Share

Bab 2

Author: Luinna Hart
last update publish date: 2026-07-30 21:16:09

Bab 2

"Karena Pak Akseyna sudah hadir, jelaskan lagi dugaan Anda bahwa ini jauh lebih besar dari yang terlihat," ucap salah seorang auditor.

Setiap mata tertuju pada Padma. Anehnya, Padma malah mengambil botol minuman yang ada di depannya sambil tersenyum kecil., "Apakah ada spidol dan papan tulis kecil? Saya akan jelaskan supaya lebih mudah dimengerti," tanya Padma menyarankan.

Salah seorang petugas keluar dan membawa sebuah papan tulis ukuran sedang ke dalam ruangan. Padma berdiri dan mulai mencorat-coret papan tulis yang ada.

"Setiap transaksi dan akad kredit pasti ada kode invoice-nya," ucap Padma. "Invoice itu semua kodenya terlihat acak, padahal tidak," jelasnya lagi sembari mengamati reaksi orang-orang di dalam ruangan.

"Dua kode awal menunjuk pada cabang, dua kode berikutnya adalah jenis transaksi, dua kode berikutnya adalah kode petugas, dan empat kode di belakang adalah tanggal, setelahnya ada kode acak sistem. Random, namun pada hari tertentu yang disepakati, kode itu menjadi penanda transaksi atau akad kredit mana yang perlu di-ACC tanpa hambatan, bahkan juga yang dijaminkan berganda."

Mendengar penjelasan Padma, semua orang terkejut dan segera memeriksa kebenaran perkataannya.

"Aturan perusahaan, bila nilai jaminan lebih dari tiga ratus juta perlu kurasi dan ACC manajer keuangan di pusat, bila di bawah itu cukup ACC kacab," lanjut Padma. "Maka setiap tiga bulan disepakati periode mana untuk jaminan di bawah tiga ratus juta dan yang mana yang di atasnya."

"Maksud Anda, kesepakatan dilakukan secara acak sehingga tidak terdeteksi sistem dan auditor?" tanya salah seorang dari mereka.

"Ya dan tidak. Ada hari tertentu yang tidak menggunakan pola itu, yaitu dua hari menjelang hari raya Idulfitri dan Natal, saat banyak terjadi transaksi tanpa komando. Asal kode cabang dan petugas cocok, maka pasti ACC tanpa kendala," jelas Padma tenang.

Bak disambar petir, mereka memeriksa data yang ada dan menemukan pola tepat seperti yang dijelaskan Padma. Mereka kecolongan cukup besar. Bila semua cabang melakukan ini, cuma masalah waktu sampai transaksi dan penyelewengan ini merubuhkan sistem perusahaan karena akan ada banyak kredit macet dan gagal bayar. Pantas CEO mereka langsung turun tangan mengawasi proses investigasi ini.

"Kalau ingin menangkap dalangnya sampai ke akarnya, jangan tergesa-gesa lakukan audit besar-besaran. Jadikan saya umpan, supaya mereka terpancing bergerak membersihkan jejak. Kita tinggal amati, lalu sapu bersih kemudian," Padma menyarankan dengan nada dingin dan datar.

"Apa Anda yakin itu efektif? Bagaimana kalau itu membahayakan Anda?"

"Tidak ada investigasi tanpa risiko. Berarti analisis saya benar, kasus ini lebih besar dari yang terlihat, dan orang yang terlibat salah satunya adalah manajer keuangan, Harry Handoyo" jawab Padma lagi menjelaskan.

Beberapa auditor membuka kembali berkas laporan, sementara yang lain mulai berdiskusi. Perhatian Sena tak pernah lepas dari gadis itu, antara kagum dan sekaligus khawatir dengan cara kerjanya yang tak kenal takut. Benar-benar kucing liar.

Sena tidak menjawab tawaran itu. Belum waktunya. Dia menyimpannya, seperti caranya menyimpan banyak hal lain yang belum saatnya diputuskan di depan umum.

"Saya rasa kita harus bicarakan ini lebih dalam," salah seorang auditor menyarankan.

Dengan isyarat dari Sena, Padma digiring keluar ke ruangan lainnya.

"Gadis ini punya ketajaman intuisi dan metode investigasi yang mumpuni, sayang kalau cuma staf finance biasa," puji salah seorang auditor begitu pintu tertutup.

"Aku setuju. Ada yang tak lumrah dalam rekrutmen gadis ini. Cum laude dalam tiga tahun, jelas bukan orang biasa. Tapi, selama empat tahun sejak direkrut cuma jadi staff biasa. Itu aneh.

"Berarti ini melibatkan banyak unit, baik di cabang maupun pusat," seorang lainnya menimpali.

"Sebaiknya gadis ini masuk dalam tim investigasi kita. Akan lebih mudah mengawasi apakah dia murni membongkar atau ada agenda lain di dalamnya,"

Sena mendengar pembicaraan mereka dan tersenyum, dia sudah menduga arah pembicaraan itu.

"Menurut Pak Sena, bagaimana bila gadis ini masuk tim investigasi kita?" tanya seorang auditor hati-hati.

"Kalian bisa menjamin keselamatannya?" balas Sena.

"Soal itu..." Mereka ragu untuk menjawab.

Tak seorang pun luput dari tatapan elang Sena. Seperti yang dia duga, tak ada yang cukup berani menjamin keselamatan si kucing liar. Tatapan Sena menyapu ruangan.Tak seorang pun menjawab.

"Kalian siapkan saja metode untuk investigasi lanjutannya. Laporkan bila sudah disusun. Aku tunggu hari ini," jelas Sena. "Soal gadis itu, biar aku yang tangani," perintahnya tegas.

Semua menunduk, tak ada satu pun yang berani membantah, hanya gumaman yang keluar dari mulut mereka. Sena keluar dari ruangan dan langsung menuju tempat Padma menunggu. Gadis itu menyandarkan kepalanya di sofa, matanya terpejam.

Sena memilih duduk di sofa seberangnya untuk menunggu. Sebuah kata yang tak pernah dia lakukan sebelumnya.

Seakan tahu ada yang menatapnya, Padma membuka mata dan mendapati Sena di depannya. dia tersenyum tipis, menyelidik laki-laki di hadapannya.

"Bagaimana lukamu dulu?" tanya Padma, tanpa basa-basi.

"Sudah kuduga kamu pasti langsung mengenaliku," kata Sena.

"Bagaimana kabarmu dan Bima?" Sena balik bertanya.

"Itukah yang penting untuk kau dengar?" ucap Padma sinis. Ia menegakkan tubuhnya. "Aku lapar, beri aku makan. Kalian menyeretku tanpa sempat aku makan siang," balas Padma.

Sena tertawa keras, sampai mengagetkan Aji dan Reno yang berjaga di luar ruangan. "Kamu memang kucing liar," katanya.

"Terserah apa katamu. Kamu berutang makan siang padaku," ucap Padma enteng, seakan bicara pada teman lama, bukan CEO perusahaan tempat dia bekerja.

Sena berdiri sambil menepuk pahanya, lalu membukakan pintu ruangan untuk Padma, hal yang untuk kedua kalinya membuat Reno terkejut. Namun begitu melihat wajah datar Aji, Reno tahu ada rahasia yang tidak dia ketahui soal Sena dan Padma.

Padma mengikuti Sena dari belakang, diikuti Reno dan Aji. Tepat saat mobil datang, Sena membukakan pintu untuk Padma, bahkan sebelum sopir atau Reno sempat melakukannya. Untuk ketiga kalinya Reno terkejut, dan untuk kesekian kalinya, Aji hanya terlihat datar. Reno tak lagi mencoba menebak hubungan keduanya.

Mereka makan di sebuah restoran dengan ruangan privat milik korporasi.

"Jadi kamu sudah tahu tentang aku," ucap Sena begitu mereka mulai makan, "mengapa tak menghubungiku lebih awal?"

Padma tersenyum sinis sambil mengunyah daging steak di mulutnya. "Daging steak ini enak. Kamu harus mentraktirku lagi," ucapnya acuh tak acuh.

Melihat sikap Padma, Sena menatap, menunggu jawaban yang sebenarnya. Padma tahu arti tatapan itu.

"Apa yang kau harapkan? Seorang pegawai baru masuk ke kantor CEO dan menyapa, 'Hai, kamu masih ingat aku?'" sindir Padma.

Sena kembali tergelak mendengar sikap dan ucapan Padma. Tawa Sena perlahan mereda. Untuk sesaat ia merasa sedang berbicara dengan gadis kecil yang dulu sering memarahinya. ini.

"Kapan kamu tahu aku CEO di Synergic?"

"Setahun setelah bergabung, atau sebelumnya. Hanya sebuah dugaan, saat melihat wajahmu yang tak asing di event ultah perusahaan."

"Investigasi yang kamu lakukan itu; jadi apa motifmu? Pasti bukan karena kamu takut aku bangkrut, kan?"

"Dengan kuasamu, harusnya kamu bisa cari tahu sendiri."

"Love revenge?" tebak Sena.

"Itu masalah kecil," jawab Padma datar sambil terus mengunyah makanannya. Padma meletakkan pisau dan garpu, lalu berbalik menatap Sena sambil mengelap mulutnya.

"Tell me," desak Sena.

"Oma," balas Padma.

Mendengar satu kata dari Padma, Sena langsung menegakkan dirinya. Ia melipat tangan dan memandang gadis di depannya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • No Saint Left   Bab 5

    Jejeran meja dan kursi di depot tua ini masih terlihat sama. Dinding yang sebagian mengelupas, dan kipas angin tua masih bertengger di tempat yang sama. Sena dan Padma mengambil meja di sudut depot Jaya. Dua mangkuk mie kuah kepiting beserta sumpit sudah tersedia diatas meja. Asap dan aroma kaldu kepiting yang gurih memenuhi ruangan. Tanpa basa-basi, Padma langsung menuang acar dan kecap asin dengan potongan cabe hijau ke dalam mangkuknya. Dengan sumpit dia memasukkan mie yang masih terlihat panas ke dalam mulutnya. Kepalanya bergoyang pelan tanda nikmat.“Pelan-pelan, mie itu tidak akan kemana-mana,”kata Sena melihat Padma yang makan dengan lahap.“Mie ini paling enak dimakan panas-panas,” balas Padma,”Makanya dulu kalau ayah bawa pulang buat kamu, aku senewen, rasanya jadi beda,” celetuknya.Sena ingat dulu karena dia sering berkelahi untuk membalas kematian ayahnya, setiap kali dia terluka dan dirawat dokter Wicak, setiap kali itu pula kucing liar ini mengamuk melihat tubuhnya ya

  • No Saint Left   Bab 4

    Begitu Padma melangkah memasuki halaman kantor cabang, percakapan langsung terputus. Kepala-kepala menoleh. Bisik-bisik mulai menjalar mengikuti setiap langkahnya.Seorang petugas menggenggam lengan Padma erat, sementara seorang lainnya membuntuti dari belakang.Begitu sampai, mereka langsung menuju ruangan tempat Padma bekerja. Satu orang berjalan ke arah meja kantor milik Padma, seorang lagi mengosongkan isi lemari dan menyortir berkas serta kertas invoice yang ada di ruangan itu.Wajah Padma tetap datar. Jemarinya mengeluarkan berkas satu demi satu dari lemari arsip. Di balik gerakan yang tampak biasa, ia menyelipkan isyarat halus: boks biru, boks merah. Sesekali ia dipanggil petugas yang satunya untuk mengonfirmasi beberapa hal di komputer ruangannya.Tak lama kemudian, Padma bersama petugas lainnya masuk ke ruang server kantor cabang. Tak ada seorang pun yang tahu apa yang mereka lakukan di dalam. Semua orang menduga petugas kantor pusat sedang melakukan forensik digital atas tra

  • No Saint Left   Bab 3

    Keheningan meliputi ruang tempat mereka makan. Hanya terdengar detak jam di dinding. Padma meneguk minumannya. Perlahan dia berkata,“Dia sengaja menolak pengajuan pinjaman karyawan dua tahun lalu saat oma sakit,”Mata Padma melesatkan rasa perih.“Penolakan yang dia lakukan, membuat operasi hati oma tertunda hingga dua bulan karena butuh proses lebih lama untuk gadaikan rumah,” ujar Padma pelan. Dahi Sena berkerut dalam. Bibirnya bergetar tipis seakan menahan amarah.“Kerusakan jaringan semakin parah selama proses menunggu,hingga akhirnya oma tiada tepat di hari dia bertunangan dengan keponakan direktur keuangan,” kata Padma tertahan. “Apa alasan penolakan? Dua tahun lalu kamu sudah pegawai tetap kan, kamu berhak mengambil pinjaman karyawan?”“Awalnya aku tidak tahu alasan penolakan, namun ketika aku tahu dia yang menolak, bagiku alasannya cukup benderang,” ucap Padma, “Jelas personal,”ungkapnya.“Jika kamu sudah mengenaliku seharusnya…”,“Seharusnya aku menghubungimu? Atau mendobr

  • No Saint Left   Bab 2

    Bab 2"Karena Pak Akseyna sudah hadir, jelaskan lagi dugaan Anda bahwa ini jauh lebih besar dari yang terlihat," ucap salah seorang auditor.Setiap mata tertuju pada Padma. Anehnya, Padma malah mengambil botol minuman yang ada di depannya sambil tersenyum kecil., "Apakah ada spidol dan papan tulis kecil? Saya akan jelaskan supaya lebih mudah dimengerti," tanya Padma menyarankan.Salah seorang petugas keluar dan membawa sebuah papan tulis ukuran sedang ke dalam ruangan. Padma berdiri dan mulai mencorat-coret papan tulis yang ada."Setiap transaksi dan akad kredit pasti ada kode invoice-nya," ucap Padma. "Invoice itu semua kodenya terlihat acak, padahal tidak," jelasnya lagi sembari mengamati reaksi orang-orang di dalam ruangan."Dua kode awal menunjuk pada cabang, dua kode berikutnya adalah jenis transaksi, dua kode berikutnya adalah kode petugas, dan empat kode di belakang adalah tanggal, setelahnya ada kode acak sistem. Random, namun pada hari tertentu yang disepakati, kode itu menja

  • No Saint Left   Bab 1

    Bab 1Sena membenci laporan yang datang di pagi hari. Bukan karena isinya.Dia sudah lama berhenti terkejut oleh pengkhianatan Laporan pagi selalu berarti seseorang, di suatu tempat, sedang berpikir mereka bisa lolos.Mobil berhenti tepat di depan lobi. Ia tidak menunggu sopir membukakan pintu. Kepala-kepala menunduk begitu ia melewati mereka, sebuah refleks yang sudah lama berhenti terasa seperti penghormatan, dan lebih terasa seperti rasa takut yang dipoles menjadi sopan santun.Di kantornya yang terletak di lantai tertinggi gedung perkantoran itu, Sena langsung bertanya, "Siapa pengirim laporan dugaan penyelewengan dana perusahaan kita?""Anonim, tetapi tim IT kita masih berusaha melacak jejaknya lewat log akses internal," ucap asistennya, Reno."Satu jam. Periksa apakah data yang dikirimkan benar, dan siapa pengirimnya harus bisa terdeteksi," ucap Sena. "Bila dugaan ini benar, reputasi perusahaan kita taruhannya."Reno langsung beranjak keluar dan memerintahkan bawahannya untuk men

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status