MasukKael mengayuh sepeda listriknya perlahan melewati gerbang depan mansion keluarga Laurent.
Dengan hoodie hitam tipis dan tas kecil berisi dokumen di punggung, ia tampak seperti kurir—bukan suami yang sedang menuju kantor istrinya. Roda sepeda meluncur mulus di atas jalan berbatu, meninggalkan debu halus yang nyaris tak terlihat. Dari lantai dua, di balik tirai ruang kerjanya, Agatha berdiri dengan tenang sambil memandangi punggung Kael yang makin menjauh. Senyum jahat muncul di wajahnya saat dia berkata, “Dia sudah bergerak. Bergerak menuju ke kehancurannya.” Damian yang berdiri tak jauh darinya, menyilangkan tangan dan menatap ke arah yang sama. Dia tersenyum puas, nyaris tertawa. "Ketika dia kembali, kondisinya tidak akan lagi sama!" Setelah mengatakan itu, dia mengeluarkan ponsel, mengirim pesan kepada orang-orangnya, "Lakukan seperti yang aku perintahkan!" Di saat yang bersamaan, sebuah van hitam melaju pelan di jalan kota, menyatu dengan keramaian pagi tanpa menarik perhatian. Kaca jendelanya gelap, plat nomornya palsu, dan suaranya nyaris tak terdengar di tengah deru kendaraan lain. Di dalamnya, empat pria berpakaian kasual duduk diam, masing-masing fokus pada tugas yang sudah diberikan. Di bangku tengah, pria bertubuh besar dengan bekas luka di pelipis membuka tas hitam di pangkuannya. Di dalamnya, botol kecil berisi cairan bening yang disimpan dalam wadah kaca tebal—air keras berkadar tinggi, cukup untuk menghancurkan wajah seseorang dalam hitungan detik. Tidak hanya itu, juga ada kabel pengikat dan suntikan berisi cairan penenang. Semuanya disiapkan untuk satu tujuan: menghancurkan hidup Kael! "Targetnya sedang menuju pusat kota. Rute kemungkinan melewati Jalan Elmare atau belok ke Timur lewat Pasar Tua," ujar pria kurus berjaket denim, sambil menatap peta digital di tablet kecilnya. "Kita tunggu di titik tiga. Begitu dia lewat, kita potong dari depan. Apakah kau mengerti, Stitch?" Sopir van; Stitch, mengangguk pelan, jari-jarinya mengetuk setir dengan ringan. Pria kurus berjaket denim; Great, kemudian memandang pria bertubuh besar, berkata, "Blade, suntik dia dengan cepat dan tepat. Kita hanya punya satu kesempatan. Jangan gagal." Sama seperti Stitch, pria bertubuh besar; Blade, hanya mengangguk tanpa suara. Di kursi di samping supir, seorang pria muda dengan topi kupluk; Hook, mengayunkan-ngayunkan karambit di tangan kirinya, berkata, "Ini misi yang sederhana, tapi dengan bayaran yang fantastis, satu setengah juta dollar! Aku penasaran mengapa bos bersedia membayarkan mahal hanya untuk menyiksa satu pria biasa, yang identitasnya bahkan tidak pernah terdengar." Great langsung menjawab, suaranya tajam dan dingin, "Jangan pernah anggap sepele sebuah misi. Siapa tahu seseorang yang kau anggap lemah, adalah yang membunuhmu! Tetap waspada bahkan ketika menghadapi musuh yang terlihat tidak berdaya! Anak kecil masih berbahaya jika memegang pisau. Apakah kau mengerti?" Hook mengangkat bahu, santai. "Ya ya, aku paham.” Setelahnya, keheningan menghiasi dalam mobil. Hanya suara AC dan deru kendaraan dari luar yang terdengar. Lalu tiba-tiba, Stitch berkata, "Ketemu! Dia berada di jalan Elmare!" Great langsung membalas, "Bagus. Kita tunggu di titik tiga!" Setelah menunggu selama dua menit, Kael akhirnya muncul kembali di pandangan mereka, sekitar lima puluh meter jauhnya, perlahan mendekat. Blade dengan gerakan yang cepat keluar dari mobil. Walaupun tubuhnya besar, tapi dia lincah dan gesit, menunjukkan bahwa dia adalah seseorang yang terlatih. Begitu dia tiba di depan Kael, dia menyuntikkan cairan penenang di lehernya. Dalam dua detik, Kael terkulai. Tanpa membuang waktu, tubuh dan sepedanya langsung diseret masuk ke van. Hampir tidak ada orang di sekitar yang menyadarinya karena gerakannya yang mulus dan sempurna. Hook yang melihat Blade melakukannya dengan sangat mudah, seolah tanpa usaha, tersenyum kecil saat dia menatap Great, berkata dengan nada sarkastik. "Aku tidak melihat ada sesuatu yang mengancam tentang misi ini." Great tidak membalas, dia hanya berkata kepada Stitch, "Jalan sekarang. Kita bawa dia ke gudang kosong yang sudah disiapkan. Kita eksekusi semuanya di sana." Stitch memberikan anggukan setuju, melaju mobil dengan kecepatan rata-rata, seolah tidak ada hal besar yang terjadi. --- Gudang Kosong, Tepian Kota – 10:40 pagi. Suara pintu besi tua berderit keras saat didorong paksa. Cahaya pagi menyelinap masuk melalui celah-celah dinding seng yang berkarat. Lantai gudang berdebu, dengan beberapa peti kayu tua berserakan. Di tengah ruangan, tubuh Kael duduk tak bergerak, diikat ke kursi logam dengan tali nilon tebal. Tangan dan kakinya terikat erat, kepalanya tertunduk, masih pingsan. Keempatnya berdiri mengelilinginya. Blade menyiapkan botol air keras, sementara Great mengecek kabel pengikat. Hook masih memainkan karambit-nya sambil bersiul pelan, seolah ini hanya permainan. "Haruskah kita bermain dulu dengannya, sebelum mematahkan kakinya dan menyiramnya dengan air keras? Aku ingin..." Belum sempat kalimatnya selesai, terdengar suara lirih dari arah Kael. “Hei…” Mereka langsung menoleh, terkejut. Kael mengangkat kepalanya perlahan. Senyumnya muncul pelan—tipis, santai, nyaris tak sopan. “…ada yang punya air minum? Tenggorokanku kering banget habis akting barusan. Kalian tahu, menahan tawa itu sulit.” Suasana langsung menegang. Blade mencengkeram botol air keras di tangannya lebih erat. “Kau… sudah sadar?” Cairan penenang itu punya efek paling cepat dua jam. Lalu, bagaimana mungkin hanya beberapa menit pria ini sudah sadar? Kael melirik ke sekelilingnya, menatap wajah-wajah tegang itu satu per satu. Lalu tertawa kecil—seolah menertawakan lelucon pribadi. “Dari awal. Dari saat kau keluar van seperti aktor gagal dalam film kriminal murahan.” Great maju selangkah, nada suaranya berubah keras. “Kau—kau pura-pura?!” Kael memiringkan kepala, ekspresinya seperti guru yang sedang bersabar mengajari murid lamban. “Kalian pikir menyuntik leherku dengan cairan penenang akan membuatku pingsan? Konyol. Kalian tahu tidak, tubuhku sudah beradaptasi dengan racun-racun yang bahkan bisa membunuh seekor banteng.” Dia melirik tali di tangannya—dan dalam satu gerakan halus, kreeek, tali itu terlepas begitu saja dari pergelangan tangannya. “Dan tali nilon? Serius? Kalian menculik orang pakai tali yang bahkan anak SMA bisa lepasin dalam sepuluh detik?" Marah Kael mempermainkan mereka, Blade menyimpan kembali botol air keras di tas dan langsung menyerang dengan pukulan lurus. Namun, belum sampai tinjunya menyentuh wajah Kael—tangan Kael sudah lebih dulu menyentuh lengannya. BRAK! Tubuh besar itu melayang dan menghantam peti kayu di pojok ruangan, hancur bersama serpihan debu. Dia seketika memuntahkan seteguk darah segar. Tiga orang lainnya membeku. Wajah mereka berubah pucat. Hook berkata di dalam benaknya dengan ekspresi tidak percaya, “Apa-apaan dia ini…” Kael berdiri dari kursinya, melenturkan leher dan menggerakkan bahunya seperti seseorang yang baru bangun tidur. "Kalian tahu... aku sebenarnya berharap kalian lebih tangguh. Tapi ternyata... kalian cuma semut yang kebetulan dapat senjata." Dia melangkah pelan, penuh percaya diri, matanya menatap tajam seperti elang. “Dan sekarang... biar kutunjukkan dengan siapa kalian sebenarnya berurusan."Keesokan paginya, rutinitas Kael berjalan seperti biasa.Berkeliling singkat, sarapan, lalu ke kamar Wu Shengming untuk pemeriksaan rutin. Lou Bingxin berdiri di tempatnya yang biasa, mengawasi dengan ekspresi yang tidak pernah sepenuhnya netral setiap kali matanya jatuh ke arah Kael.Kael tidak mempermasalahkan itu.Ia melakukan tugasnya dengan cara yang sama seperti kemarin, metodis dan profesional, ramuan yang tidak lain adalah parasetamol untuk mengurangi rasa sakit, beberapa kata penjelasan singkat kepada Lou Bingxin tentang kondisi yang tidak berubah banyak, lalu ia pergi.Sementara Xiao Peng, dia berkeliling tidak dalam wujud burung kecil, melainkan yang jauh lebih kecil.---Seekor nyamuk kecil melayang pelan di koridor utama istana, tidak berbeda dari nyamuk-nyamuk lain yang sesekali muncul di ruangan-ruangan lembab di sisi timur.Tidak ada yang memperhatikannya. Tidak ada yang perlu memperhatikannya.Di dalam tubuh kecil itu, Xiao Peng bergerak dengan cara yang berbeda dari
Kael tidak langsung mulai.Ia berjalan ke meja, mengambil dua kursi, menaruhnya berhadapan di tengah kamar. Ia duduk di salah satunya, lalu mengangguk ke kursi yang lain.Xiao Peng duduk."Pertama, aku perlu kau memahami sesuatu yang mendasar," kata Kael. "Energi hitam bukan musuhmu. Bukan racun yang harus dilawan. Orang-orang yang gagal menjinakkannya selalu gagal karena alasan yang sama, mereka mencoba menang atas energi itu."Xiao Peng mendengarkan dengan seksama."Energi hitam itu seperti api yang sudah terlalu lama dibiarkan menyala tanpa arah. Liar, tidak stabil, dan naluri pertamanya selalu mendorong ke luar. Jika kau melawannya secara frontal, ia akan membalas dua kali lipat. Jika kau menekannya, ia akan mencari celah lain untuk keluar." Kael berhenti sejenak. "Yang harus kau lakukan adalah berbicara dengannya."Xiao Peng mengerutkan keningnya sedikit."Maksudnya?""Masuk ke dalam dantianmu. Temukan energi hitam itu. Jangan sentuh, jangan dorong, jangan lakukan apa pun. Hanya
"Kita akhiri di sini untuk malam ini."Kael berdiri, meregangkan punggungnya. "Beristirahatlah. Besok, aku akan mengajarimu cara menjinakkan energi hitam dan menjadikannya energi perak."Mata Xiao Peng langsung menyala. Seluruh tubuhnya terasa penuh dengan kekuatan baru yang belum sepenuhnya ia eksplorasi, dan pikirannya sudah berputar ke arah apa yang akan mungkin terjadi jika energi itu disempurnakan lebih jauh lagi.Dia ingin mengatakan bahwa dia tidak pernah merasa sebaik ini dalam seribu lima ratus tahun, dan malam ini terlalu sayang untuk dilewatkan dengan tidur.Namun itu perintah Pemimpin Agung, jadi tidak ada penolakan.Xiao Peng mengangguk. "Baik, Pemimpin Agung.""Kau tidur di lantai," tambah Kael sambil menunjuk ke sudut kamar. "Tempat tidurnya hanya satu. Tidak masalah, bukan?"Xiao Peng melirik ke sudut yang ditunjuk, lalu kembali ke Kael, dengan ekspresi seseorang yang merasa pertanyaan itu tidak perlu diajukan sama sekali."Tidak sama sekali, Pemimpin Agung. Saya sudah
Sepanjang hari, kamar Kael terlihat seperti milik seorang tabib yang sedang bekerja keras.Di dalam persepsi mereka yang mengawasinya dari luar, Kael duduk di meja dengan beberapa lembar kertas di depannya, sesekali memegang kepala, sesekali mencoret sesuatu, sesekali berdiri dan berjalan dari satu ujung kamar ke ujung lainnya seperti seseorang yang sedang memecahkan masalah besar.Gambaran yang sempurna dari seorang Tabib Dewa yang sedang mengerahkan seluruh otaknya untuk menemukan cara menyembuhkan penyakit langka.Tentu saja, itu hanya ilusi.Di balik lapisan Teknik Ilusi Mimpi Tak Terbangunkan yang sudah ia pasang rapi sejak pagi, Kael yang sebenarnya duduk bersila di tengah kamar dengan mata terpejam, menyerap energi spiritual dari lingkungan sekitar dan menyimpannya perlahan ke dalam dantiannya. Ia menggunakan waktu ini untuk beristirahat sepenuhnya, cara yang jauh lebih produktif dari pura-pura berpikir keras.---Malam tiba dengan lambat. Cahaya lentera spiritual di koridor lu
Tidak butuh waktu lama sebelum pintu kamar diketuk dan beberapa pelayan masuk satu per satu, membawa nampan-nampan yang hampir tidak muat dipegang dua tangan.Mereka menaruh semuanya di meja besar di tengah kamar, membungkuk hormat, lalu pergi.Kael menatap hidangan yang tersaji di depannya.Daging rusa berbumbu rebusan jamur gunung yang harum. Irisan ikan sungai biru yang hanya bisa ditemukan di aliran air di ketinggian tertentu. Sup tulang yang bening namun pekat dengan energi spiritual yang terasa bahkan dari jarak semeter. Beberapa jenis sayuran dengan daun yang sedikit bercahaya, ditumis dengan minyak dari biji lotus langka. Nasi putih yang butirannya lebih besar dari biasa, hasil panen dari ladang yang ditanami di tanah yang sudah menyerap ribuan tahun energi spiritual.Dan di tengah semuanya, sepiring kukusan jamur hitam berbintik emas yang bahkan dalam keadaan matang masih mengeluarkan aroma yang membuat udara di sekitarnya terasa lebih segar.Ini bukan makanan biasa. Ini yang
Kael hampir tidak bisa mengendalikan ekspresinya ketika mendengar itu. Dia tidak menyangka bahwa pengkhianat ini cukup cerdas.Dia mampu menarik kesimpulan yang sempurna hanya dari satu kejadian? Mengesankan.Tapi Kael berhasil mempertahankan ketenangannya. Di permukaan, dia mengerutkan keningnya dengan cara yang terlihat tulus, ekspresi seseorang yang baru saja mendengar nama yang sama sekali tidak dikenalnya."Bukan." Nada suaranya santai, tangannya masih mengulurkan butiran nasi ke arah burung kecil di punggung kursi. "Namaku Gao Changgong. Dan siapa Mo Tianjue itu?"Lou Bingxin menatapnya tajam. Matanya menyusuri wajah Kael, mencari celah, mencari getaran kecil di otot rahang, kedipan yang terlalu cepat, pergeseran pupil, sesuatu yang menunjukkan kebohongan. Ia sudah melakukan ini ribuan kali kepada ribuan orang, tapi tidak ada apa-apa. Wajah di depannya bersih seperti permukaan danau yang tidak pernah dilempar batu."Kau tadi mengunjungi ruang bawah tanah, bukan?" tanyanya.Kael







