/ Lainnya / Nature Squad / Bab 4-Cemburu

공유

Bab 4-Cemburu

작가: seni_okt
last update 최신 업데이트: 2021-05-12 15:45:34

Sudah menjadi rutinitas setiap jam istirahat anak-anak Nature Squad selalu berkumpul di kantin untuk berbagi cerita selama di kelas atau hanya sekadar untuk menyusun rencana sepulang sekolah. Sama halnya dengan hari ini, mereka berkumpul untuk membahas rencana selepas pulang sekolah nanti.

"Nanti siang kumpul di rumah gue, oke," ucap Dirgantara memulai pembicaraan.

"Bahas apa nih? Jahat banget gak ngajak," kata Samudra yang entah muncul dari mana.

"Ngapain ke sini?" tanya Bintang dengan ketus.

"Astaga kalian masih marah?" Tanya pemuda itu seraya menempelkan kedua tangannya di pipi mulusnya serta memasang ekspresi sok terkejut.

"Iya deh, sorry.” Lanjutnya seraya menatap satu persatu sahabatnya lalu menempelkan telapak tangannya, membuat gerakan seperti menyembah.

"Dir," panggil Samudra.

"Apa?" tanya Dirgantara masih bernada ketus.

"Sorry," ucap Samudra dengan tulus.

"Jangan diulang!" jawab Dirgantara walaupun masih sedikit kesal. Lalu ia beralih ke sahabat-sahabatnya yang lain dan melakukan hal yang sama.

"Angka," panggil Samudra.

"Huh! Oke," balas Angkasa tidak ingin memperpanjang masalah.

"Bintang," panggil Samudra kini pada sahabat sekaligus teman sebangkunya.

"Lihat nanti deh," timpal Bintang masih bernada ketus dan dingin. Bercandaan Samudra waktu itu memang sangat keterlaluan. Berpura-pura pingsan, membuat semua orang panik. Sehingga Bintang ingin memberinya sedikit pelajaran agar tidak melakukan kesalahan yang sama lagi. Tidak semua hal bisa dijadikan bercandaan.

"Bintang." Samudra menempelkan telapak tangannya seraya mengerucutkan bibir, "maafin."

Bintang mendengkus, sedikit tidak tega juga melihat Samudra terus memohon padanya. Akhirnya ia mau memaafkannya meski masih sedikit kesal dan terdengar tidak ikhlas.

"Iya. Puas?”

Samudra tersenyum lebar. "Nah, gitu dong."

Kini pemuda itu beralih ke sahabatnya yang galaknya melebihi emak-emak yang tidak mau disalahkan gara-gara membuat jatuh pengendara lain karena naik motor saat memberi sein kiri tapi belok ke kanan. Oke, lupakan.

"Babas," panggilnya dengan suara di imut-imutkan seperti perempuan.

"Gue maafin abis nonjok muka lo. Sini!" balas pemuda itu sedatar dan dingin seperti biasanya.

Samudra menelan Salivanya. "Ngeri Bos."

Tidak ingin berlama-lama memaksa Baskara, kini Samudra harus meminta maaf kepada orang yang telah ia buat khawatir setengah mati, gadis yang kini hanya menundukkan kepalanya dan tidak berbicara sepatah katapun saat ia datang.

"Rain," panggil Samudra, kini nada suaranya lebih lembut dari sebelumnya. Bukannya menjawab, gadis itu malah langsung beranjak pergi dari sana sedangkan Samudra hanya diam melihat kepergiannya. Mungkin Samudra masih sedikit syok dengan respon dari Rain.

"Ngapain masih di sini? Kejar sana!" perintah Dirgantara. Samudra mengangguk dan langsung berdiri serta mengejar Rain yang terus melangkahkan kakinya menjauh darinya.

"Rain!" Panggil Samudra seraya memegang tangan gadis itu agar tidak terus berjalan semakin jauh.

"Lepas!" Berontaknya. Samudra sedikit tertegun kala melihat mata gadis itu berkaca-kaca.

"Apa dia menangis?" pikirnya, tetapi ia mencoba untuk mengabaikannya dan kembali membujuknya agar Rain memaafkannya. Jujur saja diabaikan olehnya membuat Samudra uring-uringan dan tidak memiliki semangat bahkan sekadar menarik bibirnya untuk tersenyum.

"Ayolah kemarin gue cuma bercanda, masa gak mau maafin sahabat tampan lo ini?"

Lagi-lagi Samudra mengerucutkan bibirnya, manik matanya mengisyaratkan bahwa dia benar-benar menyesal dengan perbuatannya tempo hari. Rain mendongakkan kepalanya untuk menatap ke obsidian kembar milik Samudra.

"Kamu bilang bercanda?" tanya Rain dengan nada yang cukup tinggi.

"Kita udah panik dan kamu bilang cuma bercanda? Otak kamu di mana? Hah!" Gadis itu benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran sahabatnya. Samudra kembali tertegun, ia tidak menyangka gadis itu akan semarah ini padanya.

"Itu gak lucu Sam." Suara gadis itu bergetar menahan tangis dan emosi yang sedari tadi coba ia tahan.

Samudra tidak sanggup melihat air mata itu. Ia langsung menarik Rain ke dalam dekapannya seraya mengusap surai panjang berwarna hitam legam milik gadis itu. "Sorry."

Hanya kata itu yang dapat diucapkan Samudra. Dia benar-benar menyesali perbuatan bodohnya.

"Kamu jahat!" Racaunya seraya memukul dada Samudra dengan cukup kuat.

***

“Sam, kamu lupa rumah aku atau gimana?” tanya Rain setengah bercanda. “kok lama.” Sedangkan yang ditanya hanya menyipitkan matanya dan memperlihatkan barisan gigi putihnya.

"Gue bawa Sarah gak papa kan?" tanya Samudra sama sekali tidak menjawab. Di belakangnya sudah berdiri seorang gadis seusia mereka. Seperti yang di rencanakan tadi, mereka kini sedang berada di rumah Dirgantara dan Rain.

"Dia siapa?" Tanya Rain menunjuk Sarah dengan dagunya.

Dirgantara menyenggol siku adiknya. "Yang sopan sama tamu."

Gadis itu sama sekali tidak mengindahkan teguran kakaknya. Hatinya tiba-tiba panas melihat Samudra membawa gadis lain. Entahlah perasaan apa yang sedang ia rasakan saat ini, ia pun tidak tahu.

"Hai, aku Sarah, sepupunya Sam," ujar gadis itu memperkenalkan diri.

Rain tersenyum. "Rain," jawabnya. Entah kenapa hatinya langsung merasa lega setelah gadis itu mengenalkan diri sebagai sepupunya.

"Sarah, ikut aku yuk!" ajak Rain. Gadis itu mengangguk seraya mengekor dari belakang.

"Jangan jailin sepupu gue!" teriak Samudra karena jarak mereka yang cukup jauh.

Rain menoleh dan ikut berteriak. "Aku bukan kamu."

Pppttt... HAHA! Kedua pemuda lainnya menyemburkan tawanya sedangkan Samudra hanya bisa mendengkus kesal.

"Main apa nih?" tanya Bintang setelah lelah tertawa.

"Berhubung kalau Basket si Sam pasti kabur lagi, gimana kalau kita main kartu?" saran Dirgantara, tuan rumah kali ini.

"Tidak boleh anak-anak! Dosa, masik neraka." sahut Samudra menirukan para Ustadz yang pernah ia tonton bersama ibunya di televisi. Baik Dirgantara maupun Bintang sama-sama memutar bola matanya malas.

"Yeeee dasar PEA! Gak pakai uang lah. yang kalah hukumannya di jepit pakai jepit jemuran," sewot Dirgantara.

"Oh, bilang dong. Kalau itu let's go brother." Samudra hanya mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti.

"Si Babas sama si Angka ke mana?" tanya Bintang baru sadar kalau jumlah mereka tidak lengkap.

"Si Angka katanya lagi ada urusan, terus si Babas gue gak tau ke mana." Jawab Dirgantara mulai mengocok kartu-kartu yang akan dimainkannya.

"Hobi ngilangnya kumat lagi," timpal Samudra.

"Bisa jadi." Tumben mereka setuju dengan pendapatnya. Mengingat memang Baskara sering sekali muncul dan pergi secara tiba-tiba seperti ... hantu? ya seperti hantu, jin, dan kawan-kawannya. Lupakan.

***

"Kamu sekolah di mana? Aku baru sadar wajah kamu agak familiar," Tanya Rain sekaligus berpendapat seraya memanaskan minyak goreng. Ia berencana membuat bakso goreng untuk camilan kali ini.

"Kita satu sekolahan kok, cuma semester kemarin aku ikut pertukaran pelajar ke Singapura," jawabnya sembari memperhatikan cara gadis itu memasak.

"Sepertinya Rain cocok dengannya," pikir Sarah dalam hati.

"Ada yang bisa aku bantu?" tanya Sarah setelah asyik dengan isi hatinya.

"Mmm gak usah, bentar lagi juga selesai," kata Rain.

"Kamu temenan sama Angka juga?" tanya Sarah membuat Rain menghentikan aktivitasnya sejenak.

"Tau Angka juga? Iya kita temenan udah sekitar satu tahunan," jawabnya. Lalu berjalan ke rak sebelah kiri mengambil piring, mangkuk kecil lalu menuangkan saus sambal untuk cocolannya.

"Dia teman sekelas aku," lanjut Sarah dengan santai berbeda dengan respon yang ditunjukkan Rain setelahnya.

"Tunggu! Berarti kamu kakak kelas aku dong? Aduh sorry kak aku gak tau." Rain sekarang benar-benar merasa tidak sopan karena bersikap sok akrab padahal Sarah adalah kakak kelasnya.

"Ih panggil Sarah aja gak papa. Aku gak gila hormat kok." Sarah berjalan ke arahnya untuk melihat Rain menuangkan saus. Ia memperhatikan Rain yang sekarang sedang menuangkan susu putih untuk lima orang dan menuangkan segelas susu yang berbeda.

"Kamu udah kenal Sam lama?" tanya Sarah lagi. Sepertinya gadis itu sangat tertarik untuk membahas Samudra.

"Dua tahun." Jawab Rain seraya menuangkan segelas susu kedelai.

"Mmm, pantesan." Balas Sarah seraya menyilangkan tangannya di dada serta kembali memperhatikan Rain yang sedang fokus dengan pekerjaannya, "sabar-sabar ya sama sifat jail dan nyebelinnya."

"Tenang udah kebal," timpal Rain. Kemudian mereka tertawa bersama. Pemuda itu memang selalu menjadi topik yang sangat menyenangkan untuk dibahas.

이 책을.
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Nature Squad   BAB 61-Nature Squad (Chat)

    Berikut kehebohan di grup Nature Squad tentang rencana liburan sekolah mereka. Sebenarnya bukan libur panjang hanya liburan sebelum ujian tiba. Ya cuma 3 hari dan tempat liburannya pun masih di Indonesia tepatnya di daerah Banten. Rain | pukul 12:00 Guys bang Di bawa pacarnya, boleh gak? Bintang | pukul 12:02 @dirgantara Wiiih punya pacar lu? Rain | pukul 12:03 Lah belum cerita bang? Waaah parah @dirgantara Rain | pukul 12:03 Ini aja kita lagi jalan bertiga Bintang | pukul 12:04 Lah ngapain lo ikut? Cosplay jadi nyamuk lo?" Samudra | pukul 12:10 Hahahahaaaaaa cosplay jadi tonggeret dia mah Samudra | pukul 12:12 Dah lah giliran gue muncul lo pada ilang. Rain | pukul 14:05 Dih datang-datang langsung ngebully. Gak like. Dirgantara | pukul 19:01 Berisik! Samudra | pukul 19:08 Cie abang abis ngapel cie.. Dirgantara | pukul 19:09 Dih kapan gue jadi abang lo? Bintang | pukul 19:11 Jleb banget. Rain | pukul 19:11 Hahahaa rasain! Samudra | pukul 19:15 yang kamu laku

  • Nature Squad   Bab 60-Dirgantara dan Dua Gadisnya

    Setelah dirasa kondisi Samudra sudah lebih baik ia pulang ke rumah dengan diantar oleh Sarah agar orangtuanya tidak curiga telah dibohongi. Sepanjang perjalanan Sarah tidak berhenti mengomelinya karena mengajaknya untuk berbohong padahal gadis itu paling tidak mau membohongi paman dan bibinya, tapi sepupunya dan kakaknya sudah terlanjur menyeret namanya dalam kebohongan tersebut. "Pokoknya ini terakhir kali kamu nyuruh aku bohong ya. Kalau bohong, bohong aja sendiri gak usah nyeret nama orang lain," oceh Sarah. Tanpa menoleh dan tetap memperhatikan jalan di depannya, Samudra menimpalinya setengah tak acuh. "Iya Sarah, iyaaa. Lo udah bilang ini puluhan kali." Oh tidak. Menjawab di saat seorang wanita sedang kesal bukan hal yang baik. Terbukti sekarang sarah mendelik sinis kearahnya serta berdecak keras. "Iya, iya, terus abis itu dilakuin lagi. Dah lah udah ketebak. Aku tau kamu, Sam. Bocah nakal." Samudra tidak membalasnya. Biarkanlah sepupunya itu terus mengoceh sepanjang jala

  • Nature Squad   Bab 59-Bertemu Camer di Depan Gereja Tua

    Sejak matahari masih malu-malu untuk menampakkan sinarnya Binar beserta kedua orang tuanya sudah berada di sebuah gereja untuk melaksanakan ibadah pagi. Di bangku kayu berwarna coklat hangat Binar duduk dengan khidmat sebelum kemudian semua jamaat berdiri seraya mengangkat tangan kanannya untuk melakukan pujian dan penyembahan. Lagu-lagu pujian menggema di dalam gereja. Kemudian setelah selesai para jamaat kembali duduk untuk sesi do'a. Diantaranya do'a untuk pengampunan dosa, do'a syafaat, dan doa syukur dan dilanjutkan dengan pembacaan alkitab. Kedua tangan Binar memegang alkitab, obsidian kembarnya membaca dengan penuh khidmat dan keimanan. Lalu kedua telinganya mendengarkan khotbah yang disampaikan pendeta. Tidak ada pikiran duniawi, semua pikiran dan hatinya ia fokuskan hanya untuk memuji Tuhan. Setelah semua rangkaian ibadah selesai Binar baru membuka handphone nya dan ternyata sudah ada 2 pesan masuk yang dua-duanya dari kekasihnya. Pesan itu berisi ucapan selamat pagi se

  • Nature Squad   Bab 58- Jalan Pagi dan Mengakui Kesalahan

    Suara kicau burung milik tetangga menyapa orang-orang yang sedang olahraga pagi di komplek perumahan. Sepasang saudara itu salah satunya. Walaupun si adik terus merengek kelelahan, tetapi si kakak mengabaikan daan justru menarik lengan si adik agar ikut berlari dengannya meski harus sedikit memelankan kecepatannya. Dirga memberikan semangat, "Dikit lagi Rain. Lo bisa!" Sedangkan gadis itu justru semakin merajuk bahkan hampir menangis karena kakinya sudah sangat pegal. Ia rasa sebentar lagi kakinya akan lepas dari tempatnya. "Capeeeek." Dirga menghela napas dan akhirnya mengajak Rain makan ke tukang bubur ayam langganan mereka di luar komplek perumahan. Kedua kakak beradik itu berjalan berdampingan dan sesekali yang lebih besar menggoda dengan kembali berlari meninggalkannya. Rain berteriak, "Bang Di tungguin!" Setelah sampai di tempat tukung bubur ayam langganan, Rain pun langsung duduk dengan wajah yang masih cemberut karena ditinggalkan. Sedangkan si pelaku justru anteng-a

  • Nature Squad   Bab 57-Ditemenin Bobo

    Dokter Leon meminta satu kamar inap untuk sepupunya dan setelah mendapatkan kamar kosong ia langsung membawanya ke sana. Samudra dipasang masker oksigen untuk membantu pernapasannya yang hilang timbul. Setelah itu Dokter Leon menghubungi seseorang dan jika dilihat dari gaya bicaranya tidak salah lagi ia menghubungi orang tuanya Samudra. “Kak.” Panggil Samudra melepas masker oksigennya. Tahu apa yang sedang dipikirkan oleh sepupu keras kepalanya tersebut Dokter Leon langsung menempelkan jari telunjuk dan ibu jarinya berbentuk bulatan sedangkan tiga jari lainnya ia acungkan. Seakan mengatakan, oke tenang saja mereka tidak tahu kamu ada di sini. “Iya, Tante gak usah cemas Sam aman bersamaku,” pungkasnya sebelum mengakhiri teleponnya. “Bundamu gak tau kamu di sini. Aku bilang malam ini kamu menginap di rumahku karena besok ada ulangan dan meminta Sarah mengajarimu belajar.” Jelas Dokter Leon seraya memeriksa keadaan jantuk milik sepupunya tersebut. Samudra menimpali dengan su

  • Nature Squad   Bab 56-Bolehkah?

    Hari sudah sore saat mereka menyelesaikan berkeliling sekolah tersebut. Samudra memasangkan helmnya membuat gadis itu harus menahan napas karena gugup. Viola tersenyum malu serta pura-pura membenarkan letak helm nya untuk menutupi kegugupannya. "Makasih." “Untuk?” tanya Samudra sengaja menggoda gadis itu. “Untuk ini.” Tunjuknya pada helm putih yang sudah terpasang di kepalanya, “dan untuk hari ini. Makasih udah mewujudkan mimpi yang kupikir cuma akan menjadi sebuah angan.” “Sama-sama,” balas Samudra juga mengulas senyum, “lo bisa ngandelin gue.” Lanjutnya dengan berbangga diri. Tidak terasa waktu cepat berlalu. Rasanya baru saja gadis itu mengeluh kepanasan, kini sang raja sinar sudah hampir bersembunyi. Ia sangat bersyukur kepada Tuhan karena telah mempertemukannya dengan Samudra, laki-laki yang mengubah warna hidupnya yang kelabu menjadi lebih berwarna. Kini Viola semakin takut dengan kematian. Ia tidak ingin meninggalkan kebahagiaan yang baru saja dirasakannya, ia tidak ingin

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 책을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 책을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status