MasukBeberapa menit kemudian, bukan sebuah alamat yang dikirim oleh Arga. Isi pesan dari sahabatnya itu adalah pesan yang diteruskan dari Yuna. Yuna meminta untuk tidak menemuinya, kecuali Bian setuju dengan syarat yang diajukannya.
Hanya geraman dan umpatan yang bersahutan dalam mobil Bian. Laki-laki itu tidak menyangka jika sikap Yuna padanya bisa berubah sedrastis ini. Isi pesan itu begitu kaku dan terkesan tegas.
Bian tak kehabisan akal. Ia mampir ke sebuah outlet dan membeli kartu baru untuk menghubungi Yuna. Sedikit lega karena gadis itu menanggapinya. Walau tanggapannya tidak sebaik yang diharapkan Bian.
“Kak Bian nggak perlu ke sini. Menemani tunangan ke salon itu hanya buang-buang waktu, bukan?” ucap Yuna kembali menyindir telak Bian yang selama ini sering mengatakan hal itu.
“Tapi Yun, kena-”
Klik!
Bian menghembuskan napas lewat mulut. Kedua pipinya sampai menggembung maksimal. Ia bahkan menggaruk kepalanya frustasi.
“Yuna habis makan apa? Atau jangan-jangan ... dia kerasukan?” gumam Bian. Sejak gadis itu pulang liburan, dia semakin aneh.
Yuna bahkan mengirim pesan dan mengingatkan batas waktu yang berikannya. Besok siang Bian harus memutuskan untuk menerima atau menolak syarat darinya. Begitu juga peringatan jika tersisa kurang dari seminggu waktu untuk enam bulan hubungan mereka harus berakhir.
Pulang ke rumah tentu hanya akan membuat Bian jadi bahan tertawaan mamanya. Datang ke rumah Arga dan menunggu Yuna pulang hanya akan mengundang kecurigaan orang tua mereka. Ke apartemen saudara kembarnya hanya akan dianggap perusuh. Bian bingung dan merasa jadi serba salah.
Menatap kontak ponsel Yuna, Bian masih ragu untuk kembali menghubunginya. Pikirnya, gadis itu akan semakin besar kepala. Bian sadar jika gadis itu sepertinya sedang bermain tarik ulur dengannya.
“Telpon saja Bian, jangan sampai kamu menyesal,” batin Bian menekan hold hijau dan menunggu Yuna menjawab panggilannya.
“Halo?” sapa seseorang yang tidak mungkin suara Yuna.
Deg!
Bian menatap layar ponselnya dan yakin tidak salah kontak. “Kenapa yang jawab laki-laki?” batin Bian dengan perasaan yang tak karuan.
Setelah kesekian kalinya mengumpat, Bian akhirnya bisa terbebas dari kemacetan jalan. Sembari menekan pedal gas, ia melirik jam tangannya. Ia ingin membuktikan ucapan pria yang menjawab telponnya tadi.
Bian tiba di kafe yang dikatakan pria tak dikenal yang katanya menemukan ponsel itu di kolong mejanya. Dengan tak sabaran, Bian mengedarkan pandangan saat kembali menghubungi ponsel Yuna.
Karyawan kafe menghampiri Bian. “Maaf Kak, tadi yang nemu udah pamit duluan. Dianya lagi buru-buru, jadi titip sama saya,” ujar pemuda itu mengulurkan ponsel yang dibawanya.
“Terima kasih,” balas Bian kemudian memesan secangkir kopi.
Setelah memilih meja sudut, Bian mencoba membuka ponsel Yuna. Akan tetapi, ia tidak tahu sandinya. Berkali-kali ia mencoba tapi gagal.
“Jangan bilang …,” gumam Bian mencoba menekan tanggal lahirnya sendiri.
Berhasil. Bian tercengang.
Baru sekali jempolnya mengusap layar ponsel, wallpaper ponsel gadis itu membuat Bian tertegun. Bukan foto sang pemilik ponsel, melainkan foto dirinya yang dibalut kemeja hitam dan vest abu-abu saat duduk di kursi kerjanya. Foto yang entah kapan diambil Yuna. Yang pasti, dari potret itu ia menyadari bahwa dirinya mengabaikan gadis itu saat berkunjung ke kantornya.
Kedua alis Bian nyaris bertaut kala melihat notifikasi pengingat yang muncul. Seharusnya sore ini Yuna mengajaknya nonton film di bioskop. Kali ini bukan film romansa kesukaan Yuna, melainkan film genre action kesukaan Bian.
“Aku bahkan tidak tahu kalau aktor idolaku merilis film baru,” batin Bian yang mengakui jika belakangan ini ia memang sibuk. Mengepakkan sayap bisnis ke negri tetangga bukanlah semudah yang dibayangkannya selama ini.
Kalau saja Yuna tidak mengabaikannya, gadis itu pasti sudah datang ke kantor. Kemudian mengajaknya ke bioskop dengan antusias. Namun, semua itu tak terjadi mengingat Yuna sengaja memblokir nomornya.
Jari Bian sibuk menggulir layar ponsel. Ketika ia menemukan satu folder galeri dengan namanya, rasa penasaran Bian semakin membuncah. Berkali-kali ia mencoba sandi untuk membuka folder itu sampai kepalanya mau pecah.
“Gadis ini, kenapa suka sekali bikin aku sakit kepala?! Sial!” umpat Bian yang akhirnya menyerah karena sandi terakhir yang dicobanya masih saja tidak tepat.
Tak ingin pulang dengan dicecar oleh kedua orang tuanya, Bian putuskan untuk datang ke rumah Yuna. Ia bisa beralasan untuk membawakan ponsel itu sehingga orang tua Yuna tidak akan curiga. Setelah berkendara kurang lebih setengah jam, Bian tiba di rumah dengan desain bergaya aristekstur Eropa itu.
“Adek lo belum pulang?” tanya Bian ketika mendapati sahabatnya yang membukakan pintu.
Pria yang baru saja selesai mandi itu mengangguk tak bersemangat. Bian masuk dan menyusul langkah Arga ke kamar. Rumah besar itu tampak sepi seperti kuburan. Asisten rumah tangga tak satu pun terlihat.
“Om sama tante ke mana, Ar?”
“Kata Bibi lagi keluar kota, ada kolega yang adain resepsi.”
Bian hanya mengangguk hingga langkahnya berhenti di depan pintu kamar Yuna yang bersebelahan dengan kamar Arga. Seingatnya, terakhir kali masuk ke dalam kamar gadis itu, saat ia masih SMA.
Tanpa Bian duga, Arga justru membuka pintu kamar itu. Ternyata Arga hendak mencari charger ponsel. Saat itulah Bian melihat tampilan kamar itu sudah jauh berbeda. Nuansa kamarnya disominasi putih dan kuning.
Keningnya berkerut mendapati frame berisi fotonya yang tertidur menelungkupkan badan di meja kerjanya. Dari background, Bian menebak mungkin foto itu diambil setahun yang lalu saat masih awal dirinya bekerja di perusahaan papanya.
“Yuna itu kalau udah sayang, pakai banget. Tapi, kalau udah benci, ujungnya bodo amat,” kata Arga menarik lengan Bian agar kembali keluar. “Lo bikin masalah apa sama adek gue?”
Deg!
***
Andra mengerjap dan mendapati sang istri duduk bersandar di ranjang. Punggung tangan kirinya maupun tangan kiri Amba sama-sama terpasang jarum infus. Sinar matahari sudah menyelinap masuk lewat celah tirai yang tidak tertutup rapat. Kicau burung sudah tidak terdengar. Pandangan Andra beralih ke atas pintu di mana benda bulat dengan tiga jarumnya yang masih aktif berputar. "Sudah siang?" gumam Andra tersentak menyadari sudah pukul 10:05 WIB. Sekelebat kabar yang didengarnya semalam, kini kembali muncul bagai rol film yang diputar. Kepalanya dan dadanya kembali berdenyut sakit. Baru berselang beberapa hari ia mendengar kabar kecelakaan Bian. Semalam, ia kembali mendengar kabar kecelakaan Gian. BMW sport hitam dengan nomor polisi D 61 AN adalah hadiah dari Bian untuk Gian. "Ini benar takdir atau disengaja? Jika disengaja, siapa sebenarnya yang ingin menghancurkan keluargaku? Pertama aku kehilangan calon menantuku, lalu Bian kecelaakaan. Sekarang Gian juga kecelakaan. Apa aku minta A
Sinar matahari perhalan mengintip lewat celah tirai. Yuna mengerjap dan melihat sekeliling kamarnya. Ia masih ingat jika ruangan itu adalah kamarnya setelah berhasil ia rombak ulang dengan perabot serba putih. Duduk bersandar di tempat tidurnya, Yuna memegangi dadanya. Ada sesak yang tersisa walau tak sesakit semalam. "Ternyata kamu sudah bangun." Suara itu mengejutkan Yuna. Maira berdiri di ambang pintu dengan nampan di tangannya. Ada segelas susu dan seporsi roti bakar. Aroma mentega yang meleleh masih segar tercium. "Aku udah baikan, Mbak." "Iya, tahu. Kamu yang pingsan, tapi dia yang tidurnya lebih lama." "Maksud, Mbak Maira?" "Kayaknya Devi benar-benar stres dan kecapean. Udah dua kali aku tengokin, tapi dia masih tidur. Kasihan dia. Tangan sama kakinya juga luka-luka. Nggak tahu seberat apa hidupnya sendirian di kota ini, tanpa teman dan tanpa keluarga. Sekarang mbak benar-benar ngerti, kenapa Dul bersikeras larang mbak pergi sendirian tanpa ada teman," ungkap Maira mena
Dert .... Dert ...."Halo, Bang. Gue lagi nggak fokus, sodara kembar gue kecelakaan," ucap Gian menjawab panggilan seniornya."Dengar dulu!" tegas suara dari seberang saluran."Okey! Lo mau ngomong apa?!""Target mereka, lo Gian." Gian terhenyak. "A-apa maksudnya?""Saya sudah coba cek ke mana pelakunya kabur. Truk itu sudah parkir sejak kemarin di dekat rumah sakit dan bergerak saat mobil kamu keluar. Setelah menabrak mobil kamu, supirnya langsung kabur. Dia dijemput sepeda motor sama rekannya. Cirinya sama dengan ciri penyelundup yang kabur itu," pungkas rekan polisi Gian."Sial! Rahasian dulu! Nyokap bokap gue bisa kena serangan jantung kalau tahu gue juga diincer malaikat maut!" pinta Gian mengakhiri panggilan telponnya sepihak.Dert .... Dert ...."Apalagi?! Gue lagi nggak bisa fokus! Bian butuh gue!" geram Gian mengepalkan tangannya.Di sampingnya Danu sesekal
Bian hanya mengangguk setelah dokter menjelaskan kondisinya. Pria paruh baya itu akhirnya keluar dari kamar rawat inapnya. Diikuti perawat yang baru saja mengganti botol infusnya. "Apa direksi mempertanyakan alasanku menolak tawaran kerja sama itu?" tanya Bian sambil menggulir layar tabletnya. Sesekali ia mengecek ponselnya karena sedang menunggu kabar dari seseorang. "Tidak, Pak. Pak Presdir langsung menyinggung topik itu saat rapat dimulai," sahut Agung yang saat ini masih lembur di kantor. Sejujurnya, Agung tersentak dengan sebutan 'aku' yang diucapkan atasannya. "Bagaimana dengan Arga? Apa dia keberatan dengan keputusan itu?" Bian mengambil keputusan penting tanpa membahasnya lebih dulu dengan Arga. Meski merasa tak enak hati, tapi Bian yakin jika keputusannya tidak akan merugikan Arga sedikitpun. "Hari ini Pak Arga tidak ikut rapat, Pak. Tuan Diratama yang menghadiri rapat pagi tadi." "Apa setelah rapat, papa dan Om Tama bicara secara pribadi?" Tampak Agung mengangguk la
"Kenyang banget, ya?" "Iya, Mbak. Aku kebablasan deh kayaknya. Semuanya enak dan aku penasaran pengen coba," ungkap Yuna memamerkan dua bungkus makanan di tangannya.Langkah kaki Maira dan Yuna terhenti. Samar telinga mereka mendengar suara isak tangis. Keduanya pun mengendap-endap memperhatikan sekitarnya. Tak ada seorang pun, hingga akhirnya Yuna melihat seseorang duduk berjongkok di depan sebuah ruko kosong. "Anda kenapa?" tanya Maira. Perasaannya miris melihat penampilan seorang wanita yang kacau balau."Maaf, apa Mbak ... dilecehkan?" cicit Yuna saat melihat wanita itu mencengkram rambutnya sendiri.Wanita itu mendongak lalu menggeleng pelan. "Sa-saya dirampok ...," lirihnya. Matanya yang merah dan bengkak itu membuat siapapun akan ikut pilu.Wanita itu gelagapan. Maira dan Yuna akhirnya bisa melihat sobekan di tas wanita itu. Dompetnya terbuka di pangkuannya. Kosong, hanya tersisa kartu dan kertas saja.
"Ada apa?" tanya Maira saat Yuna mengusap dadanya berkali-kali. "Kamu mabuk laut?""Mungkin, Mbak," sahut Yuna berbohong. Dadanya merasa sesak dan resah.Entah kenapa perasaannya selalu risau sejak kemarin malam. Anehnya, ia tidak merasa mabuk selama perjalanan laut. Padahal, ini pertama kalinya ia naik kapal.Lidahnya menolak jujur jika ia kepikiran Bian. Entah kenapa pria itu selalu saja terbayang. Bahkan dalam tidurnya, Yuna seringkali mendengar suara Bian memanggilnya. "Di sini panas, tapi rasanya bebas," ucap Maira tersenyum. Kapal sudah benar-benar bersandar dan berhenti. Pelabuhan Paotere menyambut kedatangan mereka berdua dengan suasana yang benar-benar terasa asing. Masyarakat di sini punya dialek daerah yang kental dan lebih ramah dibanding ibukota.Salah satu pelabuhan tua dalam sejarah Indonesia itu punya kapal phinisi yang ikonik. Di sebelah selatan, tampak tanjung yang diatasnya dibangun gedung-gedung besar dan megah. Tak kalah megah dari bagunan di Jakarta."Kuharap M
Tiga hari berlalu dan mereka kembali menyambut hari Senin. Bian kembali dengan kesibukannya di kantor, mendapat pesan ajakan makan siang dari Yuna. Isi pesannya ada hal penting yang harus mereka bahas berdua saja.Meja di ruangan luas itu tampak penuh dengan banyak orang yang sedang mengisi perut.
Keesokan harinya, pagi Bian disambut dengan satu pesan dari Yuna. Gadis itu mengabari jika selama tiga hari ia akan berlibur ke tempat neneknya. Mungkin akan sulit menghubunginya karena kondisi jaringan seluler di sana kurang baik.Senyum Bian seketika merekah. Itu artinya selama tiga hari kedepan,
Yuna mengulas senyum kala keluar dari mobilnya. Dengan menenteng sebuah paper bag berisi kue kesukaan Bian, Yuna menghampiri ART keluarga Kawiraginandra."Selamat sore, Bibi. Apa Tante Amba ada di dalam?" tanya Yuna."Selamat sore juga, Nona. Makin cantik saja," puji wanita yang sedang menyiram bun
"Pa, sampai kapan aku harus pura-pura bahagia jadi pacarnya Yuna? Papa tahu? Kepalaku selalu mau meledak menghadapi sifat manjanya itu," keluh Bian menyandarkan tubuh lelahnya di sofa.Ponselnya serasa diteror oleh gadis itu. Dua pesan terakhir pagi tadi enggan dibalas Bian. Baginya, pertanyaan Yun







