Share

Bab 010

last update Last Updated: 2025-09-01 16:06:14

Gerbang besi besar yang menjulang tinggi perlahan terbuka, memperlihatkan jalan masuk berlapis batu alam yang bersih dan rapi. Deretan mobil mewah meluncur masuk satu per satu, sinar matahari sore memantul di bodi mobil mereka seperti kilau berlian.

Mereka semua tiba di mansion Keluarga Laurent.

Para pelayan bergerak cepat, membukakan pintu mobil dan menunduk hormat saat anggota keluarga satu per satu keluar dari mobil.

Evelyne langsung masuk ke kamarnya tanpa banyak bicara. Mariana, Hector, dan sepupu-sepupu lain menuju ruang tengah sambil masih membicarakan kejadian makan siang tadi.

Sementara itu, Agatha menghampiri Damian, berkata, "Damian, ke ruanganku sekarang. Ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu."

Damian memberikan anggukan setuju, mengikutinya dengan tenang. Dia tidak perlu pintar untuk tahu apa yang ingin dibicarakan Agatha.

Ruang kerja Agatha berada di lantai dua sayap timur. Sebuah ruangan luas, dindingnya dipenuhi rak buku berisi literatur klasik dan dokumen keluarga. Di tengah ruangan ada meja kayu mahoni besar, dan kursi berlengan yang terlihat seperti takhta.

Agatha duduk perlahan, menyandarkan punggungnya, lalu menatap Damian yang berdiri di seberangnya.

“Kau terlihat marah sekali hari ini, Damian. Aku yakin, kau pasti sudah menyiapkan sesuatu.”

Damian menarik napas dalam-dalam, bersandar santai di dinding, tapi matanya tetap dingin.

“Aku benci untuk mengakui ini, tapi Kael sudah menjadi simbol ancaman, Madam Agatha. Kalau kita terus menunggu, dia akan tumbuh menjadi duri yang menancap terlalu dalam. Jika itu terjadi, mencabutnya akan menjadi semakin sulit.”

Agatha tak menjawab.

Damian melanjutkan, kali ini dengan suara lebih pelan, tapi menggigit.

“Aku sudah mencoba membunuh karakternya, tapi gagal. Aku mencoba mempermalukannya, tapi tidak hanya gagal, dia bahkan menjadi sorotan utama. Dia terus bertahan... dengan kepala tegak, sikap tengil, dan sekarang Evelyne mulai menunjukkan perubahan sikap.”

Dia mencondongkan tubuh ke depan.

“Sudah waktunya kita menggunakan cara... yang lebih permanen.”

Agatha mengangkat alisnya. “Maksudmu, Damian?”

Damian menunjukkan senyum jahat saat dia membalas, “Patahkan kedua kakinya. Hancurkan masa depannya. Dan... siram wajahnya dengan air keras.”

Hening.

Agatha menatap Damian lama, sehingga suara detik jam di dinding menjadi satu-satunya suara di ruangan itu.

Setelah beberapa saat...

“Aku mengerti kemarahanmu,” ujar Agatha pelan. “Tapi... itu terlalu kejam, Damian. Kita bukan mafia."

Damian tersenyum dingin. “Tapi kita juga bukan orang suci, Madam Agatha. Dan Kael sudah bukan lagi ancaman yang bisa dipandang sebelah mata."

Dia melangkah pelan ke arah meja, menatap Agatha lurus-lurus.

“Kalau kita siram wajahnya dengan air keras—kita sudah menghancurkan masa depannya sepenuhnya. Evelyne akan mundur dengan sendirinya. Tidak ada wanita yang mau hidup dengan monster cacat.”

Agatha mengatupkan bibirnya. Wajahnya tetap tenang, tapi ada badai di balik matanya.

"Bagaimana jika Evelyne menyadari bahwa kita adalah pelakunya?"

Damian mengangguk pelan. “Tenang saja, Madam Agatha. Aku punya orang-orang yang dapat diandalkan. Mereka akan membuat ini terlihat seperti kecelakaan... atau perampokan yang gagal.”

Hening kembali melingkupi ruangan. Sampai akhirnya, Agatha bersandar ke belakang, menatap tajam ke arah Damian.

Itu memang rencana yang ekstrem. Tapi terkadang... mungkin itulah yang dibutuhkan.

Setelah jeda singkat, Agatha hanya berkata satu kalimat pendek—datar, namun mengerikan.

“Kalau begitu, pastikan dia tidak bisa berdiri lagi dan benci untuk bercermin selama sisa hidupnya!"

Damian tersenyum puas, "Anda membuat keputusan yang tepat, Madam Agatha."

---

Besok paginya, pukul sepuluh, di halaman belakang mansion Laurent.

Sinar matahari pagi menyelinap lembut di antara dedaunan pohon maple. Angin sejuk bertiup ringan, membuat jemuran kain-kain halus dan pakaian kerja bergoyang pelan.

Kael berdiri tenang, mengenakan kaus sederhana dan celana panjang santai, tengah menggantung cucian terakhir di ujung tali jemuran.

Setelah dia selesai, dia menghela napas tanpa daya, "Ada lebih dari dua puluh pelayan di rumah besar ini, tapi yang urus jemuran tetap aku. Ini dengan jelas menunjukkan statusku sebagai menantu yang setara dengan pelayan... atau mungkin lebih buruk, karena sama sekali tidak digaji."

Kael tertawa kecil, menertawakan dirinya sendiri, sembari mengambil handuk untuk mengelap tangannya yang basah.

"Jika murid-murid melihat penguasa Sekte Naga Langit melakukan ini, aku tak tahu apakah mereka akan marah atau tertawa."

Pada titik ini, suara wanita tiba-tiba memanggilnya. Itu tenang, namun penuh nada perintah, terdengar dari arah pintu kaca yang menghubungkan dapur ke halaman.

Kael menoleh. Di sana berdiri Grace Laurent, ibu Evelyne. Ia datang dengan folder dokumen berwarna hitam di tangannya.

Kael memiringkan kepala sedikit, lalu menyambut dengan senyum tipis. “Selamat pagi, Ibu. Kau tampak cantik hari ini."

Grace berjalan pelan mendekatinya, sendal bulu menapaki rumput tanpa suara. Wajahnya anggun, tapi tatapan matanya jelas menunjukkan ketidaksukaan yang dalam. Sejujurnya, itu lebih seperti rasa jijik.

“Jangan puji aku dengan mulut kotormu itu. Ini,” katanya sambil menyodorkan folder itu ke arah Kael. “Antar dokumen ini ke kantor Evelyne. Dia butuh ini sebelum rapat jam sebelas.”

Kael menerima folder itu. Ia membuka sedikit dan melirik isinya sekilas—yang langsung membuat alisnya terangkat ringan.

Bukan dokumen sensitif seperti yang ia duga, melainkan hanya salinan brosur promosi lama, proposal acara internal yang sudah lewat, dan beberapa catatan rapat tanpa konteks yang bahkan tidak ditandatangani.

Ini membuat Kael tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya, "Mengapa Evelyne membutuhkan semua ini untuk rapat?"

Grace seketika menunjukkan ekspresi kesal. “Mengapa kau harus tahu?! Kubilang antar, ya antar aja!"

Kael menghela napas tanpa daya saat dia berkata di dalam benaknya, "Jika ingin menjalankan rencana untuk menyingkirkanku, setidaknya lakukan dengan baik. Ini adalah rencana yang sangat murahan."

Walaupun Kael kecewa di dalam, dia tersenyum di permukaan, membalas dengan nada sopan, "Baiklah, Ibu, saya berangkat sekarang."

"Jangan terlambat. Kalau kau sampai membuat Evelyne kehilangan wajah di kantor… kau tahu akibatnya." Grace membalas dingin, lalu berbalik tanpa berkata lagi.

Langkahnya menjauh kembali ke dalam mansion, meninggalkan Kael sendirian di halaman.

Sembari mengambil langkah, dia tersenyum puas. Ibunya bilang hari ini Kael akan tamat. Dia akan dihancurkan, dan Evelyne pada akhirnya akan meninggalkannya.

Jujur saja, dia sudah tidak sabar menantikan hasil dari ini.

Sementara itu, sembari menatap punggung Grace, Kael tersenyum kecil saat dia berkata, “Mari kita lihat… kejutan apa yang sudah mereka siapkan hari ini.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Ngakunya Pengangguran, Ternyata Penguasa Dunia    Bab 350

    Namun gurunya, Tetua Qingshan, memberitahunya bahwa Tetua Mingxia punya cara untuk membuatnya punya kesempatan besar untuk menang.Dan ia tentu saja mengambilnya.Tanpa ragu!Tanpa pikir panjang!Ini tidak hanya demi dirinya sendiri.Ini demi harga diri Sekte Naga Suci Menembus Langit!Bagaimana mungkin turnamen di sekte ini dimenangkan oleh manusia dari Dunia Bawah yang rendahan?!Bagaimana mungkin mereka membiarkan wajah sekte diinjak-injak seperti ini?!Ini akan memalukan!Ini akan menghancurkan reputasi sekte di hadapan seluruh Dunia Atas!Karenanya, ia bersedia melakukan apa pun, bahkan ketika itu menggunakan cara kotor!Apa pun itu, selama Kael tidak menang!Mendengar jawaban yang penuh dengan tekad itu, Chen Mingxia mengangguk dengan ekspresi yang sangat puas. Senyum kecil muncul di wajahnya. Senyum yang dingin dan penuh dengan kepuasan.Lalu, dari cincin penyimpanan yang ada di jarinya, ia mengeluarkan sesuatu.Sebuah pil.Pil berwarna merah darah yang sangat pekat. Warna mera

  • Ngakunya Pengangguran, Ternyata Penguasa Dunia    Bab 349

    Chen Wuji bangkit dari singgasananya yang megah.Dengan suara yang diperkuat oleh energi spiritual sehingga terdengar sangat jelas di seluruh arena, ia berkata, "Babak semi-final telah berakhir, dimenangkan oleh Chen Yunfei dan Li Xin!"Ia berhenti sejenak, membiarkan pengumuman itu meresap. Lalu ia melanjutkan dengan nada yang tegas, "Babak final akan diadakan empat jam lagi! Kepada kedua finalis, beristirahatlah dengan baik. Pertarungan terakhir ada di depan mata!"Setelah pengumuman itu, Chen Wuji turun dari singgasananya dengan langkah yang tenang.Para penonton mulai bubar perlahan-lahan. Namun, berbeda dengan hari sebelumnya, kali ini tidak ada antusiasme yang sama. Tidak ada diskusi seru tentang siapa yang akan menang. Tidak ada perdebatan tentang kekuatan kedua finalis. Jelas, mereka berharap babak final tidak dilakukan.Tentu saja, itu karena mereka bisa menebak Kael akan menang. Tidak ada keraguan atas itu!Dia... terlalu kuat. Dan Chen Yunfei, tidak akan bisa mengatasinya.

  • Ngakunya Pengangguran, Ternyata Penguasa Dunia    Bab 348

    Wasit berdiri di antara Kael dan Chen Xueyi.Dengan suara yang diperkuat oleh energi spiritual, ia berkata, "Peraturan pertandingan sangat sederhana. Pertarungan berlangsung hingga salah satu pihak tidak bisa melanjutkan atau menyerah. Apakah kalian berdua mengerti?"Kael mengangguk dengan tenang.Chen Xueyi juga mengangguk, namun wajahnya menunjukkan ekspresi yang sangat serius.Wajah tenangnya seperti hari sebelumnya telah hilang sepenuhnya. Itu karena lawannya kali ini sangat kuat, yang mampu mengalahkan Chen Yuelin!Ia tidak boleh longgar sama sekali. Ia harus menang, demi mendapatkan apresiasi dari orangtua dan gurunya!Wasit melanjutkan, "Sebelum pertarungan dimulai, kalian berdua harus saling menghormati."Kael dan Chen Xueyi saling menatap, lalu keduanya mengatupkan tangan di depan dada dan membungkuk sedikit.Wasit mengangkat tangannya tinggi-tinggi."Bersiaplah!"Keheningan total terjadi.Kael berdiri dengan ekspresi yang sangat tenang. Di tangannya, ia memegang pedang putih

  • Ngakunya Pengangguran, Ternyata Penguasa Dunia    Bab 347

    Keesokan paginya, matahari baru saja terbit di ufuk timur. Namun Arena Utama sudah kembali penuh dengan penonton.Mereka semua menantikan babak semi-final dengan penuh antusias!Chen Tianwei duduk di paviliunnya dengan ekspresi yang tenang namun penuh dengan harapan.Chen Ningshuang berdiri di antara penonton dengan wajah khawatir, masih memikirkan tentang keputusan Kael semalam, sesekali melirik ke arah Kael yang berdiri tak jauh darinya.Di singgasananya yang megah, Chen Wuji berdiri mengenakan jubah putih dengan corak emas yang berkibar.Ia mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Lalu dengan suara yang diperkuat oleh energi spiritual sehingga terdengar sangat jelas di seluruh arena, ia berkata, "Babak semi-final akan dimulai sekarang!"Ia berhenti sejenak, membiarkan pengumuman itu meresap.Lalu ia melanjutkan dengan nada yang tegas, "Pertarungan pertama: Chen Yunfei melawan Chen Rouxue!"Ia berhenti lagi."Pertarungan kedua: Chen Xueyi melawan Li Xin!"Segera setelah pengumuman itu, d

  • Ngakunya Pengangguran, Ternyata Penguasa Dunia    Bab 346

    Ketika Kael menutup pintu paviliun dan berbalik, Chen Ningshuang sudah berdiri di belakangnya.Wajahnya menunjukkan kekhawatiran yang dalam. Walau ia berusaha menyembunyikannya, ekspresi itu sangat jelas terlihat.Dengan suara yang berusaha menyembunyikan kekhawatirannya, ia bertanya, "Kau menerima tantangannya?! Kau yakin mempertaruhkan kedua lenganmu?!"Dan jelas, Chen Ningshuang menyadari bahwa yang diinginkan Chen Haoran lebih dari sekadar kedua lengan Kael.Ia ingin menghancurkan Kael!Di Arena Utama, sebelum ia mengambil kedua lengan Kael, ia sudah akan menghajar Kael hingga kerusakan yang jauh lebih buruk dari kehilangan kedua lengan.Patah tulang di mana-mana.Organ dalam yang rusak.Wajah yang hancur.Dan mungkin bahkan lebih parah dari itu.Itulah yang membuat Chen Ningshuang khawatir.Ia tidak ingin pria setampan Kael kehilangan kedua lengannya.Atau lebih buruk lagi—kehilangan nyawanya.Kael menatap Chen Ningshuang dengan ekspresi yang sedikit curiga. Lalu dengan nada yang

  • Ngakunya Pengangguran, Ternyata Penguasa Dunia    Bab 345

    Kael menatap Chen Haoran dengan ekspresi yang sangat tenang.Di belakang Chen Haoran, berdiri tiga pemuda lain.Mereka semua adalah murid-murid inti dari Tetua biasa.Wajah mereka menunjukkan ekspresi yang serius, namun juga ada sedikit keraguan di mata mereka.Ketika melihat Kael keluar dari paviliun, Chen Haoran tersenyum puas.Senyum yang penuh dengan kepuasan dan juga sedikit ejekan.Ia tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya dengan nada yang mengejek, "Wow, aku pikir kau akan tetap berada di dalam, bersembunyi, seperti sebelumnya. Aku tidak menyangka kau akan keluar."Kael menatap Chen Haoran dengan ekspresi datar. Lalu dengan nada yang sangat langsung, ia bertanya, "Apa yang kau inginkan?"Mendengar pertanyaan yang sangat blak-blakan itu, wajah Chen Haoran seketika berubah dingin.Senyumnya menghilang, digantikan dengan ekspresi yang sangat serius dan penuh dengan kebencian.Ia menatap Kael dengan tatapan yang sangat tajam. Lalu dengan suara yang keras dan tegas, ia berkata

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status