Teilen

Bab 6 : Perkelahian

last update Veröffentlichungsdatum: 13.07.2026 15:32:06

Raman yang terkejut mencoba bersikap tenang. Ia membuka pintu mobil perlahan dan berdiri tegak menatap kedua pria asing tersebut. "Maaf, ada keperluan apa ya? Kalau mau mencuci motor, antreannya ada di sebelah sana."

"Jangan berlagak bodoh, Raman!" pria satunya yang bertubuh tambun maju selangkah, menunjuk dada Raman dengan telunjuknya. "Kami di sini membawa pesan dari Tuan Arga Wijaya. Kamu itu cuma kecoak, cleaning service rendahan yang tidak tahu diri! Berani-beraninya kamu merayu Nona Lusty dan mengacaukan perjodohan keluarga mereka!"

Raman tersentak mendengar nama Arga Wijaya disebut. Ia langsung teringat desas-desus perjodohan bosnya yang tersebar ke seluruh kantor.

"Saya tidak pernah merayu Nona Lusty. Saya hanya bekerja sebagai karyawan serabutan dan sopir beliau," jawab Raman membela diri dengan suara yang ditekan.

"Halah, bacot! Dengar baik-baik ancaman kami, Raman. Kamu harus segera pergi dan jauhi Lusty mulai detik ini juga! Kalau kamu masih terlihat berkeliaran di dekat Nona Lusty, kami tidak akan segan-segan membuat tangan dan kakimu patah sampai kamu tidak bisa menyapu lantai lagi!" ancam si rambut cepak dengan nada mendesis yang mengerikan.

Mendengar ancaman yang merendahkan harga dirinya, darah muda Raman seketika mendidih. "Saya tidak akan keluar dari pekerjaan ini kecuali Nona Lusty sendiri yang memecat saya!" tegas Raman dengan sorot mata yang tajam berani.

"Kurang ajar! Bocah ingusan ini menantang kita, hah!" Satu pukulan mentah dari si pria tambun melayang cepat ke arah wajah Raman.

Raman yang memiliki refleks bagus berhasil menghindar ke samping, namun pria rambut cepak dengan cepat melayangkan tendangan ke arah perutnya. DUAK!

Raman terdorong ke belakang hingga punggungnya membentur badan mobil dengan keras.

Maka perkelahian pun tak terhindarkan di area pencucian mobil tersebut. Raman dikeroyok oleh dua anak buah Arga. Raman mencoba membalas dengan melayangkan pukulan jab yang mengenai rahang pria cepak hingga terhuyung, namun sebuah hantaman dari pria tambun mengenai pelipis mata kanan Raman membuatnya jatuh berlutut di atas lantai beton yang basah, menahan rasa perih yang menjalar di wajahnya.

"Ayo bangun! Baru segini saja sudah ambruk, dasar babu!" ejek si pria tambun bersiap melayangkan tendangan pamungkas ke arah kepala Raman.

"Woi! Apa-apaan ini?! Jangan bikin keributan di tempat kerja orang!" Sebuah teriakan lantang memecah ketegangan. Beruntung, ada tiga orang petugas cuci mobil yang melihat kejadian itu. Mereka yang merasa geram melihat ada pelanggan dikeroyok segera berlari datang untuk membantu Raman mengusir anak buah Arga.

SREEEETTT!

Salah seorang petugas langsung menyemprotkan air bertekanan tinggi tepat ke arah wajah kedua penyerang tersebut, membuat mereka kelabakan. Petugas lainnya mengacungkan pipa besi dengan wajah garang. "Pergi kalian dari sini sebelum kami panggil warga untuk mengeroyok kalian!"

Melihat situasi yang tidak menguntungkan maka anak buah Arga itu mengumpat. "Sialan! Urusan kita belum selesai, Raman! Ingat itu!" teriak si rambut cepak sambil buru-buru naik ke atas motor lalu memacu gas melarikan diri.

Setelah keadaan aman, para petugas cuci mobil membantu Raman berdiri. "Kamu tidak apa-apa? Mau kami antar ke klinik?" tanya salah satu petugas dengan cemas.

Raman menyeka darah di pelipisnya lalu tersenyum tipis menahan perih. "Tidak usah, Mas. Ini cuma luka kecil. Terima kasih banyak ya sudah membantu saya tadi."

Raman segera membasuh wajahnya di kamar mandi, merapikan rambutnya, dan memastikan seragamnya sudah bersih. Setelah mobil selesai dicuci mengilap, Raman membawa mobil tersebut menuju gedung kantor tanpa memberi tahu Lusty apa yang telah terjadi padanya. Ia tidak ingin membebani pikiran Lusty yang sudah tertekan akibat urusan keluarga dan perjodohan dengan Arga. Ia memakai topi untuk menyembunyikan memar di pelipisnya.

Raman menunggu dalam mobil ketika Lusty melangkah keluar dari kantor. Wajah Lusty tampak lelah sehabis rapat. Ketika masuk ke dalam mobil, ia mendapati interior kendaraan sudah wangi dan bagian luarnya bersih berkilau. Namun, ada sesuatu yang aneh. Raman yang duduk di kursi kemudi terus menundukkan kepala dan menghindari kontak mata dengannya.

"Raman, kamu kenapa? Kok pakai topi di dalam mobil?" tanya Lusty heran sembari mengamati Raman melalui kacamatanya.

"Ah, tidak apa-apa, Nona Lusty. Hanya agar tidak silau kena cahaya matahari," jawab Raman berbohong.

Sepanjang perjalanan, kecurigaan Lusty makin bertambah. “Raman kalau kamu menyembunyikan sesuatu dan berbohong, kamu akan saya pecat jadi sopir….”

Raman merasa serba salah. “Kalau saya cerita maka yang rugi kita berdua Nona Lusty. Jadi saya tak ingin cerita apapun agar Nona Lusty fokus ke pekerjaan.”

“Ah, kamu ini pandai ngomong. Aku serius! Kalau kamu gunakan mobil ini untuk mengantar cewek lain maka kamu saya pecat sekarang juga!” Lusty entah kenapa tampak cemburu. Lelah setelah rapat membuat kepalanya panas.

“Waduh kenapa jadi makin ngawur gini,” guman Raman. Ia membuat suaranya lebih tegas. “Bukan… sumpah saya gak main cewek.”

“Lalu apa? Raman, ayo cepat jawab!” Lusty melongok Raman menuntut jawaban.

Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Kommentare (1)
goodnovel comment avatar
Fadilah Rahman
sangat bagus
ALLE KOMMENTARE ANZEIGEN

Aktuellstes Kapitel

  • Nikahi Aku Mas Cleaning Service!   Bab 114 : Momen dan Mata-Mata

    Esok harinya, Lusty dan Raman berkebun di halaman rumah baru mereka. “Mas, pegangkan gunting rantingnya sebentar ya, aku mau merapikan tanaman bunga mawar ini yang sudah mulai terlalu rimbun.” Suara Lusty terdengar begitu ceria dan renyah memecah keheningan pagi yang indah.Matahari baru saja naik perlahan, menyebarkan cahaya hangat yang menyentuh dedaunan yang masih membasahi embun segar. Selama satu minggu ke depan, seluruh kantor serta cabang Mona Beauty Group diliburkan sepenuhnya sebagai bentuk perayaan sekaligus waktu istirahat bagi seluruh karyawan setelah seluruh rangkaian acara pernikahan Lula berjalan lancar dan sukses besar. Momen berharga ini pun dimanfaatkan sepenuhnya oleh Raman dan Lusty untuk mempererat kebersamaan sekaligus merawat dan menyempurnakan rumah baru mereka yang kini menjadi tempat tinggal resmi yang mereka impikan bersama.“Baiklah, Sayang. Ini pegangannya. Hati-hati sekali ya, jangan sampai tergores duri mawarnya yang tajam itu,” ujar Raman lembut sambil

  • Nikahi Aku Mas Cleaning Service!   Bab 113 : Alasan Raman

    “Mas Raman ayo jawab… kenapa cairanmu kembali jadi sedikit begini?” tanya Lusty pelan, nada suaranya lembut namun menyiratkan sedikit kebingungan saat merasakan momen itu berakhir lebih cepat dari biasanya. “Rasanya… cairanmu tak sebanyak waktu pertama kali kita berhubungan badan.”Raman seketika menegang, rasa cemas menyergap hatinya seketika. Ia segera menarik napas panjang, berusaha menyusun kata-kata yang terdengar masuk akal sekaligus menutupi rasa bersalah yang membakar dadanya. Tangannya bergetar pelan saat membelai rambut istrinya dengan lembut, mencoba menenangkan keraguan yang baru saja muncul.“Maafkan aku, Sayang… mungkin ini karena aku terlalu lelah dan banyak pikiran belakangan ini,” ucapnya dengan nada tulus yang dipaksakan sebaik mungkin. “Bayangkan saja, beberapa hari ini kita sibuk membereskan segala sesuatu untuk pindah dari apartemen ke rumah baru yang jauh lebih besar ini. Belum lagi mengurus perlengkapan dan tata letak yang harus diperhatikan satu per satu. Belum

  • Nikahi Aku Mas Cleaning Service!   Bab 112 : Tanda di Atas Ranjang

    “Mas Raman… mari kita berbulan madu lagi di rumah baru kita ini…” bisik Lusty lembut, suaranya bergetar pelan saat ia menutup pintu kamar utama rumah baru mereka rapat-rapat. Udara di dalam ruangan masih terasa hangat, seolah masih membawa sisa-sisa sukacita dari pesta pernikahan Lula yang baru saja usai meriah. Adiknya kini sudah berangkat menempuh perjalanan bulan madu ke luar negeri bersama suaminya, dan kini waktu sepenuhnya menjadi milik mereka berdua kembali. Cahaya lampu tidur yang temaram menyinari wajah mereka yang masih tampak berseri namun juga lelah menyaksikan kebahagiaan kerabat terdekat itu.Raman segera merangkul pinggang ramping istrinya dengan erat, menariknya masuk ke dalam dekapan hangat yang tak pernah ia rasakan cukup lama. Ia mencium kening Lusty perlahan, penuh kasih sayang yang mendalam dan rasa syukur yang meluap. “Aku juga rindu sekali, Sayang… sungguh rindu sekali rasanya bisa memelukmu seperti ini lagi. Melihat Lula berbahagia hari ini… membuatku semakin s

  • Nikahi Aku Mas Cleaning Service!   Bab 111 : Bulan Madu

    “Mas, lihatlah… Lula tampak bak putri kerajaan yang baru saja bersanding dengan pangeran hatinya!” seru Lusty dengan mata berkaca-kaca penuh haru, tak berkedip sedikit pun menatap adiknya yang melangkah anggun menuju pelaminan dengan gaun putih berhias ribuan manik yang berkilau diterpa cahaya lampu gantung.Raman berdiri tegak di sampingnya, tersenyum tipis meski di balik senyum itu ada beban yang tak kunjung hilang. “Benar sekali, Sayang. Ia terlihat begitu cantik dan bahagia. Semoga kebahagiaan ini menyertai mereka berdua selamanya.”Pernikahan Lula sungguh meriah dan mewah tanpa cela. Gedung pertemuan yang luas dihiasi lautan bunga segar berwarna-warni, hiasan sutra yang menjuntai indah, serta alunan musik orkestra yang mengalun lembut menyambut ratusan tamu undangan yang hadir. Raman dan Lusty duduk di barisan paling depan keluarga inti, menyaksikan setiap detik sakral—mulai dari prosesi pengantin berjanji setia sehidup semati, hingga sesi ucapan selamat yang tak putus-putus berd

  • Nikahi Aku Mas Cleaning Service!   Bab 110 : Rahasia Fenina

    “Bu Ratna… maaf saya terlambat sedikit.” Fenina melangkah masuk ke ruang tamu rumah besar milik ibu Lusty yang kini tengah riuh rendah dengan tumpukan kain hiasan, daftar tamu, dan kerabat yang sibuk berdatangan untuk membantu persiapan pernikahan Lula. Ratna tampak duduk di sudut meja panjang, sibuk memeriksa daftar katering dan susunan tempat duduk dengan wajah yang terlihat lelah namun tetap tegas dan berwibawa. Ia segera menoleh saat mendengar suara Fenina, lalu memberi isyarat tangan agar gadis itu duduk di kursi yang agak tersudut—menjauh dari keramaian agar percakapan mereka tak terdengar oleh siapa pun.“Duduklah, Fenina. Terima kasih sudah mau meluangkan waktu datang di tengah kesibukan yang tak bertepi begini,” ujar Ratna singkat namun sopan, lalu meletakkan pena yang dipegangnya di atas tumpukan kertas. “Saya dengar kabar kalian baru saja pindah ke rumah baru kemarin. Bagaimana keadaan di sana? Apakah semuanya berjalan lancar, atau ada kendala yang menghambat?”“Sangat lanc

  • Nikahi Aku Mas Cleaning Service!   Bab 109 : Rahasia yang Tertinggal

    “Mas, kau sudah selesai menyusun lemari pakaian kita?” Suara Lusty terdengar lembut membelah riuh rendah suara orang yang mengangkut kotak-kotak besar ke dalam rumah baru mereka. Ia baru saja tiba dari acara pertemuan keluarga dan pengecekan terakhir persiapan pernikahan adiknya, Lula. Matanya berbinar cerah menatap sekeliling ruangan yang perlahan mulai terisi oleh barang-barang milik mereka sendiri. Meski belum seratus persen tertata sempurna, suasana di dalamnya sudah terasa begitu hangat, penuh harapan, dan seolah menyambut masa depan yang indah yang telah lama mereka impikan bersama.Raman menoleh perlahan sambil tersenyum tipis, meski di balik senyum itu raut wajahnya tampak lelah luar biasa—bukan hanya karena pekerjaan memindahkan dan menyusun barang, melainkan juga karena beban batin yang selama ini ia pikul sendirian. “Sebentar lagi selesai, Sayang. Aku ingin memastikan semuanya tersusun rapi dan mudah dicari nanti. Jangan sampai ada barang penting yang tertinggal atau tercam

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status