ログインUdara malam Desa San Felice menusuk kulit Bella, dingin terasa semakin pekat karena keringat yang bercampur dengan ketakutan. Dengan susah payah, ia menahan tubuh pria asing itu yang beratnya jauh melebihi tenaganya.
Nafasnya tersengal, kakinya hampir menyeret, namun entah dari mana kekuatan itu muncul, ia berhasil membawa pria tersebut melewati jalanan sempit menuju rumah kecilnya di sudut blok. Begitu pintu kayu rumah terbuka, Bella segera memapahnya masuk. Bunyi langkah beradu dengan lantai kayu terdengar berulang, tubuh besar itu ia baringkan di atas ranjangnya sendiri. "Ha... Ha... Ha..." Bella mengatur nafasnya yang tersengal-sengal akibat kelelahan. Napas pria itu masih tersendat, dadanya naik-turun, darahnya merembes menodai sprei putih yang baru kemarin ia ganti. Bella menatap pemandangan itu dengan jantung terus berdetak cepat, antara takut dan kelelahan, sekaligus rasa iba yang makin dalam. "Apa yang harus aku lakukan sekarang?" bisiknya pelan, suaranya bergetar. Ia tahu luka sebesar itu bukan sesuatu yang bisa ia tangani sendiri. Dengan tangan gemetar, Bella melepas jas luarnya yang penuh bercak darah. Gaunnya yang sederhana juga ternoda merah, membuatnya tampak seolah baru keluar dari mimpi buruk. Ia tidak tahu tentang medis, tanpa pikir panjang, ia melangkah cepat menuju rumah tetangganya. Rumah sebelah dihuni oleh sahabatnya yang berprofesi sebagai dokter, Adrian Moretti, seorang dokter muda yang sering ia andalkan jika anak-anak TK sakit atau dirinya butuh bantuan medis ringan. Tangannya mengetuk keras pintu kayu rumah itu. Dak! Dak! Dak! "Adrian! Adrian!" Pintu terbuka dengan cepat. Adrian berdiri di ambang pintu dengan wajah jutek, tapi wajahnya langsung pucat ketika melihat penampilan Bella. "Bella?! Astaga, kau berdarah! Apa yang terjadi?!" suaranya panik, tangannya terulur hendak memeriksa bahu dan lengannya. Ia mengira Bella habis kecelakaan. Bella buru-buru menggeleng cepat, menepis tangan sahabatnya. "Ini bukan darahku, Adrian! Aku baik-baik saja… ini darah orang lain." Adrian tertegun, menatap Bella dengan mata penuh tanya. "Apa maksudmu? Jangan bilang—" "Tidak ada waktu menjelaskan!" Bella memotong cepat, suaranya nyaris pecah dengan kepanikan yang sudah meningkat. Ia meraih pergelangan tangan Adrian, menariknya ke luar. "Aku menolong seseorang yang terluka parah, Adrian. Aku… aku tak bisa membiarkannya mati begitu saja." Adrian menahan langkahnya sesaat. Ia ingin kembali bertanya, tapi tatapan Bella begitu sungguh-sungguh, matanya basah menahan rasa panik dan cemas. Akhirnya ia mengangguk. "Baik. Tunjukkan padaku." "Tunggu sebentar, aku ambil kotak medisku dulu." Adrian bergerak cepat ke ruang prakteknya diikuti Bella. Keduanya bergegas kembali ke rumah Bella dengan Adrian membawa kotak obat. Didalamnya berisi obat-obatan untuk merawat luka sesuai kebutuhan menurut laporan Bella tentang luka yang dialami orang itu. Suasana malam semakin sunyi, hanya suara langkah mereka dan desiran angin yang terdengar. Dalam hati Bella berdoa, semoga keputusan nekatnya kali ini tidak akan berakhir menjadi penyesalan. Langkah keduanya cepat dan penuh rasa cemas. Memasuki rumah Bella yang biasanya memiliki aroma manis dan bunga, kini bercampur bau anyir darah yang membuat Adrian sampai mengernyit. Ia membatin, separah apa luka pasien itu sampai bau darahnya begitu pekat. Baru saja pintu kamar Bella terbuka, matanya langsung membelalak. Seorang pria tinggi dengan wajah pucat bersimbah darah terbaring di atas ranjang Bella. Aroma besi darah semakin pekat di ruangan itu, membuat Adrian refleks menoleh ke Bella. "Bella… apa yang kau lakukan?! Kenapa di kamarmu?" suaranya tercekat, antara khawatir dan kesal. Bella menunduk, jari-jarinya saling menggenggam erat di depan perutnya. "Aku… tidak punya pilihan lain, Adrian. Kalau kubiarkan dia di luar, dia mungkin sudah mati sekarang. Bukankah tidak cocok kalau aku baringkan di sofa." Adrian menghela napas berat, tak ada waktu untuk marah. Ia hanya menggeleng kecil sambil membuka kemeja pria itu dengan hati-hati. Kain putih yang dulu mungkin bersih, kini lengket merah pekat, menempel di kulit. Begitu terbuka, jelas terlihat dua luka besar satu luka tembakan di bahu, dan satu tusukan di perut. alis Adrian berkerut, rahangnya menegang, tangannya sedikit bergetar meski ia berusaha tampak tenang. "Ya Tuhan…" gumam Adrian lirih, lalu segera mengeluarkan gunting medis, kapas, dan antiseptik. Tangannya cekatan, tapi wajahnya serius penuh beban. "Luka tusukan ini cukup dalam. Dan darah di bahunya sudah terlalu banyak keluar. Dia beruntung masih bisa bernapas." Bella hanya bisa berdiri di sisi ranjang, kedua tangannya gemetar sambil menatap pria asing itu. Ia ingat kembali pandangan sayu mata pria itu ketika menatapnya di gang. Pandangan yang seolah meminta pertolongan terakhir. Mendengar betapa serius lukanya, Bella tidak bisa menahan rasa gugup. "Dia... tidak akan mati 'kan?" Adrian sempat melirik sekilas, lalu bertanya dengan nada lembut, "aku akan berusaha mengobatinya. Kau menemukannya di mana, Bella?" Dengan suara pelan, Bella menjawab, "Di gang dekat jalan pulang. Awalnya aku ingin menelepon polisi… tapi dia membuka matanya, menatapku begitu lemah… aku, aku tidak sanggup meninggalkannya begitu saja." Suaranya bergetar di akhir kalimat, matanya memanas menahan air mata. Adrian terdiam sejenak, lalu kembali fokus pada perban yang mulai ia lilitkan. "Kau ini terlalu baik… kadang sampai ceroboh. Bagaimana kalau orang yang melukainya tahu kau menyembunyikan dia? Bagaimana kalau…" ia berhenti, menatap wajah Bella yang pucat. Bella tahu maksudnya, hanya menggeleng, suaranya lirih, "Aku sempat berpikir seperti itu dan ingin meninggalkannya. Tapi dia menatapku langsung pada saat itu. Aku hanya… tidak ingin dia mati di jalan. Aku akan merasa sangat bersalah jika dia mati keesokan harinya." Adrian menatap Bella lama, kemudian menurunkan suaranya, lembut, penuh pengertian. "Baiklah. Sekarang yang terpenting adalah membuatnya bertahan hidup. Untuk urusan lain… kita pikirkan nanti." Tangannya kembali bergerak cepat, menyeka darah, menjahit perlahan luka di perut pria itu. Bella menutup mulutnya dengan tangan, berusaha menahan sesak di dada melihat pemandangan didepannya. Luka-lukanya sangat menyakitkan, ia ikut meringis meski hanya melihat. Di dalam hati, ia tanpa henti berdoa lirih. Semoga lelaki ini bisa melewati malam ini. Melihat Bella hanya berdiri dengan ekspresi ngeri naik turun. Adrian kemudian mengusir Bella keluar kamar, karena pemandangan saat ini terlihat mengerikan untuk orang awam. Berbeda dengan Adrian yang sudah berkali-kali berurusan dengan luka dan darah. Bella menurut, ia keluar dan berjalan kearah dapur yang satu ruangan dengan ruang makan dan ruang tamu. Menuangkan air putih kedalam gelas, ia merasa tenang setelah segelas air putih mengalir di tenggorokannya.Disaat semua orang tenggelam dalam alur cerita, Bella justru merasa terganggu dengan gerak halus seseorang disampingnya. Beberapa saat setelah keduanya diam, Luca terdengar sesekali menghela napas pelan. Meskipun pelan dan ruang studio dipenuhi suara menggema dari film. Tetap saja cukup membuat Bella teralihkan dan melirik ke arahnya. Dibawah cahaya redup, ia sempat melihat raut wajah Luca yang berbeda. Tidak santai seperti biasanya, melainkan tampak sulit, seolah sedang memikirkan sesuatu yang cukup berat. Alis Bella mengerut. "Kau kenapa?" bisiknya, tak mampu menahan rasa penasaran. Luca menggeleng pelan. Namun ekspresinya tidak berubah, justru semakin terlihat seperti menahan sesuatu yang sulit diungkapkan. Entah kenapa, melihat ketenangan pria itu terusik, membuat Bella ikut merasa tegang. Perubahan emosinya turut dirasakan Luca, akhirnya ia mengungkapkan apa yang sedang dipikirkan. "Aku baru ingat sesuatu," suaranya rendah. "Dan aku cukup khawatir dengan Nona Chiara." Mende
Di tengah suasana bioskop yang redup, film sudah berjalan cukup lama. Cahaya dari layar sesekali memantul di wajah para penonton yang tenggelam dalam cerita.Bella yang sedang fokus menonton tiba-tiba merasakan seseorang duduk di kursi di sampingnya. Refleks, ia menoleh. Matanya langsung bertemu dengan sosok yang dikenalnya.Luca, dan di sebelahnya Matteo yang tersenyum santai.Matteo sedikit mengangkat tangan, menyapa pelan agar tidak mengganggu penonton lain. "Selamat siang, Bella.""Selamat siang," Bella membalas dengan suara pelan, menjaga sopan santunnya di tengah suasana bioskop.Ia sempat melirik Luca yang belum berkata apa-apa. Luca menatap layar sejenak, lalu menoleh sedikit ke arah Bella."Kau suka menonton film seperti ini?" tanyanya dengan suara rendah.Bella menjawab seperlunya. "Semua film yang tayang sebenarnya bagus, tapi kami lebih penasaran dengan yang ini."Luca tersenyum tipis. "Kalau kau suka... aku juga."Suaranya begitu pelan hingga nyaris seperti gumaman.Bella
Di luar kamar penahanan, waktu tanpa terasa sudah lebih dari setengah jam sejak Luca, Matteo, dan Vito masuk ke dalam. Akan tetapi, pintu itu belum juga terbuka.Salah satu pengawal yang berdiri paling dekat dengan pintu mulai gelisah. Ia beberapa kali melirik ke arah daun pintu yang tertutup rapat."Sudah selama ini, kenapa Tuan Luca dan lainnya belum juga keluar?" gumamnya pelan.Pengawal disampingnya menoleh. "Aneh, tidak terdengar suara apa pun."Seorang pengawal di sisi lain melipat tangan di dada. "Ini kamar VVIP, tentu saja kedap suara."Pengawal lain menyahut, "justru karena itu, kita tidak tahu situasi apa yang sedang terjadi didalam. Tuan Luca hanya membawa Dokter Matteo dan Vito, aku khawatir situasi yang tidak diinginkan terjadi."Mereka semua terdiam sejenak, menajamkan pendengaran sampai batas fokus. Tetap saja tidak terdengar suara apapun, seolah-olah tidak terjadi apa pun di dalam sana.Padahal, yang berada di dalam adalah sekelompok orang berbahaya. Salah satu pengawa
Keesokan harinya, suasana kapal pesiar terasa lebih hidup. Bella, Chiara, dan Adrian memutuskan untuk menghabiskan waktu bersama dengan menonton film.Mereka berjalan menuju bioskop di dalam kapal. Di depan pintu masuk, terpampang daftar film yang akan tayang hari itu. Ada tiga film berbeda dengan jam tayang yang sama.Ketiganya berdiri cukup lama di depan layar pilihan, membaca sinopsis singkat film yang akan ditampilkan."Yang ini kelihatannya seru," gumam Chiara sambil menunjuk salah satu judul."Yang itu juga tidak kalah menarik," balas Adrian, menimbang pilihan.Bella ditengah keduanya hanya tersenyum kecil, matanya berpindah dari satu judul ke judul lain. Akhirnya, setelah cukup lama berdiskusi, mereka sepakat memilih film bergenre action romance.Waktu pemutaran masih tersisa sekitar setengah jam. Mereka pun membeli popcorn ukuran sedang dengan berbagai rasa sesuai selera masing-masing, serta minuman untuk menemani selama menonton. Setelah itu, mereka duduk di kursi tunggu di d
"Gannaro Homar! Katakan sejujurnya, apa tujuanmu bekerja sama dengan kelompok mafia Cross Broke?"Suara Chiara terdengar tegas dan penuh tekanan di dalam ruang interogasi.Itu sudah menjadi pertanyaan kesekian kalinya, namun Gannaro tetap diam. Ia hanya duduk santai di kursinya, seolah tidak terganggu sedikit pun. Chiara tidak menyerah."Sudah berapa lama Keluarga Homar bekerja sama dengan kelompok Cross Broke?"Tidak ada jawaban."Apa tujuanmu menculik Bella? Apa kau benar-benar ingin mengancam wali kota?"Gannaro masih diam. Tatapannya datar, bahkan sedikit meremehkan. Chiara mulai kehilangan kesabaran."Keberanianmu cukup besar juga," lanjutnya dengan nada tajam. "Apa Keluarga Homar merasa sudah cukup kuat sampai berani mengancam keluarga DeLuca? Kau bahkan berani menantang keluarga Lombardi dan keluarga Moretti?"Tetap tidak ada jawaban. Hanya keheningan yang menyesakkan.Setelah berulang kali melontarkan pertanyaan tanpa hasil, Chiara akhirnya merasa lelah bukan hanya secara fisi
Sesuai perintah Adrian, sebagai dokter pribadinya, Bella tidak diizinkan pergi jalan-jalan dulu. Ia diharuskan beristirahat total selama beberapa hari.Seusai makan siang, Ia duduk di tepi ranjang sambil memandang laut dari jendela dengan wajah sedikit murung. Mengingat mereka sudah membuat banyak rencana untuk dihabiskan selama di kapal dengan bersenang-senang, Ia merasa tidak rela harus melewatkan waktu bersenang-senangnya."Aku cukup bosan..." gumamnya pelan.Bella memandang Chiara yang ikut menemani dan duduk di sofa dengan menghabiskan waktu untuk bekerja. Chiara langsung menoleh."Aku tahu itu, biar aku hubungi Adrian dan bertanya apakah kamu boleh jalan-jalan sebentar."Chiara mengambil gagang telepon dan menghubungi nomor kamar Adrian. "Halo, Adrian. Bolehkah Bella pergi jalan-jalan sebentar?"'Aku akan memeriksanya terlebih dahulu.'Chiara menutup telepon dan mengatakan pesan Adrian ke Bella. Tak lama kemudian Adrian masuk ke kamar setelah mengetuk pintu.Melihat ekspresi Bel







