FAZER LOGINAlika melanjutkan hidup di kota yang baru baginya. Alika dan kedua buah hatinya, Alika mengawali kehidupan barunya dengan membuka toko di depan rumah barunya. Setelah hampir setahun pun berlalu. Alika kini sudah berhasil buka toko catering dan beberapa sayur sehat di depan rumah. Bulan pun kini sudah tumbuh menjadi balita mungil yang sangat menggemaskan. Bintang semakin dewasa dan dia semakin mengerti dengan apa yang namanya tanggung jawab. Bahkan tak jarang bintang menjaga bulan saat Alika sibuk dengan usahanya. “Ibu Alika pasti sangat lelah. Bagaimana tak lelah, dia harus membagi waktu dan tenaga antara catering dan di rumah. Aku akan membantu pekerjaan Ibu Alika dengan sangat baik,” gumam Bintang. Hal itulah yang sekarang membuat Bintang menjadi anak yang penurut, mandiri dan sangat menyayangi Bulan. “Bintang, sudah makan?” tanya Alika saat memasuki rumah. “Sudah, Bu. Tadi Bulan juga sudah makan, kok,” jawab Bintang. “Hah? Bintang suapi Bulan?” tanya Alika dengan heran. Bi
Alika sudah selesai membereskan semua barangnya, dia pun sudah mengirim beberapa barang menggunakan mobil angkut barang. Kini Alika menggandeng Bintang, dan menggendong Bulan. “Kok kita nggak ikut mobil itu, Bu?” tanya Bintang. “Nanti, Nak. Kita akan menemui Mama Kartika dulu. Setelah itu, baru kita pergi. Ibu nggak ingin nanti akan disalahkan,” kata Alika sambil tersenyum. “Baik, Ibu,” kata Bintang. Alika yang sebelumnya sudah memesan taxsi online akhirnya datang juga. Mereka pun langsung menuju rumah Kartika. Mobil pun melesat tanpa hambatan, karena siang hari cuaca panas dan jarang orang beraktifitas dan berlalu lalang di jalanan. Tak membutuhkan waktu lama, mereka pun sampai di rumah Kartika. Alika pun membayar sejumlah tagihan, dia pun turun dari mobil. “Bintang, jangan takut. Kalau bintang ingin ikut Ibu, Bintang katakan semuanya ya,” kata Alika. “Iya, Ibu.” Keduanya pun mendekati pintu utama, Alika pun mengetuk pintu utama. Tak berapa lama, Kartika pun membuka pintu de
Alika mulai curiga dengan semua gerak gerik suaminya. Entah kenapa perasaan Alika sekarang menjadi sangat tak nyaman. "Mungkinkah, jika Mas Bima kembali ke dunia hitamnya? Jika sampai itu terjadi, mungkin memang lebih baik aku melepaskannya," kata Alika.Malam itu, Ba kembali tak pulang. Dia bahkan sampai lupa tak mengabari Alika. Saat Bima pulang, Alika sudah terlelap. Bima pun memasuki rumah dengan mengendap-endap. Malam semakin larut, Bima memutuskan tidur di ruang tamu, karena tak ingin menganggu waktu tidur Alika. Saat Bima nyaris terlelap, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu rumah dengan sangat lembut. Bima terperanjat, dia pun langsung duduk dan mencoba mendengarkan suara ketukan pintu yang kembali terdengar."Siapa bertamu malam-malam? Nggak tau apa kalau ini sudah malam sekali," gerutu Bima.Meski menggerutu, Bima pun beranjak dari duduknya dan membukakan pintu. Betapa terkejutnya saat ia membuka pintu. Rupanya ada beberapa polisi yang sudah stay di depan rumahnya. Dua orang
Bima merasa terdesak, seakan-akan ia tidak memiliki pilihan lain. Akhirnya, dengan berat hati, ia memutuskan untuk kembali ke dunia yang pernah membesarkan namanya, dunia gelap sebagai bandar. Profesi inilah yang kini Bima pilih untuk mengumpulkan uang demi keluarganya yang tercinta. "Aduh, sulitnya mencari kehidupan yang lebih baik, lebih jujur, dan lebih tenang setelah pernah menjadi bandar ini," batin Bima dengan wajah murung. Malam itu, ia telah berhasil menyelesaikan tugasnya sebagai bandar, mengantar beberapa barang pesanan kepada para pelanggannya. Dengan perasaan berat, Bima melajukan mobilnya untuk kembali pulang. Namun, saat berhenti di lampu merah, ponselnya berdering dan sebuah notifikasi dari M-Banking masuk. Ia menoleh pada jumlah uang yang ia peroleh malam itu, kemudian tersenyum sinis. "Luar biasa memang dunia ini, hanya dalam hitungan jam, uang berjuta-juta sudah mengalir begitu saja. Apakah ini pertanda bahwa aku memang harus tetap berada dalam dunia yang kelam in
“Jelas. Dia pasti yang mengambilnya. Karena aku sangat yakin sekali.” MamaSari kembali meninggikan suaranya. “Bukan Alika yang mengambilnya. Tetapi aku. Aku memang sudah menjual rumahserta mobil itu. Lalu mau apa? Apa kalian tak tau, kalau itu semua terjadikarena sikap kalian pada Alika saat aku masih di penjara!” Bima berkata denganpenuh emosi. “Bima. Kamu tega melakukan ini semua kepada Mama dan Adikmu?” tanya MamaSari dengan suara melunak dan penuh iba. “Aku terpaksa. Alika baru saja melahirkan. Tetapi sudah kalian siksasedemikian rupa.” Kemarahan Bima sudah tak terkontrol lagi. Ana dan Mama Sari saling pandang. Mereka berdua tentu saat ini sedang buntu,mereka bingung mau tinggal di mana. “Tunggu apa lagi? Silakan tinggalkan rumah kami,” kata Bima. “Puas kamu. Wanita ulat. Kamu sudah membuat keluarga kami terpecah.” Anaberkata sambil menunjuk wajah Alika. Namun Bima dengan sigap langsung menjadi pembatas jarak antara Alika danAna. “Aku bilang, sekarang pergi dari sini!” Bi
Prastyo kalang kabut.Prastyo kini merasa kalang kabut, pasalnya Halimah hanya mengirimkan uang sebanyak 5 juta untuk dia bertahan hidup."Ah, apa aku bisa bertahan dengan uang segini? Belum lagi kalau Kartika minta uang. Bisa tekor aku," kata Prastyo.Prastyo berjalan dengan gontai menuju parkir mobilnya. Dia pun memutuskan untuk pulang terlebih dulu. Dia ingin mengistirahatkan sejenak kepalanya.Namun bukannya istirahat, saat sampai di rumah Kartika dia melihat kekasihnya itu sedang duduk manyun sembari menatap barang belanjaannya yang tertumpuk di atas meja."Kenapa? Kenapa kamu murung?" Tanya Prastyo."Mas. Aku kesel. Masa semua ATM yang kamu berikan sudah nggak bisa di pakai semuanya.. kan uang tabunganku jadi terpakai." Kartika manyun"Ya sudah. Nanti akan aku ganti." Prastyo berkata bohong."Janji ya?" Tanya Kartika.Seketika raut wajahnya berbinar. Dia pun langsung bertingkah manja di depan Prastyo. Untuk sesaat Prastyo bisa bernafas lega.Sedangkan yang terjadi di rumah Alika







