Share

Bab 6

Author: Luinna Hart
last update publish date: 2026-08-06 10:46:32

​Di kabin mobil yang sempit, Aji dan Reno sudah bersiap menerima perintah dari Sena. Jemari mereka memegang kemudi dan gagang pintu dengan sigap, menanti instruksi penuh untuk mengejar target.

​"Awasi dia, jangan sentuh," kata Sena dari kursi belakang.

​Aji yang baru saja melemaskan otot lengannya seketika tertegun. Ia menoleh perlahan menatap Reno yang balik memandangnya dengan alis berkerut. Tindakan ini benar-benar tidak biasa untuk standar pimpinan mereka.

​"Dia jauh lebih berguna buat Padma kalau masih hidup," tambah Sena tenang.

​Serentak Aji dan Reno mengeluarkan suara bulat dari mulut mereka, "Ohhh..."

​Mobil sedan hitam itu pun melaju perlahan, membelah kegelapan malam dan meninggalkan lorong gang di depan rumah Padma.

​Sementara itu, di dalam kamarnya, Bima menatap nanar layar laptop yang terbuka. Jarinya menggeser puluhan berkas foto dan rekaman video yang berhasil ia kumpulkan secara diam-diam selama beberapa bulan terakhir. Sudah empat bulan lamanya Bima melacak pergerakan organisasi Elang Hitam, namun ia belum mendapatkan satu pun celah informasi mengenai sosok pimpinan tertinggi jaringan misterius tersebut.

​Satu bulan belakangan, Bima sengaja memfokuskan pengawasannya pada sebuah gedung perkantoran megah yang diduga kuat menjadi tempat beroperasinya kegiatan legal Elang Hitam, yaitu Synergic Corp. Siapa yang menyangka, dari balik lensa kameranya, Bima justru mendapati kakak perempuannya sendiri saban hari keluar masuk gedung itu.

​Dugaan bahwa Synergic Corp beserta anak perusahaan multifinance yang mereka kelola merupakan tempat pencucian uang hasil aktivitas kejahatan sebenarnya berasal dari hasil investigasi awal senior Bima di kantor berita.

Bima tahu kakaknya sudah bekerja di Synergic Multifinance selama empat tahun terakhir. Namun, ia sama sekali tidak pernah menduga jika perusahaan tempat kakaknya mencari nafkah berafiliasi langsung dengan Elang Hitam. Yang lebih memukul perasaannya, Padma berkantor di gedung pusat Synergic Corp dan terlihat sangat akrab dengan Sena, pria yang diduga kuat merupakan pimpinan tertinggi korporasi sekaligus Elang Hitam.

​"Akhhh..." Bima mendesah penuh keputusasaan. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi dengan kasar.

​Dari sekian banyak tempat dan orang di kota ini, mengapa harus kakak perempuannya yang masuk ke dalam pusaran berbahaya itu?

Dua bulan lalu, saat pertama kali mengetahui Synergic Corp terafiliasi dengan Elang Hitam, Bima sudah berniat mendesak kakaknya untuk segera mengundurkan diri. Namun niat itu selalu tertunda karena ia belum memiliki bukti pembanding yang cukup.

Sekarang, kakaknya justru tampak sudah masuk terlalu jauh. Bima menutup laptopnya dengan ketus. Bingung, cemas, dan frustrasi membakar pikirannya. Ia benar-benar tidak tahu harus melangkah ke mana.

​Di balik pintu kamar Bima yang tertutup rapat, Padma berdiri mematung. Ia mendengar dengan jelas helaan napas berat dan rintihan frustrasi dari adiknya. Padma paham betul, berita investigasi yang sedang dikejar Bima saat ini pasti ada hubungannya dengan Synergic Corp dan Elang Hitam.

​Saat jemarinya terangkat hendak memutar gagang pintu, gerakan Padma mendadak berhenti di udara. Ia menggantung tangannya sejenak sebelum akhirnya memilih melangkah mundur dan pergi meninggalkan pintu kamar Bima. Untuk saat ini, Padma sendiri belum bisa memberikan penjelasan atau jawaban pasti atas apa yang sedang ia kerjakan di kantor pusat. Ia hanya ingin fokus pada tujuan utamanya: membuat mantan tunangannya membayar tuntas seluruh penderitaan yang pernah terjadi.

​Di lokasi lain, Benny melajukan mobilnya keluar dari halaman kantor cabang timur. Begitu roda mobilnya melindas aspal jalan raya, sepasang sepeda motor langsung bergerak mengapit dari jarak yang aman.

​Malam ini Benny tidak langsung pulang ke rumah. Ia sudah membuat janji temu dengan sesama tim IT support dari kantor cabang barat dan selatan. Mereka sepakat bertemu di sebuah warung kopi kekinian yang sedang menjamur di sudut kota S.

​Dengan langkah terburu-buru, Benny memasuki area warung kopi yang dipenuhi jajaran meja dan bangku kayu di pelatarannya. Matanya menyapu sekitar sampai akhirnya menemukan meja di ujung area luar. Dua orang rekan sejawatnya tampak sudah duduk menunggu di sana.

​"Kalian sudah pesan minuman?" tanya Benny begitu tiba di meja.

​Kedua temannya menggelengkan kepala. Benny segera menghentakkan kaki menuju meja kasir untuk memesan tiga cangkir kopi dan sepiring camilan hangat. Saat berdiri menunggu pesanan, mata Benny tak sengaja menangkap keberadaan dua pria berkaus hitam polos di dekat kasir.

Keduanya tampak santai merokok sembari menikmati kopi hitam di meja mereka. Wajah mereka biasa saja, tidak ada yang menonjol. Namun, entah mengapa, perasaan Benny mendadak tidak nyaman saat melewati mereka.

​Begitu kembali ke meja, Benny langsung mengikis jarak dan menanyakan situasi di kantor cabang barat serta selatan. Ia ingin memastikan apakah mereka menemukan kejanggalan dalam sistem digital manajemen di server kantor masing-masing.

​Dua rekannya mengaku tidak melihat adanya keanehan pada transaksi harian. Namun, salah satu dari mereka membocorkan bahwa ada satu berkas program baru yang sebelumnya tidak pernah ada, mendadak muncul dan terpasang di dalam drive C server kantor.

​Mendengar penuturan kedua temannya, Benny mengepalkan tangan. Ia mengonfirmasi bahwa ia menemukan program yang sama persis di cabang timur. Ketiganya saling bertatapan dalam diam. Tanpa perlu banyak kata, mereka paham satu hal: program baru itu adalah ancaman yang harus segera dimusnahkan dari server.

​Ketika melangkah keluar dari area warung kopi, mata Benny sempat melirik ke arah dua pria di dekat meja kasir. Ia berusaha menguji apakah mereka hanya pengunjung biasa atau mata-mata yang sengaja diutus untuk mengawasi gerak-geriknya.

​Mobil Benny meluncur keluar dari halaman warung kopi. Dari kaca spion tengah, ia melihat kedua orang berkaus hitam itu masih duduk merokok dengan santai tanpa memedulikannya. Benny menghela napas lega. Sepertinya ia hanya terlalu paranoid.

​Ia terus mengemudikan mobilnya menuju arah jalan raya utama. Yang tidak Benny sadari, dua orang berkaus hitam tadi bukanlah satu-satunya pengawas di lokasi. Dua pengendara sepeda motor berjaket hijau khas ojek online sudah bersiap melaju, menguntit posisi mobilnya dari belakang.

​Ketika mobil Benny hendak berbelok ke kiri menuju arah rumahnya, dua pengemudi ojek online yang sedari tadi mengekor mendadak memecah rute. Satu pengemudi terus melaju lurus, sementara yang lainnya berbelok ke kanan.

Taktik itu berhasil mengelabui Benny. Ia mengemudikan kendaraannya pelan-pelan sambil terus memantau spion. Di belakangnya, tampak sebuah becak motor berjalan santai mengikuti, sebelum akhirnya berbelok ke gang berbeda.

​Begitulah yang terjadi selama satu minggu penuh. Benny terus-menerus disiksa perasaan paranoid bahwa dirinya sedang diintai, namun setiap kali ia mencoba memastikan, tidak ada bukti nyata yang bisa ia temukan.

​Keesokan harinya di kantor pusat, sebuah notifikasi peringatan berwarna merah mendadak terkirim dan muncul di layar komputer yang terhubung langsung dengan sistem program monitoring.

​Seketika seluruh anggota tim forensik dan audit menoleh menatap Padma. Alih-alih panik melihat ada upaya paksa menghapus program tersebut dari server cabang, Padma justru mengulas senyum lebar yang penuh arti.

​"Teman-teman, saatnya kita masuk ke tahap dua," kata Padma dengan nada mantap. "Permainan yang sesungguhnya baru saja dimulai."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • No Saint Left   Bab 21

    Reno melihat ponselnya, sebuah notifikasi masuk. Dia memperlihatkannya pada Padma. Padma tersenyum simpul. “Jadi kamu mau yang mana yang biru atau yang hijau?” tanya Reno pada Padma. “Hijau lebih menarik,” kata Padma.“ Oke kita langsung beli sekarang, bagaimana?” Reno menawarkan. Mereka berdua segera beranjak menuju tempat ganti pakaian yang ada di lantai atas. Sementara itu bagian keamanan akhirnya menyadari kalau mereka kecolongan, loker yang sejatinya akan digunakan sebagai umpan untuk menangkap orang yang membebaskan Benny, sekarang kosong. Keamanan di klub itu diperketat. Mereka memperhatikan setiap orang yang lalu lalang di dalam klub. Padma dan Reno yang sudah berganti pakaian menuju ke ruang lobby, menunggu mobil mereka siap. Saat Padma berdiri, seorang petugas keamanan mendekatinya. “Maaf, anda tidak bisa meninggalkan klub saat ini,” katanya. Padma tampak kebingungan. Reno mendekati petugas itu bersama Aji. “ Ini ada apa? Kenapa kami gak boleh meninggalkan klub?”P

  • No Saint Left   Bab 20

    Sebuah lamborghini kuning berhenti di sebuah pusat kebugaran. Di belakangnya sebuah mobil hitam juga berhenti. Seorang petugas layanan valet membukakan pintu. Seorang perempuan dengan rambut panjang keluar, dia mengenakan polo shirt dengan celana chino yang walaupun tak terlihat merknya namun terlihat mahal dan nyaman. Tampilannya tak mencolok, tampak sama dengan orang lain yang berseliweran di area pusat kebugaran. Di belakangnya seorang laki-laki dengan gaya pakaian yang sama tampak menyusul perempuan itu dan berjalan di sampingnya. Dua orang berpakaian hitam ada di belakang mereka menbawa duffel bag yang sekilas nampak biasa, namun bagi mata yang terlatih itu adalah tas seharga satu unit rumah kelas menengah. Laki-laki dan perempuan itu tampak akrab berbincang sambil memasuki area lobi, salah seorang pria berbaju hitam mendekati meja concierge dan memastikan identitas keduanya sebelum kemudian mengantar keduanya di ruang ganti pakaian yang privat di lantai atas. Sementara dua or

  • No Saint Left   Bab 19

    Menjelang jam makan siang.Seorang perempuan muda dengan atasan off shoulder dan celana kulit warna hitam keluar dari mobil ferrari kuning, berjalan masuk ke lobi kantor Synergic, Rambut pendeknya yang disisir edgy dan dandanan gaya bold menarik perhatian setiap orang yang melihatnya. Gayanya begitu luwes dengan sebuah tas tangan kecil yang hanya dengan melihat logonya, orang sudah tahu harganya yang bisa mencapai milyaran rupiah. Begitu melihat sosoknya, resepsionis dan security kantor langsung membukakan pintu dan mengarahkan ke lift khusus ke lantai ruangan Sena. Bertepatan saat dia menunggu, pintu lift terbuka, tampak wajah Padma dengan baju casual smart officenya, dia membawa botol minum yang sama yang tadi diberikan Sena. Perempuan itu kaget melihat seorang perempuan keluar dari lift khusus untuk Sena. Sesaat dia menoleh ke arah Padma. Dia merasa pernah bertemu Padma, wajah Padma tak asing baginya. Namun karena tak ingin Sena menunggu dia segera masuk sambil terus memikirk

  • No Saint Left   Bab 18

    Sementara itu di ruangan kantornya yang ber ac, Harry menghapus peluh di berusaha setenang mungkin mengeksekusi perintah sosok misterius yang selama ini mendukungnya. Di depan komputer kerjanya, Harry memindahkan aliran dana dari rekening yang selama ini dipakai sebagai penyimpanan ke beberapa rekening lainnya di luar negeri dan atau perusahaan cangkang yang sudah dia bangun selama tiga tahun ini. Sebuah pesan masuk. ’Babe, aku positif’Harry melirik pesan itu dan tersenyum. ‘Bagus, tepat waktu,’ ujarnya dalam hati. Dia terus memindahkan dana dari satu rekening ke rekening lainnya, ini tugas terakhirnya, setelahnya dia tidak hanya akan mendapat reward dari orang misterius yang selama ini mendukung dan melindunginya, namun juga membalaskan dendam pada kelompok Elang Hitam yang sudah menghancurkan keluarganya. Di ruang pusat investigas, Jo bersama timnya memantau aliran data dan informasi yang masuk ke komputernya. “Pantau terus pergerakan dana yang ada, jangan sampai terlewatkan,

  • No Saint Left   Bab 17

    Di ruangan investigasi Padma dan Sena menatap papan tulis yang menampilkan jaringan cabang Synergic Multifinance yang tersebar hampir di seluruh kota di negara itu. Di belakang mereka Aji dan Reno siaga berjaga. Di setiap kota bendera merah terpasang pin merah, penanda cabang yang terindikasi melakukan penipuan dengan modus dan pola yang sama dengan cabang timur kota S. “Hasil pemindaian dari perangkat terbaru, jelas menunjukkan indikasi kuat ini sistemik bukan sekadar penipuan satu atau dua orang saja,”“Pusatnya?”“Harry Handoyo dan timnya,” “Kamu yakin?”“Kamu pikir aku emosional?”“Kamu mengikutinya ke butik pengantin,”“Itu pengintaian,”“Mengamit tangan stafmu?”“Kamu keberatan?”Sena terdiam. Dia tidak punya hak keberatan.Dia hanya tidak suka. Aji dan Reno saling berpandangan melihat dua orang itu beradu mulut. Hanya Padma dan Sara yang bisa beradu mulut dengan Sena, selebihnya pasti sudah mati. “Bisa kembali fokus?” tanya Padma.Sena tidak menjawab. Padma menganggapnya

  • No Saint Left   Bab 16

    Sena berdiri tegak di dalam ruang kerjanya, mendengarkan setiap detail laporan yang disampaikan oleh Aji dan Reno secara bergantian.Mulai dari insiden penculikan Benny, penggeledahan kantor cabang, hingga operasi penyelamatan di gudang pelabuhan, semuanya dijelaskan tanpa ada yang terlewat. Suasana di dalam ruangan terasa sangat hening dan penuh tekanan."Sudah kamu amankan dengan benar?" tanya Sena dengan suara dingin."Sudah, Pak. Dia sedang ditangani langsung oleh tim dokter di klinik base camp," jawab Aji cepat." Sara?" tanya Sena lagi.Aji dan Reno saling berpandangan sejenak sebelum Aji menjawab, "Dia ada di luar ruangan, Pak."" Tiga puluh putaran," perintah Sena. "Jangan biarkan dia masuk.” Aji dan Reno hanya bisa mengatupkan bibir mereka menahan senyum mendengar hukuman tersebut. Mereka sudah bisa membayangkan reaksi Sara saat tahu perintah Sena. Mereka segera berpamitan dan keluar dari ruangan. Di luar kantor utama, seperti yang nisa diduga Sara mengumpat begitu tahu a

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status