LOGINPerubahan wajah Yudha yang murung dan tidak bersemangat membuat Hesti merasa khawatir, ia mendekati dan memandang wajah Yudha sayur seperti memendam permasalahan yang besar. "Dia ngapain ke sini?" tanya Hesti. "Enggak ada apa-apa, Mbak. Dia minta aku membuatkan kolam ikan di belakang rumahnya, tapi aku menolak karena pekerjaan di sini juga lumayan menyita waktu," ujar Yudha berbohong, Hesti cuma mengangguk. Yang merasa tidak ada yang aneh dengan ucapan Yudha maka dia pun pergi meninggalkan pemuda itu melanjutkan pekerjaannya.Ternyata Sumiyati tidak main-main, dia yang merasa di-PHP dan sering dihindari Yudha ingin membuat masalah tersebut lebih serius. Tiap kali Yudha dekat dengan perempuan lain di desa itu, hatinya bahasa terbakar rasa cemburu. Padahal dulu Dewi Lanjar sudah membuatnya melupakan peristiwa tersebut, namun entah kenapa otak bawah sadarnya mengingat dengan baik setiap detail ucapan dan tindakan Yudha. Terlebih dia mengetahui jika ternyata Ratna juga menaruh hati pada Y
Malam hari ketika pesta berakhir, orang-orang tertidur di lantai baik itu perempuan maupun laki-laki, gelas berantakan, cairan anggur yang menggenang dan perabotan yang bergeser. Kardi keluar dari kamar bersama dua orang perempuan yang merupakan tamu di rumahnya, sementara Ratna dan Sumiyati menyiapkan sarapan pagi ditemani beberapa orang pembantu."Tempat ini sudah jadi ajang pesta, uang dari bapakmu hanya bisa mendatangkan kerusakan seperti ini," keluh Sumiyati. "Aku kira uang bisa mendatangkan kemakmuran, kehidupan yang layak bagi banyak orang serta mengurangi kesenjangan sosial. Justru yang kaya makin kaya dan yang miskin makin miskin," sambung Ratna."Tolooong tolooong!" Sebuah teriakan terdengar dari arah pantai, pemuda pendatang yang bekerja di pelabuhan berlari sesekali terjatuh. Dia langsung masuk ke ruang utama rumah juragan Kardi."Maksum, kamu kenapa seperti orang kesurupan begitu?" tanya Kardi yang duduk masih dalam keadaan mengantuk."Pak, di pelabuhan banyak mayat. Sis
"Jangan sentuh dia, atau nyawamu akan melayang!" Kardi seketika langsung emosi, namun pria yang dia peringatan itu sepertinya tidak mendengarkan pengaruh alkohol membuat pendengarannya terganggu. Dia mendekati Ratna dengan langkah yang gontai, lalu tanpa sengaja kakinya menginjak permukaan lantai yang menurun hingga dia tergelincir dan menabrak Ratna.Braaak!"Aaawh!"' Ratna berteriak, badan pria itu sangat berat sehingga sangat sulit untuk disingkirkan saat menimpa badannya. Kardi maju, dia mengambil vas bunga lalu membanting ke arah kepala pria tersebut hingga pecah berkeping-keping. "Kenapa kamu lakukan ini? Kita ini kan teman, aku melihatmu bersenang-senang dengan perempuan yang aku bawa. Lantas kenapa aku tidak boleh bersenang-senang dengan orang yang ada di sini?" protes teman Kardi."Dia itu putriku, dasar bodoh!* umpat Kardi, keributan itu menarik perhatian anak buah Kardi yang lain. Mereka langsung mendekat, siap menerima perintah selanjutnya."Singkirkan dia dari sini!" uj
"Lihatlah, bapakmu telah merubah desa nelayan menjadi tempat hiburan malam," kata Yudha saat menarik perahu kecil itu ke permukaan tanah. "Aku tau, tambah tua bukannya tobat malah sibuk nyari bini muda. Dan ... kembalinya Mbak Sari akan membuat dia semakin tergila-gila," sahut Ratna yang malu akibat ulah bapaknya.Desa yang dikenal memiliki nelayan-nelayan tangguh itu hanyalah tinggal nama, sejak Kardi pergi dan membawa semua lelaki berlayar untuk mendapatkan harta di dasar lautan maka yang tersisa di desa itu hanya kaum manula dan anak-anak saja, apalagi musibah kapal yang karam menewaskan hampir separuh awak kapal hampir benar-benar membuat desa itu kehilangan kaum lelaki."Sekarang kita ke mana? Rumah kita udah hancur rata dengan tanah," ujar Sari, ia berhenti melangkah dengan tatapan bingung sebab tempat yang dia sebut rumah hanya bersisa puingnya saja."Kamu bisa tinggal di rumahku, kebetulan tambak udang milikku butuh perawatan," Hesti menawarkan tempat tinggal. "Ide bagus, kamu
Dengan berjalan sangat hati-hati mengikuti jejak kaki yang terlihat di permukaan pasir, Yudha akhirnya bisa menemukan tempat di mana Sari dan Ratna disekap oleh sekelompok orang tak dikenal."Lihat, itu mereka," bisik Yudha pada Hesti."Aku punya rencana, kamu buat suara tertawa dan menangis untuk mengalihkan perhatian mereka. Nanti jam satu atau dua dini hari," ujar Yudha.Keduanya selalu bersembunyi di tempat yang aman dari penglihatan orang lain, sebuah tempat yang gelap dan lembab. Hingga tepat tengah malam saat sebagian besar dari mereka tertidur lelap dan hanya sedikit yang berjaga, Yudha keluar dari persembunyiannya. Dia menggandeng Hesti lalu berpisah untuk membagi tugas masing-masing. Hesti berada di sebelah barat, sedangkan Yudha berada di timur.Tak!Yudha melemparkan kerikil dan bebatuan ke arah anak buah Jaka yang sedang berjaga, orang itu terkejut meskipun lemparan tersebut tidak mengenainya. "Kok ada yang melempar batu? Apakah mungkin itu hantu?" gumam orang tersebut, d
"kenapa Sari sampai pergi ke pulau kosong? Apa ia disuruh Kardi?" Yudha mengintimidasi Bu Laras agar menceritakan detail peristiwa. "Sari ke sana karena ingin mencari kamu, kakakmu itu begitu kuatir dengan keadaan kamu, Yudha. Sedangkan Ratna hanya menemaninya," jelas Bu Laras.Tanpa pikir dua kali Yudha segera meninggalkan tempat tersebut, namun masalahnya dia tidak memiliki perahu yang layak untuk digunakan sebab perahu yang dia miliki hanya perahu tua yang lambungnya bocor karena terkena batu karang."Bagaimana aku bisa ke sana? Kalau aku terlambat datang mungkin nyawa Mbak Sari dan Ratna dalam bahaya," ujar Yudha yang berdiri di tepi pantai, perahu tua miliknya berada di atas pasir. Yudha kepikiran untuk memperbaiki, namun butuh waktu yang cukup lama dan pastinya tidak bisa digunakan dalam keadaan darurat."Yudha, ngapain kamu melamun di situ?" tiba-tiba Hesti, yang merupakan tetangga Zahra tiba di tempat itu. Perempuan cantik yang merupakan janda kembang di desanya tanpa sengaj







