Share

Part 7 Sandi Ponsel

Author: Lisani
last update Huling Na-update: 2023-10-01 08:10:38

Beberapa menit kemudian, bukan sebuah alamat yang dikirim oleh Arga. Isi pesan dari sahabatnya itu adalah pesan yang diteruskan dari Yuna. Yuna meminta untuk tidak menemuinya, kecuali Bian setuju dengan syarat yang diajukannya.

Hanya geraman dan umpatan yang bersahutan dalam mobil Bian. Laki-laki itu tidak menyangka jika sikap Yuna padanya bisa berubah sedrastis ini. Isi pesan itu begitu kaku dan terkesan tegas.

Bian tak kehabisan akal. Ia mampir ke sebuah outlet dan membeli kartu baru untuk menghubungi Yuna. Sedikit lega karena gadis itu menanggapinya. Walau tanggapannya tidak sebaik yang diharapkan Bian.

“Kak Bian nggak perlu ke sini. Menemani tunangan ke salon itu hanya buang-buang waktu, bukan?” ucap Yuna kembali menyindir telak Bian yang selama ini sering mengatakan hal itu.

“Tapi Yun, kena-”

Klik!

Bian menghembuskan napas lewat mulut. Kedua pipinya sampai menggembung maksimal. Ia bahkan menggaruk kepalanya frustasi.

“Yuna habis makan apa? Atau jangan-jangan ... dia kerasukan?” gumam Bian. Sejak gadis itu pulang liburan, dia semakin aneh.

Yuna bahkan mengirim pesan dan mengingatkan batas waktu yang berikannya. Besok siang Bian harus memutuskan untuk menerima atau menolak syarat darinya. Begitu juga peringatan jika tersisa kurang dari seminggu waktu untuk enam bulan hubungan mereka harus berakhir.

Pulang ke rumah tentu hanya akan membuat Bian jadi bahan tertawaan mamanya. Datang ke rumah Arga dan menunggu Yuna pulang hanya akan mengundang kecurigaan orang tua mereka. Ke apartemen saudara kembarnya hanya akan dianggap perusuh. Bian bingung dan merasa jadi serba salah. 

Menatap kontak ponsel Yuna, Bian masih ragu untuk kembali menghubunginya. Pikirnya, gadis itu akan semakin besar kepala. Bian sadar jika gadis itu sepertinya sedang bermain tarik ulur dengannya.

“Telpon saja Bian, jangan sampai kamu menyesal,” batin Bian menekan hold hijau dan menunggu Yuna menjawab panggilannya.

“Halo?” sapa seseorang yang tidak mungkin suara Yuna.

Deg!

Bian menatap layar ponselnya dan yakin tidak salah kontak. “Kenapa yang jawab laki-laki?” batin Bian dengan perasaan yang tak karuan.

Setelah kesekian kalinya mengumpat, Bian akhirnya bisa terbebas dari kemacetan jalan. Sembari menekan pedal gas, ia melirik jam tangannya. Ia ingin membuktikan ucapan pria yang menjawab telponnya tadi.

Bian tiba di kafe yang dikatakan pria tak dikenal yang katanya menemukan ponsel itu di kolong mejanya. Dengan tak sabaran, Bian mengedarkan pandangan saat kembali menghubungi ponsel Yuna.  

Karyawan kafe menghampiri Bian. “Maaf Kak, tadi yang nemu udah pamit duluan. Dianya lagi buru-buru, jadi titip sama saya,” ujar pemuda itu mengulurkan ponsel yang dibawanya.  

“Terima kasih,” balas Bian kemudian memesan secangkir kopi.

Setelah memilih meja sudut, Bian mencoba membuka ponsel Yuna. Akan tetapi, ia tidak tahu sandinya. Berkali-kali ia mencoba tapi gagal.

“Jangan bilang …,” gumam Bian mencoba menekan tanggal lahirnya sendiri.

Berhasil. Bian tercengang.

Baru sekali jempolnya mengusap layar ponsel, wallpaper ponsel gadis itu membuat Bian tertegun. Bukan foto sang pemilik ponsel, melainkan foto dirinya yang dibalut kemeja hitam dan vest abu-abu saat duduk di kursi kerjanya. Foto yang entah kapan diambil Yuna. Yang pasti, dari potret itu ia menyadari bahwa dirinya mengabaikan gadis itu saat berkunjung ke kantornya.

Kedua alis Bian nyaris bertaut kala melihat notifikasi pengingat yang muncul. Seharusnya sore ini Yuna mengajaknya nonton film di bioskop. Kali ini bukan film romansa kesukaan Yuna, melainkan film genre action kesukaan Bian.

“Aku bahkan tidak tahu kalau aktor idolaku merilis film baru,” batin Bian yang mengakui jika belakangan ini ia memang sibuk. Mengepakkan sayap bisnis ke negri tetangga bukanlah semudah yang dibayangkannya selama ini.

Kalau saja Yuna tidak mengabaikannya, gadis itu pasti sudah datang ke kantor. Kemudian mengajaknya ke bioskop dengan antusias. Namun, semua itu tak terjadi mengingat Yuna sengaja memblokir nomornya.

Jari Bian sibuk menggulir layar ponsel. Ketika ia menemukan satu folder galeri dengan namanya, rasa penasaran Bian semakin membuncah. Berkali-kali ia mencoba sandi untuk membuka folder itu sampai kepalanya mau pecah.

“Gadis ini, kenapa suka sekali bikin aku sakit kepala?! Sial!” umpat Bian yang akhirnya menyerah karena sandi terakhir yang dicobanya masih saja tidak tepat.

Tak ingin pulang dengan dicecar oleh kedua orang tuanya, Bian putuskan untuk datang ke rumah Yuna. Ia bisa beralasan untuk membawakan ponsel itu sehingga orang tua Yuna tidak akan curiga. Setelah berkendara kurang lebih setengah jam, Bian tiba di rumah dengan desain bergaya aristekstur Eropa itu.

“Adek lo belum pulang?” tanya Bian ketika mendapati sahabatnya yang membukakan pintu.

Pria yang baru saja selesai mandi itu mengangguk tak bersemangat. Bian masuk dan menyusul langkah Arga ke kamar. Rumah besar itu tampak sepi seperti kuburan. Asisten rumah tangga tak satu pun terlihat.

“Om sama tante ke mana, Ar?”

“Kata Bibi lagi keluar kota, ada kolega yang adain resepsi.”

Bian hanya mengangguk hingga langkahnya berhenti di depan pintu kamar Yuna yang bersebelahan dengan kamar Arga. Seingatnya, terakhir kali masuk ke dalam kamar gadis itu, saat ia masih SMA.

Tanpa Bian duga, Arga justru membuka pintu kamar itu. Ternyata Arga hendak mencari charger ponsel. Saat itulah Bian melihat tampilan kamar itu sudah jauh berbeda. Nuansa kamarnya disominasi putih dan kuning.

Keningnya berkerut mendapati frame berisi fotonya yang tertidur menelungkupkan badan di meja kerjanya. Dari background, Bian menebak mungkin foto itu diambil setahun yang lalu saat masih awal dirinya bekerja di perusahaan papanya.

“Yuna itu kalau udah sayang, pakai banget. Tapi, kalau udah benci, ujungnya bodo amat,” kata Arga menarik lengan Bian agar kembali keluar. “Lo bikin masalah apa sama adek gue?”

Deg!

***

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Nikahi Aku Sehari Saja   Part 26 Ngidam

    Sebuah mobil sport merah perlahan menurunkan kecepatan saat memasuki pelataran parkir kantor PT. RK Tbk. Kehadiran sang pemilik menyita perhatian banyak pasang mata. Tak seperti tamu lainnya yang harus menghampiri meja resepsionis. Danu yang siang ini mampir ingin menemui Bian hanya melambai pada dua resepsionis yang sudah hapal dengan tujuannya menemui CEO perusahaan ini. "Rapatnya udah selesai, Bro?" tanya Danu pada sekretaris Bian. "Sudah, Mas Danu. Bos lagi santai kok," sahut pemuda itu tersenyum menepikan kotak makan siangnya. Danu menggeleng. "Kamu lanjut makan aja. Nggak perlu anterin saya masuk. Sekalipun saya diusir sama bos kamu itu, saya bakalan bergeming di dalam sampai dia setuju," ungkap Danu melangkah sembari bersenandung memikirkan tujuan kedatangannya. "Setuju apa? Perasaan Pak Bian nggak ada bahas apapun soal Pak Danu?" batin sekretaris Bian itu menggaruk kepalanya bingung. Ceklek! "Asam lambung lo itu

  • Nikahi Aku Sehari Saja   Part 25 Mimpi Itu Lagi

    Yuna merasa sekujur tubuhnya panas. Perlahan matanya mengerjap dan menyadari itu hanya mimpi. Sentuhan Bian malam itu terasa begitu nyata dalam mimpinya. "Ada apa denganku? Kenapa di antara banyaknya kenangan sama dia, harus ingat hal ini?" gerutu Yuna bangkit dari tempat tidur. Lekas ia mengganti piyama yang baru. Ia tidak nyaman menggunakan piyama yang lengket karena keringat. "Apa dia juga sedang mengingatku?" batin Yuna mengusap perutnya. Lagi-lagi ia lapar. "Masih ada buah tidak, ya?" batin Yuna kembali bangun dari tempat tidur. Saat mengambil sebuah pisang, tatapan Yuna juga tertuju pada promo vila di sebuah destinasi wisata. Yuna kembali teringat saat liburan bertiga bersama Bian dan Arga ke puncak. "Malam itu jadi malam terakhir aku menatap wajahmu," batin Yuna memejamkan mata mengenang wajah pria yang dicintainya. Flashback on Yuna mengintip dari lubang kunci pintu kamar. Di sana, kakaknya sepertiny

  • Nikahi Aku Sehari Saja   Part 24 Cinta Mati

    Bian didera rasa mual dan pusing. Sejak kemarin tubuhnya seakan sulit diajak kompromi. Ia bahkan sangat sensitif dengan aroma masakan atau parfum orang lain. Hanya saja, ia enggan mengungkapkannya. Karena jika ia jujur, maka bualan Gian tentang dirinya kerasukan arwah ibu hamil akan dianggap benar. Mana mungkin dirinya kerasukan hantu bumil? Ada-ada saja! Hari ini, resepsi pernikahan Arga berlangsung meriah. Meski begitu, para tamu bisa melihat jika para anggota keluarga Diratama masih berduka atas kepergian Yuna. Hari bahagia Arga terasa kurang tanpa kehadiran putri bungsu keluarga itu."Ada apa, Bian?" tanya sang mama. "Bian pusing, Ma. Mungkin karena cium terlalu banyak wangi parfum," jawab Bian. Amba mengernyit heran. Tiba-tiba, seorang gadis berlari ke arah mereka dan langsung menggamit lengan Bian. Refleks Bian menoleh dan gumam, "Yuna?" "Ish, kok Yuna, sih? Dia udah nggak ada, Kak," gerutu gadis itu karena Bian langsung men

  • Nikahi Aku Sehari Saja   Part 23 Seperti Wanita Hamil

    Sinar matahari mulai menyapa dengan menelusup melewati celah tirai. Bian menggeliat merasa tak nyaman. Sekujur tubuhnya juga terasa lemas. Ia hendak balik badan menghindari cahaya yang membuatnya silau. Akan tetapi, ia merasa jika tubuhnya terkunci. Lebih tepatnya, ada sesuatu yang menindih perut dan kakinya.Bian mengerjap dan menyadari ada seseorang yang memeluknya. Mungkin lebih tepatnya menjadikan tubuhnya sebagai bantal guling."Bangun," gumam Bian yang kini sudah tahu siapa pelakunya.Akan tetapi, adik kembarnya itu masih bergeming. Tak ada tanda-tanda Gian akan sadar. Sementara Bian merasa kepalanya luar biasa pening."Bangun, Gian," bisik Bian yang suaranya parau. Tenggorokannya terasa kering dan perih. "Yan, banguuun."Gian menggeliat dan berkata, "Iya, Sayang. Bentar dulu, aku masih ngantuk."Bukannya melepaskannya, Gian justru mengeratkan pelukannya. Bian menghela napas panjang. Sepertinya Gian

  • Nikahi Aku Sehari Saja   Part 22 Mayat Hidup

    Sebulan setelah kepergian Yuna, Bian akhirnya kembali beraktivitas di kantor. Sejak kepergian Yuna, ia lebih sering melakukan rapat virtual. Bila ada dokumen yang membutuhkan tanda tangannya, maka sekretarisnya yang akan datang ke rumah.Tidak seperti sebelumnya, kini setiap hari Bian lembur. Pukul 07:00 pagi akan berangkat ke kantor dan pulang pukul 22:00 saat alarm pengingat di ruang kerjanya berbunyi. Tak pelak, kabar tak mengenakkan di kantor terdengar sampai ke telinga Andra. Karyawannya mulai bergosip jika CEO perusahaan mereka bukan lagi robot yang kerja, melainkan mayat hidup. Biasanya saat akhir pekan, Bian dan sahabat-sahabatnya akan menghabiskan waktu bersama. Kadang pula berolahraga bersama Gian. Bila ada agenda dengan rekan bisnis, maka Bian akan bersemangat mengajaknya untuk bermain golf."Papa langi mikirin apa?" tanya Amba menutup majalah perhiasan di pangkuannya. Edisi kali ini sama sekali tak ada yang menarik minatnya.Hela napas Andra terdengar berat. "Papa mikiri

  • Nikahi Aku Sehari Saja   Part 21 Bukan Jodi Tapi Dudi

    "Kemarin temanku antar pesanan makanan. Dia bilang kalau penghuni kamar ujung itu cantik banget," bisik salah satu dari ketiga pencuri itu. "Bukannya kamar pojok itu selalu gelap?" tanya rekannya. Laki-laki yang berhasil melepas beberapa knalpot dan spion mobil itu menggeleng lalu berkata, "Kayaknya udah ada penghuni baru. Kemarin aku juga lihat lampu kamar mandinya nyala pas nyoba manjat pagar." Sementara di dalam kamar, Yuna terbangun karena lapar. Ia beranjak mengambil buah di atas meja. Disaat itulah ia mendengar suara bisik-bisik aneh. Yuna mengendap-endap menempelkan telinga di balik pintu. Suara bisik-bisik itu semakin jelas terdengar membahas 'penghuni kamar ini' yang tidak lain adalah dirinya. Padahal, Yuna sudah berusaha tidak menarik perhatian dengan tidak meninggalkan kamar. Semua kebutuhannya ia pesan melalui aplikasi online. Terlintas sebuah ide untuk mengerjai sekaligus mengusir mereka. Yuna tidak punya keberanian lebih ataupun kekuatan melawan mereka. Jika melapo

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status