Share

4. Gangguan Malam Pertama?

Author: A mum to be
last update publish date: 2026-10-22 01:07:33

            Raya mengira Adam akan mengambil kesempatan. Entah memanfaatkan status baru mereka untuk menciumnya atau melakukan sesuatu yang melampaui batas surat perjanjian mereka. Namun, ternyata dugaannya salah.

"Apa yang sedang kamu pikirkan?" gumam Adam dengan tatapan menelisik dari balik kacamatanya.

            Seketika Raya langsung gelagapan. Wajahnya mendadak panas membara, bingung harus menjawab apa saat tertangkap basah berpikiran yang tidak-tidak.

            Tanpa membuang waktu, Adam lantas bangkit menegakkan tubuhnya kembali. Ia membetulkan kemejanya lalu menjauhkan diri dari Raya. Jemari panjangnya bergerak cermat meraba-raba di dalam kegelapan hingga menemukan lampu darurat tak jauh dari ruangan itu.

Cklik!

            Cahaya putih terang seketika berpendar membedah kegelapan kamar belakang. Ruangan sempit itu tak lagi gelap gulita.

Dari arah meteran di dinding luar ruko, barulah terdengar nada pekak yang terus berbunyi nyaring. Tut... tut... tut...

            Ternyata bukan gangguan PLN. Token listrik ruko mereka yang memang sudah minta diisi ulang.

            Raya menarik napas panjang, mengelus dadanya yang masih berdebar kaku. Ia bergegas menggendong Cia yang masih terisak geli, mengekor di belakang Adam yang sudah membawa lampu darurat menuju pintu depan.

            Adam memutar kunci, lalu mendorong rolling door besi itu hingga terangkat setengah badan. Keduanya melangkah keluar ruko. Adam langsung berdiri di bawah kotak meteran lalu berkutat sebentar dengan ponselnya untuk membeli token listrik.

            Baru saja Adam hendak menekan tombol angka pertama, langkah beberapa pasang kaki terdengar mendekat dari gang pemukiman. Petugas ronda malam berjalan melintas bersama rombongan ibu-ibu warga sekitar yang baru saja pulang dari acara syukuran tetangga.

"Waduh! Ada gangguan malam pertama nih!" seloroh salah seorang ibu-ibu di rombongan itu sambil tertawa renyah.

            Langkah rombongan itu terhenti sebentar. Raya seketika membeku. Wajahnya kembali membara.

            Demi menutupi rasa canggungnya, Raya hanya bisa menunjukkan cengiran kuda yang sangat kaku, lalu pura-pura sibuk mengajak bicara Cia yang ada di gendongannya. Sementara itu, Adam sama sekali tidak terpengaruh. Ia tetap fokus menekan tombol meteran listrik satu per satu dengan wajah datarnya.

"Raya?"

            Suara panggilan barusan membuat Raya menoleh kikuk. Seorang perempuan tua berkerudung instan melangkah keluar dari rombongan, menatap Raya dengan pandangan sungkan.

"Wak Salmah?" sapa Raya pelan.

"Maaf ya, Ray," kata wanita yang kemarin sore paling lantang menuduh mereka saat menggerebek ruko dengan nada penuh rasa bersalah. "Gara-gara Uwak yang panik kemarin, kau jadi kena tuduhan macam-macam sama warga. Padahal Uwak yakin kau ini anak baik-baik."

Raya hanya menyunggingkan senyum tipis lalu menggeleng lemah. "Enggak apa-apa, Wak. Cuma salah paham kok."

"Atau gini aja. Uwak bantu kau jagain Cia ya malam ini?" sambung Wak Salmah dengan mata berbinar antusias. "Supaya kau bisa bebas berduaan sama suamimu. Cemana?”

Raya seketika terbelalak panik. "Eh! Nggak usah, Wak! Nggak apa-apa, Cia biar sama aku aja, udah biasa kok."

“Gak pa-pa lah. Uwak ngerti pengantin baru ‘kan seharusnya…”

BEEP!

            Suara nyaring meteran listrik menandakan token berhasil terisi. Lampu utama ruko seketika menyala terang benderang.

            Adam bangkit berdiri, mengibaskan debu tak kasat mata di celananya, lalu berdehem datar menatap Uwak Salmah.

"Terima kasih atas tawarannya, Bu. Tapi anak ini lebih tenang kalau tidur di dekat tantenya. Kami permisi masuk dulu."

            Nada suara Adam begitu kaku dan berjarak, namun cukup tegas untuk menghentikan niat Wak Salmah. Tanpa menunggu balasan warga, Adam memegang siku Raya perlahan, membimbing wanita itu dan Cia kembali masuk ke dalam ruko, lalu menurunkan rolling door hingga terkunci rapat.

            Pagi harinya Raya terbangun saat mendengar suara tangisan pelan Cia dari samping kasur. Raya bergegas duduk, merapikan rambutnya yang berantakan, lalu beranjak keluar dari kamar belakang sambil menggendong keponakannya.

            Di ruang depan, Adam sudah tampil rapi dengan kemeja abu-abu yang lengan bagian sikunya digulung rapi. Pria itu duduk tegak di balik meja kasir, sibuk mengetik sesuatu di layar laptopnya dengan kacamata yang bertengger kaku di pangkal hidung.

            Mendengar langkah kaki Raya dan rengekan Cia, Adam mendongak sebentar. Tatapannya melirik Cia dingin, lalu mengarahkan ujung pulpennya ke arah dispenser.

"Susu untuk anak itu sudah habis dari jam enam tadi," kata Adam datar tanpa beban emosi. "Saya tidak tahu cara menyeduh susu formula, jadi saya cuma buatkan air hangat di cangkir."

            Raya menelan ludah. Rasa canggung akibat kejadian semalam mendadak sirna digantikan oleh kejengkelan tipis melihat sikap kaku pria di hadapannya. Adam benar-benar menganggap kehadiran Cia dan pernikahan ini murni sebagai proyek pekerjaan.

"Makasih," sahut Raya singkat sambil meraih cangkir air hangat di atas meja.

"Siapkan diri kamu," potong Adam tegas. Pria itu menutup laptopnya dengan satu gerakan lugas, lalu menatap Raya lurus. "Sebentar lagi Mama datang membawa pengacara. Saya tidak mau ada celah sekecil apa pun yang bisa dimanfaatkan mereka."

Raya menghentikan gerakannya. "Maksudnya?"

"Mama datang bukan cuma untuk menggertak, tapi untuk mencari bukti kalau pernikahan kita ini rekayasa," Adam menjelaskan dengan nada analitis yang dingin. "Artinya, di depan Mama dan pengacaranya nanti, kita harus bertindak wajar sebagaimana pasangan yang memang saling mengenal dan memiliki hubungan."

Raya mengedipkan matanya polos. "Wajar... gimana ya?"

            Adam menghela napas pelan, seolah sedang menjelaskan materi pelajaran dasar kepada anak sekolah. Ia berdiri dari kursi kasir, lalu melangkah mendekati Raya.

"Ganti panggilan kamu," panggil Adam kaku. "Jangan panggil dengan kata kaku di depan Mama. Panggil saya Mas, abang atau… Sayang, mungkin. Terserah lah.”

Raya mendadak tersedak ludahnya sendiri. "Eh heh? Kamu serius?!"

"Apakah wajah saya terlihat bercanda?" Adam membalas datar. Pria itu tiba-tiba mengulurkan tangan kanan, lalu dengan santai meletakkannya di pinggang Raya, menarik tubuh Raya rapat mendekatinya hingga tak berjarak.

            Raya membeku seketika. Napasnya tertahan saat merasakan kehangatan telapak tangan Adam di pinggangnya.

"Genggam tangan saya atau berada dekat di samping saya saat Mama bicara," bisik Adam tepat di samping telinga Raya, suaranya tetap bernada instruksi bisnis yang dingin meski posisi mereka sangat intim. "Jangan menunjukkan gestur tubuh canggung atau ragu-ragu. Paham?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Nikahnya Settingan, Tapi Kok Jadi Salting?   9. Si Mulut Pedas

    Raya sendiri mengerjap kaku, napasnya tertahan di ujung tenggorokan melihat jarak mereka yang dirasa sudah tak masuk akal. Hawa panas yang memancar dari tubuh tegap pria di belakangnya seolah melumpuhkan seluruh pasokan oksigen di sudut dapur sempit itu. Belum sempat Raya melayangkan protes lanjutan untuk mengusir rasa malunya yang membumbung tinggi, Adam tiba-tiba berbisik pelan tepat di samping telinganya."Sana lihat Cia! Biar saya yang urus ini.""Tapi..." Raya tak jadi melanjutkan kalimatnya begitu melihat lirikan maut Adam yang sulit dibantah dari balik bingkai kacamatanya. Tatapan pria itu begitu tegas dan penuh wibawa seolah tak menerima interupsi sama sekali. Alhasil, gadis berambut gelombang itu mendengkus kesal lalu buru-buru menghampiri Cia untuk

  • Nikahnya Settingan, Tapi Kok Jadi Salting?   8. Cowok Egois!!

    “Seenggaknya ngalah kek sama cewek. Atau …paling enggak, kasihan sama Cia yang jadi kesempitan,” gerutu Raya dengan wajah cemberut, bibirnya maju beberapa sentimeter. Namun, Adam pura-pura tuli. Pria berjambang tipis itu melepas kacamata, meletakkannya di lantai, lalu menutup mata rapat-rapat.“Cowok egois!!” dengkus Raya sengit. Waktu menunjukkan pukul sebelas malam. Suasana ruko satu petak itu meremang dalam sunyi. Di atas kasur single yang sempit, Cia sudah bergeser posisi dalam lelapnya. Balita dua tahun itu kini tidur melintang di area bawah dekat kaki mereka, meringkuk sambil memeluk erat boneka kain kesayangannya. Raya yang setengah mengantuk berbalik ke tengah. Tangannya terulur meraba ke samping untuk merengkuh tubuh keponakannya agar tidak kedinginan. Alih-alih mendapati tubuh gembul Cia, jemarinya justru mendarat di atas permukaan padat yang kokoh dan hangat.Sontak Raya membuka mata lebar-lebar. Bukannya memeluk sang keponaka

  • Nikahnya Settingan, Tapi Kok Jadi Salting?   7. Dikejar Hutang

    Suara teriakan barusan membuat jantung Raya berdegup kencang, sementara dua kakinya mendadak lemas. Namun, rasa takut itu seketika surut saat ia menunduk dan melihat Cia di gendongannya mulai menangis histeris akibat dentangan rolling door yang memekakkan telinga. Hari ini kesabarannya benar-benar sudah habis. Mulai dari dihardik Sonia, dibuat pusing oleh stok susu Cia yang menipis, hingga sekarang diteror preman pula.Dengan gerakan cepat, Raya melangkah ke arah Adam. "Pegang Cia sebentar!" sentak Raya sambil memindahkan keponakannya itu ke dekapan sang suami. Adam yang baru saja menenteng dua kantong belanjaan berat di kedua tangannya, refleks meletakkan kantong-kantong itu ke tanah demi menyambut tubuh Cia yang terisak di pelukannya. Alih-alih mundur atau berlindung di belakang Adam, Raya justru bergerak gesit menyambar sebatang sapu ijuk yang bersandar di dinding luar ruko."Woi! Mau pada bikin rusuh, hah?!" geram Raya dengan suara b

  • Nikahnya Settingan, Tapi Kok Jadi Salting?   6. Dilarang Ikut Campur!

    "Maksud Mama kamu tadi... apa?" desak Raya dengan napas memburu. Langkah kaki Sonia dan pengacaranya baru saja menghilang di balik pintu ruko, meninggalkan aroma parfum mahal yang pekat dan rasa canggung yang mendadak menghimpit dada. Raya menatap lurus pria di hadapannya, menuntut jawaban atas bisikan penuh ancaman yang sempat membuat tubuh tegap Adam membeku kaku. Namun, Adam tidak menunjukkan raut panik sedikit pun. Dengan gerakan tenang, pria itu merapikan kemeja abu-abunya yang sedikit kusut, membetulkan letak kacamata di pangkal hidung, lalu menatap Raya lurus."Poin tiga."Raya mengernyitkan alisnya, matanya memicing curiga. "Apa?""Poin ketiga. Surat perjanjian pernikahan kita," sahut Adam dingin tanpa riak emosi. "Dilarang mencampuri urusan pribadi masing-masing yang tidak berhubungan langsung dengan legalitas ruko dan hak asuh Alicia.""Tapi itu tadi Mama kamu!" sengit Raya tak mau kalah, dadanya kempas-kempis menahan rasa jengkel. Matanya mendelik se

  • Nikahnya Settingan, Tapi Kok Jadi Salting?   5. Akting Dimulai

    "Paham tidak?" gumam Adam yang membuat Raya mengangguk kaku. Fokus Raya seketika terpecah saat suara rengekan Cia terdengar dari dalam kamar. Namun, baru saja Raya hendak melangkah, rolling door ruko yang belum terkunci rapat mendadak didorong dari luar. Wak Salmah melongokkan kepalanya sambil tersenyum lebar, membawa dua bungkusan plastik hangat."Lain kali ketuk pintunya," kata Adam datar, menatap tetangga itu tanpa ekspresi.Wak Salmah pun mengangguk kikuk, buru-buru merapikan kerudungnya. "Eh, iya, Maaf ya karena kebiasaan. Ini Uwak antarkan lontong sama lupis buat kalian sarapan. Anggap saja tanda permintaan maaf Uwak soal kemarin sore."“Makasih ya, Wak,” ucap Raya sambil meringis. Dia menatap Adam penuh peringatan lantaran menegur sang tetangga dengan ucapan kurang sopan. Namun, pria itu hanya meliriknya acuh tak acuh. Setelah meletakkan bungkusan makanan dan melemparkan beberapa godaan khas ibu-ibu, Wak Salmah pamit pulang. Setelahnya, Adam

  • Nikahnya Settingan, Tapi Kok Jadi Salting?   4. Gangguan Malam Pertama?

    Raya mengira Adam akan mengambil kesempatan. Entah memanfaatkan status baru mereka untuk menciumnya atau melakukan sesuatu yang melampaui batas surat perjanjian mereka. Namun, ternyata dugaannya salah."Apa yang sedang kamu pikirkan?" gumam Adam dengan tatapan menelisik dari balik kacamatanya. Seketika Raya langsung gelagapan. Wajahnya mendadak panas membara, bingung harus menjawab apa saat tertangkap basah berpikiran yang tidak-tidak. Tanpa membuang waktu, Adam lantas bangkit menegakkan tubuhnya kembali. Ia membetulkan kemejanya lalu menjauhkan diri dari Raya. Jemari panjangnya bergerak cermat meraba-raba di dalam kegelapan hingga menemukan lampu darurat tak jauh dari ruangan itu.Cklik! Cahaya putih terang seketika berpendar membedah kegelapan kamar belakang. Ruangan sempit itu tak lagi gelap gulita.Dari arah meteran di dinding luar ruko, barulah terdengar nada pekak yang terus berbunyi nyaring. Tut... tut... tut... Ternya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status