Home / Urban / No Cerai No Pisah! / Chapter 81 - Quality Time

Share

Chapter 81 - Quality Time

Author: Elodri
last update publish date: 2026-10-11 23:39:44

Jantung Rosa berdegup kian cepat, sampai bisa mengalahkan rekor kecepatan cheetah berlari.

Jemari Rosa licin dari keringat dingin. Ketika ia mengepalkan tangan, rasanya lengket. Napasnya terhenti sesaat dan suaranya tercekat di tenggorokan. Bola matanya berkabut samar.

"Kamu ... nggak bisa yang normal-normal aja?" tanya Rosa lirih.

Devon mengetuk kening Rosa dengan keningnya. "Normal bagiku untuk meminta cium."

Rosa tersenyum kecut. "Begitu, ya."

"Jadi?" Devon menyodorkan wajahnya lebih dekat
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • No Cerai No Pisah!   Chapter 85 - Truth or Dare

    Kepala Rosa serasa mau meledak. Semua orang menganga tergagap, tak menyangka seorang CEO semacam Devon bisa berkata 'sebebas' itu. Tatapan mereka pun berubah tersirat saat melihat jarak Devon dan Rosa. Mungkinkah Rosa sedang marah dengan Devon karena sang Tuan Muda sangat liar? Makanya Devon tidak menghampiri Rosa dan memberinya ruang untuk meredakan emosi?Di saat yang sama, komentar penonton live streaming ikut membara, penuh pertanyaan. 'Apa yang barusan kudengar?' 'Devon bilang dia kena usir abis minta jatah! Hahahahah! Bahkan seorang CEO pun juga harus nurut sama istri''Serius, dia bisa seganas itu di ranjang? Sumpah nggak abis pikir''Damn. Kemana tuh yang bilang kalo Devon nggak bisa move-on dari Kirana? Buktinya begitu sampe kamar, dia langsung nyerang Rosa!''Palingan juga Rosa yang ngegoda Devon! Kasian banget jadi Kirana''Jadi yang bener Devon suka sama siapa, sih? Atau dia playboy?'Pantas saja sang Tuan Muda tidak mau berinisiatif mendekati istrinya duluan. Dia past

  • No Cerai No Pisah!   Chapter 84 - Pembukaan Acara

    Olivia mengamati Rosa dan Devon silih berganti tanpa berusaha menutupi tatapannya. Jika dia saja bisa menebak bahwa mereka kelihatan habis bertengkar, begitu pula yang lain.Semua orang berpikiran yang sama. Terutama ketika melihat Devon yang sama sekali tak mau memandang Rosa atau bahkan menyapanya. Kirana mengangkat tangan dan menutupi setengah wajahnya. Ia berpura-pura terbatuk kecil, meski aslinya sedang menyembunyikan seringai puas. Perkiraan Kirana benar. Devon tidak seserius itu sama Rosa. Evan tersenyum mencemooh. Tatapannya penuh ejekan dan kesenangan di atas penderitaan Rosa. Satu-satunya yang normal di antara mereka mungkin hanya Tobi. Posisinya sebagai yang paling tua serta statusnya yang sudah menikah, membuat Tobi bisa melihat dengan lebih jelas. Menurut Tobi, pertengkaran dalam rumah tangga itu wajar. Anggap saja penyedap kehidupan. Didi bertepuk tangan untuk menarik kembali fokus mereka. "Ayo, semua berkumpul. Silakan duduk di kursi yang telah tersedia."Tertata

  • No Cerai No Pisah!   Chapter 83 - Kecurigaan Devon

    Embun-embun air panas masih beruap ketika Rosa selesai mandi. Tetapi hal itu tidak menghalanggi pandangan Rosa yang kini tengah melongokkan kepala dari celah pintu, melirik ke sekeliling ruangan mencari keberadaan manusia mesum itu. Saat tidak menemukan batang hidungnya, Rosa melangkah hati-hati menuju lemari dan merogoh-rogoh kopernya dengan tubuh yang hanya terbalut handuk. Semua karena Devon!Dia memaksanya mandi tanpa menyiapkan baju bersih buat ganti. Rosa berkali-kali mengumpat dalam hati, selagi berlari kecil kembali ke kamar mandi untuk memakai baju. Dia tidak tahu Devon pergi kemana. Rosa berharap semoga Devon jarang berada di kamar, atau dirinya bisa gila. ---Di kamar lain, tak jauh dari penginapan para artis.Didi menggosok-gosok kedua tangannya yang banjir keringat. Senyumnya memelas dengan sedikit campuran menyanjung. Ia sedang berusaha keras terlihat tidak bersalah di hadapan Devon. "Tuan Muda ada perlu apa ke kamar saya, ya...? Hehe..."Devon duduk dengan masing

  • No Cerai No Pisah!   Chapter 82 - Pembuktian

    Sewaktu kaki Devon menginjakkan lantai kamar mandi, di saat itulah Rosa terbangun dari lamunannya[Nggak penting menebak-nebak dia mau apa!]Ini bahaya sekali.Rosa buru-buru memebrontak sekuat tenaga. "Turunin aku!"Devon tidak melawan. Dia menurunkan Rosa, tetapi masih memegangi wanita itu dengan erat. Lengannya melingkari pinggang Rosa dengan sempurna, mendekapnya seraya berjalan maju menuju pancuran air.Rosa terpaksa berjalan mundur. Ia mencoba melepaskan diri dari lilitan Devon dengan tatapan panik. "Ahh, kamu mau ngapain? Kamu baru mandi, jangan ikut-ikutan lagi. Lepas, cepat lepas!"Di tempat yang luput dari perhatian Rosa, Devon menyeringai puas bisa membuatnya panik bukan kepalang. Pria itu berujar santai, "Biar kamu nggak buang-buang waktu, aku bantu kamu mandi.""Mana ada yang kayak gitu!""Buktinya sekarang ada?"Rosa spontan mengeluh, "Mengada-ada ini mah!"Devon tersenyum santai. Kemudian, ia menunduk, melihat Rosa dengan pandangan lembut yang bahkan ia sendiri tidak sa

  • No Cerai No Pisah!   Chapter 81 - Quality Time

    Jantung Rosa berdegup kian cepat, sampai bisa mengalahkan rekor kecepatan cheetah berlari.Jemari Rosa licin dari keringat dingin. Ketika ia mengepalkan tangan, rasanya lengket. Napasnya terhenti sesaat dan suaranya tercekat di tenggorokan. Bola matanya berkabut samar. "Kamu ... nggak bisa yang normal-normal aja?" tanya Rosa lirih. Devon mengetuk kening Rosa dengan keningnya. "Normal bagiku untuk meminta cium."Rosa tersenyum kecut. "Begitu, ya.""Jadi?" Devon menyodorkan wajahnya lebih dekat, seakan-akan sedang memberi umpan untuk dilahap.Rosa, "...."[Sampai segininya? Punya harga diri sedikit jadi laki-laki.]Kelopak mata Devon berkedut-kedut. Tetapi senyumnya masih bertengger tenang. Harga diri? Apa itu?Memang bisa memuaskannya?Tujuan Devon saat ini cuma memberi Rosa pelajaran karena telah memikirkan bentuk tubuh laki-laki lain. Dosanya yang ini lebih parah dari sekadar membandingkan-bandingkan Devon. Rosa membuang muka. Kepalanya menyusut ke belakang, mencoba menghindari s

  • No Cerai No Pisah!   Chapter 80 - Mandi Berdua

    Rosa menarik tangannya seraya mendelik. "Mimpi!" bisik Rosa galak. Setelah itu, ia menghembuskan napas 'Humph!' dan beranjak pergi ke kamar.[Sial! Aku nyaris bilang iya. Untung bibirku terkunci rapat kayak super glue.]Devon berjalan di belakangnya, tertawa tanpa suara. Wajah tampannya tampak secerah cuaca pagi itu. Tobi yang kamarnya tepat bersebelahan dengan mereka, melihat pemandangan itu dengan gelengan kepala dan berpikir keadaan mereka mestinya sangat baik kalau masih bisa bercanda seperti itu. Di dalam kamar, Rosa langsung sakit mata saat menatap seonggok kasur besar yang tertata rapi di tengah ruangan. Ia merasa pandangannya memburam. Kesadarannya mulai terbang ke angan-angan. Devon membuka pintu dan menemukan Rosa berdiri mematung di tepian. Ketika Devon mengikuti arah pandang Rosa, tatapannya lantas berpendar hangat, sementara senyumnya tersimpul jenaka. "Sedang apa?" sapa Devon santai sambil melenggang masuk. Rosa berjengit kecil dan bergerak ke pinggir, kian menepi.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status