Share

5. Akting Dimulai

Author: A mum to be
last update publish date: 2026-10-22 01:07:54

"Paham tidak?" gumam Adam yang membuat Raya mengangguk kaku.

            Fokus Raya seketika terpecah saat suara rengekan Cia terdengar dari dalam kamar. Namun, baru saja Raya hendak melangkah, rolling door ruko yang belum terkunci rapat mendadak didorong dari luar.

            Wak Salmah melongokkan kepalanya sambil tersenyum lebar, membawa dua bungkusan plastik hangat.

"Lain kali ketuk pintunya," kata Adam datar, menatap tetangga itu tanpa ekspresi.

Wak Salmah pun mengangguk kikuk, buru-buru merapikan kerudungnya. "Eh, iya, Maaf ya karena kebiasaan. Ini Uwak antarkan lontong sama lupis buat kalian sarapan. Anggap saja tanda permintaan maaf Uwak soal kemarin sore."

“Makasih ya, Wak,” ucap Raya sambil meringis. Dia menatap Adam penuh peringatan lantaran menegur sang tetangga dengan ucapan kurang sopan. Namun, pria itu hanya meliriknya acuh tak acuh.

            Setelah meletakkan bungkusan makanan dan melemparkan beberapa godaan khas ibu-ibu, Wak Salmah pamit pulang. Setelahnya, Adam dan Raya sarapan dalam diam di dekat meja kasir. Raya sibuk membujuk Cia yang rewel agar mau menelan beberapa sendok bubur, sementara Adam menikmati lontongnya dengan tenang.

            Tak sampai setengah jam kemudian, deru mesin mobil sedan mewah berhenti tepat di depan ruko. Suara ketukan sepatu hak tinggi melangkah mantap mendekat, disusul pintu ruko yang didorong kasar hingga berdentang kencang.

"Adam! Raya!"

            Sonia melangkah masuk bersama seorang pria berjas rapi yang membawa folder dokumen. Matanya menatap sekeliling ruko dengan pandangan jijik.

"Bagus ya, telepon Mama tidak diangkat dari semalam!" cecar Sonia tajam pada putra kandungnya. "Mama sudah bawa pengacara. Hari ini juga Mama mau selesaikan masalah hak asuh Cia dan ruko ini!"

Adam berdiri dari kursi kasir dengan tenang. Wajahnya tetap kaku khas seorang anak yang sudah terbiasa dengan tabiat ibunya. "Selamat pagi, Ma. Tidak usah berteriak, ini masih pagi."

            Di belakang, Raya yang tengah memandikan Cia dengan air hangat langsung panik setengah mati. Suara mertua sekaligus musuh barunya itu sudah bergema di ruang depan. Mengingat instruksi dari Adam tadi, Raya buru-buru mengeringkan tubuh Cia, membungkusnya dengan kain, lalu keluar dari kamar sambil memaksakan senyum paling manis dalam hidupnya.

"Cia tunggu di sini dulu ya. Onti mau lihat Oma kamu yang kayak nenek sihir itu," bisik Raya usai meletakkan beberapa boneka ke hadapan sang keponakan. 

Akting pun dimulai.

            Raya melangkah mantap mendekati Adam yang sedang berdiri tegap. Jantungnya berdegup maraton. Niat hati ingin menyapa Adam dengan panggilan mesra sesuai instruksi, tetapi melihat tatapan tajam Sonia, lidah Raya mendadak kelu dan terbelit.

"Bab," ucap Raya kikuk, menatap Adam dengan mata membelalak panik.

Adam mematung dengan tatapan penuh peringatan.

"Ba-bi."

            Sontak Adam mengerutkan dahi seketika. Dia menyipitkan mata dari balik kacamatanya. Jelas saja ia dibuat kebingungan atas umpatan acak dari wanita yang baru dinikahinya kemarin sore itu.

            Sementara Sonia dan pengacaranya membeku di tempat, menatap Raya penuh intimidasi dan keterkejutan luar biasa. Sonia bahkan sampai memegangi dadanya, syok mendengarkan menantunya mengatai sang anak sendiri di depan umum.

"Baebi. Baby," ralat Raya pada akhirnya, suaranya makin cicit. Sumpah demi apa pun, lidah Raya terasa keseleo mengucapkannya saat ini.

            Demi menyelamatkan mukanya yang sudah merah padam seperti kepiting rebus, Raya nekat menubrukan dirinya ke lengan Adam, merangkul lengan kekar pria itu rapat-rapat. "Maksud aku... Baby. Nggak apa-apa kan, Say… Sayang?"

            Adam sempat kaku beberapa detik merasakan remasan panik tangan Raya di lengannya. Namun, otak dinginnya bergerak cepat. Dengan wajah datar tanpa dosa, jemari panjang Adam bergerak usil mengacak rambut Raya pelan, sebuah gestur mesra yang terlihat sangat kaku tapi telak menghantam Sonia.

"Tidak apa-apa, Sayang," sahut Adam datar, menyahuti dengan panggilan yang tak kalah anehnya. "Lain kali artikulasinya diperbaiki. Jangan bawa-bawa nama hewan lagi."

            Oh ya ampun! Raya rasanya ingin melompat ke dalam bak mandi detik itu juga.

            Sementara Sonia yang tadinya hampir tersedak napasnya sendiri akibat panggilan mesra keduanya mendadak menegakkan tubuh.

“Jangan dikira Mama akan percaya sandiwara murahan ini! Mana buktinya kalau kalian benar-benar menikah?!"

            Adam sama sekali tidak terusik. Dengan gerakan tenang dan elegan, ia merogoh saku kemeja bagian dalamnya, lalu mengeluarkan dua buah buku nikah resmi. Pria itu meletakkannya tepat di hadapan Sonia dan sang pengacara dengan bunyi plak yang cukup tegas.

"Ini," sahut Adam datar. "Disahkan secara resmi oleh KUA setempat terhitung sejak kemarin sore. Silakan cek nomor registrasinya jika masih ragu."

            Sonia dan pengacaranya sontak menunduk, menatap dokumen otentik tersebut dengan mata membelalak tak percaya. Pengacara Sonia buru-buru membuka map dokumennya, mencocokkan data, lalu menelan ludah kelat sambil berbisik pelan ke telinga kliennya.

            Sontak Wajah Sonia seketika memerah padam menahan amarah yang luar biasa. Tangannya mengepal erat di sisi tubuhnya.

"Status kamu tidak akan mengubah fakta kalau pernikahan ini cuma lelucon!" bentak Sonia, menatap dua buku nikah di meja dengan pandangan berapi-api.

Adam tetap bergeming dengan raut dinginnya. "Lelucon atau bukan, secara hukum Mama tidak punya celah lagi untuk merebut apapun. Silakan keluar dari rumah kami."

            Sonia terkekeh sinis. Ia melirik pengacaranya dan memberi isyarat untuk menunggu di luar, lalu melangkah maju mendekati Adam. Wanita itu sengaja menurunkan suaranya, mengubah nada bicara yang tadinya penuh teriakan menjadi bisikan tajam penuh ancaman mematikan.

"Kamu pikir kamu sudah menang, hah?" bisik Sonia sambil melirik sekilas ke arah Raya yang masih berdiri di samping putranya dengan napas tertahan. "Apa jadinya kalau istri barumu ini tahu... alasan sebenarnya kenapa kamu sengaja mendekatinya dan memilih tinggal di pemukiman kumuh ini?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Nikahnya Settingan, Tapi Kok Jadi Salting?   10. Bukan Barang

    Bagi Raya, pagi itu harusnya jadi pagi yang tenang. Pun lantaran perdebatan kecilnya dengan Adam baru saja mereda. Namun, ketenangan itu cuma bertahan beberapa detik. Suara langkah sepatu beradu keras dengan lantai ruko yang berdebu seketika memotong semuanya. Sesosok pria paruh baya bertubuh tegap melangkah masuk tanpa mengetuk. Ia melipat kacamata hitamnya dengan gerakan perlahan yang penuh intimidasi, sebelum pandangannya bersitatap langsung dengan Raya dan Cia di pojok ruangan."Cukup main-mainnya, Adam," panggil pria itu. Suaranya berat, bergema di sela dinding ruko yang sempit. "Waktu liburan kamu di tempat kumuh ini sudah habis. Dan anak itu... harus ikut bersama kita." Darah Raya serasa berhe

  • Nikahnya Settingan, Tapi Kok Jadi Salting?   9. Si Mulut Pedas

    Raya sendiri mengerjap kaku, napasnya tertahan di ujung tenggorokan melihat jarak mereka yang dirasa sudah tak masuk akal. Hawa panas yang memancar dari tubuh tegap pria di belakangnya seolah melumpuhkan seluruh pasokan oksigen di sudut dapur sempit itu. Belum sempat Raya melayangkan protes lanjutan untuk mengusir rasa malunya yang membumbung tinggi, Adam tiba-tiba berbisik pelan tepat di samping telinganya."Sana lihat Cia! Biar saya yang urus ini.""Tapi..." Raya tak jadi melanjutkan kalimatnya begitu melihat lirikan maut Adam yang sulit dibantah dari balik bingkai kacamatanya. Tatapan pria itu begitu tegas dan penuh wibawa seolah tak menerima interupsi sama sekali. Alhasil, gadis berambut gelombang itu mendengkus kesal lalu buru-buru menghampiri Cia untuk

  • Nikahnya Settingan, Tapi Kok Jadi Salting?   8. Cowok Egois!!

    “Seenggaknya ngalah kek sama cewek. Atau …paling enggak, kasihan sama Cia yang jadi kesempitan,” gerutu Raya dengan wajah cemberut, bibirnya maju beberapa sentimeter. Namun, Adam pura-pura tuli. Pria berjambang tipis itu melepas kacamata, meletakkannya di lantai, lalu menutup mata rapat-rapat.“Cowok egois!!” dengkus Raya sengit. Waktu menunjukkan pukul sebelas malam. Suasana ruko satu petak itu meremang dalam sunyi. Di atas kasur single yang sempit, Cia sudah bergeser posisi dalam lelapnya. Balita dua tahun itu kini tidur melintang di area bawah dekat kaki mereka, meringkuk sambil memeluk erat boneka kain kesayangannya. Raya yang setengah mengantuk berbalik ke tengah. Tangannya terulur meraba ke samping untuk merengkuh tubuh keponakannya agar tidak kedinginan. Alih-alih mendapati tubuh gembul Cia, jemarinya justru mendarat di atas permukaan padat yang kokoh dan hangat.Sontak Raya membuka mata lebar-lebar. Bukannya memeluk sang keponaka

  • Nikahnya Settingan, Tapi Kok Jadi Salting?   7. Dikejar Hutang

    Suara teriakan barusan membuat jantung Raya berdegup kencang, sementara dua kakinya mendadak lemas. Namun, rasa takut itu seketika surut saat ia menunduk dan melihat Cia di gendongannya mulai menangis histeris akibat dentangan rolling door yang memekakkan telinga. Hari ini kesabarannya benar-benar sudah habis. Mulai dari dihardik Sonia, dibuat pusing oleh stok susu Cia yang menipis, hingga sekarang diteror preman pula.Dengan gerakan cepat, Raya melangkah ke arah Adam. "Pegang Cia sebentar!" sentak Raya sambil memindahkan keponakannya itu ke dekapan sang suami. Adam yang baru saja menenteng dua kantong belanjaan berat di kedua tangannya, refleks meletakkan kantong-kantong itu ke tanah demi menyambut tubuh Cia yang terisak di pelukannya. Alih-alih mundur atau berlindung di belakang Adam, Raya justru bergerak gesit menyambar sebatang sapu ijuk yang bersandar di dinding luar ruko."Woi! Mau pada bikin rusuh, hah?!" geram Raya dengan suara b

  • Nikahnya Settingan, Tapi Kok Jadi Salting?   6. Dilarang Ikut Campur!

    "Maksud Mama kamu tadi... apa?" desak Raya dengan napas memburu. Langkah kaki Sonia dan pengacaranya baru saja menghilang di balik pintu ruko, meninggalkan aroma parfum mahal yang pekat dan rasa canggung yang mendadak menghimpit dada. Raya menatap lurus pria di hadapannya, menuntut jawaban atas bisikan penuh ancaman yang sempat membuat tubuh tegap Adam membeku kaku. Namun, Adam tidak menunjukkan raut panik sedikit pun. Dengan gerakan tenang, pria itu merapikan kemeja abu-abunya yang sedikit kusut, membetulkan letak kacamata di pangkal hidung, lalu menatap Raya lurus."Poin tiga."Raya mengernyitkan alisnya, matanya memicing curiga. "Apa?""Poin ketiga. Surat perjanjian pernikahan kita," sahut Adam dingin tanpa riak emosi. "Dilarang mencampuri urusan pribadi masing-masing yang tidak berhubungan langsung dengan legalitas ruko dan hak asuh Alicia.""Tapi itu tadi Mama kamu!" sengit Raya tak mau kalah, dadanya kempas-kempis menahan rasa jengkel. Matanya mendelik se

  • Nikahnya Settingan, Tapi Kok Jadi Salting?   5. Akting Dimulai

    "Paham tidak?" gumam Adam yang membuat Raya mengangguk kaku. Fokus Raya seketika terpecah saat suara rengekan Cia terdengar dari dalam kamar. Namun, baru saja Raya hendak melangkah, rolling door ruko yang belum terkunci rapat mendadak didorong dari luar. Wak Salmah melongokkan kepalanya sambil tersenyum lebar, membawa dua bungkusan plastik hangat."Lain kali ketuk pintunya," kata Adam datar, menatap tetangga itu tanpa ekspresi.Wak Salmah pun mengangguk kikuk, buru-buru merapikan kerudungnya. "Eh, iya, Maaf ya karena kebiasaan. Ini Uwak antarkan lontong sama lupis buat kalian sarapan. Anggap saja tanda permintaan maaf Uwak soal kemarin sore."“Makasih ya, Wak,” ucap Raya sambil meringis. Dia menatap Adam penuh peringatan lantaran menegur sang tetangga dengan ucapan kurang sopan. Namun, pria itu hanya meliriknya acuh tak acuh. Setelah meletakkan bungkusan makanan dan melemparkan beberapa godaan khas ibu-ibu, Wak Salmah pamit pulang. Setelahnya, Adam

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status