Share

Bab 7 : Ciuman Pertama

Author: Minerva
last update publish date: 2026-07-13 16:51:48

Mobil sedan mewah itu berhenti di pelataran rumah Lusty. Kabin mobil terasa sunyi. Raman terus menundukkan kepalanya. Ia mencoba menyembunyikan memar di kening wajahnya dari kaca spion di atas dasbor. 

Lusty memicingkan matanya. Ia menatap Raman dengan sangat menyelidik. "Kamu benar-benar tidak mau jujur padaku, Raman?" 

Kecurigaan Lusty memuncak saat melihat gerakan tangan Raman. Pria itu tampak canggung saat membetulkan posisi topinya yang terlalu turun. 

Raman memaksakan sebuah senyuman tipis. Sudut bibirnya terasa sangat perih akibat hantaman keras tadi siang. "Sumpah, Nona. Saya tidak menyembunyikan apa pun. Semuanya aman dan mobil sudah bersih sempurna." 

Lusty tidak percaya pada bualan sopir pribadinya itu. Ia segera berpindah ke kursi depan demi meraih perangkat dashboard camera di kaca depan mobil. Gerakan tangannya tampak sangat tak sabar. 

Lusty membuka aplikasi khusus di ponselnya. Jemari lentiknya mulai memeriksa rekaman perjalanan mobil sepanjang hari itu. Ia ingin melihat ke mana saja Raman pergi. 

"Kita lihat, apa yang sebenarnya kamu lakukan di luar kantor," gumam Lusty dingin. Matanya fokus menatap layar ponsel yang mulai memutar video.

Mata Lusty seketika membelalak di balik kacamatanya. Video itu menunjukkan area pencucian mobil. Rekaman dashcam tersebut terlihat sangat jernih. Rekaman audio juga menangkap suara dengan sangat jelas.

Raman dihadang secara kasar oleh dua orang pria tidak dikenal. Terjadi perkelahian hebat yang tidak seimbang di sana. Lusty mencengkeram ponselnya erat-erat. Napasnya memburu tertahan. "Astaga... Raman..." 

Lusty bisa mendengar nama Arga Wijaya disebut dengan jelas. Arga adalah otak di balik aksi premanisme tersebut. Lusty melihat Raman dipukul berkali-kali. Raman tersungkur demi melindungi harga diri dan pekerjaannya. 

Raman akhirnya dibantu oleh para petugas cuci mobil. Petugas menyemprotkan air bertekanan tinggi ke arah pelaku.

Air mata Lusty seketika menetes tanpa bisa dibendung. Pipinya mendadak basah oleh air mata. Dadanya terasa sangat sesak oleh rasa bersalah yang luar biasa. Pria jujur dan baik hati itu harus menderita luka-luka. Semua karena keegoisan Arga. Semua karena perjodohan terkutuk yang dipaksakan orang tuanya. 

Tanpa membuang waktu, Lusty mendekap tubuh Raman dengan rapat. Ia menumpahkan segala rasa sedih, marah, dan penyesalan di dadanya. Air matanya mengalir deras membasahi kain kemeja baru Raman. Kemeja itu baru ia pilihkan siang tadi.

Raman sempat tersentak kaget. Seluruh tubuh tegapnya mendadak menegang. "N-Nona Lusty... ada apa? Kenapa Nona menangis seperti ini?" 

Lusty mempererat pelukannya pada tubuh Raman. "Kenapa kamu bohong sama aku, Raman?! Kenapa kamu tidak bilang kalau kamu dipukul oleh orang-orangnya Arga?!" 

Tangis Lusty akhirnya pecah di dada Raman. Suaranya memecah keheningan malam di trotoar jalan yang sepi itu. Lusty perlahan mendongak menatap wajah Raman. 

Ia menyentuh pelipis kanan Raman yang tampak memar kebiruan. Jemarinya yang lentik bergetar hebat. "Aku sudah lihat semua rekaman dashcam mobil tadi... Aku tahu semuanya, Raman." 

Raman menghela napas pasrah. Ia tahu tidak bisa menyembunyikan kenyataan lagi. "Saya hanya tidak ingin membuat Nona Lusty semakin stres memikirkan saya. Saya tidak apa-apa, Non. Ini hanya memar kecil yang akan sembuh besok pagi." 

Lusty menggelengkan kepala dengan tegas. Ia menolak mentah-mentah penuturan rendah hati dari pria di hadapannya. Tatapan matanya semula penuh kesedihan. Kini tatapan itu berubah menjadi kilatan amarah yang membara di balik kacamata. 

Ego Arga Wijaya sudah benar-benar melintasi batas kemanusiaan. Tindakan itu tidak bisa dimaafkan lagi. "Ini bukan masalah kecil, Raman! Ini sudah tindakan kriminal yang sangat keterlaluan!" 

Suara Lusty bergetar namun sarat akan ketegasan. Ia menunjukkan wibawa sebagai seorang pemimpin perusahaan. Lusty meraih tangan kasar Raman. 

Ia menggenggamnya erat untuk memberikan kekuatan dan kepastian. "Aku tidak akan tinggal diam melihatmu terluka demi melindungiku. Malam ini juga, kita bawa rekaman video dashcam ini sebagai bukti. Kita laporkan Arga Wijaya beserta anak buahnya ke pihak kepolisian!"

“Waduh kenapa masalahnya makin rumit begini,” gumam Raman kepalanya terasa makin berdenyut. Namun, sekejap kemudian ia merasakan kecupan yang hangat di bibirnya. Jantungnya makin berdegup kencang ketika menyadari Lusty telah menciumnya.

Kecupan bibir Lusty dan kelembutan tonjolan dada Lusty membuat Raman membeku. Rasa nyeri akibat memar di kepalanya seketika lenyap.

Setelah semenit bibir mereka saling melumat, kemudian Lusty mengambil napas dan menatap mata Raman. “Raman, bawa aku ke hotel. Aku ingin menyembuhkan lukamu dengan bercinta. Aku ingin kamu menjadi pria pertama yang menyentuh tubuh perawanku.”

Raman menegang tak percaya dengan apa yang didengarnya. Apalagi ketika jemari Lusty meremas gundukan kejantanan yang mengeras di dalam celananya.

Raman mendesah, melupakan rasa nyeri di wajahnya. “Ahhhh, Nona…. Nona Lusty serius?”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Nikahi Aku Mas Cleaning Service!   Bab 152 : Jejak Kebaikan

    Bulan berganti musim, dan kehadiran Cahaya perlahan bukan lagi sekadar kebahagiaan di dalam rumah kecil itu—ia menjadi cahaya yang menyebar ke sekeliling, menyentuh hati siapa saja yang berpapasan dengannya. Anak itu tumbuh dengan wajah yang selalu tersenyum, matanya jernih memancarkan kehangatan yang murni, seakan ia membawa pesan damai ke mana pun ia dibawa. Lusty dan Raman tidak pernah memanjakannya dengan kemewahan berlebih, melainkan dengan kasih sayang yang tulus, teladan yang baik, dan kebiasaan berbuat kebaikan sejak dini. Setiap pagi, sebelum menyapa dunia, mereka selalu berdoa bersama, mengajarkan bahwa segala sesuatu yang indah datang dari ketulusan hati dan rasa syukur.Suatu pagi yang cerah, Lusty sedang menyiapkan pakaian bersih untuk Cahaya saat Raman masuk ke kamar dengan wajah yang tenang namun menyiratkan sesuatu yang penting. Ia duduk di tepi tempat tidur, menggenggam tangan istrinya dengan lembut.“Lusty, tadi saya menerima kabar dari salah satu tetangga yang tingg

  • Nikahi Aku Mas Cleaning Service!   Bab 151 : Cahaya yang Tumbuh

    Waktu berlalu lembut bagai aliran sungai yang tenang, membawa serta kebahagiaan yang semakin nyata di kediaman Lusty dan Raman. Cahaya kini telah berusia beberapa bulan, tumbuh menjadi bayi yang sehat, ceria, dan selalu menyapa siapa saja dengan senyum yang menawan. Matanya yang jernih bersinar riang, menatap dunia dengan kepercayaan yang murni, tak ternoda oleh ingatan tentang masa lalu yang kelam. Setiap pagi, tawa kecil yang menggema di ruangan rumah itu menjadi nada pembuka yang indah, mengusir sisa-sisa keheningan yang dulu pernah terasa sepi dan berat.Suatu pagi, Lusty duduk di kursi goyang di beranda, menggendong Cahaya yang tampak bersemangat menendang-nendangkan kakinya yang mungil. Tangan kanannya mengusap punggung buah hatinya dengan lembut, sementara pandangannya menerawang jauh ke arah halaman yang hijau dan tertata rapi. Raman keluar dari rumah membawa dua cangkir teh hangat, meletakkannya di meja kecil di hadapan mereka, lalu duduk di samping istrinya sambil mengusap r

  • Nikahi Aku Mas Cleaning Service!   Bab 150 : Saatnya Cahaya Datang

    Hari-hari penantian yang lembut dan penuh syukur akhirnya mulai menyentuh puncaknya. Perut Lusty kini membulat sempurna, menampakkan bukti kehidupan yang telah tumbuh kuat dan sehat di dalam rahimnya selama berbulan-bulan. Setiap gerakan kecil yang terasa dari dalam menjadi sapaan hangat yang menguatkan hati, seakan anak itu pun tak sabar untuk menyapa dunia yang telah disiapkan dengan kasih sayang sepenuhnya. Lusty berjalan perlahan, penuh kehati-hatian namun dengan wajah yang bersinar cerah, dikelilingi oleh perhatian Raman, Dedi, dan Sari yang tak pernah lelah menjaga serta mendampinginya di setiap langkah.Suatu pagi, udara terasa sejuk dan menyegarkan, menyelinap masuk melalui jendela kamar yang terbuka lebar. Lusty terbangun dengan perasaan yang berbeda—ada rasa nyeri halus yang datang dan pergi, lembut namun teratur, seakan memberi tanda bahwa waktu yang ditunggu telah tiba. Ia menahan napas sejenak, lalu tersenyum lembut menyadari makna perasaan itu. Raman yang sedang duduk di

  • Nikahi Aku Mas Cleaning Service!   Bab 149 : Penantian yang Penuh Harapan

    Hari-hari berganti lembut bagai aliran sungai yang tenang, membawa kedamaian yang kini benar-benar menyatu di setiap sudut kehidupan mereka. Waktu terasa berjalan lebih santai, seakan ikut menghormati masa penantian yang semakin mendekati puncaknya. Perut Lusty kini membulat jelas, menampakkan bukti nyata kehidupan yang tumbuh makin kuat dan sehat di dalamnya. Wajahnya bersinar cahaya keibuan yang lembut, matanya memancarkan ketenangan yang tak pernah goyah walau sesaat pun. Raman selalu berada di dekatnya, mengawasi setiap gerak-gerik istrinya dengan perhatian yang tak pernah lelah, seakan menjadi perisai hidup yang tak akan tergoyahkan oleh apa pun.Suatu pagi yang cerah, Lusty duduk di kursi goyang di beranda, merajut pakaian kecil berwarna putih bersih dengan tangan yang bergerak perlahan dan penuh kasih sayang. Setiap jahitan seakan diisi dengan doa yang tulus—untuk keselamatan, kesehatan, dan kebahagiaan anak yang akan segera datang menyempurnakan kebahagiaan rumah tangga mereka

  • Nikahi Aku Mas Cleaning Service!   Bab 148 : Damai yang Datang

    Hari-hari berikutnya berlalu dengan kelembutan yang belum pernah dirasakan sebelumnya di kediaman Lusty dan Raman. Tidak ada lagi ketegangan yang tersembunyi di balik senyum, tidak ada lagi keraguan yang menyelinap di tengah malam, dan tidak ada lagi kecemasan yang menanti di setiap ketukan pintu. Ketenangan itu bukan sekadar keheningan di sekitar rumah—ia adalah kedamaian yang meresap ke dalam setiap sudut hati, menyadarkan bahwa segala pertarungan batin yang panjang dan melelahkan akhirnya telah berakhir.Pagi itu, udara terasa segar dan harum bunga melati yang tumbuh di halaman depan. Lusty duduk di kursi goyang di beranda, mengenakan pakaian yang longgar dan nyaman, tangan kanannya bergerak perlahan mengusap perutnya yang kini jelas membulat. Setiap kali ada gerakan halus dari dalam, senyumnya merekah seakan menyambut sapaan paling berharga di dunia. Raman datang membawa segelas susu hangat dan sepotong roti yang baru dipanggang, meletakkannya di meja kecil di sampingnya, lalu dud

  • Nikahi Aku Mas Cleaning Service!   Bab 147 : Panggilan Kebenaran

    Sore itu, suasana di kediaman Lusty dan Raman terasa hening namun penuh ketegangan yang tertata rapi. Keterangan yang disampaikan Mbak Sinta telah menyatu dengan kepingan-kepingan bukti lain, membentuk gambaran yang utuh dan tak lagi dapat disangkal. Lusty duduk di meja ruang tengah, menyusun catatan-catatan itu dengan tangan yang mantap namun lembut, sesekali berhenti mengusap perutnya yang semakin membulat. Raman berdiri di sampingnya, menatap baris demi baris tulisan itu dengan pandangan yang tenang namun teguh.“Semua sudah tersusun lengkap, Lusty,” ujarnya pelan, meletakkan tangan di bahu istrinya. “Setiap peristiwa, setiap keterangan, setiap kesaksian—semuanya saling menguatkan. Tidak ada celah yang dapat mereka bantah lagi.”Lusty mengangguk perlahan, menutup berkas itu dengan gerakan yang hati-hati. “Benar, Mas. Namun tujuan kita bukan untuk menjatuhkan mereka, melainkan agar mereka menyadari dan berhenti. Karena itulah, sebelum hal ini diketahui orang lain, kita harus memberi

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status