Share

Bab 7

Author: Luinna Hart
last update publish date: 2026-08-06 11:55:12

​Sinyal peringatan yang menyala di layar utama kantor pusat segera menyebarkan gelombang gelisah ke seluruh jaringan manajemen Synergic Multifinance. Di lantai atas gedung pusat, Harry Handoyo, sang manajer keuangan, tampak kewalahan menghadapi dering telepon yang tak berhenti menyalak dari meja kerjanya.

​Para kepala cabang, tidak hanya dari kota S tetapi juga dari beberapa wilayah cabang di kota lain, terus menerus menghubungi ponsel pribadinya. Mereka semua melontarkan pertanyaan panik yang sama: apakah praktik kecurangan serta manipulasi laporan keuangan yang selama ini mereka lakukan sudah tercium oleh tim audit pusat, dan bagaimana nasib mereka jika sampai terseret ke ranah hukum?

​Dengan pelipis yang mulai dibasahi keringat dingin, Harry Handoyo berusaha menenangkan mereka satu per satu. Ia menegaskan dengan tenang bahwa hasil pemeriksaan audit berkala sejauh ini masih dinyatakan normal tanpa ada temuan yang mencurigakan. Harry berulang kali meminta para kepala cabang untuk tetap tenang, menjaga sikap, dan tidak mengambil keputusan konyol yang justru bisa memicu kecurigaan.

​Setelah menutup sambungan telepon dari cabang terakhir, Harry segera menghubungi tim IT support pusat untuk mengonfirmasi perihal keberadaan program asing yang dilaporkan muncul secara bersamaan di server kantor multifinance cabang.

​Jawaban dari kepala tim IT pusat justru makin membingungkan. Sang kepala IT menyatakan bahwa program tersebut adalah pembaruan resmi dari pusat yang dirancang untuk membantu efisiensi sinkronisasi data antara server lokal dan server utama.

​Mendengar penjelasan itu, Harry memang merasa sedikit lega karena merasa sistem tidak sedang diretas dari luar. Namun di saat yang sama, kecurigaan baru yang lebih menakutkan mendadak merayapi pikirannya: jangan-jangan tim IT support pusat sendiri sudah diam-diam bekerja sama dengan pihak tim investigasi internal yang dibentuk oleh Padma.

​Harry paham betul bahwa ia tidak bisa lagi bergerak sendirian tanpa informasi yang pasti dari lingkaran dalam jajaran direksi. Ia merasa harus segera mengorek keterangan orang dalam melalui tunangannya saat ini, Mischa, yang merupakan keponakan kandung dari Direktur Keuangan Synergic Corp.

​Dengan jemari yang sedikit bergetar, Harry menekan serangkaian tombol di layar ponselnya.

​"Dear, malam ini ada acara kosong? Bagaimana kalau kita makan malam berdua hari ini?" tanya Harry dengan intonasi suara yang dibuat sangat lembut, manis, dan penuh perhatian saat sambungan terhubung.

​Sementara itu, di sudut kota yang berbeda, kondisi psikologis Benny sudah berada di ambang batas. Rasa takut yang terus-menerus menggerogoti pikirannya membuat pria itu selalu memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi setiap kali berkendara. Ia merasa seolah-olah ada sosok tak kasatmata yang selalu mengintai di balik kaca spionnya.

​Sore itu, begitu kendaraan Benny hendak berbelok memasuki lorong jalan menuju rumahnya, sebuah becak motor mendadak melintas memotong jalur dari arah samping dengan sangat cepat.

​Benturan keras tidak dapat terelakkan lagi. Becak motor itu terlempar ke tepi jalan dan pengemudinya tampak terkapar tidak berdaya di atas aspal.

​Dengan napas memburu dan jantung berdegup kencang, Benny keluar dari dalam mobilnya. Ia berniat memeriksa kondisi korban dan berniat menolong. Namun sebelum langkah kakinya sampai ke tempat pengemudi becak itu terbaring, belasan orang pria berpakaian gelap yang entah muncul dari mana, mendadak langsung mengepung posisi Benny.

​Tanpa ada sepatah kata pun yang terdengar dari mulut mereka, belasan pria itu langsung melayangkan serangan brutal. Bogem mentah dan tendangan keras mendarat secara bertubi-tubi di wajah, dada, dan perut Benny.

​Benny roboh ke aspal, memegangi kepalanya sambil mengerang kesakitan saat pukulan demi pukulan terus menghantam tubuhnya tanpa ampun. Dalam hitungan menit, tubuh Benny ditinggalkan begitu saja terkapar berdarah-darah di tepi jalan yang sepi. Sementara itu, becak motor beserta pengemudinya yang sempat terkapar tadi sudah lenyap dari lokasi kejadian tanpa meninggalkan jejak sama sekali.

​Di ruang kerja megahnya yang hening di gedung pusat, Sena berdiri menatap layar monitor besar. Layar itu menampilkan rekaman video langsung mengenai aksi pemukulan brutal yang baru saja menimpa Benny di tepi jalan.

​Mata Sena menatap dingin pada sosok Benny yang tergeletak lemah tak berdaya di layar. Tanpa ekspresi sedikit pun di wajahnya, Sena merogoh ponsel dari saku jasnya, lalu mengetikkan satu pesan singkat yang ditujukan langsung ke ponsel Aji:

​'Jangan biarkan mati.’

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • No Saint Left   Bab 21

    Reno melihat ponselnya, sebuah notifikasi masuk. Dia memperlihatkannya pada Padma. Padma tersenyum simpul. “Jadi kamu mau yang mana yang biru atau yang hijau?” tanya Reno pada Padma. “Hijau lebih menarik,” kata Padma.“ Oke kita langsung beli sekarang, bagaimana?” Reno menawarkan. Mereka berdua segera beranjak menuju tempat ganti pakaian yang ada di lantai atas. Sementara itu bagian keamanan akhirnya menyadari kalau mereka kecolongan, loker yang sejatinya akan digunakan sebagai umpan untuk menangkap orang yang membebaskan Benny, sekarang kosong. Keamanan di klub itu diperketat. Mereka memperhatikan setiap orang yang lalu lalang di dalam klub. Padma dan Reno yang sudah berganti pakaian menuju ke ruang lobby, menunggu mobil mereka siap. Saat Padma berdiri, seorang petugas keamanan mendekatinya. “Maaf, anda tidak bisa meninggalkan klub saat ini,” katanya. Padma tampak kebingungan. Reno mendekati petugas itu bersama Aji. “ Ini ada apa? Kenapa kami gak boleh meninggalkan klub?”P

  • No Saint Left   Bab 20

    Sebuah lamborghini kuning berhenti di sebuah pusat kebugaran. Di belakangnya sebuah mobil hitam juga berhenti. Seorang petugas layanan valet membukakan pintu. Seorang perempuan dengan rambut panjang keluar, dia mengenakan polo shirt dengan celana chino yang walaupun tak terlihat merknya namun terlihat mahal dan nyaman. Tampilannya tak mencolok, tampak sama dengan orang lain yang berseliweran di area pusat kebugaran. Di belakangnya seorang laki-laki dengan gaya pakaian yang sama tampak menyusul perempuan itu dan berjalan di sampingnya. Dua orang berpakaian hitam ada di belakang mereka menbawa duffel bag yang sekilas nampak biasa, namun bagi mata yang terlatih itu adalah tas seharga satu unit rumah kelas menengah. Laki-laki dan perempuan itu tampak akrab berbincang sambil memasuki area lobi, salah seorang pria berbaju hitam mendekati meja concierge dan memastikan identitas keduanya sebelum kemudian mengantar keduanya di ruang ganti pakaian yang privat di lantai atas. Sementara dua or

  • No Saint Left   Bab 19

    Menjelang jam makan siang.Seorang perempuan muda dengan atasan off shoulder dan celana kulit warna hitam keluar dari mobil ferrari kuning, berjalan masuk ke lobi kantor Synergic, Rambut pendeknya yang disisir edgy dan dandanan gaya bold menarik perhatian setiap orang yang melihatnya. Gayanya begitu luwes dengan sebuah tas tangan kecil yang hanya dengan melihat logonya, orang sudah tahu harganya yang bisa mencapai milyaran rupiah. Begitu melihat sosoknya, resepsionis dan security kantor langsung membukakan pintu dan mengarahkan ke lift khusus ke lantai ruangan Sena. Bertepatan saat dia menunggu, pintu lift terbuka, tampak wajah Padma dengan baju casual smart officenya, dia membawa botol minum yang sama yang tadi diberikan Sena. Perempuan itu kaget melihat seorang perempuan keluar dari lift khusus untuk Sena. Sesaat dia menoleh ke arah Padma. Dia merasa pernah bertemu Padma, wajah Padma tak asing baginya. Namun karena tak ingin Sena menunggu dia segera masuk sambil terus memikirk

  • No Saint Left   Bab 18

    Sementara itu di ruangan kantornya yang ber ac, Harry menghapus peluh di berusaha setenang mungkin mengeksekusi perintah sosok misterius yang selama ini mendukungnya. Di depan komputer kerjanya, Harry memindahkan aliran dana dari rekening yang selama ini dipakai sebagai penyimpanan ke beberapa rekening lainnya di luar negeri dan atau perusahaan cangkang yang sudah dia bangun selama tiga tahun ini. Sebuah pesan masuk. ’Babe, aku positif’Harry melirik pesan itu dan tersenyum. ‘Bagus, tepat waktu,’ ujarnya dalam hati. Dia terus memindahkan dana dari satu rekening ke rekening lainnya, ini tugas terakhirnya, setelahnya dia tidak hanya akan mendapat reward dari orang misterius yang selama ini mendukung dan melindunginya, namun juga membalaskan dendam pada kelompok Elang Hitam yang sudah menghancurkan keluarganya. Di ruang pusat investigas, Jo bersama timnya memantau aliran data dan informasi yang masuk ke komputernya. “Pantau terus pergerakan dana yang ada, jangan sampai terlewatkan,

  • No Saint Left   Bab 17

    Di ruangan investigasi Padma dan Sena menatap papan tulis yang menampilkan jaringan cabang Synergic Multifinance yang tersebar hampir di seluruh kota di negara itu. Di belakang mereka Aji dan Reno siaga berjaga. Di setiap kota bendera merah terpasang pin merah, penanda cabang yang terindikasi melakukan penipuan dengan modus dan pola yang sama dengan cabang timur kota S. “Hasil pemindaian dari perangkat terbaru, jelas menunjukkan indikasi kuat ini sistemik bukan sekadar penipuan satu atau dua orang saja,”“Pusatnya?”“Harry Handoyo dan timnya,” “Kamu yakin?”“Kamu pikir aku emosional?”“Kamu mengikutinya ke butik pengantin,”“Itu pengintaian,”“Mengamit tangan stafmu?”“Kamu keberatan?”Sena terdiam. Dia tidak punya hak keberatan.Dia hanya tidak suka. Aji dan Reno saling berpandangan melihat dua orang itu beradu mulut. Hanya Padma dan Sara yang bisa beradu mulut dengan Sena, selebihnya pasti sudah mati. “Bisa kembali fokus?” tanya Padma.Sena tidak menjawab. Padma menganggapnya

  • No Saint Left   Bab 16

    Sena berdiri tegak di dalam ruang kerjanya, mendengarkan setiap detail laporan yang disampaikan oleh Aji dan Reno secara bergantian.Mulai dari insiden penculikan Benny, penggeledahan kantor cabang, hingga operasi penyelamatan di gudang pelabuhan, semuanya dijelaskan tanpa ada yang terlewat. Suasana di dalam ruangan terasa sangat hening dan penuh tekanan."Sudah kamu amankan dengan benar?" tanya Sena dengan suara dingin."Sudah, Pak. Dia sedang ditangani langsung oleh tim dokter di klinik base camp," jawab Aji cepat." Sara?" tanya Sena lagi.Aji dan Reno saling berpandangan sejenak sebelum Aji menjawab, "Dia ada di luar ruangan, Pak."" Tiga puluh putaran," perintah Sena. "Jangan biarkan dia masuk.” Aji dan Reno hanya bisa mengatupkan bibir mereka menahan senyum mendengar hukuman tersebut. Mereka sudah bisa membayangkan reaksi Sara saat tahu perintah Sena. Mereka segera berpamitan dan keluar dari ruangan. Di luar kantor utama, seperti yang nisa diduga Sara mengumpat begitu tahu a

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status