Share

Bab 3

Author: Luinna Hart
last update publish date: 2026-07-31 17:33:47

Keheningan meliputi ruang tempat mereka makan. Hanya terdengar detak jam di dinding. 

Padma meneguk minumannya. Perlahan dia berkata,“Dia sengaja menolak pengajuan pinjaman karyawan dua tahun lalu saat oma sakit,”

Mata Padma melesatkan rasa perih.

“Penolakan yang dia lakukan, membuat operasi hati oma tertunda hingga dua bulan karena butuh proses lebih lama untuk gadaikan rumah,” ujar Padma pelan. 

 

Dahi Sena berkerut dalam. Bibirnya bergetar tipis seakan menahan amarah.

“Kerusakan jaringan semakin parah selama proses menunggu,hingga akhirnya oma tiada tepat di hari dia bertunangan dengan keponakan direktur keuangan,” kata Padma tertahan. 

“Apa alasan penolakan? Dua tahun lalu kamu sudah pegawai tetap kan, kamu berhak mengambil pinjaman karyawan?”

“Awalnya aku tidak tahu alasan penolakan, namun ketika aku tahu dia yang menolak, bagiku alasannya cukup benderang,” ucap Padma, “Jelas personal,”ungkapnya.

“Jika kamu sudah mengenaliku seharusnya…”,

“Seharusnya aku menghubungimu? Atau mendobrak pintu ruang kerjamu?” potong Padma sinis. 

“Belasan tahun Akseyna Nugraha, kita tidak pernah ada kontak selama belasan tahun, menurutmu apa itu masuk akal?” Kata-kata Padma tajam menusuk hati Sena paling dalam. Kata-kata itu mengusik kebencian Sena yang tak bisa lebih cepat menjadi kuat untuk melindungi orang-orang yang berharga baginya. 

“Maaf,“ sebuah kata meluncur dari bibir Sena. 

“Maaf dan Seharusnya adalah kata yang paling menyakitkan,” ujar Padma,” bila kata itu ada untuk mencegah tragedi, maka malam itu SEHARUSNYA ayahku tak mencarimu dan berakhir mati tanpa tahu siapa yang menabraknya mati.”

Mendengar perkataan Padma, Sena teriam lama, matanya menatap dinding restoran dengan nanar. 

“Itu penyesalan terbesarku, melibatkan keluargamu,” Sena berkata lirih.

Padma melihat dengan tatapan sayu,“Berhenti salahkan dirimu, balas apa yang perlu dibalas,” ucap Padma. 

“Aku sudah lalai menjagamu untuk membalas budi baik ayahmu,” kata Sena perlahan, “Bagaimana aku membayarnya kali ini?” Tanya Sena. 

Hening.

Padma menghabiskan suapan terakhir makanannya di bawah tatapan Sena yang menunggu jawaban darinya.

Alih-alih kikuk, Padma dengan tenang menatap balik Sena sembari tersenyum kecil, bahkan cenderung sinis. 

“Hutang, balas budi, menjaga. Jadi semuanya tentang itu?” Jawab Padma. “Kami tidak butuh itu, toh kami masih hidup kan walau…”

Tiba-tiba mulutmu Padma yang biasanya fasih tercekat. Sekelebat bayangan jemari kasar mencengkeram lengannya. Napas Padma tertahan. Tidak. Bukan sekarang.

“...walau…kami melewati banyak kesulitan,”  Padma bicara sedikit terbata. 

Sena memandang setiap gerakan, raut dan ekspresi gadis di depannya. Ada yang tak biasa. Ada yang dia sembunyikan. Apa rahasiamu kucing liar? 

Berusaha menutupi kecurigaannya Sena berkata,“Kalau begitu bagaimana kalau kamu yang jadi investigator leader yang langsung bertanggung jawab ke aku?” Sena menawarkan. 

Padma terdiam mengamati raut wajahnya yang begitu serius.“Bongkar semuanya jangan sisakan, sayang bila kamu hanya jadi staf keuangan dan kemampuan investigasimu tak terpakai,” ucap Sena.

“Lalu apa untungnya buatku?” tanya Padma.

“Aku akan membantumu mencari siapa pelaku tabrak lari ayahmu,” ucap Sena. 

“Kamu yakin? Penabrak ayahku sepertinya bukan orang biasa, sampai hari ini tak ada jejaknya ” kata Padma menyangsikan bantuan Sena. “ Dia sengaja menabrak motor ayahku dengan kecepatan tinggi, tak ada bekas pengereman di lokasi kejadian,’ lanjut Padma. 

“Asal kamu membantuku membongkar keboborokan sistem di korporasi Synergic, aku pasti membantumu,” janji Sena.

Padma menimbang bobot perkataan Sena. Dia takut laki-laki di depannya hanya akan hilang tanpa sempat penuhi janjinya lagi. 

‘Apa jaminanku kau akan tepati janjimu? Bertahun dulu kau bahkan meninggalkan kami hanya dengan sepotong kertas pesan,” tanya Padma tak percaya. 

“Nyawaku,” balas Sena

“Nyawa? Seberapa berharga nyawa itu buatmu? Bukankah selama belasan tahun ini aku cukup yakin kau mendapat posisimu dengan taruhan nyawa yang sama. Apa yang tersisa buatku sebagai jaminan,” kritik Padma keras. 

“Apa yang harus kubayar?” tanya Sena, “Bila aku sanggup akan kuberikan, aku janji” ucap Sena. 

Janji. Sebuah kata yang amat sakral bagi Padma. Banyak orang yang berjanji. Tapi yang dia dapatkan pengkhianatan, luka dan kehilangan orang-orang yang dia cintai. 

“Lupakan,” Padma membalas datar,” aku akan membantumu,  anggap saja kita sedang melawan musuh yang sama. “ Sena melihat kilatan rasa sakit dari mata dan perkataan gadis itu. 

Belasan tahun, setiap mereka telah menerjang kehidupan tanpa ampun. Banyak hal berubah. Gadis ini berubah menjadi lebih dingin, taktis dan apatis. Apa yang sudah membuat perubahan sebesar ini pada kucing liar keluarga Wicaksono. Pikiran ini menggelayuti Sena. 

Enam Belas Tahun lalu. 

Di sudut terminal angkutan kota di pusat kota S, seorang remaja  laki-laki dengan tubuh penuh luka meringkuk menahan sakit. Untuk kesekian kalinya usahanya membalaskan dendam pembunuhan ayahnya gagal. 

Napas remaja itu tertahan, setiap kali dia menarik napasnya, setiap kali itu pula dia merasakan pedih rasa sakit yang menyanat. Darah segar mengalr di setiap luka tubuhnya. Ketika kesadarannya hampir hilang, dia mendengar langkah kaki mendekat. Gelap. Dia tak mengingat apapun sesudahnya. 

Yang dia tahu kemudian, dia sudah berada di sebuah kamar bercat biru muda. “Kamu sudah bangun?” suara seorang laki-laki terdengar. Matanya melihat seorang laki-laki dengan kaos kampanye tua berdiri di ujung ranjang. 

“Hati-hati, jangan paksakan untuk langsung bangun,” laki -laki itu mendekat dan membantunya duduk di ujung ranjang,” 

“Kamu siapa?” tanya Sena, remaja laki-laki yang terluka itu. 

“Orang-orang memanggilku dokter Wicak,” ucapnya ramah. “Aku teman ayahmu, dia sering cerita tentangmu,” ujar laki-laki itu. 

“Ayahku sudah mati dibunuh bajingan itu,” kata Sena menahan marah. 

“Aku tahu, dan aku sudah menduganya,” laki-laki itu berkata dengan getir,”Itu resiko menjadi bagian dari Elang Hitam,” ucapnya pelan. 

“Kamu menyalahkan ayahku?” desis Sena. 

“Salah? Bukan, dia mengambil resiko itu untuk melindungi apa yang berharga darinya, Kamu, ibu dan adikmu,” ucap dokter Wicak.

 “Tinggalah sampai kamu sembuh setelahnya bawa pergi adik dan ibumu, setidaknya sampai kamu kuat dan mampu melawan, “ ucapnya pelan sambil meninggalkan ruangan kamar.

Setelah menyelesaikan makan siang sekaligus makan malamnya. Padma dan Sena keluar dari restoran itu. 

“Aku antar kamu pulang,” ucap Sena. 

“Antarkan saja sepeda motorku ke rumahku,” balas Padma, “ Aku membutuhkannya besok untuk bekerja,” ucapnya enteng. 

“Jangan keras kepala,” ucap Sena menentang permintaan Padma. 

“Jangan mengaturku,” balas Padma tak kalah sengit, “Aku butuh ke suatu tempat, kau tak perlu tahu,” jawabnya sambil segera berjalan keluar dari halaman restoran itu. 

Dengan gerakan matanya Sena memerintah  Aji yang langsung paham maksud bosnya. “Pastikan dia aman, jangan terlalu kentara,” ucap Sena singkat. Aji segera meminta satu anak buahnya mengawal Padma dari jauh. Dia tahu betapa berharganya gadis itu bagi bossnya.

Sementara Sena melihat punggung gadis itu pergi hingga tak terlihat di belokan. Sena memasuki mobilnya. Reno yang ada di kursi depan bersama sopir langsung paham, mereka terdiam dan tercekat tak berani bersuara. 

Padma sudah menaiki bus dalam kota, dia duduk di sisi kanan bus. Matanya melihat mobil Sena yang melaju melewati bis yang dia tumpangi. Malam ini dia ingin kembali sejenak menengok rumah lama miliknya, walau dia sendiri tak paham mengapa harus kesana dan mengapa harus malam ini. Mungkin cuma rasa rindu saja.

Di sepanjang gang menuju rumah lama milik ayahnya, Padma sempat bertemu dengan beberapa tetangga lama. Dia tak menyangka di pagar depan rumah milik ayahnya di melihat Bima adiknya. Mata mereka bertatapan.

“Kak, kamu di sini?”

“Hari ini ayah tak ingin kita menangis lagi, tidak di hari kematiannya.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • No Saint Left   Bab 5

    Jejeran meja dan kursi di depot tua ini masih terlihat sama. Dinding yang sebagian mengelupas, dan kipas angin tua masih bertengger di tempat yang sama. Sena dan Padma mengambil meja di sudut depot Jaya. Dua mangkuk mie kuah kepiting beserta sumpit sudah tersedia diatas meja. Asap dan aroma kaldu kepiting yang gurih memenuhi ruangan. Tanpa basa-basi, Padma langsung menuang acar dan kecap asin dengan potongan cabe hijau ke dalam mangkuknya. Dengan sumpit dia memasukkan mie yang masih terlihat panas ke dalam mulutnya. Kepalanya bergoyang pelan tanda nikmat.“Pelan-pelan, mie itu tidak akan kemana-mana,”kata Sena melihat Padma yang makan dengan lahap.“Mie ini paling enak dimakan panas-panas,” balas Padma,”Makanya dulu kalau ayah bawa pulang buat kamu, aku senewen, rasanya jadi beda,” celetuknya.Sena ingat dulu karena dia sering berkelahi untuk membalas kematian ayahnya, setiap kali dia terluka dan dirawat dokter Wicak, setiap kali itu pula kucing liar ini mengamuk melihat tubuhnya ya

  • No Saint Left   Bab 4

    Begitu Padma melangkah memasuki halaman kantor cabang, percakapan langsung terputus. Kepala-kepala menoleh. Bisik-bisik mulai menjalar mengikuti setiap langkahnya.Seorang petugas menggenggam lengan Padma erat, sementara seorang lainnya membuntuti dari belakang.Begitu sampai, mereka langsung menuju ruangan tempat Padma bekerja. Satu orang berjalan ke arah meja kantor milik Padma, seorang lagi mengosongkan isi lemari dan menyortir berkas serta kertas invoice yang ada di ruangan itu.Wajah Padma tetap datar. Jemarinya mengeluarkan berkas satu demi satu dari lemari arsip. Di balik gerakan yang tampak biasa, ia menyelipkan isyarat halus: boks biru, boks merah. Sesekali ia dipanggil petugas yang satunya untuk mengonfirmasi beberapa hal di komputer ruangannya.Tak lama kemudian, Padma bersama petugas lainnya masuk ke ruang server kantor cabang. Tak ada seorang pun yang tahu apa yang mereka lakukan di dalam. Semua orang menduga petugas kantor pusat sedang melakukan forensik digital atas tra

  • No Saint Left   Bab 3

    Keheningan meliputi ruang tempat mereka makan. Hanya terdengar detak jam di dinding. Padma meneguk minumannya. Perlahan dia berkata,“Dia sengaja menolak pengajuan pinjaman karyawan dua tahun lalu saat oma sakit,”Mata Padma melesatkan rasa perih.“Penolakan yang dia lakukan, membuat operasi hati oma tertunda hingga dua bulan karena butuh proses lebih lama untuk gadaikan rumah,” ujar Padma pelan. Dahi Sena berkerut dalam. Bibirnya bergetar tipis seakan menahan amarah.“Kerusakan jaringan semakin parah selama proses menunggu,hingga akhirnya oma tiada tepat di hari dia bertunangan dengan keponakan direktur keuangan,” kata Padma tertahan. “Apa alasan penolakan? Dua tahun lalu kamu sudah pegawai tetap kan, kamu berhak mengambil pinjaman karyawan?”“Awalnya aku tidak tahu alasan penolakan, namun ketika aku tahu dia yang menolak, bagiku alasannya cukup benderang,” ucap Padma, “Jelas personal,”ungkapnya.“Jika kamu sudah mengenaliku seharusnya…”,“Seharusnya aku menghubungimu? Atau mendobr

  • No Saint Left   Bab 2

    Bab 2"Karena Pak Akseyna sudah hadir, jelaskan lagi dugaan Anda bahwa ini jauh lebih besar dari yang terlihat," ucap salah seorang auditor.Setiap mata tertuju pada Padma. Anehnya, Padma malah mengambil botol minuman yang ada di depannya sambil tersenyum kecil., "Apakah ada spidol dan papan tulis kecil? Saya akan jelaskan supaya lebih mudah dimengerti," tanya Padma menyarankan.Salah seorang petugas keluar dan membawa sebuah papan tulis ukuran sedang ke dalam ruangan. Padma berdiri dan mulai mencorat-coret papan tulis yang ada."Setiap transaksi dan akad kredit pasti ada kode invoice-nya," ucap Padma. "Invoice itu semua kodenya terlihat acak, padahal tidak," jelasnya lagi sembari mengamati reaksi orang-orang di dalam ruangan."Dua kode awal menunjuk pada cabang, dua kode berikutnya adalah jenis transaksi, dua kode berikutnya adalah kode petugas, dan empat kode di belakang adalah tanggal, setelahnya ada kode acak sistem. Random, namun pada hari tertentu yang disepakati, kode itu menja

  • No Saint Left   Bab 1

    Bab 1Sena membenci laporan yang datang di pagi hari. Bukan karena isinya.Dia sudah lama berhenti terkejut oleh pengkhianatan Laporan pagi selalu berarti seseorang, di suatu tempat, sedang berpikir mereka bisa lolos.Mobil berhenti tepat di depan lobi. Ia tidak menunggu sopir membukakan pintu. Kepala-kepala menunduk begitu ia melewati mereka, sebuah refleks yang sudah lama berhenti terasa seperti penghormatan, dan lebih terasa seperti rasa takut yang dipoles menjadi sopan santun.Di kantornya yang terletak di lantai tertinggi gedung perkantoran itu, Sena langsung bertanya, "Siapa pengirim laporan dugaan penyelewengan dana perusahaan kita?""Anonim, tetapi tim IT kita masih berusaha melacak jejaknya lewat log akses internal," ucap asistennya, Reno."Satu jam. Periksa apakah data yang dikirimkan benar, dan siapa pengirimnya harus bisa terdeteksi," ucap Sena. "Bila dugaan ini benar, reputasi perusahaan kita taruhannya."Reno langsung beranjak keluar dan memerintahkan bawahannya untuk men

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status