Home / Rumah Tangga / Nikahi Aku Sehari Saja / Part 5 Nikahi Aku Sehari Saja

Share

Part 5 Nikahi Aku Sehari Saja

Author: Lisani
last update Petsa ng paglalathala: 2023-07-05 08:14:00

Tiga hari berlalu dan mereka kembali menyambut hari Senin. Bian kembali dengan kesibukannya di kantor, mendapat pesan ajakan makan siang dari Yuna. Isi pesannya ada hal penting yang harus mereka bahas berdua saja.

Meja di ruangan luas itu tampak penuh dengan banyak orang yang sedang mengisi perut. Karyawan resto sejak tadi wara-wiri melayani penikmat sajian. Termasuk Bian dan Yuna yang juga sedang menikmati makan siang. Namun, satu kalimat yang dilontarkan Yuna membuat Bian tersedak.

"Kamu bilang apa barusan?!" sentak Bian yang tak habis pikir dengan ucapan Yuna beberapa detik yang lalu.

“Nikahi aku sehari saja!” ulang Yuna.

Bian menggeleng pelan. Gadis yang mengajaknya makan siang bersama ini, sudah gila. Setelah tiga hari tanpa kabar, Yuna datang membawa permintaan yang terdengar seperti petir yang menggelegar.

"Kamu sadar dengan kekonyolan kamu barusan, Yuna?" tanya Bian memijat kepalanya.

"Sepertinya dia benar-benar tidak tahu. Mungkin saat melakukannya, dia tidak sadar sama sekali," batin Yuna yang hanya mengangguk pelan.

Alih-alih bertanya alasannya, Bian justru memojokkannya. Entah hilang ke mana kepekaan Bian selama ini? Pria itu bahkan terlihat acuh tak acuh. Mungkin ini adalah wajah aslinya. Yang selama ini ia tunjukkan tidak lebih dari sekedar sandiwara.

Bian kembali menggeleng lalu mengeluarkan uang dari dompetnya untuk diselip di bill. Rasanya ia sudah membuang-buang waktu sekarang. Yuna yang biasanya berisik juga mendadak kalem. Rasanya benar-benar aneh.

"Sehari saja, Kak."

"Yuna."

“Kak Bian, nikahi aku sehari saja. Setidaknya aku sudah jadi pengantin Kak Bian dikehidupan ini. Setelah talak, aku yang akan membatalkan perjodohan kita. Kak Bian akan bebas dan aku kuliah ke Korea,” pinta Yuna menahan malu.

“Kalau aku menolak?” tanya Bian.

“Aku akan bunuh diri!” ancam Yuna yang membuat Bian tercengang.

"Biarkan aku jadi pengantin Kak Bian sehari saja. Kita nikah siri paginya, lalu cerai malamnya. Setelah itu, aku tidak akan mengganggu Kak Bian lagi. Kita putus baik-baik. Aku sendiri yang akan bilang sama orang tua kita, kalau kita memilih untuk tidak melanjutkan perjodohan ini." Yuna mengatakan usulannya kembali tanpa menatap Bian.

Bian kembali duduk menatap Yuna penuh curiga. “Apa mungkin ini jebakan darinya?” batin Bian.

“Aku sama sekali tidak berniat menjebak Kak Bian. Aku nggak kayak gitu,” tebaknya.

“Tapi itu konyol Yuna. Kalau mau putus kenapa harus ribet begini, sih?” ketus Bian.

Yuna mengulas senyum lalu berkata, “Anggap saja kenangan terakhir sebelum aku kuliah ke Korea.”

“Kamu mau lanjut program magister di sana?” tanya Bian mengernyit.

Setahunya, Yuna menyukai Turki, bukan Korea. Tahun ini gadis itu mengatakan ingin liburan ke Jepang. Kenapa malah mengubah haluan ke Korea?

“Cari suasana baru, habis nonton drakor, aku kepengen ke sana,” jawab Yuna.

“Heleeeh … bikin keputusan besar kayak gitu cuma karena nonton drakor? Apa dia pikir tinggal di negri orang itu nggak ribet?” batin Bian menggeleng.

Yuna mengulum senyum lalu berkata, “Jangan hawatir, aku ke sana nggak sendirian. Aku punya teman yang mau lanjut ke sana juga.”

“Yuna ….”

“Ya atau tidak?” ancam Yuna melipat lengan di depan dada lalu menoleh ke pintu masuk kafe.

Bian memijat kepalanya. “Yuna, menikah itu bukan hal yang mudah.”

“Makanya aku ajak Kak Bian nikah sehari saja. Aku janji, nggak bakal bikin masalah. Kita ke kota lain saja. Setelah pisah, kita pulang,” saran Yuna tersenyum manis.

“Aku bisa gila kalau begini,” gumam Bian menggeram kesal.

“Terserah Kak Bian, mau gila sehari semalam, atau seumur hidup,” ujar Yuna seakan tanpa beban.

Bian mengepalkan tangannya sampai buku-buku jarinya memutih. Rasanya ia ingin menghipnotis Yuna atau berdoa gadis itu amnesia saja.

Yuna mengepak buku tulis dan ponselnya ke dalam tas sembari berkata, “Aku sudah bilang sama Tante Amba, kalau mau putus sama Kak Bian.”

Bian kembali tercengang dan menyadari alasan dari sikap mamanya belakangan ini. “Mama bilang apa?”

“Tante Amba minta aku mikir-mikir lagi.” Sejenak mereka terdiam.

“Kalau Kak Bian nolak tawaranku, Kak Bian yang harus mutusin perjodohan ini di depan keluarga kita. Apa Kak Bian bisa kasih alasan putus sama keluargaku?” tantang Yuna.

Bian bungkam. Orang tua Yuna mungkin akan mengerti. Namun, bagaimana dengan sahabatnya sendiri? Mengingat sifat protektif dari kakak kandung Yuna, Bian menelan saliva. Jika ia putus dengan Yuna tanpa alasan yang jelas dan masuk akal, bisa-bisa semua tulangnya patah.

“Aku kasih Kak Bian 24 jam untuk memutuskan. Tidak lama jika dibanding enam bulan yang Kak Bian kasih buat aku meluluhkan hati Kak Bian. Aku pulang duluan, Kak. Sekarang aku sudah bisa nyetir sendiri, nggak perlu dianterin lagi,” pamit Yuna.

Lidah Bian kelu. Kalimat terakhir itu membuatnya tertohok. Sindiran Yuna mengena tepat di hatinya.

Selama ini ia sering mengeluh jika diminta mengantar gadis itu ke suatu tempat. Kini Yuna sudah mulai mandiri dan tidak butuh bantuan itu lagi darinya. Alih-alih lega, Bian justru merasa resah.

Baru saja hendak menarik seat belt, Bian dikejutkan dengan panggilan telpon dari Arga. Dalam benaknya, mungkin Yuna sudah mengadu pada sahabatnya itu. Kakak mana yang akan diam saja saat adik kesayangannya disakiti?

Walau terpaksa, Bian tetap menjawab panggilan itu. Cepat atau lambat ia memang harus menjelaskan semua ini.

***

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Nikahi Aku Sehari Saja   Part 45 Berawal Dari Ayuna

    "Semua kekacauan ini berawal sejak Ayuna pergi. Kalau dia tidak pergi meninggalkan Bian, mungkin saat ini kita akan adakan resepsi. Bukan rapat darurat membahas CEO pengganti," batin Gian yang menunggu kedatangan beberapa pemegang saham prioritas.Andra duduk santai di kursi presdir dengan mata terpejam. Membiarkan seisi ruang rapat bertanya-tanya tentang apa yang sedang dipikirkan oleh pimpinan tertinggi perusahaan.Sementara Tama, sebagai salah satu pemegang saham prioritas tampak duduk bersantai menghubungi seseorang. Tawa ringannya yang sesekali terdengar, justru semakin membuat resah yang lain. Pria itu terlalu tenang disaat genting seperti ini.Pintu ruang rapat kembali terbuka untuk kesekian kalinya. Beberapa langkah tegas dari ketukan sepatu kulit yang mewah itu, semakin menambah ketegangan. "Akhirnya mereka datang," batin Agung menghela napas panjang. Baginya ini bukan akhir, melainlan awal perang dingin. Engah bagaimana Gian akan menghadapi mereka.Tanpa banyak basa-basi, m

  • Nikahi Aku Sehari Saja   Part 44 Saham Mulai Turun

    Pasangan itu terhenyak setelah mendengar ucapan sahabatnya. Tama dan Ningrum tak menyangka, selama ini Andra dan Amba diam-diam menanggung beban seberat itu."Kalau bukan karena Tasya yang curiga, aku tidak akan tahu tentang Bian hari ini," batin Tama yang juga diam-diam menyelidiki keanehan putranya selama beberapa waktu terakhir. "Kami awalnya ingin memberitahu keluarga yang lain, termasuk kalian. Tapi karena mempertimbangkan saran dari pihak kepolisian, kami mengulur waktu. Setidaknya menunggu hasil pengobatan dokter ahli dari Singapura," jelas Amba menoleh menatap Ningrum yang meremas pelan punggung tangannya.Tama memperbaiki letak kacamatanya. Menatap Andra yang terdiam menatap berkas yang baru saja diantarkan Agung beberapa saat lalu. "Sebelum orang lain tahu tentang kondisi Bian. Sebaiknya umumkan di depan direksi dan pemegang saham kalau kamu yang akan pegang kendali selama Bian menjalani pengobatan. Jangan biarkan mereka tahu kalau Bian ... koma," saran Tama yang juga sela

  • Nikahi Aku Sehari Saja   Part 43 Mencari Isi Dompet Sendiri

    Sejak tahu pria yang dicintai Yuna adalah Biantara, Maira juga akhirnya mengetahui identitas asli Yuna. Putri bungsu keluarga Diratama. Meski bisnis keluarga Diratama tidak sebesar keluarga Kawiraginandra, tapi cukup diperhitungkan dalam ranah industri tanah air. Yuna akhirnya mengakui jika semua itu benar. Disaat itu, Maira juga jujur tentang siapa mantan suaminya. Nama yang terasa tidak asing di telinga Yuna. Mulailah cerita Maira mengalir dan alasan mengapa dirinya bisa tahu tentang Bian. Mantan suami Maira tidak lain adalah salah satu saingan bisnis Bian. Bahkan, mereka pernah berhadapan dalam memperebutkan proyek nasional. Sejak itu pula, hubungan Yuna dan Maira semakin dekat. Mereka merasa jika takdir sudah mempertemukan mereka. Jika ayah bayi mereka bermusuhan karena persaingan bisnis, Yuna dan Maira berharap kelak anak-anak mereka akan hidup rukun seperti saudara. Hari ini, barang-barang jualan yang dipesan Maira sudah tiba. Impiannya membuka toko outfit sudah di depan mat

  • Nikahi Aku Sehari Saja   Part 42 Rencana Licik

    Wanita yang tengah hamil besar itu tersenyum setelah mendapat pesan dari mata-matanya. Tadinya ia pikir, suaminya punya wanita lain di luar sana. Ternyata dugaannya tidak benar. Berawal dari kecurigaan, ia kini mendapatkan satu rahasia besar. Keluarga Kawiraginandra dan kedua sahabat putranya, semuanya ke rumah sakit. Kemungkinan besar, pasien yang sedang mereka jenguk itu dalam kondisi yang cukup memprihatinkan. "Gian selamat dalam kecelakaan beberapa hari lalu. Tetapi, Tuan Andra dan Nyonya Amba tetap ke rumah sakit. Mata-mataku melihat Gian dan Adiba datang. Mereka semua keluar di lobi rumah sakit bersama Danu dan Arga. Yang kurang di antara mereka adalah ... Bian," ucap Tasya tersenyum. Istri Arga itu sedang memikirkan cara untuk balas dendam pada Bian. Pesta resepsi pernikahannya kemarin sempat kacau karena Bian yang mempermalukan tante dan sepupu Arga. Selain itu, di antara ketiga sahabat Arga, hanya Bian yang bersikap dingin padanya. "Kamu berani mengaku sebagai menantu

  • Nikahi Aku Sehari Saja   Part 41 Cuma Gempa Ringan

    "Si Gian mana sih? Kok sampai sekarang belum nongol juga? Nggak penasaran apa kembarannya siuman apa kagak?" gerutu Danu."Percuma lo ngomel, mereka tuh punya telepati," komentar Arga. Ia baru saja tiba setelah sore tadi diberi kabar tentang kecelakaan Bian yang kedua kalinya."Emang dia ngasih lo kabar?" tanya Danu meneguk minumannya."Nggak," balas Arga menggeleng. "Tapi tadi gue telpon Adiba. Nanyain di mana Gian. Dia bilang suaminya lagi hibernasi sejenak karena udah hari dua malam nggak tidur."Danu tercengang. Sepertinya ia harus percaya kalau Bian dan Gian memang punya telepati. Satunya belum siuman dan satunya lagi ingin hibernasi. Entah siapa yang akan lebih dulu bangun."Bini lo nggak nyariin?" Danu mencoba mengalihkan topik pembicaraan. Arga kembali menggeleng. "Nggak."Danu mengernyit heran. "Emang dia beneran cuekin lo, Ga?" "Hem. Topengnya udah kebuka, jadi dia nggak perlu pura-pura manis dan manja lagi sama gue. Selagi dia bisa jaga sikap, anak gue lahir selamat dan s

  • Nikahi Aku Sehari Saja   Part 40 Penelusuran Gian

    Setelah memeriksa cctv tempat saudara kembarnya kecelakaan, Gian akhirnya menemukan bukti kuat. Bisikan Bian sebelumnya terbukti benar. Yuna masih hidup dan terlihat panik menghindari Bian.Dari taksi online yang ditumpangi Yuna, Gian mendapatkan informasi lain. Titik tujuan Yuna dari riwayat pemesanannya adalah nama sebuah toko kelontong. "Oh, nona ini memang pernah ke sini, Pak. Saya ingat, soalnya dia sekali belanja langsung banyak, hampir sejuta. Dia tinggal di penginapan di ujung jalan," jelas sang pemilik toko. "Apa ibu ingat apa saja yang pernah dia beli?" tanya Gian memberi isyarat agar bisa merekam suara wanita itu.Pemilik toko lalu bertanya, "Bapak mau beli apa?" "Bedak tabur bayi, selotip bening yang besar, sama gunting. Kalau sarung tangan ada, Bu?" tanya Gian."Tidak ada, Pak. Yang ada cuma sarung tangan plastik, kalau lagi buat kue," tawarnya."Ya, itu saja," pinta Gian mengangguk setuju lalu membayar belanjaannya.Setelah mendapatkan informasi yang sedikit ganjil, G

  • Nikahi Aku Sehari Saja   Part 7 Sandi Ponsel

    Beberapa menit kemudian, bukan sebuah alamat yang dikirim oleh Arga. Isi pesan dari sahabatnya itu adalah pesan yang diteruskan dari Yuna. Yuna meminta untuk tidak menemuinya, kecuali Bian setuju dengan syarat yang diajukannya. Hanya geraman dan umpatan yang bersahutan dalam mobil Bian. L

  • Nikahi Aku Sehari Saja   Part 6 Diblokir

    Kemarin Bian bisa lega sejenak. Sahabatnya menghubunginya bukan untuk membahas Yuna. Arga justru menggodanya karena belakangan ini adiknya tampak bahagia. Bian justru dilanda dilema berat. Permintaan aneh Yuna perlahan membuatnya migrain.Keresahannya itu tak luput dari mata kedua orang tuanya. And

  • Nikahi Aku Sehari Saja   Part 4 Bahagia dan Kecewa

    Keesokan harinya, pagi Bian disambut dengan satu pesan dari Yuna. Gadis itu mengabari jika selama tiga hari ia akan berlibur ke tempat neneknya. Mungkin akan sulit menghubunginya karena kondisi jaringan seluler di sana kurang baik.Senyum Bian seketika merekah. Itu artinya selama tiga hari kedepan,

  • Nikahi Aku Sehari Saja   Part 3 Pria yang Membosankan

    Yuna mengulas senyum kala keluar dari mobilnya. Dengan menenteng sebuah paper bag berisi kue kesukaan Bian, Yuna menghampiri ART keluarga Kawiraginandra."Selamat sore, Bibi. Apa Tante Amba ada di dalam?" tanya Yuna."Selamat sore juga, Nona. Makin cantik saja," puji wanita yang sedang menyiram bun

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status