LOGINRaman yang terkejut mencoba bersikap tenang. Ia membuka pintu mobil perlahan dan berdiri tegak menatap kedua pria asing tersebut. "Maaf, ada keperluan apa ya? Kalau mau mencuci motor, antreannya ada di sebelah sana."
"Jangan berlagak bodoh, Raman!" pria satunya yang bertubuh tambun maju selangkah, menunjuk dada Raman dengan telunjuknya. "Kami di sini membawa pesan dari Tuan Arga Wijaya. Kamu itu cuma kecoak, cleaning service rendahan yang tidak tahu diri! Berani-beraninya kamu merayu Nona Lusty dan mengacaukan perjodohan keluarga mereka!"
Raman tersentak mendengar nama Arga Wijaya disebut. Ia langsung teringat desas-desus perjodohan bosnya yang tersebar ke seluruh kantor.
"Saya tidak pernah merayu Nona Lusty. Saya hanya bekerja sebagai karyawan serabutan dan sopir beliau," jawab Raman membela diri dengan suara yang ditekan.
"Halah, bacot! Dengar baik-baik ancaman kami, Raman. Kamu harus segera pergi dan jauhi Lusty mulai detik ini juga! Kalau kamu masih terlihat berkeliaran di dekat Nona Lusty, kami tidak akan segan-segan membuat tangan dan kakimu patah sampai kamu tidak bisa menyapu lantai lagi!" ancam si rambut cepak dengan nada mendesis yang mengerikan.
Mendengar ancaman yang merendahkan harga dirinya, darah muda Raman seketika mendidih. "Saya tidak akan keluar dari pekerjaan ini kecuali Nona Lusty sendiri yang memecat saya!" tegas Raman dengan sorot mata yang tajam berani.
"Kurang ajar! Bocah ingusan ini menantang kita, hah!" Satu pukulan mentah dari si pria tambun melayang cepat ke arah wajah Raman.
Raman yang memiliki refleks bagus berhasil menghindar ke samping, namun pria rambut cepak dengan cepat melayangkan tendangan ke arah perutnya. DUAK!
Raman terdorong ke belakang hingga punggungnya membentur badan mobil dengan keras.
Maka perkelahian pun tak terhindarkan di area pencucian mobil tersebut. Raman dikeroyok oleh dua anak buah Arga. Raman mencoba membalas dengan melayangkan pukulan jab yang mengenai rahang pria cepak hingga terhuyung, namun sebuah hantaman dari pria tambun mengenai pelipis mata kanan Raman membuatnya jatuh berlutut di atas lantai beton yang basah, menahan rasa perih yang menjalar di wajahnya.
"Ayo bangun! Baru segini saja sudah ambruk, dasar babu!" ejek si pria tambun bersiap melayangkan tendangan pamungkas ke arah kepala Raman.
"Woi! Apa-apaan ini?! Jangan bikin keributan di tempat kerja orang!" Sebuah teriakan lantang memecah ketegangan. Beruntung, ada tiga orang petugas cuci mobil yang melihat kejadian itu. Mereka yang merasa geram melihat ada pelanggan dikeroyok segera berlari datang untuk membantu Raman mengusir anak buah Arga.
SREEEETTT!
Salah seorang petugas langsung menyemprotkan air bertekanan tinggi tepat ke arah wajah kedua penyerang tersebut, membuat mereka kelabakan. Petugas lainnya mengacungkan pipa besi dengan wajah garang. "Pergi kalian dari sini sebelum kami panggil warga untuk mengeroyok kalian!"
Melihat situasi yang tidak menguntungkan maka anak buah Arga itu mengumpat. "Sialan! Urusan kita belum selesai, Raman! Ingat itu!" teriak si rambut cepak sambil buru-buru naik ke atas motor lalu memacu gas melarikan diri.
Setelah keadaan aman, para petugas cuci mobil membantu Raman berdiri. "Kamu tidak apa-apa? Mau kami antar ke klinik?" tanya salah satu petugas dengan cemas.
Raman menyeka darah di pelipisnya lalu tersenyum tipis menahan perih. "Tidak usah, Mas. Ini cuma luka kecil. Terima kasih banyak ya sudah membantu saya tadi."
Raman segera membasuh wajahnya di kamar mandi, merapikan rambutnya, dan memastikan seragamnya sudah bersih. Setelah mobil selesai dicuci mengilap, Raman membawa mobil tersebut menuju gedung kantor tanpa memberi tahu Lusty apa yang telah terjadi padanya. Ia tidak ingin membebani pikiran Lusty yang sudah tertekan akibat urusan keluarga dan perjodohan dengan Arga. Ia memakai topi untuk menyembunyikan memar di pelipisnya.
Raman menunggu dalam mobil ketika Lusty melangkah keluar dari kantor. Wajah Lusty tampak lelah sehabis rapat. Ketika masuk ke dalam mobil, ia mendapati interior kendaraan sudah wangi dan bagian luarnya bersih berkilau. Namun, ada sesuatu yang aneh. Raman yang duduk di kursi kemudi terus menundukkan kepala dan menghindari kontak mata dengannya.
"Raman, kamu kenapa? Kok pakai topi di dalam mobil?" tanya Lusty heran sembari mengamati Raman melalui kacamatanya.
"Ah, tidak apa-apa, Nona Lusty. Hanya agar tidak silau kena cahaya matahari," jawab Raman berbohong.
Sepanjang perjalanan, kecurigaan Lusty makin bertambah. “Raman kalau kamu menyembunyikan sesuatu dan berbohong, kamu akan saya pecat jadi sopir….”
Raman merasa serba salah. “Kalau saya cerita maka yang rugi kita berdua Nona Lusty. Jadi saya tak ingin cerita apapun agar Nona Lusty fokus ke pekerjaan.”
“Ah, kamu ini pandai ngomong. Aku serius! Kalau kamu gunakan mobil ini untuk mengantar cewek lain maka kamu saya pecat sekarang juga!” Lusty entah kenapa tampak cemburu. Lelah setelah rapat membuat kepalanya panas.
“Waduh kenapa jadi makin ngawur gini,” guman Raman. Ia membuat suaranya lebih tegas. “Bukan… sumpah saya gak main cewek.”
“Lalu apa? Raman, ayo cepat jawab!” Lusty melongok Raman menuntut jawaban.
Setiap pagi Lusty selalu bangun lebih awal untuk menyiapkan keperluan rumah sekaligus menata berkas-berkas catatan yang perlahan semakin tebal. Namun belakangan ini, ia mulai merasakan perubahan-perubahan kecil yang tak biasa pada tubuhnya. Sering terasa lelah padahal tidak melakukan pekerjaan berat, nafsu makan yang berubah-ubah, dan yang paling membuat hatinya berdebar—bulan ini waktu yang ditunggu tak kunjung tiba, terlambat cukup lama dari biasanya.Pagi itu, Lusty terbangun dengan perasaan mual yang menyelinap di tenggorokan. Ia duduk di tepi tempat tidur sejenak sambil memegangi perutnya yang terasa sedikit berbeda. Ingatannya langsung melayang pada keterlambatan yang sudah terhitung hampir dua minggu itu. Jantungnya berdegup kencang, bercampur antara rasa harap dan cemas yang mendalam. Tanpa membangunkan Raman yang sedang bersiap ke ruang kerja, ia berjalan perlahan menuju ruang mandi dengan langkah yang sedikit gemetar.Di sana, di dalam bungkusan kecil yang ia beli kemarin so
Hari-hari berikutnya berjalan dengan kesibukan yang biasa namun penuh kewaspadaan di kediaman Lusty dan Raman. Pengakuan yang disampaikan oleh pria petugas itu menjadi benang merah yang menyambungkan segala peristiwa yang sempat tampak terpisah-pisah. Setiap kali Lusty mengenang kembali ucapan pria itu, hatinya semakin yakin bahwa sosok yang selama ini menyembunyikan diri di balik bayang-bayang kekuasaan perlahan mulai terlihat jelas wujudnya. Namun ia tetap menahan diri, tidak terburu-buru melancarkan serangan balik, karena ia paham betul bahwa satu keping bukti belum cukup untuk menyingkap tabir yang selama ini terpasang begitu tebal dan rapi.Suatu siang, saat Lusty sedang menyiapkan berkas pekerjaan di ruang tengah, ponselnya berdering pelan. Nama penelepon itu tidak dikenalinya, namun karena merasa mungkin ada hal penting, ia pun segera mengangkatnya.“Selamat siang, Nyonya Lusty,” suara di seberang sana terdengar berat dan berhati-hati. “Mohon maaf saya berani menelepon. Saya ada
Beberapa minggu berlalu dengan perlahan dan tenang, tanpa ada gangguan berarti yang datang mengusik kedamaian di kediaman Lusty dan Raman. Namun ketenangan yang tampak begitu damai di permukaan itu justru semakin memperkuat keyakinan di dalam hati Lusty—bahwa segala rahasia kelam yang selama ini tersembunyi dengan rapi di balik senyum dan sikap ramah, pada akhirnya pasti akan perlahan muncul ke permukaan dengan sendirinya. Kebohongan tidak akan pernah bisa berdiri tegak dan kokoh selamanya. Seiring berjalannya waktu, ia pasti akan perlahan miring, goyah, dan akhirnya jatuh menampakkan kepada semua orang siapa sosok yang sebenarnya berdiri di balik bayang-bayang kegelapan itu.Pagi itu, matahari baru saja naik tinggi menyinari halaman rumah yang hijau dan segar. Angin berhembus lembut membawa aroma tanah basah dan bunga yang harum semerbak. Di saat suasana rumah tampak begitu tenang dan damai, seorang pria paruh baya tiba-tiba berdiri ragu-ragu di depan gerbang rumah. Pakaiannya rapi n
Hari-hari berlalu dengan perlahan namun penuh ketenangan di kediaman Lusty dan Raman. Tidak ada lagi pesan ancaman yang datang di tengah malam, tidak ada lagi telepon misterius yang tiba-tiba terputus, dan tidak ada lagi kedatangan orang asing yang berulang kali lewat di depan gerbang seakan sedang memantau keadaan rumah. Keheningan yang menyelimuti itu justru menjadi tanda yang jelas bagi Lusty dan Raman—bahwa pihak yang selama ini dengan segala cara berusaha menjatuhkan mereka, perlahan namun pasti mulai kehilangan akal sekaligus kehilangan celah untuk terus melancarkan serangan. Setiap jalan yang dulu mereka paksakan untuk melangkah kini tampak tertutup rapat oleh kebersamaan, kepercayaan, dan keteguhan hati yang tak mampu mereka tembus sedikit pun.Suatu sore, saat matahari mulai terbenam menyisakan cahaya keemasan yang lembut menyinari halaman rumah, Lusty dan Raman duduk berdampingan di beranda sambil menikmati udara segar yang berhembus pelan. Wajah mereka tampak tenang, namun
Tiga hari berlalu dengan cepat, dan hari kepulangan Lusty pun tiba. Raman menjemputnya sendiri hingga ke terminal kedatangan. Begitu melihat sosok istrinya melangkah keluar, Raman langsung menyambutnya dengan senyum tulus dan pelukan hangat tanpa menanyakan satu hal pun terlebih dahulu. Tidak ada pertanyaan tentang foto, tidak ada pertanyaan tentang pesan yang dikirimkan. Hanya kehangatan dan ketenangan yang menyelimuti mereka berdua seolah tak pernah ada jarak yang memisahkan.“Selamat datang kembali, Lusty,” ujar Raman lembut sambil membukakan pintu mobil. “Rumah terasa sepi tanpamu.”Lusty menatap suaminya lekat-lekat, matanya berbinar penuh kelegaan sekaligus kekaguman. “Mas… kau tidak bertanya apa pun kepadaku?”Raman tersenyum sambil menyalakan mesin mobil. “Apa yang harus aku tanyakan? Selama hatimu tetap bersamaku, perkataan orang lain dan bukti rekayasa mereka tidak ada artinya sama sekali. Aku mengenalmu lebih dari siapa pun. Aku tahu siapa wanita yang aku pilih menjadi pend
Pagi itu, Lusty berangkat menuju kota tujuan sendirian seperti yang tertulis dalam surat penugasan. Raman mengantarnya hingga ke pintu gerbang rumah, menggenggam tangan istrinya erat sebelum melangkah masuk ke dalam mobil.“Jaga dirimu baik-baik di sana, Lusty. Jangan menerima apa pun dari orang yang tidak dikenal, dan jangan percaya pada apa pun yang belum kau pastikan sendiri,” pesan Raman dengan suara lembut namun penuh kecemasan yang tak bisa disembunyikan.“Kau pun begitu, Mas. Jaga rumah dan jaga hati kalian. Apa pun yang terjadi, ingatlah bahwa kepercayaan adalah jembatan yang tak boleh diputus oleh siapa pun,” jawab Lusty sambil menatap lekat mata suaminya. “Tiga hari itu akan berlalu cepat. Jangan biarkan keraguan menyelinap masuk walau sekejap mata.”Mobil pun melaju meninggalkan pekarangan rumah. Raman berdiri terpaku sejenak hingga bayangan kendaraan itu hilang di tikungan jalan, lalu perlahan berbalik masuk kembali dengan hati yang tetap tenang namun waspada.Sesampainya







