Share

Bab 4

Author: Luinna Hart
last update publish date: 2026-08-03 19:26:20

Begitu Padma melangkah memasuki halaman kantor cabang, percakapan langsung terputus. Kepala-kepala menoleh. Bisik-bisik mulai menjalar mengikuti setiap langkahnya.

Seorang petugas menggenggam lengan Padma erat, sementara seorang lainnya membuntuti dari belakang.

Begitu sampai, mereka langsung menuju ruangan tempat Padma bekerja. Satu orang berjalan ke arah meja kantor milik Padma, seorang lagi mengosongkan isi lemari dan menyortir berkas serta kertas invoice yang ada di ruangan itu.

Wajah Padma tetap datar. Jemarinya mengeluarkan berkas satu demi satu dari lemari arsip. Di balik gerakan yang tampak biasa, ia menyelipkan isyarat halus: boks biru, boks merah. Sesekali ia dipanggil petugas yang satunya untuk mengonfirmasi beberapa hal di komputer ruangannya.

Tak lama kemudian, Padma bersama petugas lainnya masuk ke ruang server kantor cabang. Tak ada seorang pun yang tahu apa yang mereka lakukan di dalam. Semua orang menduga petugas kantor pusat sedang melakukan forensik digital atas transaksi yang diduga digelapkan Padma, penyelidikan yang bahkan kepala cabang sendiri tak punya kuasa untuk menghalangi.

Namun begitu berada di dalam ruangan server, petugas tadi langsung menyambungkan server cabang ke laptopnya. Dia mulai melakukan replikasi dan penyadapan jaringan lokal intranet kantor cabang, sekaligus menanamkan program monitoring , semua di bawah pengawasan Padma.

Begitu proses replikasi dan penyadapan selesai, petugas itu keluar dengan wajah garang, diikuti Padma yang menunduk. Setelahnya, dengan membawa dua boks kertas berkas, mereka bertiga masuk ke sebuah minibus.

"Bu Padma, mohon maaf kalau tadi saya menarik tangan Ibu terlalu keras," ujar salah seorang dari mereka.

"Gak apa-apa, justru itu bagus, memang harus meyakinkan," kata Padma sambil tersenyum.

"Sekarang kita tinggal melihat mereka bergerak. Investigasi sesungguhnya dimulai ketika mereka mulai membersihkan dan memindahkan laporan maupun aset,"jelas Padma ketika mobil mulai meninggalkan lokasi kantor cabang timur.

Sementara itu, di ruangan kepala cabang, beberapa orang melaporkan situasi yang mereka lihat.

"Bagaimana, Pak? Apa kita perlu melapor ke manajer pusat soal ini?"

"Tunggu dulu, kita lihat dulu sejauh mana mereka akan menginvestigasi."

"Saya tidak menyangka Padma yang biasanya selalu berhati-hati bisa ketahuan. Saya takut kita juga akan ketahuan," kata salah seorang dari mereka.

"Betul, Pak. Saran saya, kita mulai bereskan berkas yang bermasalah," salah seorang menyarankan.

"Apa nanti tidak akan memicu alarm sistem monitoring?" tanya kepala cabang.

"Tenang, Pak, selama mengikuti arahan saya, seharusnya tidak akan memicu alarm sistem pusat," ujar salah seorang dari mereka, IT support kantor cabang.

Padma benar. Kurang dari tiga jam kemudian, server lokal mulai "berdarah", sejumlah besar berkas dihapus, masih dalam ambang yang terlihat normal bagi sistem utama, tapi cukup untuk memicu program monitoring merekam dan melakukan trace otomatis.

Malamnya, salah seorang petugas kantor cabang timur berusaha menemui Padma di rumahnya. Rumah itu sepi. Ia ingin memastikan Padma akan tutup mulut, supaya penyelidikan berhenti di dirinya saja. Tak mendapati Padma di sana, ia mulai mengirim pesan teks dan pesan suara ke nomor WA Padma. Hanya centang satu. Pria itu semakin panik dalam ketidakpastian.

Sementara itu, di kantor pusat yang dijadikan markas investigasi, Padma dan tim auditor memeriksa setiap laporan yang dikirim sistem monitoring. Mereka memilah dan mencocokkan data yang masuk.

Hampir setiap hari, tanpa henti, mereka mencocokkan transaksi dengan jurnal dan laporan neraca keuangan kantor cabang timur.

Beberapa minggu berlalu, kantor cabang timur tak menyadari pergerakan mereka sudah terlacak oleh tim investigasi yang dikomandoi Padma. Mereka mengira hanya Padma yang ketahuan.

Satu per satu, bukti konkret penyelewengan dan penggelapan transaksi di kantor cabang timur tersusun lengkap.

Untuk menghindari kecurigaan, audit rutin tetap dijalankan di semua cabang sesuai jadwal biasa. Tak ada yang aneh di permukaan. Yang berbeda, mereka tak hanya melihat dan menyalin berkas, tapi juga diam-diam menyusupkan program monitoring ke server tiap cabang.

Sebuah rumor berembus: petugas yang melakukan kejahatan di cabang timur ternyata punya jaringan di cabang lain, bahkan sampai ke kantor pusat.

Begitu rumor itu menyebar kencang, beberapa cabang lain langsung melakukan hal yang sama seperti cabang timur.

Terjadi pergerakan tidak lazim dalam sistem digital manajemen perusahaan — tepat seperti perkiraan Padma. Pekerjaan tim investigasi semakin bertambah untuk memilah informasi, data, dan berkas yang terkumpul.

Malam itu, Padma bekerja di ruangannya, memeriksa berlembar-lembar data dan hasil forensik digital yang terindikasi tidak wajar oleh sistem. Beberapa orang sudah pulang, hanya menyisakan Padma di ruangan yang sunyi.

Padma mengusap dan memijat matanya yang lelah dan perih. Sebuah langkah kaki terdengar di lorong yang sepi.

KRIET!

Pintu ruangan Padma terbuka. Sena masuk dan mendapati Padma menyandarkan kepala ke sandaran kursi, matanya terpejam.

"Seharusnya kau pulang," kata Sena lembut.

"Aku sudah berjanji menyelesaikannya."

"Tak perlu terburu-buru. Lakukan dengan sabar," Sena berbicara sambil meletakkan sebotol jus dingin di atas meja. "Berburu butuh kesabaran."

Padma membuka mata, melihat wajah laki-laki itu di bawah lampu kantor. Ia membuka botol jus dan meminumnya separuh.

"Tinggalkan pekerjaanmu, temani aku makan," perintah Sena.

"Aku gak lapar, tadi sudah makan," elak Padma, tak ingin diperintah.

"Oh... aku pikir kamu akan suka mie kuah kepiting Depot Jaya," kata Sena.

Mendengar nama menu itu, Padma langsung berdiri, menyambar tasnya.

"Kalau itu lain cerita. Ayo, aku lapar," jawab Padma cepat.

Sena tersenyum melihat tingkah gadis itu. Menu ini memang kelemahannya.

Begitu pintu lobi terbuka, udara malam menyambut mereka. Sena berjalan setengah langkah di depan Padma.

Di seberang jalan...

Kilatan kamera menyala.

Klik.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • No Saint Left   Tersangka

    Mikhael berdiri di dalam ruangan yang hanya diterangi cahaya dari layar laptop.Wajahnya tetap tenang, tetapi jemarinya mengepal ketika suara di ujung telepon memberitahukan sesuatu yang tidak ingin didengarnya.“Berapa?”“Semua rekening yang terhubung sudah diperiksa. Dana hilang.”“Tidak mungkin.”“Kami sudah memeriksa ulang.”Mikhael berjalan menuju jendela.“Berapa banyak?”“Jumlahnya sangat besar. Bukan hanya rekening Harry. Beberapa rekening yang terhubung dengan jaringan kita juga kosong.”Mikhael terdiam. Harry tidak mungkin melakukannya. Dia bahkan sudah berada di penjara dan tidak memiliki akses untuk memindahkan dana sebanyak itu.“Cari tahu siapa yang melakukannya.”“Kami sedang mencoba.”“Jangan mencoba. Temukan.”Mikhael memutus sambungan, sesaat kemudian teleponnya kembali berdering.“Bagaimana?”Suara di seberang terdengar lebih rendah.“Ada satu nama.”Mikhael mengerutkan kening, “Siapa?”“Ghost.”Mikhael terdiam, Nama itu pernah ia dengar.Seorang hacker yang reputas

  • No Saint Left   Masa Lalu Padma (2)

    Padma berusia empat belas tahun ketika semuanya berubah.Hari itu rumah dalam keadaan sepi. Retno dan anak-anaknya pergi mengikuti kegiatan wisata sekolah. Padma seharusnya ikut, tetapi uang bulanan yang biasanya diterima selama tiga bulan terakhir tidak kunjung masuk.Dia memilih tinggal di rumah bersama Bima. Suryo tidak pernah ada di rumah. Sepulang sekolah, Padma mandi dan berganti pakaian. Dia baru saja keluar dari kamar mandi dengandater dan handuk di kepalanya ketika mendengar suara pintu.Dia mengira Bima baru pulang dari bermain. Namun ketika keluar dari kamar, ia melihat Suryo. Pamannya berdiri di sana.Tatapan pria itu membuat Padma merasa tidak nyaman.“Om?”Suryo tidak menjawab, dan justru bergerak mendekat. Padma yang baru saja mandi memancarkan bau harum yang segar. Tubuh remajanya mulai berbentuk, apalagi wajah Padma yang cantik dan kulit yang mulus bak pualam membuat mata Suryo menggelap. Padma mundur. Ada sesuatu dalam sorot mata pria itu yang membuat seluruh tubuh

  • No Saint Left   Masa Lalu Padma (1)

    Bab 42 — Masa Lalu PadmaPadma berusia sebelas tahun ketika untuk pertama kalinya ia memahami bahwa kematian bisa membuat sebuah keluarga berubah menjadi sekumpulan orang asing.Dia berdiri di samping Bima di pemakaman ayah mereka.Seragam hitam yang dikenakannya terasa terlalu besar. Tangannya menggenggam tangan adiknya erat-erat, sementara Bima yang masih kecil tidak berhenti menangis sejak peti jenazah diturunkan ke liang lahat.Padma sendiri tidak menangis.Bukan karena ia tidak sedih.Dia hanya belum mengerti bagaimana caranya menerima kenyataan bahwa orang yang selama ini selalu pulang kepadanya kini tidak akan pernah pulang lagi. Sepanjang perjalanan kembali dari pemakaman, suasana di dalam rumah justru semakin buruk. Suara orang dewasa terdengar dari ruang tengah.“Anak-anak itu harus tinggal dengan keluarga yang bisa mengurus mereka.”“Rumah ini terlalu jauh dari sekolah.”“Siapa yang akan membayar kebutuhan mereka?”“Jangan lupa, masih ada nenek mereka.”Padma berdiri di bal

  • No Saint Left   Tamu Tak Diundang

    Padma baru saja mematikan mesin mobil ketika sesuatu di teras rumahnya menarik perhatian.Sebuah pot bunga.Pot itu diletakkan tepat di samping pintu masuk, berisi tanaman kecil dengan bunga putih yang belum pernah dia lihat sebelumnya. Padma mengernyit. Ia yakin pot itu tidak ada ketika dirinya pergi pagi tadi.Pandangan Padma kemudian beralih ke halaman. Sebuah sepeda motor terparkir di sana. Bukan miliknya. Bukan milik Bima. Dia juga tidak mengenali kendaraan tersebut.Padma berdiri beberapa detik, mengamati rumahnya.Sepertinya aku benar-benar harus memasang CCTV.Beberapa kejadian terakhir membuatnya mulai menyadari bahwa rumah yang selama ini dianggap aman justru terlalu mudah dimasuki orang lain.Dia mengambil tas dan masuk, “Bima?”Tidak ada jawaban.Padma melangkah menuju ruang tengah, lalu berhenti. Seorang wanita paruh baya duduk di sofa. Di hadapannya ada Bima dengan wajah yang jelas-jelas menunjukkan ketidaksenangan.Padma langsung mengenalinya.“Tante Retno?”Retno Wicak

  • No Saint Left   Sup Ayam

    Suara tembakan menggema di basement rumah Sena.Dor!Peluru menembus tepat di tengah lingkaran target.Padma menurunkan pistol perlahan, mengatur napas, lalu kembali mengangkat senjata.Dor!Kali ini sedikit bergeser ke kanan.Joni yang berdiri beberapa meter di belakangnya memperhatikan tanpa banyak bicara. Selama beberapa minggu terakhir, kemampuan menembak Padma berkembang cukup pesat. Ia sudah jauh lebih tenang, mampu mengendalikan napas, dan tidak lagi ragu ketika harus menarik pelatuk.Namun ada satu hal yang tidak banyak berubah.Kemampuan bela dirinya.Sebelum latihan menembk, tadi dia berlatih bela diri dengan Joni, dan mereka berlatih memasuki tahap yang mengharuskan tubuh Padma bersentuhan langsung dengan lawan. Saat itulah gerakannya berubah. Bahunya menegang, napasnya menjadi pendek, dan sesekali ia bahkan kehilangan fokus ketika tangan Joni harus menangkap pergelangan tangannya untuk memperbaiki posisi.Joni akhirnya menghentikan latihan.“Padma.”Padma menoleh.“Ya?”“A

  • No Saint Left   Lancang

    Selama seminggu terakhir, Harry Handoyo hidup dalam ketakutan yang tidak pernah memberinya kesempatan untuk bernapas lega.Setiap kali lampu sel padam, ia tidak pernah benar-benar tidur. Suara langkah kaki di lorong membuat tubuhnya menegang. Bunyi pintu besi yang dibuka di sel lain selalu membuat pikirannya dipenuhi kemungkinan paling buruk.Serigala Merah sudah meninggalkannya.Harry tahu itu.Dan sejak kejadian di ruang makan, ia tidak lagi yakin akan melihat matahari keesokan harinya. Malam itu, suara kunci kembali terdengar. Harry langsung terbangun. Dua orang sipir berdiri di depan selnya.“Berdiri.”Harry menatap mereka dengan curiga, “Untuk apa?”“Jangan banyak bertanya.”Jantungnya berdegup semakin cepat ketika kedua tangannya diborgol dan sebuah kain hitam menutupi kepalanya.Tidak ada penjelasan.Tidak ada surat.Tidak ada kesempatan untuk bertanya kepada siapa pun.Harry berjalan di antara dua orang tersebut dengan langkah gemetar. Ia dibawa melewati lorong yang tidak dike

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status