MasukKeesokan harinya, pagi Bian disambut dengan satu pesan dari Yuna. Gadis itu mengabari jika selama tiga hari ia akan berlibur ke tempat neneknya. Mungkin akan sulit menghubunginya karena kondisi jaringan seluler di sana kurang baik.
Senyum Bian seketika merekah. Itu artinya selama tiga hari kedepan, dirinya tidak akan diusik oleh Yuna. Dirinya akan bebas dari cerewetnya gadis itu. “It’s like freedom days!” sorak Bian.
Secepat kilat Bian beranjak dari tempat tidur. Ia ingin fokus kerja dan lembur hari ini. Dengan begitu selama akhir pekan nanti, ia bisa menikmati waktu dengan bebas. Tidak akan ada Yuna yang merengek manja dan membuatnya sakit kepala.
Andra dan Amba heran melihat putra sulungnya yang tampak begitu bahagia pagi ini. Mereka baru saja membahas hubungan antara Bian dan Yuna.
"Tumben senyum-senyum terus?" tanya sang papa.
Masih dengan senyum yang terlukis di wajahnya, Bian menjawab, "Yuna lagi ke tempat neneknya. Artinya, Bian nggak akan sakit kepala selama tiga hari."
Amba memilih diam saja. Pembahasan sudah berganti masalah pekerjaan di kantor. Entah mengapa pikirannya justru terus tertuju pada Yuna.
Gadis itu mengutarakan niat untuk putus dengan Bian dengan meminta izinnya. Yuna meminta maaf karena telah membuatnya kecewa, sedangkan putranya sendiri malah terlihat begitu bahagia.
Kemarin ia menduga jika Yuna akan menangis histeris dan merengek padanya. Namun, di luar dugaan Amba, gadis itu tampak begitu tegar.
Kala dirinya bertanya alasan Yuna memilih ingin mengakhiri hubungan dengan putranya, jawaban Yuna cukup mengejutkannya. Gadis itu benar-benar memberikannya kejutan.
Flashback on
"Boleh tante tahu alasan kamu ingin putus sama Bian?" tanya Amba yang berusaha menguasai kejutan yang diutarakan Yuna.
"Menurut Yuna, Kak Bian tipe cowok yang membosankan," ucap Yuna sambil mengusap gelas tehnya.
Amba mengangguk membenarkan. Putranya memang terlihat acuh tak acuh dalam hubungan mereka. Rencana perjodohan antara Bian dan Yuna, seolah tidak penting bagi putranya.
"Sudah cukup Yuna merasa berjuang sendiri. Meski Yuna cewek, lemah dan nggak bisa apa-apa, tapi Yuna masih punya harga diri, Tante. Kalau dipaksakan, aku ataupun Kak Bian sama-sama nggak bahagia," lanjut Yuna tersenyum walau tak sampai ke mata.
Flashback off
"Ma, Mama!" panggil Andra.
"Ha? Kenapa, Pa?" tanya Amba panik.
Suami dan putranya menggeleng lalu terkekeh. "Mama melamunkan apa pagi-pagi? Muka ganteng kita berdua memangnya tidak menarik?" kelakar Bian.
"Anggap saja begitu," jawab Amba yang kini membuat suami dan putra sulungnya melongo.
"Mama aneh banget. Apa masih marah soal semalam aku bahas Yuna? Argh! Stop Bian, nggak ada Yuna lagi. Setidaknya jangan pikirkan gadis itu selama tiga hari," batin Bian menghibur diri.
Kedua pria beda generasi itu memutuskan untuk berangkat bersama. Bukan tanpa alasan, Bian sudah mengutarakan niatnya ingin lembur dan akan menginap di kantor. Rencananya besok dia akan ke Bali menghadiri pesta ulang tahun temannya.
Selama perjalanan ke kantor, Bian sibuk menanggapi perihal kerja sama dari salah satu relasi bisnis papanya. Saat berhenti karena lampu lalu lintas, mata Bian tertuju pada gerobak rujak yang terparkir di sisi jalan. Entah mengapa ia menelan saliva membayangkan segar dan asamnya mangga.
"Ada apa denganku?" batin Bian menggeleng pelan.
Setibanya di kantor, Bian benar-benar fokus dengan pekerjaannya. Saat istirahat makan siang pun ia makan di ruangannya. Sekretarisnya bahkan sudah pamit duluan saat jam kantor berakhir.
Satu persatu tumpukan map dibuka dan ditutup. Tumpukan yang semula menggunung di bagian kiri mejanya, kini sudah berpindah ke bagian kanan. Setelah meregangkan tubuhnya, senyum Bian merekah.
Denting jarum jam sesekali beradu dengan suara pendingin ruangan. Bian beranjak merebahkan tubuhnya di sofa sembari memeriksa ponselnya. Satu persatu pesan dari keluarga ia balas. Termasuk pesan dari supir keluarga yang mengabari jika mobil sport-nya sudah harus diservis.
Bian mengernyit karena tidak mendapati satu pun pesan dari Yuna. Ketika mengetuk foto profil gadis itu, terlihat tulisan ‘online’ yang menandakan jika Yuna sedang aktif dengan ponselnya.
“Tumben, seharian Yuna nggak pernah ganggu? Apa dia seharian ini jadi putri tidur?” batin Bian mengernyit heran.
Niat yang semula ingin mengetik pesan untuk Yuna ia urungkan. Jangan sampai gadis itu malah tidak berhenti mengirim pesan saat dirinya sudah ingin pulang dan beristirahat.
Bian memilih bertukar pesan dengan teman-temannya. Bertanya siapa saja dan kapan tepatnya mereka akan berangkat ke Bali akhir pekan ini. Sesekali Bian terkekeh membaca balasan komentar dari teman-temannya.
Sementara Yuna yang duduk di balkon kamarnya menatap nanar layar ponselnya. Ia melihat kontak Bian dalam keadaan ‘online’ beberapa saat lalu. Namun, pria itu sama sekali tidak mengirimkan pesan satu kata pun padanya.
“Jangan harap dia mau tahu kabar kamu. Seharian ini kamu memikirkannya, tapi dia sama sekali tidak menelpon atau mengirim pesan. Dia mungkin sedang bahagia lepas darimu Yuna,” batin gadis itu meringis.
Lagi-lagi ia menitikkan air mata. Memikirkan Bian selalu saja membuat hatinya lemah. Tak dapat dipungkiri, di hatinya masih ada cinta.
Selama ini, selalu saja dirinya yang berusaha. Bian hanya akan bersikap manis padanya saat ada orang lain. Kalau saja ia boleh jujur, Bian … pria itu memang mulai membosankan di matanya.
Sejak beberapa hari terakhir ia mengurung diri di vila. Berada di dekat keluarganya hanya akan membuat mereka curiga. Setiap kali memikirkan nasibnya yang kelak akan melahirkan tanpa seorang suami di sisinya, membuat Yuna tak kuasa menahan air mata. Belum lagi memikirkan nasib anak-anaknya kelak.
“Sebelum aku pergi, akan kuberikan hadiah yang tidak akan pernah kamu lupakan. Hadiah yang tidak akan bisa diberikan oleh orang lain,” gumam Yuna tersenyum miris menatap foto Bian di ponselnya.
***
Sebuah mobil sport merah perlahan menurunkan kecepatan saat memasuki pelataran parkir kantor PT. RK Tbk. Kehadiran sang pemilik menyita perhatian banyak pasang mata. Tak seperti tamu lainnya yang harus menghampiri meja resepsionis. Danu yang siang ini mampir ingin menemui Bian hanya melambai pada dua resepsionis yang sudah hapal dengan tujuannya menemui CEO perusahaan ini. "Rapatnya udah selesai, Bro?" tanya Danu pada sekretaris Bian. "Sudah, Mas Danu. Bos lagi santai kok," sahut pemuda itu tersenyum menepikan kotak makan siangnya. Danu menggeleng. "Kamu lanjut makan aja. Nggak perlu anterin saya masuk. Sekalipun saya diusir sama bos kamu itu, saya bakalan bergeming di dalam sampai dia setuju," ungkap Danu melangkah sembari bersenandung memikirkan tujuan kedatangannya. "Setuju apa? Perasaan Pak Bian nggak ada bahas apapun soal Pak Danu?" batin sekretaris Bian itu menggaruk kepalanya bingung. Ceklek! "Asam lambung lo itu
Yuna merasa sekujur tubuhnya panas. Perlahan matanya mengerjap dan menyadari itu hanya mimpi. Sentuhan Bian malam itu terasa begitu nyata dalam mimpinya. "Ada apa denganku? Kenapa di antara banyaknya kenangan sama dia, harus ingat hal ini?" gerutu Yuna bangkit dari tempat tidur. Lekas ia mengganti piyama yang baru. Ia tidak nyaman menggunakan piyama yang lengket karena keringat. "Apa dia juga sedang mengingatku?" batin Yuna mengusap perutnya. Lagi-lagi ia lapar. "Masih ada buah tidak, ya?" batin Yuna kembali bangun dari tempat tidur. Saat mengambil sebuah pisang, tatapan Yuna juga tertuju pada promo vila di sebuah destinasi wisata. Yuna kembali teringat saat liburan bertiga bersama Bian dan Arga ke puncak. "Malam itu jadi malam terakhir aku menatap wajahmu," batin Yuna memejamkan mata mengenang wajah pria yang dicintainya. Flashback on Yuna mengintip dari lubang kunci pintu kamar. Di sana, kakaknya sepertiny
Bian didera rasa mual dan pusing. Sejak kemarin tubuhnya seakan sulit diajak kompromi. Ia bahkan sangat sensitif dengan aroma masakan atau parfum orang lain. Hanya saja, ia enggan mengungkapkannya. Karena jika ia jujur, maka bualan Gian tentang dirinya kerasukan arwah ibu hamil akan dianggap benar. Mana mungkin dirinya kerasukan hantu bumil? Ada-ada saja! Hari ini, resepsi pernikahan Arga berlangsung meriah. Meski begitu, para tamu bisa melihat jika para anggota keluarga Diratama masih berduka atas kepergian Yuna. Hari bahagia Arga terasa kurang tanpa kehadiran putri bungsu keluarga itu."Ada apa, Bian?" tanya sang mama. "Bian pusing, Ma. Mungkin karena cium terlalu banyak wangi parfum," jawab Bian. Amba mengernyit heran. Tiba-tiba, seorang gadis berlari ke arah mereka dan langsung menggamit lengan Bian. Refleks Bian menoleh dan gumam, "Yuna?" "Ish, kok Yuna, sih? Dia udah nggak ada, Kak," gerutu gadis itu karena Bian langsung men
Sinar matahari mulai menyapa dengan menelusup melewati celah tirai. Bian menggeliat merasa tak nyaman. Sekujur tubuhnya juga terasa lemas. Ia hendak balik badan menghindari cahaya yang membuatnya silau. Akan tetapi, ia merasa jika tubuhnya terkunci. Lebih tepatnya, ada sesuatu yang menindih perut dan kakinya.Bian mengerjap dan menyadari ada seseorang yang memeluknya. Mungkin lebih tepatnya menjadikan tubuhnya sebagai bantal guling."Bangun," gumam Bian yang kini sudah tahu siapa pelakunya.Akan tetapi, adik kembarnya itu masih bergeming. Tak ada tanda-tanda Gian akan sadar. Sementara Bian merasa kepalanya luar biasa pening."Bangun, Gian," bisik Bian yang suaranya parau. Tenggorokannya terasa kering dan perih. "Yan, banguuun."Gian menggeliat dan berkata, "Iya, Sayang. Bentar dulu, aku masih ngantuk."Bukannya melepaskannya, Gian justru mengeratkan pelukannya. Bian menghela napas panjang. Sepertinya Gian
Sebulan setelah kepergian Yuna, Bian akhirnya kembali beraktivitas di kantor. Sejak kepergian Yuna, ia lebih sering melakukan rapat virtual. Bila ada dokumen yang membutuhkan tanda tangannya, maka sekretarisnya yang akan datang ke rumah.Tidak seperti sebelumnya, kini setiap hari Bian lembur. Pukul 07:00 pagi akan berangkat ke kantor dan pulang pukul 22:00 saat alarm pengingat di ruang kerjanya berbunyi. Tak pelak, kabar tak mengenakkan di kantor terdengar sampai ke telinga Andra. Karyawannya mulai bergosip jika CEO perusahaan mereka bukan lagi robot yang kerja, melainkan mayat hidup. Biasanya saat akhir pekan, Bian dan sahabat-sahabatnya akan menghabiskan waktu bersama. Kadang pula berolahraga bersama Gian. Bila ada agenda dengan rekan bisnis, maka Bian akan bersemangat mengajaknya untuk bermain golf."Papa langi mikirin apa?" tanya Amba menutup majalah perhiasan di pangkuannya. Edisi kali ini sama sekali tak ada yang menarik minatnya.Hela napas Andra terdengar berat. "Papa mikiri
"Kemarin temanku antar pesanan makanan. Dia bilang kalau penghuni kamar ujung itu cantik banget," bisik salah satu dari ketiga pencuri itu. "Bukannya kamar pojok itu selalu gelap?" tanya rekannya. Laki-laki yang berhasil melepas beberapa knalpot dan spion mobil itu menggeleng lalu berkata, "Kayaknya udah ada penghuni baru. Kemarin aku juga lihat lampu kamar mandinya nyala pas nyoba manjat pagar." Sementara di dalam kamar, Yuna terbangun karena lapar. Ia beranjak mengambil buah di atas meja. Disaat itulah ia mendengar suara bisik-bisik aneh. Yuna mengendap-endap menempelkan telinga di balik pintu. Suara bisik-bisik itu semakin jelas terdengar membahas 'penghuni kamar ini' yang tidak lain adalah dirinya. Padahal, Yuna sudah berusaha tidak menarik perhatian dengan tidak meninggalkan kamar. Semua kebutuhannya ia pesan melalui aplikasi online. Terlintas sebuah ide untuk mengerjai sekaligus mengusir mereka. Yuna tidak punya keberanian lebih ataupun kekuatan melawan mereka. Jika melapo







