로그인Pada dasarnya Irawan tidak memiliki kemampuan bela diri sama sekali, namun dalam kondisi terdesak dia tetap memberikan perlawanan yang membuat jari lawannya tertekuk ke atas. "Kurang ajar kamu, udah berani sama kami?!" gertak orang satunya. "Jangan ambil punyaku, aku cuma mempertahankan apa yang menjadi milikku saja!" bantah Wawan, namun mereka justru menghunus senjata tajam lalu disabetkan ke arah Irawan.Wuush!Ayunan celurit hampir mengenai lengan Irawan, beruntung dia sempat menghindar sehingga bacokan itu hanya mengenai udara hampa. Masih dalam keadaan siaga, yang mengambil segenggam tanah berpasir lalu dilemparkan ke arah lawannya sekuat tenaga."Aaaargh!" Satu orang mengerang kesakitan sambil menutup wajah, sementara yang satunya masih kesakitan karena jarinya patah. Suara jeritan tersebut menarik perhatian orang-orang yang merupakan teman para preman tersebut, mereka berlari dari kejauhan sambil berteriak memberi ancaman."Tolong, kami dipukul Wawan anak Suseno! Dia sangat ku
Suseno melotot, ia melihat karung beras miliknya berpindah tangan Sari ke Suti."Pak Suseno, maaf. Aku akan ganti beras itu, cukup potong gajiku," Sari ketakutan setengah mati."Pak, saya kembalikan. Saya enggak bermaksud membuat Mbak Sari dalam masalah," Suti meletakkan karung itu ke lantai."Enggak! Aku yang keterlaluan karena mengira Sari mengambil tanpa ijin, padahal alasan di balik ini membuatku tak bisa membendung air mata lagi," Suseno menyerahkan karung itu ke tangan Suti lagi. "Dari balik dinding ini aku telah mendengar semuanya, dia melakukan sesuatu yang benar. Tak ada yang dirugikan soal ini, ambillah. Jika kamu butuh pekerjaan datang saja ke rumahku," Suseno membantu Suti berdiri.Lantas Suti menceritakan semuanya, Suseno dan Wati mendengar dengan seksama. Ia tahu kezaliman sedang berlangsung di desa kecil itu dan tak ada yang bisa mencegah karena Kardi memiliki kekuatan yang tak terbendung dengan uang yang ia punya mampu mengendalikan semuanya."Orang tak dikenal baru sa
Seperti sebuah tamparan keras, Suti sampai memegang pipi mendengar ucapan neneknya. "Aku tidak bisa melakukan hal itu, aku mau menikah dan kesucianku hanya kuserahkan pada suamiku," tolak Suti. "Dari kecil hingga dewasa akulah yang membiayai semuanya, saat kehidupan kita baik-baik saja tak ada yang perlu dikhawatirkan. Namun kali ini situasi yang berbeda, kita butuh makan kita butuh untuk memenuhi kebutuhan, satu Malam bersama Kardi tidak akan mencegah pernikahanmu berlangsung. Ini demi kita, demi perut kita," bujuk Mbok Sum. "Dia orang kaya, bisa mencari perempuan lainnya tapi tidak denganku!" Suti pergi begitu saja, sambil membanting pintu berjalan keluar rumah tanpa tak tahu arah tujuan yang akan dia tempuh.Sekian menit berjalan tanpa mempedulikan Mbok Sum yang berusaha mencegahnya, Suti telah tiba di tepi pantai. Dia duduk diantara pasir dengan kaki terjulur, perasaan ini lebih melegakan ketimbang dia berada di rumah seperti tadi. Suti menangis, nyaris tak bersuara hanya suara
"Ndoro, ampuuun ... aku tak akan mengulangi perbuatan itu!" teriak Warto, dia yang tadinya jumawa mulai pucat. Kardi yang terkenal kejam telah membuktikan jika dirinya menjadi sosok dominan di tempat tersebut.Tangan dan kaki Warto dipegang oleh dua orang berbadan besar, di bawahnya ada kolam ikan yang sangat jernih dengan ratusan ekor ikan piranha yang siap menyambar."Satu ... dua tigaaa!"Byuuur!Warto dilempar, seketika ikan-ikan itu berebut daging dan menyambar setiap jengkal tubuh Warto. Air yang tadinya tenang dan jernih mulai memerah berbau amis. Sesekali Warto muncul di permukaan air, ia coba melawan takdir namun ikan-ikan itu bukanlah lawan sepadan baginya di perairan. Suara jeritan kesakitan itu mulai hilang, lalu air yang bergejolak kembali tenang dengan tulang belulang yang mengambang."Pelajaran untuk seorang pengkhianat. Kalian harus ambil pelajaran dari kematian Warto. Ingat di Desa ini, akulah yang berkuasa. Akuklah yang menentukan takdir kalian semua. Hahahah!" Kardi
Warto dianggap buruh biasa yang kurang bergaul tapi memiliki sikap dingin yang membuat Sumiyati kini tak berkutik. Dalam dekapan buruh kasar itu, Sumiyati membayangkan semua hal buruk yang bisa terjadi saat Warto membocorkan rahasia ladang gandum saat Sumiyati bercumbu rayu dengan mandor kebun."Nyonya, kamu terlalu cantik untuk diabaikan. Apa kamu enggak melihat bagaimana Kardi menyentuh istri salah satu pelayan? Dia masih muda, juru masak di rumahmu ... aku sendiri pura-pura tak melihat saat keduanya saling menindih di meja dapur. Aaaah, tubuhnya masih kencang. Melon kembarnya bahkan seperti gunung kemukus yang siap meledak, dia memang tak pandai bercumbu tapi Ndoro Kardi begitu bersemangat sampai melupakan ada orang di sekitar," bisik Warto yang tangannya bermain lincah di area pribadi Sumiyati. Istri Kardi cuma diam, matanya terpejam saat Warto menjamah sambil bercerita."Apa kamu tak ingin merasakan rengkuhan pria lain yang lebih tampan dan muda? Lihatlah, aku di sini untuk memba
Warto berdiri melonggarkan ikat pinggang, tatapannya sayu memandang Sumiyati. "Nyonya sudah diberi uang untuk mencari orang yang mau merusak dapur milik Suseno bukan? Sedangkan setelah digunakan bersenang-senang, uang itu tersisa kurang dari separoh. Coba pikir, siapa yang mau mengerjakan dengan uang yang sedikit? Yah, meskipun itu tiga kali lipat gaji buruh selama beberapa Minggu, tapi tak sebanding dengan resikonya," ucap Warto dengan nada suara dingin."Jangan mengancam aku, Warto. Soal uang bisa dicari, dan aku bisa menemukan seseorang yang mau mengerjakan hal itu!" dengus Sumiyati. Namun Warto malah mendekati majikannya dengan langkah pelan, wajah mereka berhadapan dan hanya tersisa beberapa centimeter aja. "Warto, apa yang mau kamu lakukan? Mundur!" Sumiyati mendorong Warto. "Bermain dengan mandor di perkebunan saat sore hari turun hujan, tak ada yang tahu kecuali aku, Nyonya," imbuh Warto, tangannya mulai nakal saat mengelus paha Sumiyati, lalu dengan tangan yang sama mulai me







