LOGINBab 2
"Karena Pak Akseyna sudah hadir, jelaskan lagi dugaan Anda bahwa ini jauh lebih besar dari yang terlihat," ucap salah seorang auditor. Setiap mata tertuju pada Padma. Anehnya, Padma malah mengambil botol minuman yang ada di depannya sambil tersenyum kecil., "Apakah ada spidol dan papan tulis kecil? Saya akan jelaskan supaya lebih mudah dimengerti," tanya Padma menyarankan. Salah seorang petugas keluar dan membawa sebuah papan tulis ukuran sedang ke dalam ruangan. Padma berdiri dan mulai mencorat-coret papan tulis yang ada. "Setiap transaksi dan akad kredit pasti ada kode invoice-nya," ucap Padma. "Invoice itu semua kodenya terlihat acak, padahal tidak," jelasnya lagi sembari mengamati reaksi orang-orang di dalam ruangan. "Dua kode awal menunjuk pada cabang, dua kode berikutnya adalah jenis transaksi, dua kode berikutnya adalah kode petugas, dan empat kode di belakang adalah tanggal, setelahnya ada kode acak sistem. Random, namun pada hari tertentu yang disepakati, kode itu menjadi penanda transaksi atau akad kredit mana yang perlu di-ACC tanpa hambatan, bahkan juga yang dijaminkan berganda." Mendengar penjelasan Padma, semua orang terkejut dan segera memeriksa kebenaran perkataannya. "Aturan perusahaan, bila nilai jaminan lebih dari tiga ratus juta perlu kurasi dan ACC manajer keuangan di pusat, bila di bawah itu cukup ACC kacab," lanjut Padma. "Maka setiap tiga bulan disepakati periode mana untuk jaminan di bawah tiga ratus juta dan yang mana yang di atasnya." "Maksud Anda, kesepakatan dilakukan secara acak sehingga tidak terdeteksi sistem dan auditor?" tanya salah seorang dari mereka. "Ya dan tidak. Ada hari tertentu yang tidak menggunakan pola itu, yaitu dua hari menjelang hari raya Idulfitri dan Natal, saat banyak terjadi transaksi tanpa komando. Asal kode cabang dan petugas cocok, maka pasti ACC tanpa kendala," jelas Padma tenang. Bak disambar petir, mereka memeriksa data yang ada dan menemukan pola tepat seperti yang dijelaskan Padma. Mereka kecolongan cukup besar. Bila semua cabang melakukan ini, cuma masalah waktu sampai transaksi dan penyelewengan ini merubuhkan sistem perusahaan karena akan ada banyak kredit macet dan gagal bayar. Pantas CEO mereka langsung turun tangan mengawasi proses investigasi ini. "Kalau ingin menangkap dalangnya sampai ke akarnya, jangan tergesa-gesa lakukan audit besar-besaran. Jadikan saya umpan, supaya mereka terpancing bergerak membersihkan jejak. Kita tinggal amati, lalu sapu bersih kemudian," Padma menyarankan dengan nada dingin dan datar. "Apa Anda yakin itu efektif? Bagaimana kalau itu membahayakan Anda?" "Tidak ada investigasi tanpa risiko. Berarti analisis saya benar, kasus ini lebih besar dari yang terlihat, dan orang yang terlibat salah satunya adalah manajer keuangan, Harry Handoyo" jawab Padma lagi menjelaskan. Beberapa auditor membuka kembali berkas laporan, sementara yang lain mulai berdiskusi. Perhatian Sena tak pernah lepas dari gadis itu, antara kagum dan sekaligus khawatir dengan cara kerjanya yang tak kenal takut. Benar-benar kucing liar. Sena tidak menjawab tawaran itu. Belum waktunya. Dia menyimpannya, seperti caranya menyimpan banyak hal lain yang belum saatnya diputuskan di depan umum. "Saya rasa kita harus bicarakan ini lebih dalam," salah seorang auditor menyarankan. Dengan isyarat dari Sena, Padma digiring keluar ke ruangan lainnya. "Gadis ini punya ketajaman intuisi dan metode investigasi yang mumpuni, sayang kalau cuma staf finance biasa," puji salah seorang auditor begitu pintu tertutup. "Aku setuju. Ada yang tak lumrah dalam rekrutmen gadis ini. Cum laude dalam tiga tahun, jelas bukan orang biasa. Tapi, selama empat tahun sejak direkrut cuma jadi staff biasa. Itu aneh. "Berarti ini melibatkan banyak unit, baik di cabang maupun pusat," seorang lainnya menimpali. "Sebaiknya gadis ini masuk dalam tim investigasi kita. Akan lebih mudah mengawasi apakah dia murni membongkar atau ada agenda lain di dalamnya," Sena mendengar pembicaraan mereka dan tersenyum, dia sudah menduga arah pembicaraan itu. "Menurut Pak Sena, bagaimana bila gadis ini masuk tim investigasi kita?" tanya seorang auditor hati-hati. "Kalian bisa menjamin keselamatannya?" balas Sena. "Soal itu..." Mereka ragu untuk menjawab. Tak seorang pun luput dari tatapan elang Sena. Seperti yang dia duga, tak ada yang cukup berani menjamin keselamatan si kucing liar. Tatapan Sena menyapu ruangan.Tak seorang pun menjawab. "Kalian siapkan saja metode untuk investigasi lanjutannya. Laporkan bila sudah disusun. Aku tunggu hari ini," jelas Sena. "Soal gadis itu, biar aku yang tangani," perintahnya tegas. Semua menunduk, tak ada satu pun yang berani membantah, hanya gumaman yang keluar dari mulut mereka. Sena keluar dari ruangan dan langsung menuju tempat Padma menunggu. Gadis itu menyandarkan kepalanya di sofa, matanya terpejam. Sena memilih duduk di sofa seberangnya untuk menunggu. Sebuah kata yang tak pernah dia lakukan sebelumnya. Seakan tahu ada yang menatapnya, Padma membuka mata dan mendapati Sena di depannya. dia tersenyum tipis, menyelidik laki-laki di hadapannya. "Bagaimana lukamu dulu?" tanya Padma, tanpa basa-basi. "Sudah kuduga kamu pasti langsung mengenaliku," kata Sena. "Bagaimana kabarmu dan Bima?" Sena balik bertanya. "Itukah yang penting untuk kau dengar?" ucap Padma sinis. Ia menegakkan tubuhnya. "Aku lapar, beri aku makan. Kalian menyeretku tanpa sempat aku makan siang," balas Padma. Sena tertawa keras, sampai mengagetkan Aji dan Reno yang berjaga di luar ruangan. "Kamu memang kucing liar," katanya. "Terserah apa katamu. Kamu berutang makan siang padaku," ucap Padma enteng, seakan bicara pada teman lama, bukan CEO perusahaan tempat dia bekerja. Sena berdiri sambil menepuk pahanya, lalu membukakan pintu ruangan untuk Padma, hal yang untuk kedua kalinya membuat Reno terkejut. Namun begitu melihat wajah datar Aji, Reno tahu ada rahasia yang tidak dia ketahui soal Sena dan Padma. Padma mengikuti Sena dari belakang, diikuti Reno dan Aji. Tepat saat mobil datang, Sena membukakan pintu untuk Padma, bahkan sebelum sopir atau Reno sempat melakukannya. Untuk ketiga kalinya Reno terkejut, dan untuk kesekian kalinya, Aji hanya terlihat datar. Reno tak lagi mencoba menebak hubungan keduanya. Mereka makan di sebuah restoran dengan ruangan privat milik korporasi. "Jadi kamu sudah tahu tentang aku," ucap Sena begitu mereka mulai makan, "mengapa tak menghubungiku lebih awal?" Padma tersenyum sinis sambil mengunyah daging steak di mulutnya. "Daging steak ini enak. Kamu harus mentraktirku lagi," ucapnya acuh tak acuh. Melihat sikap Padma, Sena menatap, menunggu jawaban yang sebenarnya. Padma tahu arti tatapan itu. "Apa yang kau harapkan? Seorang pegawai baru masuk ke kantor CEO dan menyapa, 'Hai, kamu masih ingat aku?'" sindir Padma. Sena kembali tergelak mendengar sikap dan ucapan Padma. Tawa Sena perlahan mereda. Untuk sesaat ia merasa sedang berbicara dengan gadis kecil yang dulu sering memarahinya. ini. "Kapan kamu tahu aku CEO di Synergic?" "Setahun setelah bergabung, atau sebelumnya. Hanya sebuah dugaan, saat melihat wajahmu yang tak asing di event ultah perusahaan." "Investigasi yang kamu lakukan itu; jadi apa motifmu? Pasti bukan karena kamu takut aku bangkrut, kan?" "Dengan kuasamu, harusnya kamu bisa cari tahu sendiri." "Love revenge?" tebak Sena. "Itu masalah kecil," jawab Padma datar sambil terus mengunyah makanannya. Padma meletakkan pisau dan garpu, lalu berbalik menatap Sena sambil mengelap mulutnya. "Tell me," desak Sena. "Oma," balas Padma. Mendengar satu kata dari Padma, Sena langsung menegakkan dirinya. Ia melipat tangan dan memandang gadis di depannya.Reno melihat ponselnya, sebuah notifikasi masuk. Dia memperlihatkannya pada Padma. Padma tersenyum simpul. “Jadi kamu mau yang mana yang biru atau yang hijau?” tanya Reno pada Padma. “Hijau lebih menarik,” kata Padma.“ Oke kita langsung beli sekarang, bagaimana?” Reno menawarkan. Mereka berdua segera beranjak menuju tempat ganti pakaian yang ada di lantai atas. Sementara itu bagian keamanan akhirnya menyadari kalau mereka kecolongan, loker yang sejatinya akan digunakan sebagai umpan untuk menangkap orang yang membebaskan Benny, sekarang kosong. Keamanan di klub itu diperketat. Mereka memperhatikan setiap orang yang lalu lalang di dalam klub. Padma dan Reno yang sudah berganti pakaian menuju ke ruang lobby, menunggu mobil mereka siap. Saat Padma berdiri, seorang petugas keamanan mendekatinya. “Maaf, anda tidak bisa meninggalkan klub saat ini,” katanya. Padma tampak kebingungan. Reno mendekati petugas itu bersama Aji. “ Ini ada apa? Kenapa kami gak boleh meninggalkan klub?”P
Sebuah lamborghini kuning berhenti di sebuah pusat kebugaran. Di belakangnya sebuah mobil hitam juga berhenti. Seorang petugas layanan valet membukakan pintu. Seorang perempuan dengan rambut panjang keluar, dia mengenakan polo shirt dengan celana chino yang walaupun tak terlihat merknya namun terlihat mahal dan nyaman. Tampilannya tak mencolok, tampak sama dengan orang lain yang berseliweran di area pusat kebugaran. Di belakangnya seorang laki-laki dengan gaya pakaian yang sama tampak menyusul perempuan itu dan berjalan di sampingnya. Dua orang berpakaian hitam ada di belakang mereka menbawa duffel bag yang sekilas nampak biasa, namun bagi mata yang terlatih itu adalah tas seharga satu unit rumah kelas menengah. Laki-laki dan perempuan itu tampak akrab berbincang sambil memasuki area lobi, salah seorang pria berbaju hitam mendekati meja concierge dan memastikan identitas keduanya sebelum kemudian mengantar keduanya di ruang ganti pakaian yang privat di lantai atas. Sementara dua or
Menjelang jam makan siang.Seorang perempuan muda dengan atasan off shoulder dan celana kulit warna hitam keluar dari mobil ferrari kuning, berjalan masuk ke lobi kantor Synergic, Rambut pendeknya yang disisir edgy dan dandanan gaya bold menarik perhatian setiap orang yang melihatnya. Gayanya begitu luwes dengan sebuah tas tangan kecil yang hanya dengan melihat logonya, orang sudah tahu harganya yang bisa mencapai milyaran rupiah. Begitu melihat sosoknya, resepsionis dan security kantor langsung membukakan pintu dan mengarahkan ke lift khusus ke lantai ruangan Sena. Bertepatan saat dia menunggu, pintu lift terbuka, tampak wajah Padma dengan baju casual smart officenya, dia membawa botol minum yang sama yang tadi diberikan Sena. Perempuan itu kaget melihat seorang perempuan keluar dari lift khusus untuk Sena. Sesaat dia menoleh ke arah Padma. Dia merasa pernah bertemu Padma, wajah Padma tak asing baginya. Namun karena tak ingin Sena menunggu dia segera masuk sambil terus memikirk
Sementara itu di ruangan kantornya yang ber ac, Harry menghapus peluh di berusaha setenang mungkin mengeksekusi perintah sosok misterius yang selama ini mendukungnya. Di depan komputer kerjanya, Harry memindahkan aliran dana dari rekening yang selama ini dipakai sebagai penyimpanan ke beberapa rekening lainnya di luar negeri dan atau perusahaan cangkang yang sudah dia bangun selama tiga tahun ini. Sebuah pesan masuk. ’Babe, aku positif’Harry melirik pesan itu dan tersenyum. ‘Bagus, tepat waktu,’ ujarnya dalam hati. Dia terus memindahkan dana dari satu rekening ke rekening lainnya, ini tugas terakhirnya, setelahnya dia tidak hanya akan mendapat reward dari orang misterius yang selama ini mendukung dan melindunginya, namun juga membalaskan dendam pada kelompok Elang Hitam yang sudah menghancurkan keluarganya. Di ruang pusat investigas, Jo bersama timnya memantau aliran data dan informasi yang masuk ke komputernya. “Pantau terus pergerakan dana yang ada, jangan sampai terlewatkan,
Di ruangan investigasi Padma dan Sena menatap papan tulis yang menampilkan jaringan cabang Synergic Multifinance yang tersebar hampir di seluruh kota di negara itu. Di belakang mereka Aji dan Reno siaga berjaga. Di setiap kota bendera merah terpasang pin merah, penanda cabang yang terindikasi melakukan penipuan dengan modus dan pola yang sama dengan cabang timur kota S. “Hasil pemindaian dari perangkat terbaru, jelas menunjukkan indikasi kuat ini sistemik bukan sekadar penipuan satu atau dua orang saja,”“Pusatnya?”“Harry Handoyo dan timnya,” “Kamu yakin?”“Kamu pikir aku emosional?”“Kamu mengikutinya ke butik pengantin,”“Itu pengintaian,”“Mengamit tangan stafmu?”“Kamu keberatan?”Sena terdiam. Dia tidak punya hak keberatan.Dia hanya tidak suka. Aji dan Reno saling berpandangan melihat dua orang itu beradu mulut. Hanya Padma dan Sara yang bisa beradu mulut dengan Sena, selebihnya pasti sudah mati. “Bisa kembali fokus?” tanya Padma.Sena tidak menjawab. Padma menganggapnya
Sena berdiri tegak di dalam ruang kerjanya, mendengarkan setiap detail laporan yang disampaikan oleh Aji dan Reno secara bergantian.Mulai dari insiden penculikan Benny, penggeledahan kantor cabang, hingga operasi penyelamatan di gudang pelabuhan, semuanya dijelaskan tanpa ada yang terlewat. Suasana di dalam ruangan terasa sangat hening dan penuh tekanan."Sudah kamu amankan dengan benar?" tanya Sena dengan suara dingin."Sudah, Pak. Dia sedang ditangani langsung oleh tim dokter di klinik base camp," jawab Aji cepat." Sara?" tanya Sena lagi.Aji dan Reno saling berpandangan sejenak sebelum Aji menjawab, "Dia ada di luar ruangan, Pak."" Tiga puluh putaran," perintah Sena. "Jangan biarkan dia masuk.” Aji dan Reno hanya bisa mengatupkan bibir mereka menahan senyum mendengar hukuman tersebut. Mereka sudah bisa membayangkan reaksi Sara saat tahu perintah Sena. Mereka segera berpamitan dan keluar dari ruangan. Di luar kantor utama, seperti yang nisa diduga Sara mengumpat begitu tahu a







