LOGINSuara teriakan barusan membuat jantung Raya berdegup kencang, sementara dua kakinya mendadak lemas. Namun, rasa takut itu seketika surut saat ia menunduk dan melihat Cia di gendongannya mulai menangis histeris akibat dentangan rolling door yang memekakkan telinga.
Hari ini kesabarannya benar-benar sudah habis. Mulai dari dihardik Sonia, dibuat pusing oleh stok susu Cia yang menipis, hingga sekarang diteror preman pula.
Dengan gerakan cepat, Raya melangkah ke arah Adam. "Pegang Cia sebentar!" sentak Raya sambil memindahkan keponakannya itu ke dekapan sang suami.
Adam yang baru saja menenteng dua kantong belanjaan berat di kedua tangannya, refleks meletakkan kantong-kantong itu ke tanah demi menyambut tubuh Cia yang terisak di pelukannya.
Alih-alih mundur atau berlindung di belakang Adam, Raya justru bergerak gesit menyambar sebatang sapu ijuk yang bersandar di dinding luar ruko.
"Woi! Mau pada bikin rusuh, hah?!" geram Raya dengan suara bergetar namun penuh amarah. Ia mengangkat gagang sapu ijuk tinggi-tinggi. "Kalian pikir aku takut ya?”
Adam menatap punggung Raya sekilas, lalu melirik gagang sapu ijuk yang diacungkan istrinya dengan kening berkerut dalam, sementara sebelah tangannya mengusap punggung Cia.
"Raya," panggil Adam datar, berusaha menarik lengan baju wanita itu. "Mundur ke belakang. Biar saya yang urus."
"Nggak usah!" sergah Raya tanpa mengalihkan pandangannya dari para preman. "Aku mau ngasih pelajaran ke mereka!"
"Dek Raya yang cantik!" si rambut gondrong tertawa meremehkan sambil melangkah mendekat. "Berani juga kau rupanya. Utang keluargamu itu sudah jatuh tempo. Kalau hari ini nggak ada pembayaran, barang-barang di dalam ruko ini bakalan kami angkut paksa!"
Melihat situasi yang makin memanas, Adam menghela napas panjang. Ia membetulkan letak kacamatanya dengan satu tangan tetap menggendong Cia, lalu melangkah melewati Raya begitu saja. Pria itu kini berdiri tepat di antara sang istri dan ketiga preman tersebut.
"Hei!" protes Raya tertahan karena posisinya kini terhalang tubuh jangkung Adam.
"Diam di sana. Cia bisa ketakutan kalau kamu teriak-teriak megang sapu begitu," bisik Adam dingin tanpa menoleh.
Si rambut gondrong mendengus sinis, menatap Adam dari ujung kepala hingga kaki. "Wah, ada cowok ganteng. Pacar barunya ya? Mau jadi pahlawan kesiangan, hah?"
Adam tidak terpancing sedikit pun. Ia merogoh saku celananya, mengeluarkan dompet kulit hitam, lalu menarik selembar kartu nama berlogo firma hukum ternama beserta selembar dokumen berstempel resmi.
"Sebelum kalian bertindak lebih jauh dan berurusan dengan pasal perusakan properti serta ancaman kekerasan..." suara bariton Adam mengalun datar, dingin dan tegas. "...saya sarankan kalian membaca kartu dan draf legalitas ini."
Adam menyodorkan dokumen itu tepat di depan dada si rambut gondrong.
Pria itu awalnya berniat menepis, namun begitu matanya melirik lambang resmi firma hukum kelas atas serta klausul pelunasan terstruktur yang tertera di sana, seringainya lenyap. Wajahnya memucat, dan tangannya mendadak gemetar.
"Anu... bapak ini..." geragapan si rambut gondrong, kehilangan keberaniannya.
"Sisa utang keluarga Raya sudah resmi masuk ke dalam proses akuisisi konsolidasi aset di bawah naungan saya," lanjut Adam tenang. "Artinya, mulai detik ini piutang kalian berurusan langsung dengan firma hukum saya. Sistem pembayarannya ditransfer secara legal sesuai jadwal, bukan dengan cara premanisme menggedor pintu seperti ini."
Si rambut gondrong menelan ludah. "Tapi... kami butuh kejelasan hari ini, Pak..."
"Kesepakatannya sederhana," potong Adam tanpa ruang bantahan. "Saya akan menuntaskan pengalihan berkas administrasi dan mentransfer cicilan pertama utang ini besok pagi tepat pukul sembilan melalui rekening resmi. Sebagai gantinya, jika sampai ada satu dari kalian yang menginjakkan kaki atau menakut-nakuti di ruko ini lagi..." Adam menatap lurus mata pria itu, "...saya pastikan seluruh jaringan penagihan ilegal kalian masuk ke meja hijau malam ini juga."
Ketiga preman itu langsung kicep. Saling lempar pandang penuh kepanikan, si rambut gondrong mengangguk cepat sambil menandatangani bukti lembar konfirmasi di tangan Adam.
"B-baik, Pak! Kami pegang janji Bapak besok pagi!" serunya buru-buru, lalu mengajak dua temannya kabur meninggalkan gang ruko.
Halaman ruko kembali senyap.
Raya mengerjap-ngerjap, masih memegang gagang sapu ijuk dengan erat. Alih-alih langsung kagum, ia justru mendengus sinis, menepis rasa canggung yang mendadak mendera dadanya. Kenapa juga pria ini harus sok bisa diandalkan di saat Raya sedang ingin unjuk gigi?
Adam merapikan kemejanya yang sama sekali tidak kusut, lalu menatap Raya datar. “Jangan suka ambil keputusan sendiri.”
Raya menurunkan sapu ijuknya dengan kasar, lalu melemparkan tatapan sewot. "Aku tadi cuma mau ngetes keberanian kamu aja! Kalau kamu nggak maju tadi, preman itu udah kabur duluan kena sapu aku!"
Adam mengangkat sebelah alisnya, tidak terpengaruh dengan omong kosong Raya barusan. "Oh, begitu? Padahal tadi saya lihat tanganmu gemetaran."
"Mana ada aku gemetar?!" balas Raya ngegas. Gadis itu lantas buru-buru mengambil alih Cia dari gendongan Adam.
Malam harinya, suasana ruko satu petak itu mendadak terasa jauh lebih sempit dan menyesakkan. Di sudut ruangan, di atas satu-satunya kasur busa single yang tergelar di lantai, Cia sudah terlelap pulas di bagian tengah, memeluk boneka kainnya tanpa beban.
Raya yang sudah berganti pakaian santai dan mengenakan kaus kaki tebal bermotif beruang kesayangannya tengah berlutut merapikan letak bantal. Hingga suara decitan pintu kamar mandi kecil di sudut ruko membuatnya menoleh seketika.
Adam baru saja muncul mengenakan kaus santai dan celana piyama panjang, rambutnya sedikit basah. Pria itu berjalan santai melintasi ruangan menuju ke arah kasur.
"Eh, mau ngapain?!" sergap Raya panik, refleks berdiri bersedekap. Ia menunjuk garis tengah kasur dengan telunjuknya. "Dengar ya. Karena kasur ini cuma satu-satunya, aku udah buat aturan tegas. Sisi kiri ini wilayah aku dan Cia. Wilayah kamu cuma di tepi sebelah kanan. Gak boleh lewatin batas!”
Adam menghentikan langkahnya sejenak. Pria itu menatap batas yang ditunjuk Raya, lalu beralih menatap wajah wanita di depannya dengan pandangan dingin dari balik kacamata.
Bukannya menuruti, Adam justru melangkah maju tanpa ragu. Tanpa aba-aba, ia langsung merebahkan tubuh jangkungnya di atas kasur, mengambil posisi lumayan ke tengah. Bahkan sengaja melewati batas yang dibuat Raya.
"Heh! Kok malah di situ?!" sergah Raya ngegas, suaranya terpaksa ia bisikkan setengah mati agar Cia tidak terbangun. "Kan aku bilang batas kamu di sebelah kanan!"
Adam memiringkan tubuhnya, menatap Raya datar tanpa riak emosi sedikit pun.
"Hei, siapa kamu berani buat peraturan?" tanya Adam dingin, suara baritonnya yang rendah menyapu keheningan malam di ruko tersebut.
Raya melongo, matanya mendelik tak terima. "Yang punya ruko ini Cia! Sebagai onti yang jagain dia, aku lebih berhak!"
"Saya juga sama statusnya seperti kamu," potong Adam cepat tanpa ruang bantahan, menatap Raya tenang. "Saya omnya Cia, dan secara hukum saya juga wali sahnya. Jadi posisi kita setara di ruko ini."
Adam melirik kaus kaki beruang di kaki Raya dengan sudut bibir yang terangkat sangat tipis. "Lagi pula, di kertas perjanjian kita, tidak ada poin yang menyebutkan kamu berhak mengatur posisi tidur saya."
"Kamu..." Raya mengepalkan tangannya, pipinya mendadak panas akibat perpaduan antara kesal setengah mati dan rasa gengsi yang tersenggol. "Kamu itu benar-benar menyebalkan, tahu nggak?!"
"Tidur, Raya," gumam Adam santai, berbalik membelakangi Raya dan menarik selimutnya sendiri. "Atau kamu mau berdiri terus satu malaman memandangi saya?"
Bagi Raya, pagi itu harusnya jadi pagi yang tenang. Pun lantaran perdebatan kecilnya dengan Adam baru saja mereda. Namun, ketenangan itu cuma bertahan beberapa detik. Suara langkah sepatu beradu keras dengan lantai ruko yang berdebu seketika memotong semuanya. Sesosok pria paruh baya bertubuh tegap melangkah masuk tanpa mengetuk. Ia melipat kacamata hitamnya dengan gerakan perlahan yang penuh intimidasi, sebelum pandangannya bersitatap langsung dengan Raya dan Cia di pojok ruangan."Cukup main-mainnya, Adam," panggil pria itu. Suaranya berat, bergema di sela dinding ruko yang sempit. "Waktu liburan kamu di tempat kumuh ini sudah habis. Dan anak itu... harus ikut bersama kita." Darah Raya serasa berhe
Raya sendiri mengerjap kaku, napasnya tertahan di ujung tenggorokan melihat jarak mereka yang dirasa sudah tak masuk akal. Hawa panas yang memancar dari tubuh tegap pria di belakangnya seolah melumpuhkan seluruh pasokan oksigen di sudut dapur sempit itu. Belum sempat Raya melayangkan protes lanjutan untuk mengusir rasa malunya yang membumbung tinggi, Adam tiba-tiba berbisik pelan tepat di samping telinganya."Sana lihat Cia! Biar saya yang urus ini.""Tapi..." Raya tak jadi melanjutkan kalimatnya begitu melihat lirikan maut Adam yang sulit dibantah dari balik bingkai kacamatanya. Tatapan pria itu begitu tegas dan penuh wibawa seolah tak menerima interupsi sama sekali. Alhasil, gadis berambut gelombang itu mendengkus kesal lalu buru-buru menghampiri Cia untuk
“Seenggaknya ngalah kek sama cewek. Atau …paling enggak, kasihan sama Cia yang jadi kesempitan,” gerutu Raya dengan wajah cemberut, bibirnya maju beberapa sentimeter. Namun, Adam pura-pura tuli. Pria berjambang tipis itu melepas kacamata, meletakkannya di lantai, lalu menutup mata rapat-rapat.“Cowok egois!!” dengkus Raya sengit. Waktu menunjukkan pukul sebelas malam. Suasana ruko satu petak itu meremang dalam sunyi. Di atas kasur single yang sempit, Cia sudah bergeser posisi dalam lelapnya. Balita dua tahun itu kini tidur melintang di area bawah dekat kaki mereka, meringkuk sambil memeluk erat boneka kain kesayangannya. Raya yang setengah mengantuk berbalik ke tengah. Tangannya terulur meraba ke samping untuk merengkuh tubuh keponakannya agar tidak kedinginan. Alih-alih mendapati tubuh gembul Cia, jemarinya justru mendarat di atas permukaan padat yang kokoh dan hangat.Sontak Raya membuka mata lebar-lebar. Bukannya memeluk sang keponaka
Suara teriakan barusan membuat jantung Raya berdegup kencang, sementara dua kakinya mendadak lemas. Namun, rasa takut itu seketika surut saat ia menunduk dan melihat Cia di gendongannya mulai menangis histeris akibat dentangan rolling door yang memekakkan telinga. Hari ini kesabarannya benar-benar sudah habis. Mulai dari dihardik Sonia, dibuat pusing oleh stok susu Cia yang menipis, hingga sekarang diteror preman pula.Dengan gerakan cepat, Raya melangkah ke arah Adam. "Pegang Cia sebentar!" sentak Raya sambil memindahkan keponakannya itu ke dekapan sang suami. Adam yang baru saja menenteng dua kantong belanjaan berat di kedua tangannya, refleks meletakkan kantong-kantong itu ke tanah demi menyambut tubuh Cia yang terisak di pelukannya. Alih-alih mundur atau berlindung di belakang Adam, Raya justru bergerak gesit menyambar sebatang sapu ijuk yang bersandar di dinding luar ruko."Woi! Mau pada bikin rusuh, hah?!" geram Raya dengan suara b
"Maksud Mama kamu tadi... apa?" desak Raya dengan napas memburu. Langkah kaki Sonia dan pengacaranya baru saja menghilang di balik pintu ruko, meninggalkan aroma parfum mahal yang pekat dan rasa canggung yang mendadak menghimpit dada. Raya menatap lurus pria di hadapannya, menuntut jawaban atas bisikan penuh ancaman yang sempat membuat tubuh tegap Adam membeku kaku. Namun, Adam tidak menunjukkan raut panik sedikit pun. Dengan gerakan tenang, pria itu merapikan kemeja abu-abunya yang sedikit kusut, membetulkan letak kacamata di pangkal hidung, lalu menatap Raya lurus."Poin tiga."Raya mengernyitkan alisnya, matanya memicing curiga. "Apa?""Poin ketiga. Surat perjanjian pernikahan kita," sahut Adam dingin tanpa riak emosi. "Dilarang mencampuri urusan pribadi masing-masing yang tidak berhubungan langsung dengan legalitas ruko dan hak asuh Alicia.""Tapi itu tadi Mama kamu!" sengit Raya tak mau kalah, dadanya kempas-kempis menahan rasa jengkel. Matanya mendelik se
"Paham tidak?" gumam Adam yang membuat Raya mengangguk kaku. Fokus Raya seketika terpecah saat suara rengekan Cia terdengar dari dalam kamar. Namun, baru saja Raya hendak melangkah, rolling door ruko yang belum terkunci rapat mendadak didorong dari luar. Wak Salmah melongokkan kepalanya sambil tersenyum lebar, membawa dua bungkusan plastik hangat."Lain kali ketuk pintunya," kata Adam datar, menatap tetangga itu tanpa ekspresi.Wak Salmah pun mengangguk kikuk, buru-buru merapikan kerudungnya. "Eh, iya, Maaf ya karena kebiasaan. Ini Uwak antarkan lontong sama lupis buat kalian sarapan. Anggap saja tanda permintaan maaf Uwak soal kemarin sore."“Makasih ya, Wak,” ucap Raya sambil meringis. Dia menatap Adam penuh peringatan lantaran menegur sang tetangga dengan ucapan kurang sopan. Namun, pria itu hanya meliriknya acuh tak acuh. Setelah meletakkan bungkusan makanan dan melemparkan beberapa godaan khas ibu-ibu, Wak Salmah pamit pulang. Setelahnya, Adam







