공유

Part 6 Diblokir

작가: Lisani
last update 최신 업데이트: 2023-09-15 23:12:21

Kemarin Bian bisa lega sejenak. Sahabatnya menghubunginya bukan untuk membahas Yuna. Arga justru menggodanya karena belakangan ini adiknya tampak bahagia. Bian justru dilanda dilema berat. Permintaan aneh Yuna perlahan membuatnya migrain.

Keresahannya itu tak luput dari mata kedua orang tuanya. Andra dan Amba sejujurnya sangat penasaran. Akan tetapi, mereka juga enggan bertanya karena menduga jika semua itu ada hubungannya dengan Yuna.

“Setelah mengatakan permintaan gilanya itu, kenapa gadis ini tidak membalas satu pun pesan dariku?” gumam Bian melempar ponselnya ke sofa.

“Tumben kamu pulang cepat? Biasanya kalau nggak nemenin Yuna, kamu milih lembur di kantor. Oh … mama lupa, dia udah bisa nyetir, jadi nggak bakalan mau repotin kamu lagi,” ucap Amba meletakkan camilan di meja.

“Mama habis arisan?” tanya sang suami dan Amba mengangguk.

“Kenapa tidak minta dijemput sama papa? Bukannya Mama biasanya arisan di kafe dekat kantor?” tanya Andra mengernyit heran.

Amba menghela napas lalu berujar, “Mama kira Papa ada rapat. Soalnya pesan mama nggak Papa balas. Jadi ya, mama pulang sendiri. Supir kita kan lagi cuti, ya mama cuma mencoba mandiri aja. Masa mau repotin Papa buat hal sepele?”

Andra menggeleng tak setuju lalu menukas, “Itu bukan hal sepele, Ma. Papa mempekerjakan supir yang papa percaya demi keamanan Mama. Kalau Mama sembarangan naik taksi, terus di jalan kenapa-napa, bagaimana? Sekarang itu begal merajalela. Mereka kadang beraksi bahkan saat siang bolong sekalipun. Mama lupa kalau dulu taksinya Yuna pernah dicegat preman?”

“Pa!” Amba melotot melirik putra sulungnya. Andra mengatupkan bibir karena keceplosan.

“Maksud Papa apa? Taksinya Yuna? Yuna pernah dibegal?” tanya Bian tersentak. Ia sama sekali tidak tahu hal ini.

“Ka-kapan?” tanyanya lagi menatap papa dan mamanya bergantian.

Amba menghela napas berat. Hal yang disembunyikan dengan serapi mungkin, nyatanya tetap terbongkar.

“Awal bulan kemarin, waktu Yuna pulang dari kantor perusahaan kita. Kamu kan milih lembur daripada anterin dia pulang? Jadi dia pesan taksi online buat pulang. Untung supir kita Pak Ari yang anterin makanan buat kamu, ngikutin taksinya Yuna dari belakang. Tapi saat nolongin Yuna, Pak Ari kena pukul lengan sama bahu kanannya,” papar Amba santai sambil membolak-balik majalah di pangkuannya.

Menatap mamanya yang diam tanpa melanjutkan ceritanya, Bian menoleh pada papanya. Pria paruh baya itu sibuk dengan ponselnya. Merasakan senggolan kaki putranya, Andra menghela napas berat.

“Yuna nggak mau kalau kamu sampai tahu. Dia nggak mau kamu merasa bersalah dan tidak konsentrasi persiapkan rapat dengan klien dari Thailand. Jadi papa kasih Pak Ari cuti sampai dia sembuh. Papa minta dia berobat jalan di kampungnya. Katanya, kalau di sana diurut, bisa cepat sembuh. Sekalian dia jengukin orang tuanya. Yuna juga tidak mau keluarganya tahu kejadian ini,” jelas Andra pada putranya.

Bukannya lega mendengar penjelasan orang tuanya, Bian jadi makin sakit kepala. Ditambah lagi ia semakin merasa bersalah.

“Apa itu yang jadi alasan kenapa dia tiba-tiba belajar menyetir?” gumam Bian.

“Oh, baguslah kalau kamu sadar. Kirain otak kamu isinya cuma produk pabrik sama klien-klien kamu,” sindir Amba yang rasanya puas sudah mengungkapkan isi hatinya.

“Mau ke mana?” tanya Andra melihat putranya meraih kunci mobil.

“Mau ketemu Yuna,” jawab Bian.

“Telat, dia udah pergi sama teman-temannya,” kata Amba tanpa menoleh.

Bian mengernyit lalu bertanya, “Ke mana? Kok Mama tahu?”

“Ke salon sama teman-temannya. Mama tahu karena lihat postingan sosmednya,” jawab Amba. Andra segera memberi isyarat agar putranya mencari tahu salon mana yang didatangi Yuna.

Amba mengulas senyum mengejek. “Jangan bilang kamu nggak tahu salon langganannya Yuna? Setengah tahun pacaran sama Yuna, sepertinya kamu nggak kenal gadis itu. Mama kayaknya bakalan tambah muda deh, karena bisa ngetawain kamu, Bian,” sindir wanita berambut bob itu terkekeh.

Menahan kesal, Bian membuka sosial medianya. Ia enggan mengirim pesan. Anggap saja ia datang ke sana untuk memberi kejutan pada Yuna.

Namun, dari sekian banyak sosial media yang digunakannya, Bian tidak bisa melakukan apa pun. Tangannya terkepal menyadari jika Yuna memblokir akunnya.

“Ma, pinjam ponsel Mama dong,” pinta Bian.

“Loh, memangnya kenapa?” tanya Amba heran. Andra juga turut mengernyit karena kedua matanya melihat ponsel putranya masih aktif, tidak lowbat.

“Yuna blokir kontak sama akunnya Bian,” jawabnya memejamkan mata menahan malu ketika suara tawa mamanya mulai terdengar.

“Kok bisa? Kamu buat salah apa sama Yuna? Jangan bilang kamu membuat anak gadis orang menangis, Bian! Jangan sampai papinya juga marah sama papa gara-gara kelakuan kamu!” cecar papanya.

Bian hanya bisa diam menelan salivanya. Belum selesai satu masalah, sekarang tambah satu lagi.

“Kayaknya, gue harus minta bantuan Arga,” batin Bian mulai menekan kontak sahabatnya.

Bian mulai melajukan mobilnya meninggalkan komplek perumahan. Setelah mengulang panggilan telpon yang kesekian kalinya, akhirnya Arga menjawab telpon dari Bian.

“Halo, lo di mana, Ga? Lama amat jawab telpon?” tanya Bian.

Terdengar suara lenguhan di seberang sana. Bian menebak sahabatnya baru saja bangun tidur. Ia cukup memahami kondisi Arga yang sedang ditimpa masalah besar.

Lo kenapa teror gue?” tanya Arga dengan suara malasnya.

“Yuna ke salon mana? Salon langganannya di mana?” tanya Bian to the point.

Nggak tahu. Kayaknya adek gue pergi pas gue lagi tidur,” jawab Arga yang mulai beringsut turun dari tempat tidur.

Bian menghela nafas lesu lalu berujar, “Kalau lo nggak tahu, buruan kirim pesan sama Yuna. Nomor sama akun sosmed juga sampai diblokir semua. Heran gue, dia kenapa?”

Ya nggak tahu, lo tanya aja sendiri sama Yuna.”

“Ya sudah, buruan lo telpon dia dan kirimin alamatnya. Gue mau samperin sekarang,” pinta Bian mengakhiri percakapan.

“Ke mana perginya gadis manja yang selalu merengek minta waktu bertemu denganku? Aku merasa dicampakan sebelum benar-benar putus,” batin Bian membuka galeri ponselnya mencari foto Yuna.

Semakin lama jarinya menggulir layar ponsel, tak satu pun ia dapati foto Yuna. “Apa dia sengaja menghapus fotonya saat meminjam ponselku kemarin?” gumam Bian merasa ada yang tidak beres dengan tingkah Yuna belakangan ini.

***

이 책을.
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Nikahi Aku Sehari Saja   Part 26 Ngidam

    Sebuah mobil sport merah perlahan menurunkan kecepatan saat memasuki pelataran parkir kantor PT. RK Tbk. Kehadiran sang pemilik menyita perhatian banyak pasang mata. Tak seperti tamu lainnya yang harus menghampiri meja resepsionis. Danu yang siang ini mampir ingin menemui Bian hanya melambai pada dua resepsionis yang sudah hapal dengan tujuannya menemui CEO perusahaan ini. "Rapatnya udah selesai, Bro?" tanya Danu pada sekretaris Bian. "Sudah, Mas Danu. Bos lagi santai kok," sahut pemuda itu tersenyum menepikan kotak makan siangnya. Danu menggeleng. "Kamu lanjut makan aja. Nggak perlu anterin saya masuk. Sekalipun saya diusir sama bos kamu itu, saya bakalan bergeming di dalam sampai dia setuju," ungkap Danu melangkah sembari bersenandung memikirkan tujuan kedatangannya. "Setuju apa? Perasaan Pak Bian nggak ada bahas apapun soal Pak Danu?" batin sekretaris Bian itu menggaruk kepalanya bingung. Ceklek! "Asam lambung lo itu

  • Nikahi Aku Sehari Saja   Part 25 Mimpi Itu Lagi

    Yuna merasa sekujur tubuhnya panas. Perlahan matanya mengerjap dan menyadari itu hanya mimpi. Sentuhan Bian malam itu terasa begitu nyata dalam mimpinya. "Ada apa denganku? Kenapa di antara banyaknya kenangan sama dia, harus ingat hal ini?" gerutu Yuna bangkit dari tempat tidur. Lekas ia mengganti piyama yang baru. Ia tidak nyaman menggunakan piyama yang lengket karena keringat. "Apa dia juga sedang mengingatku?" batin Yuna mengusap perutnya. Lagi-lagi ia lapar. "Masih ada buah tidak, ya?" batin Yuna kembali bangun dari tempat tidur. Saat mengambil sebuah pisang, tatapan Yuna juga tertuju pada promo vila di sebuah destinasi wisata. Yuna kembali teringat saat liburan bertiga bersama Bian dan Arga ke puncak. "Malam itu jadi malam terakhir aku menatap wajahmu," batin Yuna memejamkan mata mengenang wajah pria yang dicintainya. Flashback on Yuna mengintip dari lubang kunci pintu kamar. Di sana, kakaknya sepertiny

  • Nikahi Aku Sehari Saja   Part 24 Cinta Mati

    Bian didera rasa mual dan pusing. Sejak kemarin tubuhnya seakan sulit diajak kompromi. Ia bahkan sangat sensitif dengan aroma masakan atau parfum orang lain. Hanya saja, ia enggan mengungkapkannya. Karena jika ia jujur, maka bualan Gian tentang dirinya kerasukan arwah ibu hamil akan dianggap benar. Mana mungkin dirinya kerasukan hantu bumil? Ada-ada saja! Hari ini, resepsi pernikahan Arga berlangsung meriah. Meski begitu, para tamu bisa melihat jika para anggota keluarga Diratama masih berduka atas kepergian Yuna. Hari bahagia Arga terasa kurang tanpa kehadiran putri bungsu keluarga itu."Ada apa, Bian?" tanya sang mama. "Bian pusing, Ma. Mungkin karena cium terlalu banyak wangi parfum," jawab Bian. Amba mengernyit heran. Tiba-tiba, seorang gadis berlari ke arah mereka dan langsung menggamit lengan Bian. Refleks Bian menoleh dan gumam, "Yuna?" "Ish, kok Yuna, sih? Dia udah nggak ada, Kak," gerutu gadis itu karena Bian langsung men

  • Nikahi Aku Sehari Saja   Part 23 Seperti Wanita Hamil

    Sinar matahari mulai menyapa dengan menelusup melewati celah tirai. Bian menggeliat merasa tak nyaman. Sekujur tubuhnya juga terasa lemas. Ia hendak balik badan menghindari cahaya yang membuatnya silau. Akan tetapi, ia merasa jika tubuhnya terkunci. Lebih tepatnya, ada sesuatu yang menindih perut dan kakinya.Bian mengerjap dan menyadari ada seseorang yang memeluknya. Mungkin lebih tepatnya menjadikan tubuhnya sebagai bantal guling."Bangun," gumam Bian yang kini sudah tahu siapa pelakunya.Akan tetapi, adik kembarnya itu masih bergeming. Tak ada tanda-tanda Gian akan sadar. Sementara Bian merasa kepalanya luar biasa pening."Bangun, Gian," bisik Bian yang suaranya parau. Tenggorokannya terasa kering dan perih. "Yan, banguuun."Gian menggeliat dan berkata, "Iya, Sayang. Bentar dulu, aku masih ngantuk."Bukannya melepaskannya, Gian justru mengeratkan pelukannya. Bian menghela napas panjang. Sepertinya Gian

  • Nikahi Aku Sehari Saja   Part 22 Mayat Hidup

    Sebulan setelah kepergian Yuna, Bian akhirnya kembali beraktivitas di kantor. Sejak kepergian Yuna, ia lebih sering melakukan rapat virtual. Bila ada dokumen yang membutuhkan tanda tangannya, maka sekretarisnya yang akan datang ke rumah.Tidak seperti sebelumnya, kini setiap hari Bian lembur. Pukul 07:00 pagi akan berangkat ke kantor dan pulang pukul 22:00 saat alarm pengingat di ruang kerjanya berbunyi. Tak pelak, kabar tak mengenakkan di kantor terdengar sampai ke telinga Andra. Karyawannya mulai bergosip jika CEO perusahaan mereka bukan lagi robot yang kerja, melainkan mayat hidup. Biasanya saat akhir pekan, Bian dan sahabat-sahabatnya akan menghabiskan waktu bersama. Kadang pula berolahraga bersama Gian. Bila ada agenda dengan rekan bisnis, maka Bian akan bersemangat mengajaknya untuk bermain golf."Papa langi mikirin apa?" tanya Amba menutup majalah perhiasan di pangkuannya. Edisi kali ini sama sekali tak ada yang menarik minatnya.Hela napas Andra terdengar berat. "Papa mikiri

  • Nikahi Aku Sehari Saja   Part 21 Bukan Jodi Tapi Dudi

    "Kemarin temanku antar pesanan makanan. Dia bilang kalau penghuni kamar ujung itu cantik banget," bisik salah satu dari ketiga pencuri itu. "Bukannya kamar pojok itu selalu gelap?" tanya rekannya. Laki-laki yang berhasil melepas beberapa knalpot dan spion mobil itu menggeleng lalu berkata, "Kayaknya udah ada penghuni baru. Kemarin aku juga lihat lampu kamar mandinya nyala pas nyoba manjat pagar." Sementara di dalam kamar, Yuna terbangun karena lapar. Ia beranjak mengambil buah di atas meja. Disaat itulah ia mendengar suara bisik-bisik aneh. Yuna mengendap-endap menempelkan telinga di balik pintu. Suara bisik-bisik itu semakin jelas terdengar membahas 'penghuni kamar ini' yang tidak lain adalah dirinya. Padahal, Yuna sudah berusaha tidak menarik perhatian dengan tidak meninggalkan kamar. Semua kebutuhannya ia pesan melalui aplikasi online. Terlintas sebuah ide untuk mengerjai sekaligus mengusir mereka. Yuna tidak punya keberanian lebih ataupun kekuatan melawan mereka. Jika melapo

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 책을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 책을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status