LOGIN"Daripada kita juga ikut kecipratan dosanya, mending bantu nikahkan mereka saja, Pak."
"Iya betul," sahut warga yang lain, terdengar bersungut-sungut dari area depan.
Raya yang baru saja hendak menidurkan Cia di gendongannya sontak melangkah masuk dari belakang ruko. Kelopak matanya melebar sempurna begitu melihat beberapa warga memenuhi ruang tamu sempit tersebut.
"Loh, Pak Kadus?" sapa Raya dengan suara yang langsung tertelan oleh dirinya sendiri.
Ia lantas melirik warga lain yang menatapnya dengan pandangan merendahkan. Sementara itu, Adam masih dalam posisi bersidekap dengan kaki yang dilipat bersila di atas tikar pandan. Wajah pria itu kaku, tanpa kepanikan atau rasa bersalah sedikit pun.
"Nanti sore kalian berdua harus ke kantor KUA. Biar saya yang antarkan sendiri," sahut pria paruh baya yang disapa Pak Kadus tadi, nada suaranya tegas tanpa ruang bantahan.
Tanpa mendengarkan respons dari Raya, Pak Kadus dan rombongan warga pamit undur diri. Langkah-langkah kaki mereka menjauh, namun suara tuduhan kumpul kebo dan desas-desus sengit yang menyudutkan Raya dan Adam masih terdengar samar dari luar rolling door.
Raya mengelus dada, meredakan gemuruh di jantungnya. Setelah meletakkan Cia yang tertidur lelap di atas kasur busa, Raya berjalan cepat menuju tempat Adam berdiam diri.
"Kenapa gak bilang sih kejadian sebenarnya?!" sentak Raya emosi, suaranya ditahan setengah berbisik agar Cia tidak terbangun. "Kenapa kamu cuma diam aja kayak orang yang benar-benar salah?!"
Adam mendongak perlahan. Ia melepas kacamatanya, mengusap pangkal hidungnya yang lelah, lalu memasangnya kembali.
"Mau sekuat apa pun membela, bukti sudah berbicara. Saya bisa apa?" sahut Adam datar. "Tetangga tadi melihat saya hanya memakai handuk dan kamu ada di dalam. Di mata warga pemukiman seperti ini, penjelasan teknis soal pintu rusak tidak akan pernah diterima."
"Tapi gara-gara ini kita dipaksa nikah sore ini juga tahu!"
"Bukannya ini yang kita butuhkan?" Adam menatap Raya lurus, dingin dan kaku. "Sore ini warga mengantar kita ke KUA. Artinya, saat Mama datang besok pagi membawa pengacara dan ancaman Dinsos, kita sudah punya dua buku nikah dan Pak Kadus sebagai saksi yang sah. Mama tidak punya celah hukum lagi untuk merebut anak itu dari kamu."
Raya bungkam seketika. Tenggorokannya mendadak mengering. Logika Adam yang tajam dan tanpa emosi kembali menepis seluruh amarahnya hingga tak berbekas.
Tak lama setelahnya Adam meraih selembar kertas HVS kosong dari atas meja kasir, lalu mencabut pulpen hitam dari saku kemejanya. Jemari panjangnya bergerak cepat menuliskan deretan poin di atas kertas tersebut.
"Sebelum berangkat sore nanti, kita tanda tangani ini dulu," kata Adam sambil menggeser kertas itu ke hadapan Raya.
Raya menunduk, membaca tulisan tangan Adam yang rapi dan tegas.
SURAT PERJANJIAN KESEPAKATAN BERSAMA
Pernikahan ini murni sah secara hukum dan agama untuk perlindungan hak asuh Alicia Putri Perdana serta legalitas ruko.
Masa berlaku pernikahan disepakati selama 1 tahun.
Tidak ada hubungan biologis, tuntutan fisik, atau campur tangan dalam urusan pribadi masing-masing alias pisah ranjang.
Pihak Pertama, yakni Adam Reygan Prasetya bertanggung jawab atas nafkah dasar Alicia Putri Perdana dan biaya legalitas ruko.
Pihak Kedua, yakni Hania Raya juga turut bertanggung jawab atas pengurusan operasional harian ruko dan merawat Alicia Putri Perdana.
Raya meraih pulpen dari tangan Adam. Di bagian paling bawah, ia menambahkan satu poin dengan tulisan tangannya sendiri:
Pihak Pertama tidak berhak menguasai atau menjual peninggalan almarhum Haikal tanpa persetujuan tertulis dari Pihak Kedua demi masa depan Alicia Putri Perdana.
Adam memperhatikan poin tambahan itu tanpa berkedip, lalu mengangguk tipis. "Satu syarat yang masuk akal."
Tanpa ragu, Adam membubuhkan tanda tangannya di atas kertas tersebut, disusul oleh Raya yang menggoreskan tanda tangannya dengan tangan bergetar. Kertas itu kemudian dilipat rapi dan dimasukkan Adam ke dalam selipan dompet kulitnya.
Sore harinya, langit di atas kantor KUA tampak mendung tebal.
Prosesi akad nikah berlangsung sangat singkat, sederhana, dan dingin. Tidak ada dekorasi bunga, tidak ada gaun pengantin mewah, dan tidak ada sanak keluarga yang hadir mendampingi. Raya hanya mengenakan baju terusan polos berwarna krem yang tersisa di ranselnya, sementara Adam mengenakan kemeja putih bersih.
Pak Kadus dan seorang petugas KUA duduk di samping penghulu sebagai saksi.
"Saya terima nikah dan kawinnya Hania Raya binti..."
Suara Adam terdengar lantang, tegas, dan konstan dalam satu tarikan napas tanpa sedikit pun keraguan. Ketika kata sah bergema, dada Raya berdesir hebat. Ada rasa ngilu yang menghantam ulu hatinya. Ia kini resmi menjadi istri sah dari pria asing yang dingin ini, murni demi selembar kertas dan perlindungan untuk keponakannya.
Saat sesi penandatanganan buku nikah dan penyerahan mahar, jemari Adam yang dingin menyentuh punggung tangan Raya secara singkat. Kontak fisik tanpa emosi itu mengirimkan sengatan canggung yang membuat Raya buru-buru menarik tangannya kembali.
Malam harinya, ruko diselimuti keheningan yang canggung. Sesuai perjanjian pisah ranjang, Adam menggelar kasur lipat di dekat meja kasir depan, sementara Raya mengurung diri bersama Cia di kamar belakang.
Namun, baru saja Raya hendak merebahkan badan..
TAP!
Listrik ruko mendadak padam total. Suasana menjadi gelap gulita. Cia seketika terbangun dan menangis histeris. Raya yang panik meraba-raba kegelapan mencari ponselnya.
"Aww!" Raya meringis kesakitan saat kakinya tersandung sudut kasur hingga ia terjerembap.
Pintu kamar belakang mendadak terdorong dari luar.
"Diam di tempat." Suara Adam terdengar berat dan tenang menembus kegelapan, disusul pendar cahaya flashlight dari ponselnya.
"Lampunya padam! Cia pasti kaget!" seru Raya panik, tangannya meraba-raba lantai. "Hapeku.. aduh!”
"Saya bilang diam," potong Adam tegas. Pria itu melangkah cepat mendekat sambil mengarahkan lampu ponsel ke arah suara Raya. "Kalau tidak kelihatan, jangan asal bergerak."
"Mana aku tahu! Kamu jangan maju-maju, kasurnya di.."
Brak!
Kakinya menabrak pinggiran kasur busa. Pria itu kehilangan keseimbangan dan ambruk tepat di atas kasur dengan posisi mengurung tubuh Raya di bawahnya.
Pendar lampu ponsel yang tergeletak miring di lantai menyorot separuh wajah Adam dari samping. Tangan kanan pria itu bertumpu tepat di samping kepala Raya, sementara wajah mereka hanya berjarak beberapa sentimeter. Deru napas hangat Adam menimpa pipi dan leher Raya.
Raya membeku total, napasnya tercekat. Jantungnya berdegup begitu kencang.
"Kamu... ngapain?" bisik Raya bergetar, matanya membelalak menatap manik mata Adam di balik kacamatanya.
Bagi Raya, pagi itu harusnya jadi pagi yang tenang. Pun lantaran perdebatan kecilnya dengan Adam baru saja mereda. Namun, ketenangan itu cuma bertahan beberapa detik. Suara langkah sepatu beradu keras dengan lantai ruko yang berdebu seketika memotong semuanya. Sesosok pria paruh baya bertubuh tegap melangkah masuk tanpa mengetuk. Ia melipat kacamata hitamnya dengan gerakan perlahan yang penuh intimidasi, sebelum pandangannya bersitatap langsung dengan Raya dan Cia di pojok ruangan."Cukup main-mainnya, Adam," panggil pria itu. Suaranya berat, bergema di sela dinding ruko yang sempit. "Waktu liburan kamu di tempat kumuh ini sudah habis. Dan anak itu... harus ikut bersama kita." Darah Raya serasa berhe
Raya sendiri mengerjap kaku, napasnya tertahan di ujung tenggorokan melihat jarak mereka yang dirasa sudah tak masuk akal. Hawa panas yang memancar dari tubuh tegap pria di belakangnya seolah melumpuhkan seluruh pasokan oksigen di sudut dapur sempit itu. Belum sempat Raya melayangkan protes lanjutan untuk mengusir rasa malunya yang membumbung tinggi, Adam tiba-tiba berbisik pelan tepat di samping telinganya."Sana lihat Cia! Biar saya yang urus ini.""Tapi..." Raya tak jadi melanjutkan kalimatnya begitu melihat lirikan maut Adam yang sulit dibantah dari balik bingkai kacamatanya. Tatapan pria itu begitu tegas dan penuh wibawa seolah tak menerima interupsi sama sekali. Alhasil, gadis berambut gelombang itu mendengkus kesal lalu buru-buru menghampiri Cia untuk
“Seenggaknya ngalah kek sama cewek. Atau …paling enggak, kasihan sama Cia yang jadi kesempitan,” gerutu Raya dengan wajah cemberut, bibirnya maju beberapa sentimeter. Namun, Adam pura-pura tuli. Pria berjambang tipis itu melepas kacamata, meletakkannya di lantai, lalu menutup mata rapat-rapat.“Cowok egois!!” dengkus Raya sengit. Waktu menunjukkan pukul sebelas malam. Suasana ruko satu petak itu meremang dalam sunyi. Di atas kasur single yang sempit, Cia sudah bergeser posisi dalam lelapnya. Balita dua tahun itu kini tidur melintang di area bawah dekat kaki mereka, meringkuk sambil memeluk erat boneka kain kesayangannya. Raya yang setengah mengantuk berbalik ke tengah. Tangannya terulur meraba ke samping untuk merengkuh tubuh keponakannya agar tidak kedinginan. Alih-alih mendapati tubuh gembul Cia, jemarinya justru mendarat di atas permukaan padat yang kokoh dan hangat.Sontak Raya membuka mata lebar-lebar. Bukannya memeluk sang keponaka
Suara teriakan barusan membuat jantung Raya berdegup kencang, sementara dua kakinya mendadak lemas. Namun, rasa takut itu seketika surut saat ia menunduk dan melihat Cia di gendongannya mulai menangis histeris akibat dentangan rolling door yang memekakkan telinga. Hari ini kesabarannya benar-benar sudah habis. Mulai dari dihardik Sonia, dibuat pusing oleh stok susu Cia yang menipis, hingga sekarang diteror preman pula.Dengan gerakan cepat, Raya melangkah ke arah Adam. "Pegang Cia sebentar!" sentak Raya sambil memindahkan keponakannya itu ke dekapan sang suami. Adam yang baru saja menenteng dua kantong belanjaan berat di kedua tangannya, refleks meletakkan kantong-kantong itu ke tanah demi menyambut tubuh Cia yang terisak di pelukannya. Alih-alih mundur atau berlindung di belakang Adam, Raya justru bergerak gesit menyambar sebatang sapu ijuk yang bersandar di dinding luar ruko."Woi! Mau pada bikin rusuh, hah?!" geram Raya dengan suara b
"Maksud Mama kamu tadi... apa?" desak Raya dengan napas memburu. Langkah kaki Sonia dan pengacaranya baru saja menghilang di balik pintu ruko, meninggalkan aroma parfum mahal yang pekat dan rasa canggung yang mendadak menghimpit dada. Raya menatap lurus pria di hadapannya, menuntut jawaban atas bisikan penuh ancaman yang sempat membuat tubuh tegap Adam membeku kaku. Namun, Adam tidak menunjukkan raut panik sedikit pun. Dengan gerakan tenang, pria itu merapikan kemeja abu-abunya yang sedikit kusut, membetulkan letak kacamata di pangkal hidung, lalu menatap Raya lurus."Poin tiga."Raya mengernyitkan alisnya, matanya memicing curiga. "Apa?""Poin ketiga. Surat perjanjian pernikahan kita," sahut Adam dingin tanpa riak emosi. "Dilarang mencampuri urusan pribadi masing-masing yang tidak berhubungan langsung dengan legalitas ruko dan hak asuh Alicia.""Tapi itu tadi Mama kamu!" sengit Raya tak mau kalah, dadanya kempas-kempis menahan rasa jengkel. Matanya mendelik se
"Paham tidak?" gumam Adam yang membuat Raya mengangguk kaku. Fokus Raya seketika terpecah saat suara rengekan Cia terdengar dari dalam kamar. Namun, baru saja Raya hendak melangkah, rolling door ruko yang belum terkunci rapat mendadak didorong dari luar. Wak Salmah melongokkan kepalanya sambil tersenyum lebar, membawa dua bungkusan plastik hangat."Lain kali ketuk pintunya," kata Adam datar, menatap tetangga itu tanpa ekspresi.Wak Salmah pun mengangguk kikuk, buru-buru merapikan kerudungnya. "Eh, iya, Maaf ya karena kebiasaan. Ini Uwak antarkan lontong sama lupis buat kalian sarapan. Anggap saja tanda permintaan maaf Uwak soal kemarin sore."“Makasih ya, Wak,” ucap Raya sambil meringis. Dia menatap Adam penuh peringatan lantaran menegur sang tetangga dengan ucapan kurang sopan. Namun, pria itu hanya meliriknya acuh tak acuh. Setelah meletakkan bungkusan makanan dan melemparkan beberapa godaan khas ibu-ibu, Wak Salmah pamit pulang. Setelahnya, Adam







