dengan sang kakak tercinta.

"Iya, bagus," jawab Maya seraya tersenyum pada gadis kecilnya itu.

"Aa, Ibu, Vina ke kamar dulu ya. Mau nunjukin tas baru Vina ke Lulu." Gadis kecil itu berlalu pergi ke kamarnya sambil bersenandung di sepanjang jalan. Lulu adalah boneka kesayangan miliknya. Boneka itu adalah kado ulang tahun dari Angkasa saat ia berulang tahun ke-5 tahun.

"A," panggil Maya.

"Aa, dapat uang dari mana buat beli tas itu?" tanyanya. Angkasa menatap ibunya lalu memberikan seutas senyum untuk menenangkannya.

"Ibu tenang aja, Aa beli dengan uang halal kok," jawab Angkasa. Ibunya tidak perlu tahu kalau ia memakai uang hasil kerja paruh waktunya untuk membeli tas tersebut.

***

Baskara sedang berada di rumah sakit tempat neneknya di rawat. Kebetulan hari ini ayah serta kakaknya tidak ada di sana.

"Babas,"

"Iya, Nek?" Baskara memegang tangan neneknya yang sudah tidak sekencang dulu.

"Sudah makan, nak?" tanya sang nenek dengan suara lemah.

Pemuda itu menggeleng serta balik bertanya. "Nenek butuh sesuatu?"

"Jagoan nenek sudah besar." Bukan menjawab pertanyaan sang cucu, wanita tua itu malah bergumam kecil seraya menepuk tangan cucu kesayangannya.

Baskara menatap sendu ke arahnya, menggenggam tangan lemah wanita yang sudah seperti seorang ibu untuknya. "Nenek tinggal di tempat Babas ya, biar Babas bisa rawat nenek 24 jam," pintanya.

Wanita tua itu menggeleng lemah. "Nenek tidak apa-apa. Nenek mau menghabiskan sisa umur nenek di rumah itu, rumah kenangan nenek dengan kakekmu."

Iya, selama ini nenek sangat mencintai kakek. Mungkin itu yang dinamakan cinta sejati. Padahal saat kakek meninggal, usia nenek masih seperempat abad, usia ayah Baskara saja belum genap 3 tahun. Besar kemungkinan jika nenek menikah lagi. Namun, kesetiannya pada kakek begitu besar. Nenek berkata, "Kalau nenek menikah lagi, nenek tidak akan bersatu dengan kakek di surga." Sungguh manisnya kisah cinta mereka.

"Nenek, jauh-jauh dari dia!" Bentak Brisia mendorong tubuh Baskara ke belakang.

"Brisia! Jaga ucapanmu," seru neneknya.

"Nenek kenapa malah membelanya?" tanya Brisia tidak terima. "Dia itu pembunuh!" Lanjutnya seraya menunjuk Baskara.

"Brisia! Babas itu adik kamu," bentak neneknya tidak terima salah satu cucunya diperlakukan seperti ini.

"Enggak! Aku gak punya adik pembunuh. Dia udah bunuh bunda!" sergahnya dengan penekanan di kata pembunuh.

"Brisia!" Neneknya sangat marah sampai ia meremas dadanya dengan sangat kuat dengan rintihan yang begitu menyakitkan dan tidak lama kemudian mata sayunya terpejam sempurna.

"Nenek," panggil Baskara dengan tubuh yang sudah gemetar.

"Nenek bangun! Nenek!!" teriak pemuda itu sangat panik melihat neneknya tiba-tiba menggerang kesakitan lalu tidak sadarkan diri.

"Menjauh dari Nenekku!" Seru Brisia mendorong tubuh Baskara dengan sangat kasar. Gadis itu segera menekan tombol merah di dekat ranjang untuk memanggil dokter. Tidak lama kemudian, dokter beserta beberapa suster datang dan langsung menanganinya.

"Tolong kalian tunggu di luar," pinta salah satu suster.

"Tolong selamatkan Nenek saya," mohon Baskara, seluruh badannya terasa begitu lemas tidak bertenaga. Mereka semua panik menunggu dokter keluar. Brisia sudah menghubungi ayahnya untuk memberitakan kabar buruk ini. Tidak sampai lima menit, dokter sudah keluar dengan mimik wajah yang sudah dapat dibaca. Tidak. Baskara benci mimik wajah itu. Jangan lagi Tuhan, mohonnya.

"Maaf," ucap dokter mengusap wajahnya keras. Brisia menangis histeris begitu pun dengan Baskara yang sama terpukulnya. Bibirnya bergetar hebat. Satu-satunya orang yang menyayanginya, yang peduli padanya kini pergi meninggalkannya.

"Brisia." Nugroho memeluk anak perempuannya itu untuk membuatnya tenang.

"Ayah, nenek yah," ujar Brisia masih sangat terpukul dengan apa yang terjadi pada nenek tercinta. Nugroho melihat Baskara yang juga menangis di sana, tetapi ia sama sekali tidak memedulikan keberadaannya.

"Kenapa ninggalin Bagas secepat ini bu?" batinnya juga terluka. Siapa yang todak sedih ditinggal ibu? Mau setua apapun usianya, ditinggalkan tetap rasanya sakit. Tanpa Baskoro sadari air matanya menetes, tetapi segera ia seka, ia tidak boleh terlihat lemah di depan sang putri yang membutuhkan ketangguhannya.

"Ayo, pulang. Kita harus mengurus pemakaman nenek." Nugroho mengelus puncak kepala Brisia.

"Ayah," panggil Baskara lirih.

"Babas boleh ikut?" tanyanya setengah memohon. Nugroho mendorong tubuhnya ke belakang dengan keras, dan berlalu pergi sebagai jawaban bahwa ia tidak mengijinkan pemuda itu mengantarkan sang ibu ke peristirahatan terakhirnya.

"Babas." Wina berlari kearahnya. Kondisi pemuda itu sungguh tidak baik-baik aja, ia begitu terpukul atas kejadian ini.

"Nenek udah tenang. Beliau udah gak akan merasakan sakit lagi, kamu harus kuat ya." Wina mengusap punggung Baskara yang sudah memeluknya erat.

*Fyi: Aa adalah sebutan kakak laki-laki dalam bahasa Sunda.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Nature Squad   Bab 69-Gejala

    "Aku cinta sama kamu Samudra. Makasih udah hadir di hidup aku yang sebentar ini, makasih udah mewujudkan salah satu wish list ku. Aku bener-bener bersyukur ada kamu di hidup aku." Samudra masih saja diam, ia takut mengeluarkan suaranya yang justru akan menyakiti perasaan teman barunya tersebut. Selama ini Samudra berteman dengan Viola hanya karena ingin berteman bukan ada hal lain, ia membantu mewujudkan harapan gadis itu untuk membuatnya bahagia, semoga. "Vi.." belum selesai ia berbicara hal menakutkan itu sudah terjadi, Viola mimisan hebat dan merintih kesakitan. *** Samudra lagi-lagi menghela napas beratnya, ia tidak memiliki perasaan untuk memiliki Viola, perasaannya sebatas seorang teman, tapi ia juga takut mengecewakan gadis itu dan sekarang? Sam juga takut ia terlambat. "Sorry, Vi." "Sam," panggil seseorang seraya menyentuh bahunya pelan. "Boleh aku gabung?" Pemilik nama mengangguk dan secara otomatis menggeser tubuhnya. "Aku tau ini gak mudah buat kamu dan aku

  • Nature Squad   Bab 68-Pesan yang terlambat

    Semua orang menunggu dokter yang menangani Viola di dalam ruangan gawat darurat dengan cemas. Ibunya Viola tak berhenti menangis dan terus memanggil nama putrinya dengan lirih. Samudra juga tak kalah gelisah. Ia adalah orang pertama yang melihat bagaimana gadis itu kesakitan sebelum akhirnya tak sadarkan diri dan yang membuat perasaannya semakin kacau adalah obrolan mereka sebelum gadis itu collapse. Ceklek! Setelah 30 menit berlalu akhirnya dokter keluar dari ruangan dan langsung menyampaikan kondisi Viola di dalam. Dokter bilang kondisi Viola kritis dan harus di rawat di ruangan ICU sampai kondisi gadis itu stabil. Tak cukup. sampai di sana, dengan berat hati dokter parub haya itu juga mengabarkan kabar buruk lainnya, bahwasanya Viola harus segera mendapatkan donor sumsum tulang belakang lagi jika tidak kondisinya akan jauh lebih buruk lagi. Dengan kata lain keluarga harus siap-siap dengan kemungkinan terburuk. Brangkar rumah sakit di dorong. Viola terbaring lemah di sana denga

  • Nature Squad   Bab 67-Serangan

    Melihat senja dipinggir pantai jelas sangat memanjakan mata, warna oren dan laut biru merupakan visual yang sangat sempurna. "Ayo kita abadikan ini," ucap Rain mengeluarkan ponselnya dan diangguki oleh yang lainnya. Cekrek! Satu gambar terabadikan. Semuanya tersenyum lebar ke arah kamera. Dirgantara yang merangkul Binar dan Rain. Bintang, Bagaskara, dan Samudra yang berpose layaknya detektif. Sarah dan Viola sama-sama mengacungkan dua jarinya dan diletakan di samping kepala. Lalu foto berlanjut lagi, khusus anak-anak Nature Squad yang saling merangkul satu sama lain. clak! Setetes darah terjatuh tepat di depan kakinya. Dengan mimik biasa saja Viola mengusapnya dengan punggung tangan sebelum orang-orang di sana menyadarinya. Viola melihat Samudra dan Rain saling merangkul, tersenyum lebar, sangat terlihat bahagia dan jujur saja gadis itu merasa cemburu dengan kedekatan antara dua orang tersebut. *** Malam semakin larut, para orang tua lebih memilih masuk ke villa karena

  • Nature Squad   Bab 66-Ada persaingan di sini

    "Kamu oke?" tanya Sarah pada Rain. Mereka sekarang sudah sampai di villa yang mereka sewa dan kedua gadis itu sekarang sedang mengeluarkan barang-barangnya untuk diletakan pada lemari berbahan kayu jati yang disediakan villa. Satu kamar di isi 2 sampai 4 orang, dan mereka berdua menempati satu kamar yang sama. Rain menghentikan kegiatan beres-beresnya. "Aku? Emang aku kenapa?" Sarah terdengar menghela napas. "Di mobil tadi.." Gadis itu bahkan ragu untuk melanjutkan kalimatnya. Ah ia jadi menyesal sudah bertanya. "Duduk sama siapa pun aku oke oke aja sih. Gak ada masalah." Rain menjawabnya seraya kedua tangannya kembali bergerak membereskan helai demi helai pakaiannya. *** Villa ini sangatlah ramai sekarang. Di depan villa ada sebuah halaman yang cukup luas, biasa digunakan untuk acara bakar-bakar ataupun kegiatan seru lainnya. "Anak-anak sini makan dulu!" teriak Dewi yang sudah duduk lesehan bersama para orang tua dari nature squad, Sarah, Binar dan Viola. "Guys ayo uda

  • Nature Squad   Bab 65-Duduk di mana?

    Sarah mengerutkan keningnya ketika mobil berhenti tepat di pelataran rumah sakit. Awalnya ia pikir mereka akan menjemput Leo, atau mungkin sepupunya ini harus melakukan cek up terlebih dahulu sebelum pergi. Samudra menoleh pada Sarah. "Bentar ya!" Setelah itu pemuda itu turun dan memasuki rumah sakit. Namun ia pergi sendiri, paman dan tantenya tenang-tenang saja menunggu di dalam mobil. Lima menit kemudian Samudra kembali muncul dari dalam bersama 2 orang wanita berbeda generasi. "Ayah, bunda, om, tante, kenalin ini Viola temen Sam, dan ini tante Dominic, ibunya Viola," ucap Samudra memperkenalkan temannya. "Hallo, om, tante. Perkenalkan saya Viola, temannya Samudra." Gadis itu memperkenalkan dirinya dengan sopan. "Maaf sudah merepotkan," ucap wanita dewasa tersebut dengan sopan. Ibunya Samudra menjawab tak kalah sopan, "Tidak sama sekali. Happy happy di sini ya, Nak." Dewi tahu keadaan gadis manis tersebut, beberapa waktu lalu putranya sudah menceritakannya. Viola kem

  • Nature Squad   Bab 64-Liburan

    Hari yang ditunggu-tunggu telah tiba. Liburan kecil kecilan kalau kata Samudra. Setelah diskusi yang terbilang singkat pantai Anyer lah yang menjadi tujuan mereka dan agar liburan ini semakin terasa, Anton selaku ayah dari Samudra menyewa mobil bis agar mereka bisa berangkat dalam satu kendaraan yang sama. "Happy, sayang?" tanya Dewi mengelus lembut tangan putra tunggalnya. Samudra membalas elusan tangan ibunya. "Sangat happy. Thank you mom, i love you mentok sementok mentoknya." Mobil yang dikendarai supir melaju menuju rumah kediaman masing-masing. Awalnya mereka mau janjian di satu tempat, tapi setelah berdiskusi antar orang tua mereka memutuskan untuk dijemput satu satu saja ke rumah masing-masing dan berhubung mobilnya di sewa keluarga Anton, maka keluarga mereka lah yang sekarang berkeliling menjemput satu satu. *** Di rumah Rain dan Dirgantara, semua orang sedang bersiap-siap. Rain masih memilih baju yang cocok. Entah kenapa ia ingin tampil cantik hari ini. Untuk siapa

  • Nature Squad   Bab 38-Ketika Dirgantara Jatuh Cinta

    Hari tetap sama, tidak ada yang berubah. Namun, tidak dengan pemuda yang sedari tadi gelisah karena bimbang antara mengikuti kata hatinya atau mengikuti gengsinya. Dirgantara mondar-mandir di depan pintu kamar Rain. Pemuda itu ragu antara masuk atau tidak ke dalam kamar sang adik. Sudah sekitar 1

  • Nature Squad   Bab 34-Aku akan selalu ada untukmu

    Setelah berjam-jam belajar matematika yang membuat kepala serasa ingin pecah itu akhirnya mereka dapat bernapas lega ketika bel istirahat berbunyi. Kelas yang tadinya penuh, seketika kosong ditinggalkan penghuninya. "Ayo ke kantin! Anak-anak pasti senang banget lo udah masuk sekolah lagi," ajak Bi

  • Nature Squad   Bab 28-Sakit itu datang lagi

    Samudra terperanjat ketika rasa sakit itu kembali menyapanya. Dengan napas yang tersengal, ia mencoba meraih toples obat yang ada di samping tempat tidur. Namun, kali ini rasa sakit itu tidak dapat ditahan lagi. Bagaikan beribu belati yang sangat panas ditancapkan tepat ke jantungnya. Pemuda itu ter

  • Nature Squad   Bab 27-Pernyataan cinta

    Semenjak kejadian tadi, Angkasa terus kepikiran akan keadaan Sarah. Dia benar-benar bingung harus berbuat apa? Mengingat gadis itu sangat ketakutan saat melihatnya. Saat sebuah solusi melintas dalam benaknya, Angkasa bergegas beranjak untuk mengambil ponselnya yang disimpan di atas meja, lalu jariny

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status