LOGINNamun, walaupun Evelyne tidak bisa membela Kael, berdiri di sisinya, selayaknya istri yang baik, tapi dia masih ingin melakukan sesuatu untuknya.
Kael masih duduk dengan tenang, seperti biasa. Wajahnya datar, matanya santai—hampir seolah tak terjadi apa-apa. Tapi Evelyne tahu... pria itu pasti lelah. Bukan secara fisik, tapi hati dan kesabaran. Lalu, dengan sedikit ragu, Evelyne meraih botol wine merah yang berada di tengah meja. Tangannya bergetar samar saat menuangkannya ke dalam gelas kosong di depannya. Suara gluk... gluk... dari wine yang mengalir terasa sangat nyaring di tengah ruangan. Semua mata langsung tertuju padanya. Bahkan Mariana, yang barusan tertawa paling keras, kini memandangi Evelyne dengan dahi berkerut. Mengapa Evelyne menuangkan wine di gelas yang baru? Untuk siapa gelas itu? Dan, jawaban yang dia terima selanjutnya adalah Evelyne menggeser gelas itu ke depan Kael, dan dengan suara pelan namun terdengar jelas, dia berkata, “Kau sepertinya belum minum wine apa pun, Kael. Jadi... silakan.” Kael menoleh, terkejut. Matanya bertemu dengan mata Evelyne. Sekilas, hanya sekilas, dia bisa melihat rasa bersalah... dan sesuatu yang lain—yang belum bisa dia definisikan. Kael menatap gelas itu, lalu kembali menatap Evelyne. Senyum kecil terbit di sudut bibirnya. Bukan senyum puas. Bukan juga ejekan. Tapi... semacam rasa haru yang tak perlu diungkapkan. “Terima kasih,” jawabnya singkat, lembut. Momen itu—sederhana dan tanpa suara berlebihan, tapi justru terasa lebih keras daripada teriakan mana pun. Para anggota keluarga Laurent saling pandang, tidak percaya dengan apa yang baru mereka saksikan. Mariana memutar bola matanya. “Astaga... sekarang kau bahkan menuangkan wine untuknya? Apakah dia raja di sini?!” Sepupu Evelyne menyikut sepupu lain di sampingnya, lalu berbisik, “Sejak kapan dia...?” Namun Evelyne tidak menggubris. Untuk pertama kalinya, dia tidak peduli dengan komentar mereka. Untuk pertama kalinya, dia memutuskan melakukan sesuatu bukan karena tuntutan... bukan karena tekanan... tapi karena dorongan hatinya sendiri. Dan entah kenapa, rasanya... tidak seburuk yang dia bayangkan. Kael meneguk wine itu sedikit, lalu meletakkan gelasnya kembali ke meja. Rasa itu... jauh lebih manis dari yang dia duga. Melihat itu, tangan Damian di bawah meja mengepal begitu keras hingga buku jarinya memutih. Wajahnya masih tersenyum... tapi matanya nyaris membunuh. Dia jelas sedang jatuh dalam kemarahan yang besar. Tidak perlu dijelaskan, ini adalah kekalahan besarnya. Dia kalah dari bajingan yang bahkan dianggap sampah dan tidak punya pekerjaan. Ini benar-benar memalukan. Sembari memancarkan kebencian yang besar, Damian berkata di dalam benaknya, "Lihat saja, besok adalah hari di mana hidupmu hancur! Aku akan membuat Evelyne merasa jijik padamu, dan akan benar-benar menganggapmu sebagai sampah yang sesungguhnya!" Sama seperti Damian, Agatha juga mulai menganggap Kael sebagai ancaman nyata. Jika dia terus membiarkan Kael melakukan apa yang dia inginkan, Evelyne mungkin akan benar-benar jatuh cinta padanya, dan memisahkan keduanya akan semakin sulit. Dia harus melakukan sesuatu untuk menghentikan Kael! Bajingan ini tidak lagi boleh dibiarkan bergerak bebas! Pada titik ini, Agatha meletakkan serbetnya ke atas meja dengan pelan namun tegas. Wajahnya datar, matanya menatap Kael dengan dingin. Lalu dia berdiri, merapikan gaun elegannya dengan anggun sebelum akhirnya berkata, “Kurasa makan siang ini sudah cukup panjang. Sudah waktunya kita pulang.” Dia lalu menatap Evelyne sejenak. Senyumnya tipis, tapi ada ketegangan di balik matanya. “Evelyne, aku tidak menyangka kau mulai belajar jadi istri yang... penuh perhatian.” Suaranya tenang, tapi nada sarkastisnya tajam bagai pisau yang diselubungi sutra. “Walau agak terlambat, setidaknya kau masih bisa... menuangkan wine dengan tepat sasaran.” Beberapa sepupu tertawa kecil, menahan senyum geli. Mariana dan Hector menunjukkan ekspresi tidak berdaya sekaligus kecewa. Tapi Evelyne tidak membalas. Wajahnya tetap tenang, hanya sedikit mengangguk. Agatha kembali menatap Kael, matanya tajam seperti biasa, tapi kali ini... ada kebencian besar yang tersimpan di dalamnya. “Dan Kael… nikmati saja wine itu. Mungkin hari ini adalah satu dari sedikit hari... di mana kau merasa seperti bagian dari keluarga.” Setelahnya, dia berbalik. “Semua orang, mari kita pergi.” Dia berjalan lebih dulu meninggalkan ruangan, langkahnya tenang namun penuh tekanan. Yang lain menyusul, satu per satu, di antaranya Evelyne dan Damian. Kael hanya menatap punggung mereka tanpa berkata apa-apa. Setelah mereka benar-benar pergi, dia menelan habis wine yang ada di gelasnya, lalu tersenyum puas. Dia tahu, bahwa akan terjadi sesuatu yang menarik setelah ini. "Si sok keren dan nenek keras kepala itu pasti akan melakukan sesuatu. Mereka akhirnya menyadari bahwa aku adalah ancaman nyata. Tentu saja, aku menantikan tantangan yang lebih besar."Namun gurunya, Tetua Qingshan, memberitahunya bahwa Tetua Mingxia punya cara untuk membuatnya punya kesempatan besar untuk menang.Dan ia tentu saja mengambilnya.Tanpa ragu!Tanpa pikir panjang!Ini tidak hanya demi dirinya sendiri.Ini demi harga diri Sekte Naga Suci Menembus Langit!Bagaimana mungkin turnamen di sekte ini dimenangkan oleh manusia dari Dunia Bawah yang rendahan?!Bagaimana mungkin mereka membiarkan wajah sekte diinjak-injak seperti ini?!Ini akan memalukan!Ini akan menghancurkan reputasi sekte di hadapan seluruh Dunia Atas!Karenanya, ia bersedia melakukan apa pun, bahkan ketika itu menggunakan cara kotor!Apa pun itu, selama Kael tidak menang!Mendengar jawaban yang penuh dengan tekad itu, Chen Mingxia mengangguk dengan ekspresi yang sangat puas. Senyum kecil muncul di wajahnya. Senyum yang dingin dan penuh dengan kepuasan.Lalu, dari cincin penyimpanan yang ada di jarinya, ia mengeluarkan sesuatu.Sebuah pil.Pil berwarna merah darah yang sangat pekat. Warna mera
Chen Wuji bangkit dari singgasananya yang megah.Dengan suara yang diperkuat oleh energi spiritual sehingga terdengar sangat jelas di seluruh arena, ia berkata, "Babak semi-final telah berakhir, dimenangkan oleh Chen Yunfei dan Li Xin!"Ia berhenti sejenak, membiarkan pengumuman itu meresap. Lalu ia melanjutkan dengan nada yang tegas, "Babak final akan diadakan empat jam lagi! Kepada kedua finalis, beristirahatlah dengan baik. Pertarungan terakhir ada di depan mata!"Setelah pengumuman itu, Chen Wuji turun dari singgasananya dengan langkah yang tenang.Para penonton mulai bubar perlahan-lahan. Namun, berbeda dengan hari sebelumnya, kali ini tidak ada antusiasme yang sama. Tidak ada diskusi seru tentang siapa yang akan menang. Tidak ada perdebatan tentang kekuatan kedua finalis. Jelas, mereka berharap babak final tidak dilakukan.Tentu saja, itu karena mereka bisa menebak Kael akan menang. Tidak ada keraguan atas itu!Dia... terlalu kuat. Dan Chen Yunfei, tidak akan bisa mengatasinya.
Wasit berdiri di antara Kael dan Chen Xueyi.Dengan suara yang diperkuat oleh energi spiritual, ia berkata, "Peraturan pertandingan sangat sederhana. Pertarungan berlangsung hingga salah satu pihak tidak bisa melanjutkan atau menyerah. Apakah kalian berdua mengerti?"Kael mengangguk dengan tenang.Chen Xueyi juga mengangguk, namun wajahnya menunjukkan ekspresi yang sangat serius.Wajah tenangnya seperti hari sebelumnya telah hilang sepenuhnya. Itu karena lawannya kali ini sangat kuat, yang mampu mengalahkan Chen Yuelin!Ia tidak boleh longgar sama sekali. Ia harus menang, demi mendapatkan apresiasi dari orangtua dan gurunya!Wasit melanjutkan, "Sebelum pertarungan dimulai, kalian berdua harus saling menghormati."Kael dan Chen Xueyi saling menatap, lalu keduanya mengatupkan tangan di depan dada dan membungkuk sedikit.Wasit mengangkat tangannya tinggi-tinggi."Bersiaplah!"Keheningan total terjadi.Kael berdiri dengan ekspresi yang sangat tenang. Di tangannya, ia memegang pedang putih
Keesokan paginya, matahari baru saja terbit di ufuk timur. Namun Arena Utama sudah kembali penuh dengan penonton.Mereka semua menantikan babak semi-final dengan penuh antusias!Chen Tianwei duduk di paviliunnya dengan ekspresi yang tenang namun penuh dengan harapan.Chen Ningshuang berdiri di antara penonton dengan wajah khawatir, masih memikirkan tentang keputusan Kael semalam, sesekali melirik ke arah Kael yang berdiri tak jauh darinya.Di singgasananya yang megah, Chen Wuji berdiri mengenakan jubah putih dengan corak emas yang berkibar.Ia mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Lalu dengan suara yang diperkuat oleh energi spiritual sehingga terdengar sangat jelas di seluruh arena, ia berkata, "Babak semi-final akan dimulai sekarang!"Ia berhenti sejenak, membiarkan pengumuman itu meresap.Lalu ia melanjutkan dengan nada yang tegas, "Pertarungan pertama: Chen Yunfei melawan Chen Rouxue!"Ia berhenti lagi."Pertarungan kedua: Chen Xueyi melawan Li Xin!"Segera setelah pengumuman itu, d
Ketika Kael menutup pintu paviliun dan berbalik, Chen Ningshuang sudah berdiri di belakangnya.Wajahnya menunjukkan kekhawatiran yang dalam. Walau ia berusaha menyembunyikannya, ekspresi itu sangat jelas terlihat.Dengan suara yang berusaha menyembunyikan kekhawatirannya, ia bertanya, "Kau menerima tantangannya?! Kau yakin mempertaruhkan kedua lenganmu?!"Dan jelas, Chen Ningshuang menyadari bahwa yang diinginkan Chen Haoran lebih dari sekadar kedua lengan Kael.Ia ingin menghancurkan Kael!Di Arena Utama, sebelum ia mengambil kedua lengan Kael, ia sudah akan menghajar Kael hingga kerusakan yang jauh lebih buruk dari kehilangan kedua lengan.Patah tulang di mana-mana.Organ dalam yang rusak.Wajah yang hancur.Dan mungkin bahkan lebih parah dari itu.Itulah yang membuat Chen Ningshuang khawatir.Ia tidak ingin pria setampan Kael kehilangan kedua lengannya.Atau lebih buruk lagi—kehilangan nyawanya.Kael menatap Chen Ningshuang dengan ekspresi yang sedikit curiga. Lalu dengan nada yang
Kael menatap Chen Haoran dengan ekspresi yang sangat tenang.Di belakang Chen Haoran, berdiri tiga pemuda lain.Mereka semua adalah murid-murid inti dari Tetua biasa.Wajah mereka menunjukkan ekspresi yang serius, namun juga ada sedikit keraguan di mata mereka.Ketika melihat Kael keluar dari paviliun, Chen Haoran tersenyum puas.Senyum yang penuh dengan kepuasan dan juga sedikit ejekan.Ia tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya dengan nada yang mengejek, "Wow, aku pikir kau akan tetap berada di dalam, bersembunyi, seperti sebelumnya. Aku tidak menyangka kau akan keluar."Kael menatap Chen Haoran dengan ekspresi datar. Lalu dengan nada yang sangat langsung, ia bertanya, "Apa yang kau inginkan?"Mendengar pertanyaan yang sangat blak-blakan itu, wajah Chen Haoran seketika berubah dingin.Senyumnya menghilang, digantikan dengan ekspresi yang sangat serius dan penuh dengan kebencian.Ia menatap Kael dengan tatapan yang sangat tajam. Lalu dengan suara yang keras dan tegas, ia berkata







