Share

Bab 4

Penulis: SanASya
last update Tanggal publikasi: 2025-10-13 22:39:22

Bella duduk di kursi makan dan merenung. Benar kata Adrian, dirinya agak ceroboh membawa pria itu kerumahnya. Walau terluka dan tidak sadarkan diri, ia tidak mengenalnya.

Siapa yang melukainya? Luka separah itu jika ia tidak melihatnya pasti tidak akan selamat sampai esok hari.

'Apakah pelakunya sudah pergi?' sebuah pertanyaan terlintas.

Ia menutup mata dan berdoa, "semoga pelaku itu sudah pergi dan tidak melihatku menolong pria itu."

Bella hanya bisa menghela nafas berat, yang penting sekarang ia berharap pria itu selamat dan malam ini berlalu dengan tenang.

Setelah beberapa saat, Adrian selesai mengobati pria itu, luka-lukanya sudah dibersihkan dan diperban. Dia keluar dari kamar Bella dan menutup pintu pelan.

Bella yang menunggu di ruang makan segera berdiri dan mendekat, "Bagaimana dengan pria itu? Apakah selamat?"

Adrian menatapnya sejenak, bahunya turun seolah baru saja menurunkan beban berat, lalu berkata, "Pria itu selamat untuk saat ini, dia memiliki dua luka. Satu luka tembak di bahu dan satu luka tusukan di perut, luka di bahu tidak terlalu parah karena pelurunya sudah diambil, apa kau yang mengeluarkan peluru itu?"

Bella mengernyit dan segera membantah, "Tidak, aku sama sekali tidak menyentuh luka-lukanya. Mungkin dia yang mengeluarkan peluru itu sendiri."

Adrian mengangguk, "Luka yang paling parah adalah diperutnya, cukup dalam dan hampir mengenai titik vital hidupnya yang menyebabkan pendarahan. Untungnya aku segera bertindak menghentikan pendarahan itu, selamat atau tidaknya dia besok, tergantung semangat hidupnya sendiri."

Bella mengangguk, diam-diam menghela nafas. Ia sudah berusaha dan tidak sia-sia menolongnya.

"Terima kasih Adrian, aku panik sekali tadi karena pria itu hampir tidak bernafas saat aku membaringkannya di ranjang." Suaranya penuh kelegaan.

Adrian menyahut santai, "sudah tugasku, sebaiknya kamu membersihkan diri dan beristirahat. Kamu lembur lagi di sekolah?"

"Ya, akan ada acara di TK dan aku harus mendekorasi kelas tadi."

"Kau melakukannya sendirian?"

Bella menggeleng, "Aku hanya melakukan bagianku, selain itu tadi aku menemani satu murid yang belum dijemput orangtuanya. Sekalian menyelesaikan pekerjaan, jadi ya... Aku pulang terlambat dan menemukan pria itu."

Adrian mengerutkan dahi, "Kamu sungguh baik hati, tidak salah menolong seseorang yang terluka. Tapi kamu seharusnya lebih berhati-hati lagi lain kali, lihat situasi dan kondisi. Kau tahu luka pria ini tidak ringan?"

Bella mengalihkan pandangan, merasa bersalah dan mengangguk ringan. Ia mendengarkan dengan baik nasihat dari sahabatnya.

"Kau harus jaga diri, apa yang akan terjadi jika ayahmu tahu kau terluka karena menolong orang asing dan terlibat masalah?" ucapan Adrian terselip sedikit ancaman.

Mendengar kata ayahnya disebut, Bella membela diri. "Oh ayolah, aku juga tidak ingin terlibat dengan masalah orang lain, tapi dia terluka parah dan tidak ada orang disekitar. Aku tidak mungkin mengabaikan orang yang sedang butuh bantuan."

Adrian membantah, "kau bisa hubungi kepolisian daripada turun tangan langsung menolongnya. Selain itu, kenapa kamu tidak membawanya langsung ke rumahku? Aku punya satu ruangan khusus untuk memeriksa pasien, kenapa malah membawanya pulang?"

"Kau tahu, aku panik." Bella menjawab seadanya. Tatapan Adrian datar, antara menerima dan tidak untuk alasan ini.

Seolah mendapat ide, Bella memberi usulan. "Bagaimana jika kita papah dia dan tinggal sementara di klinik mu?"

Adrian menggeleng, "sekarang tidak bisa, lukanya baru dijahit, jika banyak bergerak takutnya akan membuatnya kembali pendarahan dan lukanya menjadi serius. Mau tidak mau, dia harus tetap ditempatnya sampai lukanya membaik. Aku akan memeriksanya kembali besok." Ia menggendong kotak obatnya.

"Kau mau pulang?"

Adrian melotot melihatnya, "oh... aku pulang dan meninggalkan mu berdua dengan pria asing? Bagaimana tanggapan ayahmu jika dia tahu? Aku mau memeriksa rumah dan kembali kesini. Aku akan tidur disini, menjagamu."

Bella mengerutkan bibirnya, "Aku hanya bertanya, kenapa kamu membicarakan tanggapan ayahku? Aku tidak melakukan hal yang salah."

Adrian mengangguk setuju. "Ya, aku juga tidak menyalahkan tindakan mu menolong orang. Tapi jika ayahmu tahu dengan detail tentang hal ini, aku yakin beliau akan menetapkan kembali penjaga disekitar mu."

Merasa kebebasannya terancam, Bella memprotes. "Adrian Moretti, jangan ceritakan pada ayahku! Kau tahu aku tidak nyaman jika ada pengawal yang menjagaku. Meski mereka tidak melakukannya dengan jelas, aku tetap merasa tidak bebas."

"Aku tidak akan mengadukan ini, tapi aku tidak akan tutup mulut jika ayahmu bertanya." Adrian berujar santai.

"Maka jangan beritahu, kalau kau katakan..." Bella tersenyum misterius, "aku akan mengadukan mu pada Chiara. Aku akan bilang kalau kau menindasku disini." Kata-katanya menyiratkan ancaman, sorot matanya penuh tantangan meski wajahnya pucat.

Bayangan seorang perempuan tomboy yang tidak lain juga sahabatnya, membuat Adrian bergidik. Ia pernah dipukul Chiara gara-gara pernah menunjukkan seekor katak dihadapan Bella yang membuat gadis menangis histeris. Itu terjadi ketika mereka berumur tiga belas tahun. Pipinya berkedut, seakan kembali merasa nyeri di wajahnya dulu.

"Oke, oke, ini sudah malam, ayo akhiri perdebatan ini. Lebih baik kamu mandi, kamu sangat kotor. Aku tidak tahu kenapa kamu begitu nyaman dalam keadaan seperti itu."

Adrian yang kalah, berkata sambil berlalu keluar, kembali ke rumahnya sendiri.

Bella melihat pakaiannya yang bernoda darah, ugh... kenapa baru sekarang dia mencium bau amis darah. Ia harus mandi sekarang dan mencuci pakaiannya.

Bella pelan-pelan membuka pintu kamarnya, ada aroma obat dari Adrian bercampur dengan bau anyir darah yang masih tertinggal di udara.

Ia melihat pria itu sudah bersih wajahnya dari noda darah. Masih terbaring menutup mata dengan selimut menutupi setengah tubuhnya yang telanjang, wajahnya masih pucat tapi nafasnya sudah stabil. Bella mengangguk pelan, rasa tertekan menunggunya diobati sudah berkurang.

Setumpuk pakaian kotor tergeletak di samping pojok ranjang, kemeja dan jasnya hampir seluruhnya terkena darah. Sempat terpikir untuk membersihkan pakaiannya, tapi ia segera menghapus pemikiran itu, ia tidak mau bertindak terlalu jauh.

"Pria tampan, kenapa kamu bisa mengalami luka parah seperti ini?" Bella tidak ragu berbicara seperti itu dihadapannya. Ia tahu pria ini masih pingsan, jadi tidak akan mendengar pertanyaannya.

"Istirahat yang baik dan lekas sembuh." Ucapan itu tulus, sesuai dengan niat Bella yang ingin menyelamatkan pria itu.

Bella tidak lama memperhatikannya, membuka pintu lemari. Mengambil piyama, pakaian dalam dan pakaian kerja yang akan ia pakai untuk besok. Juga mengambil kotak makeup dan kotak skincare, ia membawa semua barang-barang itu ke kamar samping yang ukurannya lebih kecil. Tidak tahu kapan pria itu sadar, maka dari itu ia membawa perlengkapan yang dibutuhkan besok agar tidak bolak-balik masuk kamarnya.

Jika pria itu masih tidak sadarkan diri sampai besok, Bella mungkin akan meminta bantuan Adrian untuk menjaganya. Bella berpikir sambil membereskan peralatannya lalu pergi ke kamar mandi untuk membersihkan badan.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 126 Siapa yang terbaik?

    Bella sempat bergidik mendengar suara rendah Luca dan napas hangatnya yang menyapu kulit lehernya. Ia segera melepaskan pelukan Luca, lalu berbalik dengan kedua tangan di pinggang dan berkata dengan nada mengancam.“Ingat ya, jangan menggunakan cara kotor. Kalau kau sampai melakukannya, aku tidak akan mau menjadi temanmu lagi.”Luca tersenyum tertahan. “Apa yang kamu pikirkan, sayang? Aku memang ingin sesuatu yang berbeda malam ini.”Bella memutar bola matanya malas mendengar panggilan sayang dari Luca. Meski hatinya sempat tergelitik senang, ia segera menepisnya. Dalam hati ia berkata, bagaimana bisa aku tergoda hanya dengan satu panggilan itu.“Siapa yang kau panggil sayang? Aku tanya, mau teh atau kopi?” tanya Bella dengan galak.Luca meletakkan kedua tangannya di sisi Bella, memerangkap tubuh mungil gadis itu di antara meja dapur dan tubuh tegapnya.Dengan senyum menggoda di wajahnya, ia berkata dengan yakin. “Sudah kubilang kalau aku ingin sesuatu yang berbeda.”Bella meletakkan

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 125 Provokasi.

    Giovanni dengan jelas mendengar suara batuk seorang pria. Suaranya langsung berubah berat saat bertanya pada putrinya, tatapannya tajam seolah mencari celah.“Bella, suara siapa itu?”Mendengar nada penuh selidik dari ayahnya, Bella berusaha tetap tenang.“Itu... suara tetangga. Dia barusan lewat. Ayah tahu sendiri bagaimana lingkungan di sini.”Giovanni tampak tidak percaya. “Pintu rumahmu jaraknya cukup jauh dari jalan umum, dan kau sedang berada di dekat dapur. Tidak mungkin suaranya sejelas itu, yang menandakan kalau orang itu ada di dekatmu.”Bella tetap mengelak. “Tidak ada, Ayah. Di sini memang lagi sepi, jadi suara sekecil apa pun pasti terdengar jelas.”Giovanni memperhatikan wajah Bella yang tersenyum polos. Meski masih ragu, ia tidak melanjutkan pertanyaan itu dan kembali membahas Steve.“Jadi bagaimana menurutmu Tuan Steve itu? Barna bercerita kalau putranya sangat baik dan sukses, tapi dia sudah punya anak. Bukan berarti Ayah melarang karena dia punya anak, tapi Ayah ingi

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 124 Lamaran pernikahan.

    Giovanni dengan tenang bertanya, “Pasti perempuan itu sangat hebat sampai bisa memikat hati putra Anda yang selama empat tahun ini setia pada almarhum istrinya.”Tuan Barna tertawa kecil, lalu dengan senyum canggung ia menatap Giovanni dan berkata jujur, “Tuan Wali Kota, saya ingin bertanya... apakah Anda memiliki seorang putri bernama Bella DeLuca?”Giovanni hanya tersenyum tipis dan bertanya santai, “Mengapa Tuan Barna tiba-tiba bertanya? Bisa langsung sampaikan apa yang ingin Anda katakan.”“Begini, Tuan Wali Kota, saya pun tidak menyangka. Tapi namanya anak muda, menyukai seseorang... apalagi keduanya sama-sama lajang, mungkin bisa kita coba mendekatkan mereka,” kata Barna.Giovanni masih berpura-pura tidak mengerti maksudnya dan kembali mengulang pertanyaannya, “Apa maksud Anda, Tuan Barna? Silakan katakan langsung.”Barna merasa sudah cukup berbasa-basi. Ia pun berkata terus terang, “Jadi begini, putra saya menyukai seorang guru bernama Bella DeLuca. Awalnya saya mengira dia per

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 123 Pembicaraan Barna dan Giovanni.

    Bella kemudian mengetik pesan untuk Chiara.Bella: Aku ingin memberitahu sesuatu, tapi kamu jangan terkejut, ya.Tanda tanya besar langsung muncul di benak Chiara setelah membaca pesan itu.Chiara: ???Bella: Hari ini tiba-tiba Luca melamarku. Dia melakukannya dengan sikap biasa, tanpa kesan romantis sama sekali. Kau tahu bagaimana sikap Luca terhadapku selama ini. Dia bilang dia jatuh cinta pada pandangan pertama denganku.Bella: Bagaimana menurutmu?Tidak sampai satu menit, Chiara langsung menelepon. Bella sempat diam sesaat sebelum mengangkat panggilan itu, tetapi akhirnya ia menerimanya.“Halo?”Bella mendengar Chiara seperti bergumam di seberang sana.“T-tenang... jangan terburu-buru... tanya pelan-pelan... pakai kalimat yang baik....”Terdengar suara Chiara menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan. Setelah itu, barulah ia berbicara dengan lebih tenang.“Bella... apa yang kamu tulis itu benar?”Bella mengangguk kecil, meski tidak terlihat. “Umm... iya.”“Sejak kapan k

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 122 Keadaan menjadi canggung.

    “Apa?” refleks Adrian bersuara.Bella pun tak kalah terkejut. Ia menatap Luca dengan tidak percaya. Ekspresi pria itu tetap tenang, tidak terlihat sedikit pun tanda bercanda.“Kau serius?” tanya Adrian. Tatapannya lalu beralih pada Bella, seolah meminta penjelasan.“Menikah...” gumam Bella pelan.Melihat Bella juga tampak tidak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan Luca.Adrian kembali menatap pria itu. “Jangan main-main. Aku bertanya serius.”Luca menggeleng pelan. “Saya juga serius. Saya mengatakan ingin menikahi Bella. Tadi sore, saya sempat melamarnya, tapi dia tidak percaya.”Adrian langsung menoleh ke arah Bella yang masih syok. Ia mencoba membaca ekspresi gadis itu.Bella sendiri tidak tahu harus berpikir apa. Apakah ini hanya cara Luca untuk mengalihkan pembicaraan? Tapi... kalau hanya untuk itu, bukankah ini terlalu berlebihan?Luca menatap Bella dengan senyum puas. “Bukankah begitu, Nona Bella? Tadi sore saya mengatakan, jika kamu mau menjadi pendampingku, maka semua h

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 121 Karena aku ingin...

    Adrian baru saja parkir di halaman dan keluar dari mobil ketika mendengar seseorang memanggilnya. Ia melihat Nenek Sophia berdiri di depan gerbang dan menyuruhnya mendekat.“Adrian, kemari sebentar,” panggil Nenek Sophia. Suaranya cukup pelan, dan matanya sesekali melirik ke rumah Bella.Adrian merasa ada sesuatu yang janggal. “Nenek Sophia, ini sudah hampir gelap. Ada apa?”Nenek Sophia menunjuk mobil sedan hitam yang parkir di depan rumah Bella. “Saya tadi melihat Bella pulang bersama seorang pria yang sebelumnya pernah aku ceritakan. Sepertinya dia masih di rumahnya. Apa pria itu kekasih Bella?”“Kekasih?” ulang Adrian, suaranya terdengar terkejut.Melihat Nenek Sophia yang semakin penasaran, Adrian segera menenangkan diri. “Jadi yang dimaksud Nenek Sophia pria itu... sepertinya begitu. Saya kira orang yang datang sebelumnya hanya pria asing. Tenang saja, Nek. Kami saling mengenal.”Nenek Sophia mengangguk, terlihat lega. “Saya tidak bermaksud apa-apa. Saya jarang melihat Bella ber

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 36 Wajah familiar diantara mereka.

    Sepulang dari berbelanja, Bella merasa kelelahan. Ia duduk lemas di kursi belakang mobil, kepalanya sedikit miring ke jendela. Matanya terpejam dengan napas teratur, mengumpulkan tenaga yang habis tersedot setelah kakinya bolak-balik toko pakaian dan ruang ganti.Berbeda dengan Bella, Liana duduk d

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 35 Bingkisan dengan makna tertentu.

    Giovanni pulang dan menyuruh Richard segera pulang ke rumahnya. Tidak sungkan ia mengucapkan terima kasih karena Richard tetap mengawalnya meski mereka datang ke acara ini dengan undangan masing-masing."Terima kasih sudah menemani saya."Tangan Richard mengibas dua kali, "sekalipun aku dapat undan

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 34 Bisa membayar 'pantas'.

    "Perempuan yang Anda maksud adalah guru di sekolah TK. Dia tidak sengaja diculik karena ingin menolong muridnya," ucap Giovanni, tatapannya perlahan naik dan menatap langsung mata Luca.Luca mengangguk, seolah baru saja mengetahui sesuatu. "Ternyata dia seorang guru, pantas saja terlihat sangat men

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 32 Benar saja pria ini meminta imbalan.

    Tok ... Tok ... Tok ...Tiga kali ketukan di pintu membuat Luca yang sedang mendengar laporan dari bawahannya lewat video call mengangkat tangan untuk menghentikan ucapannya. Wajahnya sedari tadi memperhatikan rangkaian bunga mawar putih dan merah di dalam vas yang diletakkan di atas meja samping t

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status