Share

No Saint Left
No Saint Left
Author: Luinna Hart

Bab 1

Author: Luinna Hart
last update publish date: 2026-07-30 19:08:20

Bab 1

Sena membenci laporan yang datang di pagi hari. Bukan karena isinya.Dia sudah lama berhenti terkejut oleh pengkhianatan Laporan pagi selalu berarti seseorang, di suatu tempat, sedang berpikir mereka bisa lolos.

Mobil berhenti tepat di depan lobi. Ia tidak menunggu sopir membukakan pintu. Kepala-kepala menunduk begitu ia melewati mereka, sebuah refleks yang sudah lama berhenti terasa seperti penghormatan, dan lebih terasa seperti rasa takut yang dipoles menjadi sopan santun.

Di kantornya yang terletak di lantai tertinggi gedung perkantoran itu, Sena langsung bertanya, "Siapa pengirim laporan dugaan penyelewengan dana perusahaan kita?"

"Anonim, tetapi tim IT kita masih berusaha melacak jejaknya lewat log akses internal," ucap asistennya, Reno.

"Satu jam. Periksa apakah data yang dikirimkan benar, dan siapa pengirimnya harus bisa terdeteksi," ucap Sena. "Bila dugaan ini benar, reputasi perusahaan kita taruhannya."

Reno langsung beranjak keluar dan memerintahkan bawahannya untuk menyelidiki dugaan penyelewengan dana perusahaan yang dilakukan oleh salah satu manajer keuangan di perusahaan multifinance di bawah korporasi mereka.

Begitu Reno keluar, Sena menatap Aji, asistennya yang lain.

"Lahan di timur, apakah sudah kamu bersihkan?" tanya Sena.

"Hanya tinggal satu rumah. Pemiliknya keras kepala." Aji berhenti sebentar, seperti menimbang kalimat berikutnya. "Mau saya pakai cara biasa?"

Sena tidak menoleh dari layar di depannya. "Selesaikan sebelum akhir minggu. Caranya terserah kamu, asal tidak ada yang bisa dilacak ke kita."

"Baik, Bos." Aji keluar ruangan tanpa ekspresi, seolah baru saja diberi instruksi seremeh memesan kopi.

Empat puluh menit kemudian, Reno masuk sembari membawa berkas laporan hasil pengecekan.

"Pengirim laporan sudah kami identifikasi. Isi laporan juga menguatkan adanya indikasi penyelewengan dana," jelas Reno.

"Lalu?" tanya Sena sambil membaca hasil laporan awal audit.

Seakan tahu apa yang dimaksud oleh Sena, Reno melanjutkan, "Pengirimnya adalah staf keuangan di cabang tempat manajer itu bekerja. Padma Wicaksono."

Jari Sena berhenti membalik hasil analisis audit.

"Ulangi."

"Namanya Padma Wicaksono. Ini datanya," ucap Reno sembari menyerahkan sebuah map berisi data pribadi dan riwayat kerja whistleblower yang melaporkan dugaan penyelewengan itu.

Ruangan mendadak sunyi hanya terdengar suara ac yang berhembus.

Begitu melihat foto, nama, dan data pribadi gadis yang melaporkan penyelewengan dana perusahaan tersebut, raut wajah Sena berubah.

Gadis dengan rambut hitam sebahu dan poni itu tampak profesional dalam balutan blazer hitam.

Ada yang terasa familiar dengan nama dan wajah gadis dalam laporan itu.

"Periksa latar belakang gadis ini sedetail mungkin. Pastikan dalam satu jam kamu sudah punya datanya." Ia tidak yakin apa yang sebenarnya ia cari lewat detail itu, apakah ia hanya perlu yakin tentangnya atau dia tak ingin kehilangan jejaknya lagi.

"Apakah ada yang mencurigakan, Pak?"

"Tidak, lakukan saja," ucap Sena singkat. "Audit cabang tempat dugaan itu berasal. Bawa gadis itu untuk penyelidikan lebih lanjut."

"Baik," Reno langsung menjawab dan berbalik.

"Satu lagi. Aku akan ikut mengawasi saat proses penyelidikan terhadap gadis itu berlangsung," ucap Sena.

Walau terdengar janggal seorang CEO korporasi turun tangan langsung, Reno tetap mengiyakan perintah atasannya.

Sena menatap foto gadis itu cukup lama. Bila dugaanku benar, kasus ini tidak akan sederhana. Instingnya mengatakan hal itu.

***

Di cabang kota S wilayah timur, seorang gadis berambut hitam sebahu sedang memeriksa laporan keuangan perusahaan. Matanya menyusuri deretan angka, tangannya terampil memilah satu per satu nota dan faktur. Suasana kantor tampak tenang seperti hari-hari biasa.

Walau tampak tenang, sesekali mata gadis itu mengawasi keadaan sekelilingnya, seakan sedang menunggu sesuatu.

Tiba-tiba, dua orang berjas masuk ke ruang kerjanya.

"Saudari Padma Wicaksono?" tanya salah satu dari mereka.

Gadis berambut sebahu itu menjawab, "Ya, itu saya. Ada yang bisa saya bantu?"

"Silakan ikut kami untuk penyelidikan lebih lanjut terkait dugaan penyelewengan dana perusahaan," ucap yang satunya.

"Baik, beri saya waktu lima menit," ucap Padma.

"Bisa dilakukan nanti dalam perjalanan. Ini mendesak, silakan ikut kami."

Padma menyambar tas kerja dan ponselnya, lalu bergegas berjalan mengikuti mereka dari belakang.

Suasana kantor yang tadinya tenang langsung gaduh oleh kasak-kusuk rekan kerjanya. Dugaan penyelewengan dana perusahaan bukan perkara kecil.

Tiba di area kantor pusat, Padma duduk di sebuah ruangan dengan kamera menghadap padanya. Beberapa orang yang ia kenali dari divisi audit internal perusahaan sudah menunggu di hadapannya.

Bukannya takut, gadis itu tampak tenang, seakan sudah siap menghadapi apa pun yang akan terjadi.

"Saudari Padma, apakah Anda yang mengirimkan laporan anonim ini?" tanya seorang auditor.

Alih-alih menyangkal, Padma langsung mengakui.

"Betul. Apakah ada yang salah?"

"Dari mana Anda mendapat data ini? Apakah ada orang lain di balik Anda? Apa motif Anda?" auditor itu mencecarnya dengan serentetan pertanyaan.

"Apakah semua whistleblower harus punya motif?" Padma balik bertanya. "Bukankah yang seharusnya dipertanyakan adalah niat jahat di balik skandal yang saya ungkap, bukan niat saya mengungkapnya?"

"No mens rea terhadap perusahaan," lanjutnya tenang.

"Lalu datanya, dari mana Anda mendapatkannya?" auditor lain bertanya.

"Investigasi personal. Saya sengaja mendekati orang-orang yang berkepentingan.Sedikit demi sedikit saya mengumpulkan data, mencocokkan setiap item, menganalisis, dan akhirnya menyimpulkan seperti yang ada dalam laporan yang kalian pegang."

"Tanpa bantuan orang lain?"

"Salah. Seperti yang saya katakan, saya mendekati orang-orang yang berkepentingan untuk mengumpulkan datanya. Jelas saya tidak mungkin melakukannya sendirian."

"Anda 'mendekati' mereka. Maksudnya?"

Padma diam sebentar. "Saya membiarkan mereka berpikir saya tertarik dengan hubungan personal untuk mendapat kepercayaan. Cukup lama, sampai mereka lengah."

Seorang auditor mengetuk meja dan berkata,"Apa itu tidak mengganggu Anda? Menipu orang untuk mendapatkan kepercayaan mereka?"

"Yang mengganggu saya," ucap Padma datar, "adalah orang yang menipu kepercayaan orang lain demi menutupi kejahatan. Saya cuma membalikkan triknya."

"Jelaskan secara detail supaya kami tahu persis apa yang terjadi."

Padma tersenyum tipis dan mulai menjelaskan setiap tahapan yang ia lakukan. Para auditor yang mendengarkan mencocokkan setiap kalimatnya dengan data yang mereka pegang, satu per satu.

Di ruang kerjanya, Sena menonton rekaman investigasi itu sembari membaca laporan latar belakang Padma.

Seulas senyum mengembang di bibirnya saat mendengar penjelasan gadis itu.

Masih sama seperti belasan tahun lalu. Cerdas dan Lugas. Terlalu cerdas untuk anak seusianya. Sikap dan caranya berbicara masih sama—hanya lebih dewasa.

Memori Sena tertarik ke sebuah kejadian hampir enam belas tahun silam.

Di sebuah gang perkampungan, Sena menyeret kakinya menuju rumah berpagar hijau. Darah mengucur deras dari tubuhnya yang penuh luka.

Di depan pintu rumah itu, ia hanya sempat mengetuk sekali sebelum ambruk.

Seorang anak perempuan berusia sebelas tahun keluar dan mendapati tubuhnya tergeletak. Ia langsung menoleh ke kiri dan kanan, memastikan tak ada yang melihat, lalu menyeret tubuh Sena masuk ke dalam rumah dan berlari membangunkan ayahnya.

Di sofa rumah mereka, gadis itu membantu ayahnya membersihkan dan menjahit luka Sena. Tak ada rasa takut sedikit pun melihat darah dan luka menganga di depan matanya.

Dia bahkan sempat keluar membersihkan ceceran darah di sekitar rumah, memastikan tak ada jejak yang mengarah ke tempat tinggal mereka. Adik laki-lakinya yang berusia tujuh tahun membantu dengan setia, mengikuti ke mana pun kakaknya melangkah.

Begitu matanya terbuka, Sena mendengar suara.

"Kau sudah bangun? Baguslah, jangan mati di sini, menyusahkan ayahku," gadis itu berkata.

"Hush, ngomong apa sih kamu, Padma. Bilang saja kamu bersyukur Kak Sena selamat," ayahnya menegur.

"Maaf, Dok, saya merepotkan lagi," ucap Sena, meringis menahan sakit.

"Makan dulu, itu Padma sudah buatkan bubur untukmu," ucap Dokter Wicaksono—yang akrab dipanggil Dokter Wicak—kepada Sena. "Setelah itu, minum semua obat sesuai dosis."

"Ini, makan pelan-pelan, masih panas," ucap gadis itu ketus.

Sena menerima semangkuk bubur hangat dan menghabiskannya perlahan sampai tandas. Gadis itu mengawasinya, memastikan ia meminum semua obat yang diresepkan ayahnya.

Dua bulan lamanya Sena tinggal di rumah Dokter Wicak, sampai suatu malam ia tiba-tiba pergi menghilang. Yang tersisa hanya secarik memo—Aku akan membalas budi baikmu—dan sebuah pin Elang Hitam bergaris emas.

Lamunan Sena terhenti ketika pintu kantornya diketuk. Tampak wajah Aji di depan pintu.

"Bos," ucap Aji pelan.

***

Anggota auditor saling berpandangan ketika satu per satu data yang dilaporkan oleh Padma terbukti valid.

"Ini bukan hanya di cabang timur, kuat dugaan saya ada campur tangan orang pusat untuk memuluskan penipuan ini," ucap Padma tenang.

Auditor dan investigator di ruangan itu tercekat. Bila dugaan gadis ini benar, jelas ini bukan perkara kecil, melainkan masalah sistemik.

"Jelaskan maksud Anda." Salah seorang dari mereka angkat bicara.

Namun, sebelum sempat Padma menjawab, pintu ruang investigasi terbuka. Reno masuk lebih dulu. Padma menoleh. Di belakang Reno, seorang pria melangkah masuk. Seketika semua orang menahan napas.

Sena masuk dan langsung duduk berhadapan dengan Padma di seberang meja.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • No Saint Left   Bab 5

    Jejeran meja dan kursi di depot tua ini masih terlihat sama. Dinding yang sebagian mengelupas, dan kipas angin tua masih bertengger di tempat yang sama. Sena dan Padma mengambil meja di sudut depot Jaya. Dua mangkuk mie kuah kepiting beserta sumpit sudah tersedia diatas meja. Asap dan aroma kaldu kepiting yang gurih memenuhi ruangan. Tanpa basa-basi, Padma langsung menuang acar dan kecap asin dengan potongan cabe hijau ke dalam mangkuknya. Dengan sumpit dia memasukkan mie yang masih terlihat panas ke dalam mulutnya. Kepalanya bergoyang pelan tanda nikmat.“Pelan-pelan, mie itu tidak akan kemana-mana,”kata Sena melihat Padma yang makan dengan lahap.“Mie ini paling enak dimakan panas-panas,” balas Padma,”Makanya dulu kalau ayah bawa pulang buat kamu, aku senewen, rasanya jadi beda,” celetuknya.Sena ingat dulu karena dia sering berkelahi untuk membalas kematian ayahnya, setiap kali dia terluka dan dirawat dokter Wicak, setiap kali itu pula kucing liar ini mengamuk melihat tubuhnya ya

  • No Saint Left   Bab 4

    Begitu Padma melangkah memasuki halaman kantor cabang, percakapan langsung terputus. Kepala-kepala menoleh. Bisik-bisik mulai menjalar mengikuti setiap langkahnya.Seorang petugas menggenggam lengan Padma erat, sementara seorang lainnya membuntuti dari belakang.Begitu sampai, mereka langsung menuju ruangan tempat Padma bekerja. Satu orang berjalan ke arah meja kantor milik Padma, seorang lagi mengosongkan isi lemari dan menyortir berkas serta kertas invoice yang ada di ruangan itu.Wajah Padma tetap datar. Jemarinya mengeluarkan berkas satu demi satu dari lemari arsip. Di balik gerakan yang tampak biasa, ia menyelipkan isyarat halus: boks biru, boks merah. Sesekali ia dipanggil petugas yang satunya untuk mengonfirmasi beberapa hal di komputer ruangannya.Tak lama kemudian, Padma bersama petugas lainnya masuk ke ruang server kantor cabang. Tak ada seorang pun yang tahu apa yang mereka lakukan di dalam. Semua orang menduga petugas kantor pusat sedang melakukan forensik digital atas tra

  • No Saint Left   Bab 3

    Keheningan meliputi ruang tempat mereka makan. Hanya terdengar detak jam di dinding. Padma meneguk minumannya. Perlahan dia berkata,“Dia sengaja menolak pengajuan pinjaman karyawan dua tahun lalu saat oma sakit,”Mata Padma melesatkan rasa perih.“Penolakan yang dia lakukan, membuat operasi hati oma tertunda hingga dua bulan karena butuh proses lebih lama untuk gadaikan rumah,” ujar Padma pelan. Dahi Sena berkerut dalam. Bibirnya bergetar tipis seakan menahan amarah.“Kerusakan jaringan semakin parah selama proses menunggu,hingga akhirnya oma tiada tepat di hari dia bertunangan dengan keponakan direktur keuangan,” kata Padma tertahan. “Apa alasan penolakan? Dua tahun lalu kamu sudah pegawai tetap kan, kamu berhak mengambil pinjaman karyawan?”“Awalnya aku tidak tahu alasan penolakan, namun ketika aku tahu dia yang menolak, bagiku alasannya cukup benderang,” ucap Padma, “Jelas personal,”ungkapnya.“Jika kamu sudah mengenaliku seharusnya…”,“Seharusnya aku menghubungimu? Atau mendobr

  • No Saint Left   Bab 2

    Bab 2"Karena Pak Akseyna sudah hadir, jelaskan lagi dugaan Anda bahwa ini jauh lebih besar dari yang terlihat," ucap salah seorang auditor.Setiap mata tertuju pada Padma. Anehnya, Padma malah mengambil botol minuman yang ada di depannya sambil tersenyum kecil., "Apakah ada spidol dan papan tulis kecil? Saya akan jelaskan supaya lebih mudah dimengerti," tanya Padma menyarankan.Salah seorang petugas keluar dan membawa sebuah papan tulis ukuran sedang ke dalam ruangan. Padma berdiri dan mulai mencorat-coret papan tulis yang ada."Setiap transaksi dan akad kredit pasti ada kode invoice-nya," ucap Padma. "Invoice itu semua kodenya terlihat acak, padahal tidak," jelasnya lagi sembari mengamati reaksi orang-orang di dalam ruangan."Dua kode awal menunjuk pada cabang, dua kode berikutnya adalah jenis transaksi, dua kode berikutnya adalah kode petugas, dan empat kode di belakang adalah tanggal, setelahnya ada kode acak sistem. Random, namun pada hari tertentu yang disepakati, kode itu menja

  • No Saint Left   Bab 1

    Bab 1Sena membenci laporan yang datang di pagi hari. Bukan karena isinya.Dia sudah lama berhenti terkejut oleh pengkhianatan Laporan pagi selalu berarti seseorang, di suatu tempat, sedang berpikir mereka bisa lolos.Mobil berhenti tepat di depan lobi. Ia tidak menunggu sopir membukakan pintu. Kepala-kepala menunduk begitu ia melewati mereka, sebuah refleks yang sudah lama berhenti terasa seperti penghormatan, dan lebih terasa seperti rasa takut yang dipoles menjadi sopan santun.Di kantornya yang terletak di lantai tertinggi gedung perkantoran itu, Sena langsung bertanya, "Siapa pengirim laporan dugaan penyelewengan dana perusahaan kita?""Anonim, tetapi tim IT kita masih berusaha melacak jejaknya lewat log akses internal," ucap asistennya, Reno."Satu jam. Periksa apakah data yang dikirimkan benar, dan siapa pengirimnya harus bisa terdeteksi," ucap Sena. "Bila dugaan ini benar, reputasi perusahaan kita taruhannya."Reno langsung beranjak keluar dan memerintahkan bawahannya untuk men

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status