LOGINEntah nasib sial atau rezeki nomplok, Raka tak sengaja melihat sang bos besar, Clara sedang memanjakkan tubuhnya dengan alat yang membuat mulut Raka menganga lebar. Raka pikir akan dipecat karena sudah ceroboh memasuki ruang kerja yang dia kira sudah sepi itu. Rupanya sang bos besar justru memintanya menggantikan alat tersebut!
View MoreSiang ini, Raka baru saja membuka pintu ruang kerja sang bos di perusahaan besar fashion dan make up tempatnya bekerja, dan ia tak sengaja mendengar suara-suara aneh dari dalam.
“Ma-mas, kamu tega sama aku? Kamu biarin batinku tersiksa? Kamu tidak pernah memberiku nafkah batin lagi semenjak kamu dekat dengan perempuan itu?”
Raka yang tidak sengaja berada di sana, matanya seketika terbuka lebar.
Di atas sofa kulit berwarna hitam yang membentang di tengah ruangan, Clara—pemilik perusahaan sekaligus bos besarnya sedang merebah dengan posisi kemeja putih yang sudah terbuka berantakan.
Tubuh wanita 29 tahun itu berguncang pelan, tenggelam dalam pusaran kenikmatan yang dibuatnya sendiri.
“Tega kamu biarin aku bermain sendiri? Tega? Tega sekali dirimu!”
Sebagai pria normal berusia 24 tahun, pemandangan liar di sore hari menuju malam ini benar-benar menghantam pertahanan dirinya sampai hancur berkeping-keping.
‘Gila. I-ini beneran Bu Clara?’ ucap Raka dalam hati.
Setelah mengumpat dalam hati, Raka bermaksud mundur perlahan dan berpura-pura tidak pernah melihat pemandangan terlarang ini. Ia sadar, dirinya hanya seorang OB dan tidak sepantasnya memergoki majikannya berada dalam situasi absurd.
Namun, fokusnya yang terpecah dan tangannya yang gemetaran justru memicu petaka. Tangan Raka menyenggol gagang alat pel yang bersandar di bahunya.
PRANG!
Gagang besi alat pel itu pun jatuh dan menghantam lantai marmer dengan suara yang memekakkan telinga.
Wanita itu menoleh dengan napas terputus-putus, dan matanya langsung membola sempurna saat mendapati seorang pria berseragam OB berdiri tak jauh dari pintu.
"Kamu?!" pekik Clara.
Suaranya langsung melengking tinggi, bercampur antara terkejut, malu, dan amarah yang mendadak meluap.
Dengan gerakan cepat yang panik, Clara menarik kain kemejanya untuk menutupi dadanya, lalu membetulkan posisi duduknya meski tubuhnya masih gemetar sisa kenikmatan yang belum tuntas.
Wajahnya yang memerah paduan antara gairah dan amarah menatap Raka dengan tajam.
"Se-sejak kapan kamu berdiri di situ? Kamu ngintip saya, ya?" tembak Clara panik.
Mendengar teriakan sang bos besar, Raka jadi makin panik. Keringat dingin mulai membasahi dahi dan telapak tangannya.
Kemudian dengan cepat dia membungkukkan badan berkali-kali secara refleks, dengan raut wajah yang mulai pucat pasi menahan diri.
"Maaf, Bu! Demi Tuhan saya nggak sengaja, Bu! Saya pikir ruangan Ibu sudah kosong karena karyawan yang lain sudah pada pulang semua. Makanya saya masuk mau bersihin ruangan," jawab Raka dengan suara gemetar, bahkan matanya tak berani menatap langsung wajah bosnya.
"Nggak sengaja, hm?" Clara langsung berdiri dari sofa sembari merapikan kemejanya berantakan tadi.
"Tapi, tatapan kamu tadi bukan tatapan orang yang 'nggak sengaja'," bisik Clara saat jarak mereka tersisa satu langkah.
Matanya kini menatap bibir Raka sejenak sebelum naik menatap matanya. "Kamu menikmati setiap detik pemandangan tadi, kan?"
Raka langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Ng-nggak kok, Bu! Saya benar-benar nggak ada niat begitu. Pintu tadi nggak terkunci rapat, jadi saya langsung masuk. Saya minta maaf yang sebesar-besarnya, Bu. Tolong jangan pecat saya." Raka memelas habis-habisan.
Bayangan masa depannya yang kelam langsung melesat menghantam kepalanya. Jika dia dipecat hari ini tanpa pesangon, habis sudah riwayatnya.
Uang tabungannya tinggal beberapa lembar di dompet.
Lusa adalah tenggat pembayaran tunggakan kosan yang sudah menunggak seminggu dan ibu kosnya bukan tipe orang yang mau mendengar alasan.
Token listrik di kamarnya pun meminta diisi, dan persediaan mie instan di dalam kardusnya tinggal hitungan hari.
Di kota metropolitan yang kejam ini, jangankan untuk bernapas tenang, sekadar air minum pun harus dibeli dengan uang.
Jika sampai terdepak dari sini, Raka benar-benar akan menjadi gelandangan berijazah SMA.
“Hmm, alesan mulu kamu ini,” ucap Clara sambil melipat tangan di dadanya. “Mau jujur atau dipecat, Raka?” ancam Clara kemudian.
Raka semakin panik dibuatnya.
Rasa takut kehilangan pekerjaan mengalahkan rasa malunya. Pemuda itu lantas maju satu langkah dengan wajah memohon, dengan menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada.
"Jangan dong, Bu. Tolong kasihanin saya. Saya janji nggak bakal kejadian lagi hal kayak gini. Saya lupa ketuk pintu tadi. Tolong jangan dipecat ya, Bu. Saya harus bayar uang kosan akhir minggu ini. Belum lagi biaya hidup dan kirim uang buat di kampung," tutur Raka dengan raut wajah yang benar-benar memelas.
Clara menyilangkan kedua tangannya di depan dada, untuk menutupi area pribadinya yang sempat terekspos.
Matanya kian menyipit, mengamati sosok Raka dari atas sampai bawah.
Pemuda di hadapannya ini memiliki postur tubuh yang tinggi, dada yang lumayan tegap di balik seragam OB-nya, serta wajah yang sebenarnya cukup tampan dan bersih untuk ukuran seorang pekerja pembersih.
"Ganteng-ganteng kok mau jadi OB," gumam Clara dengan pelan.
"Kamu OB baru di sini, ya?" tanyanya ketus.
Raka dengan cepat mengangguk-angguk.
"Iya, Bu. Saya baru kerja dua bulan di sini. Makanya jangan dipecat ya, Bu. Saya beneran butuh uangnya buat bayar kosan. Kalau saya dipecat sekarang, terus diusir dari kosan karena nggak bisa bayar, saya mau tinggal di mana, Bu?" rayu Raka dengan nada suara serendah mungkin.
“Kamu pikir saya peduli?”
Matahari pagi baru saja menyapu jalan tol dengan pendar keemasannya. SUV hitam melaju mulus menyusuri aspal dengan Raka yang duduk tenang memegang kemudi.Di kursi samping pengemudi, Clara tampak anggun memeriksa laporan di komputer tabletnya. Sementara di baris belakang, Maya melipat kedua tangannya di dada dengan bibir mengerucut panjang."Perasaan posisi duduk aku melesat banget deh dari kemarin," gerutu Maya pelan dari balik kursi belakang, sengaja memancing perhatian. "Serasa jadi penumpang gelap aku di sini."Clara tidak menoleh, jemarinya tetap lincah menggeser layar tablet. "Kamu itu sekretaris, Maya, bukan pengawal. Tempat kamu memang di belakang.""Tapi kan sepi di belakang, Bu Clara," celetuk Maya manja seraya melirik bayangan Raka dari kaca spion tengah.Raka yang fokus menatap jalanan hanya menyunggingkan senyum miring yang teramat tipis tanpa membalas ucapan Maya, mempertahankan aura profesionalnya di depan sang CEO.Mobil terus membelah jalanan hingga sejam kemudian pap
Maya melangkah mengendap-endap menyusuri lorong sempit menuju pos office boy.Suara ketukan sepatu hak tingginya sengaja diperpelan.Saat melihat pintu ruangan kecil itu sedikit terbuka, menyebarkan seberkas cahaya kuning redup ke koridor, senyum centil seketika terukir di bibirnya yang bergincu merah.Klek.Maya menyusup masuk, lalu dengan cepat mengunci pintu dari dalam."Langkah kamu berisik banget, Maya," celetuk Raka tanpa menoleh.Pria tegap itu sedang berdiri menyandarkan pinggulnya di tepi meja kayu, jemari tangannya santai merapikan deretan kunci ruangan yang tergantung di papan dinding.Maya terkekeh halus, membuang jarak di antara mereka dengan ayunan panggul yang manja.Tanpa ragu, ia langsung menyandarkan tubuh mewahnya, gelendotan di lengan berotot Raka yang terbungkus kemeja kerja."Biarin, kan cuma ada kita berdua di sini," sahut Maya dengan nada suara yang mendayu-dayu.Ia kemudian mengerucutkan bibirnya seraya menatap wajah tegap Raka dari samping."Kesal banget tahu
Jam dinding melingkar berbingkai emas di atas meja menunjukkan tepat pukul sembilan malam.Di atas meja kaca raksasa, belasan botol sampel parfum berderet rapi, memancarkan aroma bunga dan kayu yang lembut namun pekat.Clara menyandarkan punggungnya pada kursi kulit eksekutif. Sang CEO memijat pelapis pelipisnya yang sedikit tegang usai marathon pembahasan strategi pemasaran."Sampel aromanya sudah siap semua, Bu," ujar Maya seraya merapikan bundel dokumen presentasi di hadapannya.Meski pakaian kerjanya masih tampak rapi, raut wajah sang sekretaris tak bisa menyembunyikan rasa lelah, sekaligus rasa kesal yang masih terpendam akibat rencananya bersama Raka yang tertunda.Clara mengangguk pelan, menghela napas panjang sebelum menatap dua orang di dalam ruangannya secara bergantian."Pembahasan di sini sudah selesai," kata Clara dengan suara beningnya yang selalu memancarkan wibawa."Tapi sampel parfum ini harus diuji dan dipresentasikan langsung ke klien utama kita di Bandung lusa nant
Raka tersenyum tipis mendengarnya.Dia tahu apa yang diinginkan Maya dengan pekerjaan penting itu.Sorot mata centil dan usapan jemari sang sekretaris di dadanya sudah menyuarakan segalanya tanpa perlu dijelaskan lagi dengan kata-kata.Maya yang sadar Raka belum memberikan kepastian langsung menatap pria tegap itu dengan pandangan menuntut."Kok cuma senyum-senyum aja? Jawab dong, Raka! Kamu mau kan datang malam ini?" desak Maya dengan suara parau yang amat manja, meremas ringan kain kemeja di dada Raka.Namun, baru saja Raka mau jawab, langkah kaki berirama tegas dan ketukan sepatu hak tinggi yang bernada anggun memecah atmosfer padat di ruang sekretariat."Maya."Panggilan dingin bernada otoriter itu membuat Maya tersentak kaget.Perempuan itu buru-buru menarik tangannya dari dada Raka dan berbalik dengan paha gemetar.Clara berdiri tegak di ambang pintu.Sang CEO tampil sempurna dalam balutan setelan blazer hitam yang pas badan, memancarkan wibawa kepemimpinan yang tak terbantahkan






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.