Share

Bab 5

Author: Luinna Hart
last update Petsa ng paglalathala: 2026-08-04 09:10:05

Jejeran meja dan kursi di depot tua ini masih terlihat sama. Dinding yang sebagian mengelupas, dan kipas angin tua masih bertengger di tempat yang sama.

Sena dan Padma mengambil meja di sudut depot Jaya. Dua mangkuk mie kuah kepiting beserta sumpit sudah tersedia diatas meja. Asap dan aroma kaldu kepiting yang gurih memenuhi ruangan.

Tanpa basa-basi, Padma langsung menuang acar dan kecap asin dengan potongan cabe hijau ke dalam mangkuknya. Dengan sumpit dia memasukkan mie yang masih terlihat panas ke dalam mulutnya. Kepalanya bergoyang pelan tanda nikmat.

“Pelan-pelan, mie itu tidak akan kemana-mana,”kata Sena melihat Padma yang makan dengan lahap.

“Mie ini paling enak dimakan panas-panas,” balas Padma,”Makanya dulu kalau ayah bawa pulang buat kamu, aku senewen, rasanya jadi beda,” celetuknya.

Sena ingat dulu karena dia sering berkelahi untuk membalas kematian ayahnya, setiap kali dia terluka dan dirawat dokter Wicak, setiap kali itu pula kucing liar ini mengamuk melihat tubuhnya yang penuh luka.

Mie kuah kepiting ini selalu jadi alat pendamaian keduanya. Dulu Sena tidak paham mengapa walau dibawakan makanan kesukaannya, gadis ini masih mengomel. Sekarang dia tahu alasannya.

“Kapan kamu berencana mulai memanggil orang-orang yang terlibat?” tanya Sena.

“Begitu bukti tersusun solid, kami akan mulai memanggil,” jawab Padma, “Aku berencana memanggil serentak semua cabang di kota ini dulu, dadakan sehingga tak ada waktu berkelit,” ucap Padma.

“Sayangnya, kami kekurangan orang, bagaimana menurutmu?” tanya padma sambil menatap Sena.

“Bagaimana kalau kita culik orang-orang kunci yang terlibat di cabang?” Balas Sena, “Operasi senyap dulu, kumpulkan dan validasi bukti penting, baru kemudian otak kejahatannya.” Jelas Sena.

“ Culik? Wah…Sangat elang hitam,”kata Padma, “tidak buruk bila hanya beberapa orang namun bila banyak orang, itu justru memancing reaksi tak perlu,” kritik Padma, “Namun, akan kupertimbangkan dengan tim.”

Sena melihat gadis itu lekat-lekat.

“Apakah kau akan melakukan secara prosedural?” tanya Sena.

“Belum kuputuskan, seperti yang kubilang, itu bukan ide buruk, hanya kita perlu perhitungkan apa.siapa dan konsekuensinya,” jawab Padma dengan mimik serius.

Sena tak ingin berdebat dan memilih memberi ruang bagi idealisme Padma, toh dia akan selalu siap untuk membackup apapun keputusan gadis itu.

“ Kamu mau tambah?” tanya Sena lembut.

“Enough,” Padma menjawab singkat sambil menyeka mulutnya.

Sena mengantarkan Padma di depan gang depan rumahnya.

“Sudah malam, biarkan Aji menguntitmu dari jauh,” perintah Sena.

Kali ini Padma tak menolak. Dia menganggukkan kepala dan segera keluar dari mobil. Tak lama kemudian Aji berjalan menguntit dari belakang.

Saat dekat dengan pagar rumahnya, seseorang mendekati Padma secara tiba-tiba. Aji hampir saja akan menolong, ketika dia melihat kode dari Padma untuk mundur. Ragu dengan apa yang terjadi, Aji memilih merekam pertemuan Padma dan sosok tak dikenalnya.

“Benny, ngapain kamu di sini?” tanya Padma.

“Aku sudah berkali kali mencarimu, rumahmu selalu kosong,” kata Benny.

“Aku sedang menghindari investigator,”jawab Padma.

“Kok bisa kamu ketahuan?” tanya Benny,”kamu gak bocorin info tentang jaringan kita kan?” cecarnya.

“Nggak lah, aku takut,”jawab Padma dengan mimik pura-pura. takut.

“Awas kalau kamu bocorkan, mati kamu!” Ancam Benny.

Padma menganggukan kepalanya dan hendak masuk ke halaman rumahnya ketka tiba-tiba Benny menarik tangan Padma dengan keras hingga terpelanting. Sontak, Padma meronta menolak, Aji yang melihat ingin menolong ketika terdengar suara, “Hei lepaskan kakakku,” terdengar suara teriakan Bima adik Padma.

Benny yang melihat ada yang datang langsung segera berlari menjauh. Ketika Aji melihat Benny berlari ke arahnya, Aji langsung menendang batu ke arah Benny yang membuatnya jatuh terguling.

Aji terus memperhatikan Padma dan adiknya Bima.

“Kak, kamu gak papa?” tanya Bima sambil membantu kakaknya berdiri. Dari reaksi kakaknya Bima tahu, kakaknya belum melupakan kejadian belasan tahun lalu itu.

Dengan napas tersenggal, Padma berusaha menguasai dirinya. “Gak papa Bim, aku gak papa,” ucapnya lebih seperti menyakinkan dirinya ketimbang Bima.

“Siapa bajingan itu?” tanya Bima.

“Teman kerjaku,” ucap Padma.

“Lalu yang mengajakmu makan di depot Jaya?”

Padma tersentak mendengar pertanyaan Bima.

“Kamu menguntitku?” tanya Padma.

“Memastikan keselamatanmu,”jawab Bima “Jadi, dia siapa?”

“Bukan urusanmu, jawab Padma singkat, lalu dia melihat ekspresi Bima, “Sena,”jawabnya pendek.

“Sena? … Akseyna? Sena yang itu?” tanya Bima tak percaya.

“Ya, Sena yang itu.” Jawab Padma seakan tahu maksud adiknya.

“Kalau dia kembali, mereka juga akan kembali kak,” jawab Bima khawatir. Padma membisu.

Sementara itu, di dalam mobil, Sena memutar ulang rekaman yang dikirim Aji.

Sekali.

Dua kali.

Tiga kali.

Tatapannya berhenti tepat saat jemari Benny mencengkeram pergelangan tangan Padma.

Tidak ada perubahan pada wajah Sena.

Justru itulah yang membuat udara di dalam mobil mendadak terasa berat.

Reno menatap lurus ke depan.

Aji ikut menahan napas.

Mereka berdua mengenal ekspresi itu.

Setiap kali Sena menjadi setenang itu...

...selalu ada seseorang yang tidak akan pernah bisa kembali menjalani hidupnya seperti semula.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • No Saint Left   Tersangka

    Mikhael berdiri di dalam ruangan yang hanya diterangi cahaya dari layar laptop.Wajahnya tetap tenang, tetapi jemarinya mengepal ketika suara di ujung telepon memberitahukan sesuatu yang tidak ingin didengarnya.“Berapa?”“Semua rekening yang terhubung sudah diperiksa. Dana hilang.”“Tidak mungkin.”“Kami sudah memeriksa ulang.”Mikhael berjalan menuju jendela.“Berapa banyak?”“Jumlahnya sangat besar. Bukan hanya rekening Harry. Beberapa rekening yang terhubung dengan jaringan kita juga kosong.”Mikhael terdiam. Harry tidak mungkin melakukannya. Dia bahkan sudah berada di penjara dan tidak memiliki akses untuk memindahkan dana sebanyak itu.“Cari tahu siapa yang melakukannya.”“Kami sedang mencoba.”“Jangan mencoba. Temukan.”Mikhael memutus sambungan, sesaat kemudian teleponnya kembali berdering.“Bagaimana?”Suara di seberang terdengar lebih rendah.“Ada satu nama.”Mikhael mengerutkan kening, “Siapa?”“Ghost.”Mikhael terdiam, Nama itu pernah ia dengar.Seorang hacker yang reputas

  • No Saint Left   Masa Lalu Padma (2)

    Padma berusia empat belas tahun ketika semuanya berubah.Hari itu rumah dalam keadaan sepi. Retno dan anak-anaknya pergi mengikuti kegiatan wisata sekolah. Padma seharusnya ikut, tetapi uang bulanan yang biasanya diterima selama tiga bulan terakhir tidak kunjung masuk.Dia memilih tinggal di rumah bersama Bima. Suryo tidak pernah ada di rumah. Sepulang sekolah, Padma mandi dan berganti pakaian. Dia baru saja keluar dari kamar mandi dengandater dan handuk di kepalanya ketika mendengar suara pintu.Dia mengira Bima baru pulang dari bermain. Namun ketika keluar dari kamar, ia melihat Suryo. Pamannya berdiri di sana.Tatapan pria itu membuat Padma merasa tidak nyaman.“Om?”Suryo tidak menjawab, dan justru bergerak mendekat. Padma yang baru saja mandi memancarkan bau harum yang segar. Tubuh remajanya mulai berbentuk, apalagi wajah Padma yang cantik dan kulit yang mulus bak pualam membuat mata Suryo menggelap. Padma mundur. Ada sesuatu dalam sorot mata pria itu yang membuat seluruh tubuh

  • No Saint Left   Masa Lalu Padma (1)

    Bab 42 — Masa Lalu PadmaPadma berusia sebelas tahun ketika untuk pertama kalinya ia memahami bahwa kematian bisa membuat sebuah keluarga berubah menjadi sekumpulan orang asing.Dia berdiri di samping Bima di pemakaman ayah mereka.Seragam hitam yang dikenakannya terasa terlalu besar. Tangannya menggenggam tangan adiknya erat-erat, sementara Bima yang masih kecil tidak berhenti menangis sejak peti jenazah diturunkan ke liang lahat.Padma sendiri tidak menangis.Bukan karena ia tidak sedih.Dia hanya belum mengerti bagaimana caranya menerima kenyataan bahwa orang yang selama ini selalu pulang kepadanya kini tidak akan pernah pulang lagi. Sepanjang perjalanan kembali dari pemakaman, suasana di dalam rumah justru semakin buruk. Suara orang dewasa terdengar dari ruang tengah.“Anak-anak itu harus tinggal dengan keluarga yang bisa mengurus mereka.”“Rumah ini terlalu jauh dari sekolah.”“Siapa yang akan membayar kebutuhan mereka?”“Jangan lupa, masih ada nenek mereka.”Padma berdiri di bal

  • No Saint Left   Tamu Tak Diundang

    Padma baru saja mematikan mesin mobil ketika sesuatu di teras rumahnya menarik perhatian.Sebuah pot bunga.Pot itu diletakkan tepat di samping pintu masuk, berisi tanaman kecil dengan bunga putih yang belum pernah dia lihat sebelumnya. Padma mengernyit. Ia yakin pot itu tidak ada ketika dirinya pergi pagi tadi.Pandangan Padma kemudian beralih ke halaman. Sebuah sepeda motor terparkir di sana. Bukan miliknya. Bukan milik Bima. Dia juga tidak mengenali kendaraan tersebut.Padma berdiri beberapa detik, mengamati rumahnya.Sepertinya aku benar-benar harus memasang CCTV.Beberapa kejadian terakhir membuatnya mulai menyadari bahwa rumah yang selama ini dianggap aman justru terlalu mudah dimasuki orang lain.Dia mengambil tas dan masuk, “Bima?”Tidak ada jawaban.Padma melangkah menuju ruang tengah, lalu berhenti. Seorang wanita paruh baya duduk di sofa. Di hadapannya ada Bima dengan wajah yang jelas-jelas menunjukkan ketidaksenangan.Padma langsung mengenalinya.“Tante Retno?”Retno Wicak

  • No Saint Left   Sup Ayam

    Suara tembakan menggema di basement rumah Sena.Dor!Peluru menembus tepat di tengah lingkaran target.Padma menurunkan pistol perlahan, mengatur napas, lalu kembali mengangkat senjata.Dor!Kali ini sedikit bergeser ke kanan.Joni yang berdiri beberapa meter di belakangnya memperhatikan tanpa banyak bicara. Selama beberapa minggu terakhir, kemampuan menembak Padma berkembang cukup pesat. Ia sudah jauh lebih tenang, mampu mengendalikan napas, dan tidak lagi ragu ketika harus menarik pelatuk.Namun ada satu hal yang tidak banyak berubah.Kemampuan bela dirinya.Sebelum latihan menembk, tadi dia berlatih bela diri dengan Joni, dan mereka berlatih memasuki tahap yang mengharuskan tubuh Padma bersentuhan langsung dengan lawan. Saat itulah gerakannya berubah. Bahunya menegang, napasnya menjadi pendek, dan sesekali ia bahkan kehilangan fokus ketika tangan Joni harus menangkap pergelangan tangannya untuk memperbaiki posisi.Joni akhirnya menghentikan latihan.“Padma.”Padma menoleh.“Ya?”“A

  • No Saint Left   Lancang

    Selama seminggu terakhir, Harry Handoyo hidup dalam ketakutan yang tidak pernah memberinya kesempatan untuk bernapas lega.Setiap kali lampu sel padam, ia tidak pernah benar-benar tidur. Suara langkah kaki di lorong membuat tubuhnya menegang. Bunyi pintu besi yang dibuka di sel lain selalu membuat pikirannya dipenuhi kemungkinan paling buruk.Serigala Merah sudah meninggalkannya.Harry tahu itu.Dan sejak kejadian di ruang makan, ia tidak lagi yakin akan melihat matahari keesokan harinya. Malam itu, suara kunci kembali terdengar. Harry langsung terbangun. Dua orang sipir berdiri di depan selnya.“Berdiri.”Harry menatap mereka dengan curiga, “Untuk apa?”“Jangan banyak bertanya.”Jantungnya berdegup semakin cepat ketika kedua tangannya diborgol dan sebuah kain hitam menutupi kepalanya.Tidak ada penjelasan.Tidak ada surat.Tidak ada kesempatan untuk bertanya kepada siapa pun.Harry berjalan di antara dua orang tersebut dengan langkah gemetar. Ia dibawa melewati lorong yang tidak dike

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status