Share

2. Kumpul Kebo

Author: A mum to be
last update publish date: 2026-10-22 01:06:47

Keesokan paginya, Raya terbangun setelah semalam berhasil tidur cukup nyenyak. Setelah para penagih utang pergi dan situasi kembali aman, ia dan Adam memutuskan untuk beristirahat di ruko. Adam tidur di dekat meja kasir, sementara Raya menemani Cia di atas kasur busa.

Raya menghela napas lega begitu mendapati Cia masih tertidur pulas di sampingnya. Ia mengusap wajahnya yang lelah, lalu bangkit untuk mengambil pakaian ganti dan menuju kamar mandi.

Rasa kantuk yang masih mendera membuat Raya langsung mendorong pintu kamar mandi tanpa mengetuk.

SRET!

"Aaaaa! Kamu ngapain di sini?!" jerit Raya begitu mendapati Adam berdiri di dalam kamar mandi. Wajahnya seketika memerah.

Pria itu hanya mengenakan handuk putih sebatas pinggang. Rambutnya masih basah, sementara bulir-bulir air menetes di dada bidangnya.

"Saya baru selesai mandi," sahut Adam datar, meski tampak sedikit terkejut. "Kamu kenapa masuk tanpa mengetuk?"

"Ya, mana aku tahu kamu di dalam! Kenapa pintunya gak dikunci sih?!"

“Kuncinya rusak tadi.”

Belum sempat Raya mendebat lagi, suara tawa terdengar begitu nyaring. Ia mengerutkan dahi begitu menyadari Cia sudah terbangun.

"Eh, Ray! Ini Uwak bawakan lontong. Kau… Oh ya ampun!! Apa-apaan ini?"

Seorang perempuan tua menganga dengan tangan yang gemetar hebat, matanya membelalak melihat Raya yang panik dan Adam yang telanjang dada berbalut handuk di dalam satu ruangan sempit.

"Wak! Ini gak yang kayak Uwak lihat! Pintu kamar mandinya…"

"Duh, Gusti! Kakak baru meninggal belum empat puluh hari, kau malah sudah berani kumpul kebo." Perempuan tadi berteriak memotong, langsung berbalik dan berlari keluar ruko.

Darah Raya serasa berhenti mengalir. "Wak! Tunggu!" 

Raya hendak mengejar, tapi Adam lebih dulu menahan lengannya. “Pakai bajumu dulu dengan benar. Percuma juga kamu panggil dia sekarang.”

Kurang dari tiga menit kemudian, kehebohan itu benar-benar meledak.

            Hingga kemudian sosok perempuan paruh baya yang ditakuti Raya datang bersama seorang pengacara berjas rapi dan dua pria tegap suruhannya. Langkahnya menghantam lantai ruko bagai badai.

"Mana perempuan tidak tahu malu itu?!" suara nyaringnya menggelegar.

            Raya yang sudah menggendong Cia melangkah maju dengan perasaan tidak karuan. Di sampingnya, Adam sudah mengenakan kemeja dan celana panjangnya kembali. Pria itu tampak berdiri tenang.

            Dia menunjuk muka Raya dengan telunjuk berhias cincin emasnya. "Luar biasa! Dengar kabar dari tetangga, saya pikir cuma gosip! Ternyata benar kamu berduaan sama Adam cuma pakai handuk di kamar mandi?!"

"Tante Sonia, demi apapun sumpah itu hanya salah paham!" Raya berteriak membela diri, matanya memanas menahan amarah dan malu. "Pintu kamar mandinya rusak! Aku enggak sengaja masuk! Aku juga masih punya harga diri, Tante!"

"Harga diri kamu bilang?!" Wanita bernama Sonia itu tertawa sengit dan sumbang. "Tetangga sendiri yang pergoki kalian kumpul kebo di ruko ini! Kamu tidur berduaan di sini tanpa status, membawa ancaman preman dan maksiat ke properti milik keluarga kami!"

"Tante jangan sembarangan nuduh ya!"

"Hari ini juga kamu angkat kaki!" bentak Sonia tak membiarkan Raya bicara. Ia memberi isyarat pada dua orang suruhannya. "Ambil Cia dari tangan perempuan itu! Dia tidak layak mengasuh anak di tempat maksiat seperti ini!"

"Jangan sentuh Cia!" Raya berseru histeris, mendekap Cia erat-erat hingga balita itu menangis ketakutan. Raya mundur tersudut ke balik meja kasir.

"Mama, cukup."

            Suara Adam memotong dengan nada datar yang teramat tenang. Pria itu melangkah santai, berdiri tepat di depan Raya dan Cia. Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, menatap ibunya dingin dari balik kacamata.

"Mama tidak punya hak mengambil Cia, apalagi mengusir Raya," kata Adam lugas.

Sonia mendengus murka. "Adam! Kamu tidak dengar kata tetangga tadi?! Dia ini perempuan murahan yang mau memanfaatkanmu!"

Adam menatap ibunya lurus. Tanpa nada emosi sedikit pun, ia menyahut santai.

"Apa yang tetangga tadi lihat bukan kumpul kebo," potong Adam dingin. "Raya berada di sini karena kami memang sudah lama dekat. Dan kami berencana untuk menikah minggu ini."

            Keheningan mendadak menyergap ruko. Raya mendongak seketika, menatap punggung Adam dengan mata terbelalak lebar. Lama dekat?! Menikah?! Apa-apaan pria ini?!

Sonia lantas ternganga tak percaya. "Kamu bicara apa, Adam?! Sejak kapan kalian dekat?!"

            Adam membetulkan posisi kacamatanya dengan tenang, menyunggingkan senyum tipis yang samar.

"Waktu bisa mengubah apa pun, Ma," bisik Adam datar namun menohok. "Dengan menikah, Raya punya hak resmi tinggal di sini. Cia tetap diasuh oleh kami berdua secara sah, dan Mama tidak punya alasan lagi untuk campur tangan."

Sonia menggeretakkan gigi, dadanya naik turun menahan amarah. "Bagus! Kamu mendaur ulang omong kosong demi membela perempuan benalu ini ‘kan?! Jangan pikir Mama percaya begitu saja! Kalau minggu ini kalian tidak bisa tunjukkan buku nikah dari KUA, Mama akan bawa polisi dan Dinsos mengurus kekacauan yang kalian buat!"

            Dengan napas memburu, Sonia berbalik melangkah lebar keluar ruko, diikuti pengacara dan dua orang suruhannya tadi.

            Begitu ruko kembali sepi, Raya langsung menurunkan Cia ke kasur dan melangkah lebar menghampiri Adam. Emosinya meluap tak tertahankan.

"Kamu gila apa ya?!" bentak Raya, dadanya naik turun. "Maksudmu apa bilang kita udah lama dekat dan mau nikah di depan mamamu?! Kamu pikir pernikahan itu bahan bualan buat nakut-nakutin orang?!"

Adam berbalik perlahan, merapikan kemejanya. "Saya tidak sedang membual."

"Tapi aku gak sudi nikah sama kamu tahu! Kenal juga enggak!"

"Kalau begitu, silakan kemasi barang-barangmu dan keluar sekarang," sahut Adam dingin. "Biarkan Mama mengambil anak itu secara paksa, dan kamu bisa tidur di pinggir jalan sambil dikejar debt collector."

            Kata-kata Adam menghantam Raya seperti gada besi. Gadis itu terdiam, tenggorokannya mendadak tercekat.

"Mama membawa pengacara," lanjut Adam datar, menatap Raya penuh analisis. "Tanpa status pernikahan, kita tidak punya legitimasi hukum untuk mempertahankan hak asuh anak itu maupun ruko ini. Pernikahan yang saya maksud bukan soal perasaan, Raya. Ini tameng hukum dan perlindungan bisnis."

            Raya mengepalkan tangannya. Realita yang pahit kembali menyudutkannya tanpa celah. Tanpa tawaran Adam, ia benar-benar hancur dan akan kehilangan Cia.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Nikahnya Settingan, Tapi Kok Jadi Salting?   10. Bukan Barang

    Bagi Raya, pagi itu harusnya jadi pagi yang tenang. Pun lantaran perdebatan kecilnya dengan Adam baru saja mereda. Namun, ketenangan itu cuma bertahan beberapa detik. Suara langkah sepatu beradu keras dengan lantai ruko yang berdebu seketika memotong semuanya. Sesosok pria paruh baya bertubuh tegap melangkah masuk tanpa mengetuk. Ia melipat kacamata hitamnya dengan gerakan perlahan yang penuh intimidasi, sebelum pandangannya bersitatap langsung dengan Raya dan Cia di pojok ruangan."Cukup main-mainnya, Adam," panggil pria itu. Suaranya berat, bergema di sela dinding ruko yang sempit. "Waktu liburan kamu di tempat kumuh ini sudah habis. Dan anak itu... harus ikut bersama kita." Darah Raya serasa berhe

  • Nikahnya Settingan, Tapi Kok Jadi Salting?   9. Si Mulut Pedas

    Raya sendiri mengerjap kaku, napasnya tertahan di ujung tenggorokan melihat jarak mereka yang dirasa sudah tak masuk akal. Hawa panas yang memancar dari tubuh tegap pria di belakangnya seolah melumpuhkan seluruh pasokan oksigen di sudut dapur sempit itu. Belum sempat Raya melayangkan protes lanjutan untuk mengusir rasa malunya yang membumbung tinggi, Adam tiba-tiba berbisik pelan tepat di samping telinganya."Sana lihat Cia! Biar saya yang urus ini.""Tapi..." Raya tak jadi melanjutkan kalimatnya begitu melihat lirikan maut Adam yang sulit dibantah dari balik bingkai kacamatanya. Tatapan pria itu begitu tegas dan penuh wibawa seolah tak menerima interupsi sama sekali. Alhasil, gadis berambut gelombang itu mendengkus kesal lalu buru-buru menghampiri Cia untuk

  • Nikahnya Settingan, Tapi Kok Jadi Salting?   8. Cowok Egois!!

    “Seenggaknya ngalah kek sama cewek. Atau …paling enggak, kasihan sama Cia yang jadi kesempitan,” gerutu Raya dengan wajah cemberut, bibirnya maju beberapa sentimeter. Namun, Adam pura-pura tuli. Pria berjambang tipis itu melepas kacamata, meletakkannya di lantai, lalu menutup mata rapat-rapat.“Cowok egois!!” dengkus Raya sengit. Waktu menunjukkan pukul sebelas malam. Suasana ruko satu petak itu meremang dalam sunyi. Di atas kasur single yang sempit, Cia sudah bergeser posisi dalam lelapnya. Balita dua tahun itu kini tidur melintang di area bawah dekat kaki mereka, meringkuk sambil memeluk erat boneka kain kesayangannya. Raya yang setengah mengantuk berbalik ke tengah. Tangannya terulur meraba ke samping untuk merengkuh tubuh keponakannya agar tidak kedinginan. Alih-alih mendapati tubuh gembul Cia, jemarinya justru mendarat di atas permukaan padat yang kokoh dan hangat.Sontak Raya membuka mata lebar-lebar. Bukannya memeluk sang keponaka

  • Nikahnya Settingan, Tapi Kok Jadi Salting?   7. Dikejar Hutang

    Suara teriakan barusan membuat jantung Raya berdegup kencang, sementara dua kakinya mendadak lemas. Namun, rasa takut itu seketika surut saat ia menunduk dan melihat Cia di gendongannya mulai menangis histeris akibat dentangan rolling door yang memekakkan telinga. Hari ini kesabarannya benar-benar sudah habis. Mulai dari dihardik Sonia, dibuat pusing oleh stok susu Cia yang menipis, hingga sekarang diteror preman pula.Dengan gerakan cepat, Raya melangkah ke arah Adam. "Pegang Cia sebentar!" sentak Raya sambil memindahkan keponakannya itu ke dekapan sang suami. Adam yang baru saja menenteng dua kantong belanjaan berat di kedua tangannya, refleks meletakkan kantong-kantong itu ke tanah demi menyambut tubuh Cia yang terisak di pelukannya. Alih-alih mundur atau berlindung di belakang Adam, Raya justru bergerak gesit menyambar sebatang sapu ijuk yang bersandar di dinding luar ruko."Woi! Mau pada bikin rusuh, hah?!" geram Raya dengan suara b

  • Nikahnya Settingan, Tapi Kok Jadi Salting?   6. Dilarang Ikut Campur!

    "Maksud Mama kamu tadi... apa?" desak Raya dengan napas memburu. Langkah kaki Sonia dan pengacaranya baru saja menghilang di balik pintu ruko, meninggalkan aroma parfum mahal yang pekat dan rasa canggung yang mendadak menghimpit dada. Raya menatap lurus pria di hadapannya, menuntut jawaban atas bisikan penuh ancaman yang sempat membuat tubuh tegap Adam membeku kaku. Namun, Adam tidak menunjukkan raut panik sedikit pun. Dengan gerakan tenang, pria itu merapikan kemeja abu-abunya yang sedikit kusut, membetulkan letak kacamata di pangkal hidung, lalu menatap Raya lurus."Poin tiga."Raya mengernyitkan alisnya, matanya memicing curiga. "Apa?""Poin ketiga. Surat perjanjian pernikahan kita," sahut Adam dingin tanpa riak emosi. "Dilarang mencampuri urusan pribadi masing-masing yang tidak berhubungan langsung dengan legalitas ruko dan hak asuh Alicia.""Tapi itu tadi Mama kamu!" sengit Raya tak mau kalah, dadanya kempas-kempis menahan rasa jengkel. Matanya mendelik se

  • Nikahnya Settingan, Tapi Kok Jadi Salting?   5. Akting Dimulai

    "Paham tidak?" gumam Adam yang membuat Raya mengangguk kaku. Fokus Raya seketika terpecah saat suara rengekan Cia terdengar dari dalam kamar. Namun, baru saja Raya hendak melangkah, rolling door ruko yang belum terkunci rapat mendadak didorong dari luar. Wak Salmah melongokkan kepalanya sambil tersenyum lebar, membawa dua bungkusan plastik hangat."Lain kali ketuk pintunya," kata Adam datar, menatap tetangga itu tanpa ekspresi.Wak Salmah pun mengangguk kikuk, buru-buru merapikan kerudungnya. "Eh, iya, Maaf ya karena kebiasaan. Ini Uwak antarkan lontong sama lupis buat kalian sarapan. Anggap saja tanda permintaan maaf Uwak soal kemarin sore."“Makasih ya, Wak,” ucap Raya sambil meringis. Dia menatap Adam penuh peringatan lantaran menegur sang tetangga dengan ucapan kurang sopan. Namun, pria itu hanya meliriknya acuh tak acuh. Setelah meletakkan bungkusan makanan dan melemparkan beberapa godaan khas ibu-ibu, Wak Salmah pamit pulang. Setelahnya, Adam

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status