MasukSaat permukaan air berangsur tenang, jasad Harso dan Darsih ikut muncul ke permukaan. Yudha langsung melompat ke air menggapai kedua jasad tak bernyawa itu."Mereka telah tewas," gumam Yudha.Tubuh pasangan suami-istri tadi terlihat berbeda tampak pucat, kaku dan anehnya terdapat banyak rongga di sekitar kulit seolah ada sesuatu yang menggerogoti dari dalam."Bapak, ibuuu!" Emy berteriak, dia coba guncangkan tubuh bapak ibunya. Kemiskinan telah membuat mereka keluar dari zona nyaman yang akhirnya hanya menjadi tumbal bagi keserakahan seseorang."Kembalikan mereka ke laut," ucap Yudha."Ke--kenapa enggak kita kubur di kampung, Yudha?""Lautan merupakan pemakaman yang paling baik untuk keduanya, toh jika mereka dibawa pulang maka jasadnya akan segera berubah," jelas Yudha.Benar kata Yudha, jasad Harso dan Darsih berkeriput, daging di dalamnya seolah hilang menyediakan kulit dan tulang. "Ba--baiklah, sekarang aku sudah enggak punya kerabat dan keluarga," dengan berbesar hati Emy mengikh
Keluarga itu keluarga Harso, terdiri Harso si pria paruh baya berusia 50an tahun, Darsih 48 tahun dan Emy tahun 25 tahun. Emy perempuan lajang yang bekerja sebagai penjemur ikan asin. Imbas dari banyaknya emas di desa nelayan membuat harga-harga semakin naik karena para pedagang lebih suka menjual barang pada mereka yang mau membayar lebih.Perjalanan ke pulau seberang biasanya ditempuh selama dua jam, namun karena uang emas yang mereka temukan bisa jadi milik warga lain maka Harso memilih membelanjakan saat matahari baru terbit, jika ada yang tahu maka mereka bisa disebut pencuri karena memiliki sesuatu yang bukan haknya.Jam enam pagi, saat Harso mulai berlayar dengan perahu kecilnya. Matanya menatap lautan yang tenang, ada secercah harapan ketika mungkin bisa memenuhinya isi perut keluarganya yang lapar."Sebaiknya kita pulang saja, Pak," ucap Darsih lirih. Tangannya menggenggam ujung baju dengan perasaan gelisah."Uang itu bukan milik kita, kalau kita bisa berbelanja maka orang l
"Hahaha! Kemampuanmu lebih kecil dari semangatmu, Mas Kardi! Aku sangat kasihan dengan istri barumu nanti, karena dia tidak bisa mendapatkan nafkah batin yang layak dari seorang suami! Hahaha!" Suamiyati tertawa lebar di hadapan Kardi dan Sari, bahkan wajah Kardi tampak merona menahan malu."Aku akan buktikan padamu, bahwa di pulau nelayan ini tak ada yang lebih perkasa daripada aku!" Kardi keluar dari kamar, ia segera membungkus dirinya dengan pakaian lalu meninggalkan rumah itu menuju sebuah tempat di dekat dermaga. Dia datang bukan dengan tangan kosong, melainkan dengan beberapa sesaji yang dia bawa sendiri dengan tangannya.Kardi duduk bersimpuh, matanya menatap lautan sedangkan bibirnya bergumam. "Penguasa raja lautan, datanglah dan bantu aku menyelesaikan masalah ini. Mereka mengejek aku!" ujar Kardi yang tangannya dalam posisi seperti menyembah, tak ada yang terjadi meski dia mengucapkan permintaan pada mahluk gaib yang ia maksud.Malam itu Kardi berita di sana, dia tidak pedul
"Mbak," sapa Sari, namun Sumiyati hanya memandang lalu membuang muka. Di sana Kardi juga langsung turun menemui Sari yang dibawa pengawal."Calon istriku, rumah ini aman buatmu. Sekarang rumahmu lama telah hancu, enggak ada tempat tinggal lagi selain di sini," ucap Kardi sambil membentangkan tangan seperti akan memberikan pelukan. Sari tak mampu menghindar saat pria paruh baya itu benar-benar merangkulnya. "Ayo masuk, anggap aja rumah sendiri," dengan sikap lembut yang dipaksakan, Kardi menuntun Sari ke kamar yang ada di lantai atas melewati Sumiyati dan beberapa orang pembantu. Pemandangan itu telah merobek harga diri Sumiyati yang selama ini menjadi Nyonya rumah satu-satunya. ."Heh, kenapa kalian diam saja? Cepat siapakan air hangat buat calon istriku mandi," perintah Kardi, para pelayan segera membubarkan diri untuk melaksanakan perintah majikannya itu."Aku enggak bisa bayangkan bagaimana perasaan Sumiyati, dia pasti begitu menderita, " kata seorang pembantu pada temannya. "Mung
Yudha berteriak kencang sampai otot-otot di lehernya menegang. Angin semilir yang berhembus dari arah lautan seolah menjawab ucapannya, tiba-tiba muncul lah wanita yang berputar di atas laut membentuk sebuah pulau badai yang tadinya kecil semakin lama semakin membesar. Tak semua itu saja, gelombang laut mulai menerjang tepian pantai diiringi suara gemuruh angin yang berhembus kencang menerpa dahan-dahan pohon kelapa.Wuuuuush!Angin itu semakin lama semakin besar, dari laut pindah ke daratan menghancurkan apa saja yang dilewati. Ditambah lagi suara guntur yang bersahutan, orang-orang yang berada di rumah Sari tidak menyangka jika badai datang di luar prediksi mulai menerjang dekorasi pernikahan seharusnya berlangsung tenang.Braaak!Orang-orang berlari ketakutan, atap rumah Yudha sampai terangkat ke udara. Belum sempat ijab qobul dilakukan orang-orang sudah mulai meninggalkan rumah tersebut. Hanya dalam waktu beberapa menit saja, rumah Yudha telah hancur purak-poranda."Kenapa bisa be
Begitu perahu menyentuh bibir pantai, Yudha langsung menarik perahu itu ke daratan. Ia memindahkan beberapa karung beras tadi ke tempat yang kering dan aman di bawah pohon kelapa. "Biar di sini aja, nanti aku cari orang buat antar ke rumah, Yudha ... dua karung beras itu bagian kamu, sisanya punyaku," kata Windy. "Berasnya nanti aja, aku mau pulang," yudha tak perduli soal beras, ia langsung meninggalkan pantai untuk menuju ke rumahnya yang sedang ramai didatangi orang-orang."Akhirnya bocah enggak berguna ini pulang juga," kedatangan Yudha disambut cemoohan."Sudah tahu kakaknya mau nikah, malah dia keluyuran entah ke mana selama beberapa hari,""Yudha memang selama ini menjadi beban bagi Sari. Harusnya dia mendukung saja ketika kakaknya dipersunting oleh juragan Kardi," ujar orang-orang saat Yudha lewat di dekat mereka, sama sekali adik tiri Sari tersebut tidak peduli dengan omongan orang. Dia langsung menuju ke ruang tamu yang sudah dihias seolah akan dilangsungkan sebuah pesta di