MasukSari seketika merasa gugup, ia berdiri di antara pasutri yang tak berbusana. Ucapan Yanti seolah meminta Sari agar menyelesaikan gairah suaminya, namun ucapan itu buru-buru diralat. "Kamu cukup lihat, biar dia tuntaskan semuanya," pinta Yanti mempertegas kalimat sebelumnya.Yanti kemudian berbaring dengan posisi terlentang, ia membuka paha lebar-lebar ketika Anwar mulai berjongkok di depannya."Ganjal punggung kamu pakai bantal, Mbak," Sari meletakkan guling di bawah pinggang Yanti, perempuan itu terlihat rileks. Sesaat kemudian Anwar mulai memompa sambil menikmati betapa kuat pusakanya itu.Berbagai gaya mereka lakukan, sampai empat puluhan menit Anwar masih belum apa-apa meski Yanti sudah dua kali mencapai pelepasan."Cobalah sesuatu yang beda, misalnya sambil berdiri dengan kaki dilipat di depan dada," Sari memberikan instruksi, keduanya langsung mengambil peran sesuai arahan. Yanti berdiri bersandar di dinding, lalu Anwar menekan dari delan, pusaka Anwar tak cuma keras dan kencan
"Buatlah milik suamiku bangkit lagi, lakukan apa yang kamu mau, setelah itu uang ini jadi milikmu," Yanti membuka tas dan menunjukkan segepok uang yang masih baru keluaran bank dengan aroma wangi yang khas. "Bagaimana caranya aku juga belum pernah coba, apalagi dia suami kamu, Mbak," Sari terlihat ragu bisa melakukan pekerjaan tersebut, ia memang membutuhkan uang untuk membayar hutang Yudha, tapi jika tak berhasil maka tumpukan uang itu tak akan pernah jadi miliknya.Yanti terrdiam beberapa detik, dia lalu berjalan ke sebuah lemari. "Pakai ini, mungkin dengan berpakaian seperti ini akan membantu gairahnya pulih," Yanti memberikan gaun tidur berwarna hitam yang transparan, bahannya halus dan ketika ditempelkan ke kulit Sari terlihat kontras. "Ah, kamu lebih pantas memakai itu daripada aku," Yanti tersenyum. Ia kemudian membiarkan Sari bekerja di kamar yang telah disediakan.Anwar masuk ke ruangan tersebut, ia memakai piyama dan celana dalam. Saat memandang Sari, wajah Anwar tampak data
Seperti biasa di rumah Hesti yang memiliki usaha sebagai peternak udang, Yudha dan Sari tambak sibuk memilah antara udang yang siap dijual dan yang perlu perawatan tambahan. Yudha berdiri di tepi kolam, tangannya memegang jaring dan satu lagi memegang ember. Tubuh Yudha penuh peluh, kakinya kotor karena lumpur sedangkan Sari bertugas menjaga air agar tetap sesuai dengan standarnya."Semenjak kalian berdua membantuku bekerja di sini, aku mengalami peningkatan penjualan. Sekarang bukan cuma udang dewasa yang laku, tapi bibitnya juga diminati petani dari desa lain," ucap Hesti penuh senyum pada kedua kakak-beradik itu. "Aku hanya menerapkan ilmu yang pernah dipelajari di rumah Mbak Zahra, semoga penjualan udang kita semakin meningkat ya, Mbak," sahut Yudha yang masih sibuk dengan udang-udangnya.Namun keceriaan pagi itu terganggu dengan kedatangan rombongan anak buah juragan Kardi, sudah lama mereka mencari Yudha namun baru ditemukan di tempat itu. "Ternyata kamu kabur ke sini, jangan me
Masih di hari yang sama, Yudha dan Sari selesai membersihkan halaman rumah mereka dari puing-puing dan menyisakan pekarangan yang tampak lega. Tak berbeda dari rumah warga lainnya yang juga hancur terkena badai kala itu, namun orang-orang sebagian besar mendapatkan kompensasi dari Juragan Kardi asal mau berpihak padanya.Ketika hari menjelang sore, serombongan orang datang membawa patok tanah. Mereka memberi batas antara pekarangan yang satu dengan yang lainnya dengan batok itu, sampai rombongan itu tiba di dekat mereka dan memasang patok pembatas."Apa yang kalian lakukan di sini?!" tanya Yudha, namun orang itu mengabaikan dan enggak menjawab. Mereka terus menancapkan patok dalam tanah. "Heh, kalian tidak dengar apa yang aku bilang?" Yudha yang tidak terima rumahnya diberi pembatas segera mencabut salah satu patok dan membuangnya."Kami hanya menjalankan perintah, minggir!" orang itu balik membentak, beberapa orang lain mencabut senjata tajam siap untuk melawan jika Yudha melakukan
Yudha terdiam saat Dewi Lanjar menyinggung tentang tugas Yudha yang tidak dilanjutkan. "Aku lelah, aku merasa seperti seorang pria murahan yang tidur dengan sembarang perempuan. Dan lagi di desaku terlalu banyak masalah yang terjadi, hati nuraniku sampai tidak tega berdiam diri terlalu lama," ucap Yudha."Tapi itu sudah perjanjian kita, kamu telah mendapatkan sepasang kaki yang sempurna, wajah yang tampan, badan yang kekar ... Harusnya dengan perubahan itu kamu bisa memperbaiki kualitas hidupmu, tapi apa? Kamu hanya memikirkan tentang Sari, padahal dia itu kakak dirimu yang sudah sepatunya menikah dengan orang lain," tegas Dewi Lanjar. "Aku tidak punya seorangpun di dunia ini kecuali dia, memang benar dia akan menikah suatu Hari nanti. Tapi tidak dengan Kardi," Yudha menolak pernyataan Dewi Lanjar.Suasana obrolan terlihat tidak lagi menyenangkan, Yudha banyak diam dan menunggu kata-kata dari Dewi Lanjar selanjutnya. "Sekarang Sumiyati datang untuk menagih hutang yang pernah aku pinja
Perubahan wajah Yudha yang murung dan tidak bersemangat membuat Hesti merasa khawatir, ia mendekati dan memandang wajah Yudha sayur seperti memendam permasalahan yang besar. "Dia ngapain ke sini?" tanya Hesti. "Enggak ada apa-apa, Mbak. Dia minta aku membuatkan kolam ikan di belakang rumahnya, tapi aku menolak karena pekerjaan di sini juga lumayan menyita waktu," ujar Yudha berbohong, Hesti cuma mengangguk. Yang merasa tidak ada yang aneh dengan ucapan Yudha maka dia pun pergi meninggalkan pemuda itu melanjutkan pekerjaannya.Ternyata Sumiyati tidak main-main, dia yang merasa di-PHP dan sering dihindari Yudha ingin membuat masalah tersebut lebih serius. Tiap kali Yudha dekat dengan perempuan lain di desa itu, hatinya bahasa terbakar rasa cemburu. Padahal dulu Dewi Lanjar sudah membuatnya melupakan peristiwa tersebut, namun entah kenapa otak bawah sadarnya mengingat dengan baik setiap detail ucapan dan tindakan Yudha. Terlebih dia mengetahui jika ternyata Ratna juga menaruh hati pada Y